Kategori
Catatan Perjalanan

Akhirnya Pulang Juga

Setelah mengudara selama 8 jam dan bagiku perjalanan ini cukup membosankan, akhirnya Air Bus yang bernama Etihad Airways mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selamat datang Indonesia. Selamat datang tanah airku tercinta. Betapapun nikmatnya negeri orang, rasa rindu untuk mencium tanahmu dan bersujud di sana tak akan pernah tergantikan. Dan sekali lagi rasa sendu ketika menyanyikan lagu tanah airku di mobil Prof. Tausch terkenang kembali di sini waktu kakiku kembali menjejakkan kaki di tanah ibu pertiwi.

Bertemu Kakak Kelas

Ketika aku berjalan melewati koridor menuju bagian imigrasi. Tiba-tiba ada seorang yang memperhatikanku. Mulanya hanya saling melempar senyum, kemudian orang yang aku juga pernah merasa kenal itu bergerak mendekatiku dan menyapaku. Yah, aku ingat, beliau adalah kakak tingkatku waktu SMA, hanya saja aku sudah lupa namanya.

Setelah saling berkenalan lagi akhirnya aku tahu siapa beliau. Namnya mas Triyogo, kakak tingkat angkatan 2006, yang dulu aktif di Patroli Keamanan Sekolah (yah jadi inget waktu dulu aku dirazia oleh beliau). Wah, sekarang udah kerja di airport terbesar di Indonesia ini ternyata. Wah selamat ya mas, atas capaianmu di sini. Senang sekali bisa bertemu dengan kakak kelas dari almamaterku dahulu, kawah candradimuka pertamaku yang telah mengantarkanku pada berbagai jenjang kebaikan hingga hari ini.

Panasnya Jakarta

Kesan pertama yang muncul setelah keluar dari ruang bandara adalah hawa panas. Yah, mungkin karena sudah mulai kerasan di Jerman yang saat ini sedang musim dingin, keluar dari ruangan bandara sekalipun melepas jaket ternyata gerahnya bukan main. Dan aku terus menyadarkan diriku bahwa inilah tanah air yang kurindukan itu. Inilah Indonesiaku. Akhirnya aku pulang kembali. (Alay deh)

Tanpa buang waktu lagi aku segera menyambangi penjualan tiket DAMRI bandara dan memesan tiket bus jurusan pasar minggu. Lagi-lagi ada sesuatu yang berbeda, kali ini aku mengeluarkan uang berwarna biru yang angkanya berjibun. Yah, ini rupiah, mata uang kebanggaan kita bukan. Ternyata berbeda sekali waktu dulu masih pegang euro, karena nolnya cuma dikit, dan bahkan banyak kenclengnya. Oh, aku jadi ingat dengan ketawanya Dr. Amitabh yang membuatku tersenyum kecut waktu beliau menanyakan nilai euro dalam rupiah. Hemm, lupakan dan aku akan menghabiskan waktu di Jakarta ini paling ga sampai besok pagi sebelum ke rumah.

Realistis

Meskipun ada tawaran untuk tinggal di rumah budhenya temenku yang waktu itu kami gunakan untuk transit saat keberangkatan, aku memutuskan untuk mengunjungi tetanggaku yang kerja di Jakarta ini, di salah satu kawasan yang bagiku akan terus membuatku belajar tentang realita Indonesia hari ini. Berbeda sekali dengan rumah budhenya temenku itu, apalagi dengan apartemen yang kutinggali waktu di Jerman, kontrakan atau rumah tinggal para sedulur desaku ini bisa dikatakan sangat sederhana untuk ukuran warga ibu kota. Aku mencoba memahami bagaimana kehidupan mereka dan bagaimana gagahnya mereka sanggup bertahan dalam lingkungan seperti itu. Aku malu sebagai orang Indonesia, lebih-lebih kaum terpelajar yang hari ini bahkan masih sesekali minta suntikan uang saku pada orang tua.

Dan aku memutuskan untuk bermalam di sana, merasakan kebersamaan di lingkungan kampung yang sangat padat penduduk. Mungkin akan semakin gerah memang, tetapi aku harus mengambil pilihan ini atau aku akan kehilangan jiwa yang telah besar bersamaku sejak kecil.

Dan ini adalah tanggal 31 Desember 2012, artinya nanti malam pukul 24:59:59 adalah detik terakhir dari tahun 2012. Sebuah momentum yang langka lagi tepat buatku untuk menghabiskan akhir tahun di ibukota.

Kategori
Catatan Perjalanan

Hati Orang Timur

Pagi tadi kami harus bangun lebih awal untuk bersiap berangkat menuju Dusseldorf Flughafen (Airport). Tidak seperti biasanya kami yang sering bermalas ria, pagi ini segera mandi dan berkemas-kemas. Ada apakah hari ini? Yah, ini hari terakhir berlakunya visa Schengen kami. Sehingga mau tidak mau kami harus meninggalkan negeri yang indah di Eropa ini dan pulang ke Indonesia. Setelah kami kemarin packing, disimpulkan bahwa kami harus mengangkut 7 koper dan satu bed tambahan yang kami gunakan untuk tidur selama di apartemen.

Tadi malam karena efek kopi yang dihidangkan oleh Prof. Liu kepadaku aku tidak bisa tidur, baru menjelang jam 3 pagi aku bisa tidur. Dan perlahan, jam 6 aku sudah dibangunkan untuk segera mandi dan bersiap berangkat. Kami mengumpulkan semua barang-barang yang akan kami bawa ke Flughafen di lantai bawah. Tanpa diduga, ternyata Prof. Liu telah memasang alarm agar sebelum jam 7 bisa bangun untuk bisa melihat kami berpamitan seperti yang beliau sampaikan tadi malam. Awalnya beliau dengan keramahannya tetap menunggui kami yang masih wira-wiri mengumpulkan koper di depan apartemen sampai akhirnya kami berpamitan.

Suasana masih pagi buta, kami berempat sempoyongan membawa 7 koper yang total beratnya mencapai 110 kg ditambah tas yang kami gendong masing-masing serta beberapa barang bawaan kecil-kecil. Tak disangka, tiba-tiba Prof. Liu masuk ke kamar untuk memakai jaket dan sepati kemudian segera berlari mengejar kami dan meraih 2 koper kami yang cukup berat. Dan tahukah? Beliau menemani perjalanan kami menuju halte yang melewati jalan bergelombang dan menurun lebih dari satu kilometer jauhnya, padahal saat itu masih subuh (karena di sini subuh jam 6.30 dan matahari terbit jam 8.30) dan dingin setelah hujan semalam. Beliau bersemangat sekali menemani perjalanan kami.

Oh, profesor yang berasal dari Xi’an University ini merelakan dirinya untuk turut mengangkati barang-barang yang akan kami bawa ke Indonesia. Bahkan di halte, beliau tetap membersamai kami hingga bus nomor 625 datang. Kalau mas Joko tidak bilang bahwa dosen kami akan menjemput di Wuppertal Hbf, pasti beliau akan ikut naik bersama kami lagi menuju Wuppertal Hbf.  Dalam hati aku sangat kagum dengan orang sebaik beliau. Masih muda, sudah profesor, tetapi sangat ramah kepada kami sejak kami datang kemudian mengenal beliau ketika sering bersama di bus waktu menuju kampus.

Aku yakin, hati-hati orang Timur itu tetaplah damai dan sikapnya penuh dengan keramahan. Suka membantu dan peduli pada yang lain. Di Eropa, kebanyakan orang cuek, meski tak semuanya. Dan aku katakan bahwa Prof. Tausch dan tim adalah orang-orang yang sangat ramah, bahkan keramahan mereka dalam melayani kami lebih dari ekspektasiku ketika akan berkunjung ke sana. Maka aku sangat percaya bahwa berbagai perseteruan antara bangsa hari ini, bahkan dengan negeri jiran Malaysia sekalipun sebenarnya karena gejolak individualisme yang semakin menjadi di antara kedua belah pihak.

Usai shalat Maghrib-Isya di bandara transit Internasional Abu Dhabi, aku bertemu dengan Bapak Abdul Manaf dari Kelantan, Malaysia. Aku suka dengan beliau dan kerendah-hatian beliau. Beliau bercerita tentang salah satu guru favoritnya yang mengajar ketika SMA dahulu yang berasal dari Indonesia (tahu kan dulu Malaysia banyak ngundang guru dari Indonesia). Saking amazingnya sang guru, beliau bahkan masih ingat nama lengkap sang guru. Beliau memuji kebaikan orang Indonesia dan kehebatan kita (apanya?). Ini hal kontradiktif ketika di tempat yang sama aku bertemu dengan orang Malaysia, remaja putri yang cuek dan angkuh ketika temannya dari Filipina justru akrab berdiskusi dengan kami.

Aku percaya, hati orang Timur itu tetap baik meski sekarang sedang dirundung ujian karena kecemburuan kemajuan. Jurang perbedaan pola pikir dan intelektualitas yang dikunci oleh egoisme membuat kita gelap mata untuk lebih banyak membuat orang tersinggung tidak pada tempatnya. Dan bahkan di penghujung tahun ini aku pun melihat bahwa orang-orang Barat pun hati mereka bisa sebaik orang timur (seperti dalam asumsiku ketika belum pernah datang ke Eropa). Maka keterpurukan bangsa Indonesia hari ini sebenarnya adalah karena mereka tidak malu lagi meninggalkan tradisi ketimuran mereka yang mulia dan mengganti dengan kerakusan atas nama kekuasaan. Yah, kekuasaan yang dilandasi sikap rakus dan mementingkan diri sendiri, sehingga jauh dari pengorbanan dan ketulusan, dan sangat dekat dengan penindasan dan eksploitasi sumber daya manusia.

Aku teringat pesan Prof. Tausch di makan malam pertama kali dengan beliau, Open your eyes, see the world overall. Tak heran jika Ibnu Batutah memiliki catatan perjalanan yang indah, karena beliau memang merasakan apa yang terjadi dari setiap rihlah panjang beliau. Intinya, belajar dan merasakan sendiri kemudian merefleksikannya dalam pandangan hidup dan diterjemahkan dalam perilaku. Terima kasih Allah telah kau pilihkan Eropa untukku.

Kategori
Catatan Perjalanan

Wuppertal, Indahnya Kau Malam Ini

Petang tadi, usai pulang dari apartemen mas Ferdi, ku tatap lekat-lekat keindahan kota Wuppertal dan lampu-lampu yang bersinar di Bergische Universitat, hemm malam ini adalah malam terakhirku di kota yang permai dan tenang ini.

Begitu sampai di Gastehauss, Prof. Liu Linlin (tetangga di kamar sebelah) mengajak kami menikmati kopi hitam sambil berbincang. Ramah sekali beliau, oh semoga suatu saat nanti bisa berkunjung ke Xi’an University, China, tempat beliau mengajar. Karena beliau sudah memberi hadiah cantik buat kami, akhirnya kami pun menyerahkan baju batik dan beberapa gantungan kunci batik buat beliau. Dan kami abadikan kebersamaan kami di depan ruang pertemuan apartemen kami.

Hemm, beginilah ketika akhirnya mendapat kesempatan bergaul dengan banyak orang di berbagai belahan dunia. Ada cara pandang baru bagaimana kita mencoba berkontribusi untuk dunia ini meskipun kecil. Bekerja bersama untuk menjaga bumi ini sesuai dengan peran dan kiprah masing-masing.

Wuppertal, salam hangat untukmu malam ini. Semoga suatu saat nanti aku dapat berkunjung ke sini lagi. Menyapa kembali orang2 yang ramah ini, memberi hadiah untuk orang yang sudah kami anggap seperti kakek sendiri, Prof. Tausch.

Syahdu, rindu, aku ingin mendapatkan pelajaran hidup lebih banyak lagi di rihlah-rihlah berikutnya. Aku ingin sekali menggali nilai-nilai hidup di berbagai belahan dunia ini, agar aku memiliki cerita yang baik-baik untuk anak-anak dan keturunanku nanti.

Terima kasih Allah, dengan segala kekuranganku, dengan segala perjuanganku, Kau biarkan aku mengembara dan merasakan kehidupan yang berbeda hari ini. Ampunilah segala kesalahanku karena kebodohanku ini.

reposted from my FB status

Kategori
Catatan Perjalanan

Aku dan Kereta Gantung Wuppertal

Hampir sebulan aku tinggal di kota Wuppertal, salah satu kota kecil yang dikelilingi bukit-bukit di kawasan negara bagian NRW (Nord-Rhein Westfalen), Jerman. Kota ini sangat berbeda dengan kota yang lain. Mengapa? Karena kota ini memiliki satu jenis transportasi umum yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di Jerman, yaitu kereta gantung. Ketika dulu sebelum berangkat aku sempat googling agar tahu dulu seluk beluk kota ini. Kukira kereta gantung ini hanyalah kereta wisata yang dioperasikan pada saat-saat tertentu saja, ternyata ini adalah transportasi publik yang beroperasi selama 24 jam. Silahkan lihat sejenak videonya.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=L32K-K4AUz0]

Moda transportasi ini membentang dari kawasan Oberbarme hingga Vohwinkel. Tentang sejarahnya, aku ambilkan dari tulisan tetangga saja ya.

Kalau beberapa negara memiliki kereta bawah tanah, sedangkan Jerman memiliki kereta gantung. Kereta gantung ini bukanlah yang digunakan untuk bermain ski ataupun untuk berekreasi, melainkan salah satu alat transportasi di Jerman. Kereta gantung ini dinamakan Wuppertal Schwebebahn atau Wuppertal Floating Tram.

Kereta ini terletak di kota Wuppertal, Jerman, sebuah kota yang makmur dan besar dibandingkan kota Cologne atau Koln dalam bahasa Jermannya. Pembangunan kereta Wuppertal Schwebebahn berawal pada 1898 dan bertahan melewati masa Perang Dunia II, hingga saat ini. Ternyata, kereta gantung Wuppertal Schwebebahn bukanlah kereta yang baru dibuat oleh negara yang terkenal dengan kemajuan industri dan teknologinya ini.

Kereta ini menggunakan konsep monorail atau kereta yang berjalan dengan menggunakan rel tunggal. Transportasi yang menggelantung ini menjadi ciri khas kota Wuppertal, sekaligus menjadi transportasi termudah dan tercepat untuk berkeliling kota-kota sekitar. Alasan dibuatnya kereta gantung ini disebabkan oleh konstruksi bawah tanah yang berbatu-batu dan memiliki banyak kandungan air tanah. Hal ini tidak memungkinkan dilaksanakannya pembangunan kereta bawah tanah. Akhirnya, para ahli teknik Jerman mengalihkannya menjadi pembangunan kereta gantung.

Sebagian besar jalur kereta ini dibangun melewati atas sungai Wupper dengan ketinggian 12 meter dan beberapa jalur lainnya melewati jalan raya kota tersebut dengan ketinggian 3 meter. Sejak pertama kali kereta gantung ini dibuka untuk publik pada 1901, jumlah penumpangnya mencapai 400.000 orang dan terus bertambah.

Kecelakaan fatal pernah terjadi pada April 1999, setelah kereta gantung ini resmi beroperasi selama 98 tahun. Ini menjadi kecelakaan terparah yang menewaskan 5 orang penumpangnya dan 49 orang luka-luka. Itulah Jerman dengan kemajuan yang pesat pada dunia industri dan teknologi yang diakui dunia hingga saat ini. Kereta gantung Wuppertaler Schwebebahn menjadi bukti nyata bahwa Jerman sudah menjadi negara yang sadar teknologi pada dunia industrinya sejak zaman dahulu kala.

(dikutip dengan perubahan dari http://ciricara.com/2012/06/30/kereta-gantung-wuppertal-schwebebahn-di-jerman-foto/ )

Sore ini, impianku untuk menaiki kereta gantung dari ujung ke ujung dalam satu putaran akhirnya terpenuhi sudah. Lega rasanya dapat merasakan ikon terbaik yang dimiliki kota ini. Dan ini adalah kenangan terakhirku yang spektakuler tentang Jerman sekaligus mungkin sebagai akhir penggunaan tiket transportasi bulananku. Karena besok dan hari Ahad, ketika aku aku akan ke bandara, tiket itu sudah tidak kugunakan lagi. Yang hari Sabtu besok, aku akan packing untuk pulang, sedangkan hari Ahadnya, tiket berlaku mulai jam 9, padahal kami harus ke Dusseldorf sebelum jam 8.

Sekian kisah kenangan indah hari ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

Dr. Amithab, Kukira Saudaranya Amitha Bachan

Ketika kami asyik menunggu perkuliahan Dr. Simone, tiba-tiba melintas di ruangan kami dan berhenti di pintu seorang berwajah India yang sangat ramah dan masih muda. Beliau kemudian menyapa kami dan memperkenalkan diri. Wah, ku kira Dr. Amithab itu cewek, ternyata cowok yang masih kelihatan muda dan segar. Saking kelihatan mudanya seperti mahasiswa S-1, temanku terkejut waktu beliau memperkenalkan diri.

Beliau sangat ramah terhadap kami dan kami sempat berdiskusi banyak hal dengan beliau, diantaranya tentang perayaan tahun baru. Karena memang sama-sama negara yang hanya mengadopsi dari Eropa kami saling membandingkan keramaian tahun baru di negara masing-masing. Diskusi kemudian berlanjut tentang artis-artis India, sampai dia berseloroh bahwa dia bangga karena namanya agak mirip dengan Amitha Bachan. Ketika kami tanya apakah ada garis keturunan yang dekat dengannya, beliau berkata tidak. Ha ha ha, ternyata salah.

Beliau datang ke Jerman sejak tahun 1992 dan menetap di sini sebagai warga negara Jerman. Ternyata beliau adalah diaspora India di Jerman. Aku kemudian jadi teringat cerita tentang banyaknya diaspora Indonesia di luar negeri yang hari ini sebelumnya harus digalang kekuatannya agar tumbuh rasa cintanya terhadap tanah air. Kata mas Bashori, fasilitator Bakti Nusa DD UI, waktu berdiskusi denganku ketika aku berkunjung ke UI, jika susah berkiprah di Indonesia, padahal kita punya kemampuan besar, jadilah diaspora Indonesia saja yang nanti memberi banyak kemudahan kepada orang-orang Indonesia ketika akan belajar di negeri yang kita tinggali.

Aku kemudian berpikir, apakah berpindah kewarganegaraan karena sebuah alasan pilihan hidup di masa depan dan ingin memberi kemudahan kepada warga negara asal kita adalah bukti cinta tanah air. Hari ini India dan China menjadi raksasa di dunia karena diaspora mereka kokoh dan mencintai negeri tempat nenek moyang mereka berada. Bagaimana dengan Indonesia? Kuharap kita mulai merencanakan hidup sejak hari ini tentang apa yang akan kita berikan untuk negeri kita, bukan apa yang akan kita ambili dari negeri kita.

Kategori
Catatan Perjalanan

Arti Matahari Bagiku

Jika di Indonesia, setiap hari bahkan ketika waktu mendung tebal di musim penghujan pasti matahari masih bisa terlihat, maka di sini melihat matahari adalah sebuah karunia Allah yang tidak ada duanya. Melihat langit biru yang cerah dan sinaran matahari di musim dingin adalah peristiwa langka yang mungkin hanya akan terjadi sebulan dua-tiga kali atau mungkin lebih lama lagi.

Pagi ini aku mendapati waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan beberapa tulisanku yang sempat tertunda sekian lama. Ketika ketiga temanku mengajak jalan-jalan ke Vodafone aku memutuskan untuk tetap di wohnung saja. Lebih pewe di sini untuk mengetik sambil mendengarkan lagu-lagunya Maher Zain dan Irfan Makki. Di saat asyik mengetik aku melihat pemandangan yang sangat berbeda dari biasanya. Gedung-gedung di depan apartemenku terlihat berpendar, itu tandanya ada matahari bersinar. Aku segera berlari keluar (tentunya memakai jaket dan sepatu boat dulu dong) dan mengambil foto-foto gedung dan matahari. Indah sekali, maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan.

Setelah hampir pukul satu siang, aku segera berkemas ke kampus. Usai shalat dzuhur aku segera berangkat kampus. Awalnya ke pemberhentian bus menunggu jenis Uni-Express yang akan mengantarku ke kampus, tetapi karena jadwal keberangkatannya masih 20an menit lagi kuputuskan untuk berjalan kaki ke kampus, sambil menghangatkan badan dengan olah raga untuk melawan hawa dingin (sebenarnya alibi juga karena ragu apakah beneran bus berseri E itu bisa sampai ke kampus, karena buku petunjuknya semua dalam bahasa Jerman). Alhamdulillah, tak sampai 20 menit sampailah aku di kampus dengan beberapa foto-foto pemandangan kaki bukit yang hari ini cerah.

Kawan, melihat matahari di sini ketika musim dingin adalah kenikmatan tersendiri. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu ketika kita biasanya dapat melihat matahari itu dengan terang sepanjang hari. Di bulan ini, matahari terbit setengah sembilan dan terbenan setengah 5 sore, hari yang cukup singkat bukan. Itu pun jika sinaran matahari terlihat ketika awan cerah. Kebanyakan ditutup oleh mendung yang sangat tebal sehingga mungkin hanya bersinar selama 2 jam saja atau mungkin seharian tidak akan terlihat matahari. Hari ini aku mendapatinya cerah bersinar sejak terbit hingga terbenamnya. Segala puji bagi Allah yang telah menjadi matahari ini bersinar indah di siang hari.

Kategori
Catatan Perjalanan

Hargai Dong yang Lain

Usai shalat kami berdiskusi dengan Prof. Tausch. Masing-masing dari kami diperiksa catatan kuliahnya. Beliau mengapresiasi usaha kami meski catatan kami acak adut. Aduh, jadi malu rasanya. Setelah mereview kembali rencana hari-hari berikutnya kami segera pulang ke wohnung.

Ini saatnya kami menggunakan tiket perdana kami untuk merasakan WSW Bus. Alhamdulillah sampai dan kami bisa beristirahat dan bersih-bersih badan. Usai shalat maghrib jam setengah 5 sore kami bersantai di depan televisi yang semua acaranya berbahasa Jerman, kecuali BBC dan CNN. Kemudian kami segara makan malam dengan menu asli Indonesia dan ala mahasiswa. Sarimi dicampur berbagai macam makanan yang dipaksakan sesuai. Itulah bawaan kami dari Indonesia.

Karena asyiknya makan, kami sampai bercanda kelewat batas. Hingga akhirnya ada telpon yang berdering di ruangan kami, suara dari Mrs. Monika meminta kami untuk diam dan tidak ribut. Menghargai tetangga di ruang sebelah. Yah ada Prof. Solodnikov dan Mrs. Dong. Ah, kami jadi takut, khususnya teman-teman putri yang teriaknya paling keras. Akhirnya aku dan mas Joko segera balik ke ruangan dan shalat Isya. Usai melakukan beberapa review kami segera bersiap untuk tidur.

Aku jadi ingat pesan Mbak Nella, rekan blogger yang saat ini juga tinggal di Jerman. Kalau malam jaga ketenangan agar tidak mengganggu yang lain. Plak, tamparan keras anak urakan yang terbiasa gojek di mana saja. Yah, ini ruangan elit untuk para Ph. D. Student, mengapa aku jadi lupa. Astaghfirullah, maaf ya Prof dan Mrs. atas kekhilafan kami. Besok lagi tak akan kami ulangi. Demikian liku-liku hari ini berakhir dengan indah.

Kategori
Catatan Perjalanan

Bertemu Saudara Seiman

Usai dari WSW, kami langsung menuju kelas Dr. Claudia tentang kajian interdisipliner sains. Yah, beliau mengisi anak-anak semester 3 calon guru Primary School. Seperti halnya Prof. Tausch, beliau membuat kuliah ini terasa sangat nyaman. Meski beliau menyampaikan kuliah full menggunakan bahasa Jerman tapi kami tetap bisa memahami lewat presentasi yang beliau suguhkan dalam bentuk gambar dan flowchart. Usai kuliah dengan sangat rendah hatinya beliau meminta maaf kepada kami karena tidak menggunakan bahasa Inggris selama kuliah karena kuliah ini sangat penting agar tidak menimbulkan miskonsepsi di kalangan mahasiswa. Yah, tidak mengapa Mrs, karena kamilah yang harus tahu diri.

Karena padatnya jadwal kuliah hari ini dan belum tahu tempat yang baik untuk shalat kami akhirnya harus menjamak shalat dzuhur dan ashar seperti kemarin. Alhamdulillah, ternyata di sini juga ada musholanya. Wah, dugaanku yang dulu terlalu buruk terhadap kampus Eropa. Sejak toleransi mereka yang besar terhadapku yang tidak mau berjabat tangan dengan lawan jenis hingga akhirnya aku tahu ada mushola di kampus ini menjadikanku harus beristighfar atas segala prasangkaku di masa lalu.

Di mushola yang cukup kecil ini, kami berkenalan dengan saudara-saudara seiman kami dari penjuru dunia. Kebetulan ada beberapa yang akan shalat ashar. Saat itu ada Syaifullah dari Prancis dan Orhan dari Turki. Usai shalat ashar (jamaah) dan kemudian dzuhur, ada beberapa sahabat yang datang lagi. Aku hanya ingat satu nama yakni Ismail yang merupakan warga asli Jerman. Oh indahnya perkenalan hari ini. Dari mereka aku tahu bagaimana ke depan aku harus shalat Jumat.

Eropa, mungkinkah kelak di sini justru Islam akan tumbuh dengan kuat dan segera mengulang kejayaan Andalusia lagi. Semoga Indonesia pun bisa melakukan perbaikan agar tidak saling egois dan sibuk pada alirannya sendiri-sendiri. Mari kita tunjukkan Islam sebagai jalan hidup, bukan ritualitas apalagi sebagai fanatisme golongan yang membuat orang kian menjauh dan tidak merasakan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Kategori
Catatan Perjalanan

Mensa & WSW

Usai kuliah kami segera menuju mensa (kantin) untuk makan bersama. Sebenarnya seorang profesor tidak seharusnya makan ditempat seperti ini, paling tidak di kafetaria kampus. Tapi karena beliau ingin mengajari kami secara langsung beliau merelakan diri untuk membimbing kami dalam memesan makanan. Karena khawatir bayarnya mahal aku hanya memilih menu nasi dan sayuran (vegetarian yang mencari makanan halal, plus harga murah). Celakanya ada salah satu temanku yang terlanjur memilih menu yang salah, yaitu kentang dan daging yang ternyata itu adalah daging babi. Begitu dia tahu akhirnya cuma lemes dan tidak doyan makan.

Di sini aku mendapat pelajaran berharga bagaimana bagusnya manajemen kantin kampus. Bahkan seorang kasir di sini semuanya telah mahir menggunakan IT. Dari sekian menu yang sangat banyak (sampai tadi bingung dan akhirnya memilih jadi vegetarian), semua dihitung dengan cermat menggunakan sistem database yang ketat sehingga harga yang diberikan itu akuntabel. Bahkan sekedar menggunakan saus dan menggunakan sayur semua ditimbang beratnya dan dikalikan menurut kadar harganya. Alhamdulillah aku cuma habis 2,3 euro (sebenarnya masih mahal) dan bisa menikmati makan siang dengan lahap. Kawanku yang pakai daging babi tadi akhirnya menghabiskan sisa makanan temanku yang lain karena pesan kebanyakan dan kemahalan.

Tak cukup sampai di sini, ternyata setelah makan, semua piring harus kami kembalikan sebelum keluar. Ketika kami mau pergi seperti kebiasaan jajan di kantin belakang kampus UNS, Prof. Tausch memanggil kami dan menasihati. Ah, jadi malu. Kebiasaan yang sangat buruk. Kami memungut kembali wadah tempat makan kami dan mengantarnya ke bagian pencucian. Lagi-lagi di sini juga sudah menggunakan cara yang modern seperti sistem bagasi pesawat. Sisa-sisa dibuang di tempat sampah yang berbeda, dan semua tempat makan ditaruh di atas papan berjalan yang akan diterima petugas cuci. Hemm, semua hanya butuh kerja sama dan kekompakan. Para petugas kantin dan pekerjaan di sini mungkin memang telah dipahami sebagai pekerjaan yang baik sehingga semua bekerja dengan profesional dan penuh dedikasi.

Usai makan siang, Prof. Tausch dan Ms. Ingrid mengantar kami ke kantor WSW. Yaitu pusat pelayanan tiket untuk bus dan kereta api. Dengan membayar 46,3 euro setiap kami, kami bisa menikmati perjalanan bus di wilayah Wuppertal sepuasnya selama bulan Desember. Tinggal menunjukkan kartu tiket itu kepada sopir atau petugas saat pemeriksaan kami bisa menikmati perjalanan ini dengan tenang. Wah, jadi makin tersanjung dimanjakan oleh kota Wuppertal ini jadinya. Kapankan bisa berkontribusi untuk Indonesia dalam mewujudkan sistem-sistem yang sejenis ini. Sejenis, karena mungkin tidak bisa sama seperti ini, tetapi bagaimanapun prinsip pelayanan transportasi seperti ini harus bisa diwujudkan di Indonesia.

Keluar dari kantor aku memborong segala brosur, buku, dan peta yang disediakan secara gratis. Masalahnya, semua ditulis dalam bahasa Jerman. Aduh-aduh, harus belajar lagi membuka memori di waktu SMA. Demikianlah cerita layanan yang mengagumkanku hari ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

General Chemistry Lecture : Kesungguhan dan Dedikasi

Kuliah dimulai jam 8.10 gara-gara beliau harus menunggu keterlambatan kami sampai di kampus. Pada alokasi jam 8.00 – 10.00 ini beliau memberi kuliah kepada mahasiswa keguruan angkatan pertama yang akan mengajar di Primary School tentang kimia dasar dengan topik jenis-jenis asam dalam kehidupan kita sehari-hari. Beliau menyampaikannya dalam bahasa Jerman dan sesekali beliau memberi penekanan dalam bahasa Inggris sambil menolehkan mukanya kepada kami.

Paparannya cukup lugas, penerapan kombinasi metode ceramah dengan metode interaktif cukup bagus. Kemudian penggunaan media LCD, papan tulis, dan praktikum juga sangat berimbang. Dengan asisten Mrs. Ingrid yang cekatan, semua rencana pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Kami pun yang tidak mengerti bahasa Jerman akhirnya juga dapat menangkap maksud dari kuliah hari ini. Beliau tidak menghabiskan 2 jam untuk kuliah, tetapi menyediakan waktu 10 menit untuk mahasiswa yang mau konsultasi, dan 10 menit untuk jeda di perkuliahan berikutnya. Memang begitulah para dosen disini mengelola waktunya. Hemm, sebuah keteladanan penting yang bagus bagi rekan-rekan mahasiswa yang kuliah di sini. Pantas saja mereka kelak jadi guru yang baik, keteladanan para dosennya saja luar biasa.

Hal yang berbeda dari Prof. Tausch dengan kebanyakan dosen di tempatku kuliah, khususnya para Guru besarnya adalah dedikasi dan keseriusannya dalam mengajar. Aku jadi teringat dengan training value yang disampaikan oleh Pak Asep beberapa bulan lalu. Orang yang profesional itu tidak hanya menjalankan pekerjaannya sesuai dengan SOP, tetapi juga menghayati dan memberi ruh dari apa yang dilakukannya. Mereka menghadirkan hati mereka dalam berkarya karena mereka mencintai apa yang mereka kerjakan.

Dan buah dari kesungguhan mengajar itu dapat dirasakan oleh setiap orang yang bersamanya. Mungkin ini tidak ilmiah, tetapi bukti akan membungkam segala dalih. Kita menjumpai banyak tokoh dan para alim itu memberikan pengaruh berbeda ketika menyampaikan ilmunya dibandingkan orang-orang yang pandai berbicara. Mereka menyampaikan pelajaran dan memberikan keteladanan dengan hati. Benarlah kata para guruku, siapa pun bisa melatih tetapi tidak setiap orang bisa mendidik. Yah, mendidik itu lebih mulia dan lebih bermakna dari pada melatih. Aku setuju itu.

Maka buatlah orang itu mengerti tentang belajar maka dia akan belajar dengan cara terbaiknya. Jangan banyak mendikte orang untuk belajar seperti kita karena belum tentu mereka bisa belajar seperti kita. Dan Prof. Tausch memberi pelajaran kepada kami bahwa menghadirkan hati dan dedikasi itu penting dalam menunaikan amanah sebagai pendidik. Cara beliau mengajar persis seperti teori yang sudah sering kita pelajari dan mungkin juga pernah kita praktikkan. Tetapi lagi-lagi hasilnya itu akan berbeda tergantung siapa yang melakukannya.

Di pergantian jam menuju kelas beliau yang lain. Aku baru sadar bahwa kamera digitalku ketinggalan di kelas pertama sedangkan aku sudah terlanjur masuk ruangan khusus yang disediakan oleh tim Prof. Tausch. Seketika itu juga aku berlari sekencang-kencangnya untuk mengambil kamera yang tertinggal. Berbekal ingatan yang tersisa mengingat rumitnya dan luasnya gedung-gedung yang saling terhubung di Universitas Wuppertal aku mencoba meraih kembali kamera itu. Setelah sempat bingung beberapa waktu akhirnya aku sampai di ruangan tadi. Waktu membuka pintu aku terkejut karena ada seorang dosen yang telah mengajar. Aku meminta izin untuk mengambilnya. Kulihat keheranan di wajah beliau, mungkin baru kali ini melihat wajah Asia yang pelupa harus mengganggu kuliahnya demi sebuah kamera. Terima kasih atas tidak marah dan tetap senyummu wahai dosen yang tidak kukenal.

Dengan bantuan Mrs. Ingrid (lebih tepatnya aku merepotkannya) aku menyusul rekan-rekanku yang telah di kelas bersama Prof. Tausch. Seperti tadi kuliahnya tetap menyenangkan dan aku bisa menikmatinya, sambil sesekali melemparkan pandangan ke arah mahasiswi di sini yang cantik-cantik luar biasa. #sensor berbunyi lagi pasti. Ha ha ha