Setelah mengudara selama 8 jam dan bagiku perjalanan ini cukup membosankan, akhirnya Air Bus yang bernama Etihad Airways mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selamat datang Indonesia. Selamat datang tanah airku tercinta. Betapapun nikmatnya negeri orang, rasa rindu untuk mencium tanahmu dan bersujud di sana tak akan pernah tergantikan. Dan sekali lagi rasa sendu ketika menyanyikan lagu tanah airku di mobil Prof. Tausch terkenang kembali di sini waktu kakiku kembali menjejakkan kaki di tanah ibu pertiwi.

Bertemu Kakak Kelas

Ketika aku berjalan melewati koridor menuju bagian imigrasi. Tiba-tiba ada seorang yang memperhatikanku. Mulanya hanya saling melempar senyum, kemudian orang yang aku juga pernah merasa kenal itu bergerak mendekatiku dan menyapaku. Yah, aku ingat, beliau adalah kakak tingkatku waktu SMA, hanya saja aku sudah lupa namanya.

Setelah saling berkenalan lagi akhirnya aku tahu siapa beliau. Namnya mas Triyogo, kakak tingkat angkatan 2006, yang dulu aktif di Patroli Keamanan Sekolah (yah jadi inget waktu dulu aku dirazia oleh beliau). Wah, sekarang udah kerja di airport terbesar di Indonesia ini ternyata. Wah selamat ya mas, atas capaianmu di sini. Senang sekali bisa bertemu dengan kakak kelas dari almamaterku dahulu, kawah candradimuka pertamaku yang telah mengantarkanku pada berbagai jenjang kebaikan hingga hari ini.

Panasnya Jakarta

Kesan pertama yang muncul setelah keluar dari ruang bandara adalah hawa panas. Yah, mungkin karena sudah mulai kerasan di Jerman yang saat ini sedang musim dingin, keluar dari ruangan bandara sekalipun melepas jaket ternyata gerahnya bukan main. Dan aku terus menyadarkan diriku bahwa inilah tanah air yang kurindukan itu. Inilah Indonesiaku. Akhirnya aku pulang kembali. (Alay deh)

Tanpa buang waktu lagi aku segera menyambangi penjualan tiket DAMRI bandara dan memesan tiket bus jurusan pasar minggu. Lagi-lagi ada sesuatu yang berbeda, kali ini aku mengeluarkan uang berwarna biru yang angkanya berjibun. Yah, ini rupiah, mata uang kebanggaan kita bukan. Ternyata berbeda sekali waktu dulu masih pegang euro, karena nolnya cuma dikit, dan bahkan banyak kenclengnya. Oh, aku jadi ingat dengan ketawanya Dr. Amitabh yang membuatku tersenyum kecut waktu beliau menanyakan nilai euro dalam rupiah. Hemm, lupakan dan aku akan menghabiskan waktu di Jakarta ini paling ga sampai besok pagi sebelum ke rumah.

Realistis

Meskipun ada tawaran untuk tinggal di rumah budhenya temenku yang waktu itu kami gunakan untuk transit saat keberangkatan, aku memutuskan untuk mengunjungi tetanggaku yang kerja di Jakarta ini, di salah satu kawasan yang bagiku akan terus membuatku belajar tentang realita Indonesia hari ini. Berbeda sekali dengan rumah budhenya temenku itu, apalagi dengan apartemen yang kutinggali waktu di Jerman, kontrakan atau rumah tinggal para sedulur desaku ini bisa dikatakan sangat sederhana untuk ukuran warga ibu kota. Aku mencoba memahami bagaimana kehidupan mereka dan bagaimana gagahnya mereka sanggup bertahan dalam lingkungan seperti itu. Aku malu sebagai orang Indonesia, lebih-lebih kaum terpelajar yang hari ini bahkan masih sesekali minta suntikan uang saku pada orang tua.

Dan aku memutuskan untuk bermalam di sana, merasakan kebersamaan di lingkungan kampung yang sangat padat penduduk. Mungkin akan semakin gerah memang, tetapi aku harus mengambil pilihan ini atau aku akan kehilangan jiwa yang telah besar bersamaku sejak kecil.

Dan ini adalah tanggal 31 Desember 2012, artinya nanti malam pukul 24:59:59 adalah detik terakhir dari tahun 2012. Sebuah momentum yang langka lagi tepat buatku untuk menghabiskan akhir tahun di ibukota.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.