Kategori
Catatan Perjalanan

24 Jam Touring ke Kendal #1

Kemrungsung

Kemarin malam, jam tanganku menunjukkan pukul 20.00, sebuah SMS masuk

Ayo busnya udah datang, segera ke sini

What? Aku langsung membalas loh bukane jam 21.00 ya, aku baru siap-siap berangkat nih. Akhirnya aku segera percepat persiapanku. Dan meluncur ke basecamp. Ceritanya hari ini kami, anak-anak komunitas PINTU akan ke Kendal, untuk hadir dalam walimahan salah satu sahabat kami.

Sesampai di sana, ternyata memang busnya menunggui kami yang masih pada ribet SMS sana-sini dan mengangkutin barang-barang ke bus. Maklum, kami tidak hanya akan datang dan makan-makan, tetapi juga memberikan penampilan terbaik di hadapan mbak Endah dan suaminya esok harinya. Setelah semua dirasa cukup kami segera meluncur dari kawasan ponpes Ngruki, tempat tinggal Pak Indrawan Yepe.

Sleep is My Style

Sepanjang perjalanan tidak ada yang kulakukan kecuali tidur. Yah, tidur adalah solusi yang tepat untukku yang ketika tidak sedang jalan-jalan seperti ini aku memilih untuk standby di depan laptop sambil online di Rumah Blogger Indonesia. Jadi saatnya membalas rasa melek yang panjang dengan tidur yang puas. Akhirnya, jam 2.00 pagi kami sampai di rumah pengantin.

Sambil bangun setengah sadar dan mungkin error juga, aku langsung connect dengan berbagai makanan yang dihidangkan. Otak boleh ngacau dan error, tapi insya Allah tidak akan salah respon terhadap makanan dan minuman yang terhidang. Itu sudah khas banget buatku. Setelah makan, sempat online bentar, karena lemot, tidur lagi.

Selamat datang hari Ahad, 24 Maret 2013. Aku subuh telat gara-gara sudah dibangunkan waktu adzan malah nyengkerung lagi. Ya sudah, tidak boleh diulang untuk selanjutnya. Setelah melakukan berbagai aktivitas pagi yang lain, termasuk makan-makan cemilan lagi. Kami segera mandi, karena ternyata acara akad nikahnya akan dimulai jam 7.00 pagi.

Akad Nikah, Halal Sudah

Jam 7.00 pagi lebih sedikit ternyata sudah berkumpul banyak orang di tenda. Aku yang masih klimis habis mandi dengan style guru FKIP menenteng tas besar malah bingung mau masuk di kumpulan orang itu. Bawa tas kayak mau kuliah padahal tidak. Akhirnya nekat bersalaman dengan para among tamu. Dan jadilah prototype calon dosen (aamiiiiin) ini bingung nyari tempat duduk yang nyaman buat melanjutkan tidur lagi. Ha ha ha

Selama ijab qabul berlangsung hingga ada acara tetek bengek itu, aku tidak menikmati, karena aku tidur. Hingga akhirnya Pak Indrawan dan mas Ridwan membangunkanku. Yah, ini walimahan ya, bukan tempat tidur. Selamat ya mbak Endah dan mas Zia, akhirnya kalian dipersatukan oleh Allah dalam sebuah ikatan yang halal dan suci. Sudah bisa pegang-pegangan tangan nih sekarang. Ha ha ha #aku akan menyusul (mbuh kapan)

Setelah itu ternyata aku mendapati adat baru tentang walimahan di daerah Kendal ini, kususnya di kecamatan (aduh lupa). Wislah intinya, setelah ijab qabul, ternyata semua kursi dibersihkan dan semua makanan dihidangkan. Karena kami termasuk tamu golongan awal, itu sudah menjadi keuntungan kami untuk menikmati makanan-makanan yang tersaji sampai kenyang. Alhamdulillah, perbaikan gizi. Memang sih, kadang risihnya lihat orang standing party (maaf dalam etika kaum muslimin, kita tidak dianjurkan standing kalau makan, yang boleh berdiri itu hanya minum, why? Tanya dokter). #loh

Tak kurang ada 5 jenis kedai makanan ku kunjungi dan kucicipi satu per satu. Tinggal soto ayam yang belum dan aku memutuskan untuk berhenti karena perut kian membuncit. Hemm, untung tadi ambil porsi sarapannya tidak seperti kalau di rumah, jadi tidak mengalami overload. Pas penuh saja lah. Ha ha ha.

Kategori
Catatan Perjalanan

Arti Matahari Bagiku

Jika di Indonesia, setiap hari bahkan ketika waktu mendung tebal di musim penghujan pasti matahari masih bisa terlihat, maka di sini melihat matahari adalah sebuah karunia Allah yang tidak ada duanya. Melihat langit biru yang cerah dan sinaran matahari di musim dingin adalah peristiwa langka yang mungkin hanya akan terjadi sebulan dua-tiga kali atau mungkin lebih lama lagi.

Pagi ini aku mendapati waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan beberapa tulisanku yang sempat tertunda sekian lama. Ketika ketiga temanku mengajak jalan-jalan ke Vodafone aku memutuskan untuk tetap di wohnung saja. Lebih pewe di sini untuk mengetik sambil mendengarkan lagu-lagunya Maher Zain dan Irfan Makki. Di saat asyik mengetik aku melihat pemandangan yang sangat berbeda dari biasanya. Gedung-gedung di depan apartemenku terlihat berpendar, itu tandanya ada matahari bersinar. Aku segera berlari keluar (tentunya memakai jaket dan sepatu boat dulu dong) dan mengambil foto-foto gedung dan matahari. Indah sekali, maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan.

Setelah hampir pukul satu siang, aku segera berkemas ke kampus. Usai shalat dzuhur aku segera berangkat kampus. Awalnya ke pemberhentian bus menunggu jenis Uni-Express yang akan mengantarku ke kampus, tetapi karena jadwal keberangkatannya masih 20an menit lagi kuputuskan untuk berjalan kaki ke kampus, sambil menghangatkan badan dengan olah raga untuk melawan hawa dingin (sebenarnya alibi juga karena ragu apakah beneran bus berseri E itu bisa sampai ke kampus, karena buku petunjuknya semua dalam bahasa Jerman). Alhamdulillah, tak sampai 20 menit sampailah aku di kampus dengan beberapa foto-foto pemandangan kaki bukit yang hari ini cerah.

Kawan, melihat matahari di sini ketika musim dingin adalah kenikmatan tersendiri. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu ketika kita biasanya dapat melihat matahari itu dengan terang sepanjang hari. Di bulan ini, matahari terbit setengah sembilan dan terbenan setengah 5 sore, hari yang cukup singkat bukan. Itu pun jika sinaran matahari terlihat ketika awan cerah. Kebanyakan ditutup oleh mendung yang sangat tebal sehingga mungkin hanya bersinar selama 2 jam saja atau mungkin seharian tidak akan terlihat matahari. Hari ini aku mendapatinya cerah bersinar sejak terbit hingga terbenamnya. Segala puji bagi Allah yang telah menjadi matahari ini bersinar indah di siang hari.

Kategori
Catatan Perjalanan

Kuliah Sebelum Matahari Terbit

Kalau kuliah jam 7 atau setengah 6 di kampus UNS sepertinya bukan hal yang wah jika kita telah setahun di sana. Tetapi bagaimana rasanya jika kuliah di saat matahari belum terbit? Pasti kelihatannya lebih gagah dan penuh perjuangan. Inilah kisah hari pertama kami kuliah di Kampus Universitas Wuppertal.

Sesuai dengan jadwal kami harus sudah sampai di ruang kuliah jam 8. Idealnya jam 8 kurang kami harus sudah sampai di kampus. Dan lagi-lagi orang Indonesia yang terbiasa dengan mepet-mepet, mepet waktu hingga mepet tempat duduk. Karena di sini jadwal waktu subuhnya pada bulan ini jam 6.15 dan matahari terbit baru jam setengah 9 pagi maka rasa malas itu masih menghinggapi kami. Setelah kami sarapan pagi ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8. Kalau di Indonesia masih pagi buta, kami nekat berangkat ke kampus dengan jalan kaki karena belum memiliki tiket pribadi. Sedangkan emarin dibayari oleh bu Nurma.

Sebenarnya kalau mau, tanpa pakai tiket pun bisa saja naik bus. Kalau tidak diperiksa semuanya aman. Tetapi jika itu kami lakukan, maka proses belajar kami untuk bertanggung jawab telah gagal dan sifat orang Indonesia abad ini akan tetap melekat kuat di dada kami. Akhirnya kami jalan kaki dengan kecepatan tinggi sambil menghafal rute yang benar ke kampus. Setelah berjalan sekitar 20 menit kami akhirnya sampai dan segera menuju ruangan Prof. Tausch. Tepat jam 8 sampai sana, tetapi itu membuat kami merasa bersalah dan malu terhadap beliau.

Beliau segera mengajak kami bergerak cepat ke ruang kuliah bersama Mrs. Ingrid yang membawa serangkaian perlengkapan. Hemm, beginilah bedanya dosen Indonesia dan Jerman. Mereka siap sejak sebelum mengajar sehingga tidak minta mahasiswa ambil ini itu ketika sudah sampai di kelas. Begitu beliau sampai, mahasiswa yang telah menunggu segera memasuki ruangan yang seperti yang sering kulihat di film-film hollywood berlatar tempat Eropa. Hanya butuh 5 menit saja untuk persiapan mulai dari LCD dan setting praktikum demonstrasi. Dan kuliah pun dimulai sebelum matahari terbit.