Kjadidontemplatif dan mendalam. Itulah kesan yang pertama kali tersemat dalam hatiku usai menyelesaikan bacaan karya Syaikh Muhammad al-Ghazali, ulama kontemporer yang mengajar di Universitas Al-Azhar. Karya (yang kubaca adalah yang versi terjemahan) setebal 453 halaman itu memberi kesan baru dari buku-buku motivasi yang pernah kubaca sejauh ini.

Syaih Al-Ghazali sangat indah dalam merangkai kata-katanya (termasuk penerjemahnya juga). Judul-judulnya terasa sangat aku banget dan memberi banyak jawaban atas perjalanan hidupnya yang masih terseok-seok hingga hari ini. Ya, hidup yang bermakna itu tak sekedar makan dan minum saja, tetapi adalah tentang mengenal hakikat kita sebagai makhluk Allah dan menjalani fitrah sebagai makhluk Allah.

Jika sebelum buku ini ditulis, Dale Carnegie telah menulis How to Stop Worrying and Start Living, Al-Ghazali menyusun rumusan buku motivasi yang jauh lebih mendalam tentang makna hidup. Beliau memang menulis Jaddid Hayatak (Perbarui Hidupmu) ini setelah dia menyelesaikan bacaan atas karya Dale Carnegie tersebut yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh rekannya yang juga menjadi dosen di Universitas paling terkemuka di dunia itu.

Mengapa kukatakan mendalam? Karena apa yang diungkapkan oleh Syaikh Al-Ghazali adalah hasil refleksinya yang mendalam tentang ayat-ayat Al-Quran dan khazanah peninggalan para generasi terbaik umat ini dalam menyikapi kehidupan. Jadi tidak sekedar sebuah bentuk kontemplasi biasa, tetapi merupakan penggalian nilai-nilai ilahiah yang sangat mendalam.

Sementara Dale Carnegie menulis buku itu hanya sebatas pengalaman hidupnya. Jika tulisan Dale saja mampu menginspirasi jutaan orang di Barat, tentu Jaddid Hayatak tak kalah penting untuk dibaca kalangan umat Islam yang hari ini telah memasuki fase kejumudan dan kefanatikan yang melampaui batas. Ini bukan buku fiqih, apalagi buku sirah, tetapi ini buku refleksi yang berguna untuk kita merenung dan berpikir sejenak untuk mengoreksi pola pikir kira yang mungkin sedang bermasalah karena terlalu banyaknya kontaminan dari luar yang merusak.

Buku ini menyeru semua umat Islam untuk kembali berpikir secara sehat, memadukan akal dan hati, memadukan ayat qauliyah dan ayat kauniyah-Nya untuk menghasilkan sebuah simpulan yang tepat dalam menghadapi problema hidup hari ini. Dalam beberapa paragraf terakhirnya, beliau menulis,

Umar berkata, “Islam akan lenyap sedikit demi sedikit jika ada orang Islam yang tidak mengetahui definisi jahiliyah“.

Dari sini, wajib bagi penggelut ilmu-ilmu keislaman untuk mempelajari kehidupan dan semua aspeknya, selain mengetahui bentuk-bentuk aktivitas manusia beserta tujuannya, jangka pendek maupun jangka panjang.

Kepicikan dalam melihat kenyataan yang sedang dan akan terjadi di dunia, dan merasa puas dengan hanya satu sisi pengetahuan, merupakan penghalang tebal untuk mengenal Islam dan mengambil faedah dari kekayaan tradisinya yang melimpah, baik dari sisi peradaban, pendidikan, fikih, maupun politik individu dan sosial. Dan, kajian-kajian komparatif, menurut saya, merupakan sarana tercepat untuk mencari kebenaran dan meraihnya.

Saya mengundang kaum intelektual-penulis muslim untuk untuk terus menelurkan karya-karya yang dihasilkannya dari pengamatan cermat atas berbagai disiplin ilmu dan filsafat, kemudian memadukan tradisi dan ajaran Islam ke dalam karya-karya mereka. Dengan perbandingan yang mudah, kita akan melihat betapa pentingnya berkontribusi pada dunia melalui Islam, serta membendung rintatang-rintangan yang menghalami manusia dari hasrat untuk menerima Islam.

Terakhir, saya ingin sampaikan kepada para ulama bahwa minimnya pengetahuan tentang pelbagai disiplin ilmu kehidupan merupakan kejahatan terkeji yang mungkin dilakukan para ulama terhadap Islam. Bila mereka berjalan di dunia ini tanpa sekali pun berupaya memahami ilmu-ilmu tersebut, niscaya mereka akan jauh tertinggal. Di sisi Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih tertinggal dan lebih pedih lagi hukuman yang akan mereka dapatkan. Diri kita, negeri kita, hidup kita, dan akhirat kita tengah berada di titik kritis. Karenanya, kita butuh pengetahuan dan cahaya sehingga kita bisa selamat dan menyelamatkan!

Itulah kata-kata penutup yang sangat kuat penekanannya. Beliau, sebagaimana kita tentu tidak ingin melihat agama yang kita junjung tinggi ini direndahkan tersebab oleh kita yang kehilangan makna dalam beragama dan tidak mampu menjadi penerus yang baik. Jika sudah demikian, mari kita khawatir, karena Allah akan menggantikan diri kita dengan kaum yang lebih baik, yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.