Kategori
Catatan Perjalanan

Wuppertal, Indahnya Kau Malam Ini

Petang tadi, usai pulang dari apartemen mas Ferdi, ku tatap lekat-lekat keindahan kota Wuppertal dan lampu-lampu yang bersinar di Bergische Universitat, hemm malam ini adalah malam terakhirku di kota yang permai dan tenang ini.

Begitu sampai di Gastehauss, Prof. Liu Linlin (tetangga di kamar sebelah) mengajak kami menikmati kopi hitam sambil berbincang. Ramah sekali beliau, oh semoga suatu saat nanti bisa berkunjung ke Xi’an University, China, tempat beliau mengajar. Karena beliau sudah memberi hadiah cantik buat kami, akhirnya kami pun menyerahkan baju batik dan beberapa gantungan kunci batik buat beliau. Dan kami abadikan kebersamaan kami di depan ruang pertemuan apartemen kami.

Hemm, beginilah ketika akhirnya mendapat kesempatan bergaul dengan banyak orang di berbagai belahan dunia. Ada cara pandang baru bagaimana kita mencoba berkontribusi untuk dunia ini meskipun kecil. Bekerja bersama untuk menjaga bumi ini sesuai dengan peran dan kiprah masing-masing.

Wuppertal, salam hangat untukmu malam ini. Semoga suatu saat nanti aku dapat berkunjung ke sini lagi. Menyapa kembali orang2 yang ramah ini, memberi hadiah untuk orang yang sudah kami anggap seperti kakek sendiri, Prof. Tausch.

Syahdu, rindu, aku ingin mendapatkan pelajaran hidup lebih banyak lagi di rihlah-rihlah berikutnya. Aku ingin sekali menggali nilai-nilai hidup di berbagai belahan dunia ini, agar aku memiliki cerita yang baik-baik untuk anak-anak dan keturunanku nanti.

Terima kasih Allah, dengan segala kekuranganku, dengan segala perjuanganku, Kau biarkan aku mengembara dan merasakan kehidupan yang berbeda hari ini. Ampunilah segala kesalahanku karena kebodohanku ini.

reposted from my FB status

Kategori
Catatan Perjalanan

Aku dan Kereta Gantung Wuppertal

Hampir sebulan aku tinggal di kota Wuppertal, salah satu kota kecil yang dikelilingi bukit-bukit di kawasan negara bagian NRW (Nord-Rhein Westfalen), Jerman. Kota ini sangat berbeda dengan kota yang lain. Mengapa? Karena kota ini memiliki satu jenis transportasi umum yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di Jerman, yaitu kereta gantung. Ketika dulu sebelum berangkat aku sempat googling agar tahu dulu seluk beluk kota ini. Kukira kereta gantung ini hanyalah kereta wisata yang dioperasikan pada saat-saat tertentu saja, ternyata ini adalah transportasi publik yang beroperasi selama 24 jam. Silahkan lihat sejenak videonya.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=L32K-K4AUz0]

Moda transportasi ini membentang dari kawasan Oberbarme hingga Vohwinkel. Tentang sejarahnya, aku ambilkan dari tulisan tetangga saja ya.

Kalau beberapa negara memiliki kereta bawah tanah, sedangkan Jerman memiliki kereta gantung. Kereta gantung ini bukanlah yang digunakan untuk bermain ski ataupun untuk berekreasi, melainkan salah satu alat transportasi di Jerman. Kereta gantung ini dinamakan Wuppertal Schwebebahn atau Wuppertal Floating Tram.

Kereta ini terletak di kota Wuppertal, Jerman, sebuah kota yang makmur dan besar dibandingkan kota Cologne atau Koln dalam bahasa Jermannya. Pembangunan kereta Wuppertal Schwebebahn berawal pada 1898 dan bertahan melewati masa Perang Dunia II, hingga saat ini. Ternyata, kereta gantung Wuppertal Schwebebahn bukanlah kereta yang baru dibuat oleh negara yang terkenal dengan kemajuan industri dan teknologinya ini.

Kereta ini menggunakan konsep monorail atau kereta yang berjalan dengan menggunakan rel tunggal. Transportasi yang menggelantung ini menjadi ciri khas kota Wuppertal, sekaligus menjadi transportasi termudah dan tercepat untuk berkeliling kota-kota sekitar. Alasan dibuatnya kereta gantung ini disebabkan oleh konstruksi bawah tanah yang berbatu-batu dan memiliki banyak kandungan air tanah. Hal ini tidak memungkinkan dilaksanakannya pembangunan kereta bawah tanah. Akhirnya, para ahli teknik Jerman mengalihkannya menjadi pembangunan kereta gantung.

Sebagian besar jalur kereta ini dibangun melewati atas sungai Wupper dengan ketinggian 12 meter dan beberapa jalur lainnya melewati jalan raya kota tersebut dengan ketinggian 3 meter. Sejak pertama kali kereta gantung ini dibuka untuk publik pada 1901, jumlah penumpangnya mencapai 400.000 orang dan terus bertambah.

Kecelakaan fatal pernah terjadi pada April 1999, setelah kereta gantung ini resmi beroperasi selama 98 tahun. Ini menjadi kecelakaan terparah yang menewaskan 5 orang penumpangnya dan 49 orang luka-luka. Itulah Jerman dengan kemajuan yang pesat pada dunia industri dan teknologi yang diakui dunia hingga saat ini. Kereta gantung Wuppertaler Schwebebahn menjadi bukti nyata bahwa Jerman sudah menjadi negara yang sadar teknologi pada dunia industrinya sejak zaman dahulu kala.

(dikutip dengan perubahan dari http://ciricara.com/2012/06/30/kereta-gantung-wuppertal-schwebebahn-di-jerman-foto/ )

Sore ini, impianku untuk menaiki kereta gantung dari ujung ke ujung dalam satu putaran akhirnya terpenuhi sudah. Lega rasanya dapat merasakan ikon terbaik yang dimiliki kota ini. Dan ini adalah kenangan terakhirku yang spektakuler tentang Jerman sekaligus mungkin sebagai akhir penggunaan tiket transportasi bulananku. Karena besok dan hari Ahad, ketika aku aku akan ke bandara, tiket itu sudah tidak kugunakan lagi. Yang hari Sabtu besok, aku akan packing untuk pulang, sedangkan hari Ahadnya, tiket berlaku mulai jam 9, padahal kami harus ke Dusseldorf sebelum jam 8.

Sekian kisah kenangan indah hari ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

Arti Matahari Bagiku

Jika di Indonesia, setiap hari bahkan ketika waktu mendung tebal di musim penghujan pasti matahari masih bisa terlihat, maka di sini melihat matahari adalah sebuah karunia Allah yang tidak ada duanya. Melihat langit biru yang cerah dan sinaran matahari di musim dingin adalah peristiwa langka yang mungkin hanya akan terjadi sebulan dua-tiga kali atau mungkin lebih lama lagi.

Pagi ini aku mendapati waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan beberapa tulisanku yang sempat tertunda sekian lama. Ketika ketiga temanku mengajak jalan-jalan ke Vodafone aku memutuskan untuk tetap di wohnung saja. Lebih pewe di sini untuk mengetik sambil mendengarkan lagu-lagunya Maher Zain dan Irfan Makki. Di saat asyik mengetik aku melihat pemandangan yang sangat berbeda dari biasanya. Gedung-gedung di depan apartemenku terlihat berpendar, itu tandanya ada matahari bersinar. Aku segera berlari keluar (tentunya memakai jaket dan sepatu boat dulu dong) dan mengambil foto-foto gedung dan matahari. Indah sekali, maka nikmat tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan.

Setelah hampir pukul satu siang, aku segera berkemas ke kampus. Usai shalat dzuhur aku segera berangkat kampus. Awalnya ke pemberhentian bus menunggu jenis Uni-Express yang akan mengantarku ke kampus, tetapi karena jadwal keberangkatannya masih 20an menit lagi kuputuskan untuk berjalan kaki ke kampus, sambil menghangatkan badan dengan olah raga untuk melawan hawa dingin (sebenarnya alibi juga karena ragu apakah beneran bus berseri E itu bisa sampai ke kampus, karena buku petunjuknya semua dalam bahasa Jerman). Alhamdulillah, tak sampai 20 menit sampailah aku di kampus dengan beberapa foto-foto pemandangan kaki bukit yang hari ini cerah.

Kawan, melihat matahari di sini ketika musim dingin adalah kenikmatan tersendiri. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu ketika kita biasanya dapat melihat matahari itu dengan terang sepanjang hari. Di bulan ini, matahari terbit setengah sembilan dan terbenan setengah 5 sore, hari yang cukup singkat bukan. Itu pun jika sinaran matahari terlihat ketika awan cerah. Kebanyakan ditutup oleh mendung yang sangat tebal sehingga mungkin hanya bersinar selama 2 jam saja atau mungkin seharian tidak akan terlihat matahari. Hari ini aku mendapatinya cerah bersinar sejak terbit hingga terbenamnya. Segala puji bagi Allah yang telah menjadi matahari ini bersinar indah di siang hari.

Kategori
Catatan Perjalanan

Hargai Dong yang Lain

Usai shalat kami berdiskusi dengan Prof. Tausch. Masing-masing dari kami diperiksa catatan kuliahnya. Beliau mengapresiasi usaha kami meski catatan kami acak adut. Aduh, jadi malu rasanya. Setelah mereview kembali rencana hari-hari berikutnya kami segera pulang ke wohnung.

Ini saatnya kami menggunakan tiket perdana kami untuk merasakan WSW Bus. Alhamdulillah sampai dan kami bisa beristirahat dan bersih-bersih badan. Usai shalat maghrib jam setengah 5 sore kami bersantai di depan televisi yang semua acaranya berbahasa Jerman, kecuali BBC dan CNN. Kemudian kami segara makan malam dengan menu asli Indonesia dan ala mahasiswa. Sarimi dicampur berbagai macam makanan yang dipaksakan sesuai. Itulah bawaan kami dari Indonesia.

Karena asyiknya makan, kami sampai bercanda kelewat batas. Hingga akhirnya ada telpon yang berdering di ruangan kami, suara dari Mrs. Monika meminta kami untuk diam dan tidak ribut. Menghargai tetangga di ruang sebelah. Yah ada Prof. Solodnikov dan Mrs. Dong. Ah, kami jadi takut, khususnya teman-teman putri yang teriaknya paling keras. Akhirnya aku dan mas Joko segera balik ke ruangan dan shalat Isya. Usai melakukan beberapa review kami segera bersiap untuk tidur.

Aku jadi ingat pesan Mbak Nella, rekan blogger yang saat ini juga tinggal di Jerman. Kalau malam jaga ketenangan agar tidak mengganggu yang lain. Plak, tamparan keras anak urakan yang terbiasa gojek di mana saja. Yah, ini ruangan elit untuk para Ph. D. Student, mengapa aku jadi lupa. Astaghfirullah, maaf ya Prof dan Mrs. atas kekhilafan kami. Besok lagi tak akan kami ulangi. Demikian liku-liku hari ini berakhir dengan indah.

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Wuppertal : Dankeschon Prof. Tausch

Agenda penutup hari ini adalah keliling kota Wuppertal bersama Prof. Tausch. Kami dijemput sejak jam 6 sore oleh beliau dan diajak jalan-jalan berkeliling kota. Beliau mengenalkan kepada kami tempat-tempat penting, mulai dari pusat kereta api, pusat belanja yang murah, bahkan beliau mengajari kami cara berbelanja. Beliau sendiri memberi beberapa arahan penting kepada kami dalam mengelola hidup ke depan selama di Jerman.

Yang aku kagumi dari beliau adalah di usia hampir 60 tahun beliau masih gagah dan masih mengendarai mobilnya dengan energik. Jangan dibayangkan orang-orang Jerman kalau naik mobil itu seperti di Indonesia. Karena lalu lintas yang lancar, mereka bisa mengendarai dengan kecepatan mencapai 90-160 km/jam bahkan saat melewati tikungan mereka tidak terlalu menurunkan kecepatannya. Mobil-mobil BMW kebanggaan mereka tetap menjadi sahabat setia di perjalanannya. Kalau dilihat dari modelnya lebih bagusan di Indonesia, tapi kalo sudah bicara fasilitas di dalamnya lagi-lagi seperti ketika bicara rumah-rumah di Jerman, lengkap dan luar biasa.

Setelah puas berkeliling, kami ditraktir untuk makan bersama di Kafetaria Kampus Wuppertal. Di sini aku pertama kalinya harus belajar hati-hati dengan menu yang tidak ada label halalnya. Karena tidak enak kalo bertanya kepada Prof. Tausch mana makanan yang tidak mengandung babi, aku memutuskan hanya membeli kentang goreng (pommes) di saat teman-teman yang lain membeli ini itu (mentang-mentang dijajakke). Yah, salah satu cara aman hidup di sini adalah menjadi vegetarian sejati, insya Allah aman.

Akhirnya perjalanan malam ini berakhir dan kami siap beristirahat menikmati malam pertama kali di wohnung. Ternyata tidak sedingin yang kubayangkan waktu di kamar. Tiga buah penghangat yang terpasang mampu membuatku tidur nyaman seperti di Indonesia, glasaran dan jigar seperti biasanya. Dankeschon Prof. Tausch.

Kategori
Catatan Perjalanan

Harus Banyak Belajar

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Mungkin itulah peribahasa yang paling tepat untuk menasihati kami saat ini. Di tempat yang baru, di keluarga yang baru semua menjadi serba baru. Mulai dari kebiasaan, tata krama hingga tulisan-tulisan yang akan kubaca.

Yah, di Jerman ini seperti di Jepang, kata kakak keponakanku. Orang jerman sangat cinta kepada negaranya seperti Jepang. Maka di mana-mana akan sangat sulit sekali dijumpai kata-kata dalam bahasa Inggris, semuanya dalam bahasa Jerman. Bahkan masyarakat pada umumnya juga tidak suka menggunakan bahasa Inggris. Mereka menggunakan bahasa Jerman sebagai percakapan sehari-harinya.

Kami harus banyak belajar untuk mengenal kebiasaan dan adat masyarakat di sini. Di sini semua hal dilakukan dengan detil dan teratur. Bahkan di wohnung tempat kami tinggal, banyak hal yang harus kami ingat mulai dari jadwal-jadwal laundry, pemeriksaan hingga bak sampahnya. Di sini, sampah dibedakan menjadi 5 tempat, sampah yang mudah terbakar, sampah yang dapat didaur ulang, sampah kotoran dan sisa, sampah kaleng dan sampah yang lainnya (aku lupa). Intinya tidak seperti di tempat kita di mana orang gampang buang sampah sembarangan.

Dalam menyeberang jalan dan menaiki kendaraan, kami harus belajar. Siapa yang menyeberang jalan tanpa melalui zebra cross jika ketahuan akan didenda 40 Euro, dan ternyata masyarakat di sini begitu mematuhinya. Kemudian dalam menaiki kendaraan, berlaku tata krama dahulukan yang turun semuanya barulah naik. Kebiasaan ngusruk dan nyerobot harus dihilangkan jika tak ingin menanggung malu disini.

Dalam merawat ruangan dan mengelola perabotan, semuanya tersedia dengan lengkap. Semua harus digunakan dengan hati-hati dan dirawat dengan baik. Aku merasa malu ketika tidak dapat menutup jendela dan harus menaiki kursi untuk menutupnya. Hampir saja aku merusak jendela yang sebenarnya cara menutupnya tinggal menarik picu di dekat kusennya. Mengapa aku harus naik kursi untuk memaksa jendela menutup. Aduh, malu rasanya, katrok banget.

Dalam berbelanja, semua harus mempertimbangkan banyak hal. Ah, rasanya Allah memang ingin membuka mataku dan mengharuskanku belajar tentang tatanan hidup yang baik yang seharusnya dimiliki setiap muslim di Indonesia. Di negeri yang tidak banyak mengenal agama, tata cara hidup mereka bahkan jauh lebih Islami dari pada umat Islam sendiri kecuali dalam hal peribadatannya. Semoga nanti bisa tetap kupertahankan saat telah kembali ke tanah Air. Ah, malu rasanya jadi seorang muslim yang banyak kekurangan seperti hari ini. Aku harus lebih baik ke depannya.