Kategori
Memori

Surat-Surat Dari Kalimantan

Sejak perjalanan pulang dari Berau dua bulan lalu, aku masih menjalin komunikasi dengan teman di sana. Mas Baihaqi, rekan seperjuangan yang ditempatkan oleh Dompet Dhuafa untuk melakukan pendampingan selama setahun di sana. Kami telah berjanji untuk saling membantu dalam kegiatan komunikasi antara adik-adik di Samburakat dengan Solo.

Agenda pertama kami adalah memfasilitasi adik-adik untuk mengirim surat. Katanya beliau sudah mengirim surat dari sana. Lama kutunggu telah lebih dari sebulan sejak konfirmasi beliau bahwa surat-surat sudah dikirim. Tanpa terasa ternyata surat itu baru sampai tepat tanggal 2 Januari 2014. Oh mungkin ini kejuatan awal tahun.

Kubaca tulisan-tulisan sederhana itu satu per satu, sembari membayangkan wajah-wajah polos mereka. Selalu terlontar pertanyaan, KAK KAPAN KEMBALI LAGI KE SAMBURAKAT? KAK BALIK LAGI YA…. dan ungkapan sejenisnya yang membuatku begitu rindu. Tak terasa air mataku meleleh membaca satu per satu surat mereka yang jumlahnya belasan itu. Oh, barangkali ini adalah sensasi luar biasa yang akan selalu dirasakan para pengajar muda Indonesia Mengajar, rekan-rekan pendampingan sekolah Dompet Dhuafa dan program-program sejenis ini.

Aku mungkin tak sehebat mereka, tetapi setidaknya aku bisa merasakan bagaimana hal ini adalah spirit baru untuk aku lebih serius dalam membuat perubahan di tempat asal. Surat-surat ini menjadi pengobat rasa bosan di tengah kemapanan orang-orang sekitarku yang sulit didobrak akibat kepicikan pola pikir mereka.

Aku rindu kalian adik-adik. Terima kasih atas kata-kata sederhana yang kalian tuliskan. Yah, aku masih ingat dengan semua itu adik-adik. Saat menyusuri sungai Berau. Saat melakukan outing class. Saat menyanyikan lagi Tanah Air Ku Tidak Kulupakan dan Lagu Kebangsaan kita. Saat sore yang sedih itu. Aku masih ingat. Aku menangis dalam kerinduanku pada kalian semua. Semoga kelak aku bisa ke sana lagi, mungkin bersama bidadariku untuk menyapa kalian lagi.

Kategori
Memori

Selamat Tahun Baru 1435 H

Tak terasa, sudah akan menjelang 24 tahun usiaku versi kalender hijriah ini. Sejak Allah membuka mataku melihat dunia di tanggal 5 Muharram 1411 H, kini sampailah aku pada tahun ke 1435 H. Sebuah karunia yang besar atas kehidupan ini, sekaligus waktu ujian yang lama jika diingati apa yang telah dilakukan selama hidup ini.

Seorang bocah desa yang dulu hidup dalam hijaunya desa, di lereng bukit. Dalam kungkungan dimensi yang kecil karena SD di Desa, SMP di kecamatan, SMA di Kabupaten, dan baru keluar kota ketika kuliah. Bahkan jelajah paling jauh ketika itu hanyalah kota Semarang, tempat paman tinggal. Itu pun pertama kali dilakukan ketika sudah kelas 3 SMP bersama almarhum kakek. Bahkan kota Jakarta pun pertama kali baru kulihat ketika aku menjelang semester 4 kuliah. Alangkah sedikitnya jejak petualanganku ini.

Kini pemuda yang culun dan polos itu ditakdirkan untuk bertemu dengan banyak guru dan mengembara ke banyak tempat. Tak ada yang bisa kuucap, selain hanya bahwa semua ini terjadi atas izin-Nya. Semua ini berlaku berdasarkan ketetapan-Nya. Kehidupan di masa kanak-kanak masih kudapati cerianya suasana TPA di desa, meskipun dengan pemahaman seadanya, tapi semangat masyarakat masih luar biasa. Kini, kenangan itu menggerakkan hatiku untuk menghidupkannya lagi, entah dengan berbagai cara dan memanfaatkan momentum yang ada.

Dipertemukan dengan sahabat terbaik yang selalu bersama dalam belajar dan berbagi, bak kakak beradik. Sahabat lain yang hingga kini selalu menjadi tempat berbagi inspirasi. Dipertemukan pula dengan sosok ulama karismatik yang mungkin setelah wafatnya tak banyak lagi guru-guru sehebat beliau. Dan saat itulah kesadaran akan makna hidup kutemukan.

Dipertemukan pula dengan sastrawan, seniman, musisi, tokoh inspiratif, dan orang-orang yang punya posisi strategis. Hingga akhirnya Allah mudahkan perjalanan sang hamba yang bodoh ini untuk melihat dunia-Nya yang luas. Bahkan tak pernah kuimpikan sekalipun untuk melihat Eropa dalam waktu yang dekat ini. Dan semua itu mungkin. Satu per satu kota di Indonesia pun Dia bukakan untukku.

Menjelang usiaku yang ke-24 ini, tak banyak yang ku minta kepada Allah, kecuali semangat untuk terus belajar, dan inspirasi untuk berbuat hal yang bermanfaat meskipun itu kecil. Biarlah dunia itu ada dengan keindahannya, kukagumi sebagai sarana mengagumi-Nya, namun tak mengambil hatiku dari-Nya. Hakikatnya perjalanan hidup yang panjang ini adalah belajar, belajar tentang makna hidup untuk menyempurnakan penghambaan pada-Nya. Terima kasih Allah atas karunia kehidupan ini.

1 Muharram 1435 H

Kategori
Memori

Ingatan tentang Kota Yogyakarta

Subuh hari aku harus mengantar adikku tercinta yang seharusnya kemarin kembali ke asrama yang telah dirintis KH Ahmad Dahlan itu. Demi menunggu kedatanganku akhirnya dia memilih pulang Sabtu pagi. Suasana kota Jogja di pagi hari masih sepi, jauh dari keramaian Jakarta yang mungkin sudah tidak masuk akal lagi. Kota yang padat itu tampak teratur tatkala aku pertama kali mendarat di bandara Adisucipto dalam rangkaian penerbangan panjang dari Kalimantan sepekan kemarin.

Dan lagi-lagi postingan ini sebenarnya untuk menuliskan lagu Ebiet G. Ade yang bertajuk Yogyakarta. Simak ya

Yogyakarta

Seperti debu, tajam menerpa mata

Aku tersentak dari lamunan

ketika kubuka tirai jendela

Seperti angin, lembut menyusup jiwa

Aku terpejam, kuhirup nafas dalam

di gerbang kotaku, Yogyakarta

Hari ini aku pulang, hari ini aku datang

bawa rindu, bawa haru, bawa harap-harap cemas

Masihkah debu jalanan menyapa gerak langkahku?

Masihkah suara cemara mengiringi nyanyianku?

Seperti bintang diam menunggu fajar

Aku berfikir untuk membangunkanmu

Bergumul dengan gelora nafasmu

Di sini aku ditempa, di sini aku dibesarkan

Semangatku, keyakinanku, keberadaanku pun terbentuk

Masih aku pelihara kerinduanku yang dalam

Setiap sudutmu menyimpan derapku, Yogyakarta

Setiap sudutmu menyimpan langkahku, Yogyakarta

mmmm hoo

Nah, ini lagunya

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=WWGwZSiwrQs]
Kategori
Memori

Masa Lalu, Masa yang Terbaik Saat itu

Lingkaran inspiratif malam ini memberikan pesan singkat padaku tentang arti masa lalu. Yah, kita semua pernah memiliki masa lalu. Entah itu masa lalu yang kelam atau masa lalu yang mungkin lebih indah. Tetapi sudahlah, itu masa yang telah berlalu, yang tak ada manfaatnya jika kita sebut-sebut karena banyaknya kebaikan di sana atau kita sedihkan sampai berlarut-larut karena banyaknya keburukan. Toh semua telah berlalu dan kita menuju waktu yang lebih realistis bernama sekarang. Kita pun masih menghadapi misteri tentang waktu yang bernama nanti atau besok atau masa depan.

Maka hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengatakan kepada masa lalu itu bahwa itu yang terbaik pada saat itu. Sesuatu yang telah kita lalui yang telah terekam dalam catatan malaikat tentang keburukan dan kebaikan. Yang lebih penting untuk kita pikirkan dan kemudian maksimalkan adalah masa yang bernama sekarang. Yah, kita masih punya waktu hari ini untuk menebus kesalahan di masa lalu. Kita juga masih punya waktu untuk memperbaiki apa yang telah direncanakan di masa lalu.

Dalam konteks perjuangan hidup, maka lebih baik kita selalu menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan berikutnya dari pada kita larut dalam bayangan masa lalu. Kita ambil saja ibrahnya dan lekas bangkit untuk melakukan apa pun yang bermanfaat untuk masa sekarang sebagai persiapan menghadapi masa depan yang penuh misteri. Maka mari katakan sekali lagi bahwa masa lalu kita adalah hal terbaik yang Allah takdirkan untuk kita di masa itu.

Pelajaran ini pula yang akan membuat kita selalu optimis untuk menyambut masa depan dan tidak merutuki masa lalu. Mungkin dulu kita tidak bisa memahami Islam dengan baik karena kita terlahir dari keluarga abangan. Setelah kita sedikit terpantik, maka bukanlah hal yang benar jika kita mengkambinghitamkan orang tua kita karena mereka dahulu tidak pernah mengajari kita tentang al-Quran dan shalat. Mungkin dulu kita telah berkubang pada maksiat sejak kecil hingga akhirnya itu mendarah daging menjadi kebiasaan yang susah kita tinggalkan saat ini. Apakah kita akan menyalahkan orang-orang di masa lalu kita karena tidak pernah memperhatikan kita?

Itu bukanlah hal yang bijaksana. Kita katakan bahwa hari ini saatnya berjuang untuk membalikkan semua keadaan itu. Kita telah sadar dan harus berubah. Jika kita masih memiliki kebiasaan buruk, maka seburuk apa pun saatnya kita ubah. Jika pun sesekali terulang, kita tetap bertekad menghilangkannya dari diri kita. Semoga Allah memudahkan kebiasaan itu dan hilang sirna dari diri kita untuk selamanya.

Kategori
Memori

Dua Sahabat Baru dari Negeri Timur

Sejak kepulanganku dari Eropa, bahasa Inggrisku yang awalnya udah agak-agak berbunyi kini membeku lagi. Entah kenapa bahasa yang sejak kecil memang sulit kupelajari hingga gedhe seperti sekarang ini membuat aku hari ini bungkam waktu menyambut kehadiran dua orang mahasiswa yang mengikuti program AEISEC di Indonesia.

Paddy Zhuang, gadis asal China dan Nick Chuang, bujang yang tingginya kayak menara asal Taiwan tadi sore berkunjung ke Rumah Pintu. Sebagai sekjend tentu saja aku dikerjai untuk menyambut mereka, di samping karena gara-gara aku pernah ke luar negeri. Sebenarnya ada yang jauh lebih hebat dariku untuk urusan bicara dalam bahasa Inggris, yakni waketnya alias si Faza. Tapi apa boleh buat, today he has a bussines.

Meskipun awalnya cuma saling senyum sambil membisu karena kaku mau ngomong apa, akhirnya aku mencoba berbasa-basi dengan bahasa Inggrisku yang sudah semrawut lagi. Yah, resepnya cuma PD sama didukung bahasa tubuh. Aku percaya kalau pun kita tersedak di tengah-tengah (gara-gara lupa kosa kata) atau kita mengucap bahasa Alien bagi mereka (gara-gara susunanya semrawut), bahasa tubuh yang kita tunjukkan akan membuat mereka mengerti. Apalagi kami sama-sama bukan native speaker.

Agenda mereka hari ini adalah farewell session. Karena besok pagi mereka akan kembali ke negara mereka masing-masing setelah enam minggu di Indonesia, berpindah-pindah ke beberapa kota. Dua sahabat dari negeri timur ini mengaku terkesan dengan Indonesia, dengan anak-anak dan sahabat-sahabat yang mereka jumpai selama berada di sini. Meskipun anak-anak belum banyak mengerti bahasa Inggris, tapi itu tak akan pernah menghentikan keakraban mereka untuk menyapa dua bule itu.

Paddy bercerita bahwa suatu saat mereka akan kembali ke negeri ini. Aku belum sepenuhnya paham maksudnya, tapi yang jelas dia berencana hidup di negeri lain mengingat negerinya sudah penuh sesak oleh milyaran manusia. Ah, masa iya, jangan-jangan biar punya akun facebook doang deh lu. Ha ha ha (kan Pemerintah China melarang warganya menggunakan Facebook). Tapi sore ini aku bisa belajar banyak hal setelah berdiskusi dengan teman lintas negara. Pada prinsipnya, meluaskan persahabatan itu penting dijalin di masa-masa muda seperti hari ini.

Acara pun ditutup dengan foto-foto bersama antara keluarga Komunitas Pintu, Rumah Hebat Indonesia, dan mereka berdua.

Kategori
Memori

Good Service

Memuliakan tamu adalah hal yang sangat ditekankan oleh Rasulullah, bahkan disandingkan kepada dengan ukuran keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Bagaimana dengan memuliakan seorang pembicara yang diundang? Bukankah dirinya juga tamu yang datang di forum kita? Ya, kita bisa menganalogikannya sebagai tamu bahkan lebih dari itu. Maka memberikan pelayanan istimewa kepada seorang pembicara adalah hal yang penting diupayakan setiap panitia. Tentu saja ukuran istimewa ini juga tidak harus berlebihan, hanya saja sebaiknya memang selangkah lebih baik dari yang bukan pembicara.

Dan ini yang kurasakan di akhir pekan yang baik kali ini. Dalam sejarah aku diundang pembicara, mungkin kali ini yang aku merasakan hal yang “lebih baik“ dalam pelayanan panitia sekelas mahasiswa. Yang jelas ini bukan berarti yang mengundang sebelumnya kurang baik, mereka baik semua, tetapi yang ini lebih baik. Fasilitas mulai dari penginapan dan konsumsi yang representatif tentu menjadi hal yang dipandang lebih oleh pembicara. Nyamannya Pondok Sari 1 menjadi saksi bagaimana panitia pengundang telah menunaikan tanggung jawabnya dengan baik.

Aku kemudian teringat dengan event-event yang pernah kuselenggarakan bersama teman-teman sewaktu masih aktif di organisasi kampus. Dari masa-masa yang panjang itu, mungkin aku baru bisa memberi sedikit kelegaan untuk diriku saat aku menjabat ketua umum Studi Ilmiah Mahasiswa, saat di mana mimpi dan idealismeku dapat banyak terealisasikan. Dalam sebuah organisasi, finansial merupakan salah satu hal penting yang harus diusahakan setelah kita berhasil membangun mental-mental pejuang dan kebersaaan dari keluarga organisasi tersebut.

Fasilitas dan apresiasi harus selalu dilakukan setiap waktu kepada mereka-mereka yang memang berdedikasi dalam kerja dan peran. Dalam standar kelembagaan, maka profesionalitas adalah kunci kesuksesan kerja bersama di sana, meskipun itu adalah organisasi nirlaba yang tidak berbicara untung rugi, tetapi tentang pengabdian dan pengorbanan. Dan profesionalitas salah satunya akan terwujud manakala finansial organisasi itu sehat.

Hari ini aku hanya ingin berbagi kesan tentang “good service“nya teman-teman jurusan Ilmu Pendidikan dalam menjalankan LKMM-nya. Meskipun aku tahu bahwa acara dapat berjalan karena dukungan finansial dari jurusan, tapi yang namanya pelayanan yang baik kepada peserta dan pembicara harus menjadi prioritas utama dalam kegiatan jika kita memang serius menyelenggarakan kegiatan. Jadi masalah finansial harus dipikirkan masak-masak dan diperjuangkan dengan kekuatan SDM yang telah dimanajemen dengan baik.

Kategori
Memori

Kilas Sejarah Pak Malaria

Pak Hartoyo alias Rakimin, demikian nama kakekku. Tapi tak banyak orang mengenal nama itu. Beliau lebih akrab dengan sebutan Pak Malaria. Aku pun sering menjadi buah bibir ketika orang bertanya alamatku dan dikaitkan dengan Pak Malaria itu. Siapa beliau? Dan mengapa beliau disebut Pak Malaria.

Tulisan ini adalah kenangan indahku melewati hari-hari bersama sang Kakek sejak kecil hingga akhirnya beliau berpulang di hari yang sangat spesial, Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei.

Dahulu ketika wabah malaria menyebar di era tahun 80-an di Gunungkidul, kakek menjadi salah satu mantri yang aktif bergerak memberikan penyuluhan kesehatan dan melakukan pengobatan ke tiga kecamatan di kawasan utara Gunungkidul, yaitu kecamatan Nglipar, Ngawen, dan Semin. Beliau berkeliling dengan sepeda ontel kesayangannya yang kata beliau, sepeda itu telah berjasa mengantarnya kemana-mana sebelum akhirnya sekitar 5 tahun lalu sepeda itu diminta oleh adiknya untuk digunakan.

Dari situlah orang-orang mengenal beliau dengan sebutan Pak Malaria. Dan hingga saat itu, ukuran kekerabatan di desa kami salah satunya dilihat dari kedekatannya dengan Pak Malaria. Diam-diam aku bangga menjadi cucu mantri kesehatan yang pernah berjasa mengobati ratusan orang yang menderita malaria. Aku bersyukur punya kakek yang telah mewariskan sejarah itu? Selanjutnya aku kelak akan membuat apa ya?

Setiap aku pulang di waktu-waktu remajaku ini, aku sering berduaan beliau, mendengar kisah bagaimana masa-masa Gunung Kelud meletus hingga kini kawahnya hilang dari peradaban. Kisah tentang masa perang kemerdekaan. Kisah tentang pembantaian G-30 S/ PKI. Kisah-kisah itu beliau ceritakan dengan semangat sambil menikmati kudapan yang disediakan oleh mama. Ah asyiknya kala itu.

Kini Pak Malaria itu telah pergi. Bersama kenangan indah di hati orang-orang yang pernah bertemu dengannya. Ribuan pelayat silih berganti mengucapkan penghormatan padanya. Bagiku, kakek adalah sosok yang sangat menginspirasi. Bagi masyarakat beliau sangat disegani dan dihormati. Bagi dunia kesehatan, beliau telah menunaikan janjinya untuk negeri. Semoga Allah mengganti semua amal kebaikanmu dengan keridhaan-Nya. Semoga kita bisa bertemu kembali di Syurga-Nya nanti ya kakek. Amiin!

Kategori
Memori

Kakek, Selamat Jalan!

Aku sedang menikmati sarapan (tapi sudah di atas jam 10 pagi) sambil membolak-balikkan halaman demi halaman buku “Titik Nol” yang baru kuperoleh beberapa waktu lalu langsung dari mas Agustinus Wibowo. Kisahnya unik, perpaduan antara petualangannya saat mengembara sebagai backpacker yang diceritakan pada mamanya yang tengah sakit keras dan menunggu ajalnya.

Tiba-tiba ada SMS masuk yang bertanya kepadaku apakah betul Mbah Harto meninggal. Aku terkejut bukan main, ah itu gurauan saja. Aku pun menelpon ayah, dan bertanya bagaimana keadaan kakek di rumah sakit. Ternyata beliau menjawab bahwa kakek yang sangat kucintai itu telah menghembuskan nafas terakhirnya di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada pukul 09.45 WIB. Hari itu bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2012.

Seketika itu juga aku langsung habiskan sarapanku yang udah hampir setengah jam baru berkurang separuh karena sambil baca buku bagus. Cepat-cepat aku pulang ke kos, ternyata waktu sudah hampir dzuhur. Segera aku menghubungi temanku yang jadi asisten pembimbing TA-ku bahwa hari ini aku tidak jadi konsultasi. Kuputuskan shalat dzuhur dahulu biar lebih tenang.

Usai dzuhur, kupacu kuda besiku entah berapa kecepatan rata-rata perjalananku hari ini. Aku hanya berpikir untuk segera sampai. Sambil terus berpikir tidak karuan. Alhamdulillah sampai juga di rumah, di saat banyak orang dan kendaraan telah mengerubungi pekarangan rumahku dan rumah kakek. Ada mobil ambulans PKU yang juga baru sampai, oh ternyata jenazah kakek juga baru sampai. Akupun langsung mengambil air wudhu dan berlari untuk menyambut jenazah kakek yang sudah dikemas dalam peti.

Ingin rasanya aku menangis, tapi aku ingat, tak boleh meratapi mayit. Kupandangi sebentar wajahnya yang putih bersih. Kemudian orang-orang telah berkerumun untuk menyalatkan jenazah beliau. Bagiku ini rekor jumlah yang sangat besar yang menyalatkan jenazah sepanjang kematian di desaku yang kuketahui. Diimami oleh ketua PCM Ngawen yang juga sahabat dekat ayah, shalat jenazah pun berjalan dengan khusyuk. Aku terus menahan air mata agar tidak tumpah disaat-saat yang sangat sakral ini.

Usai shalat aku tak melewatkan kesempatan untuk kembali menatap wajah yang kini telah tebalut kafan itu. Kubelai dahinya, kuelus pipinya, dingin tapi menurutku tak pucat. Beliau justru terlihat ketampanannya ketika telah terbujur kaku ini. Wajahnya putih bersih berbalut kain putih. Seandainya tidak di peti yang dalam, ingin rasanya kukecup keningnya sebagai penghormatan terakhirku. Apa daya, aku akhirnya tak kuasa menahan air mata yang menetes tanpa sadar saat menggendong adik perempuanku dan adi keponakanku melihat wajah beliau.

Aku bertemu beliau sepekan yang lalu saat masih di rumah. Dalam keadaan menahan ujian rasa sakit, beliau memanggilku dan membisikkan sesuatu di telingaku. Hanya aku yang diberi tahu bahwa beliau sering didatangi laki-laki berjubah putih. Sesekali diganggu dengan pemandangan-pemandangan mengerikan setelah itu. Saat itu aku berpikir, yang berjubah putih, mungkinkah itu isyarat bahwa waktu beliau telah dekat. Yang mengganggu itu, apakah karena ada warisan pusaka yang masih hinggap di rumah beliau? Malam itu yang masih tersisa kusingkirkan di sungai nan gelap gulita. Paginya pun aku berpamitan untuk kembali ke kota. Ah ternyata hari ini tanda itu terjawab sudah. Satu kakekku, telah berpulang ke haribaan-Nya.

Di sela-sela menunggu pelayat, aku menemui Mbah Saman, adik iparnya yang menunggui beliau saat di rumah sakit hingga sakaratul mautnya. Aku bertanya keadaan beliau di saat-saat terakhir itu. Beliau bercerita bagaimana beliau justru sebelum menjelang ajal sangat semangat menikmati sarapannya. Selama di rumah sakit beliau terus berdzikir, setiap kali tersentak, Mbah Saman terus mengingatkan lagi untuk berdzikir. Aku berharap semoga itu menjadi akhir terbaik bagi beliau, husnul khatimah.

Entahlah perasaanku hari ini. Sedih, iya, karena aku tak akan bertemu beliau lagi selama-lamanya. Bersalah, iya karena seharusnya aku kemarin menyempatkan diri ke PKU agar bisa bertatap muka dengan beliau sebelum meninggal. Bersyukur, iya jika mendengar kabar bagaimana akhir hayat beliau. Aku hari ini pun terus menunggui dan duduk di dekat jasad beliau. Bahkan ketika diangkat aku ikut membawa peti jenazah itu hingga ke makam. Aku merasa peti itu cukup ringan untuk dibawa kami berempat.

Selama takziah, langit menurunkah hujan dengan lebatnya. Sampai-sampai aku berpikir apakah tidak menyulitkan para penggali tanah perkuburan kakek. Ternyata di makan tidak hujan sama sekali. Ini hujan spesial untuk menyambut hari kematian kakek. Hujan adalah rahmat, anugerah yang harus disyukuri seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Saat jenazah kakek diarak ke pemakaman, hujan pun telah reda, tanpa diiringi setanggi dan aneka tradisi Jawa seperti biasanya, jenazah kakek dibawa dengan mobil ke tanah perkuburan leluhurnya, Trah Eyang Iro Tinoyo di Ngawen. Alhamdulillah, satu hal dalam kematian kakek ini kami bisa menerapkan syariat Islam tanpa harus dicampuri berbagai acara adat.

Sesampai di pemakaman, jasad kakek pun dikeluarkan. Ini adalah tradisi yang sangat jarang dilakukan di masyarakat kami. Kebanyakan jenazah dimasukkan bersama petinya. Tapi aku dan ayah menghendaki jenazah beliau dikeluarkan mengikuti sunnah nabi. Aku ikut mengangkatnya, cukup ringan, jasad kakek seolah tak sabar ingin segera bersentuhan dengan tanah. Itulah saat-saat terakhirku menyentuh jasad yang dahulu selalu menggendongku jalan-jalan pagi dan bermain di bawah pohon sawo. Aku kembali ingin menangis, tapi kutahan saat tanah terus ditimbunkan oleh para penggali kubur.

Kakek, semoga engkau tenang dalam perjalananmu yang baru ini. Ternyata hidup ini terlalu singkat dan aku sering melewatkan kebersamaan di hari-hari terakhirmu. Kenangan makan bersama setiap Ramadhan dan hari-hari aku mengunjungi rumahmu setiap kali aku pulang kini tak akan kualami lagi. Aku berjanji kakek, akan lebih sering pulang untuk menemani nenek yang kini tinggal sendirian. Selamat jalan kakekku!

Kategori
Memori

Uzbekistan Days dan Cerita Hikmah Mas Agustinus Wibowo

Kemarin, Rabu, 15 Mei 2013. Seperti yang dijanjikan oleh International Office UNS, akan diselenggarakan perhelatan UNS Tell Us yang mengundang teman-teman mahasiswa UNS asal Uzbekistan dan mas Agustinus Wibowo. Agenda hari ini adalah agenda peresmian UNS Tell Us sebagai wahana sharing dan komunikasi antara mahasiswa UNS dengan mahasiswa asing, dan tempat sharing mahasiswa UNS yang habis pulang dari luar negeri.

Aku sangat senang, karena usai acara tersebut, kami 10 orang terpilih untuk makan siang dengan Mas Agustinus Wibowo dapat berdiskusi lebih banyak dengan traveler gila yang pernah mengembara 10 tahun di kawasan Asia daratan mulai dari Beijing hingga Afghanistan. Selain itu katanya dapat kaos, buku, mug dll.

Acara tersebut dimulai dengan eksebisi teman-teman mahasiswa UNS asal Uzbekistan. Mereka bercerita berbagai hal tentang Uzbekistan, mulai dari makanan khasnya, kemudian adat pernikahannya dan sebagainya. Ada mbak Rima yang cantik, didampingi dua pria tampan Masoud dan satunya aku lupa. Mereka bertiga menjelaskan Uzbekistan kepada kami dalam bahasa Indonesia. Wow, sesuatu banget deh. Aku dapat kenang-kenangan loh setelah berhasil menyelesaikan permainan khas Uzbekistan.

Sampai akhirnya tiba giliran mas Agustinus Wibowo. Pria berwajah Tionghoa (karena memang keturunan Tionghoa) ini sangat bersemangat berbagi inspirasinya. Karena AC-nya mati, sampai-sampai baju mas Agus basah kuyup dihujani keringatnya sendiri. Dari paparan beliau itu ada beberapa hal yang kugarisbawahi.

Perjalanan itu akan bermakna ketika kita memiliki niat yang tulus dan mempersiapkannya. Perjalanan itu tidak terletak pada ke mana atau di mana, tapi sebenarnya apa yang akan kita gali dan kita nikmati dari perjalanan itu. Maka sesungguhnya hikmah perjalanan itu ya hikmah kehidupan itu sendiri, baik ia senang, susah, dan payah. Semua kembali pada diri yang memaknai perjalanan panjang tersebut. Kesimpulannya adalah dengan kita mau melakukan perjalanan itu maka sesungguhnya kita dapat menghubungkan berbagai batas yang selama ini sering membuat kita sempit berpikir dan bermusuhan. Tak ada yang lebih indah dari perjalanan itu selain kemudian membuat kita semakin mengenal siapa diri kita. Dan kata penutup dari beliau, mulailah perjalanan Anda dari pekarangan belakang rumah Anda. (Tafsirkan sendiri)

Pada sesi makan siangnya aku bertanya satu hal yang menurutku mengagumkan. Aku penasaran bagaimana beliau itu sangat mudah berkawan dan sampai-sampai ketika mengembara ke negara-negara di asia tengah, hampir setiap hari bisa bermalam di rumah-rumah penduduk (itu artinya gratis biaya penginapan). Aku tidak heran dengan keramahan dan cara bergaul beliau yang sangat luar biasa. Hanya saja baru kenal langsung bermalam bagiku sesuatu banget. Ternyata karakter penduduk di sana memang sangat ramah dalam memperlakukan tamunya. Terlebih jika berasal dari negara-negara yang tidak bermasalah. Dan Indonesia ternyata termasuk dari golongan negara itu. Beruntung sekali aku menjadi orang Indonesia.

Dan dari semua pertemuan hari ini, aku simpulkan bahwa perjalanan hari seharusnya membuat kita semakin bangga sebagai orang Indonesia. Jika demikian, mempelajari budaya asing, bahasa asing, dan gaya hidup asing itu bukan tujuan untuk membuat kita kehilangan jati diri, tapi mempersiapkan globalisasi agar kita tidak dikuasai orang asing. Lantas bagaimana mereka yang hari ini justru terlarut dalam gaya hidup westernis, koreanis, japanis dan sebagainya. Ah, kasihan sekali ….

Kategori
Memori

Tiket Makan Siang Bersama Mas Agustinus Wibowo

Ceritanya, pada tanggal 15 Mei 2013, International Office UNS akan menyelenggarakan talkshow yang menghadirkan seorang traveler Indonesia, Agustinus Wibowo. Nah, biar bisa ikut makan siang gratis dengannya plus dapat bukunya, plus dapat macem-macem lainnya kami harus menulis sebuah artikel tentang mimpi perjalanan berikutnya. Artikel itu harus dikirim ke panitia paling lambat 12 Mei 2013. Alhamdulillah, ternyata terpilih. Senang sekali rasanya.

Mau tahu artikelnya, inilah tulisan itu.

Mesir, Turki dan Syam : Inspirasiku Mewujudkan Visi Hidup

Aku sangat menyukai kisah-kisah sejarah keemasan di abad pertengahan. Zaman perang salib ketika terjadi yang membuahkan berbagai kisah peperangan sejarah dan romantika para pemimpin yang sejatinya sulit dijelaskan apakah mereka sebenarnya benar-benar berseteru atau itu adalah takdir tuhan untuk membuat dunia barat dan timur bertemu dan berbagi kisah menjadi salah satu daya tarikku untuk mempelajari sifat-sifat kehidupan masyarakat di waktu itu.

Masa-masa pertempuran di zaman Shalahuddin al-Ayyubi mengingatkanku bagaimana lingkaran negeri-negeri Mesir dan Syam (saat ini Suriah, Palestina, Turki, Lebanon, Irak) menjadi tempat sejarah perjuangan bangsa Arab merebut kembali hak mereka yang telah dirampas oleh Bangsa Frank Eropa. Di bawah visi besar sang ksatria yang sangat dikagumi oleh Barat dan Timur, Shalahuddin al-Ayyubi (Saladin), maka perjuangan ini digelorakan kembali dan akhirnya Yerusalem berhasil direbut kembali dan damai di bawah kekhalifahan Islam selama berabad-abad sebelum akhirnya Israel kembali mencaploknya.

Tak hanya Saladin yang mengagumkan. Raja Inggris yang dikenal sebagai raja terbesar kedua di Eropa waktu itu, Richard the Lion Heart akhirnya juga turut meramaikan catatan sejarah yang indah ini. Aku ingin melihat Mesir, melihat bagaimana Saladin membangun menara untuk memulai visi besarnya menaklukkan kota ketiga umat Islam itu. Aku juga ingin melihat bagaimana jejak-jejak perjuangan mereka di benteng kota-kota yang menyejarah seperti Acre, Tripoli, Aleppo, Homs, Damaskus, dan tentu saja Yerusalem. Masjid Umar dan Kubah batu di kota yang tengah dicaplok Israel saat ini adalah satu hal yang sangat menjadi impianku setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang ingin kucapai tahun depan.

Selanjutnya adalah perjuangan Sultan Muhammad al-Fatih (Mehmed II) dalam menaklukkan ibukota Byzantium, Konstantinopel. Kota yang saat ini menjadi kota terindah dengan benteng-benteng yang sangat kokoh adalah salah satu kota yang kurindukan untuk dapat kukunjungi. Masjid Haghia Sophia dan Masjid Biru adalah salah satu obyek yang menarik perhatianku untuk dapat kuluangkan waktu khusus menyapa keindahannya. Yang terakhir adalah pemandangan Selat Bosphorus dan bukit Galatta, saksi bisu bagaimana kapal-kapal perang Sultan Mehmed II pernah berlayar melewati daratan itu dalam waktu satu malam sebelum akhirnya berhasil merebut Konstantinopel.

Tempat-tempat itu adalah tempat yang mengingatkanku pentingnya untuk selalu bekerja keras. Aku lebih menangkap bagaimana para kesatria di masa itu membuktikan kerja kerasnya dari pada kesan peperangan yang hari ini cenderung dipersepsikan kejam. Bagiku perang Salib adalah takdir tuhan terindah untuk mempertemukan dunia Barat dan Timur.

Kerja keras bukan berarti identik dengan peperangan, karena setiap zaman memiliki terjemahannya masing-masing. Hanya saja kerja keras adalah kata yang tidak akan pernah hilang meski ia diterjemahkan dalam berbagai bentuknya. Kita semua punya visi hidup, sudahkah kita serius untuk menggapainya? Aku pun selalu bertanya akan hal itu. Hanya saja aku ingin melihat tempat-tempat itu semua agar aku dapat pulang dengan luapan semangat untuk membangun Indonesia ini dengan kerja keras ketika banyak para pemuda hari ini bermalas dan terus membuat kekacauan saja.