Kategori
Tokoh

Nasihat Dari Warren Buffet

Inilah Orang terkaya no 4 di dunia tahun 2013, Warren Buffet memberi nasehat:

“Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yg kau miliki, serta ingat :

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

  1. Jangan memakai merk, pakailah yang benar? nyaman untukmu.

  2. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

  3. With money:
    You can buy a house, but not a home.
    You can buy a clock, but not time.
    You can buy a bed, but not sleep.
    You can buy a book, but not knowledge.
    You can get a position, but not respect.
    You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you.

  4. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.

“Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur”

Semoga bisa menjadi orang yang berkelimpahan. Berlimpah iman, ilmu, amal, harta dan manfaat untuk sesama. Aamiin.

Kategori
Tokoh

Permintaan Sa’ad dan Kercerdasan Erdogan

Permintaan Sa’ad bin Abi Waqash yang keren, mencerminkan tingkat pemahamannya yang luar biasa (maka tidak heran jika Allah menitipkan kemenangan kaum muslimin saat melawan Persia lewat kepemimpinannya)

Sa’ad : Ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah mengabulkan doa-doaku

Lihat permintaan Sa’ad, keren sekali bukan. Beliau tahu bahwa do’a Rasulullah itu mustajab, maka beliau ibaratnya meminta kunci agar seluruh hajatnya dikabulkan oleh Allah

Ternyata Rasulullah memberikan pelajaran kepada kita bahwa ada SOP agar doa kita terpenuhi

Rasulullah : Baiklah Sa’ad, bantulah aku dengan menjaga makananmu (maksudnya pastikan yang dikonsumsi itu berasal dari yang halal)

Pengertian ini diperluas bahwa agar doa-doa kita terijabah di sisi Allah, jangan biarkan hal-hal yang haram melekat dalam diri kita baik itu makanan, pakaian dan hal-hal lainnya.

Itulah hal sederhana yang pernah dilakukan oleh Recep Tayyip Erdogan sebelum menjadi perdana menteri di Turki. Saat masih menjadi walikota Istambul, salah satu kebijakannya yang keren adalah melakukan pengawasan makanan agar masyarakat Istambul yang muslim memakan makanan yang halal dan terbaik. Kebijakan ini tentu dibungkus dalam mekanisme yang sangat cantik sehingga dapat dijalankan di tengah pemerintahan yang sangat sekuler di Turki.

Facebook

Kategori
Tokoh

Antara Kita dan Muhammad al-Fatih

Yang membedakan Sultan Muhammad al Fatih dengan kebanyakan anak-anak muda hari ini (mungkin termasuk yang nulis status ini) yang semangat dalam dakwah adalah kelurusan visi dan kepahaman akan sejarah.

Beliau menjadikan nubuwat Rasulullah dan sejarah Islam sebagai pijakan membangun visi untuk membangkitkan semangat pasukan dan mengeluarkan kebijakan strategis (karena memang memiliki posisi strategis sebagai pemimpin kesultanan Ottoman).

Sedangkan yang sekarang, lebih banyak menghabiskan waktu dalam romantika sejarah dan kampanye kosong, tanpa tindakan nyata perbaikan masyarakat yang sudah jauh dari Islam dan hilang kebanggaan untuk menjadi satu umat.

Kecerdasan itu terletak dalam membaca situasi lalu memperbaikinya, bukan membaca literasi lalu membuat narasi. Itulah mengapa seorang Nabi yang ummi menjadi inspirasi peradaban, karena Al-Quran dan Sunnah adalah tindakan dan perkataan yang menjadi bukti, bukan menjadi orasi.

Jika Abu Bakar dan Utsman menuliskan Kalamullah itu, dan al-Bukhari serta yang lainnya mengabadikan semua itu, harapannya generasi sesudahnya menjadikannya kembali sebagai sebuah bukti, bukan membuka ruang perdebatan dan wacana seperti hari ini.

Jika kita tak mampu membuat gebrakan perubahan dan perbaikan umat yang bermanfaat, setidaknya jangan membuat onar dengan menyakiti hati saudara-saudara seiman kita karena pernyataan-pernyataan prematur yang lebih karena luapan emosi, bukan hikmah yang terlahir karena cahaya ilmu yang Allah karuniakan kepada kita.

Banyaknya harta haram yang bercampur aduk dan beredar ditengah-tengah kita cukuplah menjadi salah satu alasan bahwa kita punya PR untuk memperbaiki diri dalam soal makanan dan ketulusan ibadah agar doa-doa kita kembali diijabah oleh Allah. Bukan kebanyakan mengomentari dan mencela situasi. Ini akhir zaman, banyak fitnah dan keburukan yang menimpa umat akibat kesalahan kita sendiri yang lalai pada Allah.

Yuk istighfar yang banyak.

Facebook

Kategori
Tokoh

Data Pencilan yang Kulihat

Hari ini sampailah pada apa yang dijadwalkan. Indonesia kembali menggelar perhelatan kepemimpinan. Kisah tentang bagaimana 250-an juta rakyat Indonesia diminta memilih lambang partai yang entah dikenal betul, sekedar kenal atau sama sekali tidak dikenal. Juga memilih daftar nama dan wajah yang mungkin juga asing karena tiba-tiba nongol saat dibuka di bilik suara.

Itulah pemilu, perhelatan demokrasi yang membuat bangsa ini harus bertaruh untuk kepemimpinan 5 tahun yang akan datang. Pesta yang membuat polemik baik antar partai yang berebut kekuasaan, maupun kalangan masyarakat yang berdebat mau milih atau tidak. Yang tidak ingin memilih berkampanye dengan segala dalihnya, mungkin takut sendirian sehingga harus cari massa yang banyak. Yang menganjurkan milih sudah pasti lah demi meraup suara, meski memang itu peraturan yang ditetapkan kepada rakyat Indonesia agar berpartisipasi.

Terserah Anda mau berkata apa soal pemilu? Setidaknya rumus sederhanaku, yang terlalu banyak komentar nyinyir dan mencibir sudah pasti kurang kerjaan. Karena orang yang sadar kalau menganggur pasti akan cari kerjaan yang bermanfaat kalaupun tidak ingin terlibat dalam pesta demokrasi yang syarat pembully-an ini. Dan aku, aku memilih untuk terlibat dalam ajang ini, mengambil mandat dari partai yang kupilih, menjadi saksi Partai Keadilan Sejahtera.

Di kota Surakarta, PKS tentu saja menjadi partai minoritas dibanding dengan PDI Perjuangan yang memang lumbungnya di Jawa Tengah. Tentu saja kehadiran kami para kader muda untuk menjadi saksi di sini tak lain adalah belajar tentang interaksi politik secara nyata. Membuktikan apakah omongan orang soal A, B, C benar-benar terjadi di lapangan. Dan yang dipesankan kepada kami dalam training saksi, jujurlah untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Jadi kami bukan hanya menjadi saksi untuk suara PKS agar tidak dizalimi, tapi kami menjadi saksi bahwa ikhtiar pemilihan wakil rakyat ini harus adil dan tidak dicurangi.

Beruntung sekali Allah memilihkan TPS yang sangat nyaman. Petugasnya ramah dan terbuka, rekan-rekan saksinya pun mudah kuakrabi. Maklum, itu adalah area kos-kosanku dulu sebelum akhirnya pindah ke rumah tinggal yang baru dan lebih nyaman sekarang. Tapi yang paling berkesan adalah pertemuanku dengan Pak Marsono, saksi PDI Perjuangan yang ramah dan lain dari pada yang lain.

Ya, menurutku lain dari pada yang lain, karena beberapa pesan yang masuk ke ponselku mengatakan bahwa rekan-rekan saksi yang lain dalam suasana horor karena seolah dikawali preman di sekitarnya. Aku sama sekali tak mendapati hal itu. Bahkan dari beliau, banyak kisah menarik nan heroik yang bisa kupelajari tentang ayahnya yang pernah menjadi pengawal pribadi Presiden Soekarno. Kesimpulanku sementara, Pak Marsono adalah kader ideologis PDIP, bukan kader materialistis.

Sosok yang telah meng-Islam-kan beberapa orang, termasuk yang kini menjadi istrinya tentu sangat nyentrik bukan. Di tengah isu SARA yang berkembang sebagai dinamisasi politik di negara berkembang semacam Indonesia, tentu cerita beliau bisa menjadi hiburan serupa data pencilan. Saat waktu-waktu shalat tiba, beliaulah yang justru mengingatkan kami untuk segera shalat dan beliau sendiri juga melakukannya di saat aku melihat salah satu tokoh agama yang pernah ku kenal dulu justru tidak ikut keluar untuk shalat. Yah jelas, soalnya sejak awal memang tidak beranjak dari tempat duduknya.

Inilah potret data pencilan yang saya dapati kawan. Sebagai cindera mata menjadi saksi pemilu 9 April 2014 ini. Sosok bapak yang begitu ramah dan fair dalam menjadi saksi meski partainya menang telak. Aku ingin berkata, orang baik masih ada di banyak tempat kawan. Jangan pesimis, apalagi putus asa. Mari kita bertemu dan selalu berjalin silaturahim.

Kategori
Tokoh

Rinding Gumbeng, Khazanah Budaya yang Terlupakan

Ketika nama rinding disebut, barangkali tidak banyak orang yang tahu. Apalagi anak-anak muda. Mereka tentu lebih akrab dengan gitar, piano, dan seabreg alat musik modern lainnya. Rinding adalah alat musik dari bambu yang membutuhkan keahlian tingkat tinggi untuk memainkannya.

Hari ini, kami berkunjung ke salah satu seniman Rinding Gumbeng yang ada di Desa Beji, Kecamatan Ngawen. Bapak Sugimo namanya, selaku pemimpin sanggar kesenian Rinding Gumbeng. Satu-satunya sanggar di Provinsi DIY yang masih melestarikan warisan budaya nenek moyang ini di pentas-pentas musik etnik nasional dan internasional.

Bambu adalah kekayaan alam asli dari negeri ini. Tak banyak yang mengenal tentang bambu, karena pelajaran sekolah kita hanya sebatas mengenalkan tanpa mengajarkan bagaimana bambu telah memberikan banyak manfaat di kehidupan mulai dari menutupi, mewadahi hingga memberikan alunan melodi yang indah. Benar kan? Coba kita yang saat ini sekolah formal, mungkin tidak mengenal banyak tentang bambu, kecuali jika orang tua atau masyarakat sekitar kita adalah perajin bambu.

Pak Sugimo dengan antusias bercerita tentang kegiatannya dalam melestarikan khazanah budaya itu. Saat ini dia telah membina banyak anak muda di sekitar rumahnya untuk belajar tentang alat musik itu. Dengan inovasi yang dia kembangkan sendiri ia bisa menyusun sebuah perangkat instrumen musik yang semua berasal dari bambu. Untuk orang yang tidak pernah mengenal sekolah musik dan mengetahui nada-nada melalui lembaga formal maka karyanya ini bisa dikatakan luar biasa.

Maka tak heran jika dosen-dosen dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta belajar langsung kepada beliau dan menjadi penghubung beliau untuk event-event pentas musik etnik. Dari beliau juga aku belajar tentang sikap hidup yang menerima dan bersahabat dengan alam. Jika kita mensyukuri karunia Allah dan memanfaatkan bumi ini dengan porsinya maka kecukupan rizki pasti akan dilimpahkan-Nya untuk kita. Hidup yang sederhana dan tidak neka-neka akan menajdikan peradaban negeri ini tetap asri dan harmoni.

Terima kasih Pak Sugimo atas inspirasinya hari ini. Kami juga bisa membawa pesanan kami agar bisa menjadi pengingat generasi muda tentang arti penting bambu bagi kehidupan banyak orang di negeri ini.

Kategori
Tokoh

Saat Kisah Umar bin Khattab Begitu Menginspirasinya

Setelah tayang beberapa hari lalu dan aku tidak melihatnya, aku baru sempat mengunduh video lengkapnya tayangan Mata Najwa dengan narasumber Walikota Surabaya, Tri Rismaharini atau yang akrab dikenal Bu Risma. Sambil menunggu servis sepeda motorku selesai aku menonton video itu di ruang tunggu bengkel AHASS yang nyaman.

Tayangan yang cukup inspiratif menurutku setelah sebelumnya melihat talkshow Eyang Habibie. Begitulah Najwa Shihab ketika bertemu dengan orang-orang yang serius (maksudku yang betulan berkualitas) dia jarang melakukan pembully-an seperti yang sering dia lakukan pada artis atau politisi selebritis yang kualitasnya di bawah standar rakyat kelas menengah. Blak-blakannya Bu Risma malam ini menunjukkan bahwa beliau bukanlah karakter politisi mainstream, yang terlihat adalah kepolosan politik yang mencerminkan sosok pembela wong cilik bagi masyarakat kota Surabaya.

Dibandingkan Jokowi, capaian kerja bu Risma tentu lebih terbukti. Seperti halnya bang Emil (Ridwan Kamil) yang dikenal sebagai sosok arsitek kreatif yang kini menjadi walikota Bandung, Bu Risma berhasil mengubah wajah kota Surabaya menjadi lebih baik selama masa kepemimpinannya. Namun takdir seorang pemimpin yang berkualitas sudah pasti akan berhadapan dengan elit politik yang culas. Beberapa kali dilengserkan akibat kebijakannya yang tidak berpihak kepada kaum kapitalis local yang memiliki pion-pion di parlemen daerah.

Namun semua itu adalah sebuah dinamikan politik yang menurutku pasti akan menjadi proses pendewasaan seorang pemimpin. Aku sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan retorika politik yang berkembang akhir-akhir ini, karena memang begitulah politisi, banyak omong dan kurang serius bekerja. Untuk Bu Risma ini, saya justru paling terkesan dengan langkah-langkahnya menyelematkan anak-anak putus sekolah, membantu rakyat miskin, dan menutup lokalisasi. Menurutku itu adalah pilar penting dan paling krusial yang menjadi bukti apakah pemimpin itu sungguh-sungguh membenahi akar masalah utama wilayahnya atau sekedar mencari sensasi.

Pengakuan beliau seperti diberi petunjuk saat melakukan sidak wilayah hingga menemukan banyak rakyatnya yang tersisih itu untuk diselamatkan lebih menarik bagiku ketimbang berbicara hal-hal yang memang sudah jadi kebijakannya. Jika walikota menaikkan pajak reklame, memarahi proyek yang disunat sudah biasa dan memang seharusnya begitu. Tetapi pemimpin yang begitu terkesan dengan langkah Umar bin Khattab di masa lalu, dan beliau sebut-sebut sendiri di acara TV nasional ini jelas membuatku terharu. Siapa yang tak mengenal Umar? Bahkan orang-orang Barat mengakui kredibilitas kepemimpinannya.

Semoga Bu Risma diberi keistiqomahan dan kekuatan untuk menyelesaikan amanahnya ini dengan baik dan tetap bertahan dalam membela kepentingan rakyat. Kami selalu mendoakanmu Bu. Tetap Semangat!

Simak videonya

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=igsBEACffM8]
Kategori
Tokoh

Ketika Stroke Tak Surutkan Langkahnya untuk Shalat Berjamaah

Kawan, pernahkan engkau sakit? Tentu pernah bukan. Aku pun juga. Tapi mungkin kita hanya sakit yang sifatnya sesaat. Yah, sesaat saja. Sakit sehari dibanding sehat setahun yang kita rasakan tentu adalah masa sesaat bukan. Tapi yang sesaat itu terkadang membuat kita seolah tersiksa puluhan tahun. Lebay sekali saat kita lupa dengan ujian yang sejatinya menghapuskan satu per satu dosa kita saat diri ini ikhlas.

Ini adalah kisah hikmah yang kulihat dengan kedua mataku sendiri. Semoga bermanfaat bagi para pembaca blog ini. Di masjid yang kutinggali saat ini adalah salah satu jamaah yang dahulu aktif shalat berjamaah. Beberapa waktu kemudian beliau sakit stroke dan terpaksa absen dari shalat berjamaah karena mengalami kondisi yang memungkinkan beliau tidak mampu bergerak.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan kemudian sang Bapak ini kemudian mulai bisa bergerak meskipun tak terlalu bisa berbicara lagi. Setiap dzuhur dan ashar dengan dipapah putera sulungnya beliau upayakan untuk sering datang shalat berjamaah ke masjid. Sepanjang jalan dengan rute yang cukup berat karena mendaki dengan kemiringan hampir 30 derajat itu dilalui bersama putera sulungnya menggunakan kursi roda.

Hanya ungkapan takjub yang terucap dalam hati. Begitu luar biasanya perjuangan bapak ini untuk mendapatkan pahala utama dalam shalat berjamaah. Beliau belum bisa berjalan dan harus dipapah sang putera tercinta. Saat shalat beliau juga duduk karena belum mampu berdiri sempurna dan melakukan gerakan-gerakan seperti orang yang sanggup shalat. Maka alangkah malunya kita jika hingga hari ini untuk sekedar meluangkan waktu shalat berjamaah saja masih malas-malasan. Lebih malu lagi jika hingga hari ini masih belum mau shalat secara konsisten padahal diberi tubuh yang sehat sempurna.

Semoga sekelumit kisah ini membuat kita lebih bersyukur atas karunia kesehatan dan kesempurnaan tubuh yang masih Allah anugerahkan buat kita. Haruskah kita menunggu nikmat yang luar biasa ini dikurangi-Nya atau diambil-Nya kembali? Alangkah malangnya ketika kita tak segera sadar diri.

Kategori
Tokoh

Menjadi Ibu

Ceritanya hari ini aku ditelepon oleh salah seorang istri pejabat di salah satu kementerian RI. Wuih, sebuah kesempatan berharga dapat berinteraksi dengan salah satu orang jajaran atas di direktorat sebuah kementerian RI. Tapi tenang, ini bukan sedang berbicara deal politik atau soal-soal yang berkaitan dengan orbitisasi (apadeh). Pertemuanku dengan beliau adalah membicarakan soal pendidikan. Yah, masuk akal, aku adalah orang yang punya passion di bidang pendidikan, jadi tentu saja diskusi hari ini adalah tentang pendidikan.

Intinya aku diminta mendampingi belajar putra-putra beliau. Entah dulu bagaimana aku mendapat kesempatan baik ini. Aku bisa berbagi cerita kepada para putera mahkota yang mungkin kelak diharapkan oleh beliau menjadi penerus seperti ayahnya dalam hal pengabdian kepada bangsa ini. Aku paham maksudnya, beliau ingin mereka mendapatkan nuansa yang riil dari kehidupan masyarakat bawah saat ini agar nanti setidaknya menjadi input bagi mereka ketika telah dewasa nanti. Masuk akal sekali, mengingat kehidupan mereka tentu jauh dari kebanyakan kita hari ini.

Banyak hal yang kami diskusikan. Tapi aku mau menggarisbawahi beberapa hal penting untuk para pembaca, khususnya Anda yang akan menjadi calon ibu ataupun telah menjadi ibu. Beliau adalah istri pejabat sekelas direktorat alias eselon I-nya sebuah kementerian RI. Tapi sesibuk apapun komunikasi dengan putera-puterinya adalah hal yang sangat diprioritaskan saat sang suami sibuk dengan tugas pengabdiannya kepada negara.

Bahkan dalam kisahnya, beliau rela meninggalkan pekerjaan yang sudah sangat mapan demi memberikan hak sang buah hati akan ASI eksklusif. Tentu ini adalah hal yang sulit dilakukan bagi para tipikal wanita karir. Tapi setidaknya ini gambaran bagiku bahwa masih banyak wanita hebat yang memiliki kepedulian besar untuk generasi bangsa di tengah kabar-kabar miring yang menerpa dunia birokrasi kita. Meskipun aku belum mengenal banyak tentang beliau, tetapi melihat kesungguhan beliau dalam menjaga sang buah hati, sudah cukup buatku untuk menyanggupi permintaan itu.

Menurutku ini adalah pelajaran berharga bagi para calon ibu yang hari ini masih mendewakan karirnya, ketimbang mengutamakan karir termulia sepanjang sejarah, ibu rumah tangga. Aku kemudian berpikir, inikah tanda yang Allah berikan padaku agar bisa kujadikan lahan belajar. Ini barangkali juga ujian besar bagiku, apakah aku akan berbelok orientasinya, atau tetap bertahan untuk belajar. Yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbiy alaa ad diinik. Wahai yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkan hati ini di atas agama-Mu.

Kategori
Tokoh

Karena Aku Tak Ingin Diperintah

Hari ini aku berkunjung ke salah satu klien yang memesan pembuatan web kepadaku untuk mengambil materi yang akan diisikan di dalam web toko online-nya www.dayancraft.com. Seorang ibu rumah tangga yang super kreatif lagi pekerja keras. Kunjungan sore ini sambil mudik ke kampung halaman membuatku memetik banyak pelajaran berharga tentang kemandirian.

Tak lupa aku mengeksplorasi sejarah awal berdirinya unit usaha kreatif beliau ini. Unit usaha home industri ini kini telah melibatkan banyak ibu-ibu di lingkungannya untuk memenuhi pesanan. Sebuah industri yang bergerak dalam pemanfaatan limbah produksi kain dari perusahaan garmen dan tekstile untuk dijadikan aneka tas cantik dan berbagai karya kreatif lainnya.

Lama-lama aku benar-benar malu dan membisu dengan kisah yang diceritakan oleh sang ibu ini. Beliau yang bahkan tidak mengenyam bangku kuliah pun tahu bagaimana harus menjadi manusia yang merdeka, QODIRUN ALAL KASBI, itulah salah satu hal yang perlu diusahakan setiap muslim, bukan hanya dalam dia memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi memastikan kemerdekaan dirinya untuk bekerja tanpa ada tuan dan hamba.

Satu kata yang selalu kuingat dari kisah beliau itu,“Karena aku tak ingin diperintah“. Yah bekerja itu akan nyaman ketika dimulai dari sebuah kesepakatan. Ini hanya soal pilihan bagaimana kita akan bekerja, karena ini juga bukan sepenuhnya harus disepakati karena banyak juga yang mau bekerja di bawah tekanan. Tetapi tentu saja ungkapan sang ibu sangat aku setujui karena kesepakatan itu membuat kita mampu bekerja secara gentle.

Kemandirian ekonomi itu akan menjadi cermin bagaimana kita mampu menjaga kemuliaan diri kita untuk tetap bertahan dalam berbagai situasi. Ketika kita lagi bokek, kita berusaha untuk menghemat agar tidak menjadi pengemis atau menjadi koruptor ketika sedang memegang jabatan (emang ada pejabat yang bokek ya). Ketika kita lagi berlimpah kita pun tidak boros dan menghambur-hamburkan harta untuk pamer karena kita ingat akan ada masa susah.

Jika hari ini kita melihat anggota dewan menuntut kenaikan gaji di saat rakyat dan kehidupan negara yang masih ruwet seperti ini, maka aku berpikir kita tidak sedang punya wakil di parlemen karena kita tidak pernah mengusulkan adanya kenaikan gaji dan fasilitas bagi mereka. Itu mungkin sekumpulan orang yang bermental miskin yang lagi beruntung dalam meja judi pemilu yang rutin diselenggarakan setiap 5 tahun di negeri kita. Sudahlah, tidak ada gunanya berurusan dengan penjudi yang miskin.

Kupikir, ibu tadi memberi nasihat yang banyak kepadaku agar aku selalu menjadi orang kaya bagi diriku sendiri. Jika kita yakin Allah maha pemberi maka setiap hari kita adalah orang kaya karena menikmati pemberian-Nya dengan penuh kemerdekaan.

Kategori
Tokoh

Mr. Benny, I’m Glad to Meet You

Today is amazing time. After I did my work at Blogger House, I planned to go home and join an event with my friends to open the fasting. Truly I’ve known about that event some hours ago before Ashar Praying and I considered whether I go early and leave the part of my job or finish my job then I go. Then I decided to finish my job, then go to the event.

But, I got an unpredictable moment. When I wanted to say good bye to everyone at that house, I saw someone who was looked in a local newspaper some days ago. Yeah, I remembered, he is one of the pioneer in developing of Wikipedia in Javanese language or in other words we say “basa Jawa”. I still had a doubt when I greeted him and asked him whether he is that person I mean or not.

I greeted him. He was very kind. I gave my hand and he did the same to me.

I asked him, “Hi, are you the pioneer in Javanese language in Wikipedia?”.

He said, “Yes, you’re right”.

Do you know how amazing in my feeling? It’s a rare moment to me. I was able to meet someone who made a good project to keep our heritage. I read the short story about him in a local newspaper. But, I forgot his name.

I asked him, “Oh, it’s a good moment for me. But I forget your name? What is your name?”

He said, “My name is Benny”.

I said, “Oh yeah, Hello mr. Benny, I’m Dika. Nice to meet you”.

He said, “Nice to meet you too”.

I forgot with my plan to go back. I asked him some questions. He said that he still discuss with his colleges to raise up the participation of Indonesian people to contribute in Wikipedia Basa Jawa. I saw he was discussing with a senior blogger that I knew him too, Mr. Blontang. I guessed that he still study in USA, but I was wrong. He was graduated and now live in Surakarta.

It’s a special moment for me. I hope I can meet him again in another time. I want to learn more with him how to optimize our capability in ICT Era. He is Indonesia as like me. So If he can do the best for his country, why can’t I? Mr. Benny Lin, I’m glad to meet you.