Kategori
Alam Sekitar

Capung dan Kisah Helikopter

Pernahkah Anda melihat serangga? Belalang, jangkrik, bahkan kecoa yang kerap berkunjung di kamar mandi kita kala kita lalai membersihkannya adalah contoh-contoh serangga. Hewan-hewan kecil itu ternyata menyimpan rahasia Allah yang luar biasa. Desain tubuhnya yang rumit seperti kumpulan kerangka super kecil membuatnya dapat bergerak dengan lincah saat berjalan dan terbang.

Itulah keajaiban desain serangga yang Allah titipkan pada serangga untuk dipelajari manusia. Apa saja yang telah berhasil manusia kuak dari serangga-serangga itu? Kita mulai dari capung. Capung atau yang dalam bahasa Jawa sering dikenal dengan “kinjeng” adalah salah satu serangga yang dapat terbang tinggi dan cepat. Di antara serangga lainnya, capung adalah salah satu serangga yang tidak dapat melipat sayapnya. Sehingga ketika berhenti, sayap hewan ini tetap melintang di samping tubuhnya. Nah, desain keren ini ternyata mengilhami manusia untuk membuat pesawat yang seperti desain tubuh capung.

Apa coba kira-kira pesawat yang meniru capung? Pesawat Capung? Mungkin iya. Tetapi yang lebih tepat jika dilihat dari aktivitasnya adalah helikopter. Coba perhatikan bagaimana pesawat yang memiliki baling-baling di atasnya itu dapat bergerak bebas mengitari suatu daerah dan bermanuver dengan cepat seperti capung saat terbang. Gerakan pesawat kecil itu gesit saat bergerak cepat dan tenang saat bergerak lambat. Berbeda dengan pesawat tempur yang memang gesit untuk manuver-manuver yang membutuhkan waktu singkat.

Lalu apa keistimewaan dari desain tubuh capung sehingga menginspirasi manusia untuk membuat helicopter? Tubuh capung menyerupai bentuk pilin yang terbungkus logam. Dua sayapnya saling silang pada badannya yang menampakkan bias warna dari biru muda hingga merah marun. Dengan konstruksi seperti ini capung mampu bermanuver luar biasa. Berapapun kecepatannya ia dapat berhenti mendadak atau berbalik arah tanpa mengalami keretakan dan kehancuran pada tubuhnya sendiri. Dengan demikian acara berburu mangsa pada capung tidak mengalami hambatan. Ia dapat mempercepat gerakannya hingga kecepatan yang sangat mengejutkan untuk seekor serangga: 25 mil per jam (40 kilometer/jam), yang dapat disejajarkan dengan seorang atlet lari 100 meter di Olimpiade dengan kecepatan 24,4 mil per jam (39 kilometer/jam).

Saat menangkap mangsanya, capung otomatis bertabrakan dengan mangsanya. Namun capung tetap tahan benturan. Tubuhnya yang kecil dan lentur itu dapat meredam guncangan dengan cepat. Bagaimana dengan mangsanya, rata-rata mereka langsung hilang kesadaran dan menjadi santapan lezat sang capung dengan gerakan cepat kakinya.

Terakhir, penglihatan capung adalah yang terbaik dari semua serangga. Sepasang matanya memiliki 30 ribu lensa berbeda dan nyaris bulat menutupi seluruh kepalanya. Persis seperti bagian depan helikopter kan. Inilah yang memungkinkan capung dapat melihat ke segala sisi. Maka biasanya untuk jelajah dan penangkapan buronan di hutan, helikopter adalah kendaraan yang paling dibutuhkan untuk mengawal dari atas udara karena memungkinkan para awaknya memantau keadaan dari berbagai sisi.

Demikian kisah tentang capung. Di kesempatan berikutnya kita akan belajar lagi aneka teknologi di alam lainnya yang Allah ciptakan sehingga menginspirasi kita.

Sumber : Keajaiban Desain di Alam (Harun Yahya)

Kategori
Alam Sekitar

Ketika Gunung Kelud Ikut Meramaikan Tahun Pencitraan 2014

Tadi malam, dalam keadaan antara sadar dan tidak aku mendengar dentuman dan gemuruh yang cukup besar. Kukira itu aktivitas anak-anak muda yang sedang menghadiri pesta wayang kulit dan berbagai perayaan. Maklum di Solo, perayaan Imlek cukup besar. Meskipun sudah memasuki tengah bulan, tetapi toh mungkin itu masih bisa dirayakan oleh mereka yang merayakan, pikirku. Dan aku tidur lagi dengan pulas.

Pagi harinya kami terkejut, karena ternyata halaman masjid yang kami tempati sudah mirip lapangan yang penuh salju seperti di Eropa. Tidak setebal halaman Gastehauss ketika aku di Jerman sih. Tetapi ini saljunya tidak dingin, tidak lembut dan indah seperti musim dingin Eropa. Ini ternyata adalah abu yang lembut, tapi sangat mengerikan dan membahayakan. Ada apa gerangan? Kata bapak-bapak jamaah shalat subuh, Gunung Kelud tadi malam meletus. Jadi kesimpulanku yang berdentum tadi malam adalah letusan gunung Kelud.

Gunung Kelud dikabarkan meletus. Karena letusannya tergolong eksplosif, maka tidak heran jika dampak letusannya sampai ke daerah Surakarta, Yogyakarta bahkan yang lebih barat lagi. Padahal jaraknya dari Gunung Kelud yang ada di pinggiran Kab Kediri, Blitar, Malang itu hampir 400 km. Meski demikian, setidaknya letusan yang Wow itu hanya akan terjadi sekali. Yang paling dekat panen lahar, jauhan dikit panen batu, agak jauh dikit panen kerikil, nah yang paliing jauh kayak kami panen abu, paling lama lagi paling konsisten.

Fenomena letusan kelud 2014 ini boleh jadi adalah izin Allah pada gunung tersebut untuk meramaikan tahun panas 2014 ini. Biar rakyat tidak muak dengan berita pencitraan yang sudah mengalahkan iklan Citra itu tidak muntah-muntah dan sadar lagi tentang hidup. Dengan adanya bencana ini, kita bisa beramal lagi untuk membantu saudara-saudara kami yang rumahnya dikirimi batu, batu yang mendekati kerikil, hingga yang kerikil betulan. Setidaknya kami disadarkan kembali untuk bersaudara, bukan menjadi pemirsa dari para pembuat citra yang terus melagukan omong kosong mereka.

Semoga kita bisa memetik hikmah atas peringatan ini. Dibandingkan dengan pergolakan politik yang berisi aksi saling menjatuhkan dan kedengkian yang tidak bermutu ini, maka akan lebih baik jika kita bersiaga bahwa setelah Kelud, masih banyak gunung lainnya yang akan mencitrakan dirinya. Dan itu sungguh lebih bermanfaat dan lebih menguatkan cita rasa tawakkal kita jika sejak awal kita mengaku beriman. Tapi entahlah bagi para penjual kepentingan atau mereka yang sudah dibutakan dengan uang. Itu urusan mereka.

Kategori
Alam Sekitar

Exotisme Gunungan Selatan : Memantapkan Mimpi di Masa Depan

Adalah kebiasaanku saat ini, yaitu menebarkan virus “blusukan” kepada adik-adikku yang masih imut-imut hingga yang amit-amit. Untuk apa, agar mereka tetap ingat bahwa kita adalah orang desa. Hidup di atas tanah yang menjadi saksi sejarah pergolakan-pergolakan di masa lalu. Agar mereka tidak bermudah-mudah meninggalkan daerah itu untuk sebuah alasan yang sederhana. Harus cinta, cinta kepada tanah harapan.

Bukit Kenangan

Pertama adalah kunjunganku ke gunungan bagian timur di pekan pertama Ramadhan. Sebagai awalan ramadhan, sekaligus menuruti keinginan adikq yang katanya merasa didiskriminasi gara-gara ga ikut momen jalan-jalan (yah situ juga jalan-jalan kok masih ngambek minta diajak jalan-jalan). Aha, tak masalah. Intinya aku bisa kembali ke bukit kenangan itu.

Itulah bukit kecil dengan formasi batu hitam yang banyak ditumbuhi akasia, mangga dan jambu mede (jawa : jambu mente). Ketika aku menjejakkan kaki di sana, teringat aku sekian tahun silam bagaimana pernah berkejar-kejaran dengan orang-orang yang mengaku pemilik manga gara-gara kami memakan mangga-mangga di sana secara innocent. “Pelem Keong” itulah mangga khas yang lembah kenangan yang begitu diminati pencuri musiman macam kami waktu itu (ga tahu deh sekarang).

Di atas sana aku dapat memandang berbagai pemandangan yang indah. Satu kata yang terucap, “Gunungkidulq masih hijau”. Hanya orang-orang yang telah keblinger jika mereka ditanya asalnya masih berbelit-belit atau malah berbohong. Apa susahnya mengatakan orang Gunungkidul, orang desa. Inilah desaku yang permai, daerah yang juga sangat indah. Sayangnya, mengapa kita lupa dengan semua ini. Aku pun berdiskusi puas dengan adik-adikku yang udah “gaduk kuping” sambil menunggu mereka yang kecil-kecil berkeliaran sepuasnya. Kami pun berfoto bareng dan meninggalkan tempat itu dengan sejuta impian. Dan yang paling mengesankan adalah saat aku mengupload foto-foto itu di FB, ternyata luar biasa. Sahabat-sahabatq yang sekarang menjadi urban worker di ibukota negara begitu antusias dan meluapkan emosinya dalam komentar-komentar yang membangkitkan memori di masa lalu. Indahnya, tempat itu masih teringat kuat pada mereka.

Laskar Mentari

Sekedar penyela yang sekaligus bukan plagiasi atas Laskar Pelangi. Kunjungan kedua ini kami menyusuri gunungan yang sebelah barat. Ternyata tempat ini jauh lebih exotis daripada yang timur. Susunan bebatuan di kawasan ini jauh lebih bagus dan khas. Lebih-lebih kami datang saat matahari baru akan terbit sehingga kami dapat menyaksikan prosesi terbitnya matahari di balik gunung Lawu. Indahnya, inilah apa yang terserlah di dalam al-Quran. Inilah kekaguman yang akan menguatkan keimanan kita kepada sang Pencipta, Allah azza wa jalla.

Dengan personil yang lebih banyak dan bersenjata lengkap (secara hampir setiap anak-anak SMP ke bawah pasti membawa minimal satu pak petasan korek = long rek di saku mereka) kami menyusuri semak belukar di pinggir dusun sebelah barat. Biarlah, asal nanti tidak mengganggu orang-orang. Dari pada diledakkan di pemukiman, jelas akan menggangu orang-orang yang sedang beristirahat pagi atau mengaji. Itulah sebuah pembelajaran awal bagaimana mengarahkan dan memperkenalkan dunia baru pada anak-anak. Merekalah lascar mentari yang kelak akan menjadi penerus perjuangan kami di tanah kelahiran ini.

Hal yang paling berkesan adalah bagaimana aku bisa menatap lebih luas tentang hijaunya hutan di kawasan utara gunungkidul, di bawah kaki barisan gunung gambar yang sekarang rawan pencurian. Oh, itu asset daerah yang harus dilindungi. Kemudian kulayangkan di sebelah barat, di sana ada hutan kayu putih yang pabriknya dulu pernah kukunjungi. Hemm, terkadang terbersit sebuah mimpi besar untuk memajukan daerah. Lagi-lagi pertanyaannya? Lha dirimu sekarang sudah ngapain? Hayo jawab dulu lah, nanti juga akhirnya akan ke sana.

Akhirnya, kisah ini akan menjadi babak baru sejarah bagaimana aku harus berhitung mulai dari sekarang untuk satu tahun ke depan. Aku harus lulus, tapi apakah aku akan menjadi orang kantoran yang disuruh-suruh gitu. Kok sepertinya aku harus menciptakan pilihan itu sejak sekarang. Bukankah Allah telah membentangkan langit ini untuk kita bisa melihat berbagai bintang di sana. Yah, bukankah hidup itu sebuah pilihan. Hakikatnya tidak ada seorang pun yang berhak mengatur diri ini, yang ada adalah bahwa aku harus sadar untuk mengatur diri agar bisa selaras dengan alam dan menjaga hubungan terbaik dengan makhluk-Nya. Mungkin suatu saat pertempuran itu akan terjadi, yakni pertempuran dalam diri antara sebuah idealisme dengan tekanan pragmatism. Siapa yang akan menang? Tak tahulah, tapi aku akan berusaha agar idealisme ini yang selalu menang.

Jika tinggal di sana adalah suatu kebaikan. Kuharap Allah kelak berkenan memberikan pendamping yang sanggup bertahan di tanah yang syarat dengan batuan itu. Bukan untuk bermewah, tapi untuk hidup terhormat di mata alam. Semoga!

Kategori
Alam Sekitar

Punthuk Tapan : Antara Klenik, Tempat Pacaran, Hingga Zona Penempaan Cinta

Tidak ada yang lebih menenteramkan kecuali ketika melihat kembali tanah kelahiran bercahaya. Jika saat fathul Makkah pun para sahabat Muhajirin bersyukur dan bertakbir dapat kembali ke Makkah, tanah kelahiran mereka, apakah kita tak rindu untuk membawa cahaya bagi tanah kelahiran kita? -Ardika-

Ada yang kenal dengan istilah “punthuk”? Ha ha ha. Orang jawa saja belum tentu sekarang tahu. (secara wong Jawa wis lekas ilang Jawane). Punthuk adalah sebutan untuk daerah yang relative lebih tinggi dari yang lain dalam bentuk gundukan bukit kecil. Maka tulisan ini dimulai dengan judul Punthuk Tapan, artinya sebuah gundukan bukit kecil yang terletak di daerah Tapansari, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul.

Katanya Angker

Aku jadi teringat waktu masih SD dulu. Kebetulan waktu itu aku sangat penakut, tetapi sangat suka dengerin cerita horror. Ga jelas tenan kan. Tetapi itulah adanya. Maka ketika membahas Punthuk Tapan, asosiasi yang ada di masa lalu adalah daerah di kawasan tengah alas (belantara) yang banyak jin dan hantunya. Tidak salah sih, karena memang itu banyak dikunjungi orang yang mau tirakat dan mencari wangsit. Klenik dan menyesatkan.

Konon katanya di sana ada gambar-gambar wayang yang tidak diketahui siapa pembuatnya. (Yang pasti orang, masak hewan) Aku ga melihat itu, tetapi kondisi ini membuat daerah itu relatif terjaga dengan baik sehingga sebenarnya itu adalah tempat yang tepat untuk kontemplasi dan muhasabah. Tapi bukan untuk mencari-cari sesuatu yang dekat dengan kesyirikan.

Tempat Pacaran

Kenapa aku cerita tentang tempat ini. Ceritanya tanggal 8 kemarin aku mengajak skuad TPA-q dan 2 sahabat kecilku (sebutan untuk trio GJ keilmiahan), E(r)ny dan Krisna, juga mbak Indah, inspiratorku dalam pengabdian masyarakat, serta adik masa depanku di SIM, Rais. Nah, atas saran salah satu adikku akhirnya kami mengunjungi Punthuk Tapan. Agak jauh memang tapi menyenangkan kok. Dan akhirnya aku bisa melihat fenomena yang lain di sana.

Ketika sudah sampai puncak, temen2 yang akhwat pada beristirahat menikmati suasana desa yang cukup asri meski menjelang kemarau. Sedangkan aku dan beberapa teman laki-laki ingin membuktikan batu-batu yang bergambar wayang-wayang tadi. Eh, ternyata lempeng batu-batu yang banyak itu, justru lebih banyak berisi tulisan-tulisan aneh bin ga jelas. Masak disana tertulis “si putra love si putri”, kira-kira begitu lah. Dan jumlahnya banyak sekali. Hipotesisku, tempat ini berarti sekarang justru marak juga sebagai tempat pacaran, bahkan mungkin yang lebih dahsyat dari itu. Naudzubillah min dzalik.

Zona Penempaan Cinta

Lain halnya dengan pacaran tadi. Aku ingin mengatakan bahwa aku sekarang akan sering mengajak adik-adik TPA yang masih kecil ke tempat-tempat spesial seperti ini yang ada di daerahku sendiri. Mengapa? Aku ingin mengajak mereka menemukan cintanya untuk tanah kelahiran. Tingginya angka urbanisasi di daerahku cukup membuatku merasa ngeri dan begitu gelisah. Bagaimana tidak, pemuda2 usia produktif harusnya masih bisa berkembang harus stagnan karena tekanan budaya dan ekonomi sehingga mereka harus berjuang ke kota untuk mencari uang dan “membalas budi” atau lebih tepatnya membayar ganti rugi atas biaya hidup yang telah diberikan orang tuanya sebelum itu.

Mengapa aku katakan ganti rugi, karena tidak sedikit orang tua yang berkata, “Le, sinau lan gek ndang lulus, trus nyang kutho, kirimono Bapakmu saben sasi, ben iso dolan” (Nak, belajar dan segera lulus ya, segera ke kota, dan kirimi Bapak uang setiap bulan, biar bisa jalan-jalan). Tidak salah memang dan memang seharusnya demikian, tetapi jika budaya ini bersifat transaksional, maka sesungguhnya ada kebijakan kolektif yang melarang generasi muda untuk maju dan menciptakan perubahan. Maka aku hanya berusaha dengan langkah kecil ini. Menawarkan cinta, selanjutnya terserah mereka mewujudkannya. Dan selain WaGe (Watu Gendong), tempat ini pun bisa menjadi tempat penempaan cinta, cinta yang baik dan untuk kebaikan.

Sepertinya aku akan mengajak adik-adik yang besar untuk Camping di sana suatu saat. Semoga benar-benar terwujud.

Kategori
Alam Sekitar

Watu Gendong (WAGE), My Beloved Place

Desaku yang kucinta

Pujaan hatiku

Tempat ayah dan bunda

Dan handai tolanku

Tak dapat kulupakan

Tak dapat bercerai

Selalu kurindukan desaku yang permai

Ini adalah sebuah tulisan ga jelas gara-gara aku sering ngajakin teman-temanku ke sebuah kumpulan batu yang sebenarnya mungkin “biasa saja” tapi ternyata membuatku merasa luar biasa.

Cerita awalnya bermula saat aku mengajak Helmi, teman dekatku terkeren, dan semoga senantiasa didekatkan dalam kebaikan. Teman sejak SMP hingga kini, SMA sama, ma’hadnya sama, sekarang kos-kosannya juga masih sama, bahkan akhirnya bisnisnya sama. Yang beda Cuma cari ……nya. Ha ha ha, ga perlu tau deh.

Langsung ke inti masalah.

Watu Gendong adalah sebuah tempat yang dipenuhi batu-batu besar yang tidak biasa (karena dilihat dari teksturnya itu bukan batuan asli daerahku). Kalo dilogika (karena aku memang bukan orang geologi, ditambah belum melakukan studi secara ilmiah), batu-batu tersebut  kemungkinan berasal dari letusan gunung berapi pada masa purba, nah batu-batu itu meluncur ke daerah itu. Bener nggak ya? Ah aku perlu nanya mas Ahmad Cahyadi (my most inspiration People).

Tapi kalo kata orang pribumi katanya batu-batu itu digendong oleh kera-kera putih yang menjadi penunggu bukit Wonosadi. Sebentar, aku tertawa dulu ya. Ha ha ha. Karena kera mana yang bisa ngangkatin batu segede gitu. Tapi tak apalah, namanya aja cerita rakyat, ga usah diperdebatkan. Toh kalo nanti anak2 yang sekarang pada sekolah, cerita yang sebenarnya mungkin akan terkuak. Ditambah keyakinan klenik nan kuat mengakar di sana membuat orang-orang terkadang masih takut untuk mendaki batu yang katanya banyak penunggunya itu.

Bagaimana denganku? Sejak aku jadi “anak kota” (eh ga ding, tetap anak desa, dan selalu mencintai desa) maka kepercayaan yang kayak gituan dah nggak lagi. Yah, kan udah ngaji sama ustadz-ustadz yang keren. Masak ya masih takut sama pocong dan anak-anaknya. Ga jelas ntar.

Ok, kembali ke topic masalah. Nah, awalnya aku main dengan Helmi ke sana adalah untuk mencari foto-foto yang bagus tentang watu Gendong buat diikutsertakan foto pariwisata. Intinya kami foto-foto (eh salah, kami memfoto Watu Gendong itu). Akhirnya aku mendapatkan inspirasi baru. Yah, ternyata Beji-ku itu sangat indah. Dan untuk selanjutnya aku akan menyebut Watu Gendong sebagai WAGE.

Selanjutnya adalah saat aku mengajak dua temanku yang “gila” dan “ga jelas” dari Solo weekend dirumahku. Yang satu aku sebut gila karena hobi nge-game, yang satu aku sebut ga jelas karena ya susah menjelaskan dia itu seperti apa (cewek, tapi mengerikan kayak cowok, dan banyak deh keanehan-keanehan yang terhimpun di sana). Akhirnya aku pun mengajak mereka jalan-jalan pagi ke WAGE. Temenku tadi si Gila Krisna, Si GJ Nisaa, and Adikku Citra (ha ha ha, dua nama depan ga boleh marah kalo baca tulisan ini) akhirnya jalan jauhhhhhh ke TKP. Sesampai di sana aku melihat aksi GJ Nisaa lagi, memanjat batu yang agak tinggi (buset, ni cewek aneh beut). Tapi ga papa, sudah terbiasa dengan aksi aneh-anehnya kok. Saat itu, langit pagi bener-bener cerah, kami bisa berbagi cerita dan bercanda ria. Tentu saja aku dan Krisna pasti akan selalu mengolok-olok Nisaa, dan adikku Citra akan menggeleng-geleng kepala melihat tingkah 3 orang tua yang ga karuan itu.

Selanjutnya, apa lagi ya. Oh iya, seminggu kemarin aku mengajak serombongan ikhwan-ikhwan yang ga kalah GJ. Intinya mereka adalah …….ku. Nah, lagi-lagi ke WAGE. Tapi kali ini ada nuansa tersendiri di mana, dari serombongan temanku tadi ada satu yang sangat aneh dan GJ. Dia adalah manusia yang sangat independent. Ketika yang lain sedang ketawa menikmati suatu hal, dia Cuma bengong dengan sebuah persepsi lain yang aneh. Ketika yang lain lagi asyik foto-foto, dia malah asyik tiduran di atas batu. Ga jelas dah pokoknya. Tapi tetap belum bisa ngalahin GJ-nya Nisaa.

Dan akhirnya sehari kemarin, lagi-lagi ngajakin Citra dan serombongan adik2 TPA dan remas untuk jalan-jalan lagi ke sana. Aku nggombal ke mereka malamnya, “Dek, besok bangun subuh ya, kita jalan-jalan kaya Ramadhan itu lho”. Akhirnya paginya terkumpul sekian anak-anak (masih dalam hitungan jari) yang bergabung dengan mantan Direktur TPA ga jelas gini. Intinya aku bisa melihat adik-adikku yang memang asli pribumi ini memang lebih edan dari pada yang sebelumnya. Bahkan batu tertinggi ke-2 dari kompleks WAGE ini berhasil dinaiki oleh salah satu dari mereka. Gila, aku aja lihat tingginya aja dah pusing. Dan kali ini, sepertinya virusnya Nisaa juga udah menular ke adikku Citra. Haa, dia ikut manjat batu yang lumayan tinggi. Tapi mungkin ga berlebihan kok, batu yang dipanjat ini relative lebih mudah dari yang dinaiki Nisaa waktu itu. Masih aman, tetep akhwat kok. Ha ha ha (Sory Nisaa, ga bermaksud apa-apa)


Dan kesimpulanku sementara, aku melihat WAGE ini sebenarnya dapat dikembangkan menjadi sebuah taman wisata yang bagus untuk menyegarkan pikiran dan melihat hijaunya alam. Menelisik kearifan local dan mengagumi keagungan sang Pencipta. Tapi bagaiamanapun, mungkin tempat ini bisa dijadikan tempat untuk kemaksiatan dan kesyirikan. Bagaimana selanjutnya.? Ikuti kisah anak pribumi ini di edisi mendatang.


Dadah ……………. Beji, kau akan selalu indah dan kurindukan

Kategori
Alam Sekitar

Potensi Ombak di Gunungkidul : Sumber Energi Masa Depan yang Menjanjikan

Gunungkidul, jika kata tersebut disampaikan sekilas pikiran kita tertuju pada sebuah kawasan kapur nan tandus yang kering kerontang. Memang persepsi itu tidak sepenuhnya salah. Namun sangat tidak adil jika ketika nama Gunungkidul disebut yang terbersit hanyalah gambaran seperti itu. Padahal di sepanjang pantai selatan daerah karst ini, terhampar puluhan pantai yang sangat indah dengan deburan ombak besar khas Samudera Hindia. Dari timur ke barat, terhampar pasir putih nan lembut dalam deretan pantai-pantai kecil mulai dari Sadeng, Wedi Ombo, Siung, bahkan sampai Ngrenehan dan Ngobaran di ujung barat sebelum akhirnya terhenti di daerah patahan yang memisahkan antara kabupaten Gunungkidul dengan kabupaten Bantul. Itulah sisi lain yang memesona dari kabupaten di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikategorikan sebagai daerah tertinggal.

Namun demikian, penulis tidak akan memaparkan lebih jauh lagi tentang masalah pantai di gunungkidul dalam paper ini. Ada hal yang mengagumkan saat kita mengamati karang-karang yang ada di sepanjang pantai Gunungkidul. Cekungan-cekungan yang terbentuk pada batu karang gunungkidul yang cukup keras menunjukkan bahwa kekuatan ombak pantai selatan sangat besar. Hal ini wajar, karena memang berasal dari Samudera Hindia.

Di sisi lain, pasokan listrik di kabupaten yang berpenduduk 685.210 ini masih belum menjangkau seluruh wilayah secara optimal. Bahkan daerah-daerah pelosok selatan dan timur masih menggunakan energi listrik dari tenaga matahari yang jumlahnya terbatas melalui bantuan yang diberikan oleh Universitas Gadjah Mada. Masalah makin bertambah, karena energy listrik yang diperlukan itu tidak hanya untuk dipakai dalam penerangan, tetapi juga untuk menggerakkan pompa dalam mengangkut air tanah. Maklum, gunungkidul dikenal sebagai daerah yang sulit air. Bukan karena tidak ada air, tetapi kondisi batuan dan kedalaman air yang agak sulit di jangkau membuat warganya harus memberikan pengorbanan yang besar untuk mendapatkan suplai air bersih yang cukup. Maka dari itu diperlukan sebuah solusi untuk meningkatkan pasokan listrik yang memadai di kabupaten seluas 1.485,36 km2.

Berdasarkan beberapa paparan masalah dan potensi yang ada, maka penulis ingin membedah potensi ombak yang ada di kawasan pantai Gunungkidul agar kita mengetahui lebih jauh bagaimana potensi itu dapat dikembangkan dan langkah-langkah nyata apa yang dapat kita sumbangkan untuk meningkatkan pasokan energy listrik sehingga dapat mencukupi dan menjangkau seluruh kawasan kabupaten tersebut.

Berdasarkan data dari kementerian ESDM RI, daerah samudera Hindia sepanjang pantai selatan Jawa sampai Nusa Tenggara adalah lokasi yang memiliki potensi energi gelombang cukup besar berkisar antara 10-20 kW per meter gelombang, bahkan beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW per meter di beberapa lokasi.

Karakteristik energi gelombang sangat sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Sayangnya, pengembangan teknologi pemanfaatan energi gelombang di Indonesia saat ini masih belum optimal namun cukup menjanjikan. Pantai barat pulau Sumatera bagian selatan dan pantai selatan pulau Jawa bagian barat berpotensi memiliki energi gelombang laut sekitar 40 kW per meter. Meskipun penelitian untuk mendapatkan teknologi yang optimal dalam mengkonversi energi gelombang laut masih terus dilakukan, saat ini ada beberapa alternatif teknologi yang dapat dipilih. Alternatif teknologi yang diprediksikan tepat dikembangkan di pesisir pantai selatan pulau Jawa adalah Teknologi Tapered Channel (Tapchan).

Kegiatan pengembangan dan penelitian teknologi pemanfaatan energi gelombang masih terus dilakukan oleh kalangan peneliti dan akademisi. Beberapa penelitian untuk meningkatkan daya pada sistem konversi energi gelombang laut jenis cavity resonator dengan memodifikasikan bentuk tabung silinderya. Hasil penelitian menunjukan bahwa apabila periode gelombang diperbesar, maka tekanan udara yang terjadi orifice (lubang kecil diatas tabung) menjadi cukup signifikan yaitu rata-rata sekitar 40 persen lebih besar dari sebelumnya. Selanjutnya jika tinggi gelombang diperbesar maka tekanan yang terjadi menjadi besar signifikan yaitu rata-rata sekitar 200 persen. Bagaimanapun juga pengembangan teknologipembangkitan listrik dari energi gelombang masih tertinggal 10 sampai 20 tahun di belakang pengembangan teknologi pembangkitan energi terbarukan lainnya seperti mikro hidro maupun surya.

Peningkatan efisiensi dan kapasitas pembangkitan harus terus dilakukan, sampai saat ini pemanfaatan energi gelombang yang sudah diaplikasikan di Indonesia baik oleh lembaga litbang (BPPT, PLN) maupun institusi pendidikannya lainya, baru pada tahap penelitian dengan kapasitas beberapa kW. Energi pasang surut di wilayah Indonesia terdapat pada banyak pulau. Cukup banyak selat sempit yang membatasinya maupun teluk yang dimiliki masing-masing pulau. Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan energi pasang surut. Saat laut pasang dan surut aliran airnya dapat menggerakan turbin untuk membangkitkan listrik.

Sampai saat ini belum ada penelitian untuk pemanfaatan energi pasang surut yang memberikan hasil yang cukup signifikan di Indonesia. Negara-negara yang telah melakukan penelitian terhadap pemanfaatan energi pasang surut diantaranya Perancis, Rusia, Amerika Serikat, Kanada sejak tahun 1920. Tidak jauh berbeda dengan energi pasang surut, energi panas laut di Indonesia juga baru mencapai tahap penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti. Berdasarkan pola arus di perairan Indonesia pada kondisi pasang purnama, saat pasang tertinggi dan pada kondisi pasang perbani, saat surut terendah, diketahui bahwa secara umum kecepatan arus yang ada tidak terlalu besar, kecuali pada daerah Selat Bali, Selat Lombok dan Selat Makassar.

Saat ini pemanfaatan arus laut untuk pembangkitan tenaga listrik sudah sampai pada tahap impelemntasi (pilot project) oleh Tim T-files dari ITB dan Dr. Erwandi dari Laboratorium Hidrodinamika Indonesia, BPPT dan BRKP Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tim T-Files ITB telah merancang turbin hidrokintetik jenis gorlov helical dan saat ini telah berhasil diujicobakan di Nusa Penida, Bali pada akhir Juli 2009 dengan kapasitas 5 kW (bekerjasama dengan Balitbang KESDM). Sementara BPPT dan BRKP-KKP bekerjasama dengan PT.Kobold Nusa (perusahaan patungan antara Ponte di Archimede (PdA), Italia dan PT. Walinusa Energi, akan membangun turbin arus laut dengan kapasitas 20 kW di Selat Lombok dan diharapkan proyek ini akan selesai pada pertengahan tahun 2011.

BPDP – BPPT pada tahun 2004 telah berhasil membangun prototype OWC pertama di Indonesia. Prototype itu dibangun di pantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul. Prototype OWC yang dibangun adalah OWC dengan dinding tegak. Luas bersih chamber 3m x 3m. Tinggi sampai pangkal dinding miring 4 meter, tinggi dinding miring 2 meter sampai ke ducting, tinggi ducting 2 meter. Prototype OWC 2004 ini setelah di uji coba operasional memiliki efisiensi 11%. Pada tahun 2006 ini pihak BPDP – BPPT kembali membangun OWC dengan sistem Limpet dipantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul . OWC Limpet dibangun berdampingan dengan OWC 2004 tetapi dengan model yang berbeda. Dengan harapan besar energi gelombang yang bisa dimanfaatkan dan efisiensi dari OWC Limpet ini akan lebih besar dari pada OWC sebelumnya.

Dari uraian yang cukup panjang di atas diketahui bahwa potensi ombak pantai selatan, khususnya di kawasan pantai kabupaten Gunungkidul sangat besar. Ini adalah sumber energi masa depan yang sangat besar. Untuk sebuah kabupaten yang masih kekurangan pasokan listrik primer akan sangat sulit untuk mengembangkan sektor industrinya jika tidak didukung oleh penambahan pasokan listrik dalam skala besar.  Padahal hasil bumi Gunungkidul yang berupa gaplek dan tanaman palawija cukup berkualitas. Seharusnya hal itu dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat jika semuanya dapat diolah dan dijadikan produksi olahan di Gunungkidul sendiri sebelum dikirim ke daerah luar.

Maka dari itu, penulis menguraikan sebuah mimpi dan gagasan untuk dapat mewujudkan mimpi tersebut di masa depan. Mimpi yang diharapkan dapat terwujud adalah terpenuhinya pasokan listrik di seluruh wilayah kabupaten Gunungkidul dengan memanfaatkan energi gelombang laut. Apa yang dapat dilakukan? Pertama, membangun visi bersama untuk mewujudkan Gunungkidul yang kaya sumber energi. Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye ke berbagai elemen masyarakat untuk membuka paradigma mereka agar mau mengerti pentingnya pendidikan yang visioner bagi generasi mereka. Pendidikan yang tidak pragmatis adalah harga mati bagi putra-putri Gunungkidul, yaitu pendidikan yang bervisi pengembangan masyarakat agar ke depan tumbuh kesadaran selaku putra-putra daerah untuk kembali membangun daerahnya. Di mana pun boleh sukses, yang penting setelah itu kembali untuk membangun daerahnya

Hal yang selanjutnya adalah mendorong kesadaran para pelajar Gunungkidul melalui seminar-seminar yang membuka wawasan tentang potensi alam Gunungkidul yang banyak. Diharapkan ada putra-putri Gunungkidul yang menekuni lebih jauh bidang-bidang yang diperlukan untuk pemanfaatan energi gelombang laut melalui jenjang perkuliahan hingga akhirnya lahir ilmuwan-ilmuwan yang memiliki perhatian untuk mengembangkan daerahnya. Mengapa hal ini penting untuk dilakukan? Karena saat ini sebenarnya sudah cukup banyak orang Gunungkidul yang telah menempati posisi strategis di pemerintahan namun kontribusi langsung kepada masyarakat Gunungkidul belum dirakasakan secara maksimal. Di sisi lain, tingkat urbanisasi masyarakat akibat keinginan untuk mendapatkan penghasilan layak di kota sangat tinggi. Para pelaku urbanisasi ini adalah generasi muda yang lulus SMA/ SMK namun tidak berminat melanjutkan kuliah. Maka sekali lagi, membuka wawasan generasi muda Gunungkidul secara terencana dan berkelanjutan adalah jalan yang harus diusahakan dengan cara apa pun.

Gagasan ini tidak untuk diwujudkan dalam waktu yang singkat. Tapi pasti ada hal yang dapat kita lakukan sejak sekarang. Yaitu dengan berbagi gagasan dan terus menyebarkan ide-ide perubahan melalui berbagai aktivitas nyata, mulai dari membentuk komunitas-komunitas pemuda. Dimulai dari teman-teman terdekat, maka kita wujudkan impian itu satu demi satu. Kemudian didukung dengan pembentukan jaringan komunikasi yang baik antara pemuda dan pemerintah maka akan terwujud sebuah tatanan kehidupan masyarakat baru yang peduli pada perbaikan generasi untuk mewujudkan Gunungkidul yang berkecukupan energi.

Referensi:

http://www.pariwisata.gunungkidulkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47&Itemid=34

http://www.gunungkidulkab.go.id/home.php?mode=content&id=78

http://www.ebtke.esdm.go.id/energi/energi-terbarukan/arus-laut/498-pengembangan-potensi-energi-gelombang-di-indonesia-belum-optimal.html

(repost from http://baktinusadduns.wordpress.com/2012/04/01/potensi-ombak-di-gunungkidul-sumber-energi-masa-depan-yang-menjanjikan/)

Kategori
Alam Sekitar

Course Of Earthquake Rescue Strategy (Ceres) oleh Mahasiswa Sebagai Wujud Peran Pemuda dalam Pembelajaran Kebencanaan Kepada Masyarakat

Gempa bumi merupakan salah satu bentuk bencana alam yangsulit diprediksi. Kehadirannya sangat tiba-tiba dan terkadang menimbulkan dampak yang sangat mengerikan. Namun demikian, kawasan rawan gempa bumi dapat diprediksi dan dibuat perkiraan waktu-waktu terjadinya secara umum. Teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini memungkinkan manusia untuk mengeksplorasi dan mengetahui lebih jauh perilaku lempeng bumi atau aktivitas bumi lainnya yang berpotensi menimbulkan gempa bumi.

Salah satu kawasan yang berpotensi gempa adalah zona perbatasan antar lempeng di permukaan bumi, misalnya perbatasan antara lempeng Asia dan Australia yang terbentang sepanjang pesisir pantai barat Sumatra; pantai selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gempa karena hal ini sering dikatakan sebagai gempa tektonik yang biasanya kekuatannya relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan gempa yang lain. Misalnya pada gempa Aceh pada tahun 2003, atau gempa Yogyakarta tahun 2006, banyak sekali korban jiwa yang berjatuhan dan terjadi kerusakan yang sangat parah.

Kawasan lainnya adalah di daerah sekitar gunung berapi yang masih aktif., yaitu kawasan yang berada di jalur lava gunung berapi. Di Indonesia jalur lava ini melewati pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gunung berapi yang masih aktif, misalnya Merapi akan sangat berpotensi menimbulkan gempa di kawasan sekelilingnya pada saat mengalami erupsi seperti yang baru saja terjadi pada bulan November-Desember 2010. Kawasan DIY bagian selatan dan Jawa Tengah yang melingkupi Gunung Merapi mengalami bencana gempa setiap saat ketika gunung ini tengah mengalami erupsi disamping semburan awan panas dan abu vulkanik yang begitu melimpah.

Berdasarkan dari uraian di atas, ada masalah yang patut untuk diperhatikan  yaitu perilaku masyarakat saat terjadi gempa. Banyak sekali sumber informasi yang menceritakan bahwa banyaknya korban jiwa saat gempa adalah karena kesalahan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat yang mengalami gempa tersebut. Misalnya ketika terjadi gempa yang dahsyat, masyarakat justru tidak segera berlindung disudut-sudut bangunan tembok atau dibawah papan besi yang kuat. Mereka justru berlindung di bawah meja-meja yang rapuh atau di daerah yang dekat tembok yang rawan runtuh. Akibatnya mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika benda-benda berat atau tembok yang kuat runtuh menimpa mereka. Jika sudah demikian, daftar korban akan terus berjatuhan.

Maka dari itu, perlu sebuah program pembelajaran bagi masyarakat secara berkelanjutan dan teratur. Pembelajaran ini tidak sekedar pembelajaran yang hanya dilakukan setelah melihat dampak gempa yang besar, tetapi menitikberatkan pada aspek keberlanjutan dan keterulangan secara teratur. Selama ini pemerintah hanya mencanangkan program sosialisasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya gempa dalam bentuk roadshow yang biasanya hanya dilakukan sekali pasca gempa. Namun demikian ada hal positif yang sudah dibangun pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yaitu dibentuknya Taruna Siaga Bencana (Tagana). Hanya saja, sejauh ini peran Tagana lebih menitikberatkan pada evakuasi dan penanganan masyarakat tepat saat bencana terjadi.

Bermula dari sedikit celah permasalahan ini, maka perlu kiranya dilakukan semacam pembelajaran kepada masyarakat tentang antisipasi dan tindakan yang harus dilakukan saat gempa terjadi secara berkelanjutan dan teratur melalui program terpadu. Penulis mengusulkan adanya suatu kerja sama antara BNPB dan Perguruan tinggi dalam menelurkan program ini, yaitu Course of Earthquake Rescue Strategy (CEReS).

CEReS merupakan bentuk kolaborasi antara BNPB dengan Perguruan tinggi yang menyelenggarakan program Kuliah Kerja Nyata bagi mahasiswa. Program ini mengambil prinsip dari peribahasa setali tiga uang atau sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, yaitu mahasiswa yang menjalani KKN di daerah-daerah yang berpotensi gempa, khususnya gempa tektonik mendapat satu tugas tambahan untuk melakukan CEReS kepada masyarakat mitra mereka dalam lingkup yang lebih luas. Dengan demikian proses pembelajaran kepada masyarakat tentang tindakan yang tepat saat gempa terjadi dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan teratur seiring dengan teraturnya  kegiatan KKN yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Tersebut.

Perguruan tinggi memetakan wilayah yang akan menjadi daerah yang akan diberdayakan melalui kegiatan KKN PPM untuk proyeksi bebarapa tahun sesuai dengan kebutuhan dan hasil penelitian yang dilakukan. BNPB membuat jaring komunikasi dengan perguruan-perguruan tinggi tersebut dan menawarkan proposal untuk pembelajaran kepada masyarakat tentang kebencanaan, khususnya gempa bumi. Kemudian ketika pembekalan KKN, Perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada BNPB untuk memberikan pembekalan tambahan kepada mahasiswa yang wilayah KKN-nya merupakan daerah yang berpotensi rawan terjadi gempa bumi sekaligus menugaskan mereka untuk melakukan pembelajaran kebencanaan yang berkaitan dengan tindakan yang tepat saat gempa bumi terjadi.

Ketika KKM PPM dilaksanakan, mahasiswa melakukan sosialisasi pada lingkup wilayah yang lebih luas (misalnya pada tingkat kecamatan) sesuai dengan karakteristik wilayah yang ada di daerah itu. Proses sosialisasi dapat dilakukan melalui simulasi secara intensif kepada para pemuda dari perwakilan desa. Selain itu sosialisasi dapat dikembangkan dengan menitipkan brosur dan stiker yang berisi tips-tips sederhana dalam mengambil tindakan yang tepat saat gempa terjadi kepada para peserta training agar diperluas kepada masyarakat. Amunisi dan pendanaan khusus kegiatan ini diperoleh dari BNPB. Proses ini akan berlangsung secara periodik, yaitu setiap mahasiswa melakukan KKN PPM di daerah tersebut, baik pada desa yang sama atau desa yang berbeda di lingkup kecamatan tersebut.

CEReS ini cukup efektif karena langsung kepada masyarakat dan secara berkelanjutan. Efektivitas program ini dapat dilihat dari lebih banyaknya masyarakat yang akan mendapat sosialisasi karena banyaknya jumlah mahasiswa yang melakukan KKN di daerah-daerah yang masih menjadi kawasan berpotensi gempa. Program ini akan bermanfaat bagi masyarakat secara lebih luas dibandingkan hanya jika dilakukan oleh jajaran BNPB bersama para sukarelawan yang berada di bawah naungannya. Dengan demikian BNPB dapat bekerja lebih intensif untuk daerah-daerah ekstrim yang paling berpotensi terjadi bencana alam, baik gempa maupun yang lainnya.

Keuntungan dari pelaksanaan program ini antara lain: pertama, adanya optimalisasi peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi. Hal ini akan mendorong mahasiswa lebih dekat dengan masyarakat. Kedua, BNPB akan mendapat akses yang lebih luas terhadap masyarakat yang menjadi mitra KKN PPM mahasiswa di perguruan tinggi. Jaringan yang dibangun oleh mahasiswa akan lebih efektif karena jika suatu saat gempa terjadi, jalur koordinasi penyaluran sukarelawan dan bantuan akan lebih cepat karena di samping dari BNPB sendiri, mahasiswa yang pernah melakukan KKN akan punya akses yang lebih tepat sasaran untuk memberikan bantuan juga.  Ketiga, masyarakat akan menjadi terbiasa dengan wacana gempa karena mereka selalu mendapat pembelajaran secara periodik. Secara psikologi, hal ini akan membiasakan mereka untuk selalu waspada bahwa daerah mereka adalah daerah yang berpotensi terjadi gempa. Hal ini akan menjadi suatu bentuk Early Warning System yang alami karena masyarakat akan dibiasakan melalui suatu proses pembelajaran yang berulang-ulang dan berkelanjutan. Maka suatu saat masyarakat tersebut akan mengalami transisi kebiasaan ke arah positif dalam merespon gempa yang akan terjadi di kemudian hari. Keempat, pemerintah dapat menjadi mitra dalam proses ini. Bagi mahasiswa yang kreatif dan persuatif mereka dalam melakukan program ini secara lebih intensif dengan meminta dukungan kepada pemerintah setempat dalam hal dana dan pendekatan kepada masyarakat. Biasanya pemerintah juga akan merespon positif terutama dalam hal dukungan personal untuk menyukseskan program-program semacam ini mengingat saat ini diperlukan sekali kinerja kolaboratif antara institusi pemerintah, perguruan tinggi, dan swasta.

Demikianlah sebuah tulisan singkat tentang gagasan peran pemuda di negeri ini dalam mengedukasi masyarakat agar menjadi waspada dan mampu bertahan terhadap berbagai bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Semoga bermanfaat.

* Rencananya artikel ini mau diikutkan dalam Kompetisi Esai dalam FSLDK Peduli, hasil rivalitas semalam bersama Krisna D’ Biker. Eh, ternyata karena sesuatu hal yang ga penting ga jadi diikutkan deh. Dan belum sampai selesai, akhirnya kupaksakan selesai

Kategori
Alam Sekitar

S-Cream (Social Collaboration, Reconstruction, and Action for My Village): Visi Pemberdayaan Pemuda Desa Beji

Beji adalah sebuah desa yang terletak di kaki Bukit Wonosadi, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini berpenduduk kurang lebih 3000-an jiwa yang hampir sebagiannya menjadi perantau di kota-kota besar dan kembali ke desa secara periodik ketika hari lebaran.

Salah satu kultur para pemuda di desa ini adalah kebiasaan merantau pascalulus sekolah menengah, sebagian besar setelah SMA/ SMK dan sebagian besar SMP dan sangat jarang yang mau melanjutkan kuliah karena masyarakat desa ini tergolong dalam masyarakat miskin. Biasanya aktivitas harian para pemuda pada masa SMP – SMA adalah pada kebiasaan membantu orang tua bertani, aktif dalam karang taruna dan kegiatan remaja masjid. Salah satu hal yang membudaya adalah kebiasaan menghidupkan masjid setelah maghrib dengan tadarus, diskusi dan sebagainya. Hal ini cukup memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak-anak di desa Beji dalam mengenal agama mereka dan masyarakat. Meskipun setelah SMA/ SMK para pemuda merantau ke kota, namun proses kaderisasi dapat berjalan dengan baik melalui rutinitas yang telah membudaya tadi sehingga aktivitas ini berlangsung dengan baik sampai tahun 2005.

Namun setelah tahun 2005 dan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kultur kehidupan pemuda di desa ini berubah drastis. Kebiasaan menonton televisi secara berlebihan pada jam-jam belajar yang efektif mengganti kebiasaan positif yang telah membudaya sebelumnya. Kultur yang kurang baik juga dicontohkan oleh yang baru pulang dari kota, sehingga membuat masyarakat khususnya para pemuda di desa mengalami perubahan cara pandang dalam membangun cita-cita mereka ke depan. Jika semula mereka ke kota untuk mencari penghidupan, niatnya berubah untuk pamer trend dan berbagai aktivitas yang kurang baik, bahkan ada yang mengenalkan kebiasaan minum-minuman keras.

Kondisi ini memberikan dampak buruk terhadap kelangsungan aktivitas para pemuda pada tingkatan SMP dan SMA, mereka merasa malu untuk menjadi guru TPA, aktivis masjid, bahkan menjadi aktivis karang taruna. Jika dahulu para pemuda mudah diarahkan oleh sesamanya, sekarang menjadi sulit bahkan oleh kepala dusun atau kepala desanya. Aktivitas di masjid dan karang taruna menjadi mati, kecuali pada saat momen 17 Agustus dan Ramadhan saja, itu pun sudah jauh lebih buruk di bandingkan pada masa-masa sebelumnya. Hal ini sangat tidak baik untuk kelangsungan anak-anak di desa Beji jika dibiarkan berlarut-larut.

Berawal dari itu, segelintir orang yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah, termasuk penulis di dalamnya mencoba menginisiasi perkumpulan pemuda di desa yang bergerak dalam perbaikan masyarakat khususnya pemuda. Organisasi yang kami dirikan bernama Persatuan Remaja Islam Cendikia (PRISMA) Desa Beji tahun 2011. Karena kendala waktu kuliah yang padat dan sedikitnya SDM yang memiliki kepedulian, organisasi ini belum dapat berjalan dengan baik. Namun di balik itu, kami memiliki impian besar dalam perbaikan masyarakat dan kami ingin membuat gerakan S-Cream (Social Collaboration, Reconstruction and Action for My Village). Gerakan ini kami mulai dari perbaikan kualitas pemuda untuk ke depan dimobilisasi dalam pemberdayaan masyarakat, mulai dari perbaikan paradigma masyarakat hingga pada perbaikan ekonomi. Kami berharap pascakampus dapat pulang ke desa untuk memberikan perubahan di sana dengan ilmu dan usaha yang sanggup kami buat.

(Artikel ini diajukan saat pendaftaran IYCS 2012)

Kategori
Alam Sekitar

Tema Batik Pada Display Layar Handphone untuk Memasyarakatkan Pengetahuan Tentang Batik di Indonesia

Batik adalah salah satu warisan luhur kebudayaan bangsa Indonesia. Sebagai salah satu karya seni yang adiluhung, batik merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya dan kekhasan yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini telah diakui dunia melalui lembaga internasional PBB, UNESCO. Hanya saja, saat ini keberadaan batik sekedar menjadi trend dan cenderung tidak diketahui substansinya oleh bangsa Indonesia sendiri. Jika kita bertanya pada masyarakat umum, pasti sedikit yang mengetahui tentang motif, corak, dan asal batik yang beredar di pasaran sekarang.

Selain, kemajuan dunia seluler semakin berkembang pesat. Dahulu hanya dikenal jenis handphone monokrom yang bentuknya besar dengan layar kecil seperti kalkulator. Sekarang telah bermunculan berbagai tipe handphone yang lebih ergonomis dan praktis untuk berbagai keperluan. Fitur-fiturnya pun jauh lebih lengkap untuk memenuhi keinginan konsumen. Berbagai perangkatnya mulai diperbarui, seperti yang semula dengan keypad sekarang sudah berganti dengan layar sentuh didukung dengan ketajaman warna yang begitu mengagumkan.

Dua hal ini jika dikolaborasikan sebenarnya akan menjadi sebuah cara cerdas untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia khususnya dalam membelajarkan masyarakat untuk mengetahui kekayaan budaya yang ada. Dalam konteks yang diuraikan dalam tulisan ini, handphone dapat dimanipulasi sebagai sebuah alat untuk menjaga kelestarian budaya bangsa yang berupa batik. Dengan menggunakan pendekatan ini, maka benda yang semula hanya sebuah media komunikasi jarak jauh dalam arti sempit sekaligus dapat menjadi media sosialisasi yang akan mencerdaskan masyarakat Indonesia untuk mengenal batik.

Bagaimana caranya? Salah satu keunggulan handphone di generasi akhir adalah adanya penggunaan tema untuk setiap tampilan layarnya. Pada bagian ini, upaya pembelajaran kepada masyarakat dapat dilakukan dengan optimalisasi tema tentang motif dan corak batik yang ada di Indonesia. Secara sederhana, realisasi ide ini adalah tema bernuansa batik untuk membuat para pengguna handphone di kalangan masyarakat Indonesia mengenal ragam kekayaan batik yang ada. Tema ini dilengkapi dengan nama yang tertulis kecil pada bagian tema tersebut sehingga para pengguna dapat membacanya.

Penjabaran secara teknis tentang optimalisasi tema batik pada display layar handphone dapat berupa tema-tema tunggal atau tema-tema yang bersifat kolaboratif. Tema-tema yang bersifat tunggal adalah setiap tema display yang terlihat dalam layar handphone tersebut hanya untuk mengenalkan satu jenis motif atau corak batik, misalnya motif wahyu tumurun atau motif-motif yang lain. Sedangkan tema-tema yang bersifat kolaboratif adalah setiap tema display yang terlihat di layar mencakup beberapa motif batik yang terhimpun pada beberapa kesamaan tertentu, misalnya asal dan keragaman corak. Misalnya untuk tema pada merk Sony Ericson, setiap masuk ke bagian-bagian menu motif batik akan berganti namun tetap dalam satu kategori.

Bagaimana implementasinya? Hal ini sangat mudah dilakukan oleh para perancang tema, karena hanya membutuhkan update informasi tentang bentuk dan data tentang motif-motif batik. Kemudian tinggal diupload secara online di internet sehingga mudah didownload para pengguna handphone. Agar lebih maksimal, mungkin perlu ada yang memulai untuk membuat situs khusus yang menyediakan tema-tema ini.

Dengan demikian, pengetahuan masyarakat tentang batik akan lebih lengkap. Dengan pengetahuan yang lengkap ini, kelestarian batik Indonesia akan terjaga dan tidak akan mudah diplagiasi oleh negara lain.

Kategori
Alam Sekitar

Hemat Air, Bahkan dalam Berwudhu

Fenomena kelangkaan air di Gunungkidul sejak beberapa tahun silam sudah bukan rahasia lagi. Setiap musim kemarau, kekeringan selalu melanda kawasan karst yang ada di sebelah timur kota Yogyakarta ini. Meskipun beberapa bulan lalu sumur Bribin II telah diresmikan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air masyarakat Gunungkidul di kawasan timur dan selatan, ancaman kekeringan masih tetap membayangi pikiran setiap warga di sana.

Kenyataan tersebut merupakan konsekuensi yang harus dirasakan oleh masyarakat kawasan karst. Tanah di kawasan karst tidak memiliki kemampuan menahan air hujan yang meresap sehingga cadangan air permukaan kawasan ini tidak mencukupi kebutuhan masyarakat yang tinggal di atasnya.

Sebenarnya ada satu solusi utama yang seandainya terealisasi dengan baik fenomena kelangkaan air ini tidak akan terjadi lagi, yaitu pengangkatan air dari lapisan bawah. Di Gunungkidul, air permukaan bawah atau lebih sering dikenal sebagai sungai bawah tanah sangat banyak jumlahnya. Debit air yang mengalir  juga relatif besar. Hanya saja, karena terlalu dalam maka timbul masalah  baru terkait teknologi yang akan digunakan dalam usaha pengangkatan air sampai permukaan bumi. Permasalahan tersebut adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan penguasaan masyarakat terhadap Iptek khususnya bidang hidrologi dan mekanik. Disamping rendahnya Iptek yang dikuasai oleh masyarakat, biaya yang diperlukan pun sangat mahal jika harus mendatangkan alat dari luar negeri.

Maka dari itu, sambil terus mengusahakan berbagai kerja sama dan kemitraan dengan negara-negara yang memiliki teknologi tersebut, perlu adanya usaha sadar dari masyarakat untuk meminimalisir terulangnya kelangkaan air pada musim kemarau. Usaha yang dilakukan dapat berupa usaha intensifikasi dan usaha ekstensifikasi. Usaha intensifikasi dapat dilakukan dengan penghematan  penggunaan air. Penghematan dapat dilakukan dengan cara peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan air. Sedangkan usaha ekstensifikasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jumlah cadangan penyimpanan air pada musim penghujan untuk digunakan pada musim kemarau.

Beberapa usaha nyata yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan air dapat dilakukan mulai dari lingkup rumah tangga sampai masyarakat. Pada lingkup rumah tangga, penghematan air dapat dilakukan pada kebutuhan dapur, MCK, dan aktivitas lain termasuk ibadah. Ibu yang cerdas akan mencuci perangkat dapur secara berkala dan dalam jumlah yang banyak sekaligus agar air yang digunakan lebih efisien. Untuk keperluan mandi, air yang digunakan secukupnya saja, misalnya dengan menggunakan ember sebagai takaran air setiap kali mandi. Sehingga meskipun air di bak mandi penuh, kita tetap disiplin dengan menggunakan air sehemat-hematnya. Bahkan dalam berwudhu pun bagi masyarakat muslim sebaiknya tetap berhemat dengan cara menggunakan ember kecil yang diberi lubang kecil sehingga jumlah air yang digunakan lebih efisien seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kebiasaan berwudhu dengan menggunakan kran tidak bagus untuk masyarakat Gunungkidul.

Pada tingkat masyarakat, usaha intensifikasi untuk penghematan air dapat dilakukan di berbagai aspek, misalnya pada bidang pertanian. Sistem penyiraman yang tepat sasaran pada waktu bertani tembakau di musim kemarau sangat penting agar sumber cadangan air dapat mencukupi hingga sampai datangnya musim penghujan berikutnya. Selain itu, masih banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan dalam rangka penghematan air.

Sedangkan kegiatan ekstensifikasi untuk mengatasi kelangkaan air dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah tangkapan air pada musim penghujan untuk ditampung dan digunakan pada musim kemarau. Usaha nyata yang dapat dilakukan adalah dengan membuat bak-bak penampungan pada setiap rumah dan penampungan umum di masyarakat. Pengisian bak-bak penampungan dapat dilakukan dengan mengarahkan aliran air hujan dari atap rumah menggunakan talang. Air yang mengalir dari talang diberikan penyaring kasar sebelum masuk ke dalam bak. Air ditampung ke dalam bak yang telah diberi zeolit alam untuk menetralkan keasamannya. Di Gunungkidul, zeolit bukanlah barang yang sulit untuk ditemukan, bahkan kualitas zeolit alami dari Gunungkidul tergolong sangat baik.

Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar dapat mengantisipasi kelangkaan air pada musim kemarau perlu adanya upaya berkesinambungan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, LSM dan organisasi pemuda. Kegiatan penyuluhan dan sosialisasi dari pemerintah, pendampingan oleh LSM dan organisasi pemuda, serta pemantauan oleh publik dan para tokoh masyarakat sangat penting guna menyukseskan upaya penghematan air dan peningkatan efektivitas dan efisiensi penggunaan air di kabupaten Gunungkidul dan daerah-daerah lain yang permasalahan serupa.

(Artikel ini mendapatkan 5 besar terbaik Artikel MAPIPTEK)