Hisanori KatoMelihat Indonesia dari sudut pandang orang asing itu selalu tidak ada habisnya. Negeri ini terlalu menarik dan terlalu kaya untuk diberi justifikasi sebagai negeri yang seperti apa. Yang jelas negeri yang luasnya hampir setara dengan daratan eropa barat ini, cuma bedanya di sini diliputi perairan yang luas ternyata memberi kesan tersendiri bagi mereka yang datang dari negeri nun jauh.

Aku masih ingat bagaimana orang Turki geleng-geleng kepala melihat kita begitu mengelu-elukan kedatangan timnas Belanda yang melakukan lawatan ke Indonesia dan bertanding dengan timnas Garuda kita. Berbagai yel-yel hingga tulisan I LOVE NETHERLAND terpampang begitu jelas di deretan tribun Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kata orang-orang Turki itu, aneh sekali kalian, begitu mudahnya kalian memaafkan bangsa yang telah menginjak-injak kalian berabad-abad lamanya.

Kisah aneh ini pula yang didapat oleh seorang pengelana Jepang yang kini telah menjadi guru besar di Osaka Butsuryo College, Jepang, Prof. Hisanori Kato atau sering disapa dengan Kato San. Profesor yang mungkin hari ini masih fasih berbahasa Indonesia ini pernah 10 tahun tinggal di Indonesia dan mengakui bahwa tanah air kita ini menjadi tanah air keduanya yang selalu ia rindukan. Keunikan dan keanehannnya lah yang membuatnya selalu rindu untuk mengunjungi tanah ini.

Di antara cerita yang ia dapat adalah bagaimana orang Indonesia melihat banyak hal yang sebenarnya masalah serius bagi kebanyakan orang Jepang seperti dirinya menjadi hal yang biasa-biasa saja alias tidak apa-apa. Saat ia tinggal di Jakarta, ia tidak habis pikir saat temannya yang mengajak janjian bertemu ternyata membatalkan secara sepihak, temannya cuma mengomentari, “ya sudah, tidak apa-apa”. Saat dia stress dengan bus yang datangnya terlambat, temannya juga bilang, “tidak apa-apa”. Dan bahkan internet yang putus nyambung, temannya bilang, “tidak apa-apa”. Padahal semua itu adalah apa-apa baginya dan awal-awalnya membuat frustasi.

Tetapi di kemudian hari dia menangkap bahwa dibalik hal-hal yang aneh itu sebenarnya ada filosifi indah yang tersimpan dibenak orang Indonesia tentang ajaran hidup. Sekiranya orang Indonesia berhasil memperbaiki sisi-sisi buruk dari “tidak apa-apa”nya itu tentu negeri ini akan bangkit menjadi bangsa yang besar seperti Jepang. Begitulah pikirnya.

Dia juga belajar tentang filosofi orang Indonesia yang santai untuk menanggapi suatu kejadian atau persiapan dengan “bagaimana nanti” bukan “nanti bagaimana” seperti cara berpikirnya di Jepang. Ini sebenarnya filosofi tentang kesiap-siagaan hidup yang hari ini sering disalahgunakan untuk alasan malas melakukan persiapan. Masih banyak lagi kisah-kisah yang dapat ditemukan di bukunya yang hanya setebal 131 halaman ini dengan judul KANGEN INDONESIA, INDONESIA DI MATA ORANG JEPANG.

Silahkah membacanya!

Tinggalkan Balasan