Ini adalah kisah yang terjadi pada bulan Ramadhan kemarin. Ceritanya berawal dari agenda pekananku bersama adik-adik yang ingin mencari suasana baru. Jadilah kami berencana menikmati suasana santai sambil liburan ke salah satu kota yang ada di Jawa Tengah, Semarang.

Bukan Rezeki Kami

Dengan bergaya ala backpacker aku dan tiga orang juniorku berkemas menaiki bus jurusan Semarang. Kami sengaja berangkat siang dengan harapan bisa sampai di salah satu tempat yang akan menjadi tempat bermalam sebelum adzan Maghrib. Itulah cara kami untuk penghematan karena mendapatkan jatah buka puasa.

Sesampainya di kota Semarang kami begitu tertegun alam menunggu bus trans-Semarang. Di halte yang begitu apa adanya kami dan beberapa penumpang tampak jenuh menunggu angkutan ala negara maju yang tak kunjung menyambangi kami. Ada di antara kami yang pura-pura buka ponsel, ada yang malah ngliling anak kecil yang digendong calon penumpang lain. Pokoknya kami pura-pura sibuk agar tidak disangka melamun.

Alhamdulillah, bus angkutan pun datang. Karena satu-satunya kami memastikan bahwa orang tua, wanita, dan anak-anak harus dapat tempat duduk. Sementara kami para anak-anak muda yang mengaku gagah (meskipun juga kelaparan) berdiri hingga entah berapa jauhnya nanti untuk mencapai Masjid Agung Jawa Tengah, masjid tujuan pertama kami.

Ternyata malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, kami terlambat datang ke sana dan waktu telah lewat adzan Maghrib. Harapan untuk mendapatkan makanan buka bersama pun menipis. Nasib kami harus jajan sendiri untuk mengisi perut di hari ini. Benarlah, begitu sampai setelah jalan lebih dari 1 kilometer dari halte terdekat, kami memang tidak mendapatkan jatah yang kami harapkan.

Tak perlu kecewa, beginilah cara belajar para backpacker pemula jika ingin bertahan. Kalaupun masih harus makan di warung, setidaknya kami sudah bulat tidak akan mencari penginapan atau hotel. Karena kami akan menginap di manapun di masjid yang bisa ditiduri, bergelut dengan nyamuk yang konon besar-besar. Kiriman dari kawasan sungai yang dekat dengan lokasi masjid terbesar se-Jawa Tengah itu.

Malam hari itu hampir aku tidak terlalu tertarik untuk mengamati soal masjidnya. Karena aku lebih menikmati suasana shalat yang diimami oleh para hufaz yang bacaanya begitu indah dan enak didengarkan. Kesempatan bermakmun di belakang imam yang bacaannya bagus dan fasih itu memang hal yang langka di Indonesia saat ini meskipun konon negeri ini adalah negara muslim terbesar di dunia.

Semarang

Matahari dan Pilar-Pilar Indah

Kami melewatkan tidur dengan kenikmatan masing-masing. Ada yang mengaku tidak bisa tidur lantaran tangannya asyik berkejar-kejaran dengan nyamuk yang mirip pesawat pengintai itu. Tapi aku sendiri tidak menganggap ada masalah karena selama tidur ya nyenyak-nyenyak saja hingga waktu sahur tiba. Lagi-lagi tidak ada jatah makan sahur bagi kami, kami harus jajan di warung sekitar masjid itu lagi.

Dan barulah usai shalat subuh kami menikmati keindahan yang mulai tersingkap dari bangunan raksasa yang memadukan berbagai arsitektur peradaban Islam itu. Begitu kentara bagaimana masjid ini memadukan gaya atap masjid di Indonesia, dengan kubah khas timur tengah. Belum lagi bagian depannya dipagari oleh pilar-pilar yang meniru gaya desain khas Cordoba, Spanyol.

Melihat pantulannya di atas lantai keramik yang berukuran besar-besar itu makin tampak keindahannya. Hanya satu yang tidak bisa kusaksikan saat itu, yakni empat payung raksasa yang berada di halaman depan Masjid Agung. Konon payung itu akan dibuka jika siang hari dan jamaah membeludak sampai halaman. Itu seperti atap portabel yang dapat difungsikan dan ditutup sesuai dengan kebutuhan.

Pagi hari itu kami pun menikmati foto-foto kehadiran sang mentari pagi yang kemudian diikuti kedatangan manusia berbondong-bondong ke masjid itu. Oh ternyata masjid ini lebih populer sebagai tempat wisata keluarga dan senang-senangnya para pemuda. Sangat disayangkan juga waktu kami mendapati lagi bulan puasa seperti ini aktivitas pacaran sejumlah anak muda juga masih kentara. Ada juga yang datang ke masjid dengan pakaian yang tidak semestinya. Wow, memang beginilah perilaku orang-orang Indonesia yang lagi belajar tentang kebebasan.

Lawang Sewu dan Perjalanan Nonsense

Usai berpuas diri di depan halaman masjid, kami pun mengucapkan selamat tinggal untuk bangunan megah di pinggiran kota Semarang itu. Kami kembali berjalan ke halte terdekat dengan tujuan pasti, Lawang Sewu dan Taman Tugu Muda. Seperti biasanya, kami sabar menunggu kehadiran sang bus Trans-Semarang.

Kami mungkin nekat traveler yang memilih momen puasa untuk jalan-jalan. Di tengah terik matahari kami justru duduk-duduk di tengah kota tugu muda. Lagi-lagi kami berfoto dengan latar bangunan Lawang Sewu. Dari beberapa adikku, ternyata ada yang baru pertama kali ke kota ini. What? Padahal mereka asli penduduk Jawa Tengah dibandingkan aku yang asal DIY. Memang inilah cerita khas orang-orang negeri ini. Kita harus mengakui bahwa untuk pergi ke Indonesia yang lainnya lebih mahal dari pada ke Malaysia dan Singapura bukan.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Lawang Sewu. Bangunan yang dulu merupakan titik balik sejarah perkeretaapian Indonesia. Entahlah, aku tidak terlalu tertarik membahasnya. Yang pasti aku menangkap kesan dari dokumen-dokumen yang dipajang di monumen tersebut seolah-olah bangsa ini harus berterima kasih kepada Belanda yang memberikan masyarakat ini fasilitas kereta api. Ini bukan kali pertamaku, karena sebelumnya aku sudah pernah berkunjung ke sini jadi aku lebih sebagai partner buat para juniorku saja.

Usai berpuas di Lawang Sewu, kami mulai memiliki ide konyol, naik Trans-Semarang dari ujung terminal timur ke barat. Mumpung tiket jauh dekatnya sama kami akhirnya sepakat. Satu kali perjalanan cuma habis Rp 3.500,- saja. Itu artinya untuk berangkat dari ujung ke ujung, kami hanya butuh Rp 7.000,- saja. Bagi sebagian orang mahal. Tapi bagiku sangat murah mengingat aku pernah naik transportasi Eropa yang begitu mahal.

Awalnya kami menikmati, lama-lama karena waktunya lama ternyata membosankan. Akhirnya salah satu kami segera tertidur pulas. Sebagian lainnya mulai sibuk dengan ponselnya. Dan akhirnya kami bersepakat untuk langsung pulang ke Solo setelah sampai di terminal paling barat, Mangkang. Dan inilah perjalanan nonsense itu.

Alhamdulillah, setelah melanjutkan tidur siang di bus Semarang-Solo. Kami telah kembali ke Solo dengan selamat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan