Kategori
Resensi Buku

The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI

Membangun persatuan sebuah negeri butuh pengorbanan dan kesetiaan. Itulah hal mendasar yang dicontohkan oleh Toyotomi Hideyoshi. Orang jenius yang menjadi kebanggaan Jepang karena berhasil menyatukan negeri itu dari perang saudara yang berkepanjangan.

Kitami Masao menulis sebuah cerita yang menarik tentang perjalanan hidup Hideyoshi yang digelari sebagai The Swordless Samurai atau Samurai Tanpa Pedang. Mengapa dia digelari demikian? Karena Hideyoshi berhasil menyatukan seluruh Jepang dengan pendekatan diplomasi yang luar biasa untuk mendamaikan antar klan yang kala itu saling berperang hebat satu sama lain. Dia sendiri adalah pembantu Lord Nobunaga, pemimpin besar Klan Oda.

Kegigihan dan kesetiaannya dalam membersamai tuannya menjadikan dia dipercaya dan menanjak kariernya tahap demi tahap. Hal itu diikuti dengan kejeniusan dan visi besarnya untuk melihat sebuah negeri yang damai. Maka dari itu dia selalu menawarkan jalan damai ketika klannya sedang berurusan dengan klan yang lainnya.

Bahkan jika harus berperang pun, Hideyoshi menggunakan strategi yang jitu bagaimana membuat lawannya cepat menyerah, bukan membantai korban sebanyak-banyaknya. Perpaduan sifat inilah yang membuatnya sangat dipercaya oleh Nobunaga dan dia membuktikan dirinya sebagai sosok kunci dalam menyelamatkan Klan Oda saat Nobunada dibunuh oleh salah satu musuhnya.

Masao menulis cerita dengan sangat indah karena dia mencerikatan sejarah Hideyoshi ini dengan sudut pandang orang pertama. Kita seolah-olah sendang mendengar penuturan kisah Hideyoshi oleh dirinya sendiri bagaimana ia hidup dalam kesusahan. Lalu mengabdi kepada Klan Oda hingga akhirnya dia berhasil menjadi orang kepercayaan Kaisar untuk memerintah seluruh Jepang. Di puncak kariernya inilah, Hideyoshi mengalami ketergelinciran karena dimabuk oleh kekuasaan sehingga mulai menebarkan ancaman penjajahan yang akhirnya benar-benar direalisasikan oleh Jepang usai Restorasi Meiji beberapa abad kemudian.

Lebih jauh lagi silahkan baca sendiri kisahnya yang begitu apik ini. Selamat membaca!

Kategori
Resensi Buku

Islam di Mata Orang Jepang, Sebuah Petualangan Spiritual

Islam di Mata Orang JepangIndonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tetapi Islam di Indonesia memiliki fenomena yang sangat unik. Ada banyak warna yang terjadi di negeri ini. Di satu sisi itu adalah khazanah sejarah karena posisi Indonesia yang strategis di jalur pelayaran dunia dan mudah menerima perubahan, tapi sisi pahitnya adalah masih sering terjadinya konflik antar sesama orang Islam sendiri.

Ke-Islam-an orang Indonesia sendiri menarik banyak orang asing non-muslim untuk dipelajari meskipun di kalangan umat Islam sendiri justru memandang hal ini tidak terlalu menarik. Entah apa pun tujuannya, khazanah pergerakan Islam yang tumbuh subur di Indonesia membuat banyak peneliti asing membuat studi komparasi tentang Islam. Dahulu Snouck Hurgronje meneliti khazanah Islam di Indonesia untuk menyukseskan kolonialisme Belanda. Hari, mungkin yang begitu juga masih ada, tetapi ada juga yang meneliti karena memang benar-benar ingin belajar.

Alasan kedua itulah yang menurutku lebih mendasari perjalanan yang dilakukan oleh Prof. Hisanori Kato, salah satu peneliti Jepang yang bosan di Amerika Serikat lalu memilih berlabuh cukup lama di Indonesia. Sosok lelaki ramah yang kini menjadi guru besar di Osaka Butsuryo College. Saat dia di Indonesia, dia mencoba mewawancarai tokoh-tokoh Islam dari berbagai tipe pergerakan yang ia ketahui.

Dia temui Gus Dur, Fadli Zon, Abu Bakar Ba’asyir, Ulil Abshar Abdala, Ismail Yusanto dll. Memang Kato San tidak mewawancarai semua tokoh yang mewakili representasi umat Islam di Indonesia secara penuh, tetapi kita perlu belajar bagaimana mengenal perspektif dari aktivitas yang ia lakukan. Dia tidak serta merta percaya tuduhan tentang Ba’asyir sebagai teroris karena dia sendiri merasa dimuliakan sebagai tamu saat berkunjung ke Ponpes Ngruki sebelum akhirnya Ba’asyir ditangkap dan dipenjarakan di Nusakambangan.

Yang jelas ini adalah pandangan dari orang asing non muslim memandang warna Islam yang berkembang di tanah air kita. Tentu saja kita tidak selalu harus setuju dengan pernyataannya, tetapi sudahkah kita melakukan hal yang sama untuk melihat keragaman Islam di negeri kita dengan pandangan yang jernih, bukan sekedar katanya dia katanya mereka. Karena bagi kita penting melakukan ini agar kita benar-benar bisa mengerti dan menemukan cara menyatukan kaum muslimin yang masih terpecah belah. Di samping itu, kita juga mengerti alasan dari orang-orang yang selama ini kerap menebarkan kontroversi dengan harapan kita memiliki sikap yang tepat kepada mereka, bukan sekedar emosi.

Bagaimana pun, karakter masyarakat muslim di Indonesia itu sangat unik. Berbeda dengan gaya Timur Tengah, berbeda pula dengan muslim di Barat yang saat ini tengah tumbuh. Maka dari itu kita butuh wawasan yang sesuai dengan harapan tumbuh kebijaksanaan di negeri ini untuk menyikapi perbedaan yang ada, termasuk menangani tumbuhnya aliran-aliran sesat secara tepat. Persebaran Islam di negeri ini memiliki sejarahnya sendiri maka penting kita untuk mempelajarinya kembali, bukan sekedar ikut-ikutan dan mengambil rujukan teknis yang tidak tepat.

Kategori
Resensi Buku

Kangen Indonesia, Indonesia Di Mata Orang Jepang

Hisanori KatoMelihat Indonesia dari sudut pandang orang asing itu selalu tidak ada habisnya. Negeri ini terlalu menarik dan terlalu kaya untuk diberi justifikasi sebagai negeri yang seperti apa. Yang jelas negeri yang luasnya hampir setara dengan daratan eropa barat ini, cuma bedanya di sini diliputi perairan yang luas ternyata memberi kesan tersendiri bagi mereka yang datang dari negeri nun jauh.

Aku masih ingat bagaimana orang Turki geleng-geleng kepala melihat kita begitu mengelu-elukan kedatangan timnas Belanda yang melakukan lawatan ke Indonesia dan bertanding dengan timnas Garuda kita. Berbagai yel-yel hingga tulisan I LOVE NETHERLAND terpampang begitu jelas di deretan tribun Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kata orang-orang Turki itu, aneh sekali kalian, begitu mudahnya kalian memaafkan bangsa yang telah menginjak-injak kalian berabad-abad lamanya.

Kisah aneh ini pula yang didapat oleh seorang pengelana Jepang yang kini telah menjadi guru besar di Osaka Butsuryo College, Jepang, Prof. Hisanori Kato atau sering disapa dengan Kato San. Profesor yang mungkin hari ini masih fasih berbahasa Indonesia ini pernah 10 tahun tinggal di Indonesia dan mengakui bahwa tanah air kita ini menjadi tanah air keduanya yang selalu ia rindukan. Keunikan dan keanehannnya lah yang membuatnya selalu rindu untuk mengunjungi tanah ini.

Di antara cerita yang ia dapat adalah bagaimana orang Indonesia melihat banyak hal yang sebenarnya masalah serius bagi kebanyakan orang Jepang seperti dirinya menjadi hal yang biasa-biasa saja alias tidak apa-apa. Saat ia tinggal di Jakarta, ia tidak habis pikir saat temannya yang mengajak janjian bertemu ternyata membatalkan secara sepihak, temannya cuma mengomentari, “ya sudah, tidak apa-apa”. Saat dia stress dengan bus yang datangnya terlambat, temannya juga bilang, “tidak apa-apa”. Dan bahkan internet yang putus nyambung, temannya bilang, “tidak apa-apa”. Padahal semua itu adalah apa-apa baginya dan awal-awalnya membuat frustasi.

Tetapi di kemudian hari dia menangkap bahwa dibalik hal-hal yang aneh itu sebenarnya ada filosifi indah yang tersimpan dibenak orang Indonesia tentang ajaran hidup. Sekiranya orang Indonesia berhasil memperbaiki sisi-sisi buruk dari “tidak apa-apa”nya itu tentu negeri ini akan bangkit menjadi bangsa yang besar seperti Jepang. Begitulah pikirnya.

Dia juga belajar tentang filosofi orang Indonesia yang santai untuk menanggapi suatu kejadian atau persiapan dengan “bagaimana nanti” bukan “nanti bagaimana” seperti cara berpikirnya di Jepang. Ini sebenarnya filosofi tentang kesiap-siagaan hidup yang hari ini sering disalahgunakan untuk alasan malas melakukan persiapan. Masih banyak lagi kisah-kisah yang dapat ditemukan di bukunya yang hanya setebal 131 halaman ini dengan judul KANGEN INDONESIA, INDONESIA DI MATA ORANG JEPANG.

Silahkah membacanya!

Kategori
Catatan Perjalanan

Perjalanan ke Semarang, Dari Masjid Agung Jateng Hingga Lawang Sewu

Ini adalah kisah yang terjadi pada bulan Ramadhan kemarin. Ceritanya berawal dari agenda pekananku bersama adik-adik yang ingin mencari suasana baru. Jadilah kami berencana menikmati suasana santai sambil liburan ke salah satu kota yang ada di Jawa Tengah, Semarang.

Bukan Rezeki Kami

Dengan bergaya ala backpacker aku dan tiga orang juniorku berkemas menaiki bus jurusan Semarang. Kami sengaja berangkat siang dengan harapan bisa sampai di salah satu tempat yang akan menjadi tempat bermalam sebelum adzan Maghrib. Itulah cara kami untuk penghematan karena mendapatkan jatah buka puasa.

Sesampainya di kota Semarang kami begitu tertegun alam menunggu bus trans-Semarang. Di halte yang begitu apa adanya kami dan beberapa penumpang tampak jenuh menunggu angkutan ala negara maju yang tak kunjung menyambangi kami. Ada di antara kami yang pura-pura buka ponsel, ada yang malah ngliling anak kecil yang digendong calon penumpang lain. Pokoknya kami pura-pura sibuk agar tidak disangka melamun.

Alhamdulillah, bus angkutan pun datang. Karena satu-satunya kami memastikan bahwa orang tua, wanita, dan anak-anak harus dapat tempat duduk. Sementara kami para anak-anak muda yang mengaku gagah (meskipun juga kelaparan) berdiri hingga entah berapa jauhnya nanti untuk mencapai Masjid Agung Jawa Tengah, masjid tujuan pertama kami.

Ternyata malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, kami terlambat datang ke sana dan waktu telah lewat adzan Maghrib. Harapan untuk mendapatkan makanan buka bersama pun menipis. Nasib kami harus jajan sendiri untuk mengisi perut di hari ini. Benarlah, begitu sampai setelah jalan lebih dari 1 kilometer dari halte terdekat, kami memang tidak mendapatkan jatah yang kami harapkan.

Tak perlu kecewa, beginilah cara belajar para backpacker pemula jika ingin bertahan. Kalaupun masih harus makan di warung, setidaknya kami sudah bulat tidak akan mencari penginapan atau hotel. Karena kami akan menginap di manapun di masjid yang bisa ditiduri, bergelut dengan nyamuk yang konon besar-besar. Kiriman dari kawasan sungai yang dekat dengan lokasi masjid terbesar se-Jawa Tengah itu.

Malam hari itu hampir aku tidak terlalu tertarik untuk mengamati soal masjidnya. Karena aku lebih menikmati suasana shalat yang diimami oleh para hufaz yang bacaanya begitu indah dan enak didengarkan. Kesempatan bermakmun di belakang imam yang bacaannya bagus dan fasih itu memang hal yang langka di Indonesia saat ini meskipun konon negeri ini adalah negara muslim terbesar di dunia.

Semarang

Matahari dan Pilar-Pilar Indah

Kami melewatkan tidur dengan kenikmatan masing-masing. Ada yang mengaku tidak bisa tidur lantaran tangannya asyik berkejar-kejaran dengan nyamuk yang mirip pesawat pengintai itu. Tapi aku sendiri tidak menganggap ada masalah karena selama tidur ya nyenyak-nyenyak saja hingga waktu sahur tiba. Lagi-lagi tidak ada jatah makan sahur bagi kami, kami harus jajan di warung sekitar masjid itu lagi.

Dan barulah usai shalat subuh kami menikmati keindahan yang mulai tersingkap dari bangunan raksasa yang memadukan berbagai arsitektur peradaban Islam itu. Begitu kentara bagaimana masjid ini memadukan gaya atap masjid di Indonesia, dengan kubah khas timur tengah. Belum lagi bagian depannya dipagari oleh pilar-pilar yang meniru gaya desain khas Cordoba, Spanyol.

Melihat pantulannya di atas lantai keramik yang berukuran besar-besar itu makin tampak keindahannya. Hanya satu yang tidak bisa kusaksikan saat itu, yakni empat payung raksasa yang berada di halaman depan Masjid Agung. Konon payung itu akan dibuka jika siang hari dan jamaah membeludak sampai halaman. Itu seperti atap portabel yang dapat difungsikan dan ditutup sesuai dengan kebutuhan.

Pagi hari itu kami pun menikmati foto-foto kehadiran sang mentari pagi yang kemudian diikuti kedatangan manusia berbondong-bondong ke masjid itu. Oh ternyata masjid ini lebih populer sebagai tempat wisata keluarga dan senang-senangnya para pemuda. Sangat disayangkan juga waktu kami mendapati lagi bulan puasa seperti ini aktivitas pacaran sejumlah anak muda juga masih kentara. Ada juga yang datang ke masjid dengan pakaian yang tidak semestinya. Wow, memang beginilah perilaku orang-orang Indonesia yang lagi belajar tentang kebebasan.

Lawang Sewu dan Perjalanan Nonsense

Usai berpuas diri di depan halaman masjid, kami pun mengucapkan selamat tinggal untuk bangunan megah di pinggiran kota Semarang itu. Kami kembali berjalan ke halte terdekat dengan tujuan pasti, Lawang Sewu dan Taman Tugu Muda. Seperti biasanya, kami sabar menunggu kehadiran sang bus Trans-Semarang.

Kami mungkin nekat traveler yang memilih momen puasa untuk jalan-jalan. Di tengah terik matahari kami justru duduk-duduk di tengah kota tugu muda. Lagi-lagi kami berfoto dengan latar bangunan Lawang Sewu. Dari beberapa adikku, ternyata ada yang baru pertama kali ke kota ini. What? Padahal mereka asli penduduk Jawa Tengah dibandingkan aku yang asal DIY. Memang inilah cerita khas orang-orang negeri ini. Kita harus mengakui bahwa untuk pergi ke Indonesia yang lainnya lebih mahal dari pada ke Malaysia dan Singapura bukan.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Lawang Sewu. Bangunan yang dulu merupakan titik balik sejarah perkeretaapian Indonesia. Entahlah, aku tidak terlalu tertarik membahasnya. Yang pasti aku menangkap kesan dari dokumen-dokumen yang dipajang di monumen tersebut seolah-olah bangsa ini harus berterima kasih kepada Belanda yang memberikan masyarakat ini fasilitas kereta api. Ini bukan kali pertamaku, karena sebelumnya aku sudah pernah berkunjung ke sini jadi aku lebih sebagai partner buat para juniorku saja.

Usai berpuas di Lawang Sewu, kami mulai memiliki ide konyol, naik Trans-Semarang dari ujung terminal timur ke barat. Mumpung tiket jauh dekatnya sama kami akhirnya sepakat. Satu kali perjalanan cuma habis Rp 3.500,- saja. Itu artinya untuk berangkat dari ujung ke ujung, kami hanya butuh Rp 7.000,- saja. Bagi sebagian orang mahal. Tapi bagiku sangat murah mengingat aku pernah naik transportasi Eropa yang begitu mahal.

Awalnya kami menikmati, lama-lama karena waktunya lama ternyata membosankan. Akhirnya salah satu kami segera tertidur pulas. Sebagian lainnya mulai sibuk dengan ponselnya. Dan akhirnya kami bersepakat untuk langsung pulang ke Solo setelah sampai di terminal paling barat, Mangkang. Dan inilah perjalanan nonsense itu.

Alhamdulillah, setelah melanjutkan tidur siang di bus Semarang-Solo. Kami telah kembali ke Solo dengan selamat.

Kategori
Resensi Buku

Ayah, Kenangan Sang Putra Untuk Buya Hamka

TAyaherima kasih Allah, kau berikan kepadaku Ayah dan Bunda yang selalu menyayangiku. Kira-kira itulah kesan yang terucap sesaat diriku menyelesaikan buku yang ditulis oleh Irfan Hamka, salah satu putra dari tokoh besar umat Islam Indonesia, HAMKA.

Nama HAMKA yang tak lain adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, adalah ulama, politisi, sekaligus seorang ayah yang sangat menginspirasi. Buku, Ayah …. yang ditulis oleh Irfan Hamka dan diterbitkan oleh Republika ini merupakan sebuah tuturan yang mengungkap kesan mendalam seorang ayah kepada ayahnya yang kini telah mangkat.

Tak hanya umat Islam, bahkan bangsa ini rindu akan lahirnya kembali sosok sekaliber buya Hamka. Bahkan pidatonya tak hanya didengar oleh kalangan umat Islam se tanah air, saja. Dialah salah satu pilar yang tegak menentang komunisme dan memperjuangkan hak-hak umat Islam yang kala itu terus berusaha disisihkan oleh komunisme dan kemudian oleh orde baru.

Tokoh yang pernah menulis novel romantis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah negarawan yang teruji dan patut diteladani. Kita patut mencontoh sikap beliau yang begitu mudah memaafkan kepada rival politiknya sekalipun. Dari tuturan Pak Irfan pula, kita akan melihat betapa negarawannya para generasi pendiri negeri ini meskipun secara ideologi dan politik mereka berseberangan satu sama lain.

Inilah kata-kata tiga tokoh nasional yang kita tahu ideologi dan mainstream politik mereka bersebarangan dengan HAMKA. Tetapi apa kata mereka, simaklah ini

Saya ingin bila wafat kelak, Hamka bersedia mengimami shalat jenazahku. [Ir. Soekarno]

Bila saya wafat, tolong Hamka bersedia menemani di saat-saat akhir hidupku dan ikut mengantar jenazahku ke kampung halamanku di Talawi. [Moh. Yamin]

Saya lebih mantap mengirim calon menantuku untuk di-Islam-kan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik. [Pramoedya Ananta Toer]

Saksikan betapa agungnya para pendahulu kita dalam memberikan penghormatan satu sama lainnya meski berseberangan secara pemikiran. Hamka pun menunaikan semua permintaan ketiga rivalnya itu dan ketika ditanya tentang ketiganya, maka Hamka menyatakan bahwa apa pun yang telah dilakukannya di masa lalu, maka ia telah memaafkannya.

Maka Hamka menepati janjinya jadi imam shalat jenazah presiden Soekarno, mengantar jenazah Moh. Yamin ke kampung halamannya, dan menjadi guru agama bagi calon menantu Pramoedya Ananta Toer. Sebuah pelajaran langka yang hari ini mungkin sulit sekali kita dapati dari kalangan tokoh nasional. Yang ada saat ini adalah mantan presiden pendendam, capres yang mencla-mencle, dan capres yang mutungan dan sulit move on. Maka membaca buku Ayah … ibarat oase yang membuka ruang kesadaran kita untuk menjadi orang Indonesia yang waras dan generasi muslim yang kokoh.

HAMKA kini telah wafat, dia ayah yang mengagumkan, sekaligus tokoh bangsa yang tidak tergantikan. Dia menjadi permata di masanya, menemani Mohammad Natsir memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam di negeri ini. Hingga akhirnya hari ini, umat Islam terus difitnah dan dihalangi untuk mendapatkan hak-haknya secara konstitusi dengan berbagai omong kosong media massa yang berkicau di atas kebodohan mayoritas bangsa Indonesia yang notabene adalah umat Islam.

Dan aku tidak akan mengatakan bahwa seandainya ayahku adalah Buya Hamka, justru aku akan mengucapkan rasa syukur dilahirkan dari kedua orang tuaku yang penyayang. Aku bukan putra Buya Hamka, tapi aku bersyukur bisa mempunyai orang tua yang membuatku kini bisa belajar dari sosok Buya Hamka. Terima kasih Allah.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca semua anak negeri yang rindu akan kebangkitan Indonesia, khususnya generasi umat Islam yang hari ini masih gemar berseteru satu sama lain.

Kategori
Resensi Buku

Jaddid Hayatak, Tak Hanya Sekedar Buku Motivasi

Kjadidontemplatif dan mendalam. Itulah kesan yang pertama kali tersemat dalam hatiku usai menyelesaikan bacaan karya Syaikh Muhammad al-Ghazali, ulama kontemporer yang mengajar di Universitas Al-Azhar. Karya (yang kubaca adalah yang versi terjemahan) setebal 453 halaman itu memberi kesan baru dari buku-buku motivasi yang pernah kubaca sejauh ini.

Syaih Al-Ghazali sangat indah dalam merangkai kata-katanya (termasuk penerjemahnya juga). Judul-judulnya terasa sangat aku banget dan memberi banyak jawaban atas perjalanan hidupnya yang masih terseok-seok hingga hari ini. Ya, hidup yang bermakna itu tak sekedar makan dan minum saja, tetapi adalah tentang mengenal hakikat kita sebagai makhluk Allah dan menjalani fitrah sebagai makhluk Allah.

Jika sebelum buku ini ditulis, Dale Carnegie telah menulis How to Stop Worrying and Start Living, Al-Ghazali menyusun rumusan buku motivasi yang jauh lebih mendalam tentang makna hidup. Beliau memang menulis Jaddid Hayatak (Perbarui Hidupmu) ini setelah dia menyelesaikan bacaan atas karya Dale Carnegie tersebut yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh rekannya yang juga menjadi dosen di Universitas paling terkemuka di dunia itu.

Mengapa kukatakan mendalam? Karena apa yang diungkapkan oleh Syaikh Al-Ghazali adalah hasil refleksinya yang mendalam tentang ayat-ayat Al-Quran dan khazanah peninggalan para generasi terbaik umat ini dalam menyikapi kehidupan. Jadi tidak sekedar sebuah bentuk kontemplasi biasa, tetapi merupakan penggalian nilai-nilai ilahiah yang sangat mendalam.

Sementara Dale Carnegie menulis buku itu hanya sebatas pengalaman hidupnya. Jika tulisan Dale saja mampu menginspirasi jutaan orang di Barat, tentu Jaddid Hayatak tak kalah penting untuk dibaca kalangan umat Islam yang hari ini telah memasuki fase kejumudan dan kefanatikan yang melampaui batas. Ini bukan buku fiqih, apalagi buku sirah, tetapi ini buku refleksi yang berguna untuk kita merenung dan berpikir sejenak untuk mengoreksi pola pikir kira yang mungkin sedang bermasalah karena terlalu banyaknya kontaminan dari luar yang merusak.

Buku ini menyeru semua umat Islam untuk kembali berpikir secara sehat, memadukan akal dan hati, memadukan ayat qauliyah dan ayat kauniyah-Nya untuk menghasilkan sebuah simpulan yang tepat dalam menghadapi problema hidup hari ini. Dalam beberapa paragraf terakhirnya, beliau menulis,

Umar berkata, “Islam akan lenyap sedikit demi sedikit jika ada orang Islam yang tidak mengetahui definisi jahiliyah“.

Dari sini, wajib bagi penggelut ilmu-ilmu keislaman untuk mempelajari kehidupan dan semua aspeknya, selain mengetahui bentuk-bentuk aktivitas manusia beserta tujuannya, jangka pendek maupun jangka panjang.

Kepicikan dalam melihat kenyataan yang sedang dan akan terjadi di dunia, dan merasa puas dengan hanya satu sisi pengetahuan, merupakan penghalang tebal untuk mengenal Islam dan mengambil faedah dari kekayaan tradisinya yang melimpah, baik dari sisi peradaban, pendidikan, fikih, maupun politik individu dan sosial. Dan, kajian-kajian komparatif, menurut saya, merupakan sarana tercepat untuk mencari kebenaran dan meraihnya.

Saya mengundang kaum intelektual-penulis muslim untuk untuk terus menelurkan karya-karya yang dihasilkannya dari pengamatan cermat atas berbagai disiplin ilmu dan filsafat, kemudian memadukan tradisi dan ajaran Islam ke dalam karya-karya mereka. Dengan perbandingan yang mudah, kita akan melihat betapa pentingnya berkontribusi pada dunia melalui Islam, serta membendung rintatang-rintangan yang menghalami manusia dari hasrat untuk menerima Islam.

Terakhir, saya ingin sampaikan kepada para ulama bahwa minimnya pengetahuan tentang pelbagai disiplin ilmu kehidupan merupakan kejahatan terkeji yang mungkin dilakukan para ulama terhadap Islam. Bila mereka berjalan di dunia ini tanpa sekali pun berupaya memahami ilmu-ilmu tersebut, niscaya mereka akan jauh tertinggal. Di sisi Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih tertinggal dan lebih pedih lagi hukuman yang akan mereka dapatkan. Diri kita, negeri kita, hidup kita, dan akhirat kita tengah berada di titik kritis. Karenanya, kita butuh pengetahuan dan cahaya sehingga kita bisa selamat dan menyelamatkan!

Itulah kata-kata penutup yang sangat kuat penekanannya. Beliau, sebagaimana kita tentu tidak ingin melihat agama yang kita junjung tinggi ini direndahkan tersebab oleh kita yang kehilangan makna dalam beragama dan tidak mampu menjadi penerus yang baik. Jika sudah demikian, mari kita khawatir, karena Allah akan menggantikan diri kita dengan kaum yang lebih baik, yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka.

Kategori
Catatan Perjalanan

Saat Negeri Jiran Sedekat Pandangan Mataku

“Kring….kring…kring …“, bunyi panggilan di ponselku tiba-tiba. Kulihat namanya yang sudah tidak asing bagiku, gurunda Indrawan Yepe.

“Assalamu’alaykum, ada apa Pak?“, sahutku dengan penasaran

„Alaykum salam, hei Dik, kamu mau ikut aku nggak?“, tiba-tiba suara dari seberang langsung to the point pada masalahnya.

“Ke mana Pak?”, tanyaku penasaran

“Ke Malaysia dan Singapura, ketemu temanku di sana,” sahut suara dari seberang itu

Hemm, aku berpikir sejenak. Ke luar negeri lagi ya. Wah pasti mahal ini tiketnya ke sana.

“Wah, mahal ga Pak tiket pesawatnya? Kalau mahal saya ga berani, tabungannya udah habis buat bayar uang semesteran ini,” sahutku dengan alasan

“Tenanglah, yang penting tiket pesawat terbeli, selebihnya kamu akan kuajari cara bepergian yang belum pernah kamu lakukan. Sekarang hubungi Purwanti untuk reservasi tiket, masih 600 ribuan AirAsia untuk pergi-pulang di awal Desember nanti. Udah dulu ya, aku harap kamu bisa ikut menemaniku,“ sahut suara di seberang meyakinkanku.

“600 ribu, boleh juga, wah kapan lagi kesempatan keluar negeri, udah kangen main lagi di akhir tahun,“ gumamku dalam hati sambil mengingat indahnya perjalananku ke Eropa pada akhir tahun sebelumnya.

Ini adalah ingatan perjalananku yang sangat spesial bersama salah satu mentorku yang sangat kusegani. Percakapan itu terjadi pada pertengahan bulan September 2013 kemarin sebelum aku menjelajahi kawasan Kalimantan Timur dalam sebuah misi sosial bersama Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Dalam kondisi keuangan yang pas-pasan, aku pertimbangkan lagi keinginan untuk jalan-jalan lagi kali ini. Traveling mendadak menjadi kesukaanku sejak memasuki dunia kampus. Secara tidak terduga banyak keajaiban yang Allah berikan untukku dalam perjalanan ini. Seumur-umur belum pernah melihat Jakarta, akhirnya ada kesempatan juga untuk melihat ibu kota itu. Yang lebih mengejutkan adalah kesempatan emas untuk mengunjungi Eropa pada akhir Desember 2012.

Sejak saat itu traveling seolah menjadi salah satu agenda wajib bagiku yang tidak hanya sekedar untuk rekreasi tetapi menjadi sebuah wahana belajar. Namun sebagai anak kampung yang lebih banyak mengandalkan rezeki tak terduga dari Yang Maha Kuasa terkadang ada rasa ketakutan dan kekhawatiran atas pilihan-pilihan nekat ini.

Bismillah, kubulatkan tekad untuk segera menghubungi Purwanti, agen tiket langganan gurunda Indrawan seperti yang disarankan. Alhamdulillah dapat tiket AirAsia yang cukup terjangkau untuk penerbangan Yogyakarta-Kuala Lumpur, hanya 600ribu untuk pergi-pulang. Inilah kegembiraan yang tidak terkira bagi anak kampung seperti aku.

Keberuntungan demi keberuntungan sedang Dia takdirkan untukku. Pada bulan Oktober ternyata aku mendapat panggilan untuk mengikuti kegiatan magang sosial di Kalimantan Timur dalam bidang pendidikan. Selain mendapat inspirasi tentang Indonesia, tentu saja ada tambahan uang saku yang lumayan untuk bekal perjalanan sepekan di Malaysia-Singapura nanti yang tentu tidak cukup hanya dengan satu lembar cepek.

Sampai akhirnya waktu yang dijanjikan itu tiba. Awal Desember, seolah kembali mengulang keberuntunganku di akhir tahun lalu tentang perjalanan ke Eropa yang sangat tak terduga itu, aku berangkat dari kotaku saat ini Surakarta mengendari Prameks hingga setasiun Maguwo.

Di situlah kali pertamaku berkenalan dengan AirAsia dan baru sekalinya menaiki pesawat yang membuatku punya cerita luar biasa. Inilah maskapai yang tidak hanya menjanjikan harga merakyat (bagiku) tetapi juga pelayanan yang tidak kalah dengan maskapai ekonomi lainnya.

Traveling Malaysia

Singkat cerita, perjalanan selama kurang lebih 5 hari di Malaysia-Singapura-Malaysia itu benar-benar padat inspirasi bagiku. Sampai-sampai aku mampu membuat catatan perjalanan yang cukup banyak di sini. Kisah tentang belajar fotografi bersama beliau sepanjang perjalanan, kisah bertemu dengan master tea San Chahua di Malaysia dan master tea Lee Che Keong di Singapura serta jamuan ramah mereka. Kisah tentang perjuangan mengejar waktu untuk mendapatkan momen terindah di Merlion. Keterperangahanku pada kota Putrajaya sembari merenungi nasib bangsa yang masih bergejolak sampai hari ini. Dan tentu saja adalah bagaimana aku belajar dengan penghematan tingkat tinggi sepanjang traveling gila tersebut. Semua menjadi kisah yang begitu lengkap dan padat dalam hari-hari itu.

Demikianlah sekelumit ceritaku bagaimana AirAsia telah mengantarku pergi-pulang ke negeri Jiran, tempat yang penuh inspirasi bersama orang yang sangat kusegani hingga saat ini. Aku berharap mendapatkan kesempatan kedua dan kesempatan yang lainnya untuk menikmati layanan maskapai ini. Yang lebih indah lagi adalah aku ingin memberikan hadiah ini untuk gurunda Indrawan Yepe agar aku bisa belajar lagi tentang perjalanan bersama beliau sekiranya kesempatan itu benar-benar terjadi untukku.

Dengan AirAsia, Negeri Jiran itu sedekat pandangan mataku kini. Terima kasih AirAsia.

Artikel ini diikutkan dalam kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia

Kategori
Refleksi

Menulis Lagi di Blog Ini

Hemmm, sekian lama aku tak membuat tulisan yang secara khusus kudedikasikan untuk blogku tersayang ini. Beberapa postingan terakhir hanya pindahan dari status-status panjangku di FB yang katanya mirip novel oleh teman-temanku sehingga katanya mereka juga malas baca.

Mengapa saya lama tidak menulis di blog? Yah karena saya sedang sok sibuk dengan berbagai aktivitas saya sebagai blogger, yakni ngisi blog orang lain. Mengapa mau? Karena dibayar dan saya lagi butuh pendanaan untuk perut dan yang lainnya. He he he. Selain itu, aktivitas saya menyusun skripsi membuat saya sepaneng saat mau nulis apa, dan akhirnya tidak jadi nulis apa-apa.

Singkat cerita, saya kembalikan mood saya untuk tetap menulis di blog ini meskipun di luar sana sedang ribut kampanye capres. Banyak orang yang sibuk berdiskusi siapa yang paling tepat untuk memimpin Indonesia, apakah Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK. Saya sih tidak terlalu ambil pusing soal itu, bahkan sudah bosan malahan lihat berita yang berjibun di dinding Facebook saya.

Sepertinya saya sudah tidak bisa lagi blogging setiap hari sekarang. Maka dari itu, tajuk blog ini tidak akan lagi menjadi catatan harian. Faktor lainnya, kesibukan saya tak lagi memungkinkan untuk banyak jalan-jalan. Saat ini harus banyak berkarya agar dapat menghasilkan produk yang bermanfaat dan tentu saya harus segera lulus kuliah. Karena ini sudah menjelang tahun ketujuh saya di kampus, sementara skripsi saya masih berjalan seperti siput.

Ah, cukup ini dulu saja saya menyapa sahabat sekalian yang masih setia membaca blog saya. Semoga Anda selalu dapat mengambil hikmah dari tulisan-tulisan saya yang berantakan ini. Maklum, ini blog gado-gado yang isinya tergantung suasana hati saya. Kalo mood bagus, tulisan saya mungkin rada enak dibaca, kalau sedang hancur, yah semoga Anda tetap mau membaca juga.

Terima kasih, salam hangat. Salam perubahan, bersama zonaperubahan.com

Kategori
Refleksi

Mari Menyalakan Harapan

Di antara pekerjaan mulia hari ini adalah “menyalakan harapan”. Dan harapan itu tidak dinyalakan dalam kata-kata motivasi saja, tetapi dengan tindakan nyata dan kisah inspirasi yang tertuang dalam hidup kita. 

Di perjalanan hidup kita, kita bisa mencari banyak pelajaran dari guru-guru kehidupan ini. Itulah inspirasi yang layak untuk kita bagikan dari pada mengorek-orek aib para politisi yang memang umumnya begitu.

Prabowo ataupun Jokowi, mereka tak lebih sebagai orang yang nanti akan mewakili Indonesia untuk pidato atau tanda tangan saja. Tapi ada ratusan juta rakyat hari ini yang harus diatur kembali agar tidak brutal saat nyetatus FB, komentar dan menumpahkan buah kepandaian mereka sakgeleme dewe. Termasuk mereka yang katanya pandai agama tapi sudah lupa soal ghibah dan fitnah, hingga saling menjelek-jelekkan satu sama lain, yang ujung-ujungnya menyulut provokasi yang lain juga untuk mendengki. Padahal dengki adalah penyakit yang lebih berbaya ketimbang busung lapar.

Memang ada baiknya rakyat Indonesia ini tidak perlu tahu berita politik. Biarlah mereka tetap bekerja di kantor, sawah, ladang, dengan segala perjuangan mereka itu. Jika hati mereka lapang mereka akan bersyukur dan berdoa untuk kedamaian negeri ini, untuk kebaikan para pemimpinnya. Barangkali doa-doa tulus mereka itulah yang masih mampu menjaga negeri yang rusak ini dari berbagai bencana.

Perubahan itu memang butuh pemimpin, tetapi perubahan itu adalah kerja kolektif. Sebelum banyak menghina orang lain, lihat diri sendiri dulu, wis pener urung. Karena sulitnya berubah negeri ini, karena memang yang memilih status quo lebih banyak ketimbang yang ingin berubah. Kalau semua orang cuma sarapan berita politik nanti benar-benar akan mengalami busung lapar, terutama lapar tawakal karena hari-harinya hanya cemas dalam kekhawatiran masa depan yang belum tentu jelas. Padahal sudah jelas-jelas kita diberi hari ini untuk bertindak dengan akal sehat.

Yuk kerja saja, bagikan kisah-kisah optimisme yang baik-baik dan sesuai konteksnya. Mari sedikit2 belajar menjadi bagian dari agen yang bisa menyampaikan mutiara-mutiara al-Quran dan Sunnah di tempat dan waktu yang tepat, seolah-olah di tiap masalah itu, wahyu kembali turun untuk menyapa kita sehingga kita tetap optimis melihat masa depan negeri ini. Katanya negeri ini milik Allah, mengapa cemas, mengapa terus mengumpati sistem yang ada, mengapa terus khawatir. Kalau tidak terima dengan sistem saat ini, pergi saja dari Indonesia. Kalau khawatir dan cemas dari dunia, pindah saja ke alam lain. Bikin ribet saja di bumi Allah ini.

Sumber: https://www.facebook.com/ardika.zaid/posts/10201884757671377

Kategori
Dakwah Islam

“Politik Islam” Di Benak Para Pemikir Utopis

Di antara yang terjebak dalam utopia politik Islam adalah menggelorakan hal-hal yang sifatnya puncak tetapi sejatinya kosong dalam membangun pondasinya. Mereka bilang ini itu soal kekuasaan membabi buta tanpa melihat konteks kehidupan yang sekarang. 

Bisa ditanyakan berapa referensi yg sudah dibaca tentang shirah dalam berbagai lintas sudut pandang yang dia baca sejak Ibrahim, hingga bani Israil berkuasa, lalu masa bangsa Arab sebelum kelahiran Rasulullah, konstelasi politik yang terjadi hingga masa Rasulullah berkuasa, lalu para khalifah rasyidah, lalu para raja dari Dinasti Umayyah, Dinasti Abasysyiah dan Dinasti Utsmaniyah apakah juga dicermati perubahan konstelasi politiknya.

Seringkali kita saat ini hanya melihat kejadian-kejadian itu secara parsial lalu membuat kesimpulan atas tema yang kita sukai saja. Dan secara tidak langsung inilah mengapa akhirnya perjuangan menegakkan syariat Islam terpecah-pecah menjadi banyak pergerakan yang parahnya saling mengejek satu sama lain. Kader-kader yang dididik di madrasah pergerakan itu cenderung berpikir dalam opini para guru-gurunya, tidak meluaskan wawasannya untuk menemukan permata peradaban yang agung ini.

Inilah tantangan yang sesungguhnya. Menggabungkan semangat untuk senantiasa belajar dan bersabar atas perbedaan yang masih terbuka lebar ini. Membuka ruang diskusi yang hangat dan menahan diri dari memaksakan kehendak saat menyuarakan kebenaran. Karena targetnya adalah menangnya kebenaran, bukan kerasnya suara kita yang menggaung-gaung untuk mendapat pujian.

Dan untuk mereka yang apatis pada politik, sudahlah abaikan saja karena memang tidak ada gunanya berurusan dengan mereka. Apalagi jika apatisme mereka itu ideologis, sia-sia saja mendebat yang seperti itu.

Facebook