Kategori
Catatan Perjalanan

Jakarta True Story #1

Amazing Moment

Jakarta menyambut kedatanganku dengan hujan deras pagi ini, ketika Kereta Ekonomi Senja Bengawan merapat di stasiun Pasarsenen, setelah semalaman ia bergerak terus dari kota Bengawan menuju kota tua ini. Hemm, beginilah suasana ibu kota ketika musim hujan tiba. Hujan deras menambah pemandangan ibukota negara ini semakin kumuh saja. Apalagi kabar banjir yang membuat diri ini makin khawatir saja. Ah, semoga semua baik-baik saja.

Setelah mengikuti saran dari teman di Youthcare aku segera meluncur ke markasnya untuk segera beristirahat.  Setelah berganti metromini dua kali (karena yang satu dioper) aku mencapai sebuah tempat di kawasan dekat pasar minggu. Ada sebuah masjid besar di seberang sana dan sebuah gang kecil yang ternyata itu adalah markasnya Youthcare yang hari Ahad besok akan menyelenggarakan sebuah acara besar. Begitu sampai di markas, aku langsung mendapat sambutan luar biasa dari Presiden-nya dan diikuti para panitia yang ternyata juga berdatangan dari luar daerah.

Baru beristirahat beberapa waktu, ternyata aku segera dipanggil untuk mandi dan ke masjid. Ada apa? Ada akad nikah katanya. Loh siapa? Ternyata Presiden Youthcare ama wakilnya hari ini akan melangsungkan akad nikah. Wow, ternyata hari ini spesial banget buatku. Dan tentu saja ini momentum yang keren dong bagi mereka berdua sebelum nanti berorasi di depan ratusan mahasiswa yang telah mendaftar di konferensi nasional hari Ahad.

Tersangkut Keberuntungan

Usai acara akad nikah, aku diajak oleh beberapa panitia bersama seorang ustadz untuk berkunjung ke rumah beliau. Wow, waktu itu aku hanya tahu bahwa sepertinya mereka dulu itu satu geng yang dibimbing oleh sang ustadz. Akhirnya dengan menaiki kendaraan sang ustadz yang menurutku cukup mewah, aku baru tahu bahwa ternyata teman-teman yang menjadi panitia ini dulunya adalah satu geng ngaji yang dibimbing oleh sang ustadz dan ceritanya hari ini adalah reunian.

Mereka berasal dari sumatera dan beberapa daerah di Jawa. Ada yang sudah bekerja di kapal pesiar, ada yang sudah bekerja di instansi pemerintah, dan beberapa tempat yang strategis. Wah ceritanya ini mau ngasih oleh-oleh kesuksesan bagi murabbi yang telah mendidik mereka sewaktu di kampus dahulu. Sebuah kampus negeri yang ada ikatan dinasnya. Beruntung banget aku hari ini dapat sharing pengalaman mereka dan dapat makan siang gratis dari teman yang baru pulang dari kapal pesiar. Konon, dia yang paling kaya saat ini sehingga makan mewah kami di Lele Lela bukan hal yang memberatkan baginya mentraktir.

Malam harinya, aku banyak mendapat cerita perjuangan para ranger Youthcare ini di samping juga membaca dokumentasi-dokumentasi yang terpajang di sini. Wah, ternyata perjalananku tidak sia-sia nih. Semoga hari berikutnya juga jauh lebih indah. Dan aku bersyukur tempat yang kutiduri malam ini nanti tidak tersentuh oleh banjir Jakarta yang membuatku miris.

Kategori
Catatan Perjalanan

Berdamai Lagi dengan Ibukota #1

Tadi malam adalah malam tahun baru, dan kali ini aku mendapatkan kesempatan langka untuk menghabiskan malam itu di Jakarta, ibukota negara kita. Bukan karena ngelengke untuk ke sana, tetapi kemarin aku baru saja sampai di tanah air setelah menempuh 14 jam perjalanan yang cukup membosankan (ternyata naik pesawat yang selama ini menjadi mimpi teman-temanku itu tidak selalunya enak, kelamaan ya akan bikin bosan), sehingga aku memutuskan untuk tinggal di sini semalam atau dua malam. Dan jadilah kisah permulaan tahun 2013 ini dengan judul “Berdamai Lagi dengan Ibukota”.

Movie

Ketika temenku dan tetangga-tetanggaku sudah pergi meninggalkan huniannya untuk ke kawasan HI yang katanya malam ini diadakan Jakarta Car Free Night Festival (jadi ingat dulu waktu Jokowi masih jadi walikota Solo menyelenggarakan Solo Car Free Night di sepanjang jalan Slamet Riyadi). Kali ini ternyata beliau adakan lagi di Jakarta dalam suasana yang lebih meriah dengan 16 panggung pertunjukan yang sangat bervariasi dan tentunya para pengunjungnya hanya boleh jalan kaki ketika memasuki kawasan ini. Yang kubayangkan bagaimana parkirannya nanti di sekitar kawasan itu jika ribuan orang bergerak memadati kawasan yang cukup luas dan memanjang ini.

Dalam benakku, aku nanti juga lihat kok di televisi. He he, maka niatan untuk langsung tidur kuurungkan. Akhirnya justru aku menyaksikan dua film terbaru yang keren diputar di salah satu televisi swasta. Yang pertama berjudul G. I. Joe, berikutnya berjudul SALT. Dua film yang berlatar sama tentang seputar dunia ketentaraan, yang pertama pada bidang tempurnya, yang kedua pada bidang intelegennya. Aku sangat tertarik dengan film ini, karena menggunakan permainan intelegensia tingkat tinggi. Hanya saja, memang di sinilah kekhasan film Hollywood, keinginan untuk membanggakan Amerika adalah tujuan utama di samping sajian konten film yang sangat bagus. Tak masalah, aku menikmati kepiawaian para pemainnya malam ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

Akhirnya Pulang Juga

Setelah mengudara selama 8 jam dan bagiku perjalanan ini cukup membosankan, akhirnya Air Bus yang bernama Etihad Airways mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selamat datang Indonesia. Selamat datang tanah airku tercinta. Betapapun nikmatnya negeri orang, rasa rindu untuk mencium tanahmu dan bersujud di sana tak akan pernah tergantikan. Dan sekali lagi rasa sendu ketika menyanyikan lagu tanah airku di mobil Prof. Tausch terkenang kembali di sini waktu kakiku kembali menjejakkan kaki di tanah ibu pertiwi.

Bertemu Kakak Kelas

Ketika aku berjalan melewati koridor menuju bagian imigrasi. Tiba-tiba ada seorang yang memperhatikanku. Mulanya hanya saling melempar senyum, kemudian orang yang aku juga pernah merasa kenal itu bergerak mendekatiku dan menyapaku. Yah, aku ingat, beliau adalah kakak tingkatku waktu SMA, hanya saja aku sudah lupa namanya.

Setelah saling berkenalan lagi akhirnya aku tahu siapa beliau. Namnya mas Triyogo, kakak tingkat angkatan 2006, yang dulu aktif di Patroli Keamanan Sekolah (yah jadi inget waktu dulu aku dirazia oleh beliau). Wah, sekarang udah kerja di airport terbesar di Indonesia ini ternyata. Wah selamat ya mas, atas capaianmu di sini. Senang sekali bisa bertemu dengan kakak kelas dari almamaterku dahulu, kawah candradimuka pertamaku yang telah mengantarkanku pada berbagai jenjang kebaikan hingga hari ini.

Panasnya Jakarta

Kesan pertama yang muncul setelah keluar dari ruang bandara adalah hawa panas. Yah, mungkin karena sudah mulai kerasan di Jerman yang saat ini sedang musim dingin, keluar dari ruangan bandara sekalipun melepas jaket ternyata gerahnya bukan main. Dan aku terus menyadarkan diriku bahwa inilah tanah air yang kurindukan itu. Inilah Indonesiaku. Akhirnya aku pulang kembali. (Alay deh)

Tanpa buang waktu lagi aku segera menyambangi penjualan tiket DAMRI bandara dan memesan tiket bus jurusan pasar minggu. Lagi-lagi ada sesuatu yang berbeda, kali ini aku mengeluarkan uang berwarna biru yang angkanya berjibun. Yah, ini rupiah, mata uang kebanggaan kita bukan. Ternyata berbeda sekali waktu dulu masih pegang euro, karena nolnya cuma dikit, dan bahkan banyak kenclengnya. Oh, aku jadi ingat dengan ketawanya Dr. Amitabh yang membuatku tersenyum kecut waktu beliau menanyakan nilai euro dalam rupiah. Hemm, lupakan dan aku akan menghabiskan waktu di Jakarta ini paling ga sampai besok pagi sebelum ke rumah.

Realistis

Meskipun ada tawaran untuk tinggal di rumah budhenya temenku yang waktu itu kami gunakan untuk transit saat keberangkatan, aku memutuskan untuk mengunjungi tetanggaku yang kerja di Jakarta ini, di salah satu kawasan yang bagiku akan terus membuatku belajar tentang realita Indonesia hari ini. Berbeda sekali dengan rumah budhenya temenku itu, apalagi dengan apartemen yang kutinggali waktu di Jerman, kontrakan atau rumah tinggal para sedulur desaku ini bisa dikatakan sangat sederhana untuk ukuran warga ibu kota. Aku mencoba memahami bagaimana kehidupan mereka dan bagaimana gagahnya mereka sanggup bertahan dalam lingkungan seperti itu. Aku malu sebagai orang Indonesia, lebih-lebih kaum terpelajar yang hari ini bahkan masih sesekali minta suntikan uang saku pada orang tua.

Dan aku memutuskan untuk bermalam di sana, merasakan kebersamaan di lingkungan kampung yang sangat padat penduduk. Mungkin akan semakin gerah memang, tetapi aku harus mengambil pilihan ini atau aku akan kehilangan jiwa yang telah besar bersamaku sejak kecil.

Dan ini adalah tanggal 31 Desember 2012, artinya nanti malam pukul 24:59:59 adalah detik terakhir dari tahun 2012. Sebuah momentum yang langka lagi tepat buatku untuk menghabiskan akhir tahun di ibukota.

Kategori
Catatan Perjalanan

Beginilah Jakarta

Usai sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, atau yang akrab disebut Soetta kami melanjutkan perjalanan ke sebuah daerah di dekat taman makam pahlawan Kalibata Jakarta. Tepatnya disebuah perumahan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pertanian. Di sana kami beristirahat semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke negeri seberang yang jauhnya bukan kepalang nantinya.

Di pagi harinya kami berjalan-jalan ke Sunmor dekat taman Kalibata untuk membeli beberapa bekal yang masih kurang agar nanti kami tidak kelabakan selama di Jerman. Ada sarung tangan, kaos kaki dan sebagainya. Kami berharap kami tidak harus mengeluarkan uang banyak lagi untuk memberi berbagai perbekalan di Jerman. Karena di samping mahal, toh juga bisa dibeli di sini dan pesawatnya juga mau mengangkut kok.

Dalam perjalanan itu aku melihat Jakarta telah semakin berubah. Jejak pembangunan yang terjadi kian kentara bagaimana kesenjangan sosial di ibukota ini akan semakin mengkhawatirkan jika para pemimpinnya tidak dapat menyiapkan rencana pembangunan yang memanusiakan para masyarakatnya. Ada bangunan yang terlewat megah, namun di seberangnya terlihat begitu memprihatinkan. Memang itu bukan urusan bagi keduanya karena sama-sama hasil kerja kerasnya. Tetapi ini tidak baik dipandang apalagi dijadikan identitas masyarakat kita.

Aku berharap di negeri yang katanya ekonominya masih paling kuat di Eropa itu dapat belajar bagaimana masyarakatnya hidup dan berperan dalam membangun negaranya. Aku sangat berharap dapat membawa pulang oleh-oleh cerita yang berharga agar Indonesiaku semakin indah.

Kategori
Special Moment

Kesabaran sang Bapak

Menjelang ashar, ketika aku sedang asyik mengetik di depan laptop di teras masjid Istiqlal. Tiba-tiba ada seorang bapak yang mendekatiku. Sempat curiga dan takut. Jangan jangan ….. jangan jangan ….. (sudah mulai su’udzan). Wajarlah, Jakarta berbagai modus operandi orang jahat terkumpul di kota ini. Maklum lah, di kota metropolis ini, semua bisa bernilai uang dan dapat diuangkan. Sempat gugup dan salah tingkah.

Ketika aku sudah menenangkan diri, akhirnya aku mulai memperhatikan sang Bapak yang tersenyum kepadaku. Dia kemudian menegurku karena sudah bersamaan waktu shalat ashar. Beliau bilang supaya segera berkemas dan shalat ashar. Aku mengangguk sambil membereskan laptop dengan rasa khawatir. Kutenangkan hati dan segerelah aku bergegas mengambil air wudhu dan cepat-cepat ke lantai utama. Tas kutitipkan di penjaga.

Usai shalat, aku kemudian duduk-duduk dulu di depan. Dan saat itu sang Bapak mendekatiku dan mengajakku berkenalan. Saat itu pikiranku mulai sehat kembali. Kusambut jabatan tangan sang Bapak , yang bernama Andi Nasution itu. Beliau mengingatkan aku agar tidak mengulangi hal yang membahayakan tadi. Mengeluarkan laptop di tengah keramaian. Karena akan menarik para tukang gendam. Beliau juga menjelaskan beberapa modus yang sering terjadi di kawasan ramai seperti Jakarta. Dalam hati aku mulai berbaik sangka, sang bapak ini memang orang baik insya Allah. Setelah berkenalan lebih lanjut kami sempatkan untuk berfoto di depan masjid Istiqlal, khusunya aku yang minta difotoin di sana. Ha ha ha narsis amat yak.

Kemudian kami berjalan ke Monas yang tak jauh dari masjid. Di saat itulah aku merasa

berdosa karena telah berprasangka buruk kepada sang Bapak karena kekhawatiran yang berlebihan. Beliau adalah lulusan S-2 Unpad bidang Manajemen Keuangan. Beliau ceritanya bingung karena habis kecopetan waktu di stasiun Gambir. Dompet, kartu kredit dan ATMnya raib ditangan pencopet yang dicurigai adalah berpura-pura sebagai seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya. Tidak ada kenalan, karena beliau orang medan yang baru tinggal 2 tahun di Bandung untuk S-2nya. Istrinya di medan dan anaknya kuliah di UGM dan Apelni Semarang. Duh, aku merasa lebih beruntung dari Bapak ini. Meski aku juga sebenarnya juga meringis waktu ke Jakarta ini dengan uang pinjaman semua, mulai dari uang kereta, uang makan hingga uang visa.

Sambil foto-foto di monas, kami berdiskusi tentang kemegahan bangunan yang menjadi kebanggaan bangsa. Dari situlah pembicaraan kami mengarah pada sisi politik di mana beliau kecewa berat sama Foke yang abai sehingga taman Monas yang dulunya hijau dan asri menjadi gersang karena tak diurus dengan baik. Kemudian kritikan-kritikan beliau yang lain cukup pedas tertuju kepada sang mantan Gubernur. Diskusi kemudian beralih kepada gubernur yang baru, Jokowi. Beliau memandang banyak terobosan positif yang semoga benar-benar sukses. Aku sesekali mengkonfirmasi apa yang telah Jokowi capai di Solo agar diskusi terasa berimbang.

Tak jauh dari tempat kami diskusi, ada pertunjukan keahlian pawang untuk menaklukkan ular sanca dan buaya putih. Ternyata ada juga pertunjukan sihir dari Banten, namun aku segera beralih. Pak Andi kemudian bercerita tentang pengalamannya di perkampungan Badui yang paling dalam. Aku dapat banyak cerita tentang mereka baik cerita yang mengagumkan maupun yang menyeramkan. Cerita ini yang mengasyikkanku hingga aku menyadari bahwa matahari hampir terbenam dan waktu telah senja.

Kulirik dompetku, ah itu uang pinjaman. Sama-sama butuh, kuambil sebagian untuk Pak Andi, semoga dengan sedikit uang ini beliau bisa melanjutkan perjalanan balik ke Bandung untuk mengambil buku tabungannya dan menyelesaikan urusannya. Aku tetap berprasangka bahwa beliau adalah orang yang baik. Siapa pun beliau, beliau berjasa memberikan banyak ilmu dan inspirasi sore ini. Dan beliau juga menjadi tamsil kesabaran bagiku, karena orang jauh yang tak punya kenalan di Jakarta tentunya adalah masalah berat. Namun beliau memberi teladan padaku agar selalu tenang dan optimis. Terima kasih Pak Andi atas kenalannya hari ini. Semoga kartu nama yang kuberikan dapat menjadi penghubung kita di kesempatan yang lain.

Kategori
Catatan Perjalanan

Berpacu Dengan Waktu : Perjuangan untuk Sebuah Visa di Kedubes Jerman

Seperti dengan cerita sebelumnya aku beristirahat di kontrakan teman yang juga kebetulan satu dusun. Teman bermain, teman mengaji, kakak dan sekaligus teman konyol di waktu masih di dusun dahulu. Alhamdulillah tadi malam bisa nginep dan banyak berdiskusi dengan beliau. Pagi ini atas kebaikannya aku diantar di halte dekat terminal Lebak Bulus untuk segera menuju Kedutaan Besar Jerman, mengajukan visa dan mewujudkan visi jalan-jalan ke Eropa, negeri yang konon sedang kejatuhan ekonomi namun masih juga menjadi trensetter dunia hari ini. Khususnya Jerman aku berharap kelak menemukan cerita indah, karena di sana pernah belajar seorang putra bangsa yang masyhur dan mendunia. Dialah Habibie, sang negarawan muda di era baru Indonesia yang mungkin telah terlupakan.

Tentang pengajuan visa ini, lagi-lagi kisah konyol harus ku alami. Ceritanya kemarin aku merasa santai waktu berangkat ke Jakarta. Karena katanya biaya visa sudah ditanggung oleh universitas. Artinya biaya itu akan dibayari univ lewat tangan mas Joko, kakak sekaligus bapak kami yang sabar mengurus berbagai administrasi dan SPJ ruwet. Tiba-tiba kemarin dia SMS, uang visa belum bisa cair hari ini, silahkan pake uang sendiri dulu nanti akan diganti. Haaa, aku ke Jakarta aja ngutang, apalagi bayar visa. Kesimpulanku adalah aku harus ngutang lagi sampai gajiku dan beasiswaku bulan ini turun lagi. Beberapa nama ku SMS dan kutanyai bisa dipinjam tidak uangnya. Akhirnya setelah hampir 6 orang yang kuhubungi ada yang bisa meminjamiku 800rb untuk biaya visa. Tenang….slamet.

Namun ternyata ketenangan di hari yang lalu itu harus terusik lagi dengan kemacetan hari ini. Meski aku sudah berangkat pukul 7 pagi, ternyata kemacetan Jakarta benar-benar tidak bisa diduga. Dan busway yang kutumpangi pun harus ikut kena macet karena banyak sabotase pengguna motor yang melewati jalur busway. Alamak, parah betul mereka. Aku kawatir kalau-kalau aku terlambat sampai kekedutaan besar Jerman. Aku berdebar namun tetap sabar. Ujian semalam cukup membuatku harus bersabar, tak perlu marah kok. Jakarta memang harus macet untuk saat-saat ini. Kalau sampai ga macet, bahaya, bisa kiamat nanti.

Setelah sampai di halte Tosari aku bertanya arah kekedutaan besar Jerman. Ternyata ketemu sambil lari-lari dan waktu sudah menunjukkan pukul 10. Artinya 45 menit lagi termin wawancara akan dimulai. Aku panik karena teman-temanku yang sudah sampai duluan tidak bisa dihubungi. Sesampai di depan gerbang aku diperiksa scurity. Waktu tanya ada ATM tidak di dalam, beliau menjawab tidak. Alamak, aku segera berlari melintasi depan kawasan gedung pencakar langit mencari kotak ajaib yang bernama ATM, mengambil uang pinjaman tadi malam yang baru saja ditransfer. Aku berlari agar jangan sampai telat. Alhamdulillah dapat, dan aku bisa masuk kedutaan. Saat pemeriksaan detil aku hampir dicurigai membawa barang-barang aneh, ternyata hanya kandungan besi di ikat pinggang saja. Alhamdulillah.

Kekonyolan tak berhenti di situ. Karena tadi terlalu capek dan terengah-engah, aku tidak mendengarkan arahan scurity. Salah masuk ruangan lagi. Untung aku segera bertanya para salah satu pengantri dan kemudian ditunjukkan tempat yang benar. Malu lagi. Sesampai ditempat pengajuan visa, teman-temanku sepertinya geram, namun bersyukur karena aku masih datang sebelum masa terminku. Dan setelah menyerahkan berkas-berkas yang ada akhirnya segala ujianku hari ini untuk mengajukan visa selesai. Jika tidak ada halangan dan permasalahan, maka visa dapat diambil Senin siang. Alhamdulillah. Lega rasanya.