Pagi tadi kami harus bangun lebih awal untuk bersiap berangkat menuju Dusseldorf Flughafen (Airport). Tidak seperti biasanya kami yang sering bermalas ria, pagi ini segera mandi dan berkemas-kemas. Ada apakah hari ini? Yah, ini hari terakhir berlakunya visa Schengen kami. Sehingga mau tidak mau kami harus meninggalkan negeri yang indah di Eropa ini dan pulang ke Indonesia. Setelah kami kemarin packing, disimpulkan bahwa kami harus mengangkut 7 koper dan satu bed tambahan yang kami gunakan untuk tidur selama di apartemen.

Tadi malam karena efek kopi yang dihidangkan oleh Prof. Liu kepadaku aku tidak bisa tidur, baru menjelang jam 3 pagi aku bisa tidur. Dan perlahan, jam 6 aku sudah dibangunkan untuk segera mandi dan bersiap berangkat. Kami mengumpulkan semua barang-barang yang akan kami bawa ke Flughafen di lantai bawah. Tanpa diduga, ternyata Prof. Liu telah memasang alarm agar sebelum jam 7 bisa bangun untuk bisa melihat kami berpamitan seperti yang beliau sampaikan tadi malam. Awalnya beliau dengan keramahannya tetap menunggui kami yang masih wira-wiri mengumpulkan koper di depan apartemen sampai akhirnya kami berpamitan.

Suasana masih pagi buta, kami berempat sempoyongan membawa 7 koper yang total beratnya mencapai 110 kg ditambah tas yang kami gendong masing-masing serta beberapa barang bawaan kecil-kecil. Tak disangka, tiba-tiba Prof. Liu masuk ke kamar untuk memakai jaket dan sepati kemudian segera berlari mengejar kami dan meraih 2 koper kami yang cukup berat. Dan tahukah? Beliau menemani perjalanan kami menuju halte yang melewati jalan bergelombang dan menurun lebih dari satu kilometer jauhnya, padahal saat itu masih subuh (karena di sini subuh jam 6.30 dan matahari terbit jam 8.30) dan dingin setelah hujan semalam. Beliau bersemangat sekali menemani perjalanan kami.

Oh, profesor yang berasal dari Xi’an University ini merelakan dirinya untuk turut mengangkati barang-barang yang akan kami bawa ke Indonesia. Bahkan di halte, beliau tetap membersamai kami hingga bus nomor 625 datang. Kalau mas Joko tidak bilang bahwa dosen kami akan menjemput di Wuppertal Hbf, pasti beliau akan ikut naik bersama kami lagi menuju Wuppertal Hbf.  Dalam hati aku sangat kagum dengan orang sebaik beliau. Masih muda, sudah profesor, tetapi sangat ramah kepada kami sejak kami datang kemudian mengenal beliau ketika sering bersama di bus waktu menuju kampus.

Aku yakin, hati-hati orang Timur itu tetaplah damai dan sikapnya penuh dengan keramahan. Suka membantu dan peduli pada yang lain. Di Eropa, kebanyakan orang cuek, meski tak semuanya. Dan aku katakan bahwa Prof. Tausch dan tim adalah orang-orang yang sangat ramah, bahkan keramahan mereka dalam melayani kami lebih dari ekspektasiku ketika akan berkunjung ke sana. Maka aku sangat percaya bahwa berbagai perseteruan antara bangsa hari ini, bahkan dengan negeri jiran Malaysia sekalipun sebenarnya karena gejolak individualisme yang semakin menjadi di antara kedua belah pihak.

Usai shalat Maghrib-Isya di bandara transit Internasional Abu Dhabi, aku bertemu dengan Bapak Abdul Manaf dari Kelantan, Malaysia. Aku suka dengan beliau dan kerendah-hatian beliau. Beliau bercerita tentang salah satu guru favoritnya yang mengajar ketika SMA dahulu yang berasal dari Indonesia (tahu kan dulu Malaysia banyak ngundang guru dari Indonesia). Saking amazingnya sang guru, beliau bahkan masih ingat nama lengkap sang guru. Beliau memuji kebaikan orang Indonesia dan kehebatan kita (apanya?). Ini hal kontradiktif ketika di tempat yang sama aku bertemu dengan orang Malaysia, remaja putri yang cuek dan angkuh ketika temannya dari Filipina justru akrab berdiskusi dengan kami.

Aku percaya, hati orang Timur itu tetap baik meski sekarang sedang dirundung ujian karena kecemburuan kemajuan. Jurang perbedaan pola pikir dan intelektualitas yang dikunci oleh egoisme membuat kita gelap mata untuk lebih banyak membuat orang tersinggung tidak pada tempatnya. Dan bahkan di penghujung tahun ini aku pun melihat bahwa orang-orang Barat pun hati mereka bisa sebaik orang timur (seperti dalam asumsiku ketika belum pernah datang ke Eropa). Maka keterpurukan bangsa Indonesia hari ini sebenarnya adalah karena mereka tidak malu lagi meninggalkan tradisi ketimuran mereka yang mulia dan mengganti dengan kerakusan atas nama kekuasaan. Yah, kekuasaan yang dilandasi sikap rakus dan mementingkan diri sendiri, sehingga jauh dari pengorbanan dan ketulusan, dan sangat dekat dengan penindasan dan eksploitasi sumber daya manusia.

Aku teringat pesan Prof. Tausch di makan malam pertama kali dengan beliau, Open your eyes, see the world overall. Tak heran jika Ibnu Batutah memiliki catatan perjalanan yang indah, karena beliau memang merasakan apa yang terjadi dari setiap rihlah panjang beliau. Intinya, belajar dan merasakan sendiri kemudian merefleksikannya dalam pandangan hidup dan diterjemahkan dalam perilaku. Terima kasih Allah telah kau pilihkan Eropa untukku.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.