Kategori
Resensi Buku

The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI

Membangun persatuan sebuah negeri butuh pengorbanan dan kesetiaan. Itulah hal mendasar yang dicontohkan oleh Toyotomi Hideyoshi. Orang jenius yang menjadi kebanggaan Jepang karena berhasil menyatukan negeri itu dari perang saudara yang berkepanjangan.

Kitami Masao menulis sebuah cerita yang menarik tentang perjalanan hidup Hideyoshi yang digelari sebagai The Swordless Samurai atau Samurai Tanpa Pedang. Mengapa dia digelari demikian? Karena Hideyoshi berhasil menyatukan seluruh Jepang dengan pendekatan diplomasi yang luar biasa untuk mendamaikan antar klan yang kala itu saling berperang hebat satu sama lain. Dia sendiri adalah pembantu Lord Nobunaga, pemimpin besar Klan Oda.

Kegigihan dan kesetiaannya dalam membersamai tuannya menjadikan dia dipercaya dan menanjak kariernya tahap demi tahap. Hal itu diikuti dengan kejeniusan dan visi besarnya untuk melihat sebuah negeri yang damai. Maka dari itu dia selalu menawarkan jalan damai ketika klannya sedang berurusan dengan klan yang lainnya.

Bahkan jika harus berperang pun, Hideyoshi menggunakan strategi yang jitu bagaimana membuat lawannya cepat menyerah, bukan membantai korban sebanyak-banyaknya. Perpaduan sifat inilah yang membuatnya sangat dipercaya oleh Nobunaga dan dia membuktikan dirinya sebagai sosok kunci dalam menyelamatkan Klan Oda saat Nobunada dibunuh oleh salah satu musuhnya.

Masao menulis cerita dengan sangat indah karena dia mencerikatan sejarah Hideyoshi ini dengan sudut pandang orang pertama. Kita seolah-olah sendang mendengar penuturan kisah Hideyoshi oleh dirinya sendiri bagaimana ia hidup dalam kesusahan. Lalu mengabdi kepada Klan Oda hingga akhirnya dia berhasil menjadi orang kepercayaan Kaisar untuk memerintah seluruh Jepang. Di puncak kariernya inilah, Hideyoshi mengalami ketergelinciran karena dimabuk oleh kekuasaan sehingga mulai menebarkan ancaman penjajahan yang akhirnya benar-benar direalisasikan oleh Jepang usai Restorasi Meiji beberapa abad kemudian.

Lebih jauh lagi silahkan baca sendiri kisahnya yang begitu apik ini. Selamat membaca!

Kategori
Resensi Buku

Islam di Mata Orang Jepang, Sebuah Petualangan Spiritual

Islam di Mata Orang JepangIndonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tetapi Islam di Indonesia memiliki fenomena yang sangat unik. Ada banyak warna yang terjadi di negeri ini. Di satu sisi itu adalah khazanah sejarah karena posisi Indonesia yang strategis di jalur pelayaran dunia dan mudah menerima perubahan, tapi sisi pahitnya adalah masih sering terjadinya konflik antar sesama orang Islam sendiri.

Ke-Islam-an orang Indonesia sendiri menarik banyak orang asing non-muslim untuk dipelajari meskipun di kalangan umat Islam sendiri justru memandang hal ini tidak terlalu menarik. Entah apa pun tujuannya, khazanah pergerakan Islam yang tumbuh subur di Indonesia membuat banyak peneliti asing membuat studi komparasi tentang Islam. Dahulu Snouck Hurgronje meneliti khazanah Islam di Indonesia untuk menyukseskan kolonialisme Belanda. Hari, mungkin yang begitu juga masih ada, tetapi ada juga yang meneliti karena memang benar-benar ingin belajar.

Alasan kedua itulah yang menurutku lebih mendasari perjalanan yang dilakukan oleh Prof. Hisanori Kato, salah satu peneliti Jepang yang bosan di Amerika Serikat lalu memilih berlabuh cukup lama di Indonesia. Sosok lelaki ramah yang kini menjadi guru besar di Osaka Butsuryo College. Saat dia di Indonesia, dia mencoba mewawancarai tokoh-tokoh Islam dari berbagai tipe pergerakan yang ia ketahui.

Dia temui Gus Dur, Fadli Zon, Abu Bakar Ba’asyir, Ulil Abshar Abdala, Ismail Yusanto dll. Memang Kato San tidak mewawancarai semua tokoh yang mewakili representasi umat Islam di Indonesia secara penuh, tetapi kita perlu belajar bagaimana mengenal perspektif dari aktivitas yang ia lakukan. Dia tidak serta merta percaya tuduhan tentang Ba’asyir sebagai teroris karena dia sendiri merasa dimuliakan sebagai tamu saat berkunjung ke Ponpes Ngruki sebelum akhirnya Ba’asyir ditangkap dan dipenjarakan di Nusakambangan.

Yang jelas ini adalah pandangan dari orang asing non muslim memandang warna Islam yang berkembang di tanah air kita. Tentu saja kita tidak selalu harus setuju dengan pernyataannya, tetapi sudahkah kita melakukan hal yang sama untuk melihat keragaman Islam di negeri kita dengan pandangan yang jernih, bukan sekedar katanya dia katanya mereka. Karena bagi kita penting melakukan ini agar kita benar-benar bisa mengerti dan menemukan cara menyatukan kaum muslimin yang masih terpecah belah. Di samping itu, kita juga mengerti alasan dari orang-orang yang selama ini kerap menebarkan kontroversi dengan harapan kita memiliki sikap yang tepat kepada mereka, bukan sekedar emosi.

Bagaimana pun, karakter masyarakat muslim di Indonesia itu sangat unik. Berbeda dengan gaya Timur Tengah, berbeda pula dengan muslim di Barat yang saat ini tengah tumbuh. Maka dari itu kita butuh wawasan yang sesuai dengan harapan tumbuh kebijaksanaan di negeri ini untuk menyikapi perbedaan yang ada, termasuk menangani tumbuhnya aliran-aliran sesat secara tepat. Persebaran Islam di negeri ini memiliki sejarahnya sendiri maka penting kita untuk mempelajarinya kembali, bukan sekedar ikut-ikutan dan mengambil rujukan teknis yang tidak tepat.

Kategori
Resensi Buku

Kangen Indonesia, Indonesia Di Mata Orang Jepang

Hisanori KatoMelihat Indonesia dari sudut pandang orang asing itu selalu tidak ada habisnya. Negeri ini terlalu menarik dan terlalu kaya untuk diberi justifikasi sebagai negeri yang seperti apa. Yang jelas negeri yang luasnya hampir setara dengan daratan eropa barat ini, cuma bedanya di sini diliputi perairan yang luas ternyata memberi kesan tersendiri bagi mereka yang datang dari negeri nun jauh.

Aku masih ingat bagaimana orang Turki geleng-geleng kepala melihat kita begitu mengelu-elukan kedatangan timnas Belanda yang melakukan lawatan ke Indonesia dan bertanding dengan timnas Garuda kita. Berbagai yel-yel hingga tulisan I LOVE NETHERLAND terpampang begitu jelas di deretan tribun Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kata orang-orang Turki itu, aneh sekali kalian, begitu mudahnya kalian memaafkan bangsa yang telah menginjak-injak kalian berabad-abad lamanya.

Kisah aneh ini pula yang didapat oleh seorang pengelana Jepang yang kini telah menjadi guru besar di Osaka Butsuryo College, Jepang, Prof. Hisanori Kato atau sering disapa dengan Kato San. Profesor yang mungkin hari ini masih fasih berbahasa Indonesia ini pernah 10 tahun tinggal di Indonesia dan mengakui bahwa tanah air kita ini menjadi tanah air keduanya yang selalu ia rindukan. Keunikan dan keanehannnya lah yang membuatnya selalu rindu untuk mengunjungi tanah ini.

Di antara cerita yang ia dapat adalah bagaimana orang Indonesia melihat banyak hal yang sebenarnya masalah serius bagi kebanyakan orang Jepang seperti dirinya menjadi hal yang biasa-biasa saja alias tidak apa-apa. Saat ia tinggal di Jakarta, ia tidak habis pikir saat temannya yang mengajak janjian bertemu ternyata membatalkan secara sepihak, temannya cuma mengomentari, “ya sudah, tidak apa-apa”. Saat dia stress dengan bus yang datangnya terlambat, temannya juga bilang, “tidak apa-apa”. Dan bahkan internet yang putus nyambung, temannya bilang, “tidak apa-apa”. Padahal semua itu adalah apa-apa baginya dan awal-awalnya membuat frustasi.

Tetapi di kemudian hari dia menangkap bahwa dibalik hal-hal yang aneh itu sebenarnya ada filosifi indah yang tersimpan dibenak orang Indonesia tentang ajaran hidup. Sekiranya orang Indonesia berhasil memperbaiki sisi-sisi buruk dari “tidak apa-apa”nya itu tentu negeri ini akan bangkit menjadi bangsa yang besar seperti Jepang. Begitulah pikirnya.

Dia juga belajar tentang filosofi orang Indonesia yang santai untuk menanggapi suatu kejadian atau persiapan dengan “bagaimana nanti” bukan “nanti bagaimana” seperti cara berpikirnya di Jepang. Ini sebenarnya filosofi tentang kesiap-siagaan hidup yang hari ini sering disalahgunakan untuk alasan malas melakukan persiapan. Masih banyak lagi kisah-kisah yang dapat ditemukan di bukunya yang hanya setebal 131 halaman ini dengan judul KANGEN INDONESIA, INDONESIA DI MATA ORANG JEPANG.

Silahkah membacanya!

Kategori
Resensi Buku

Ayah, Kenangan Sang Putra Untuk Buya Hamka

TAyaherima kasih Allah, kau berikan kepadaku Ayah dan Bunda yang selalu menyayangiku. Kira-kira itulah kesan yang terucap sesaat diriku menyelesaikan buku yang ditulis oleh Irfan Hamka, salah satu putra dari tokoh besar umat Islam Indonesia, HAMKA.

Nama HAMKA yang tak lain adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, adalah ulama, politisi, sekaligus seorang ayah yang sangat menginspirasi. Buku, Ayah …. yang ditulis oleh Irfan Hamka dan diterbitkan oleh Republika ini merupakan sebuah tuturan yang mengungkap kesan mendalam seorang ayah kepada ayahnya yang kini telah mangkat.

Tak hanya umat Islam, bahkan bangsa ini rindu akan lahirnya kembali sosok sekaliber buya Hamka. Bahkan pidatonya tak hanya didengar oleh kalangan umat Islam se tanah air, saja. Dialah salah satu pilar yang tegak menentang komunisme dan memperjuangkan hak-hak umat Islam yang kala itu terus berusaha disisihkan oleh komunisme dan kemudian oleh orde baru.

Tokoh yang pernah menulis novel romantis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah negarawan yang teruji dan patut diteladani. Kita patut mencontoh sikap beliau yang begitu mudah memaafkan kepada rival politiknya sekalipun. Dari tuturan Pak Irfan pula, kita akan melihat betapa negarawannya para generasi pendiri negeri ini meskipun secara ideologi dan politik mereka berseberangan satu sama lain.

Inilah kata-kata tiga tokoh nasional yang kita tahu ideologi dan mainstream politik mereka bersebarangan dengan HAMKA. Tetapi apa kata mereka, simaklah ini

Saya ingin bila wafat kelak, Hamka bersedia mengimami shalat jenazahku. [Ir. Soekarno]

Bila saya wafat, tolong Hamka bersedia menemani di saat-saat akhir hidupku dan ikut mengantar jenazahku ke kampung halamanku di Talawi. [Moh. Yamin]

Saya lebih mantap mengirim calon menantuku untuk di-Islam-kan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik. [Pramoedya Ananta Toer]

Saksikan betapa agungnya para pendahulu kita dalam memberikan penghormatan satu sama lainnya meski berseberangan secara pemikiran. Hamka pun menunaikan semua permintaan ketiga rivalnya itu dan ketika ditanya tentang ketiganya, maka Hamka menyatakan bahwa apa pun yang telah dilakukannya di masa lalu, maka ia telah memaafkannya.

Maka Hamka menepati janjinya jadi imam shalat jenazah presiden Soekarno, mengantar jenazah Moh. Yamin ke kampung halamannya, dan menjadi guru agama bagi calon menantu Pramoedya Ananta Toer. Sebuah pelajaran langka yang hari ini mungkin sulit sekali kita dapati dari kalangan tokoh nasional. Yang ada saat ini adalah mantan presiden pendendam, capres yang mencla-mencle, dan capres yang mutungan dan sulit move on. Maka membaca buku Ayah … ibarat oase yang membuka ruang kesadaran kita untuk menjadi orang Indonesia yang waras dan generasi muslim yang kokoh.

HAMKA kini telah wafat, dia ayah yang mengagumkan, sekaligus tokoh bangsa yang tidak tergantikan. Dia menjadi permata di masanya, menemani Mohammad Natsir memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam di negeri ini. Hingga akhirnya hari ini, umat Islam terus difitnah dan dihalangi untuk mendapatkan hak-haknya secara konstitusi dengan berbagai omong kosong media massa yang berkicau di atas kebodohan mayoritas bangsa Indonesia yang notabene adalah umat Islam.

Dan aku tidak akan mengatakan bahwa seandainya ayahku adalah Buya Hamka, justru aku akan mengucapkan rasa syukur dilahirkan dari kedua orang tuaku yang penyayang. Aku bukan putra Buya Hamka, tapi aku bersyukur bisa mempunyai orang tua yang membuatku kini bisa belajar dari sosok Buya Hamka. Terima kasih Allah.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca semua anak negeri yang rindu akan kebangkitan Indonesia, khususnya generasi umat Islam yang hari ini masih gemar berseteru satu sama lain.

Kategori
Resensi Buku

Jaddid Hayatak, Tak Hanya Sekedar Buku Motivasi

Kjadidontemplatif dan mendalam. Itulah kesan yang pertama kali tersemat dalam hatiku usai menyelesaikan bacaan karya Syaikh Muhammad al-Ghazali, ulama kontemporer yang mengajar di Universitas Al-Azhar. Karya (yang kubaca adalah yang versi terjemahan) setebal 453 halaman itu memberi kesan baru dari buku-buku motivasi yang pernah kubaca sejauh ini.

Syaih Al-Ghazali sangat indah dalam merangkai kata-katanya (termasuk penerjemahnya juga). Judul-judulnya terasa sangat aku banget dan memberi banyak jawaban atas perjalanan hidupnya yang masih terseok-seok hingga hari ini. Ya, hidup yang bermakna itu tak sekedar makan dan minum saja, tetapi adalah tentang mengenal hakikat kita sebagai makhluk Allah dan menjalani fitrah sebagai makhluk Allah.

Jika sebelum buku ini ditulis, Dale Carnegie telah menulis How to Stop Worrying and Start Living, Al-Ghazali menyusun rumusan buku motivasi yang jauh lebih mendalam tentang makna hidup. Beliau memang menulis Jaddid Hayatak (Perbarui Hidupmu) ini setelah dia menyelesaikan bacaan atas karya Dale Carnegie tersebut yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh rekannya yang juga menjadi dosen di Universitas paling terkemuka di dunia itu.

Mengapa kukatakan mendalam? Karena apa yang diungkapkan oleh Syaikh Al-Ghazali adalah hasil refleksinya yang mendalam tentang ayat-ayat Al-Quran dan khazanah peninggalan para generasi terbaik umat ini dalam menyikapi kehidupan. Jadi tidak sekedar sebuah bentuk kontemplasi biasa, tetapi merupakan penggalian nilai-nilai ilahiah yang sangat mendalam.

Sementara Dale Carnegie menulis buku itu hanya sebatas pengalaman hidupnya. Jika tulisan Dale saja mampu menginspirasi jutaan orang di Barat, tentu Jaddid Hayatak tak kalah penting untuk dibaca kalangan umat Islam yang hari ini telah memasuki fase kejumudan dan kefanatikan yang melampaui batas. Ini bukan buku fiqih, apalagi buku sirah, tetapi ini buku refleksi yang berguna untuk kita merenung dan berpikir sejenak untuk mengoreksi pola pikir kira yang mungkin sedang bermasalah karena terlalu banyaknya kontaminan dari luar yang merusak.

Buku ini menyeru semua umat Islam untuk kembali berpikir secara sehat, memadukan akal dan hati, memadukan ayat qauliyah dan ayat kauniyah-Nya untuk menghasilkan sebuah simpulan yang tepat dalam menghadapi problema hidup hari ini. Dalam beberapa paragraf terakhirnya, beliau menulis,

Umar berkata, “Islam akan lenyap sedikit demi sedikit jika ada orang Islam yang tidak mengetahui definisi jahiliyah“.

Dari sini, wajib bagi penggelut ilmu-ilmu keislaman untuk mempelajari kehidupan dan semua aspeknya, selain mengetahui bentuk-bentuk aktivitas manusia beserta tujuannya, jangka pendek maupun jangka panjang.

Kepicikan dalam melihat kenyataan yang sedang dan akan terjadi di dunia, dan merasa puas dengan hanya satu sisi pengetahuan, merupakan penghalang tebal untuk mengenal Islam dan mengambil faedah dari kekayaan tradisinya yang melimpah, baik dari sisi peradaban, pendidikan, fikih, maupun politik individu dan sosial. Dan, kajian-kajian komparatif, menurut saya, merupakan sarana tercepat untuk mencari kebenaran dan meraihnya.

Saya mengundang kaum intelektual-penulis muslim untuk untuk terus menelurkan karya-karya yang dihasilkannya dari pengamatan cermat atas berbagai disiplin ilmu dan filsafat, kemudian memadukan tradisi dan ajaran Islam ke dalam karya-karya mereka. Dengan perbandingan yang mudah, kita akan melihat betapa pentingnya berkontribusi pada dunia melalui Islam, serta membendung rintatang-rintangan yang menghalami manusia dari hasrat untuk menerima Islam.

Terakhir, saya ingin sampaikan kepada para ulama bahwa minimnya pengetahuan tentang pelbagai disiplin ilmu kehidupan merupakan kejahatan terkeji yang mungkin dilakukan para ulama terhadap Islam. Bila mereka berjalan di dunia ini tanpa sekali pun berupaya memahami ilmu-ilmu tersebut, niscaya mereka akan jauh tertinggal. Di sisi Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih tertinggal dan lebih pedih lagi hukuman yang akan mereka dapatkan. Diri kita, negeri kita, hidup kita, dan akhirat kita tengah berada di titik kritis. Karenanya, kita butuh pengetahuan dan cahaya sehingga kita bisa selamat dan menyelamatkan!

Itulah kata-kata penutup yang sangat kuat penekanannya. Beliau, sebagaimana kita tentu tidak ingin melihat agama yang kita junjung tinggi ini direndahkan tersebab oleh kita yang kehilangan makna dalam beragama dan tidak mampu menjadi penerus yang baik. Jika sudah demikian, mari kita khawatir, karena Allah akan menggantikan diri kita dengan kaum yang lebih baik, yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka.

Kategori
Resensi Buku

Melihat Sisi Lain Penaklukan Islam di Masa Awal #2

Salah satu tulisan sejarah yang membahas tentang sejarah Islam yang menurutku bagus adalah tulisan Hugh Kennedy, seorang profesor di bidang Kajian Asia Afrika Universitas London, Inggris. Karyanya yang setebal 500-an halaman ini adalah tulisan sejarah yang sangat serius. Dari bukunya tampak bagaimana Kennedy sangat tertarik untuk mengulas “keajaiban“ penaklukan Islam yang membentang dari Andalusia hingga lembah sungai Indus dalam waktu hanya sekitar 150 tahun dan akhirnya terus berlanjut dalam periode berikutnya meskipun tidak secepat kurun pertama itu dan dampaknya bertahan hingga kini.

Bagi seorang yang sekuler seperti dia, sulit membayangkan bagaimana bisa Saracen (pasukan Arab) yang hanya berprofesi sebagai penggembala bisa melakukan ekspansi dengan wilayah kekuasaan gabungan antara Romawi dan Persia dalam waktu secepat itu, sementara dua kekaisaran itu membutuhkan waktu berabad-abad lamanya untuk membangun kekuasaan itu. Kesimpulan-kesimpulan rasionalnya yang tetap berupaya menjadikan keajaiban itu biasa, dalam beberapa kesempatan pun hangus dan dia akhirnya mengakui bahwa pasukan Islam adalah pasukan terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Dia mencoba menyejajarkan kemampuan pasukan muslim dengan kemampuan para pasukan Alexander Agung ketika menguasai dunia.

Tulisan ilmiah sejarah ini menggunakan sumber referensi ratusan judul jumlahnya, baik sumber berbahasa Arab dari tulisan para sejarawan Islam, sejarawan Kristen, dan catatan-catatan para penulis sejarah modern sebelum dirinya. Selain itu, dirinya tidak tanggung-tanggung melakukan observasi dan rekonstruksi sejarah di situs-situs peninggalan yang masih tersisa. Menurutku, dalam kesimpulannya dia masih belum puas karena argumentasinya untuk merasionalkan kisah penaklukan yang “ajaib“ ini belum sempurna. Dia pun tetap bertekuk lutut bagaimana peristiwa penaklukan pertama pasca wafatnya Rasulullah itu adalah hal yang sangat menakjubkan dan membuktikan kehebatan para pasukan, terutama pemimpin dan para panglimanya.

Yang menarik dalam buku ini adalah salah satunya bab tentang “Suara Mereka yang Ditaklukkan“. Secara adil Kennedy memaparkan bahwa banyak pihak yang menentang penaklukan ini dan merasa sakit hati, yakni mereka klan penguasa yang dikalahkan dan para pemuka agama yang berpihak pada penguasa. Tetapi dirinya juga tidak kalah banyaknya menyebutkan bahwa penaklukan Islam ini adalah kebahagiaan bagi banyak penduduk di wilayah taklukan dan para pemuka agama yang cinta damai.

Mereka lebih suka membuat perjanjian damai dan membayar jizyah kepada pemerintah Islam daripada hidup lagi di bawah penindasan Romawi dan Persia yang oleh Ribi‘ bin Amir dikatakan sebagai bentuk penyembahan manusia kepada manusia. Maka di hadapan Rustam, sang panglima besar Persia dirinya sama sekali tidak ada ketakutan sedikitpun untuk mengatakan bahwa kehadiran pasukan muslim adalah untuk pembebasan bentuk penyembahan manusia kepada manusia menuju kesejajaran hidup dan hanya untuk menyembah Allah.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi Sahabat pecinta sejarah peradaban Islam. Tetapi sebelum membaca buku ini seharusnya Sahabat telah mengkhatamkan shirah nabawiyah, shirah khalifah rasyidah, dan para dinasti Islam yang berkuasa dalam catatan para sejarawan muslim. Karena buku ini adalah pembanding dan pelengkap wawasan di mana di buku ini tersaji lebih banyak detail tentang pemerintahan Islam yang seperti kita tahu, setelah khalifah rasyidah mungkin tak selalu ideal seperti potret negara Madinah di masa Rasulullah dan keempat khalifah terbaik umat Islam itu.

Namun, ketika semangat jihad dan kehormatan untuk membela agama Allah masih ada maka umat Islam diberi kemenangan. Islam menyebar ke penjuru dunia adalah keniscayaan. Maka Allah-lah yang akan memilih sendiri pasukan-pasukan terbaiknya. Maka dari itu jika saat ini umat Islam tercerai-berai, ini adalah saat untuk kita merenung dan menyadari bahwa kesalahan kita sendirilah sehingga kemenangan itu jauh dari pelupuk mata kita. Maka ketika kita menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya kelak semoga Allah memilih kita untuk menjadi barisan penakluk selanjutnya yang akan membangun kembali khilafah alaa minhajin nubuwwah.

Itu bukan isapan jempol, bukan juga omong kosong. Itu adalah nubuwat Rasulullah akan kemenangan kembali umat Islam di akhir zaman sebelum datangnya hari kiamat. Tidak mudah memang menjadi sosok muslim di zaman ini di mana terkadang sesama muslim masih sering saling menjatuhkan, kemudian kita hidup di bawah tekanan penguasa yang tidak berpihak kepada kaum muslimin serta penindasan ekonomi oleh kapitalisme. Tapi ketika kita memiliki kebanggaan akan sejarah yang agung itu, semoga Allah senantiasa memelihara kehormatan kita untuk tetap hidup sebagai seorang muslim yang kuat. Menjadi agen muslim yang baik di abad modern yang penuh fitnah dan keburukan ini.

Harapan itu masih ada. Tinggal kita beriman atau tidak tentang kemenangan yang dijanjikan itu. Jika sampai waktunya maka kemenangan itu akan terwujud. Maka PR setiap pribadi umat Islam adalah menyiapkan diri agar terpilih sebagai bagian dari sebab kemenangan itu, atau kelak akan tersingkir sebagai orang yang tidak mendapatkan apa-apa.

Kategori
Resensi Buku

Melihat Sisi Lain Penaklukan Islam di Masa Awal #1

Membaca sejarah Islam adalah hal yang sangat menarik bagiku. Sebagai generasi Islam di masa kini, menghadirkan imajinasi kebesaran para pendahulu masa lalu adalah penting di tengah kondisi umat yang tercerai berai dan dikungkung suasana inferioritas. Tak jarang kita jumpai banyak kaum muslimini yang tidak lagi menemukan kebanggaan dengan Islam yang dipeluknya. Sementara itu di sisi lain, kita dihadapkan pada wajah ekstrim dari sebagian kecil pemeluk Islam yang cenderung dijadikan musuh-musuh peradaban ini untuk mendiskreditkan Islam.

Jika kita membaca shirah nabawiyah, shahabat dan daulah Islam dari dinasti Umayyah hingga Turki Usmaniyah melalui catatan sejarawan muslim kita dapati catatan-catatan kebanggaan dan kemuliaan para pemimpin Islam. Para penakluk yang telah membawa cahaya Islam dari Madinah ke seluruh penjuru dunia ini telah tertorehkan namanya di tinta emas para ulama dan penulis sezaman mereka itu. Namanya terus disebut dalam khutbah Jumat di tempat-tempat baru yang mereka taklukkan dan juga dalam lisan kita kaum muslimin dalam doa.

Namun itu akan menjadi cibiran di kalangan orang yang hari ini berada dalam kebimbangan. Mereka yang mungkin ber-Islam secara lahir namun masih menjumpai keengganan dalam dirinya. Atau mereka yang tidak ber-Islam namun memiliki kenangan dan catatan buruk tentang Islam, tentu kisah indah para penulis sejarah Islam akan menjadi olok-olokan. Tak jarang mereka membuat tuduhan yang keji kepada umat Islam sebagai bangsa barbar yang cenderung merusak peradaban dan mengakibatkan kehancuran. Lalu bagaimana seharusnya kita?

Penaklukan oleh kaum muslimnin sejak Rasulullah berkuasa di Madinah adalah sebuah keniscayaan. Misi utama kaum muslimin menaklukkan dunia adalah untuk menyebarkan Islam sehingga dalam catatan sejarah 150 tahun pertama penaklukannya. Mereka selalu mendahulukan seruan dan ajakan sebelum akhirnya menundukkan penguasanya bagi yang membangkang atau menghina. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian akar-akar peradaban Islam mengakar kuat di jiwa masyarakat di 150 awal penaklukan pertama yang terhampar dari Andalusia -Afrika Barat hingga lembah sungai Indus.

Mereka yang semula adalah para penutur bahasa non-Arab dan sama sekali bukan penganut agama monoteistik akhir zaman itu akhirnya saat ini masih menjadi golongan penganut yang kuat meskipun dalam catatan sejarah akhir ini kondisi umat Islam dalam keadaan tercerai berai. Ini kondisi yang tidak biasa, karena secara logika jika penaklukan itu adalah penindasan, dalam teori sejarah tentu akan melahirkan sebuah perlawanan dan kebencian yang besar. Maka tuduhan bahwa penaklukan kaum muslimin adalah penaklukan barbar adalah hal yang tidak masuk akal sementara Romawi, Persia, atau bahkan Mongol yang juga pernah mencatatkan pengaruh kekuasaannya yang luas tidak menyisakan pengaruhnya dalam ingatan dan kebudayaan masyarakat yang ditaklukkannya.

Bagaimana kita mengetahui hal ini? Jika membaca catatan sejarah para sejarawan Islam tentu kita lebih fokus untuk mendalami ibrah dan menebalkan keimanan bahwa Allah senantiasa memberikan pertolongannya bagi orang-orang yang berjihad untuk agamanya. Namun di sisi lain, kita juga patut untuk membaca catatan-catatan para sejarawan Barat. Meskipun mereka mungkin membenci Islam, namun catatan-catatan mereka tetaplah menjadi isyarat yang jujur bagaimana kekuasaan Islam itu memiliki nilai lebih dibandingkan yang lainnya sehingga keberadaannya adalah ancaman serius baik dalam aspek politik maupun kepentingan peradaban.

Menyimak beberapa catatan sejarawan Barat tentu hanya akan berfaidah bagi kita ketika kita telah memahami dasar-dasar sejarah Islam dengan benar. Bagaimana pun catatan-catatan sejarawan Barat adalah produk dari pemikiran sekuler mereka dalam memandang dunia Islam. Namun demikian, banyak kita jumpai karya-karya mereka yang jujur dalam memaparkan bagaimana kemuliaan Islam diusung oleh para pasukan yang menyebarkan agama ini, sehingga argumentasi rasional mereka untuk mematahkan atau setidaknya mendistorsi fakta sesungguhnya dalam penyebaran Islam tersebut sering menemui kegagalan. Mereka menemui kegagalan dan harus mengakui bagaimana bahwa pasukan muslim adalah para pejuang terhebat dalam catatan sejarah yang pernah ada.

bersambung ….

Kategori
Resensi Buku

99 Cahaya Di Langit Eropa, Perspektif Jihad Agen Muslim Di Era Globalisasi

99 CahayaMendengar kata Eropa disebut, kenanganku langsung kembali ke bulan Desember di tahun 2012. Saat dimana aku yang hanya pemuda desa ini bisa terbang bersama Etihad Airways menuju sebuah kota di Jerman, Dusseldorf. Menikmati kehidupan Eropa asli di sana. Berpetualang ke kota-kota, hingga ke Paris dan Amsterdam di luar Jerman. Namun aku menyesalkan satu hal ketika itu, tidak membeli dan membaca catatan perjalanan Hanum dan Rangga, 99 Cahaya di Langit Eropa.

Akhirnya hari ini khatam juga buku yang mirip novel tetapi berisi kisah nyata itu. Buku yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais, putri tokoh reformasi Indonesia, Amien Rais itu bersama suaminya, Rangga Almahendra rupanya menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin berlibur ke Eropa. Kota Vienna Austria, Paris di Prancis, Granada dan Cordoba di Spanyol, serta Istanbul di Turki adalah kota yang dikunjungi oleh Hanum dan Rangga sekaligus dari keempat kota itulah dia mendapatkan kawan hebat yang memberikan penjelasan tentang jejak-jejak Islam yang masih bisa di kenal di benua Biru itu.

Tentu saja aku banyak menyetujui hal-hal yang ditulis oleh Hanum dan Rangga. Jika Sahabat pernah merasakan kehidupan yang cukup lama dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Eropa, kita akan merasakan suasana minoritas. Tidak pernah mendengar azan lagi berkumandang bersahutan seperti di negeri dan berbagai kenikmatan ber-Islam sebebas negeri ini. Dari rasa empati itulah kita akan tumbuh sikap terbaik untuk menjadi agen muslim yang mengedepankan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin.

Masyarakat Eropa bukanlah masyarakat yang sepenuhnya rusak dalam sistem. Gambarannya begini, mereka itu adalah masyarakat yang umumnya ramah, suka menolong dan tidak suka mengganggu urusan orang. Mereka sangat menghargai kebebasan berpendapat dan tidak segan-segan untuk menuntut saat kebebasannya terusik. Mereka terbiasa menaati peraturan baik diawasi ataupun tidak. Mereka juga terbiasa dengan sistem sosial dimana contoh di Jerman, seorang yang single gajinya dipotong 40 % untuk pajak dan uang solidaritas (saat ada pengangguran atau kondisi terburuk di industri), ketika sudah menikah dan punya anak porsi potongannya berkurang secara proporsional. Hanya, kebiasaan minum-minum dan bercinta layaknya hewan itulah yang membuat mereka rusak secara individu. Yang tidak begituan? Ya ada dan mungkin juga banyak jumlahnya.

Apa yang kurang? Mereka kurang mendapatkan cahaya iman. Bahkan kepercayaan lama mereka tak lagi menjadi jalan hidup. Jika di sini masjid sepi, sama di sana katedral sepi. Maka tak heran ketika sebagian mereka tersentuh dakwah Islam, mereka bisa ber-Islam dengan lebih antusias, bersemangat, dan lebih berkualitas dari kita yang menjadi muslim karena warisan orang tua. Maka ketika hidup di negeri yang seperti ini, kita bisa menampilkan diri kita benar-benar sebagai agen muslim yang baik.

Kisah yang ditulis oleh Hanum dan Rangga bisa menjadi contoh bagaimana mereka berdua dan beberapa rekan muslim berusaha menjadi agen muslim yang baik. Tak terkecuali Hanum yang awalnya tidak berjilbab akhirnya kini mulai menutup kepalanya. Bukan karena dibiarkan ayahandanya, Amien Rais tetap tidak berjilbab, karena Hanum sendiri mengakui dalam buku yang ia tulis tentang ayahnya bahwa Amien Rais selalu mengingatkan Hanum, namun tidak memaksa apalagi mengintimidasi.

Seringkali kita memandang gebyah uyah atau menggeneralisasi tentang orang yang berpaham liberal atau sekuler. Dalam kesaksian yang ditulis oleh Pak Yusuf Maulana dalam buku “Tong Kosong Indonesia Bunyinya“, nyata bahwa para pemikir Islam liberal di negeri ini sejatinya juga bukan liberal tulen, mereka agen yang butuh biaya hidup namun memilih mengorbankan agamanya. Mereka realistis berbuat itu karena tawaran uang. Nah, apalagi yang tidak berkaitan dengan itu, hanya karena pernah tinggal di negara barat dan punya pendapat dengan gaya khas intelektual barat lantas langsung dicap liberal tanpa dikaji dulu dengan cermat.

Di Indonesia, kebiasaan membaca yang rendah, kebiasaan berdiskusi yang tidak fair membuat kita mudah menjadi picik. Ujung-ujungnya ktia mudah menghabisi orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan. Ah sudahlah, aku tidak berselera dengan orang-orang yang seperti itu. Kalaupun bermualah, mending urusan bisnis atau yang lain ketimbang diskusi, karena sejak awal sudah tidak terbiasa fair, memaksakan diri, dan tak jarang mengumpati di kemudian hari.

Jika Sahabat belum membaca buku tersebut, saya rekomendasikan untuk membaca. Minimal sebagai touring khayalan ke Eropa sebelum suatu saat bisa datang ke sana betulan. Tapi tentu saja, ada tempat yang lebih menarik bagi kita setiap muslim, dan itu pun menjadi mimpiku, yakni dua tanah haram, Makkah dan Madinah. Semoga dalam waktu dekat ini aku bisa mewujudkannya.

Kategori
Resensi Buku

Republik #Jancukers, Negeri Khayalan Sederhana Ki Jiwo

Sujiwo TejoSatu lagi buku Ki Jiwo yang kubeli. Setelah ngakak-ngakak membaca LUPA ENDONESA, buku yang satu ini tak kalah ngakaknya. Sang Dalan Edan jebolan Matematika dan Teknik Sipil ITB ini memang khas dalam mengajak kita berpikir dengan cara yang unik atas permasalahan-permasalahan bangsa yang dirumitkan oleh esai. Sesekali bolehlah kita easy going untuk memandang persoalan tersebut dari perspektif lain. Dengan bonus CD original lagu-lagu jawa gubahannya sendiri yang hanya diiringi grand piano, nuansa saat membaca buku ini lebih nendang.

Republik #Jancukers ini lebih seperti kumpulan Twitter yang disatukan. Jika ia dipandang esai sangat susah dikatakan demikian. Bahasanya yang renyah dan mengocok perut lebih membuat kita tertawa lalu merenung, mungkin juga tersenyum kecut melihat khayalan Ki Jiwo yang keterlaluan, namun applicable ini.

Hal-hal sederhana mulai dari Jempol, Toilet, hingga permasalahan-permasalahan yang terkadang kita lupakan, dan tentu saja jarang sekali menjadi bahasan sidang para wakil rakyat di parlemen menjadi menarik didiskusikan di buku ini. Bukannya membesar-besarkan masalah, tetapi terkadang inilah akar masalah yang dilupakan sehingga masalah-masalah yang ruwet hari ini tak kunjung selesai.

Bagaimana pun, tak semua orang pasti setuju dengan buah perenungan Ki Jancuk tentang hal ini. Terlebih mungkin ada perbedaan ideologis yang membuat kita segera mengambil jarak seperti orang tiarap. Pada prinsipnya aku lebih menarik hal-hal yang sifatnya membantu pencerdasan pola pikir ketimbang gaya pluralism yang diusung beliau. Sebagai orang yang nyinyir dan skeptis terhadap tokoh yang membawa-bawa ajaran agama, ki Jiwo membuat bahan tertawaan untuk hal ini.

Tapi kita yang mungkin berbeda pandangan ini, tidak perlu marah, karena ini adalah koreksi bagi kita yang tidak dapat dipungkiri sebagian kecil kita mengalami sindrom kesombongan, serta kelalaian kolektif sehingga tak jarang kita tergelincir dalam jurang yang dalam sementara kita mengusung sebuah panji yang mulia. Jika telah jatuh, maka pembully-an atas kita memang jauh lebih dahsyat ketimbang mereka yang tidak. Jadi mari kita petik nasihat sekaligus sindiran tajam dari Dalang Edan ini untuk belajar introspeksi diri.

Kita diberi pilihan untuk menggonggong seperti anjing atau lekas bertindak seperti tim relawan bencana saat melihat hal menyakitkan terjadi. Negeri ini sedang kena musibah, Sahabat sepakat bukan? Tetapi kita bisa memandangnya sebagai ejekan sehingga kita membalas seperti anjing menggonggong atau kita memandangnya seperti bencana alam lantas kita bertindak secara efektif sebagai relawan. Mana yang Sahabat pilih? Terserah itu hak Sahabat dan saya tidak berhak memaksanya.

Atau jika tidak tahan, mari bermigrasi saja ke Republik #Jancukers, karena jangankan orang miskin dan anak-anak terlantar yang dipelihara negara, wong Jomblo saja akan dapat fasilitas part-timer. Di negeri khayal itu pula, Sahabat tidak perlu khawatir saat sakit atau istri melahirkan, karena mobil kepresidenan dan para pejabat akan mengalah demi mereka yang lebih membutuhkan. Benarkah? Oi bangun-bangun, sudah waktunya ke sekolah.

Kategori
Resensi Buku

Lupa Endonesa, Mendobrak Cara Berpikir, Menjadi AntiMainstream

lupa-endonesa1Nah, salah satu hasil memborong buku bulan ini adalah aku ingin mengoleksi tulisan Ki Jancouk, Sujiwo Tejo. Buku yang nyentrik itu berisi kumpulan dari Esai Wayang Durangpo di Jawa Pos secara berseri. Sampul belakangnya bertuliskan demikian,

Tak malu korupsi? Tak malu berperilaku buruk? Tak malu mencederai bangsa sendiri? Atau mungkin malu tak lagi menjadi tren?

Di buku ini, Sujiwo menulis hal-hal yang malu-malu, memalukan, atau tak memalukan tentang persoalan negeri ini. Juga cerita tentang orang-orang yang lupa akan bangsanya, Indonesia.

Dengaan bahasa yang terselubung dan melibatkan Ponokawan, Jiwo menyentil banyak pihak dengan sangat cerdas. Menohok, nyeleneh, tapi banyak benarnya. Pemikiran-pemikirannya akan membuat malu banyak pihak, terutama yang lupa bahwa dirinya adalah bangsa Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Tentu testimoni menurutku sesuai untuk menggambarkan buku ini. Aku diajak berpikir tentang sesuatu hal yang terjadi di sekitar kita ini dengan sudut pandang yang berbeda. Menertawakan untuk mendapatkan pencerahan, bukan umpatan. Menelisik lebih jauh untuk mendapatkan solusi, bukan memaki.

Aku terpingkal-pingkal dengan parodi tentang politisi yang menghiasi layar kaca diilustrasikan ki Jiwo lebih lucu ketimbang para pelawak sehingga para pelawak kehilangan mata pencaharian mereka karena masyarakat lebih tertarik melihat komedi politik itu. Hal itu membuat Ponokawan menginisiasi demo yang melibatkan pengangguran tersadar akibat komedi politik itu. Ribuan masa yang memadati depan gedung DPR/MPR bukannya mengajukan tuntutan wakil rakyatnya untuk mundur jika hanya jadi komedi justru berujung foto-foto bersama. Alasannya sederhana, karena wajah para wakil rakyatnya saat aslinya masih lebih lucu ketimbang saat di televisi.

Ini mungkin keterlaluan, tetapi sentilan ini menurutku sehat untuk membuat kita berpikir lebih jernih tentang orang-orang yang menjadi representasi politik di negeri ini. Siapa yang sesungguhnya bodoh, siapa yang sesungguhnya tidak waras. Jika kita hanya saling menyalahkan apa gunanya, toh itu sama-sama perilaku bodoh yang lebih baik kita tertawakan bersama. Buku yang terbagi dalam 7 chapter dengan judul masing-masing chapternya 4-5 ini cukup untuk menggugah dan membongkar pola pikir kita yang sudah terlalu formal karena kelamanan sekolah.

Ini bukan buku induk, tetapi lebih sekedar buku penunjang untuk mengasah sisi pemahaman filosofis kita agar menjadi lebih luas perspektifnya. Tidak mudah emosi apalagi bertindak anarki. Karena tindakan anarki yang sangat menyebalkan dewasa ini bukan berasal dari tangan dan kaki, melainkan dari lidah dan dua bibir yang dikendalikan oleh pikiran dengki dan sombong. Yuk kalem, tertawa, tetapi tetap berpikir apa yang terbaik.