Kategori
Catatan Perjalanan

Wuppertal, Keindahan Malammu Tak akan Terlupakan

Malam itu terasa berbeda dari biasanya. Sebuah Sabtu di Bulan Desember menjadi hari-hari yang amat kurindukan untuk mendapatkan suasana itu lagi. Di perjalanan pulang selepas bersilaturahim di Wohnheim-nya mas Ferdi dan mas Rizky sekaligus mengucapkan pamitan semoga bisa bersua lagi di kesempatan yang lain, aku terpana melihat kerlip lampu-lampu yang menghiasi kota Wuppertal di permulaan musim dingin. Aku sadar, esok adalah hari terakhir yang tertera di visa kunjunganku ke negeri tempat Habibie pernah belajar dan kini menjadi ilmuwan besar dunia.

 

Dalam perjalanan itu, aku perhatikan salju telah menghilang setelah dua pekan yang lalu bak tumpukan tanah menggunung dengan putihnya. Ini adalah jeda sesaat, karena setelah itu akan datang puncak musim dingin yang lebih dingin dan tebal saljunya. Suhu udara malam ini pun terasa lebih hangat seiring dengan badanku yang mulai terbiasa setelah sebulan berakrab dengan hari-hari yang dingin. Di Jerman, negeri yang kuakui ketangguhannya di Perang Dunia II di bawah ambisi besar sang panglima Fasis, Adolf Hitler.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada saat tertidur di tengah seminar skripsi kakak tingkat di kampus Pabelan. Saat itu ada SMS masuk dan memintaku segera ke kampus Kentingan. Katanya ada peluang kunjungan belajar ke Jerman. Dengan segera kupacu kuda besiku untuk menjawab rasa penasaranku itu. Benarlah, itu hari yang menentukan saat aku sendiri tidak punya persiapan apa-apa. Paspor pun tak punya, apa lagi uang saku, jelas tak ada. Tapi aku hanya berpikir, ini adalah kesempatan emas yang harus ku jawab iya setelah beberapa adik tingkatku perwakilan dari prodiku ditolak karena persyaratan yang tidak mereka sanggupi. Aku siap dan aku akan berangkat.

Memanglah semua adalah kehendak Allah yang maha mengatur takdir hamba-Nya. Aku hanya yakin bahwa jika ini baik bagiku, maka aku akan berangkat ke negeri impian itu. Ayah pernah bilang ketika aku kecil, “Nak, belajar yang rajin ya, biar pintar seperti Pak Habibie!“. Aku memang ingin ke negeri itu sejak ayah menceritakan siapa Habibie, dan kemudian kubaca jejak hidupnya, tapi tidak dalam waktu ini. Tapi rencana Allah lebih indah dan akhirnya kesempatan itu datang lebih cepat. Segala puji bagi-Mu ya Rabb.

Demikianlah, akhirnya dengan dukungan dari Fakultas selaku pelaksana program, dan ditunjang tangan-tangan tak terduga yang memang sepertinya telah siap untuk menghulurkan bantuannya, dan doa dari orang tua, maka perjalanan yang kemudian memberi pengaruh besar dalam hidupku ini terjadi. Sebulan aku berada di negeri yang sangat asing, yang bahasanya saja membuatku pusing ketika dipelajari saat SMA. Kini aku benar-benar telah ke sana, menginjakkan kaki untuk satu bulan lamanya dalam dinginnya salju di permulaan musim dingin.

Mimpi yang tersimpan dalam hati itu terjawab. Aku menikmati bagaimana sebulan menjadi mahasiswa di jurusan pendidikan kimia Bergische Universitat Wuppertal bersama Prof. Michael W. Tausch dan tim-nya. Aku belajar bagaimana Jerman mendidik generasinya untuk terus melanjutkan pembangunan negeri itu. Di sela-sela waktu akhir pekan, kota Dusseldorf, Muenster, Dortmund, Berlin, Aachen (tempat kenangan bagi Habibie ketika belajar) pun kami sambangi. Lagi-lagi ini bukan mimpi. Di pekan terakhir saat libur Weinachten (Natal), ambisi menjejakkan kaki di Kota Paris pun terwujud. Ternyata Menara Eiffel lebih kecil dari imajinasiku. Kemudian kota Amsterdam yang membuatku rindu melihat sepeda-sepeda kuno itu hadir lagi di tanah air ketika saat ini masyarakat kita justru bergaya dengan sepeda motor yang boros BBM.

Dan ingatan itu sempurna dalam refleksi perjalananku pulang menuju Gastehauss. Akan kurangkai perjalanan ini dalam cerita yang akan terus kubagikan kepada kawan-kawan yang ada di tanah air. Keindahan Eropa dan Wuppertal malam itu sesungguhnya refleksi bahwa Indonesia itu jauh lebih indah dibanding apa yang kulihat malam itu seandainya kita berhimpun untuk membangun dan mencintainya.

Sesampainya di Gastehauss, kunikmati malam perpisahan bersama satu tetangga kamar. Seorang Profesor yang sangat ramah dari negeri Tirai Bambu mengajak kami menikmati kopi dan menghabiskan malam terakhir, malam yang esoknya hingga seterusnya akan kuingat keramahan orang-orang Eropa yang kutemui dan semoga tetap kudapati setelah aku kembali. Hadiah yang kami berikan padanya, rupanya menjadikannya rela untuk bangun lebih awal dari biasanya demi mengucapkan selamat jalan untuk kami dan membantu membawakan koper kami yang terlalu banyak mengangkut coklat dan oleh-oleh.

Jerman, aku akhirnya bisa ke sana. Dan aku akan kembali lagi setelah aku selesai urusanku di sini! Semoga Allah meridhoi.

Diambil dari http://tellus.uns.ac.id/wuppertal-keindahan-malammu-tak-akan-terlupakan

Kisah selengkapnya tentang perjalananku ke Eropa di sini!

Kategori
Pendidikan

Segorogunung, Wuppertalku Versi Indonesia #2

Bukit Bintang yang Indah

Pagi itu, suasananya cerah. Meski sempat gerimis semalam ternyata tidak mengurangi cerahnya pagi ini. Yang pasti, dingin dong. Tapi dibandingkan dinginnya Wuppertal, dinginnya sini masih lebih enak karena seragamku yang mirip kepanduan itu masih tetap melekat tanpa harus ditambah jaket. Pagi ini kami akan rihlah ke bukit yang sering dipakai untuk paralayang. Kawasan yang kanan kirinya terdapat banyak lading sayuran dengan pemandangan lebatnya hutan Gunung Lawu di atasnya.

Setelah peserta disiapkan di lapangan seperti biasa, mereka digiring secara berkelompok menuju tempat itu. Meski pagi ini tidak dikasih tugas macam-macam, namun tetap saja naluri kami untuk membuat mereka melewati jalan terjal adalah hal yang terus muncul. Dan memang mereka harus melewati jalan yang naik dan penuh liku. Inilah outbond sesungguhnya, yang tidak sekedar formalitas tetapi sungguh-sungguh menguji mentalitas dan kualitas kepribadian mereka.

Setelah sampai di kawasan yang indah itu, aku sempatkan untuk berfoto dulu sebelum aku menjadi tukang foto untuk setiap atraksi yang terjadi. Aku suka dengan outbond yang diadakan oleh komunitas yang kuikuti ini. Mengapa? Karena dalam outbond ini mau guru atau siswa semua berbaur dan bergabung menjadi tim untuk saling mengalahkan satu sama lain. Para ustadz dan ustadzah harus menjadi teman setia para siswa yang sebagian mereka adalah murid-muridku di kelas sains tiap selasa. Ha ha. Intinya, kebersamaan ini sangat indah. Dibalut dalam indahnya pemandangan lereng lawu yang indah. Inilah Wuppertalku versi Indonesia. Aku tahu Wuppertal sangat indah, bahkan ketika musim dingin sekalipun, tetapi ini pasti lebih indah dan memesona. I love my country.

Tak cukup sampai di situ, ternyata untuk perjalanan pulang pun hal yang sama terus kami lakukan. Melewatkan mereka pada medan yang menantang. Tak peduli itu anak putra atau putri. Di sini aku menemukan hal yang mengagumkan, bahwa muslimah itu tak bermasalah meskipun melewati medan yang terjal. Yah sama sekali bukan masalah. Tinggal kemauannya saja dan keberaniannya saja. Tanpa perlu banyak protes.

The Real Fighter

Usai sarapan pagi, inilah perjuangan sesungguhnya yang akan mereka rasakan. Sebuah petualangan yang akan membuat mereka terkenang. Sebuah perjalanan yang akan menunjukkan keaslian sifat mereka saat ini. Siapa yang pejuang sejati, siapa yang hobi menjadi pengeluh saja, apalagi yang pengumpat. Semua akan terlihat jelas dalam perjalanan ini. Perjalanan menuju tempat yang juga akan menguji kelapangan hati siapa pun yang ke sana. Pasti!

Dimulai dengan semua mata ditutup hingga mereka berjalan mendaki, terseok, terjatuh karena jalanan yang licin, semua kami biarkan. Mereka terus merangsek maju, sambil sesekali terdengar teriakan jatuh, tapi ada juga yang terus bertakbir dan menyebut nama-nama Allah yang indah, meskipun terkadang terdengar juga di telinga sesekali umpatan dan berbagai sumpah serapah tak menyenangkan. Beginilah anak-anak, tetapi aku salut bahwa sebagian besar mereka adalah pejuang. Inilah yang dinantikan bangsa ini, para pejuang dan pembelajar sejati.

Kemanakah tujuan petualangan yang rumit lagi mengerikan ini. Ke sebuah goa yang juga sebenarnya jika dilihat dari sisi keindahannya tidak ada yang menarik. Hanya di sini akan terbukti siapa yang sejak awal memiliki kelapangan hati untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Ketika mata mereka terbuka mereka harus menyusuri jalan-jalan yang seolah mereka mustahil untuk melewati, tetapi tidak ada pilihan jika mereka tak melewati mereka tidak akan bisa pulang karena mereka tidak mengetahui awal mereka berangkat. Demikianlah petualangan itu, menantang, menguji dan mendewasakan.

Aku salut, karena di sinilah aku melihat “the real fighter“ bermunculan dan terus bertahan dalam himpitan. Namun demikian ada segelintir pengumpat dengan segala sumpah serapahnya yang sudah pasti membuat perjalanan mereka hari ini sia-sia. Capeknya udah jelas, tetapi makna diri mereka hilang dan mereka tidak mendapatkna inspirasi apa-apa. Aku salut ada salah satu ustadz yang mengambil tantangan untuk menutup mata selama perjalanan pulang dan ingin merasakan bagaimana menjadi seorang yang buta. Hasilnya, beliau sukses mencapai tempat pulang dengan sedikit arahan dari Pak Yepe. Ternyata menakjubkan sekali saudara-saudara kita yang penglihatan matanya diambil Allah, mereka ternyata memiliki kepekaan yang luar biasa. Benarlah seperti kata salah seorang tunanetra, Allah itu maha bertanggung jawab untuk mengurus hamba-Nya.

Last Moment

Usai bermandi ria di air terjun setelah petualangan yang seru tadi. Kini tibalah waktu permainan terakhir yang juga tidak kalah seru. Meski permainan ini dasarnya seperti permainan biasa, tapi bukan kami kalo tidak membuat modifikasi baru yang membuat tantangan berlipat ganda. Intinya kombinasi permainan bakiak dan pengambilan karet dalam tepung yang diberi rintangan zig zag dan lompat pasti sangat mengasyikkan sekaligus sedikit ”mengerikan“ untuk menutup rangkaian permainan outbond kali ini.

Dan pada saat penjangkaran ternyata semua peristiwa itu menjadi sebuah kenangan yang membuat kami banyak yang menangis. Meskipun murid-murid yang putra banyak yang senyum-senyum, namun banyak juga mereka yang bisa terharu dan menangis. Padahal ini training yang pembicaranya sama sekali tidak membuat renungan untuk menangis. Yah, kami menangis dalam haru dan kebersamaan, bukan kesedihan apalagi membayangkan orang tua atau saudara mati. Kami menangis untuk membangun impian kami di masa depan.

Dan inilah moment terakhir yang indah itu. Kami mengabadikan foto-foto kami. Gambaran kebersamaan yang luar biasa dan membangkitkan semangat berkarya untuk seterusnya. Terima kasih keluarga PINTU. Terima kasih Pak Indrawan atas inspirasinya.

Kategori
Catatan Perjalanan

Menggapai Mimpi : Spirit Ayah Membawaku ke Negeri Habibie Belajar

Mengunjungi tanah mancanegara merupakan sebuah mimpi tersendiri bagi sebagian orang. Demikian juga denganku, sejak kecil ayahku selalu menyemangatiku untuk giat belajar agar suatu saat nanti bias menjadi seperti Pak Habibie. Ternyata beberapa waktu lalu, Allah mengabulkan harapan ayah itu (dan tentunya harapanku) untuk mengunjungi tanah yang pernah menjadi tempat belajar B.J. Habibie salah satu putra terbaik bangsa di bidang teknologi. Tepatnya dari tanggal 03 – 30 Desember 2012 aku dan tiga teman lainnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Jerman melalui sebuah seleksi pertukaran mahasiswa, lebih tepatnya kunjungan belajar di Bergische Universitat Wuppertal di negara bagian Nord-Rhein Westfalen Jerman.

Dengan dukungan dari fakultas, Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa dan beberapa sponsor lainnya, perjalanan meraih salah satu mimpi ini akhirnya dapat terwujud. Selama 3 pekan kami menjalani kuliah bersama Prof. Tausch dan timnya di Jurusan Pendidikan Kimia dan berbagai aktivitas baru di kampus yang sangat berbeda dengan kebanyakan kampus di Indonesia. Kami banyak mendapat inspirasi baru selama mengikuti kuliah di kelas dan berbagai aktivitas di kampus, baik tentang komunikasi, dedikasi, dan pelayanan yang baik dalam pendidikan. Sebagai mahasiswa di kampus pendidikan, maka pengalaman ini adalah modal berharga bagi kami agar nanti ketika menjadi pendidik dapat menjalankan amanah ini dengan baik.

Selain itu kami memanfaatkan berbagai kesempatan di setiap akhir pekan dan liburan sepekan terakhir untuk memperkaya wawasan kami sekaligus menjejakkan diri di beberapa kota Jerman seperti Wuppertal, Dusseldorf, Dortmund, Muenster, Aachen, dan Berlin, kemudian di Kota Paris di Perancis, dan kota Amsterdam di Belanda. Kisah perjalanan ini membuatku teringat dengan berbagai kisah para pendahulu yang pernah menceritakan perjalanan mereka dalam buah karya, Edensor, Negeri 5 Menara, 99 Cahaya di Langit Eropa dll. Dan hari itu aku pun bersyukur bisa menjejakkan kaki di tanah-tanah yang katanya menjadi mimpi banyak orang. Namun demikian, kecintaan untuk Indonesia tak akan pernah tergantikan dengan teraturnya tatanan hidup di sana. Indonesia tetaplah negeri terindah yang ditakdirkan untuk kita semua.

Reposted from http://www.beastudiindonesia.net/beasiswa-prestasi/176-menggapai-mimpi–spirit-ayah-membawaku-ke-negeri-habibie-belajar 

Kategori
Memori

Kenangan tentang Gastehauss

Pertama kali kemarin sampai di kos (kamar takmir masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq) aku langsung terkejut. Wow, ditinggal sebulan kamarnya jadi kumuh gini. Ga dibersihin, ga dirapiin dan bahkan banyak debu berserakan di kasur. Padahal kamar ini dipakai dua orang. Hadew, temanku nih rajin banget make kamarnya.

Aku kemudian teringat dengan Gastehauss di Campus Freudenberg Bergische Universitat Wuppertal, tentang kenyamanannya, tentang kebersihannya dan tentang sebuah pola hidup yang sangat bagus di sana. Jadilah kali ini aku ingin cerita saja tentang tempat yang sangat berkesan itu.

Dan tetangga-tetangga kami sangat baik. Ada yang sering menanyakan kabar kami, ada yang sering memberi sesuatu. Hemm, aku masih ingat dengan keramahan Prof. Liu Linlin yang mengajak kami diskusi dan ngopi hingga semalaman, juga Wenyeu Dong yang murah senyum, Trabelzi yang misterius tapi sangat baik, Prof. Dr. Solodnikov yang royal tapi suka bercanda. Aku teringat juga ketika malam kedua kami di sana waktu makan malam bersama di apartemen besar (untuk yang putri) kami bercanda terlalu berlebihan hingga kemudian telepon berdering dari Mrs. Grossman (sang pengelola apartemen) meminta kami untuk diam.

Dan sekarang sepertinya sudah menjadi seperti Gastehauss baruku di Indonesia. He he. Kamar kos kotor, ga lagi deh. Terima kasih Jerman, atas inspirasimu. Budayakan hidup bersih.

Kategori
Catatan Perjalanan

Aku dan Kereta Gantung Wuppertal

Hampir sebulan aku tinggal di kota Wuppertal, salah satu kota kecil yang dikelilingi bukit-bukit di kawasan negara bagian NRW (Nord-Rhein Westfalen), Jerman. Kota ini sangat berbeda dengan kota yang lain. Mengapa? Karena kota ini memiliki satu jenis transportasi umum yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di Jerman, yaitu kereta gantung. Ketika dulu sebelum berangkat aku sempat googling agar tahu dulu seluk beluk kota ini. Kukira kereta gantung ini hanyalah kereta wisata yang dioperasikan pada saat-saat tertentu saja, ternyata ini adalah transportasi publik yang beroperasi selama 24 jam. Silahkan lihat sejenak videonya.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=L32K-K4AUz0]

Moda transportasi ini membentang dari kawasan Oberbarme hingga Vohwinkel. Tentang sejarahnya, aku ambilkan dari tulisan tetangga saja ya.

Kalau beberapa negara memiliki kereta bawah tanah, sedangkan Jerman memiliki kereta gantung. Kereta gantung ini bukanlah yang digunakan untuk bermain ski ataupun untuk berekreasi, melainkan salah satu alat transportasi di Jerman. Kereta gantung ini dinamakan Wuppertal Schwebebahn atau Wuppertal Floating Tram.

Kereta ini terletak di kota Wuppertal, Jerman, sebuah kota yang makmur dan besar dibandingkan kota Cologne atau Koln dalam bahasa Jermannya. Pembangunan kereta Wuppertal Schwebebahn berawal pada 1898 dan bertahan melewati masa Perang Dunia II, hingga saat ini. Ternyata, kereta gantung Wuppertal Schwebebahn bukanlah kereta yang baru dibuat oleh negara yang terkenal dengan kemajuan industri dan teknologinya ini.

Kereta ini menggunakan konsep monorail atau kereta yang berjalan dengan menggunakan rel tunggal. Transportasi yang menggelantung ini menjadi ciri khas kota Wuppertal, sekaligus menjadi transportasi termudah dan tercepat untuk berkeliling kota-kota sekitar. Alasan dibuatnya kereta gantung ini disebabkan oleh konstruksi bawah tanah yang berbatu-batu dan memiliki banyak kandungan air tanah. Hal ini tidak memungkinkan dilaksanakannya pembangunan kereta bawah tanah. Akhirnya, para ahli teknik Jerman mengalihkannya menjadi pembangunan kereta gantung.

Sebagian besar jalur kereta ini dibangun melewati atas sungai Wupper dengan ketinggian 12 meter dan beberapa jalur lainnya melewati jalan raya kota tersebut dengan ketinggian 3 meter. Sejak pertama kali kereta gantung ini dibuka untuk publik pada 1901, jumlah penumpangnya mencapai 400.000 orang dan terus bertambah.

Kecelakaan fatal pernah terjadi pada April 1999, setelah kereta gantung ini resmi beroperasi selama 98 tahun. Ini menjadi kecelakaan terparah yang menewaskan 5 orang penumpangnya dan 49 orang luka-luka. Itulah Jerman dengan kemajuan yang pesat pada dunia industri dan teknologi yang diakui dunia hingga saat ini. Kereta gantung Wuppertaler Schwebebahn menjadi bukti nyata bahwa Jerman sudah menjadi negara yang sadar teknologi pada dunia industrinya sejak zaman dahulu kala.

(dikutip dengan perubahan dari http://ciricara.com/2012/06/30/kereta-gantung-wuppertal-schwebebahn-di-jerman-foto/ )

Sore ini, impianku untuk menaiki kereta gantung dari ujung ke ujung dalam satu putaran akhirnya terpenuhi sudah. Lega rasanya dapat merasakan ikon terbaik yang dimiliki kota ini. Dan ini adalah kenangan terakhirku yang spektakuler tentang Jerman sekaligus mungkin sebagai akhir penggunaan tiket transportasi bulananku. Karena besok dan hari Ahad, ketika aku aku akan ke bandara, tiket itu sudah tidak kugunakan lagi. Yang hari Sabtu besok, aku akan packing untuk pulang, sedangkan hari Ahadnya, tiket berlaku mulai jam 9, padahal kami harus ke Dusseldorf sebelum jam 8.

Sekian kisah kenangan indah hari ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

Makan di Restoran Asia dan Gojekan dengan Mbah Kakung

Sedianya agenda sore ini adalah touring ke Dusseldorf bersama Dr. Simone. Namun Prof. Tausch menghendaki kami untuk makan bersama terakhir sebelum perpisahan setelah ujian besok pagi. Akhirnya kami diajak oleh beliau ke salah satu restoran Asia di City Arkaden, Mr. Pung namanya. Dengan mobil BMW-nya yang keren, kami diajak ke mall terbesar di Kota Wuppertal itu. Kebetulan parkir mobilnya berada di lantai paling atas mall tersebut, sehingga ketika kami keluar dari mobil kami dapat melihat keindahan kota Wuppertal yang di kelilingi oleh perbukitan. Dan benar-benar indah kota ini ketika malam hari. Benarlah kata Rene, bangunan di sini itu biasa-biasa saja, tetapi mereka detail dalam mengatur pencahayaan sehingga terlihat sangat indah ketika malam hari.

Usai menikmati pemandangan kota Wuppertal dan Universitasnya yang sangat indah, kami segera bergegas masuk ke dalam untuk mencari tempat Mr. Pung berada. Akhirnya ketemu dan di sana kami segera memesan makanan. Wow, ternyata ada menu Nasi Goreng, Bami Goreng (harusnya Bakmi Goreng). Keren banget dah. Akhirnya aku memesan nasi goreng. Ternyata porsi makanan di sini dua kali lipat porsi orang Indonesia. Pantas saja harganya menembus angka 6 euro, alias 75ribuan. Prof. Tausch juga ikut memesan bami goreng. Wah wah, enak sekali makan malam hari ini, seperti ketika di restoran Asia Cologne. Meski akhirnya beberapa kami menyerah karena perutnya tidak muat, alhamdulillah aku berhasil menghabiskan jatahku untuk menghormati Prof. Tausch yang telah mentraktir kami malam ini.

Usai mengisi perut, kami membeli beberapa kue dan menuju flat Prof. Tausch untuk berdiskusi sambil menghabiskan malam terakhir bersama beliau. Karena jadwal esok hari adalah kuliah bersama Dr. Anne dan ujian akhir kegiatan perkuliahan kami selama tiga pekan ini. Tak lama berselang setelah kami berada di flat Prof. Tausch yang cukup mewah, datanglah Dr. Simone membawa hadiah untuk kami. (Oh ya lupa, sebelum ini kami telah bagi-bagi hadiah berupa cindera mata dan kaos yang sengaja kami beli dari Indonesia kepada orang-orang yang telah berjasa membersamai kami selama di Jerman ini). Permen dan coklat yang dikemas cantik dalam wadah heksagonal. Keren banget, dankeschon Dr. Simone.

Di malam hari yang tenang ini, kami berdiskusi dan bercanda ria sambil menikmati hangatnya teh manis. Kalau Prof. Tausch dan Dr. Simone minum bir dong. Ternyata malam ini adalah pemutaran berita tentang  Christmas Lecture yang telah dilakukan hari Selasa lalu. Wow, amazing banget, kami bisa masuk televisi Jerman. Meskipun hanya sebagai peserta kuliah, tetapi ini adalah sebuah kesempatan langka di mana kami datang ke sini di bulan Desember ketika banyak orang saling memberikan hadiah, dan ternyata juga ada atraksi-atraksi menarik yang ternyata sangat ilmiah. Dan malam ini pula kami mengetahui rahasia bahwa ternyata bir yang diminum oleh Prof. Tausch bersama mahasiswa itu bukan bir yang beliau buat dari percobaan. Itu sebuah intrik yang beliau lakukan bersama Ingrid, dengan cara mengalihkan perhatian peserta dalam lampu yang dimatikan karena bersamaan dengan eksperimen fosforsensi, Ingrid mengganti gelas yang tadi dengan gelas yang berisi bir beneran. Wah, ternyata …..

Ketika kami tanyakan bahan-bahan apa yang digunakan di sana sehingga berbusa. Ternyata, semua hanya menggunakan deterjen agar setiap reaksi yang terjadi dapat terlihat busanya. Yah, ternyata lagi. Hemm, kuliah seperti ini menarik ternyata. Wah, rasanya aku perlu menggali berbagai kearifan lokal di Indonesia nih seusai dari Jerman ini. Kemudian mengemasnya sebagai atraksi dalam pembelajaran sehingga sangat menarik untuk dilakukan. Wah, ternyata inspiratif banget diskusi malam ini.

Kemudian juga diskusi tentang pernikahan dalam Islam. Mereka bertanya kepada kami tentang bolehnya seorang pria menikahi empat wanita. Awalnya mereka bilang itu sangat tidak masuk akal dan gila. Akhirnya pelan-pelan kami mencoba menjelaskan duduk perkaranya dengan penjelasan yang lebih rasional bahwa meskipun itu diperbolehkan, ada syarat-syarat yang harus dapat dipenuhi sebelum sang laki-laki menikah lagi. Akhirnya mereka mengerti dan memberi feedback masing-masing dari keyakinan mereka. Ternyata antara Prof. Tausch dan Dr. Simone memiliki keyakinan berbeda meskipun sama-sama Nasrani. Yah, malam ini jadi hangat dengan suasana toleransi yang terbangun.

Di samping itu, malam ini ada kabar duka dengan meninggalnya salah satu politisi akibat serangan jantung. Ternyata kabar ini menggiring kami pada diskusi tentang rokok. Jadilah diskusi menarik tentang ketidaksukaan Dr. Simone setiap kali melihat orang merokok. Beliau langsung tidak doyan makan setiap kali melihat orang merokok. Demikian pula Prof. Tausch, mbah kakung yang kocak ini menyebut para perokok sebagai orang gila yang lupa ama dirinya sendiri. Saking semangatnya cerita kadang-kadang beliau berteriak karena juga pengaruh alkohol yang mulai menghangatkan badannya. Di jerman pajak rokok sangat tinggi, tetapi seperti halnya di Indonesia, aku sekarang sering sekali melihat orang merokok di mana-mana, dan parahnya lagi laki-perempuan sama saja, mereka merokok ramai-ramai.

Dan ternyata berdasarkan observasiku selama di stasiun, halte atau tempat-tempat umum, sering kujumpai puntung rokok dibuang sembarangan meskipun disediakan tempat khusus untuk membuat puntung rokok di sana. Sampah sangat jarang di temua, tetapi puntung rokok terkadang banyak berceceran. Ah, apakah ini akibat buruk dari merokok ya, disamping meracuni yang lain, ternyata membuat orang mulai bergeser pola hidupnya. Saat ini mereka masih tepat dalam membuang sampah di tempatnya, kecuali puntung rokok. Ada apa ini? Wah bahaya, jangan-jangan kekacauan Indonesia hari ini salah satunya kebiasaan merokok. Perlu dibuktikan secara empirik nih. Siapa yang mau ambil riset tentang ini?

Dan malam semakin larut, dan kami harus pulang, karena besok akan ada ujian. Karena Prof. Tausch sudah terpengaruh alkohol, beliau meminta kami pulang jalan kaki dan mengucapkan selamat malam. Hemm, di sini kalo orang mabuk masih dapat mengontrol diri hingga tetap sadar, hanya saja saking tanggung jawabnya beliau tidak mau membahayakan kami dengan nekat mengantarkan. Dr. Simone sepertinya juga sedikit terkena efeknya juga karen habis 2 gelas bir. Akhirnya kami hanya saling mengucapkan “tschüs”, sebuah ungkapan say good bay untuk orang yang sudah sangat dekat dengan kita. Namun aku mengulanginya lagi khusus untuk Prof. Tausch dengan “auf wiedersehen” sebagai penghormatan untuk mbah kakung kami yang sangat baik, hingga seperti kakek kepada cucu-cucunya.

Kategori
Catatan Perjalanan

Schloss Burg Castle : Bendera Kedigdayaan Jerman

Seperti halnya Prof. Tausch, rupanya Dr. Claudia juga memiliki sesuatu kejutan untuk kami. Siang-sore ini beliau mengajak kami mengunjungi sebuah kastil tua yang berada di kawasan Solingen. Kota kecil yang berada di dekat Wuppertal. Wah, sesuatu banget. Ibu dua anak ini ternyata sangat perhatian juga kepada kami seperti halnya Prof. Tausch yang sudah kami anggap seperti kakek kami sendiri.

Dengan mobilnya yang nyaman, kami diantarkan ke sebuah kastil yang berada di puncak bukit, Schloss Burg Castle namanya. Sebuah kastil tua yang sangat bagus dan indah. Karena suasananya hujan, jadi kami tidak begitu leluasa menikmati perjalanan kami karena harus berpayung dan sesekali menepi ketika tepaan angin yang kencang datang ke arah kami. Jadi ingat ucapan Prof. Tausch sebelum kami pergi tadi, “Take care on your journey, enjoy your trip with Dr. Claudia in cloudy!”. Ini mah ga mendung lagi Prof, sudah hujan malahan.

Tetapi tidak masalah karena di sana kami bisa menikmati berbagai keindahan tempat-tempat yang dulu hanya seperti mimpi atau hanya bisa kulihat di film-film kolosal Eropa. Hari ini aku melihat style para ksatria di kala itu dan berbagai bangunan di kastil yang megah itu. Tak lupa juga kutatap dengan lekat bendera yang berkibar di atas kastil. Yah itu bendera yang sekarang dipakai sebagai simbol universitas Wuppertal. Sebuah gambar singa yang melambangkan keberanian bangsa Jerman. Tentang Schloss Burg, silahkan langsung main ke sini saja atau ke sini saja.

Dan ternyata di sana ada galeri Barakah, sayangnya hari itu Kastil tidak dibuka jadi kami hanya menikmati visualisasi dari luarnya saja. Waktu kutanyakan ke Dr. Claudia tentang nama galeri itu, beliau menjawab tidak yakin apakah itu milik orang Indonesia atau bukan. Intinya di lingkungan kastil ini banyak berjajar galeri-galeri barang antik yang dijual. Di samping itu, kami bisa melihat perbukitan yang terbentang  di kawasan Wuppertal, ternyata kawasan ini mirip daerah pegunungan seribu seperti Gunungkidul. Dan aku membayangkan kalau musim semi, pasti indah banget deh. Di musim dingin seperti ini saja sudah keren, apalagi di bulan Juli-Agustus nanti. Keren banget.

Singkat cerita, setelah kami berfoto-foto ria (pasti dong, meskipun hujan-hujanan), Dr. Claudia mengajak kami makan bersama di sebuah restoran di dekat situ. Wah harganya cukup mahal, menunya Jerman only, alias kami ga mudeng apa pun. Intinya kami cuma bilang ke beliau, no pork alias keini Schwein. Hampir saja lupa, aku hari itu puasa. Wah, ga kebagian dong. Ga papa. Karena ternyata ketika teman-temanku makan dengan menu vegetarian sejati, mereka menahan agar tidak nyengir gara-gara makanan yang mereka kunyah tidak karuan rasanya. Campuran antara nasi, wafel, dan susu. Ga kebayang gimana rasanya. Pasti kalau aku ikut makan akan muntah.

Sambil makan Dr. Claudia berbagi cerita kepada kami tentang pendidikan dan pengalamannya pertukaran pelajar di Kanada. Wah-wah, ternyata beliau keren juga. Di masa kecilnya sudah mengembara ke negari orang. Ketika menjadi dosen di kampus, nikahnya pun dengan seorang guru di Gymnasium. Seperti di Indonesia, terkadang pasangan guru itu ya guru, cuma beda tempat saja. Doktor yang cantik dan terkenal ramahnya ini, ternyata mentraktir kami semua, aku yang tidak ikut pesan dibawakan roti-roti yang disuguhkan untuk dibawa pulang. Masih beruntung aku yang membawa makanan yang lebih enak dari yang dimakan teman-teman (sambil menjulurkan lidah), dan kalaupun ada yang tidak enak itu bisa dibuang (karena di makan di rumah).

Kesimpulannya, sore ini kami mendapatkan pelajaran berharga pentingnya belajar mengenali daerah dengan cepat. Kenali budayanya, kenali makanannya dan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Berkeliling eropa di awal-awal itu tidak sepenuhnya enak seperti dalam bayangan kita ketika masih di tanah air. Bagaimana makanan kita (ini menghimbau saudara-saudariku sesama muslim), bagaimana shalat kita, semua itu adalah ujian sekaligus tantangan untuk menguji seberapa besar kedewasaan kita dalam menyikapi hidup ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

Sehari Ngerasain Bedanya Sekolahan Jerman dengan Indonesia

Salah satu keuntungan bersama profesor di luar negeri itu adalah kita dapat mengakses tempat-tempat penting di sebuah negara. Kata bu Nurma, di Jerman, seorang profesor itu benar-benar mendapatkan tempat yang luar biasa dihormati. Beliau pernah ke toko printer untuk membeli printer buat dirinya, ketika menyerahkan permohonan dilampiri surat yang ditanda tangani profesornya, maka dia dapat membawa printer itu gratis tanpa uang sepeser pun. Karena nanti pihak toko akan mengonfirmasi pembayarannya ke universitas tempat profesor itu mengajar.

Lain cerita dengan kami. Hari ini kami dapat berkunjung ke sebuah sekolah terbaik dan terbesar di negara bagian NRW, yaitu Carl-Fuhlrott-Gymnasium. Sekolah ini memiliki siswa hampir 2000-an orang.Tentang sejarah dan sekolahnya langsung meluncur aja ke rumah onlinenya di sini. Ketika kami sampai, sapaan ramah dari para guru luar biasa. Ternyata orang Jerman itu ramah-ramah lo, bahkan lebih ramah dari orang Indonesia di akhir-akhir ini. Sebuah sekolah yang memiliki otoritas besar dalam menjalankan pendidikannya dapat kami masuki dengan nikmat untuk bergabung di kelas-kelas dan mengikuti pelajaran para gurunya. Inilah enaknya bersama Prof. Tausch.

Agenda pertama kami adalah berdiskusi dengan salah satu waka, karena kebetulan kepala sekolahnya yang juga seorang Profesor belum bisa hadir. Kami dijamu minuman dan diskusi cukup panjang. Bahkan kami difoto oleh mereka (karena di sekolah kami tidak diperkenankan untuk merekam apa pun dengan cara apa pun). Beliau bercerita tentang fasilitas sekolah ini, sebagai sekolah yang terbesar di negara bagian NRW, sekolah ini memiliki lebih dari 40 ekstrakurikuler. Selain itu sekolah ini memiliki banyak fasilitas lengkap, salah satunya ada 7 teropong yang dipasang di lantai paling atas untuk astronomi. Wah keren banget. Hemm, dan ternyata sekolah-sekolah di Jerman standarnya seperti ini. Tidak ada istilah sekolah unggulan dan tidak unggulan, di sini kualitas sekolah tidak terlalu jauh berbeda karena semua dijamin oleh negara.

Kemudian kami diizinkan masuk mengikuti pelajaran di kelas selama 3 sesi. Ternyata Gymnasium ini dimulai dari kelas yang sangat rendah. Kebetulan aku 2 kali masuk dapat kelas matematika untuk grade V yang rata-rata usianya 10 tahun. Imut-imut banget, mirip balita kalo di Indonesia. Pengin mencubit pipinya yang putih dan imut. Mereka juga lucu-lucu tingkahnya. Di kelas terakhir aku masuk ke kelas fisika untuk grade 12, yang ini udah gedhe-gedhe. Udah pada modis.

Hal yang berbeda di sini adalah sejak kecil anak-anak selalu bertemu guru yang interaktif. Guru-guru di sekolah ini pasti harus interaktif sehingga siswa sejak awal sekolah terbiasa mengangkat tangan untuk berpendapat atau menjawab pertanyaan. Yah, aku kagum dengan keaktifan para siswanya meskipun sebenarnya aku ga mudeng dengan bahasa mereka. Roaming berat, karena Jerman only.

Dalam hal seragam, mereka tidak berseragam seperti kita. Namun karena sekarang musim dingin, alhamdulillah pakaian-pakaian mereka tertutup dan sopan-sopan seperti di tempat kita. Kata bu Nurma, kalo lagi musim semi dan musim panas, bisa-bisa tiap hari cuma error ngelihatin para tengtoper yang berkeliaran. Masalahnya orang Indonesia seperti aku ini belum terbiasa lihat seperti itu pasti bakal jadi masalah. Nah, beruntung ke sini sebulan hanya ketika musim dingin, jadinya tidak terlalu menjadi masalah. Nanti kalau jadi kuliah di sini, udah beda lagi cerita dan persiapannya.

Di Jerman sistem penilaian itu terbalik. Rentang nilai itu dari 1 – 6. Nilai 1 adalah nilai terbaik, dan nilai 6 adalah nilai terjelek. Jadi teringat latahnya mas Ferdi, di sini kalau kuliah, yang belajar keras saja biasanya cuma dapat 2, apalagi tidak belajar atau belajar biasa-biasa aja, paling 3-4. Tapi kalo dapat nilai 3 atau 4 malah akan dipuji-puji di Indonesia waktu baca transkrip nilai ketika yang lihat orang yang belum mengerti sistem pendidikan di Jerman. Seperti halnya di Indonesia, ketika hasil ulangan dibagikan, ada siswa yang teriak karena mendapat nilai 1, yang lain ada yang menyembunyikan erat-erat kertas ulangannya karena dapat angka gedhe. Wah-wah, lucu-lucunya meraka.

Ketika di kelas aku pingin ketawa abis. Aku jadi ingat dengan diskusi dengan salah satu karibku waktu di Indonesia. Simbah-simbah kita kadang kagum melihat anak-anak kecil di Inggris udah pandai bahasa Inggris (ya iyalah mbah, wong itu bahasanya). Demikian juga di sini, seakan-akan aku mendengar ada orang tua di negeri kita berkata, eh anak-anak masih kecil udah pandai bahasa Jerman. Ya iyalah, secara wong itu bahasa tiap hari mereka.

Dan kunjungan pun berakhir ketika waktu menunjukkan pukul 1 siang. Mr. Claus, guru olahraga mengantar kami sampai halte terdekat. Namun sebelumnya kami sempat berjabat tangan dengan kepala sekolah. Namun karena beliau sangat sibuk, beliau tidak dapat menemani kami. Sebuah kenang-kenangan kecil dari Indonesia kami serahkan kepada Mr. Claus untuk CFG.

Kategori
Catatan Perjalanan

Mainan Ilmiah Prof. Barke

Jika kami tidak ketinggalan kereta dan salah turun di stasiun tadi, seharusnya kami dapat mengikuti praktikum keren dari Edina cantik di Universitas Muenster. Namun karena sudah terlambatnya hampir 2 jam jadinya ya sudah. Semua telah berakhir. Dan kami malu ketika tergopoh-gopoh sampai universitas Muenster bersama Pak Ahmad yang telah menunggu kami sampai cengklungen (dan mungkin kedinginan) di stasiun selama mungkin lebih dari 1,5 jam. Terlebih lagi dosen kami yang Ph. D. student (istri Pak Ahmad) tadi juga telah mengatakan kepada Prof. Barke bahwa akan kedatangan mahasiswa dari Indonesia. Aduh-aduh, malu rasanya pada Bu Nurma, dan malu juga pada Prof. Barker, we are the later nih.

Sudahlah, intinya kami langsung berkumpul di perpustakaan kantor Prof. Barker, profesor yang menjadi pembimbing bu Nurma saat ini. Beliau adalah sahabat karif Prof. Tausch. Kalau di tempat Prof. Tausch kami selalu di suguhi fenomena kimia yang berkaitan dengan cahaya (fotokimia), kali ini kami disuguhi berbagai karya beliau yang berkaitan dengan kimia material, khususnya cairan.

Pertama, beliau menunjukkan sebuah kawat cerdas yang dapat mengingat suatu huruf tertentu. Kawat yang ada di setting untuk membuat huruf R pada suhu setara dengan panas yang dihasilkan sebatang korek api. Meskipun kita memelintir kawat itu ke bentuk yang aneh lainnya, ketika kawat itu disulut dengan api yang dihasilkan oleh sebatang korek api, maka kawat itu akan bergerak dengan sendirinya membentuk huruf R. Sebagai hadiah, beliau memberi kami satu-satu. Lumayan, karena kalo beli mahal harganya.

Kedua, beliau menunjukkan permainan anak-anak. Bentuknya seperti bebek yang ada cairannya. Eh, ternyata ada keunikannya loh. Kalau paruh bebek kena air, ternyata cairan di dasar tabung mainan akan naik dan membuat bebek mengangguk. Kalau di depannya di beri tempat air pada ketinggian yang sesuai, maka bebek itu akan bergerak mengangguk-angguk seperti sedang minum.

Ketiga, beliau menunjukkan sebuah larutan yang berisi cairan-cairan tertentu dalam kaca yang sangat sensitif terhadap suhu tertentu. Dia akan bergerak naik ketika suhu di luar sesuai dengan nomor kaca yang ada padanya. Wah, cerdas sekali permainan-permainan hasil riset beliau yang prinsipnya adalah berdasarkan sifat-sifat/karakteristik suatu materi.

Selain ketiga hal itu kami juga dapat melihat berbagai hasil riset beliau termasuk buku yang beliau hasilkan di perpustakaan kantor ini. Ternyata para profesor di sini benar-benar produktif dalam berkarya. Tak hanya itu, beliau bercerita bahwa saat ini juga menjadi Profesor tamu di Tanzania. Ketika cerita kami semua tertawa karena ternyata perbedaan pendidikan di sana dengan di Indonesia (asumsinya adalah Bandung dan Surakarta, berdasarkan tempat yang telah beliau kunjungi sebelumnya) cukup terlihat. Wah bersyukur kita harusnya tinggal di negeri yang tidak terlalu tertinggal di bandingkan Afrika.

Inilah kunjungan singkat namun penuh dengan inspirasi. Inspirasi yang ga akan pernah terlupakan. Terima kasih Prof. Barke atas ilmunya hari ini. Terima kasih Edina, atas kesediaanmu berfoto. Loh ! (paling ga dapat wajahnya). Sensor lagi. Ha ha ha.

Kategori
Catatan Perjalanan

Ga Jelas Banget : Sebuah Prolog

Ini adalah kisah lucu yang mengawali perjalanan kami hari ini, hari yang spesial yaitu 12.12.12 yang kata film 2012 hari ini akan terjadi bencana besar. Betulkah? Alhamdulillah hari ini masih ada kok. Agenda hari ini tidak ke kampus seperti biasa karena Prof. Tausch dan tim sedang memberikan pelatihan kepada para guru di Wuppertal. Jadinya kami mengagendakan untuk jalan-jalan ke kota Muenster dan Dortmund. Meskipun hujan saljunya sangat deras dan cukup tidak enak sebetulnya buat jalan-jalan, kami tetap nekat, karena kapan lagi bisa jalan-jalan selagi masih di Jerman. Kalo ditunda makin ke sana musim dingin menuju puncaknya.

Sesuai dengan janji kemarin dengan salah satu dosen kami yang mengambil Ph. D di sini, kami akan berangkat ke Muenster dengan kereta pukul 09.45. Dasar mahasiswa yang suka mepet-mepet, kami datangnya ke Stasiun Wuppertal (Wuppertal Hauptbahnhof) sangat mepet. Hal yang lucu adalah waktu kami memesan tiket grup untuk perjalanan kami hari ini. Karena kemarin udah diajarin dan merasa ga akan menemui masalah. Eh ternyata apes, mesin yang kami pake buat memesan tiket tidak mau menyecan uang 10 euro kami. Alhasil si mesin baru mau memberi tiket kami setelah uang 10 euronya kami ganti dengan yang lebih besar dan dia memberikan kembalian kepada kami. Ealah, mesin aneh. Dan tahukah? Kami menghabiskan 15 menit lebih untuk mencetak tiket kami, hingga akhirnya kereta yang kami maksudkan telah berangkat. Nasib-nasib.

Karena kami akan pergi lintas kota di negara bagian NRW, kami memesan tiket lokal NRW untuk kolektif. Program layanan tiket kereta di sini menarik. Tiket harian personal untuk NRW 27,5 euro, sedangkan untuk grup 5 orang hanya 37,95 euro ya jelas kami berempat memilih yang tiket grup lah. Secara murah bayarnya dan nanti bisa kami pakai seharian meski ganti-ganti kereta sampai 50 kali. Karena tiket berlaku dari jam 8 pagi sampai jam 3 malam hari berikutnya. Dan tiket itu berlaku untuk semua jenis angkutan lokal mulai dari kereta hingga bus kota. Pokoknya di sini itu layanan transportasi itu benar-benar sangat memuaskan, meskipun ketika musim dingin seperti sekarang delay kereta dan bus itu sering terjadi hingga 20 menit karena kondisi medan yang bersalju dan berbagai perubahan jadwal mendadak akibat buruknya cuaca.

Sebenarnya kalo kami sudah hafal, kami bisa menaiki kereta setelahnya yang paling dekat jeda waktunya. Nanti pindah-pindah kereta saat di stasiun-stasiun tertentu. Karena info online tersedia selalu di mesin pencetak tiket tanpa harus ribet kayak di Indonesia. Lagi pula sistem layanan tiket kereta di sini itu sangat praktis. Dan untuk kereta-kereta lokal di sini tidak ada penjaganya seperti di Indonesia yang masuk stasiunnya saja sampai dijaga ketat. Kalau aku masih kena virus orang Indonesia, bisa saja keliling sepanjang kota di sini tanpa tiket. Cuma kalo lagi apes diperiksa didenda 40 euro, atau sama dengan 500rb. Yah, karena masih takut dan khawatir tersesat, karena semua tempat Jerman only kami memilih keberangkatan kereta yang sama satu jam lagi.

Akhirnya kami mendapati kereta dengan tujuan yang sama setelah satu jam berlari-lari kecil karena kedinginan menunggu. Di dalam kereta kami bisa istirahat dan menghangatkan badan sambil tidur nyenyak. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan siaran di kereta bahwa kereta telah sampai di Muenster. Buru-buru kami turun di sebuah stasiun yang sangat kecil, bahkan hanya yang berjenis halte kecil. Wah, masak Muenster yang katanya lebih gede dari Wuppertal kayak gini. Aku punya firasat kami salah turun. Untung di dekat situ ada seorang gadis cantik (yang belakangan ternyata seorang ibu yang mau menjemput puteranya yang sekolah di pusat kota Muenster) yang mau memberi informasi kami dalam bahasa Inggris. Bener, kami salah turun stasiun. Efek roaming bahasa Jerman, begitu dengar kata Muenster kami asal turun saja, padahal baru di Hilstruf Muenster, belum yang Muenster Hauptbahnhof. Aduh, gimana ini, kasihan Pak Ahmad yang telah menunggu kami satu jam yang lalu. Parah.

Untung mbak (eh maaf maksudnya Ibu tadi) juga mau ke Muenster. Akhirnya kami ikut dia naik bus lokal (seperti di Wuppertal) dengan tiket NRW tadi. Seharusnya 5 menit dengan kereta dari sudah sampai Muenster Hbf, kami harus muter-muter sampai setengah jam untuk mencapai Muenster Hbf dengan bus lokal. Di sini baik kereta dan bus lokal semua menuju pada jurusan pusat kotanya dengan nama Hauptbahnhof (stasiun utama), sehingga sebenarnya kalo sudah tahu kita bisa mudah ke mana-mana, caranya naik kereta atau bus sembarang menuju Hbf dulu, baru kemudian kita cari kereta atau bus yang kearah tujuan kita. Simpel kan. Masalahnya ya Jerman only, dan tidak semua orang mau menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris. Tapi katanya di Jerman, orang-orangnya masih enak, tidak sefanatik di Perancis dengan bahasa nasionalnya. Tapi, mengapa orang Indonesia justru mengalami penyakit ke-Inggris-an atau ke-Arab-an. Parah baget nih kita. Atau memang kita tidak pede dengan bahasa kita sendiri. Memalukan. Demikian kisah pembuka yang sangat tidak jelas dan tidak penting ini.