Di antara pekerjaan mulia hari ini adalah “menyalakan harapan”. Dan harapan itu tidak dinyalakan dalam kata-kata motivasi saja, tetapi dengan tindakan nyata dan kisah inspirasi yang tertuang dalam hidup kita. 

Di perjalanan hidup kita, kita bisa mencari banyak pelajaran dari guru-guru kehidupan ini. Itulah inspirasi yang layak untuk kita bagikan dari pada mengorek-orek aib para politisi yang memang umumnya begitu.

Prabowo ataupun Jokowi, mereka tak lebih sebagai orang yang nanti akan mewakili Indonesia untuk pidato atau tanda tangan saja. Tapi ada ratusan juta rakyat hari ini yang harus diatur kembali agar tidak brutal saat nyetatus FB, komentar dan menumpahkan buah kepandaian mereka sakgeleme dewe. Termasuk mereka yang katanya pandai agama tapi sudah lupa soal ghibah dan fitnah, hingga saling menjelek-jelekkan satu sama lain, yang ujung-ujungnya menyulut provokasi yang lain juga untuk mendengki. Padahal dengki adalah penyakit yang lebih berbaya ketimbang busung lapar.

Memang ada baiknya rakyat Indonesia ini tidak perlu tahu berita politik. Biarlah mereka tetap bekerja di kantor, sawah, ladang, dengan segala perjuangan mereka itu. Jika hati mereka lapang mereka akan bersyukur dan berdoa untuk kedamaian negeri ini, untuk kebaikan para pemimpinnya. Barangkali doa-doa tulus mereka itulah yang masih mampu menjaga negeri yang rusak ini dari berbagai bencana.

Perubahan itu memang butuh pemimpin, tetapi perubahan itu adalah kerja kolektif. Sebelum banyak menghina orang lain, lihat diri sendiri dulu, wis pener urung. Karena sulitnya berubah negeri ini, karena memang yang memilih status quo lebih banyak ketimbang yang ingin berubah. Kalau semua orang cuma sarapan berita politik nanti benar-benar akan mengalami busung lapar, terutama lapar tawakal karena hari-harinya hanya cemas dalam kekhawatiran masa depan yang belum tentu jelas. Padahal sudah jelas-jelas kita diberi hari ini untuk bertindak dengan akal sehat.

Yuk kerja saja, bagikan kisah-kisah optimisme yang baik-baik dan sesuai konteksnya. Mari sedikit2 belajar menjadi bagian dari agen yang bisa menyampaikan mutiara-mutiara al-Quran dan Sunnah di tempat dan waktu yang tepat, seolah-olah di tiap masalah itu, wahyu kembali turun untuk menyapa kita sehingga kita tetap optimis melihat masa depan negeri ini. Katanya negeri ini milik Allah, mengapa cemas, mengapa terus mengumpati sistem yang ada, mengapa terus khawatir. Kalau tidak terima dengan sistem saat ini, pergi saja dari Indonesia. Kalau khawatir dan cemas dari dunia, pindah saja ke alam lain. Bikin ribet saja di bumi Allah ini.

Sumber: https://www.facebook.com/ardika.zaid/posts/10201884757671377

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.