Kategori
Catatan Hari Raya

Kisah Lebaran Tahun Ini

Di tahun 1434 H ini, banyak kejadian luar biasa yang kualami. Mulai dari hadiah yang Allah kasih di permulaan tahun dengan menginjakkan kaki ke benua Eropa. Menjadi tim impian untuk temu nasional Bakti Nusa 2013. Hingga akhirnya menemukan kembali ruh dan etos kerja diriku di dunia maya.

Dan lebaran tahun ini pun spesial. Dimulai dengan Ramadhan yang spesial mulai dari berbagai aktivitas di Rumah Blogger yang penuh inspirasi hingga aktivitas di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat aku pulang H-1 lebaran kemarin, banyak hal yang telah berubah dari kehidupan di desaku. Banyak sekali kawan-kawanku dahulu yang telah pulang ke desa, namun suasana di desa tetap saja berbeda dari tahun lalu. Cenderung lebih sepi. Entah kenapa, masjidnya juga sepi.

Tahun ini pula, aku merasakan hawa dingin yang luar biasa di desa. Kemarau yang sangat kering dengan udara dingin yang membuat hidungku langsung tersumbat sejak lebaran hari pertama. Akibatnya aku memilih tidur seharian sejak lebaran hari pertama dan kedua. Lebaran mungkin ditakdirkan istirahat bagiku. Dan mungkin juga lebaran yang pertama kali tanpa kakek tercinta karena telah berpulang ke hadirat-Nya di bulan Rajab kemarin.

Di lebaran ini, aku mencoba berakrab ria dengan sahabat-sahabat masa laluku yang telah banyak berubah. Banyak juga yang sudah menikah, tapi aku merasakan bagaimana pola pikir kami yang dahulunya sama kini telah jauh berbeda. Logika orang kerja di kota dengan pemuda pengangguran yang tidak lulus-lulus kuliah ternyata berbeda dan itulah spesialnya lebaran kali ini. Karena satu adikku yang biasanya menjadi sahabat akrab untuk berbagi tentang idealisme sedang berada di ujung pulau untuk sebuah tugas kampus ini. Rindu? Mungkin saja, tapi tak perlu dikata karena aku pun juga menganggap itu biasa.

Di lebaran ini, pertama kalinya pemuda-pemuda yang terhimpun di kota menyelenggarakan kirab dusun untuk menggalakan penggalangan dana pembangunan balai dusun. Dengan iringan reog yang mengingatkanku pada waktu 15 tahun yang lalu saat menyambut proklamasi RI, para pemuda berjalan berkeliling dusun untuk melakukan pawai dan saweran kepada masyarakat urban yang baru pulang kampung.

Barangkali memang aku yang harus beradaptasi dengan nuansa yang baru ini. Bercampurnya rasa rindu karena perginya orang-orang yang dikasihi dan telah memasukinya masa dewasa menjadi sebuah ujian kemanisan hari ini. Mungkin memang ini titik-titik kritis sesungguhnya yang akan kualami hingga tahun-tahun berikutnya. Titik di mana aku harus berusaha merawat idealisme, membetulkan pola pikir yang keliru, dan mengambil jalan terbaik dalam mewujudkan visi hidup nanti.

Lebaran ini, menjadi sebuah titik kebangkitanku untuk belajar lebih banyak lagi, merangkai mahligai kehidupan dalam bingkai cinta terbaik dan terindah.

Kategori
Catatan Hari Raya

Idul Fitri 1434 H

Hari ini adalah momen yang indah untuk dirayakan. Hari di mana seluruh umat Islam di dunia merayakan hari kemenangannya setelah menjalani puasa Ramadhan. Tiada kata yang sanggup diucap selain hanyalah sebuah syukur masih diperkenankan menyelesaikan puasa Ramadhan hari ini hingga hari Raya Idul Fitri.

Meneruskan postingan di tahun sebelumnya, kini kuhadirkan sebuah senandung keceriaan untuk menyambut hari yang mulia ini. Raihan, Nowseeheart dan rekan nasyid-nasyid di tahun 2000-an kala itu pernah menyenandungkan moment yang bahagia ini.

“Lebaran ini”

Mendayu suara meniti angkasa

Alunan takbir mengulit pagi

Insan tersenyum tanda gembira

Lebaran mulia menjelma lagi, kali ini

 

Di hari lebaran mulia ini

Jangan pula membuat dosa

Begitulah hakikatnya hari raya

Bergembira tanpa melupakannya, Allah Yang Esa

 

Indah suasana dalam senyuman

Seluruh alam turut raikan

Mengucapkan syukur pada Tuhan

Atas nikmat yang datang, limpahannya woo..oh..

 

Ikhlaskan hati mohon kemaafan

Leburlah dosa di tapak tangan

Lupakan segala silap dan salah

Insan bersatu membina ummah

 

Ini nih video klipnya
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=4SZH–ArUPY]

Akhirnya saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, taqabalallahu minnaa wa minkum, shiyamanaa wa shiyamakum.

Kategori
Catatan Hari Raya

Saatnya Mudik

Hari ini adalah hari terakhir bulan Ramadhan. Setelah membantu pembagian zakat fitrah sambil menanti cucian kering akhirnya saatnya berkemas untuk pulang. Menyapa orang-orang di rumah yang sudah rindu dan kawan-kawan di kota yang telah lebih dulu sampai di kampung.

Ah kerinduan terhadap desa jadi membuatku teringat pada senandungnya Nowseeheart (baca Nasihat) yang dinyanyikan bersama Raihan, “Ke Desa”. Suasana menjelang hari raya adalah momen yang spesial untuk pulang kampung, meski aku tiap bulan juga biasa pulang kampung.

“Ke Desa”

 

Sesekali kembali ke desa

Desir angin menyapa kita

Selang kicauan beburung

Gelak tawa anak-anak… aaahhh…

Mengingatkan kembali kediaman

 

Dari pagi dinihari

Petang mentari pun menyinar

Nostalgia musim menuai padi

Padi menguning luas melaut

 

Kembalilah… kembalilah orang muda

Hijau ladang berkat usaha

Bersama kita berusaha, moga berjaya

Sekembali kita ke desa

Ubat rindu si anak bangsa

Duduk sama hai orang kampung

Atuk, nenek, pak long dan mak long ..aahh

Keluarga bertambah mesra kasih bersemi

 

Marhaban ya nurulaini…

Marhaban jaddal hussaini ( 2X )

Marhaban marhaban

Marhabaaaaaaann…

Wah, sayangnya video klipnya tidak ada. Maaf ya.

Kategori
Catatan Hari Raya

Seperti Kisah Sahibul Menara

Hawa dingin pagi masih terasa di badan. Kata orang jawa bikin badan terasa “gemereges”. Rasanya ingin tidur saja lagi sampai nanti siang. Tapi rasanya tidak bisa, karena pagi itu ada sesuatu yang spesial. Yaitu temu alumni Pondok Pesantren Al-Ikhlas Wonosari. Sambil menunggu kawan-kawan yang akan berangkat dari rumahku aku sempatkan diri untuk menikmati udara pagi dan menulis beberapa cerita yang belum sempat kutuliskan.

Ahaa, ketika selesai mengerjakan kemudian aku mandi, datanglah dua kawanku yang keren. Yang satu seorang calon sarjana yang suka desain grafis. Yang satu seorang pengangguran produktif (saking produktifnya dia baru saja membeli Vario baru hasil nganggurnya sebulan di depan PC). Lha aku, yah ga tahulah, mungkin ga jelas juga aktivitasnya. Yang penting bermanfaat dah aktivitasnya.

Menuju Madrasah Kenangan

Diiringi basmallah dan doa di surat Az-Zukhruf : 7-8 kami bertiga meluncur ke madrasah kenangan kami yang terletak di sebalik kemegahan Masjid Agung Kota Wonosari. Sebuah madrasah yang pasti akan membuka ingatan-ingatan kami waktu beberapa tahun silam. Bersama kuda besi nan sehat dan energik, sampailah kami di pelataran masjid agung itu. Masih seperti dulu, megah dan menyapa kami.

Dalam bayanganku, aku berharap bertemu sekian alumni, terutama alumnya yang lebih kawak dari kami. Eh ternyata, yang di sana hanyalah alumni-alumni yang seangkatan dengan kami dan yang lebih muda. Ketika menengok ke rumah mudir pesantren kami, oh ternyata beliau sedang mudik ke kampong halamannya. Dan ketika ditanyakan kabar para asatidz yang lain, ternyata mereka juga sedang mudik dan ada agenda di luar. Apa lagi jika ditanyakan santrinya, jelas mereka masih asyik di rumah menikmati kebahagian bersama keluarga. Jadilah pondok itu lengang tak berpenghuni. Kami melihat-lihat kembali kalau-kalau masih ada sesuatu yang sama dengan waktu kami masih di sana. Ternyata beberapa itu masih ada, dan itu menjadi hal yang memantik memoriku di masa lalu waktu masih tinggal di sana.

Tak banyak yang datang di pagi itu, akhirnya kami pun naik ke serambi depan masjid agung sambil menikmati cemilan yang dibawakan temanku dari kota santri bekasi. Bukan nyantri, dia kerja di kawasan industry sana sambil ngaji di kawasan pesantren salafi. Meskipun ikut salafi, aku tetap melihatnya seperti dahulu yang begitu menghargai berbagai perbedaan cara pandang kami, selama itu tidak berkaitan dengan ushul agama ini. Sambil menatap menara masjid yang begitu dekat dengan kami kami bercengkerama mengingat berbagai aktivitas kami, terutama hobi tidur kami waktu dirosah, hafalan atau belajar mandiri. Gelak tawa pun menyelimuti suasana kami yang memang semakin hangat oleh sengatan mentari. Dan rasanya kami seperti kisah shahibul menara di Novel Negeri 5 Menara. Bedanya, mereka telah menjadi “orang”, sedangkan kami masih berusaha untuk lebih menjadi “orang”.

Menziarahi Guru Tercinta

Photo0452Setelah cukup puas melepas rindu, kami bersepakat untuk meneruskan perjalanan ke makam yang ada di seberang jalan masjid Agung. Di sana bersemayam jasad mulia, guru kami tercinta Allahyarham KH. Muh. Hussein. Sosok yang senantiasa dipenuhi keteladanan dan kesederhanaan hingga akhir hayatnya. Sosok yang senantiasa memberi perhatian dalam masalah pendidikan Islam hingga beliau tua. Sosok yang lisannya dijaga oleh Allah untuk tetap fasih membaca dan melafazkan kalam-Nya hingga usianya yang ke-80 dan selalu bugar dalam fisiknya. Kami ke sana untuk berkunjung dan memberi penghormatan kepada beliau.

Tibalah kami di makam yang sepi itu. Ada nisan yang bertulis nama beliau dengan sedikit balutan semen untuk menandai makam beliau. Kami duduk merenung dan mengingat bagaimana dulu beliau tersenyum di saat kami tertidur, khususnya aku yang menjadi pencatat rekor dalam dirosah pagi dan sore karena sering tidur hingga dibangunkan oleh waktu. Dalam hati aku rindu sekali ingin bertemu beliau, semoga kelak di akhirat kami dipertemukan dalam jamuan terindah bersama kekasih kami tercinta Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. Aku bersyukur 2,5 tahun bermulazamah bersama beliau, melihat kesederhanaan dan pola hidup beliau yang penuh kesederhanaan. Sekarang aku sulit mencari orang yang sepuh namun begitu berhikmah seperti beliau.

Mengenang Kota

Setelah berdoa dan memohonkan ampunan untuk beliau, kami meneruskan perjalanan kami menikmati kuliner yang ada di kota Wonosari. Karena bingung mau makan apa akhirnya kami beli makanan yang menurut kami sepesial di waktu masih jadi santri dulu. Maklum, bagi kami para santri yang terdidik dalam kesederhanaan hidup, kala itu bakso dan mie ayam adalah termasuk makanan kelas menengah yang tidak selalu kami nikmati setiap hari. Atas saran salah satu teman yang memang hobi kuliner waktu SMA hingga sekarang, dia mereferensikan salah satu warung untuk  kita singgahi. Akhirnya kami makan bareng di situ sampai menjelang adzan dzuhur. Enak rasanya, lumayan. Dan lebih enak lagi ada yang mentraktir ternyata.

Dari perjalanan makam ke warung tadi kami sempatkan untuk melewati gang-gang yang dulu biasa kami jadikan rute waktu sekolah atau jalan-jalan. Masih sama, belum banyak berubah. Dan itu membuat air mataku menetes perlahan. Ternyata mengenang itu menciptakan kerinduan. Bahkan mungkin sebuah kerinduan yang tidak masuk akal, yaitu ingin memutar waktu kembali ke masa itu. Alangkah indahnya.

Cukuplah perjalanan kami hari itu. Kemudian kami saling berpamitan dan pulang menuju peradabannya masing-masing. Ada cinta, ada semangat, dan ada inspirasi besar untuk sebuah cita-cita masa depan kami. Mungkin kami akan menjadi shahibul menara selanjutnya. Insya Allah.

“Yaa Rabb, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang baik itu benar-benar baik, dan rizkikanlah kepada kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu benar-benar batil, dan rizkiknlah kepada kami untuk meninggalkannya”

Kategori
Catatan Hari Raya

Potret Lebaran kini

Bagaimana kondisi masyarakat di daerah kita? Suka pengajian? Suka datang ke masjid? Kalo pengajiannya diisi dengan dai lucu, maka masyarakat suka pengajian, begitu kan. Kalo pengajiannya banyak makanan dan gratis, maka masyarakat banyak yang datang ke masjid. Tapi, apakah itu indikator yang baik untuk sebuah kualitas umat Islam yang diperlukan untuk kebangkitannya kembali.

Kenaifan yang Sangat

Adalah hal yang aneh dan naïf terjadi akhir-akhir ini ketika masyarakat menjadi manusia musiman yang menghidupkan masjidnya. Ramai jika ramadhan dan sepi kembali saat dia telah pergi. Dalam hal pembinaan keumatan juga tidak kalah seru naifnya. Semakin sedikit sekali sekarang takmir masjid yang berpikir bagaimana umat kembali ke masjid, tetapi sibuk mengajukan proposal untuk memegahkan bangunan masjidnya. Tidak kalah naïf ketika para kiyai, ulama dan dai juga masih ada yang personal oriented, yaitu lebih dominan dalam mengumpulkan pengikut dari pada menyampaikan asas-asas agama ini dengan benar. Belum lagi tokoh-tokoh masyarakat yang terjebak dalam arus politik sehingga mereka kehilangan jiwa negarawannya. Umat Islam semakin terjebak dalam arus individualism yang diteguhkan dengan kebodohan akan ilmu syari hingga disempurnakan dengan rasa keengganan yang sangat untuk menuntut ilmu.

Sebagian umat Islam yang dianggap cendikia, terlalu mendewakan akalnya sehingga membuat penelaahan yang aneh-aneh terhadap syariat ini yang tidak jarang membawa umat pada kesesatan. Di sisi lain, ada sekelompok umat yang memegang teguh prinsip tetapi tidak berhasil berkomunikasi menurut bahasa masyarakat agar kebenaran itu tersampaikan sebagaimana mestinya. Stigma masyarakat yang terlanjur buruk menjadikan masyarakat sudah malas mendengar meskipun sebenarnya itu benar dan sesuai dengan Quran dan Sunnah.

Naif sekali ketika dalam pengajian akbar, masyarakat datang berduyun-duyun mendengar pengajian yang dainya lucu dan pandai melucu. Apa lagi kalau titelnya adalah dai, seniman, dalang dll, pasti menarik untuk dihadiri dan ikut tertawa. Dan sayangnya lagi sang Dai juga dengan terang-terangan mengatakan jika diundang mendalang lebih senang karena bayarannya jelas, kalau jadi mubaligh ga jelas transaksinya. Innaalillah. Tapi kenapa justru ini dianggap lucu oleh masyarakat, ketawanya sampai terpingkal-pingkal lagi. Padahal ini adalah sebuah musibah.

Apakah masyarakat salah? Atau siapa yang salah? Hemm, rasanya tidak perlu saling menyalahkan. Tapi inilah realita masyarakat kita yang terlalu mabuk dengan urusan dunia. Hingga ketika sang Dai menyampaikan hal-hal asasi yang memang itu benar seperti kewajiban shalat dan berbagai pokok-pokok ajaran Islam yang membekas hanyalah lucunya saja. Selanjutnya masjid tetap sepi. Jangankan shalat subuh, dzuhur dan ashar, shalat maghrib hingga isya saja jamaahnya bisa dihitung dengan jari. Naïf sekali.

Tekad

Lalu harus bagaimana? Tidak ada kata menyerah dalam menegakkan dakwah. Konsekuensinya adalah akan mendapat berbagai reaksi beragam dari masyarakat karena Islam yang benar akan merubah semua kebiasaan itu. Yang terpenting adalah kesungguhan hati untuk tetap menjaga Islam ini dalam diri sendiri dan kemudian istiqamah dalam nejadi teladan di masyarakat dalam segala hal yang baik dan sesuai syariat. Biarlah dicemooh karena mungkin kita aneh dan berbeda dari yang lain.

Disaat gadis-gadis, khususnya yang pulang dari kota menampilkan apa yang mereka dapat dari kota berupa modernisasi yang tidak jelas, muslimah-muslimah yang baik tetap kokoh dengan jilbabnya yang syari meskipun mungkin akan dikatakan kampungan. Ketika remaja-remaja putra tampil keren dengan mode rambut dan pakaian yang serba korea, ikhwan-ikhwan yang baik tetaplah menjadi icon orang sederhana dengan pakian yang serba longgar dan menutup aurat.

Itulah potret lebaran kini, dan masih ada masalah yang merisaukanku. Aku pun belum sanggup sepenuhnya menjalankan perintah hadits bahwa kepala yang ditusuk jarum besi panas lebih baik dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya. Innaalillah, ya Rabb kuatkanlah diri ini untuk mengikuti syariat-Mu yang lebih indah dan mulia. Dan inilah salah satu hal mengapa aku lebih banyak sedihnya saat lebaran dari pada rasa senangnya.

Kategori
Catatan Hari Raya

Idul Fitri 1433 H

Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kembali dengan hari yang penuh kemenangan ini. Meski masih menyisakan kesedihan hari kemarin dengan perginya sang Ramadhan kini aku harus memulai langkah baru di hari yang Fitri ini. Aku kemudian jadi tertarik untuk mendengarkan kembali beberapa nasyid yang sangat indah karya Raihan dari negeri Jiran. Inilah lagu-lagu lebaran itu. Yang pertama adalah ….

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

 

Gema takbir di pagi hari

Tanda kemenangan di raih

Gema takbir di pagi hari

Tanda kemenangan di raih

 

Setelah sebulan berpuasa tunaikan rukun Islam ke tiga

Setelah sebualn berpuasa tiba sawal kita berhari raya

 

Orang yang ikhlas berpuasa merasa nikmat di hari raya

Orang yang ikhlas berpuasa merasa nikmat di hari raya

Mari bertakbir tasbih dan tahmid kepada Tuhan yang memberi rahmad

Mari bertakbir tasbih dan tahmid kepada Tuhan yang memberi rahmad

 

Idil Fitri hari kemenangan setelah menempuh sebulan ujian

Idil Fitri hari kemenangan setelah menempuh sebulan ujian

Selamat di hari perhitungan itulah kemenangan sebenarnya

Selamat di hari perhitungan itulah kemenangan sebenarnya

 

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

 

Orang yang ikhlas berpuasa merasa nikmat di hari raya

Orang yang ikhlas berpuasa merasa nikmat di hari raya

Mari bertakbir tasbih dan tahmid kepada Tuhan yang memberi rahmad

Mari bertakbir tasbih dan tahmid kepada Tuhan yang memberi rahmad

 

Marilah menyambut Idil Fitri bersihkan diri sucikan hati

Marilah menyambut Idil Fitri bersihkan diri sucikan hati

Dengan segala sifat terpuji semoga hidup dirohmati

Dengan segala sifat terpuji semoga hidup dirohmati

 

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

 

Gema takbir di pagi hari

Tanda kemenangan di raih

Gema takbir di pagi hari

Tanda kemenangan di raih

 

Setelah sebulan berpuasa tunaikan rukun Islam ke tiga

Setelah sebualn berpuasa tiba sawal kita berhari raya

 

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

Alloh Allohu Akbar

 

(Gema Takbir – Raihan)

 

Kemudian aku juga teringat ketika pernah menyanyikan lagu Raihan bersama kawan-kawan munsyid ketika SMA dalam agenda syawalan sebuah lembaga dakwah yang cukup besar di Indonesia ini

Mendayu suara meniti angkasa

Alunan takbir mengulit pagi

Insan tersenyum tanda gembira

Lebaran mulia menjelma lagi, kali ini

 

Di hari lebaran mulia ini

Jangan pula membuat dosa

Begitulah hakikatnya hari raya

Bergembira tanpa melupakannya, Allah Yang Esa

 

Indah suasana dalam senyuman

Seluruh alam turut raikan

Mengucapkan syukur pada Tuhan

Atas nikmat yang datang, limpahannya woo..oh..

 

Ikhlaskan hati mohon kemaafan

Leburlah dosa di tapak tangan

Lupakan segala silap dan salah

Insan bersatu membina ummah

 

(Lebaran ini – Raihan)

 

Dan inilah hari yang berbahagia itu. Hari raya itu akan selalu menjadi momentum yang sangat spesial. Kenangan kita terhadap orang tua akan senantiasa kuat, terlebih bagi mereka yang ada di perantauan

Satu Pagi Di Hari Raya

Aku Sujud Memuji Mu

Satu Pagi Di Hari Raya

Aku Sujud Membesarkan Mu

 

Ku Melafazkan Takbir

Penuh Rasa Kehambaan

Ku Melafazkan Tahmid

Penuh Rasa Kesyukuran

 

Gema Takbir Di Pagi Raya

Ku Teringat Kampung Halaman

Aku Di Perantauan

Tak Berdaya Menahan Sebak

 

Gema Takbir Di Pagi Raya

Ku Rindukan Ibu Di Sana

Keluarga Sanak Saudara

Hanya Doa Kukirim

 

Marilah Di Hari Raya

Kita Semua Bermaafan

Lupakan Persengketaan

Eratkan Persaudaraan

Harmoni Di Hari Raya

 

(Satu Pagi di Hari Raya – Raihan)

 

Demikian lirik-lirik yang indah itu kembali bersenandung di pagi Aidil Fithri hari ini. Semoga aku bisa menjaga spirit Ramadhan untuk satu tahun ke depan.

Kategori
Catatan Hari Raya

Gema Takbir Pemuda Beji, Sebuah Kebangkitan?

Detik yang terasa menyedihkan itu telah terlewati ketika Adzan maghrib berkumandang. Bagaimana pun, itu justru sesuatu yang membuatku lebih sedih dari pada senangnya Idul Fitri untuk kali ini. Mengapa? Mungkin Idul Fitri di hari-hari ini di kampong justru akan menyedihkan karena aku akan melihat kembali masjid yang sepi ditinggalkan jamaahnya. Yah, mau bagaimana lagi, tapi selagi istiqomah dalam usaha pemakmuran masjid, Allah pasti akan ngasih jawabannya.

Pada malam ini, adik-adik Persatuan Remaja Islam Cendikia mengadakan acara takbir keliling. Sebuah momentum untuk menggalang ukhuwah Islamiyah antar remaja muslim se-Desa Beji. Ini adalah sesuatu yang sangat indah mengingat kondisi kebanyakan pemuda-pemudi hari ini yang sudah mulai jauh dari masjidnya dan aktivitasnya. Terlepas bagaimanapun kualitas dan kondisi kekinian adik-adik kami di desa, aku merasa bangga mereka masih bisa berkumpul. Lebih salut lagi, masih ada sekelompok generasi muda yang peduli terhadap kawan-kawannya untuk berlelah-lelah di saat yang lain sibuk mempersiapkan belanja lebaran. Mereka justru sibuk untuk menggalang dana dan melakukan koordinasi sana-sini. Apa pun itu. Aku merasa bersyukur, bahwa pelanjut kami di organisasi remas desa masih ada pelanjutnya. Inikah sebuah pertanda kebangkitan pemuda di desa Beji yang selama ini terkubur dalam dogma pragmatisme dan terkikis dalam tekanan trend urbanisasi. Semoga setelah ini terlahir generasi-generasi Rabbani, perlahan, tapi pasti.

Dan ini adalah puncak dari kesedihan itu, ketika Ramadhan benar-benar telah pergi. Gema takbir malam ini semoga bisa menjadi penawar kesedihan ini dan menggantinya dengan kemenangan yang besar. Dan semoga Ramadhanku kian penuh makna.

Ku mengharapkan Ramadhan

Kali ini penuh makna

Agar dapat kulalui

Dengan sempurna

 

Selangkah demi selangkah

Setahun sudah pun berlalu

Masa yang pantas berlalu

Hingga tak terasa ku berada

Di bulan Ramadhan semula

 

Puasa satu amalan

Sebagaimana yang diperintahNya

Moga dapat ku lenturkan

Nafsu yang selalu membelenggu diri

Tiada henti-henti

 

Tak ingin ku biarkan Ramadhan berlalu saja

Tuhan pimpinlah daku yang lemah

Mengharungi segalanya dengan sabar

Kita memohon pada Tuhan diberikan kekuatan

Ku merayu pada Tuhan diterima amalan

 

Selangkah demi selangkah…

Dengan rahmatMu oh Tuhanku…

Ku tempuh jua

(Raihan ft Man Bai – Harapan Ramadhan from http://www.lyricsmode.com)

Kategori
Catatan Hari Raya

Catatan di Penghujung Ramadhan

Alhamdulillah atau innaalillah ya sebaiknya kuucapkan ketika ini sudah menjadi hari terakhir Ramadhan? Aku bimbang, tetapi sepertinya aku lebih banyak merasa bersedih karena banyak yang kulewatkan selama Ramadhan ini. Apa saja yang terlewatkan? Banyak sekali mulai dari kajian-kajian Ramadhan yang tidak banyak kuikuti, hafalan Quran yang tidak maksimal, hingga 10 hari terakhir yang belum banyak terisi dengan taubat dan penyesalan. Rasanya cepat sekali berlalu. Oh Rabbi, masih bisakah aku menjumpai Ramadhan tahun depan? Semoga Engkau masih mempertemukanku kembali dan jadikan hari-hariku setelah ini menjadi saat-saat terbaik untuk merindu kedatangannya kembali.

Ramadhan di Kampung

Hal yang berbeda dari saat-saat aku menjalani Ramadhan saat masa-masa kuliah adalah kali ini aku menghabiskan hari-hari Ramadhanku di kampong halaman cukup banyak di banding tahun-tahun sebelumnya. Alasannya simple, karena memang mahasiswa tingkat akhir, ga ada kerjaan. Tapi bukan karena itu, saya merasa bahwa peran di rumah sekarang jauh lebih dibutuhkan. Ada banyak cerita mulai dari yang menyesakkan hingga yang membuatku tersenyum.

Yang menyesakkan adalah makin sedikitnya generasi yang peduli dengan kegiatan sosial, terlebih mau dekat dengan masjidnya. Sulit sekali sekarang menggiring mereka untuk menjadi para pejuang filantropi bagi masyarakatnya sendiri. Banyak pengganggu yang luar biasa mulai dari kotak-kotak yang bernama HP, Televisi dan Internet. Kemudian ada juga kuda besi yang membuat banyak pemuda yang harusnya mengajar TPA jadi ngacir ke sana ke mari entah pamer motor kepada pasangannya atau sedang menghabiskan bensin agar mendapat uang saku. Intinya segala fasilitas yang begitu berlimpah di hari ini justru membuat adik-adik kami semakin jauh dari akar budaya mereka yang dulu dikenal sebagai masyarakat cinta gotong royong dan berjiwa sosial yang tinggi. Ada apa ini? Seperti inikah nasib generasi muda hari ini?

Sedangkan yang membuatku tersenyum adalah saat aku melihat perubahan di keluarga. Pelan namun pasti aku sekarang aku mulai merasakan banyak mimpi yang dulu begitu ku rindu kini telah Allah perlihatkan untukku. Allah Mahakuasa untuk mengubah segala hal sesuai kehendak-Nya, sesuai cara-Nya, pada waktu yang tepat. Benarlah, bahwa semuanya itu akan indah pada waktunya. Bagi kita yang menjadi subyek kehidupan ini tinggal menyempurnakan ikhtiar dan bertahan dengan kuat sekuat-kuatnya. Tidak hanya keluargaku yang memang sudah bergerak menjadi semakin baik dalam mengenal syariat Islam sejak aku sendiri bertekad untuk menajamkan diri di dakwah ini, tetapi juga adik-adikq dibukakan pintu hidaya oleh Allah untuk kembali kepada syariat Islam. Itu sangat indah, sangat indah. Hampir aku tidak pernah berdoa meminta ini itu terkait doa-doa pribadiku, cukup selalu mengucap, “Rabb, jika ini baik untukku maka dekatkanlah aku padanya sedekat-dekatnya, dan jika ini buruk untukku maka jauhkanlah aku darinya sejauh-jauhnya”.

Dan aku merasa sangat spesial dapat menjalani Ramadhan kali ini dengan kondisi terbaik sejak aku baligh dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga ini berkekalan dan semakin bertambah keberkahan kebaikannya di waktu yang akan datang.

Cerita Cinta untuk Adik

Aku memiliki 2 adik yang sangat keren. Seorang pria pemalu yang sudah terlihat bakatnya untuk ke depan menjadi calon ulama masa depan yang begitu kuimpikan untuk membawa cahaya Islam di daerahku. Kemudian seorang gadis kecil periang yang semoga kelak mau menjadi seorang psikolog. Mengapa psikolog? Sejak aku punya temen dekat seorang psikolog, aku merasa bahwa keberadaan psikolog di suatu daerah itu penting untuk memberikan edukasi ke masyarakat tentang interaksi manusia agar eksistensi nilai dalam masyarakat itu dapat terjaga. Jadi aku terobsesi untuk menjadikan adikku yang kecil sebagai psikolog nantinya. Semoga bisa.

Bersama adik-adikku aku belajar bagaimana menjadi kakak yang penyayang dan penuh perhatian. Mungkin tipikal kerasku (kata temenku yang psikolog : aku koleris melankolis) sulit membuatku menjadi sosok yang “gemati” seperti impian kebanyakan orang. Namun, aku ingin mengatakan bahwa rasa cintaku amat dalam dan besar. Mungkin itulah mengapa aku mudah menangis jika diingatkan tentang orang tua dan adik-adikku atau orang-orang yang pernah memberikan kesan mendalam selama hidupku.

Itulah cerita cintaku wahai adik-adikku, semoga kalian bisa mendengar bahasa hatiku ini ya. Dan semoga semakin hari, kakakmu ini bisa menemukan bahasa cinta terindah untuk kalian.

Mengenang yang Telah Pergi

Pagi tadi, kakekku memintaku untuk mengantarnya ziarah ke makam, atau dalam bahasa sini dikenal dengan istilah “badan”. Itulah kebiasaan masyarakat di sini yang mengunjungi makam orang tua atau leluhurnya, membersihkan dan melakukan tabur bunga. Aku sih biasa aja, karena dalam ziarah kubur adabnya kan tidak seribet itu. Dan lagi-lagi aku mengajak si cantik Zahra untuk menemaniku ke sana. Yah sebenarnya dari pada mengganggu kerjaan ibu di rumah, biarlah mbolang bersama kakaknya saja.

Segeralah kami meluncur bersama kakekku yang jadi my heroku tahun ini ke sebuah makam yang cukup tua. Makam yang menjadi tempat jasad mbah buyutku bersemadi. Pemandangannya cukup bagus. Setelah mengucap salam dan berjalan menuju makam yang dituju, kakek terus membersihkan makam tersebut sekadarnya dan menaburkan bunga-bunganya. Di tengah kesibukan itu, aku sama Zahra justru asyik berfoto menikmati keindahan makam yang berada di kaki bukit itu. Memandang ke bawah oh indahnya. Ku nikmati ziarah ini sebagai sarana mengingat mati dan mengagumi kebesaran sang Pencipta.

Saat aku melihat kakekku membersihkan makam dan kemudian berdoa, aku menatap wajah beliau yang begitu penuh dedikasi. Oh, beginilah hasil pendidikan di masa lalu, yang membuat seorang anak begitu merasakan arti orang tua bagi mereka. Meski mungkin ilmu syari mereka tak seberapa tetapi tekad itu menjadi sebuah bukti konsistensi hidup orang-orang tua hingga hari ini. Aku masih mendapati orang tua seperti kakekku yang begitu teguh memegang prinsip sebagai manusia filantropi dan berkarakter Jawa tulen. Bersyukur sekali dikarunia kakek seperti beliau. Mungkin suatu saat aku akan mengenang beliau jika beliau ditakdirkan mendahului ku. Atau jangan-jangan aku duluan yang meninggalkan beliau. Wallahualam

Dan sekembalinya dari makam aku merenung tentang kematian. Mungkin itu lebih menyenangkan ketika aku telah siap dari pada merasakan Ramadhan yang akan segera berlalu dan tinggal menghitung mundur dalam hitungan jam saja. Oh Ramadhan, kau benar-benar akan segera pergi. Aku belum puas berdoa, aku belum puas menangis. Tapi bagaimana lagi, aku masih suka melupa dan menyibukan diri sendiri pada perkara yang tidak penting. Aku ingin memelukmu lebih erat, tetapi engkau pun tak sanggup ku peluk. Aku ingin terus bersamamu lebih dekat, namun engkau adalah bagian dari waktu yang pasti akan segera meninggalkanku. Aku berharap semoga tahun depan aku masih bisa merasakan kehadiranmu lagi. Allahumma baalighnaa Ramadhan.