Kategori
Catatan Perjalanan

Kuliah Sebelum Matahari Terbit

Kalau kuliah jam 7 atau setengah 6 di kampus UNS sepertinya bukan hal yang wah jika kita telah setahun di sana. Tetapi bagaimana rasanya jika kuliah di saat matahari belum terbit? Pasti kelihatannya lebih gagah dan penuh perjuangan. Inilah kisah hari pertama kami kuliah di Kampus Universitas Wuppertal.

Sesuai dengan jadwal kami harus sudah sampai di ruang kuliah jam 8. Idealnya jam 8 kurang kami harus sudah sampai di kampus. Dan lagi-lagi orang Indonesia yang terbiasa dengan mepet-mepet, mepet waktu hingga mepet tempat duduk. Karena di sini jadwal waktu subuhnya pada bulan ini jam 6.15 dan matahari terbit baru jam setengah 9 pagi maka rasa malas itu masih menghinggapi kami. Setelah kami sarapan pagi ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8. Kalau di Indonesia masih pagi buta, kami nekat berangkat ke kampus dengan jalan kaki karena belum memiliki tiket pribadi. Sedangkan emarin dibayari oleh bu Nurma.

Sebenarnya kalau mau, tanpa pakai tiket pun bisa saja naik bus. Kalau tidak diperiksa semuanya aman. Tetapi jika itu kami lakukan, maka proses belajar kami untuk bertanggung jawab telah gagal dan sifat orang Indonesia abad ini akan tetap melekat kuat di dada kami. Akhirnya kami jalan kaki dengan kecepatan tinggi sambil menghafal rute yang benar ke kampus. Setelah berjalan sekitar 20 menit kami akhirnya sampai dan segera menuju ruangan Prof. Tausch. Tepat jam 8 sampai sana, tetapi itu membuat kami merasa bersalah dan malu terhadap beliau.

Beliau segera mengajak kami bergerak cepat ke ruang kuliah bersama Mrs. Ingrid yang membawa serangkaian perlengkapan. Hemm, beginilah bedanya dosen Indonesia dan Jerman. Mereka siap sejak sebelum mengajar sehingga tidak minta mahasiswa ambil ini itu ketika sudah sampai di kelas. Begitu beliau sampai, mahasiswa yang telah menunggu segera memasuki ruangan yang seperti yang sering kulihat di film-film hollywood berlatar tempat Eropa. Hanya butuh 5 menit saja untuk persiapan mulai dari LCD dan setting praktikum demonstrasi. Dan kuliah pun dimulai sebelum matahari terbit.

Kategori
Catatan Perjalanan

Tour de Wuppertal : Dankeschon Prof. Tausch

Agenda penutup hari ini adalah keliling kota Wuppertal bersama Prof. Tausch. Kami dijemput sejak jam 6 sore oleh beliau dan diajak jalan-jalan berkeliling kota. Beliau mengenalkan kepada kami tempat-tempat penting, mulai dari pusat kereta api, pusat belanja yang murah, bahkan beliau mengajari kami cara berbelanja. Beliau sendiri memberi beberapa arahan penting kepada kami dalam mengelola hidup ke depan selama di Jerman.

Yang aku kagumi dari beliau adalah di usia hampir 60 tahun beliau masih gagah dan masih mengendarai mobilnya dengan energik. Jangan dibayangkan orang-orang Jerman kalau naik mobil itu seperti di Indonesia. Karena lalu lintas yang lancar, mereka bisa mengendarai dengan kecepatan mencapai 90-160 km/jam bahkan saat melewati tikungan mereka tidak terlalu menurunkan kecepatannya. Mobil-mobil BMW kebanggaan mereka tetap menjadi sahabat setia di perjalanannya. Kalau dilihat dari modelnya lebih bagusan di Indonesia, tapi kalo sudah bicara fasilitas di dalamnya lagi-lagi seperti ketika bicara rumah-rumah di Jerman, lengkap dan luar biasa.

Setelah puas berkeliling, kami ditraktir untuk makan bersama di Kafetaria Kampus Wuppertal. Di sini aku pertama kalinya harus belajar hati-hati dengan menu yang tidak ada label halalnya. Karena tidak enak kalo bertanya kepada Prof. Tausch mana makanan yang tidak mengandung babi, aku memutuskan hanya membeli kentang goreng (pommes) di saat teman-teman yang lain membeli ini itu (mentang-mentang dijajakke). Yah, salah satu cara aman hidup di sini adalah menjadi vegetarian sejati, insya Allah aman.

Akhirnya perjalanan malam ini berakhir dan kami siap beristirahat menikmati malam pertama kali di wohnung. Ternyata tidak sedingin yang kubayangkan waktu di kamar. Tiga buah penghangat yang terpasang mampu membuatku tidur nyaman seperti di Indonesia, glasaran dan jigar seperti biasanya. Dankeschon Prof. Tausch.

Kategori
Catatan Perjalanan

Harus Banyak Belajar

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Mungkin itulah peribahasa yang paling tepat untuk menasihati kami saat ini. Di tempat yang baru, di keluarga yang baru semua menjadi serba baru. Mulai dari kebiasaan, tata krama hingga tulisan-tulisan yang akan kubaca.

Yah, di Jerman ini seperti di Jepang, kata kakak keponakanku. Orang jerman sangat cinta kepada negaranya seperti Jepang. Maka di mana-mana akan sangat sulit sekali dijumpai kata-kata dalam bahasa Inggris, semuanya dalam bahasa Jerman. Bahkan masyarakat pada umumnya juga tidak suka menggunakan bahasa Inggris. Mereka menggunakan bahasa Jerman sebagai percakapan sehari-harinya.

Kami harus banyak belajar untuk mengenal kebiasaan dan adat masyarakat di sini. Di sini semua hal dilakukan dengan detil dan teratur. Bahkan di wohnung tempat kami tinggal, banyak hal yang harus kami ingat mulai dari jadwal-jadwal laundry, pemeriksaan hingga bak sampahnya. Di sini, sampah dibedakan menjadi 5 tempat, sampah yang mudah terbakar, sampah yang dapat didaur ulang, sampah kotoran dan sisa, sampah kaleng dan sampah yang lainnya (aku lupa). Intinya tidak seperti di tempat kita di mana orang gampang buang sampah sembarangan.

Dalam menyeberang jalan dan menaiki kendaraan, kami harus belajar. Siapa yang menyeberang jalan tanpa melalui zebra cross jika ketahuan akan didenda 40 Euro, dan ternyata masyarakat di sini begitu mematuhinya. Kemudian dalam menaiki kendaraan, berlaku tata krama dahulukan yang turun semuanya barulah naik. Kebiasaan ngusruk dan nyerobot harus dihilangkan jika tak ingin menanggung malu disini.

Dalam merawat ruangan dan mengelola perabotan, semuanya tersedia dengan lengkap. Semua harus digunakan dengan hati-hati dan dirawat dengan baik. Aku merasa malu ketika tidak dapat menutup jendela dan harus menaiki kursi untuk menutupnya. Hampir saja aku merusak jendela yang sebenarnya cara menutupnya tinggal menarik picu di dekat kusennya. Mengapa aku harus naik kursi untuk memaksa jendela menutup. Aduh, malu rasanya, katrok banget.

Dalam berbelanja, semua harus mempertimbangkan banyak hal. Ah, rasanya Allah memang ingin membuka mataku dan mengharuskanku belajar tentang tatanan hidup yang baik yang seharusnya dimiliki setiap muslim di Indonesia. Di negeri yang tidak banyak mengenal agama, tata cara hidup mereka bahkan jauh lebih Islami dari pada umat Islam sendiri kecuali dalam hal peribadatannya. Semoga nanti bisa tetap kupertahankan saat telah kembali ke tanah Air. Ah, malu rasanya jadi seorang muslim yang banyak kekurangan seperti hari ini. Aku harus lebih baik ke depannya.

Kategori
Catatan Perjalanan

Hujan Salju Wuppertal dan Sapaan Hangat Sang Professor

Setelah turun dari bus yang mengangkut kami dari pusat kota wuppertal ke universitas tempat Prof. Tausch mengajar, ku sempatkan melihat pemandangan yang sangat indah di sini. Sebuah universitas yang terletak di kaki Gunung. Jika di Indonesia mungkin seperti di Tawang Mangu. Sebuah universitas dengan pemandangan yang sangat indah, bahkan meskipun musim gugur seperti sekarang.

Di sini jejak-jejak salju semalam masih tebal menutup atap rumah dan sepanjang jalan yang kami lalui. Putih, lembut dan indah sekali. Segeralah kami naik ke lantai 13 dengan lift untuk menuju kantor Prof. Tausch dan timnya. Sempat mengundang perhatian dari para mahasiswa karena ada mahasiswa berwajah Asia yang hanya bergurau saja (maklum orang Jerman rata-rata pendiam dan serius sehingga keberadaan kami begitu terlihat berbeda dibanding masyarakat aslinya, lebih lebih jika dibandingkan wajahnya yang tampan dan cantik, ha ha ha), namun kami tidak peduli dan terus saja bergerak menuju ruang yang dituju. Ms. Nurma sempat lupa namun akhirnya ketemu juga tempatnya.

Luar biasa! Sambutan hangat Prof. Tausch yang sangat ramah diikuti oleh rekan-rekannya Dr. Claudia, Dr. Simone, Ingrid dan beberapa tim beliau yang belum ku merasa malu. Toleransi di sini sangat baik bahkan waktu aku menelungkupkan tanganku kepada tim beliau yang putri, luar biasa penghargaan mereka terhadap keyakinanku. Tanpa basa-basi beliau langsung mengajak kami ke Guest House yang akan kami tempati selama sebulan nanti. Beliau segera mendahului kami menggunakan mobil pribadinya dan kami menaiki bus lagi ke arah Student Freundenberg.

Sesampainya di sana, hujan salju terjadi. Kami sangat senang, mimpi kami untuk melihat salju akhirnya tercapai sudah. Ini pengalamanku pertama kali seumur hidup. Segala puji bagimu yaa Allah, Rabb yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan bumi ini indah untuk dipandang dan menguji setiap hamba-Nya. Kami sadar, Prof .Tausch telah menunggu kami di Guest House, segeralah kami berlari menuju ke sana bersama Ms. Nurma dan Mr. Ahmad, suami beliau.

Di Guest House, Ms. Monika selaku penanggungjawab asrama memberikan nasihat dan petunjuk kepada kami. Memang beginilah karakter orang Jerman, detil jelas dan sistematis. Beliau memberi penjelasan yang mirip dengan kuliah teknik sehingga kami tidak hanya paham tetapi sangat paham bagaimana aturan menggunakan ruangan yang akan kami tinggali selama sebulan nanti. Tempatnya sangat mewah, bahkan mungkin jauh lebih lengkap dari hotel bintang 3 yang ada di Solo. Hanya dengan sewa 311 Euro untuk yang putra dan 577 Euro untuk yang putri kami bisa menempatinya selama sebulan. Tentang wohnung atau tempat tinggal kami ini nanti akan ada tulisan tersendiri.

Sebenarnya, rumah tinggal ini hanya untuk mahasiswa Ph. D. yang sedang mengambil kuliah di sini, namun ternyata kami diperkenankan atas rekomendasi Prof. Tausch, baik sekali beliau. Tak cukup itu saja, ternyata beliau membawa satu koper besar yang berisi pakaian musim dingin mulai dari slayer, sepatu boat hingga jaket winter yang sangat tebal. Semuanya dipinjamkan kepada kami agar dimanfaatkan selama sebulan nanti. Kata beliau, semua telah disiapkan oleh istrinya sewaktu mendengar ada anak-anak Indonesia yang mau ke sini. Jadi rindu untuk bertemu beliau di Bremen. Semoga ada waktu akhir pekan yang membuat kami bisa ke sana.

Usai menandatangani kontrak penggunaan tempat tinggal kami meneruskan untuk bermain-main di hujan salju. Berlarian ke sana kemari, berfoto ria bersama, dan saling melempar bola salju. Kampungan memang, namun mengasyikkan. Inilah cerita di awal perjalanan kami menjejakkan kaki di tanah Eropa. Tanah dimana Hitler pernah berkuasa dan berambisi menguasai dunia.

Kategori
Catatan Perjalanan

Eropa Menyambut Kami

Setelah mengudara hampir sama lamanya dengan waktu perjalanan pertama kami. Akhirnya si burung besi ini mendarat di Bandara Internasional Dusseldorf, salah satu kota besar di Jerman. Begitu kami keluar dari pesawat kami langsung di sapa dengan hawa yang sangat dingin. Yah Eropa menyambut kami dengan hawa yang sangat mencekam ini. Namun, itu semua kalah oleh rasa syukurku bisa menjejakkan tanah di tempat yang mungkin bagiku dulu hanyalah antah berantah. Sebuah dunia baru yang pasti sangat berbeda dari negeri kelahiranku nun jauh di sana.

Aku sadar bahwa ini adalah dunia baru ketika aku ke toilet. Di sini tidak ada gayung dan bentuk toilet mangkring seperti di Indonesia. Akhirnya kau hanya kencing dan tidak jadi mbeol. Padahal aku sudah menahan di pesawat karena banyaknya makanan yang kami makan. Memang salah kami sih selalu memakan apa yang datang dari nona-nona pramugari yang cantik itu. Ya Allah, semoga nanti tidak bocor di tengah jalan. Akhirnya aku memilih duduk menunggu dosen kami yang tengah mengambil Ph. D.-nya di Eropa. Dan ternyata rasa ingin beolnya lupa setelah melihat indahnya Eropa.

Setelah sempat kebingungan karena tidak bisa menghubungi Ms. Nurma, dosen kami, akhirnya ada salah satu pengunjung bandara yang mau meminjamkan handphone-nya untuk menghubungi beliau. Dan tak lama kemudian beliau datang bersama suaminya membawa sebuah barang besar mirip koper yang ternyata itu adalah bed tambahan yang disediakan untuk kami karena kamar untuk yang putra hanya ada satu bed saja.

Segeralah kami menaiki sky train sebuah kereta yang relnya ada di atas dan di bawah. Kereta gratisan yang disediakan bandara untuk menuju tempat-tempat strategis di sekitar bandara. Akhirnya kami sampai di stasiun dekat bandara Dusseldorf dan memesan tiket untuk ke Wuppertal, tempat tujuan dan tinggal kami selama sebulan nanti. Bersamaan dengan itu kami sempat melihat matahari terbit. Ternyata tidak jauh beda dengan daerah kami. Hanya saja hawanya di sini, dingin sekali, sudah bercelana rangkap 2, berbaju lapis 3, bersarung tangan dan berslayer serta berkupluk hawa dingin itu sesekali masih dapat menembus jaring pertahanan tubuhku.

Tak seperti di Indonesia, kereta di sini sangat cepat lajunya dan sangat tepat waktu datangnya. Bentuk keretanya juga lebih bagus dan rasanya lebih nyaman. Kami bisa menempatkan koper-koper kami yang besar dengan mudah tanpa banyak mengganggu kenyamanan penumpang lain. Dan yang pasti jumlah penumpang setiap kereta tidak sampai overload seperti di Indonesia. Yah, lagi-lagi ini pelajaran yang berharga bagi bangsa kita tentang bagaimana melayani dan memberikan apresiasi atas karya bangsa sendiri.

Di sepanjang jalan menuju Wuppertal kulihat indahnya desa dan perkebunan yang pohonnya mulai gugur daunnya karena musim dingin yang akan semakin menuju puncaknya. Sebenarnya tak jauh beda dengan desa-desa di Indonesia, bahkan rumah-rumah mereka mungkin dari luar lebih jelek dari tempat kita. Rumah-rumah di sini kecil-kecil tidak seperti rumah daerah kita yang mewah-mewah dan kadang suka bermegah-megah. Benar seperti yang dikatakan Prof. Ajid, di sini orang yang punya rumah pribadi mungkin hanya para guru besar yang usianya sudah mencapai 60an tahun, dan masyarakat lebih memilih flat atau apartemen yang mirip dengan rusunawa Indonesia. Dari luar bentuknya sama, tapi pola hidup masyarakatnya lah yang membuat dua hal sama tadi menjadi berbeda.

Ada yang mengagumkan, ternyata ada sisa-sisa salju yang masih tercecer di pinggir jalan. Bentuknya seperti es serut atau es gosrok. Putih dan sangat lembut. Keindahan-keindahan itu membuat kami tak sadar bahwa kami telah sampai di stausiun pusat di kota Wuppertal. Kami segera keluar dan menunggu bus yang akan mengantar kami ke Bergische Universitat Wuppertal, tempat di mana Prof. Taucsh yang mengundang kami berada.

Lagi-lagi adalah cerita tentang layanan yang memuaskan. Di sini ternyata semua bus telah memiliki jalur masing-masing dengan jarak kedatangannya relatif singkat hanya berselang tiap 20 sampai 30 menit. Setiap bus telah dilengkapi dengan sistem IT yang baik sehingga setiap penumpang tidak perlu repot-repot membayar uang receh tiap turun seperti di Indonesia, maka jangan membayangkan bahwa bus-bus di sini itu ada keneknya. Semua berjalan dengan cepat dan sampai di pemberhentiannya tepat waktu. Dan sampailah kami pada universitas yang dulu hanya bisa kuakses lewat website www.uni-wuppertal.de saja.

Kategori
Catatan Perjalanan

Bersiaga 3 : Kisah Paling Tidak Bermutu

Rasanya damai setelah rekonsiliasi dan berbagai persiapan yang hampir matang. Aku dapat bernafas lega.

Pertama, amanah lembagaku telah mengalami masa transisi, meskipun secara tanggung jawab aku masih harus menjadi penanda tangannya namun aku optimis adik-adikku SIM telah siap untuk menggantikan kepengurusan kami di tahun 2013 nanti. Sedikit hiburan esok paginya akan ada kunjungan dari rekan-rekan UKM Keilmiahan UNY. Kedua, persiapanku untuk ke Jerman telah 90 persen dan tinggal melakukan packing akhir. Sehingga tidak akan lagi wira-wiri.

Ternyata menjelang sore ada seorang yang menelpon aku dengan sangat tergesa-gesa, cemas dan mengerikan. Dia adalah rekanku yang akan ke Jerman nanti, kakakku, sekaligus juga Ayah bagi kami, karena segala keuangan dan tanggung jawab administrasi ada di bawah kendalinya.

“Dika, dirimu bisa ga ke Salatiga?”

“Ngapain mas?”, tanyaku dengan cemas

“Tolong mintakan tanda tangan SPPD ke PR II, kalo administrasi itu ga selesai sebelum kita berangkat ke Jerman, nanti uang transport kita dan yang lain tidak jadi cair dan kita harus mengembalikan dana talangannya. Tolong ya bisa ya, karena aku masih ribet mengurus SPJ-SPJ nya.”

Deg, aku yang juga termasuk ahlul SPJ terkejut plus ingin marah besar. Gila, ni kampus beneran ngadain tugas kunjugan belajar apa tidak sih sampai urusan kayak gini kami harus rempong. Dengan diikuti rasa pemakluman karena memang telah terbiasa sebelumnya waktu dilembaga, kusanggupi permintaan mas Joko tadi meski aku harus merubah sekian banyak agendaku sore itu.

Dengan dibekali uang saku darinya aku menaiki kendaraan serba patas menuju sebuah hotel di Salatiga tempat para Profesor UNS sedang rapat senat. Alhamdulillah 12 biji tanda tangan PR II dapat diperoleh meski harus menunggu beberapa waktu dan berhujan ria diiringi rasa khawatir kalau-kalau jadi flu di tengah perjalanan menuju ke Jerman nanti. Aku bisa pulang dengan selamat sampai di Solo lagi.

Hikmahnya, Indonesia hari ini harus melakukan perbaikan birokrasi dan mekanisme keuangan. Pertama, birokrasi di Indonesia ini terlalu ruwet karena banyaknya pegawai yang tidak semakin memperlancar administrasi tetapi memperlama dan mempersulit. Kedua, kondisi ini meningkatkan beban belanja negara untuk gaji pegawai negeri yang notabene banyak tenaga tidak produktif bahkan di tataran perguruan tinggi sekalipun. Ketiga, sistem SPJ uang negara itu sangat mungkin dipalsukan dalam kondisi wajar.

Jika ketiga potensi kerusakan itu tidak segera diperbaiki, kasus-kasus rempong seperti yang kualami akan terjadi. Itu hanya berakibat kecil dengan rasa capek dan perjuangan kecil. Kasihan mereka-mereka yang terlanjur cinta dengan uang sehingga mudah korupsi, termasuk sedikit dan hampir tak berkontribusi dalam kerja namun memperoleh imbalan yang lebih besar dari apa yang dikerjakannya. Semoga ini dapat menjadi tamparan keras bagi penulisnya sendiri.

Kategori
Catatan Perjalanan

Bersiaga 2 : Bertanya Pada Ahlinya

Hari berganti, dalam rangka memantapkan hati untuk melangkahkan kaki di negeri tempat Pak Habibie belajar, hari ini kami sowan untuk pamitan sekaligus menerima pengarahan dari jajaran pimpinan FKIP UNS. Kebetulah hari ini Bapak Dekan kami tidak bisa menemui karena jadwalnya kegiatan yang harus diikuti. Akhirnya kami langsung diwejang oleh Pembantu Dekan I yang juga doktor lulusan dari jerman. Di bawah nasihatnya, kami semakin merasakan dekatnya negeri Hitler itu di mata kami meskipun waktu keberangkatan kami masih menunggu 3 hari lagi.

Beliau berpesan untuk menjaga nama baik almamater kami dan memberi tantangan kepada kami berempat untuk menerbitkan sebuah buku yang berisi perjalanan kami selama di Wuppertal nanti. Wah, tak boleh main-main dong perjalanan kami nanti. Harus benar-benar dimanfaatkan untuk belajar dan mencari inspirasi.

Hal yang kemudian ditanyakan oleh salah satu temanku adalah bagaimana manajemen keuangan dalam masalah makan. Kata beliau, kalau tahan makan roti terus menerus hidup sebulan di sana bisa sangat irit. Terbersit dipikiranku untuk melakukan hal yang paling esktrim ini agar uang sakuku dapat dimanfaatkan secara optimal di perjalanan ke Eropa. Belanda, Belgia, Berlin, Paris harus bisa kukunjungi. Sudah jauh-jauh ke Eropa rasanya akan kurang kalo aku tidak sekalian menuntaskan mimpiku mengunjungi tempat yang beberapa tahun silam hanya seperti mimpi di siang bolong.

Kemudian aku bertanya tentang masjid dan kehidupan umat Islam di sana. Kata beliau Jerman sangat toleran dalam kehidupan beragama, dan banyak sekali kelompok mahasiswa Turki yang bisa diikuti dalam keperluan ibadah shalat Jumat dan pengajian-pengajian yang lainnya.

Aku berharap, semoga Allah memudahkan perjalananku nantinya.

Kategori
Catatan Perjalanan

Bersiaga 1: Belanja

Ini adalah rangkaian perjalanan fenomenal yang akan menjadi salah satu memori terindah dalam hidup, yakni menjejakkan kaki ke Eropa. Sesuai dengan cerita-cerita yang telah diungkap sebelumnya tentang kisah mengurus paspor dan visa, kini mimpi itu semakin dekat untuk direalisasikan. Ketika melihat kembali tanggal keberangkatan ke Eropa dari tiket yang sudah tertera di attachment email, kuputuskan hari ini untuk membeli sesuatu yang penting, yaitu koper dan pakaian untuk musim dingin. Karena selama bulan Desember nanti, Eropa berada dalam kondisi musim dingin.

Kukira aku harus mengeluarkan biaya mahal untuk sebuah koper yang biasanya aku pinjam sana pinjam sini. Karena rencana kunjungan belajarku sebulan, jadinya lebih baik membeli sendiri. Lagian uang saku yang ditunggu-tunggu juga telah sampai meski harus ditambahi oleh papa. Di gramedia Solo, kudapatkan sebuah koper Polo ukuran tanggung dengan harga sekitar 200 ribuan. Sehingga aku juga bisa membeli tas cangklong Eiger yang harganya sekitar 100 ribuan. Lumayan, bisa menjadi alat simpan yang lengkap selama bepergian nanti.

Malam harinya aku mengajak sahabat karibku untuk menemaniku membeli pakaian. Karena aku memang bukan tipikal shopper, apa lagi yang hobi nge-date dan jalan-jalan, aku sengaja mengajaknya sekaligus diskusi melepas kerinduan setelah lama tak bercakap dan makan bersama. Alhamdulillah malam ini hal itu dapat terjadi. Setelah mendapatkan sebuah celana jean tebal dan jaket super tebal akhirnya kami menghabiskan malam itu untuk berdiskusi ria tentang karir dan mimpi kami di masa depan. Kami mencoba mengingat kembali kisah perjuangan kami di masa lalu, masa-masa sekolah dan masa-masa remaja ketika meretas berbagai perubahan.

Semoga perbincangan kami ini menjadi penguat mimpi. Mimpi yang berisi kebaikan, dan mimpi yang selalu mendapat doa dari para malaikat.