Kategori
Misi Perubahan

Jokowi atau Prabowo?

Wis to, mau Prabowo atau Jokowi (atau nanti ada tambahan lagi) yang penting pilih dengan hati kita sendiri, jangan bersandar pada opini orang lain. Opini2 orang itu sejatinya menguji nalar sehat dan hati kita untuk membuat keputusan sendiri. Karena nanti kita sendiri yang akan bertanggung jawab atas pilihan kita.

Yang berbagi berita, tolong ya bagiin berita2 yang valid dan bermutu. Sehingga saling berlomba kampanye sisi positifnya, bukan belang2nya terus. Nek ndelalahe fitnah, lha endah dosamu melu2 nyebar kuwi.

Yang sudah teteg jadi pendukung salah satunya, ya sudah dukung aja, ga usah pake hantam yang lain. Teteg ing karep terus lakukan upaya terbaik untuk dukung capres pilihan.

Yang bingung sampai sekarang, sinis, skeptis, fanatik buta, dan kebanyakan komentar di berita-berita politik, silahkan hitung berapa kerugian waktu Anda akibat terlalu banyak baca gosip politik, berapa tingkat rasa sakit hati dan teraduk-aduknya perasaan Anda gara-gara tokoh Anda dijelek-jelekin, hitung berapa rasa sombong dan merendahkan Anda saat tokoh antagonis Anda diserang balik. Termasuk hitung habis berapa pulsa internet yang Anda pakai sepanjang masa pemilu itu akibat jadi relawan pengamat berita yang sejatinya adalah landing page iklan saat banyak dari para publisher ketawa-ketiwi menikmati iklan yang laris manis karena halamannya ramai.

Ini hanya curcol dari kamar lain yang suka nulis2 soal informasi2 antimainstream. Yang antimainstream aja utak utik keyboard di kamar bisa dapat uang jajan lebih dari cukup, apalagi wartawan-wartawan beneran yang udah ditarget kejar tayang bikin berita, apalagi berita pesanan.

Saya mantap untuk pilih presiden besok.

Facebook

Kategori
Misi Perubahan

Madzhab Baru Politik : Kerja

Apakah asumsi Om Darwis Tere Liye yang disampaikan oleh tokoh Thomas di Novel Negeri Di Ujung Tanduk bahwa politik itu adalah alat terbaik dalam bisnis omong kosong itu benar? Mungkin benar hari ini, karena rakyat juga menikmati omong kosong itu. Industri artifisial hari ini lebih laku, sehingga tidak heran jika pekerjaan yang berbasis kekhawatiran lebih laku dari pada perniagaan atas barang produksi masyarakat yang dibuat dengan kerja keras.

Oleh karena itu, mari yang masih tertarik untuk jadi kader parpol, maka mari kita buktikan kerja nyata baik dalam mencerdaskan dan menyejahterakan, bukan menipu dan menghinakan. Apakah bisa? Bisa karena bukti-buktinya juga ada dan pernah dilakukan oleh makhluk yang sama seperti kita, manusia.

Jika ada yang suka nyinyir sama kita abaikan, mereka paling cuma pengamat yang hobi komentar karena lagi stress jadi pengangguran atau orang yang sedang mengalami radang akut dengan lisannya (mungkin efek lupa tentang hadits Rasulullah tentang ke-Islam-an seseorang itu saat orang lain terjaga dari serangan lisannya). Karena orang yang baik sesungguhnya adalah yang baik pemahamannya, tahu tempat dan situasi dalam menasihati, dan mengeluarkan kata-kata yang baik saat menasihati. Bukan yang asal njeplak dan menghantam yang lain.

Facebook

Kategori
Misi Perubahan

Kadar Iman di Hati Kita

 Ada yang nanya


X: Mas, kamu tiap hari baca banyak berita ya?
Y: Nggak, ngapain buang-buang waktu gitu
X: Tapi kok jenengan kayake banyak dapat berita-berita bagus gitu
Y: Ya gampang, bertemanlah dengan orang-orang keren, yang pikirannya konstruktif, maka berita-berita yang dia share ya yang bermutu, ga hanya yang bully2 rusak gitu
X: Oh, gitu ya

Pernah menyempatkan melihat komentar-komentar di beberapa media mainstream saat sebuah kasus bergulir, terlihat beberapa tanda bahwa memang ada komentator bayaran, sebagian adalah orang-orang yg ga ngerti sistem tetapi sok tahu, dan lebih banyak orang-orang (mungkin stress) yang suka njeplak saja. Yang komentar dengan kotak FB juga sama, asal njeplak kebanyakan.

Apa solusinya? mari rakyat diajak ngopi dan menikmati hidupnya kembali agar tidak larut dalam pusaran berita politik. Pahamkan politik dengan cara yang benar dan sabar, bukan dijadikan alat kuantisasi massa. Jangan rusak orang-orang awam dengan propaganda yang terburu-buru karena hanya akan melahirkan kecemasan dan merusak tatanan hati mereka yang sejatinya di awalnya tenang dan damai. Cukuplah kita takut jika gara-gara kita rakyat mengalami kecemasan soal ekonomi sehingga lupa berserah diri kepada Allah karena terlalu mencemaskan masa depan mereka dan takut kehilangan uang.

Facebook

Kategori
Misi Perubahan

Berita, Emang Gue Pikirin

Ketiadaan standar pemahaman sejarah dan ketidakinginan untuk melihat realitas secara obyektif membuat kebanyakan orang hari ini masih percaya bahwa berita media massa adalah sumber informasi terpercaya. Padahal dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi, berita adalah konten yang bukan saja diperlukan untuk mengisinya melainkan sumber uang yang berlimpah. Fakta bahwa berita adalah komoditas bisnis hari ini bukanlah isapan jempol, tetapi belum disadari secara kolektif.

Dan yang paling disayangkan, sebagian kaum intelektual negeri ini menjadikan berita sebagai alat serang satu sama lain. Mereka yang menjadi tunas-tunas muda pemimpin bangsa lebih sibuk menjadi pembela barisannya sendiri dan pem-bully untuk semua hal yang dianggap lawannya. Menyedihkan sekaligus memuakkan melihat tingkah para pemuda yang doyan kepo di FB lalu sharing berita-berita yang saling menjatuhkan satu sama lain, tak jarang saling adu komentar yang lebih memalukan karena pisuhan hingga gunjingan memalukan menjadi hiasan dinding FB.

Ini ghibah yang lebih ngeri, karena bisa mencatut ribuan orang yang kebetulan membaca sharing orang yang sedang iri. Terlibat untuk saling membicarakan keburukan sementara waktu habis tidak ada action dan inovasi untuk perbaikan di masyarakat justru lebih buruk ketimbang mereka yang diperbincangkan dalam berita dan dianggap melakukan kesalahan. Memalukan dan amat rendah perilaku sebagian rekan mahasiswa yang lebih sibuk bergunjing ria di dinding jejaring sosial ketimbang diam dan bekerja semampunya untuk memperbaiki kapasitas dirinya dan meningkatkan daya juangnya di kemudian hari.

Menurutku, masalah kita percaya atau tidak percaya pada berita dan isu hari ini tidak akan terlalu berpengaruh pada nasib bangsa Indonesia ke depan. Yang justru berpengaruh adalah saat kita buang-buang waktu membaca berita dan memperdebatkannya, sementara hari-hari kian diliputi kebencian dan ketiadaan rasa ingin untuk memperbaiki diri dan keadaan yang ada di sekitarnya. Ini lebih ngeri, ini lebih buruk, karena 20-30 tahun yang akan datang nanti, calon pewaris negerinya berkarakter pembaca berita yang hobi ghibah dan suka menggunjing satu sama lain, tak jarang pula hobi merendahkan dan menyalahkan.

Istighfar, istighfar, mari memohon ampun kepada Allah atas keangkuhan diri kita yang selalu merasa paling benar sendiri. Cukuplah rasa sombong, rasa paling keren membuat kita gelap mata untuk mau merendah dan merunduk. Jika pemimpin-pemimpin hari ini masih berkeras hati, itu karena nasihat kita belum maksimal disampaikan dengan cara yang benar, dan doa-doa kita belum dipanjatkan lebih serius. Bukankah pemimpin itu cerminan kualitas rakyatnya, maka mengharapkan pemimpin yang hebat sementara rakyatnya tidak tahu diri adalah mimpi yang sangat keterlaluan.

Facebook

Kategori
Misi Perubahan

Damailah Indonesiaku

Besok mau pemilu, semua sudah unjuk gigi. Yang mau milih sudah ajak-ajak. Yang mau golput juga udah ajak-ajak. Yang diam2 besok juga ada yang milih dan ada yang golput. Silahkan pilih sesuai dengan hati nurani masing-masing. Yang jelas jangan memaksakan pendapatmu pada orang, bahkan sampai mengintimidasi. Telah kita saksikan di wall FB masing-masing pemandangan yang begitu beragam, suara optimis, pesimis, celaan, cercaan, harapan, dan segala tumpah ruah bangsa yang baru melek informasi (apa mungkin memang ini potret bangsa balita).

Semua akan menggunakan argumen yang antitesisnya sama-sama menyebalkan. Yang pro memilih berargumen untuk penyelamatan bangsa, antitesis yang sering disampaikan oleh orang golput, “apa gara-gara kemenangan pemilu maka bangsa akan selamat?”. Yang pro golput berargumen lebih variatif sesuai pijakan pemikirannya, antitesisnya juga tidak kalah sengit, “apa tidak berpikir bahwa berbagai kebebasan berhasil diraih saat ini adalah karena proses pemilu?”. Sejatinya semua pengandaian, karena hal terburuk belum pernah benar-benar terjadi di negeri ini. Tapi apakah harus menunggu hal buruk itu terjadi. Atau inikah takdir yang harus dialami bangsa yang besar ini bahwa akan semakin terpuruk.

Tidak, Allah memberi kesempatan kepada bangsa untuk merubah dirinya sendiri. Silahkan yang mau memilih konsisten dengan pilihannya. Yang mau golput itu haknya juga. Tetapi jika persoalan pilihan itu menyebabkan banyak hati tersakiti, semoga Allah memberikan cahaya-Nya pada penduduk negeri ini agar bisa memaafkan dan melimpahkan kesadaran atas lisan-lisan yang kadang kelewatan itu sehingga bisa menahan diri. Dan yang lebih penting tetap beramal untuk kehidupan ini, untuk pribadi dan sosial.

Semoga Allah memberikan kelapangan hati untuk penduduk negeri ini agar tidak nyinyir ke sana ke mari. Sehingga ibarat potongan tanah syurga ini benar-benar bisa disyukuri dan dijadikan tempat pengabdian hidup terbaik. Aku lebih suka ini, hijau, damai, sejahtera, dan di dalam naungan keridhoan Allah.

Facebook

Kategori
Misi Perubahan

Partai Kanda Sejati (PKS)

Ceritanya kemarin baca status yang ditag di wall-ku oleh salah satu junior di kampus. Wow, ga enak gitu rasanya. I did nothing to you adik. Kutipan yang diambil dari ustadz Salim A. Fillah itu membuatku teringat akan perjalanan di masa lalu juga. Eh, ternyata banyak kisah mirip yang kudapat dari beliau. Coba dibagikan deh.

“Dari Salim A. Fillah tentang Para Kanda Sejati” Selasa, 01 April 2014

Kultwit Ustadz @salimafillah
1) Para kanda mahasiswa itu hadir ke sekolah kami; dalam acara kerohanian bagi murid baru. Para alumni ini; shalih, rapi, & berprestasi. #ks
2) Konon meski telah lulus, mereka rajin sowan menghadap ke rumah para guru; menghaturkan bakti, menyimak ilmu, nasehat, & pengalaman. #ks
3) Tak heran, Ayahanda Kepala Sekolah & para pembina amat mempercayai & membanggakan mereka; mengundang mereka tuk membina adik-adiknya. #ks
4) Saya; jebolan pesantren yang serba tanggung dalam ilmu; takjub akan semangat mereka mendalami Islam, mengkaji, & beramal dengannya. #ks
5) Saya; yang masih duduk di awal kelas I SMA; merasa menemukan kakak-kakak yang ‘amat dewasa’ dalam beragama; tecermin dari akhlaqnya. #ks
6) Ya; ketika mereka mengajak kami Tilawah Quran; sesekali kami harus ‘lancang’ membetulkan bacaannya; & mereka lapang dada menerimanya. #ks
7) Para kanda mahasiswa itu pandai menempatkan diri sebagai ‘kawan sebaya’ dalam mengilmui Islam & mengamalkan nan diilmui bersama kami. #ks
8) Perjumpaan di program penyambutan & pembinaan awal itu berkesan di hati. Setelahnyapun, mereka sering tampak hadir di sekolah kami. #ks
9) Selalu ada raut bangga dari para guru kami saat mereka datang; pujian & himbauan agar kami mengikuti jejak mereka kerap terdengar. #ks
10) Satu saat, salah seorang dari para kakanda itu menemui saya & menawarkan; apa berkenan jika pembinaan berlanjut secara intensif? #ks
11) Saya, dengan semangat mengiyakan. Saya merasa ini jalan tuk memenuhi amanah guru saya di pesantren; Allahuyarham KH Mu’tamid Cholil. #ks
12) Beliau dulu berpesan; “Di manapun kamu; imani, ilmui, amalkan, & dakwahkan Islam ini; sabari jalannya dengan bersama orang shalih.” #ks
13) Maka saya menghimpun beberapa kawan. Jadilah kami melingkar setiap pekan; belajar Islam dibimbing beliau; sebut saja ‘Kanda Sejati’. #ks
14) Sebagai catatan; kini, 15 tahun kemudian, kami terpisah ke segala penjuru; tapi ukhuwah yang Kanda Sejati rajutkan tak pernah padam. #ks
15) Kami dikenalkan dengan Tilawah, Tazkiyah, & Ta’limul Kitab was Sunnah; tugas Rasul dalam mengajar ummat yang pula pewarisnya emban. #ks
16) Kami selalu memulai jumpa dengan bacaan Quran, setor hafalan, mengkaji aneka madah dari ‘Aqidah hingga Fiqh bersuasana kekeluargaan. #ks
17) Lalu ada taushiyah yang digilir tugasnya, disusul berbagi kabar gembira maupun duka, serta muhasabah yang kadang mengundang airmata. #ks
18) Saya selalu merindui pertemuan itu; bukan hanya karena tambah ilmu; tapi bagi saya, ia benar terasa sebagai perjumpaan karena iman. #ks
19) Menjelangnya selalu terngiang Mu’adz atau Ibn Mas’ud yang sesekali berkata, “Saudaraku, mari sejenak duduk, mari sejenak beriman.” #ks
20) Dalam hadits; ialah majelis dzikir yang malaikat mengerumuninya lalu melapor pada Allah. Yang hanya mampir sekalipun beroleh berkah. #ks
21) Sungguh terasa; ialah tempat dicurahkan rahmat, dinaungkan sayap malaikat, diturunkan sakinah, & para pesertanya dibanggakan Allah. #ks
22) Berjumpa Kanda Sejati adalah nikmat bertemu orang shalih; sinar wajah, kata, & geraknya; semua mengilhami kami dalam ibadah & ‘amal. #ks
23) Entah kaset, majalah, atau buku, kadang makanan & minyak wangi; Kanda Sejati sering membawakan kami buah tangan yang mengesan hati. #ks
24) Agaknya, beliau tak alpa memantau kami. Sering masalah kawan sekelompok yang kami belum saling tahu; beliau telah mencarikan solusi. #ks
25) Kawan yang tak cerita apapun tentang keluarganya terkejut saat Kanda Sejati bersama kami tetiba muncul di RS tempat ayahnya dirawat. #ks
26) Seorang kawan lain heran dengan biaya sekolahnya; ternyata sudah dibayarkan Kanda Sejati yang diam-diam ajak kami iuran membantunya. #ks
27) Kawan yang berbeda tersipu malu, saat ditepuk bahunya oleh Kanda sambil senyum di RS; kala menunggui akhwat pujaannya yang sakit;D #ks
28) Ya, hanya senyum. Itu nasehat beliau untuk yang masih melanggar larangan berduaan meski tahu ilmu. Petuah tanpa kata itu menghunjam. #ks
29) Saya pula pernah diusir pulang dari acara menginap yang disebut Mabit; karena Kanda tahu Ibu saya sakit, tapi saya memaksakan pergi. #ks
30) Kanda Sejati berjuang memperlakukan kami dengan hikmah; masing-masing sesuai kekhasannya, seakan dialah yang paling mengenal kami. #ks
31) Saya selalu takjub & bertanya; tentang segala biaya, tenaga, & waktu Kanda Sejati yang berharga; yang beliau korbankan bagi kami. #ks
32) “Sebab jika kalian kelak jadi pejuang Islam”, ujarnya satu hari sambil berkaca-kaca menatap kami, “Saya berharap memegang sahamnya.” #ks
33) Berat sekali. Tapi kesungguhannya membimbing kami membuat kami tak ragu bahwa Kanda Sejati pantas disebut sebagai “Sang Murabbi!” #ks
34) Begitulah, meski kami belum laik menjadi ‘mutarabbi’ baginya; sungguh saat-saat bersama beliau adalah hari terindah di masa sekolah. #ks
35) Di kelas III, beliau minta kami tuk mulai pula membina; sebab perbaikan diri akan terjaga dengan mengajar sembari belajar, katanya. #ks
36) Memang terasa ada kefahaman berlipat saat kami mulai jadi pembina adik-adik kelas. Rasa malu pada mereka, melecut pula ilmu & ‘amal. #ks
37) Ialah percepatan bagi kami; didikan pendewasaan yang diarahkan Kanda Sejati, dengan teladan membina yang beliau torehkan selama ini. #ks
38) Pergaulan dengan Kanda Sejati membuat wawasan dunia Islam & antarbangsa kami juga meluas. Tentang Palestina, ‘Iraq, hingga Amerika. #ks
39) Bagaimana dengan politik? Kanda Sejati hanya selalu menekankan kemenyeluruhan Islam nan sempurna, mengatur pribadi hingga bernegara. #ks
40) Dari Kanda Sejati kami kenal nama Rahmat ‘Abdullah, @hnurwahid, & @anismatta misalnya; tapi hanya karena tulisan mereka dikutipnya. #ks
41) Sungguh tak pernah Kanda Sejati melanggar ‘kesucian’ wiyata mandala sekolah kami, dengan membicarakan pilihan politiknya, misalnya. #ks
42) Kami hanya menduga-duga, mungkin di Pemilu lalu, Kanda Sejati memilih partainya Rahmat ‘Abdullah, @hnurwahid, & @anismatta itu; PK. #ks
43) Kami kian suka juga dengan tulisan-tulisan tokoh yang sering dikutip Kanda Sejati; kala itu kami baca dari Majalah Tarbawi misalnya. #ks
44) Satu hari, Kanda Sejati hanya memberitahu kami, bukan mengajak; bahwa akhir pekan nanti KH Rahmat ‘Abdullah akan hadir ke kota kami. #ks
45) Ketika saya & kawan lain memutuskan ikut acara yang bingkainya umum itu; bukan kepartaian; beliau ada di sana. Hanya tersenyum saja. #ks
46) Saat @anismatta, Sekjen PK hadir beracara di Jogja; kami tahu dari pamfletnya. Itu acara Partai; & Kanda Sejati tak mengabari kami. #ks
47) Tapi lagi-lagi; ketika kami hadir ke acara itu dengan niat cari ilmu; Kanda Sejati ada di sana; jadi panitia; & cuma tersenyum pula. #ks
48) Kami lalu berfikir, jika partai ini telah memberi hadiah pada kami berupa sosok sedahsyat Kanda Sejati; betapa bagus pengkaderannya. #ks
49) Kami lalu berfikir; jika di partai ini banyak sosok seperti Kanda Sejati; betapa ia layak untuk menjadi tumpuan masa depan negeri. #ks
50) Partainya Kanda Sejati ini aneh; kegiatannya Tatsqif untuk pembekalan ilmu agama, bakti sosial, berbagai layanan dakwah & keummatan. #ks
51) Kian saya banyak mengenal para kadernya; saya merasa bertemu ratusan sosok semacam Kanda Sejati; meski berbeda karakter khasnya. #k
52) Orang-orang ini tetap menjadi dirinya; hanya dicelup dengan ‘Tarbiyah’ hingga terbentuk kepribadian Islami & kepribadian dakwahnya. #ks
53) Sejak itu rela hati saya libatkan diri ke aneka kegiatan Partai ini. Dengan alami; tak disuruh Kanda Sejati; saya merasa jadi kader. #ks
54) Bagaimanapun, Kanda Sejati adalah jalan hidayah saya sebakda para Kyai di Ma’had; ia yang mengenalkan dakwah & perjuangan tuk Islam. #ks
55) Maka jalan hidayahnya Kanda Sejati; wadah di mana beliau digembleng, sangat layak jadi pilihan saya tuk ikut berjuang dalam Islam. #ks
56) Kala itu, sedikit-banyak saya telah pula mengenal berbagai jama’ah yang juga berjuang untuk Islam dengan aneka kebaikan pada mereka. #ks
57) Tapi berulang kali menimbang, Partainya Kanda Sejati menjadi pilihan utama saya melabuhkan ‘amal yang tak seberapa; karena cinta;) #ks
58) Mungkin setelah melihat kemantapan saya; satu malam, Kanda Sejati mengajak saya ke sebuah forum bersahaja yang tak asing rasanya. #ks
59) Sama dengan yang saya ikuti dengan beliau sebagai murabbinya; hanya saja, di rumah Ustadz itu rupanya Kanda Sejati jadi ‘mutarabbi’. #ks
60) Akhirnya; di hadapan seorang Ustadz yang teduh, lucu, bijak, & bicara ngapak, saya dikukuhkan sebagai kader Partainya Kanda Sejati;) #ks
61) “Konon memandang gunung itu lebih indah jika dari kejauhan saja”, nasehat beliau malam itu. Bersama waktu, saya menangkap maksudnya. #ks
62) Iya. Kala telah berada di dalam, tentulah saya menemukan ada banyak ketidaksempurnaan. Kanda Sejati & yang lainnya tetaplah manusia. #ks
63) Mereka ada salah & lupa. Tapi semua ketaksempurnaan itu terbayar oleh kebersamaan juang yang berasas kebenaran, kebaikan, keindahan. #ks
64) Sayapun dipindahbinakan beberapa kali, aneka watak Murabbi saya akrabi, tapi semua adalah ‘Kanda Sejati’. Amat banyak Kanda Sejati. #ks
65) Meski banyak pula empedunya, madu sebelanga yang ada di Partai Kanda Sejati tak habis-habis manisnya. Izinkan menyebut sebagiannya. #ks
66) Tertugas jadi relawan ke daerah bencana; Kanda Sejati telah mengatur agar para istri sekelompok binaan membantu yang ditinggalkan. #ks
67) Jika perlu membelanjakan; atau mengantar anak ke sekolah sekalian. Kanda Sejati menjadikan kelompok mengaji sebagai keluarga hakiki. #ks
68) Di situ rukun ukhuwah; saling mengenal, saling mengerti, saling menolong, saling menanggung, & berlomba mendahulukan hajat saudara. #ks
69) Salah satu Kanda Sejati; saat itu menjabat Wakil Ketua DPRD & setia dengan motor tuanya; membimbing kami memahami dakwah bernegara. #ks
70) Bahwa kita bercita mewujudkan Maqashidusy Syari’ah, yang dharuriyatnya telah diambil sebagai dasar negara oleh para Bapak Bangsa. #ks
71) Mereka merumuskan pancasila; Menjaga Agama dengan ketuhanan esa; Menjaga Jiwa dengan kemanusiaan; Menjaga Turunan dengan persatuan.. #ks
72) ..Menjaga Akal dengan hikmat kebijaksanaan, serta Menjaga Hak Milik Insan dengan keadilan sosial. Kini tugas kita tuk mewujudkannya. #ks
73) Dan kami jadi saksi, selama menjabat dengan bersahaja; beliau perjuangkan kebijakan & penganggaran pada kesemua tujuan syari’at itu. #ks
74) Menjadi kader Partai Kanda Sejati juga membuat saya banyak mengunjungi kegiatannya di sudut negeri; menatap benih kebajikan tumbuh. #ks
75) Dalam tema ‘Pengarus-utamaan Keluarga’, saya jadi saksi betapa Partainya Kanda Sejati amat memikirkan pondasi masa depan negeri ini. #ks
76) Demi generasi; mereka selenggarakan pembekalan pranikah, pelatihan kompetensi suami-istri; hingga keibu-ayahan, & pendidikan anak. #ks
77) Di sela-sela tugas daerah itu; saya sowan berkunjung pada banyak Kanda Sejati; menyimak & takjub, bangga & syahdu, menangis & haru. #ks
78) Bahwa para Kanda Sejati seperti pernah ditulis Yunda @helvy & rekan ‘Bukan di Negeri Dongeng’; masih terus ada & tak henti berbakti. #ks
79) Jika media kurang tertarik meliput bakti mereka; sebab mungkin bagi yang banyak kebaikannya, keburukanlah yang mencolok jadi berita. #ks
80) Dan citra buruk yang kian tertampil di hari-hari ini dengan izin Allah; moga tetap tanda cintaNya; lecut baginya tuk terus berbenah. #ks
81) Sebab kita semua percaya, dakwah Kanda Sejati ini milik Allah; Dia yang akan menjagaNya; Dia yang akan memilih & memilah tentaraNya. #ks
82) Seperti pasukan Thalut; akan tiba masa yang ‘minum dengan lahap’ dipinggirkan Allah dari perjuangan. Tamak itu melahirkan kelemahan. #ks
83) Yang akan teguh adalah mereka yang berkeyakinan; “Amat banyak kelompok sedikit mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah.” #ks
84) Moga kita dijaga tuk selalu mengimani; bahwa kejujuran & keadilan jauh lebih mampu mengundang pertolongan Allah dari harta & kuasa. #ks
85) Ini mula-mula yang harus dididikkan Partainya Kanda Sejati pada saya & semua kader lainnya; “Hiya liLlah, la lilkursi wa la liljah!” #ks
86) Agar kami senantiasa tak cuma berpatokan perilaku benar & halal; melainkan juga bersikap & bergaya yang patut, mulia, lagi terpuji. #ks
87) Inilah pula jadi kewajiban Partainya Kanda Sejati tuk dididikkan pada rakyat; jadi warga sejati; tak mudah dibeli berujung dikibuli. #ks
88) Pula harus ditanamkan oleh Partainya Kanda Sejati; seluruh warga bangsa berhak atas rahmat dakwah, & kaum muslimin raih mahabbahnya. #ks
89) Dengan tetap bernasehat; cinta pertama tetap menambat saya. BismiLlah, 9 April nanti insyaaLlah #SayaPilihPKS; Partai Kanda Sejati. #ks
90) Mungkin di antara Shalih(in+at) ada yang kecewa mengapa saya berkampanye begini. Maafkan kami, hidup sering mengharuskan memilih. #ks
91) Ini barangkali hanya tahadduts binni’mah; mengkhabarkan kenikmatan yang saya rasakan; yang saya ingin jua semua sempat merasakannya. #ks
92) Semoga termasuk tanda iman; saya mencintai & mengharapkan untuk saudara-saudara saya, apa yang saya cintai untuk diri saya sendiri. #ks
93) Betapa saya amat bersyukur, dipertemukan dengan Para Kanda Sejati; ingin sebersyukur Gurunda @felixsiauw yang lalu berjuang di HTI;) #ks
94) Sesiapa yang jadi jalan hidayah kita, tetaplah anugrah Allah yang takkan begitu saja kita kesampingkan dari doa, kata, & ‘amal kita. #ks
95) Maka saya khabarkan tentang mereka; Para Kanda Sejati saya dalam Islam; yang secara politik berhimpun membawa Cinta, Kerja, Harmoni. #ks
96) Kalaupun ada di antara mereka yang telanjur cacat di mata Shalih(in+at); moga masih ada nama lain yang layak tuk diprasangkabaiki;) #ks
97) Masih banyak insyaaLlah Kanda Sejati yang ingin berbakti pada Shalih(in+at) & negeri ini; “Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani”. #ks
98) Akhirnya; maafkan Salim yang lancang berbagi dengan kebodohan & kelemahannya ini; doakan selalu dia mampu mempertanggungjawabkannya. #ks
99) Tamat pernyataan ini; dari hamba Allah yang tertawan dosanya, santri tertahan kejahilannya, & jauh dari citanya jadi ‘Kanda Sejati’. #ks

Indahnya tatkala Allah mempertemukan pemuda desa yang bodoh ini, berasal dari kaum abangan namun diberi kesempatan untuk belajar mengenali Islam. Allah pertemukan aku dengan alm. KH. Muh. Hussein, sesepuh Muhammadiyah di Gunungkidul, ketua MUI, yang berlatar belakang pendidikan dari pesantren NU. Sejak awal aku dididik untuk menjadi golongan orang yang mengutamakan amal, bukan debat dan perpecahan. Lalu di sekolah bertemu dengan kakak-kakak alumni ROHIS Al-Farabi dari berbagai latar belakang pergerakan (IMM, IPNU, salafi, HTI, tarbiyah), terlibat meskipun penerimaan seiring dengan pemahaman.

Semua butuh proses panjang, butuh kesabaran dan pengelolaan emosi agar lebih matang dan tidak berlebihan. Saat emosi akan meledak kembali merenungi bahwa ilmu kita masih dangkal, pemahaman kita masih kurang, maka belajar dan mencari tahu lebih banyak lagi. Dengan melihat dan membandingkan semua itu, maka tentu secara fitrah kita akan memiliki kecondongan. Dan hingga hari ini aku condong dengan apa yang kuyakini untuk saat ini. Tetap belajar, slow dan terus belajar untuk mendengar dan berbagai semampuku. Inilah jalan indah itu, Jalan Cinta Para Pejuang. Dan tanggal 9 esok, itu hanyalah bagian kecil dari perjuangan ini, tetapi sangat penting artinya bagi perjalanan selanjutnya.

Menahan diri dari mencemooh akan lebih berguna agar waktu lebih banyak untuk beramal dan mendoakan kebaikan sesama pejuang. Karena kita tidak tahu dari mana Allah akan memberikan kemenangan atas ikhtiar yang dirintis dari saudara-saudara muslim di seluruh penjuru dunia. Semua memiliki kekurangannya, tetapi insya Allah kekurangan itu adalah jalan agar kita saling belajar berukhuwah, mengingatkan dengan santun dan mengedepankan persatuan. Saling menghargai pilihan saat di titik krusial yang seperti ini. Demikian ungkapan kerendahan hati Yuli Ardika Prihatama. Terima kasih untuk para guru dan kanda sejati yang memberi inspirasi sepanjang hidup ini.

Kategori
Misi Perubahan

Botol-Botol Yang Dipakai Orang

Aku masih ingat slentingan salah satu senior di SMA dahulu yang kini sudah terpisah jarak. Beliau pernah mengomentariku saat menulis status yang berapi-api nan idealis dengan, “Dasare cah enom yen urung kena butuh“ artinya dasar anak muda yang memang belum dibenani kebutuhan. Sejenak kurenungkan itu sebagai ejekan sekaligus ujian konsistensi di masa depan.

Lalu di kesempatan lain, saat forum halaqah, murabbiku juga menasihati agar saat menjadi anak-anak muda sebaiknya kelola emosi dan energy agar tidak berapi-api secara membabi buta. Memang saat muda itu ledakan emosi kerap memunculkan tindakan-tindakan heroik namun sekaligus menjadi utopis tatkala itu hanya pepesan kosong tanpa makna yang mendalam.

Hari ini di negeri yang kaya ini, kita sedang merayakan hari kebebasan dimana segala informasi berkeliaran mencari kepala yang berminat. Hari ini hari kebebasan dimana setiap mulut bisa berkicau seenaknya. Hari ini hari kebebasan di mana orang bisa membuat status, kicauan atau tulisan yang menohok hingga menghabisi reputasi seseorang. Tidak ada pengendali sama sekali, sekalipun itu pemerintah bikin regulasi. Semua kembali ke diri sendiri.

Hari ini aku tidak seperti biasanya melayani perdebatan dengan salah seorang junior yang lagi kesengsem (baca: lagi berkobar-kobar) dengan pergerakan yang diikutinya. Luar biasa sih kalau baca statusnya, meskipun sambil senyum-senyum mengingat banyaknya yang begitu di awal-awal lalu mengkeret di akhir. Dalam diskusi santai di pesan singkat FB aku melihat fenomena yang mungkin bisa digunakan untuk memprediksi kondisi umum hari ini ketika banyak yang melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan.

Hari ini anak-anak muda yang sedang berada dalam alam kebebasan informasi ini tak ubahnya botol-botol kosong tanpa pemilik. Siapa yang mengisinya, merekalah yang akan membawanya. Botol-botol itu diisi dengan satu zat yang homogen lalu dilabeli untuk digunakan menurut kepentingan pemiliknya. Maka jangankan mau diisi zat yang lain, digoyang biar sebagian isinya tumpah pun sepertinya mulai sulit. Maklum, botol tersebut seperti sudah tersegel. He he he

Sistem pembentukan generasi dengan mengisi botol kosong ini tak ubahnya perbudakan pemikiran dengan memaksa orang lain hidup di bawah bayang-bayang opini seseorang. Tentu hal ini tidak disamakan dengan apa yang dibawa Rasulullah, karena apa yang beliau bawa adalah pesan langit yang dapat diamini oleh banyak orang yang memiliki nurani sekalipun mungkin dia belum mengenali. Tetapi jika hari ini opini seseorang menjadi pembentuk mindset berpikir segelintir anak-anak muda yang seharusnya belajar banyak hal bukanlah itu bentuk perbudakan baru yang lebih mengerikan ketimbang perbudakan pola pikir.

Singkat cerita, diskusi yang lucu dengan selentingan celelekanku selalu dibalasnya dengan kiriman URL tulisan orang, terkadang tulisan dari orang yang sama dan menurutku kualitas pembahasannya amat jauh kualitasnya dibanding tulisan para ulama yang jelas-jelas menjadi rujukan banyak umat Islam di seluruh dunia dari masa ke masa. Alamak, opini serupa hujah Quran dan Hadits, ini berpotensi terhadap penyimpangan akidah jika tidak disadari dengan seksama. Salah tanpa sadar itu lebih berbahaya ketimbang salah lalu sadar kemudian hari. Semoga yang hobi beginian segera merenung.

Sepertinya dia tak puas dengan apa yang ingin dia jelaskan kujawab telak dengan hal-hal yang sederhana. Ya iyalah, sederhana saja karena sebenarnya junior ini tandanya masih seperti botol yang diisi lalu disegel orang. Semoga kelak terbuka untuk menerima warna-warni dan melihat dengan hati nuraninya yang jernih agar tidak berkobar seperti pepesan kosong itu. Tapi itu hanya harapan, karena sekali lagi, kita tidak pernah memaksa seseorang untuk berpikir seperti cara berpikirnya kita.

Menarik ungkapan salah seorang ustadz dalam kultwitnya, “kita belum tahu pasti bahwa perjuangan kita akan diridhai-Nya (karena ilmu dan keikhlasan kita mungkin belum seberapa), tapi kita tahu pasti bahwa permusuhan kita akan mendapat murka-Nya“. Maka dalam menyebarkan suara-suara kebaikan hendaknya kita memperhatikan etika dan melihat kondisi sekitarnya. Karena bukan hanya masalah pesan yang akan tersampaikan, tapi dampak suasana hati orang lain juga harus diperhatikan. Tak bisakah kita belajar dari Rasulullah yang terkenal mampu menyamankan suasana hati orang-orang yang didakwahi. Yang sudah dinyamankan saja menolak mentah-mentah (seperti Abu Jahl), apalagi yang sejak awal didakwahi dengan cara yang nylekit.

Sahabat, mari kita menjadi membran semipermeabel, jangan menjadi botol kosong tanpa pemilik. Kita adalah individu yang harus bekerja sama dalam perjuangan ini, namun kelak mempertanggungjawabkannya sendiri-sendiri. Apakah kita akan menyalahkan seseorang gara-gara kita terlalu menuhankan opininya untuk menghina saudara yang lain. Dan sebaliknya apakah kita mau menanam saham kesesatan katas pengetahuan prematur kita namun kadung didoktrinkan kepada orang lain. Ayuk belajar dan hati-hati dalam berbagi. Itu saja.

Kategori
Misi Perubahan

Mahasiswa, Mari Berpikir dan Bekerja

Masih berkaitan dengan musim panas 2014 ini. Usai musim semi berlalu, kini suhu panas mulai terasa. Situs Facebook yang semula biru sepertinya mulai memerah dalam imajinasiku. Banjir informasi dari para pengamat jadi-jadian sepertinya masih belum ada habisnya. Sebenarnya sih memang tiap hari ada, tetapi mungkin intensitas di waktu-waktu ini semakin banyak dan semakin sengit.

Aku mengapresiasi para pengguna Facebook maupun jejaring sosial lainnya yang lebih peduli membagikan inspirasi-inspirasi yang baik ketimbang banyak membuka polemik dan diskusi-diskusi yang tidak pada tempatnya. Mari kita ingat, bahwa Facebook bukanlah subtitusi atas silaturahim dan kebersamaan kita. Sehingga lebih baik kita gunakan ia sebagai tempat berbagi hal-hal yang lugas dan mudah dimengerti oleh semua orang.

Membagi-bagikan berita hari ini menurutku bukanla tindakan relevan mengingat informasi adalah salah satu komoditas jualan yang laris di era teknologi informasi seperti sekarang. Biarlah pemilik situs berita yang membagi beritanya secara membabi buta. Kita pilih-pilih yang baik-baik saja, inspiratif dan yang tidak kontroversial.

Bukankah dalam kaidah beragama kita diperlukan tabayyun atas sebuah informasi. Karena kita mungkin tidak sempat untuk cek dan ricek semua hal yang kita ketahui, maka mari pilih-pilih yang maslahat saja, bukan yang mengundang debat dan kontroversi. Juga kita pilih informasi yang masih dalam jangkauan kapasitas kita untuk dibagikan ke orang lain.

Khusus buat rekan-rekanku yang masih mahasiswa. Kita adalah penyandang gelar kaum intelektual. Mengapa masih menggunakan metode-metode pragmatis seperti itu dalam belajar? Bermodal berita lalu membuat banyak sensasi. Masyarakat membutuhkan pemikiran dan kerja keras kita kawan. Minimal kita hadir sebagai solusi dan tidak lagi menjadi bagian dari pengangguran yang selalu menengadahkan tangan kepada orang tua kita.

Indonesia butuh mahasiswa yang bekerja dan berpikir untuk kemaslahatan bangsanya. Bukan politisi duplikat generasi sebelumnya yang hanya gemar berkicau sambil mencuri brankas negara. Mari kita hilangkan perilaku korup kita dengan menjaga kehormatan diri dari kebiasaan menyontek saat ujian dan membangun idealisme saat bekerja. Itu lebih sulit untuk dijalani memang dari pada jadi pengamat berita dan mengomentari fenomena. Tapi itulah yang dibutuhkan negeri ini, bukan status kesarjanaan kita yang ternyata hanya digunakan untuk kelengkapan administratif di tangan bos-bos asing.

Sahabatku, mari bersama kita berpikir dan bekerja untuk Indonesia yang lebih baik. Bekerja dalam diam, berjuang dalam kesunyian, biarkan speaker keras bergaung di luar, tapi kita tetap tenang menyelesaikan pekerjaan kita di kamar yang gelap dan hanya diterangi lampu temaram.

Kategori
Misi Perubahan

Tokoh & Kaderisasi Partai Politik

Saat ini tokoh populer seperti Jokowi, Aher, Ridwan Kamil, Tri Risma, dan beberapa yang lainnya santer terangkat ke publik. Paling laris adalah Jokowi, sosok Walikota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, lalu melangkah menuju kursi calon presiden RI 2014. Media mengelu-elukannya, termasuk banyak rakyat yang juga mendukungnya. Tapi banyak juga yang kecewa dengan pencapresannya dan menolaknya. Yah begitulah suara riuh di bangsa yang bebas dalam hingar bingar demokrasi.

Menarik sekali saat saya menyimak tulisan Opini Uda Yusuf, tentang Politik Tanpa Partai Politik yang pernah dimuat di detik.com. Fenomena mulai tidak percayanya rakyat pada partai politik menurut beliau adalah imbas dari hilangnya pengaruh ideologis dalam masyarakat saat memilih, kemudian diikuti parpol yang gagal melakukan kaderisasi dan lebih memilih menjadi administrator bagi orang terkenal atau pun pengusaha yang ingin merebut kekuasaan.

Seperti dalam tulisan saya sebelumnya, fenomena inilah yang menjadikan Pemilu 2014 mendatang sebagai ajang tes bagi parpol apakah cara mereka dalam mendulang suara melalui pencitraan dan popularitas tokoh masih efektif atau partai-partai yang konsisten mengusung kadernya yang kan sukses. Parpol yang konsisten dengan ideologinya akan diuji apakah mereka tetap teguh atau mencair demi mengejar popularitas. Sementara itu bagaimana partai yang hanya menjadi administrator dan jalan para orang berduit untuk berjudi dengan pemerintahan negeri ini juga akan kita saksikan nati.

Intinya hari ini, masyarakat perlu belajar bagaimana sebuah parpol serius atau tidak melakukan kaderisasi untuk mencetak politisi yang bertanggung jawab. Saya kira tidak ada partai satu pun yang saat ini terdaftar di Indonesia dan lolos verifikasi memiliki haluan kiri. Partai-partai di negeri ini pasti berhaluan Islam atau nasionalis. Artinya secara teori kader-kadernya seharusnya tumbuh menjadi manusia Indonesia yang membela kepentingan bangsa ini.

Terlepas ada kontroversi bahwa tokoh Islam lebih berorientasi kepada umat Islam yang mayoritas itu juga baru sebatas asumsi dan tuduhan atas ketidaktahuan sejarah. Lihat saja siapa Cokroaminoto, siapa H. Agus Salim, siapa Mr. Kasman Singodimejo dll. Apakah mereka dari partai Islam lantas mengabaikan sisi kebangsaan. Bagaimana dengan yang sekarang? Nah itu hanya pandangan skepstis yang dihembuskan di tengah musim panas politik hari ini.

Kran pemilihan pemimpin secara langsung terpaksa dibuka adalah karena saat ini parpol tidak dapat dipercaya lagi sebagai tempat menyalurkan aspirasi rakyat. Tetapi sebenarnya sama saja ketika baik parlemen maupun media telah dibajak untuk kepentingan kapitalisme ya rakyat tetap akam tertipu. Maka daripada membubarkan parpol atau membiarkan parpol ada seperti dalam ketiadaannya untuk saat ini bisa jadi menimbulkan masalah yang lebih ruwet. Lalu apa? Ya kita perbaiki saja sistem kaderisasinya.

Langkah konkrit untuk masyarakat adalah kenali partai yang serius membina politisinya. Lalu putuskan untuk mendukung politisinya yang baik dan konsisten (ya realistislah, pasti tidak ada politisi seperti malaikat, tetapi rekam jejaknya dapat menjadi catatan kita untuk mendukungnya). Tapi ini adalah upaya antimainstream, karena sudah pasti lebih banyak masyarakat yang akan mendukung mereka yang mengeluarkan uang. Tidak perlu putus asa, rakyat butuh dipahamkan pelan-pelan agar tersadar. Jika kaum inteleknya bisa sadar lebih awal insya Allah masih ada jalan keluar.

Jangan sampai negeri ini dibajak melalui demokrasinya sehingga partai politik hanya menjadi alat penindas rakyat dan muncul tokoh-tokoh populer yang mungkin saja tidak semua mereka pahlawan yang sebenarnya. Karena media dan segala sarana informasi dapat saja dibajak untuk meroketkan nama seseorang. Celakanya rakyat sudah tidak pernah membuat penilaian yang lengkap atas seorang tokoh, hanya berdasarkan visualisasi yang mereka tangkap lalu memilihnya. Wow, negeri ini akan menjadi tempat konser paling fantastis didunia nantinya. Mengerikan sekali.

Pesan khusus kepada rekan-rekan mahasiswa di kampus. Maka betapa pentingnya membangun sebuah kaderisasi yang baik di organisasi kampus. Karena itu sesungguhnya tempat belajar kita, baik mau jadi politisi atau tidak. Karena jika sebagai politisi maka itu adalah hal mutlak untuk dijalankan, jika tidak menjadi politisi itu juga modal penting untuk mengedukasi masyarakat. Jika sejak di kampus tidak serius, maka jangan-jangan kita yang disubsidi negara ini adalah golongan pengkhianat yang tidak sadar. Aku berlindung kepada Rabb-ku.

Di sini kita bergabung demokrasi karena itu adalah jalan terhalus untuk menyuarakan aspirasi mayoritas umat Islam yang hari ini terkungkung oleh berbagai kebijakan yang salah. Seiring dengan edukasi masyarakat yang baik dan sinergi, semoga kelak mewujud sebuah tatanan kehidupan yang lebih baik. Sulit membayangkan? Mungkin karena emosi dan kedengkian lebih meluap di hati hingga rekan seperjuangan kerap dicibir lebih buruk ketimbang musuh.

Dan yang hanya koar-koar seperti biasa. Maaf tulisan ini tidak melayani diskusi soal itu. Jika berani jangan hanya mengejek dan membuat celaan. Buktikan langkah konkritnya. Jika hanya konsep, insya Allah para pejuang di jalur ini juga punya visi besar untuk menerapkannya ke depan. Yang atas berjuang, yang bawah berjuang dengan kaidahnya masing-masing. Biarkan yang mengejek tetap melakukan tugasnya, tetap dihargai karena mungkin itulah karya terbaik yang sanggup dipersembahkannya, yakni “mengejek“. Jadi tidak perlu dilayani, toh sudah bekerja dan berpikir keras juga kok. Selamat.

Kategori
Misi Perubahan

Media Massa & Musim Semi Politik

Menjelang Pemilu 2014 April mendatang, setiap partai politik menunjukkan dinamikanya. Sudah pasti, media massa akan mengekspos berita berdasarkan kepentingannya masing-masing. Yang lucu, berita yang di media online akan dibagi-bagikan gratis di jejaring sosial, diperdebatkan, dan mungkin diluar itu dijadikan bahan untuk bermusuhan. Mungkin.

Ada yang mungkin tidak banyak disadari. Karena awalnya aku juga termasuk orang yang intens menyimak berita dan menjadikannya sebagai rujukan informasi terpercaya. Tetapi sejak menjadi blogger dan mendalami dunia periklanan media online, sekarang hanya bisa ketawa-ketiwi melihat orang debat dan eyel-eyelan soal berita, apalagi jika itu gosip artis dan berita politik.

Bicara kredibilitas pemberitaan media hari ini sangat naif. Bukan berarti media itu bohong, berita-beritanya bisa jadi banyak yang benar dan faktual. Tetapi bukankah media itu adalah salah satu pos bisnis, ladang para kapitalis menanam investasi. Jadi apa yang menjadi sisi lain dari berita, tentu saja uang. Nah, maka tidak usah heran bahwa media baik secara ekstrim atau tidak pasti mengusung sebuah misi. Yang sudah kapitalis sudah barang tentu semua pemberitaannya bertujuan untuk mengeruk keuntungan. Yang masih idealis tentu juga mengusung propaganda ideologinya. Dan yang jelek adalah media-media yang membabi buta.

Maka membaca berita itu ya biasa-biasa saja lah. Jangan sampai kita membaca berita itu menetap di satu situs. Cek dan ricek sangat penting agar kita tidak menjadi berat sebelah. Dan jangan serius-serius sampai meluap emosi. Masak baca berita saja sampai begitu serius, sedangkan saat tilawah cuma kayak orang nyanyi tanpa ada luapan emosi dan perasaan yang mendalam. Kok jadi kebalik-balik begini. Bukannya berita tidak penting, tetapi berita yang disiarkan media massa tentu tidak lebih penting kan jika dibandingkan dengan informasi-informasi akurat yang menyangkut sendi keimanan kita.

Maka terlalu memposting berita yang subyektif di Facebook menurutku justru menonjolkan sisi kefanatikan kita. Terlalu memuji berita yang menurut kita baik, sebaliknya terlalu mengejek berita yang menurut kita buruk justru akan menimbulkan stigma buruk di tengah banyak orang bingung identitas dan mencari suara yang buruk hari ini. Sementar pengusung kebaiknnya sedikit, dalam jumlah yang lebih besar suara keburukan berkobar. Yang berniat menyuarakan kebaikan tapi salah langkah, ujungnya jadi pembully-an rame-rame.

Menurutku, Indonesia mengalami musim aneh dalam politik (just kidding). Ada musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Sayangnya musim semi dan musim panasnya hanya sesaat. Selebihnya musim gugur dan musim dingin. Musim dimana parpol kembali lupa kepada janjinya di musim semi dan musim panas. Mereka bersemi menjelang lelang kekuasaan, panas saat dekat dengan perebutan kekuasaan. Tapi tiba-tiba gugur saat kekuasaan di tangan dan yang lain menjadi oposisi. Lalu menjadi musim dingin untuk waktu yang lama sekali. Tak ada kehidupan, tak ada harapan selain salju putih yang terlihat indah dikejauhan tetapi dingin menyiksa dan menyisakan luka. Perih sekali bukan.

Nah, pilihlah partai yang mampu menjanjikan musim semi dan musim panas yang panjang. Karena di negeri ini baju musim dingin mahal, apalagi rumah-rumahnya tidak ada penghangat ruangannya. Kenalilah partai yang menjanjikan musim semi dan panas yang panjang itu. Jangan tertipu dengan salju, karena ia dingin dan hanya indah di foto saja untuk dipamerkan.