Kategori
Kilas Sejarah

Tiga Permata di Zamannya

Tiga sepupu, permata Islam di zamannya, yang termasyhur kesalihannya, cucu tiga sahabat mulia dan raja diraja Sasania Persia 

  1. Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq (buah pernikahan Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq dengan Putri Pertama kaisar Yazdajirda III Persia)
  2. Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab (buah pernikahan Abdullah bin Umar bin Khattab dengan Putri Kedua kaisar Yazdajirda III Persia)
  3. Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (buah pernikahan Husain bin Ali bin Abi Thalib dengan Putri Ketiga kaisar Yazdajirda III Persia)


Ketiga putri Raja Diraja terakhir Persia adalah tawanan dalam penaklukan yang dilakukan Sa’ad bin Abi Waqash dan akhirnya memeluk Islam sehingga dinikahkan dengan putra-putera terbaik sahabat Rasulullah yang mulia.

Dari ketiganya, al-Qasim dan Salim menjadi ulama Madinah terkemuka di zamannya. Sedangkan Ali Zainal Abidin dikenal sebagai keturunan terbaik dari orang Arab dan Ajm (non-Arab) pada zamannya karena beliau adalah keturunan langsung Rasulullah dari Fatimah az-Zahra dan raja-raja Persia.

Bagaimana dengan Syiah? Mengapa berkembang di Iran? dan ……… ikuti saja sejarah ini, runut sampai banyak titik temu yang terang. Sesuatu yang dipenuhi muatan politis tidak akan pernah mampu menghilangkan cahaya Allah, Islam, jalan para nabi dan ulama ahlus sunnah.

Facebook

Kategori
Kilas Sejarah

Lembaran Sejarah Kita yang Jaya

Dalam sebuah diskusi yang menarik dengan teman-teman yang pernah mengikuti kajian ke-Islam-an dengan salah satu pembicara DDII Jateng ada kajian tentang pondasi spiritual orang Jawa sebelum datangnya Hindu-Buddha dan Islam.

Pertanyaan yang belum terjawab dan baru praduga, mungkin dulu Allah pernah mengirim seorang nabi di masyarakat Jawa sebelum datangnya Islam. Hal itu terlihat bagaimana hakikat ketuhanan masyarakat Jawa itu tetaplah maha tunggal, jauh lebih tinggi dibandingkan agama-agama yang datang dari India. Aku sendiri ketika pernah mempelajari kitab perang Bharatayuda menemukan adanya hal aneh, bahwa di atas Bathara Guru, masih ada yang paling tinggi, Sang Hyang Wenang. Maka dari itu, meskipun kedatangan ajaran Hindu dan Buddha dari India yang sangat berbeda, maka akhirnya ajaran itu mengalami akulturasi mengikuti basis keyakinan masyarakat Jawa sebelumnya. Itulah mengapa bangunan-bangunan megah baru berdiri dimasa dinasti-dinasti India itu berkuasa.

Setelah berakhirnya Mataram Hindu, disitulah mulai banyak tanda tanya sejarah. Termasuk tanda tanya besar adalah mengapa Islam begitu berakar di masyarakat nusantara ini. Banyak fitnah yang dihembuskan bahwa Islam yang menghancurkan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha itu, padahal siapa yang tahu bahwa barangkali di masa Airlangga, masyarakat muslim telah berkembang pesat di pesisir nusantara. Itulah mengapa peninggalan-peninggalan masa itu bukanlah candi megah semacam Borobudur dan Prambanan melainkan kitab-kitab yang bijaksana. Apakah ini pengaruh dari Islam, karena di masa keemasan Islam, warisan terbaiknya adalah tata kehidupan masyarakat yang madani dan kitab-kitab yang inspiratif.

Apakah ada nama Gadjah Mada? Karena bahkan ada sejarawan India yang menganggap nama itu ganjil. Bagaimana dengan Gaj Ahmada, itu terlihat lebih Islami. Ah otak atik gatuk katanya. Okelah, tolong kawan-kawanku yang belajar di bidang ilmu sejarah. Ini adalah ladang besar untuk mengungkap dan merekonstruksi sejarah negeri ini yang puluhan tahun disandera hingga kita tidak bisa menemukan kebanggaan pada nenek moyang kita. Kita tetap partisan dan mengklaim bahwa pahlawan yang ini milik kita, yang itu bukan. Jika kalian mau mengambil bagian ini, maka sungguh akan ada pintu ilmu yang terbuka yang selama ini tidak pernah kita ketahui. Selagi kran kebebasan masih terbuka di mata kita.

Kita belum menemui fase kebangunan sejarah. Kita bingung dalam sejarah kita bukan. Karena kita belum bisa mengakui secara obyektif tentang fase perjuangan bangsa ini. Sementara Snock Hurgronje dan timnya telah berhasil memahami sejarah masyarakat Indonesia sehingga dia berhasil membangun serangan mematikan di masyarakat. Yang Aceh dan Sumatra, diadu domba ulama dengan penguasanya. Yang di Jawa dihidupkan ilmu kebatinannya dengan dalih kembali ke ajaran pra Islam. Dan hari ini, banyak kita lihat saudara-saudara kita sekalipun menjadi seorang muslim, tetapi telah kehilangan kebanggaannya atas keyakinan yang agung ini. Di sisi lain, kita juga menjumpai segelintir yang bersikap kasar dan bengis kepada pemeluk agama yang lain sehingga timbul persepsi negatif tentang Islam.

Sungguh aku ingin berfoto dengan kebanggaan di depan lukisan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sultan Hassanuddin, Imam Bonjol dan yang selainnya sebagaimana Recep Tayyip Erdogan yang dengan penuh kebanggaan berfoto memakai baju kebesarannya di depan lukisan Sultan Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, pemimpin terbaik yang dijanjikan oleh Rasulullah shallahu’alayhi wasallam setelah beberapa kali di dinasti sebelumnya, kaum muslimin menemui kegagalan. Kita tidak perlu ribut soal pahlawan kita siapa, tapi mari kita menunduk dan melihat kembali jejak-jejak mereka yang juga manusia biasa, ada celanya juga, namun sungguh inspirasi yang mereka hadirkan untuk kita pasti akan membuat kita berhenti untuk mengeluh dan mencela seperti kebanyakan orang hari ini.

Mari buka lembaran sejarah kita, bukan untuk nostalgia, tapi untuk mencari inspirasi kebangunan umat di akhir zaman. Bukan dengan diskusi saja, melainkan berpikir mendalam untuk mencari mata air-mata air kegemilangan peradaban yang pernah menyerlah di bumi Allah ini. Ini tugas kita, para pemuda yang masih diberi kebebasan intelektual untuk belajar dan mencari itu, sebelum kelak kebebasan dibabat habis atau masa perang dikumandangkan. Karena jika kita beriman, kita percaya ada akhir zaman yang akan mengantarkan kita pada kemenangan sejati. Sekali lagi, kita akan menang dan tegaklah Khilafah alaa Minhajin Nubuwwah di muka bumi ini sebelum hari akhir itu tiba.

Kategori
Kilas Sejarah

Uang Kertas, Sejarah yang Terlupakan

Sebagai penyuka diskusi soal Freemasonry dan turunannya, serta penyuka Sejarah Kejayaan Islam, melihat fenomena politik di negeri ini apalagi berita-berita media saat ini yang begitu asyik bertaruh atas kebodohan cara belajar masyarakat Indonesia menjadi sangat memuakkan. Bagi yang tertarik untuk mengenal sejarah uang kertas dan dampak panjangnya hingga timbul berbagai perang dunia bisa menghubungi saya.

Penulis2 ini adalah orang-orang Barat yang masih jujur dan berani, analis yang cerdas, yang kemudian dikompilasi dalam bentuk catatan waktu. Dari sini setidaknya saya tahu bagaimana berdarah2nya beberapa Presiden Amerika (yang baik) melawan para bankir internasional hingga mereka berakhir tragis (sebelum Kennedy, telah ada banyak presiden yang tegas dan berakhir dengan mengenaskan). Bagaimana Rusia di masa Tsar Nicolas Rusia yang awalnya mendukung Amerika dalam memerangi bankir Amerika hingga akhirnya mereka digulingkan oleh kekuatan Sosialisme.

Hanya ada satu sistem ekonomi di dunia ini yang sulit dikendalikan dengan kekuatan bankir, sistem ekonomi Islam. Sayangnya masyarakat saat ini terlalu bodoh untuk mengerti logika-logika yang sangat rumit ini. Boro-boro mempelajari logika yang sangat rumit ini, wong meyakini bahwa sistem ekonomi syariah ini benar saja susah, apalagi memplejari lebih detil dan mendalam dan mengamalkan pelan2 dalam jangkauan yang mampu dilakukan. Kapitalisme dan Sosialisme adalah dua hal yang sejatinya sama saja. Keduanya adalah media untuk menghandam dunia Islam. Keduanya adalah alat yang dapat dijadikan instrumen perang bagi negara-negara penganutnya, karena peranglah generator uang tercepat untuk menumpuk kekayaan para bankir dunia yang sejatinya selalu aman terlindungi dibalik pemerintahan yang memuja kapitalisme dan sosialisme itu.

Saya sangat sadar, menjadi presiden Indonesia atau negara dunia manapun saat ini bisa jadi akan berakhir “mengenaskan” seperti Presiden John F. Kennedy atau yang sebelumnya yang berani menentang sistem mengerikan ini. Umat membutuhkan kemandirian ekonomi, jikalau kita belum berhasil mendapatkan pemimpin segagah Umar bin Khattab, sehebat Umar bin Abdul Aziz, secerdas Harun al-Rasyid, sekuat Shalahuddin al-Ayyubi, sebrilian Muhammad al-Fatih atau semegah Sulayman al-Qanuni setidaknya di masa belajar ini kita tidak mempecundangi diri dan pola pikir dengan berbagai ketakutan yang tidak berdasar saat ini. Hanya Allah tempat bertawakal kita, kita serahkan segala urusan kepada-Nya karena Dialah yang maha Kuasa dan maha besar untuk mengalahkan para penganut ajaran LUCIFER itu.

Facebook

Kategori
Kilas Sejarah

Balada Sejarah

Ceritanya, aku iseng-iseng kepo di linimasa Prof. Ahmad Mansur Suryanegara (penulis Api Sejarah 1 & 2). Ternyata aku mendapatkan sebuah postingan yang menarik di sini. Sebuah puisi yang bagus dan menyentuh. Mari kita nikmati bersama.

 

BALADA SEJARAH

Ada yang hilang dari hati
Ada yang pergi dari nurani
Galau hati ketika ada tanya
Gagap tak ada jawab
Seakan tersedak tersekat

Aduhai

Siapa sosok Pahlawan Negeri ini
Siapa yang bertaruh jiwa dan raga tuk negeri ini
Siapa perintis kemerdekaan negeri ini
Ya Allah samar samar

Mereka tak tahu siapa Samanhudi
Mereka tak paham siapa HOS Tjokroaminoto
Siapa Panglima Sudirman
Mereka hanya tahu nama nama jalan

Aduhai siapa penghinat penohok jantung
Siapa durjana penjual negara
Semua terbelak kelu
Tak tahu jawab apa
Salah siapa ini salah siapa
Bila mereka lebih tahu Justin Biber
Mereka lebih tahu Lady Gaga
Dan seabreg nama animasi

Adalah ketika anak bangsa bertanya kepada ayahnya
Tentang Sejarah Nusantara Indonesia
Sang ayah hanya melongo
Sama sama tidak paham sejarah …….. Payah
Anaknya menangis pilu
Kemana kami bertanya
Tentang Sejarah Negeri ini
Kemana kami bertanya
Kemana kami mencari jati diri bangsa ini
Di sekolah tak ada lagi pelajaran Sejarah
Tak ada lagi kejujuran
Tak ada lagi amanah
Karena pelajaran budi pkerti pun tiada

Aduhai masih pantaslah kami berharap
Generasi sejati berakhlak mulia
Dan tidak lagi m e l u p a k a n s e j a r a h

Bandung Syarikat Islam
IIK HIKMAH
08122252210

Dikirimkan oleh seorang Ibu, ketika Bedah Buku
API SEJARAH 1&2 di tengah Warga SYARIKAT ISLAM
di Aula Universitas Kebangsaan Indonesia di Bandung.

Facebook

Kategori
Kilas Sejarah

[Tambahan Notulensi] Diskusi Hari Pahlawan Bersama Teman-Teman KAMMI UNS

He he, sebelumnya mohon maaf terlebih dahulu kepada rekan-rekan KAMMI yang tadi ikut diskusi. Setelah membaca laporan notulensi yang diposting oleh admin FB Kammi UNS, saya perlu menyampaikan penjelasan tambahan yang menyangkut pernyataan-pernyataan saya agar tidak menimbulkan salah persepsi di kalangan para pembaca.

# mahasiswa melakukan aktivitas-aktivitas semacam ini (diskusi-red) adalah bentuk aktivitas yang seyogyanya “biasa“ dilakukan mahasiswa, sebagai salah satu upaya melunasi janji kemerdekaan

# sejarah merupakan landasan filosofis bagi kita untuk bergerak ke depan, diiringi dengan kemampuan intelegensia yang dimiliki setiap orang

# tentang visualisasi tadi saya menyinggung soal kegiatan upacara2, iklan2 hari ini yang menyangkut hari pahlawan (koreksi sedikit)

# sejarah itu rekonstruksi tentang masa lalu yang dituliskan untuk menjadi pedoman di masa selanjutnya

# terkait pertanyaan Amin tentang siapa Soekarno dan komunis yang membayanginya saya menjawab kurang lebih seperti ini, “ini bukan sebuah kepastian jawaban, tapi tentang dirinya ada banyak versi yang kita dapati. Dalam buku-buku sejarah yang umum, dia sosok yang hebat, dalam buku-buku yang dahulu sependapat dengan Kartosuwiryo, dia dianggap berkhianat dan menghancurkan berdirinya negara Islam. Dalam buku Soekarno File, dia disebut pro komunis dan akan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Dan jika kita membaca tentang Peter Bek yang dikenal sebagai agen freemason, maka kematian Soekarno dan kejatuhannya adalah karena campur tangan sang agen tersebut. Namun demikian, saya pribadi menyimpulkan bahwa Soekarno adalah orang besar, presiden terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini di antara presiden yang lain. Keberaniannya membawa Indonesia keluar dari PBB ketika itu bisa jadi karena dia melihat adanya dominasi kapitalisme di PBB dan dia membangun poros Jakarta – Peking – Moskow sebatas membuat perimbangan kekuatan saja.

# tentang hal-hal yang sifatnya gado-gado tadi untuk menekankan dua hal, pertama mengajak teman-teman menganalisis logika sejarah yang sudah umum berkembang saat ini seperti peralihan masa Hindu-Buddha ke Islam dan penyebaran Islam itu sendiri di Indonesia, yang kedua adalah konsep para ulama yang juga niagawan dalam membangun dakwah di nusantara melalui penguasaan pasar yang diiringi dengan pembentukan lembaga pendidikan dan kaderisasi santri

# tentang revolusi China sebenarnya saya mau menjelaskan bahwa sejarah ketika ia adalah sebuah rekonstrusi masa lalu untuk membangkitkan semangat kebangsaan maka akan mewujudkan sebuah perubahan besar, seperti tulisan Luo Guan Zhong yang menulis Three Kingdom untuk mengingatkan kembali masyarakat China akan kebesaran leluhur mereka. (Mungkin paparan saya yang kurang jelas)

# tentang Gerakan, saya menyampaikan prinsip sebuah gerakan. Ide yang menjadi sebuah gerakan adalah yang bisa diduplikasi. Seperti Indonesia Mengajar, dia tetap saja aktivitasnya seperti itu, tetapi dia berhasil menginspirasi lahirnya model-model gerakan yang sama di seluruh Indonesia. Maka saya bilang ke KAMMI, karena SDM-nya banyak tersebar ke seluruh Indonesia, maka tinggal merumuskan sebuah ide untuk menjadi sebuah gerakan yang harapannya bisa seperti itu.

Demikian beberapa notulensi tambahan dari saya. Bukan bermaksud apa-apa, kecuali memperjelas saja notulensi yang telah dibuat adik-adik tadi. Semoga tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi teman-teman yang membaca. Mari kita berlapang dada dan menggunakan akal yang jernih setiap kali memahami sesuatu hal karena setiap kita juga belajar untuk menata kata-kata dan pengertian yang harapannya juga bisa dimengerti orang lain. Kedepankan rasa saling pengertian, diikuti tabayyun, tidak diluapi prasangka, apalagi emosi yang lebih banyak menyulut provokasi di antara sesama kita.

Kategori
Kilas Sejarah

Kilatan Tajam API SEJARAH

Hari ini adalah hari terakhirku di ibu kota. Aku lewatkan hari-hari ini dengan tidur pagi. Sementara kawanku yang kuliah sekaligus kerja di UI telah berlalu sejak pagi. Aku sengaja tidur agar nanti malam terjaga di perjalanan, setidaknya tidak tertidur sepulas di kasur.

Setelah cukup lama dilanda kebosanan, kubaca-baca buku API SEJARAH yang baru saja kubeli ketika di Unpad dan ditandatangani oleh penulisnya itu. Beberapa bab yang kubaca cepat memberikan gambaran bahwa buku ini laksana pedang yang tajam berkilat untuk menggugat distorsi sejarah di negeri ini.

Setidaknya buku ini menjadi jawaban berbagai keganjilan pemahaman sejarah yang pernah kupertanyakan ketika SMA. Beberapa pemaparan sejarah berbagai  versi yang pernah ku baca baru sebatas membuatku bertanya-tanya. Tetapi setelah dua kali mengikuti sesi seminar Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dan akhirnya melihat-lihat bukunya ini aku memiliki gambaran yang lebih jernih tentang sejarah negeri ini.

Sebenarnya pokok permasalahannya terletak pada sudut pandang kita dalam memahami sejarah. Boleh dibilang, siswa-siswa Indonesia sejak merdeka cenderung belajar menggunakan cara pandang Barat, bahkan terkadang Nerlandosentrisme (atau cara pandang Belanda) sehingga tak heran kita bisa-bisanya memuji Belanda yang berubah menjadi baik dengan politik Etis-nya. Begitu juga manipulasi berbagai fakta sejarah tentang pergerakan nasional dan perlawanan sebelum-sebelumnya. Bahkan peralihan dari masa kerajaan Hindu-Buddha ke kerajaan Islam.

Melihat komentar dari tokoh-tokoh cendikiawan Islam yang ada di sampulnya tentu saja buku ini bukan buku sembarangan. Insya Allah setelah selesai nanti akan aku buat resensinya. Di tunggu saja ya.

Kategori
Kilas Sejarah

100 Praise Words from First Ming Emperor – Zhu Yuanzhang

 

Since Creation of Universe
Heaven has already appointed,
Faith Preaching Giant Saint,
From West He’s Born,
To receive Holy Scripture,
With thirty part Book,
To guide all creations,
King of all Kings,
Leader of Holy Ones,
With Support from Divine,
To Protect His Nation,
With five daily prayers,
Silently hope for peace,
With heart toward Allah,
Empower the poor ones,
Save them from calamity,
See through the Unseen,
Pulling souls and spirits,
Away from all wrongdoings,
Mercy to the World,
Walking ancient Crowned Path,
Evil vanquished to One,
Religion Pure and True,
Muhammad,
The Noble High One.

Kategori
Kilas Sejarah

E-KTP : Euforia Kebangkitan Teknologi Prematur

Pembicaraan mengenai e-KTP yang tidak boleh difotokopi nampaknya masih hangat untuk beberapa waktu ini. Cerita bagaimana KTP yang berisi chip dan rentan terhadap sinar laser dan panas menjadi sebuah pembicaraan heboh. Mulai dari mendagrinya, gubernurnya, sampai masyarakat awam si empunya e-KTP. Entah dulu bagaimana ceritanya, teknologi yang sebenarnya wah ini tiba-tiba mengalami kejadian yang menurutku lucu di tengah pelaksanaannya ini.

Lucu, karena hal ini sebenarnya masalah yang sangat sepele, e-KTP tidak boleh difotokopi. Seperti halnya ATM orang juga tidak boleh memfotocopinya. Tapi mengapa kisah ini jadi sangat lucu, dan terkesan wagu menjadi berita ribuan surat kabar lagi, bahkan diliput televisi untuk sebuah bangsa yang baru belajar memasuki era digital. Orang-orang menjadi resah (kata media), kalau kataku kayake banyak yang tidak tahu malahan e-KTP itu gimana dan sebagainya.

Setelah reformasi, banyak yang telah berubah dari negeri ini. Keinginan untuk membangun bangsa tetap ada memang, tapi semuanya seolah berangkat dari egonya masing-masing. Euforia kemenangan dan kebangkitan Indonesia awal-awalnya seperti aji mumpung. Namun belakangan ini bangsa Indonesia tahu, bahwa mereka tak butuh perayaan untuk berakhirnya rezim orde lama ke orde baru, orde baru ke reformasi. Mereka hanya butuh bukti bahwa reformasi itu ada dan nyata.

Negeri ini sekarang dikuasai oleh banyak orang meskipun secara de jure adalah SBY. Ada republik media massa yang bebas berbuat sekehendak orang yang membayar mereka untuk membangun opini publik, selepas Departemen Penerangan dihapuskan karena dianggap menakutkan dan suka membredel media. Jadi opini masyarakat kita amburadul dan sekenanya. Yang suka bola jadi bola minded opininya, yang suka musik jadi musik minded opininya. Benih-benih ketidakacuhan masyarakat, khususnya generasi muda pada perbaikan bangsanya akhirnya semakin tumbuh subur.

Jika saat ini Indonesia dibilang ketinggalan jaman sepertinya sudah tidak lagi. Berbagai produk teknologi sudah menjamur di kota dan masyarakat kelas menengah ke atas. Mereka dengan asyiknya menggunakan komputer untuk nge-game, hape untuk nyetel musik dan berbagai tingkah polah yang salah sambung dari tujuan awal piranti dibuat. Dan yang lebih membuat kita tepuk tangan adalah ada kebanggaan dari masyarakat kita memakai barang-barang impor tadi, untuk dipamerkan, bahkan untuk ukuran bagi cewek menerima cowok yang menembaknya. Tepuk tangan, plok plok plok.

Negeri kita sedang bergaya sok teknologi banget di tengah rakyat yang sedang menuntut keadilan. Saking euforianya, dan ingin mendapatkan akses yang lebih mudah dalam data kemasyarakatan akhirnya e-KTP terlanjur duluan dibuat tapi card readernya belum siap. Ditambah lagi tidak ada sosialisasi yang masif berkaitan dengan makhluk baru e-KTP ini. Wajar sih, wong masyarakat majunya lebih sering SMS-an dari pada baca SMS penting. Wajar sih, wong masyarakat kita lebih sering baca beritanya media, dari pada pidato para pemimpin negara (soalnya pemimpinnya mungkin jarang pidato juga, atau karena nggak bisa pidato ya). Sibuk nge-game, kongkow-kongkow dan serangkaian aktivis aneh yang sulit dinalar di negeri yang sebagian rakyatnya boro-boro ngerti handphone, apalagi nanti dikasih e-KTP dan suruh mengaktifkannya.

Kasus e-KTP ini hanya bukti kecil bahwa keadilan pendidikan kita belum tercapai. Tidak semua orang paham bahwa e-KTP itu adalah produk teknologi baru. Tidak semua orang paham bahwa teknologi yang baru ini rentan terhadap sinar laser dan panas. Tidak semua orang paham bahwa e-KTP nanti bisa begini dan begitu. Karena masih banyak rakyat Indonesia yang bodoh, dan lebih banyak lagi rakyat Indonesia yang menjadi masa bodoh. Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi pemimpin bangsa yang sekarang dan yang akan datang bahwa kebangkitan teknologi itu tidak bisa hanya mengandalkan casing perubahannya saja, tetapi mengedukasi masyarakatnya itu jauh lebih utama untuk menaikkan taraf berpikir masyarakat sehingga bisa bertransformasi menjadi negara yang maju.

Indonesia itu beragam dan kaya dengan berbagai kearifan lokalnya. Cara-cara pukul rata adalah hal gila yang menghabiskan banyak dana namun menuai banyak masalah di hari kemudian. Maka dibutuhkan pemimpin negarawan yang bisa melanjutkan tradisi berpikir para pendiri negara ini, bukan pelanjut tradisi VOC yang hobi korupsi dan mencuri kekayaan alam Indonesia untuk kantong sendiri.

Kategori
Kilas Sejarah

Sambungkan Pada Sejarahnya

Jangan sekali-kali melupakan sejarah, itulah pesan dari proklamator kita, Presiden Soekarno. Presiden yang pernah dimiliki bangsa ini yang keberaniannya teruji dan membuat Australia kehilangan nyalinya.

Hari ini seolah kita tidak pernah mengenal siapa kita yang pernah berjaya di masa Sriwijaya, Majapahit, hingga masa-masa keemasan kerajaan mataram dan kesultanan Islam yang gigih berjuang melawan penindasan VOC dan Belanda. Hari ini dengan mudahnya anak-anak muda berhura-hura ria terhanyut dalam berbagai budaya peradaban asing yang kian menggerus nilai-nilai ketimuran bangsa kita yang luhur.

Tak terkecuali hal itu meliputi dunia aktivis hari ini. Aktivis-aktivis kampus hari ini seolah berada di ambang kejenuhan pergerakan. Strata hidup ternyata tidak hanya berlaku dalam realita umum di masyarakat. Belakangan di dunia aktivis kampus, seolah mahasiswa kian terkotak-kotakkan dalam realitanya. Ada mahasiswa yang cuek bebek dengan realita kepemimpinan kampus, ada yang ngambang dan milih mana yang lagi ngetrend, ada kalangan folower yang ngikut mana yang udah jadi sandaran tapi kurang bersemangat belajar, ada yang memang golongan-golongan leader yang siap tempur.

Dan menurut informasi yang dibicarakan dari mulut ke mulut (tentunya mulut aktivis juga) komposisinya semakin tidak seimbang. Jumlah mahasiswa aktif yang notabene dapat stempel aktivis menjadi terus berkurang, sisanya lebih banyak berkutat pada mahasiswa yang ngambang dan cuek bebek. Yang jadi folower biasanya semangat di awal-awal (maklum pada saat awal kan ibarat banyak promo yang dapat diraih dari mas-mbaknya), namun diakhirnya bisa jadi mreteli satu per satu. Entah karena kecewa (gara-gara subsidi diputus) atau hal-hal yang memang tidak menarik lagi.

Menurut hemat saya, di sini ada sisi pengkaderan yang sering kali terlupakan karena tuntutan yang instan untuk segera menguasakan mereka pada ladang-ladang kekuasaan yang telah digenggaman. Salahkah? Aku tidak mau bicara benar salah dan tidak penting divonis masalah seperti ini. Tapi ada fitrah yang sering dilupakan bahwa mencetak pemimpin itu adalah proses panjang. Ia tumbuh dari hati sebagai panggilan jiwa, bukan karena indoktrinasi apalagi obsesi kepopuleran.

Bagaimana kepemimpinan hadir sebagai panggilan jiwa? Itu hanya akan terjadi ketika hati-hati para pemuda itu resah dengan realita yang ada. Realita hari ini sebenarnya ada sebabnya. Dan itulah mengapa penting untuk menyambungkan generasi yang menjadi junior kita hari dengan sejarah yang juga seharusnya kita ketahui sebagai senior mereka. Adanya ketersambungan sejarah menjadikan setiap yang mendengar akan memilih untuk memutuskan apakah perjuangan itu dilanjutkan (karena memang kemudian tumbuh visi yang sama) atau berhenti di tengah jalan (artinya jelas dia memutuskan dirinya keluar dari jalur mata rantai yang bersambung ini).

Hari ini, kisah sejarah itu simpang siur (kalau tidak mau dibilang lenyap). Dalam konteks pergerakan dakwah, mari bertanya, masihkan kita bersungguh-sungguh menyusuri jejak shirah nabawiyah yang menjadi referensi utama sebelum referensi sejarah yang lainnya. Masih seringkah dilakukan pembicaraan yang melintasi lorong waktu dalam lintasan komet (artinya berbalik ke belakang sesaat mencari inspirasi dari kisah sejarah dan kembali ke realita kini untuk mencari solusinya) dalam setiap proses pembinaan generasi. Aku rasa hari ini kita kebanyakan retorika, termasuk berbicara untuk saling membenci dan bersaing satu sama lain.

Jadi mari kita mengenal sejarah kita. Aku tidak bilang sejarah yang mana. Tapi mari kita sepakati bahwa hanya dengan sejarah yang komprehensiflah kita akan mampu mencari penyelesaian yang sesuai untuk masalah-masalah hari ini. Ini bukan tentang meniru, tapi tentang inovasi dalam konteks sosial. Karena inovasi itu sebenarnya tidak hanya dipahami tentang riset terbaru, tetapi juga tajdid (menghadirkan nilai-nilai yang pernah ada dan menghilang).

Jika engkau aktivis dakwah, maka akan lucu rasanya jika kisah sejarah para nabi, terutama Rasulullah dan kemudian para sahabat tidak tercium sedikitpun dalam indera pikirannya. Jika engkau mengaku negarawan, maka sangat lucu jika kearifan para pendahulu bangsa ini luput dari pemahaman pribadinya. Bahkan jika engkau mengaku orang biasa sekalipun, maka belajarlah menjadi rakyat yang baik seperti saat berdirinya negara madinah yang diprintah Rasulullah dan Khalifah Rasyidah atau rakyat di masanya Umar bin Abdul Aziz. Sehingga tidak pethakilan dan susah diatur seperti sekarang.

Jauh sebelum Presiden Soekarno berpesan tentang pentingnya sejarah, maka Rasulullah telah mencontohkan bagaimana hidup itu agar banyak belajar dari sejarah dan pengalaman hidup di masa lalu, seperti yang juga banyak dikisahkan dalam al-Quran tentang nasib orang-orang terdahulu yang tidak tunduk kepada tuhannya. Sejarah sangat penting, untuk memberikan satu alasan terbaik bagi generasi ktia. Sambungkan mereka pada sejarahnya, niscaya visi besar kita akan diteruskan oleh mereka

Kategori
Kilas Sejarah

Refleksi di Balik Senyum Pak Harto #2

Mungkin gara-gara itu salah satu faktornya, kini optimisme bangsa perlahan mulai surut. Banyak yang bertanya, “Bisakah Indonesia menjadi lebih baik?”. Banyak yang bilang, ah sudahlah, jangan sok idealis, nanti kalau kita tidak ikut arus nanti bakal mati digilas oleh realita. Benarkah? Sebegitu pesimiskah kita. Tak kita lihatlah bahwa NKRI ini sangat luas yang hingga kini setelah proklamasi itu tak ada satupun makhluk asing, entah itu bernama CIA, FBI, atau bahkan Mossad yang berhasil mencerai-beraikannya secara terbuka. Belum lagi dengan masyarakatnya, kekayaannya.

Memang sekarang kita semakin merasa kacau dengan berbagai hal yang tidak jelas ini. Sekolah jadi tidak jelas, jadi guru juga sepertinya semakin tidak jelas arahnya (cuma semakin jelas gajinya), jadi pegawai negeri lebih tidak jelas lagi (karena banyak yang sekarang kerja santai padahal mereka memakan uang rakyat cukup banyak, kalau saja kita boleh menyebut APBN itu dengan Baitul Mal pasti tahulah rasanya). Tapi apakah itu alasan untuk kita yang masih sekarang mengerti itu kemudian ikut-ikutan berkata, Indonesia sudah kacau dan hancur. Atau malah sekalian berbasah ria dan ikut menikmati kekacauan ini.

Masih ada waktu untuk mengembalikan senyum Pak Harto yang katanya dulu mengerikan itu. Jika kita memandang senyum Pak Harto itu adalah perlambang rezim militer yang kejam tapi santun, haruskah kita mengelak bukti bahwa saat itu juga negeri kita mengalami keteraturan pembangunan (meskipun konon utang sih dari kapitalis barat) dan rakyat bisa hidup tenteram (kebanyakan rakyat di akar rumput pasti jujur berkata bahwa zaman Pak Harto itu lebih enak, namun tidak bagi kita para kaum intelektual). Itulah yang bisa dicontoh dari masa beliau, meskipun sisi yang lainnya kejam dan menyakitkan kita.

Hari ini senyum anak sekolah hilang karena sekolah itu tidak menyenangkan. Karena belajar itu menjadi sebuah beban, bahkan terkadang mencabulkan (karena belakangan beberapa guru mulai gerah dengan bantuan-bantuan buku bacaan yang sebenarnya tidak sesuai untuk siswa sekolah). Senyum petani dan masyarakat desa hilang karena dukungan pemerintah yang minim dan tingginya impor atas ambisi para pengusaha. Senyum para elit negeri ini menjadi menakutkan, karena itu kamuflase untuk saling menjatuhkan ketika kesempatannya tiba. Tinggal satu senyum yang masih indah menurutku, senyuman Pak Harto.

Mengembalikan Senyum Pak Harto

Jika di masa beliau, kita hampir saja memiliki industri pesawat terbang, apa yang bisa dimulai lagi hari ini? Dalam hitung-hitungan bodoh jangka panjang, ketika Indonesia memiliki industri pesawat terbang, secara tidak langsung itu adalah proses akselerasi untuk menunaikan janji kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejarhteraan. Kata Pak Habibie, ketika semua pulau di nusantara itu terhubung, tak mudahkah sektor ekonomi itu tumbuh pesat?

Memiliki pesawat sendiri itu akan mengurangi beban impor teknologi (karena impor pesawat berarti impor teknisinya juga, kalo punya sendiri berarti pasti akan ada sistem yang terbangung bersamaan dengan pesatnya industri pesawat, sehingga banyak terlahir putra bangsa yang cerdas dan menjadi aset terbaik sepanjang masa). Dengannya maka kebijakan nasional tentang pendidikan pasti akan terus diperbaiki sehingga pendidikan bangsa ini mengalami kemajuan. Dan itu akan menjadikan bangsa ini berpola pikir maju dan modern, mirip-mirip Jepang lah.

Ketika pola pikir bangsa kita maju, masihkah kita sibuk mengurusi dimensi politik secara berlebihan seperti hari ini? Ketika sebagian besar orang hanya sibuk ngurusi politik tapi tidak memahami realitas politik. Ada juga sekelompok orang yang anti dengan politik? Memangnya ada negara berjalan tanpa sebuah sistem politik. Tidak salah memikirkan politik, tetapi salahnya adalah jika semua dipolitisi akan terjadi kerusakan hebat yang multidimensional.

Aku bukan pemuja Pak Harto. Tetapi melihat senyumnya yang masih indah hingga hari ini, aku masih yakin bangsa ini bisa bangkit kembali. Sudahlah, mari kita kembali dengan membangun value diri masing-masing. Tidak usah berapi-api ketika berdemonstrasi apalagi menentang berbagai kebijakan pemerintah yang kita sendiri kurang mendalami permasalahannya. Tidak usah sok suci dengan diri kita sehingga membatasi berbagai ruang komunikasi dan pertemanan kita.

Beliau mungkin menyisakan kepahitan sejarah yang memilukan, yakni mendistorsi sejarah bangsa ini. Namun apa yang pernah beliau perbuat selama 32 tahun seharusnya juga ada yang bisa diambil pelajarannya, yakni membuat bangsa ini tertata dan bergerak membangun meski pun sampai kejatuhannya bangsa ini belum sampai pada akhir pembangunan fisiknya menuju negara modern. Setiap pemimpin selain Rasulullah pasti memiliki kekurangan, apakah itu yang harus selalu diperbincangkan dan ditertawakan? Kotor banget mulut kita. Mari kita berbicara yang baik-baik tentang mereka saja.

Ajakan membuat kumpulan tulisan tentang opini-opini baik untuk para presiden Indonesia pernah terlontar dari salah satu adikku yang keren. Haruskah kita benar-benar menulis? Sepertinya penting untuk mengganti bacaan-bacaan berita di koran yang kian tidak bermutu, atau buku-buku lawakan yang laris dan kurang berbobot itu. Mari kita kembalikan senyum Pak Harto untuk bangsa ini.