Kategori
Refleksi

Menulis Lagi di Blog Ini

Hemmm, sekian lama aku tak membuat tulisan yang secara khusus kudedikasikan untuk blogku tersayang ini. Beberapa postingan terakhir hanya pindahan dari status-status panjangku di FB yang katanya mirip novel oleh teman-temanku sehingga katanya mereka juga malas baca.

Mengapa saya lama tidak menulis di blog? Yah karena saya sedang sok sibuk dengan berbagai aktivitas saya sebagai blogger, yakni ngisi blog orang lain. Mengapa mau? Karena dibayar dan saya lagi butuh pendanaan untuk perut dan yang lainnya. He he he. Selain itu, aktivitas saya menyusun skripsi membuat saya sepaneng saat mau nulis apa, dan akhirnya tidak jadi nulis apa-apa.

Singkat cerita, saya kembalikan mood saya untuk tetap menulis di blog ini meskipun di luar sana sedang ribut kampanye capres. Banyak orang yang sibuk berdiskusi siapa yang paling tepat untuk memimpin Indonesia, apakah Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK. Saya sih tidak terlalu ambil pusing soal itu, bahkan sudah bosan malahan lihat berita yang berjibun di dinding Facebook saya.

Sepertinya saya sudah tidak bisa lagi blogging setiap hari sekarang. Maka dari itu, tajuk blog ini tidak akan lagi menjadi catatan harian. Faktor lainnya, kesibukan saya tak lagi memungkinkan untuk banyak jalan-jalan. Saat ini harus banyak berkarya agar dapat menghasilkan produk yang bermanfaat dan tentu saya harus segera lulus kuliah. Karena ini sudah menjelang tahun ketujuh saya di kampus, sementara skripsi saya masih berjalan seperti siput.

Ah, cukup ini dulu saja saya menyapa sahabat sekalian yang masih setia membaca blog saya. Semoga Anda selalu dapat mengambil hikmah dari tulisan-tulisan saya yang berantakan ini. Maklum, ini blog gado-gado yang isinya tergantung suasana hati saya. Kalo mood bagus, tulisan saya mungkin rada enak dibaca, kalau sedang hancur, yah semoga Anda tetap mau membaca juga.

Terima kasih, salam hangat. Salam perubahan, bersama zonaperubahan.com

Kategori
Refleksi

Mari Menyalakan Harapan

Di antara pekerjaan mulia hari ini adalah “menyalakan harapan”. Dan harapan itu tidak dinyalakan dalam kata-kata motivasi saja, tetapi dengan tindakan nyata dan kisah inspirasi yang tertuang dalam hidup kita. 

Di perjalanan hidup kita, kita bisa mencari banyak pelajaran dari guru-guru kehidupan ini. Itulah inspirasi yang layak untuk kita bagikan dari pada mengorek-orek aib para politisi yang memang umumnya begitu.

Prabowo ataupun Jokowi, mereka tak lebih sebagai orang yang nanti akan mewakili Indonesia untuk pidato atau tanda tangan saja. Tapi ada ratusan juta rakyat hari ini yang harus diatur kembali agar tidak brutal saat nyetatus FB, komentar dan menumpahkan buah kepandaian mereka sakgeleme dewe. Termasuk mereka yang katanya pandai agama tapi sudah lupa soal ghibah dan fitnah, hingga saling menjelek-jelekkan satu sama lain, yang ujung-ujungnya menyulut provokasi yang lain juga untuk mendengki. Padahal dengki adalah penyakit yang lebih berbaya ketimbang busung lapar.

Memang ada baiknya rakyat Indonesia ini tidak perlu tahu berita politik. Biarlah mereka tetap bekerja di kantor, sawah, ladang, dengan segala perjuangan mereka itu. Jika hati mereka lapang mereka akan bersyukur dan berdoa untuk kedamaian negeri ini, untuk kebaikan para pemimpinnya. Barangkali doa-doa tulus mereka itulah yang masih mampu menjaga negeri yang rusak ini dari berbagai bencana.

Perubahan itu memang butuh pemimpin, tetapi perubahan itu adalah kerja kolektif. Sebelum banyak menghina orang lain, lihat diri sendiri dulu, wis pener urung. Karena sulitnya berubah negeri ini, karena memang yang memilih status quo lebih banyak ketimbang yang ingin berubah. Kalau semua orang cuma sarapan berita politik nanti benar-benar akan mengalami busung lapar, terutama lapar tawakal karena hari-harinya hanya cemas dalam kekhawatiran masa depan yang belum tentu jelas. Padahal sudah jelas-jelas kita diberi hari ini untuk bertindak dengan akal sehat.

Yuk kerja saja, bagikan kisah-kisah optimisme yang baik-baik dan sesuai konteksnya. Mari sedikit2 belajar menjadi bagian dari agen yang bisa menyampaikan mutiara-mutiara al-Quran dan Sunnah di tempat dan waktu yang tepat, seolah-olah di tiap masalah itu, wahyu kembali turun untuk menyapa kita sehingga kita tetap optimis melihat masa depan negeri ini. Katanya negeri ini milik Allah, mengapa cemas, mengapa terus mengumpati sistem yang ada, mengapa terus khawatir. Kalau tidak terima dengan sistem saat ini, pergi saja dari Indonesia. Kalau khawatir dan cemas dari dunia, pindah saja ke alam lain. Bikin ribet saja di bumi Allah ini.

Sumber: https://www.facebook.com/ardika.zaid/posts/10201884757671377

Kategori
Refleksi

Politik Dalam Pelajaran Sejarah SMP-ku Dulu

Politik itu permainan logika tingkat tinggi, sampel eksperimennya otak-otak manusia yang ga tekan mikirnya. Kalo ga nyampe mikirnya, mending kerjain yang lain aja Om. Cukup pegang prinsip kejujuran dalam tindakan-tindakan kita, dan semampu kita melakukan. Rakyat biasa yang jujur yang lugu senjatane doa yang mustajab kalo dia sadar bahwa dia sedang dizalimi penguasanya dan tidak mengeluh hingga misuh-misuh. Tetap bekerja dan bersolidaritas dengan yang lain.

Jadi ingat nasihat guru IPS SMP ketika beliau mengajar sejarah. Pelajari sejarah dengan benar untuk memahami logika bagaimana politik itu bermain, jangan berpolitik dengan koran, karena itu menumpulkan analisismu. Terima kasih Pak Sumaryanta atas wejangannya di tahun pelajaran 2004/2005 itu, aku teringat dengan ruang kelas IX A ketika itu Anda memakai peci dan menuliskan kata kunci itu. Aku masih ingat, dan hari ini kata-kata Anda terbukti Bapak, bagaimana politik hari ini menjadi komoditas paling menarik dalam bisnis informasi untuk mempengaruhi pikiran banyak orang hingga dia lupa melihat masa lalu dengan cermat, dan berakibat mereka melihat masa depan dengan cemas.

Ya Allah, lindungilah bangsa ini dari kemerosotan adab dan perkataan yang kotor dari lisan-lisan bodoh nan dungu. Apapun pilihan kami tuntunlah kami untuk memilih yang terbaik dalam pandangan kami, dan biarlah Engkau yang akan menjaga dia yang terpilih. Jika ia yang terpilih adalah pribadi jujur dan benar, maka tolonglah urusannya dan menangkanlah perjuangannya. Jika ia yang terpilih adalah pengkhianat, segerakanlah hukuman untuknya agar negeri Indonesia ini dapat segera keluar dari cengkeraman angkara murka dan masyarakatnya dapat tersenyum cerah dalam kesyukuran pada-Mu.

Facebook

Kategori
Refleksi

Perspektif Investasi Dalam Pikiran Bodohku

Istilah investasi itu lucu dalam perspektif negara ini. Jika kran investasi asing dibuka di negeri ini besar-besaran sebenarnya itu penipuan untuk rakyat yang bodoh karena menganggap uang adalah kekayaan. Rakyat diberi uang senang namun tanah hilang, lahan dikuasai. Tapi kalo yang menjadi biang keroknya adalah kepala daerah, anggota dewan, dan para pejabat negara, ya itulah kezaliman. Dan sangat menyedihkan lagi jika mahasiswa-mahasiswa di kampus apatis terhadap hal seperti ini atau terlalu agresif sehingga kritisnya utopis sambil kampanye salahkan sistem ini itulah. Njur gek ngapa nek wis koar2? Bangga dul.

Masalah utamanya itu gimana memandirikan masyarakat, menginternalisasikan keimanan dan ketawakalan yang hakiki kepada Allah. Wong kita udah dikasih aset abadi berupa tanah dan kekayaan alam kok gelem2en diganti dengan uang yang tidak berjaminan (dolar itu sertifikat utang, bukan sertifikat untuk emas). Malah ada yang nyalah2in sistem uang kertas suruh ganti emas dan muncul investasi emas, yo padha wae selama sistem moneternya seperti sekarang. Segala sesuatu yang ditimbun tanpa tujuan itu menyengsarakan rakyat lain yang butuh alat edar bernama uang.

Sama-sama narik dolar, gunakan cara yang terhormat dengan jual beli barang, kita punya produk mereka kasih kita dolar, nek ringan meneh malah kita pasang iklannya mereka kasih kita dolar. Tapi kalo memberikan aset itu namanya pekok. Dan rakyat negeri ini secara sistem dibuat bodoh karena segelintir orang ingin menikmati kekayaan dengan cara menindas. Memang hebat sekali VOC, mereka sukses dalam kaderisasi sehingga hari ini tingkat kewarasan kami pun dipertanyakan. Semoga saya saat bikin status ini sadar 100 % dan tidak sedang ngelindur.

Allah, jagalah lisanku agar tidak berdoa kepada-Mu dengan kalimat yang rendah seperti ini, “Ya Allah, berikan aku uang, semoga aku sukses meraih jabatan A, semoga aku menang undian mobil bla bla bla ….”. Jagalah lisan ini agar selalu dapat berdoa dengan doa-doa dalam al-Quran, Hadits dan kalimat2 indah para wali-Mu.

Facebook

Kategori
Refleksi

Konon Indonesia Negeri “Sekuler” dan “Liberal”

Negeri ini memang “sekuler” dan “liberal”, hingga sebagian umat Islamnya ikut-ikutan terjerat ke sana. 

Ada yang memisah-misahkan agama dan politik sehingga kalo masjid dipakai membahas persoalan keumatan dalam konteks kekuasaan buru-buru dicap jual beli ayat untuk kepentingan politik, lalu digeneralisir untuk semua yang begitu. Apa ini juga ga bisa dikatakan semacam “sekuler”.

Ada yang teriaknya memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan dari penindasan hingga kebablasan, bab adab dan masalah hati umat tidak dipedulikan, sing penting nyuara sak suara-suarane dhewe, sak enak udele dhewe. Hantam sana hantam sini sak penake dhewe. Apa ini juga ga bisa dikatakan semacam “liberal”.

Islam tetap mulia, dalam asas-asasnya yang tegas, dalam fikrahnya yang kokoh, dalam adabnya yang santun dan memesona, dalam naungannya yang damai. Bahkan dalam peperangan, silahkan diperiksa dalam sejarah baik tulisan sejarawan muslim maupun sejarawan barat yang netral, peperangan yang dilalui kaum muslimin adalah peperangan yang beradab, tidak mengenal istilah pembantaian. Begitu musuh kalah, maka segera terjadi perjanjian, bukan pembantaian. Rakyat diamankan dan dibiarkan tetap dalam keyakinannya. Dan itu hanya dapat dipraktekkan oleh hamba-hamba-Nya yang senantiasa rendah hati lagi memiliki kebeningan hati. Bukan yang diliputi kesombongan, kedengkian dan rasa ingin menjatuhkan sesamanya.

Mari istighfar saja. Istighfar yang banyak biar lisan aman dari menghantam dan mencibir yang lain.

Facebook

Kategori
Refleksi

Kisah Pemakan Kulit Kacang

Afwan, Maaf, Ngapunten, Sorry adalah ungkapan yang sama, mengapa harus digunakan untuk mengkotak-kotakkan. Yang pakai afwan lantas begini, yang pake sorry lantas begitu, bla blabla. Seperti halnya Akhi, Ukhti, Bro, Sis, Sedherek, Saudara, apa yang berbeda, panggilan yang mendekatkan sesama kita bukan. 

Memang tidak dapat dipungkiri. Ada yang berbahasa sekedar meraih gengsi. Ada yang berbahasa untuk sekedar berkomunikasi. Tapi ada juga yang berbahasa untuk memahami kejadian di kehidupan ini. Al-Quran & hadits hanya dapat dimengerti ketika kita memang memahami bahasanya. Pertanyaannya seberapa serius saya belajar bahasa Quran untuk tujuan memahaminya?

Versi yang lainnya, jurnal-jurnal berbahasa Inggris hanya sanggup dipahami saat kualifikasi bahasa Inggris kita ok. Sejauh apa tujuan kita belajar bahasa Inggris, apakah untuk menggali ilmu-ilmu itu atau sekedar ingin tampil keren saja. Maka tak heran jika meskipun orang Indonesia itu jumlahnya banyak, penutur bahasa Indonesia yang berkualitas semakin menipis (silahkan diriset). Dan sebagai orang Jawa saya juga melihat adanya fenomena bahwa pemuda sekarang mulai tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik plus mulai hilang unggah-ungguhe.

Ibaratnya, sebanyak apa pun kulit kacang dimakan ya tetap aja tidak nendang. Tetapi kalo kita sudah terbiasa makan isinya maka pasti beroleh kepuasan.

Facebook

Kategori
Refleksi

Untuk Yang Suka Nyinyir

Suatu ketika kaum khawarij protes kepada khalifah Ali kenapa di masa kepemimpinannya banyak fitnah sementara di masa Abu Bakar tidak. Jawaban khalifah Ali sangat gamblang, rakyat di masa Abu Bakar orang-orangnya seperti aku, sementar rakyat di masa kepemimpinanku seperti kalian. 

Ibrahnya, bahkan di kepemimpinan orang yang sangat mulia saja (sekelas Ali bin Abi Thalib, yang urutan kemuliaannya setelah tiga khalifah sebelumnya) sudah mulai kacau begitu, apalagi zaman sekarang di mana sesama umat Islam saja lisannya tidak terkendali dan dengan mudah saling menghujat perih satu sama lain. Bukannya mencari keridhaan dan keampunan Allah, sibuknya cari kambing, yang warnanya hitam lagi. Wkwkwkwk

Saatnya bercita-cita melihat kambing hitam putih, karena itu adalah al-maut. Di akhirat nanti, para penghuni syurga dan penghuni neraka akan melihat al-maut berubah menjadi kambing dan disembelih sebagai simbol bahwa maut telah mati. Karena kambing hitam sudah terlalu mainstream. Tinggal kita milih mau lihatnya dari balkon2 syurga atau di panggangan neraka.

Facebook

Kategori
Refleksi

Industri Hiburan dan Kesehatan Jiwa Kita

Menurut piwulange Ki Arga Kusuma
“Industri hiburan yang berkembang pesat itu menandakan bahwa tingkat stress masyarakat meningkat.”

Menurut piwulange Ki Sabrang Mawa Damar Panuluh (mas Noe Letto)
“Musik itu cerminan tingkat masalah masyarakat. Jadi kalo sekarang woyo2 dan yang megal megol lagi tenar, itu tandanya masyarakat lagi banyak yang stress, butuh banyak obat stress yang instan.”

Tapi yang jadi pertanyaan berdasarkan kias piwulang di atas
“Menjamurnya sekolah hari ini apakah juga menandakan bahwa masyarakat kita semakin tidak bisa belajar dan mengajari diri mereka sendiri. Apakah ini tanda bahwa kepercayaan diri dan kebijaksanaan masyarakat sedang mengalami kemerosotan. Jare ki Arga, embuh ngunu jawabe”

Jadi ingat nasihat Pak Roni di perjalanan pulang Bandung-Bogor, konsultan perusahaan yang suka ngisi hari liburnya dengan jadi driver untuk rental mobilnya LPI Dompet Dhuafa.
“Jangan sampai anakmu belajar shalat dan Islam untuk pertama kalinya dari orang lain. Jangan sampai anakmu kenal Quran dan khatam pertama kalinya dari orang lain. Jangan sampai anakmu belajar bahasa Quran dan pergaulan dari orang lain. Wah wah wah, ternyata jadi orang tua itu persiapannya banyak. Ra mung modal ndil thok, ilmune kudu dimantepke tenan.”

Facebook

Kategori
Refleksi

Pemimpin Cerminan Mayoritas Rakyatnya

Jika ada yang bilang pemimpinnya korupsi, suka nilep uang rakyat. Cek aja di sekitar kita, sering bohong ga sama ortu waktu minta uang saku, ada ga takmir yang korup infaq jamaah, ada ga bendahara desa yang suka nyunat, kayake jumlahnya masih banyak.

Jika ada yang bilang pemimpin cuma omdo ga pada kerja. Cek aja kita, jangan-jangan kita omdonya lebih parah (suka misuh2, berkata-kata kotor), suka nuntut2, ngatur2 yang lain berlebihan, dan lagi-lagi yang begitu pasti banyak.

Jika ada yang bilang pemimpinnya males, tidak peka terhadap rakyat. Cek lagi sekitar kita, berapa banyak pemuda yang peduli dan berpikir tentang perubahan. Berapa yang bersemangat untuk berbenah dan mau diatur.

Jika ….. cek …..

Meskipun inisiatif dari tokoh penggerak perubahan itu penting, tetapi inti dari perubahan itu adalah gerakan bersama. Mau mengharapkan pemimpin yang baik? Cek terus diri kita sambil terus bekerja di ranahnya masing-masing. Seberapa seriuskah kita memperbaiki diri kita? Seberapa baikkah harapan kita kepada para pemimpin yang ada sekarang? Seberapa tulus doa kita untuk kebaikan mereka dan kebaikan negeri ini? Seberapa sabarkah kita menghadapi situasi dan kondisi sekarang? Sebarapa santunkah kita saling menasihati satu sama lain agar tercipta ukhuwah dan perbaikan? Jika belum, ha ha ha. SABAR mas Bro!

Di pergerakan apapun Anda, di parpol yang mana Anda, kalo masih suka nyinyir, black campaign, dan ghibah maka …. (simpulkan sendiri)
Di level manapun Anda di masyarakat, kalo masih mudah terprovokasi dengan kabar burung atau kabar onta maka … (simpulkan sendiri)

Facebook

Kategori
Refleksi

Politisasi Pikiran dan Kehancuran Peradaban

Boleh percaya, boleh juga enggak. Setelah penghancuran bahasa, sebuah peradaban dapat diguncang dengan strategi kompleks agar pemikiran masyarakatnya terpolitisasi. Jika mesin itu telah bekerja, sang penghancur tinggal ngopi sambil sesekali jeprat-jepret latihan fotografi lihat masyarakat peradaban itu saling serang satu sama lain dan merasa paling benar.

Pemikiran yang terpolitisasi itu menjadikan semua pendapat relatif, bahkan terkadang dalam membicarakan soal agama setiap orang saling otot2an. Yang pasti dalam perselisihan ini, salah satu adalah pihak yang benar dalam ilmunya dan yang lainnya salah memahami. Tapi yang diharapkan para penghancur adalah keributan ini berjalan lama dan dibiarkan sampai semua saling melumatkan satu sama lain.

Saking terpolitisasinya pemikiran orang hari ini, orang yang dianggap memiliki relevansi politik tertentu, kalau sedang baca ayat dianggap menjual ayat-ayat tuhan. Punya tujuan akhir sama hanya masih berbeda jalan, saling menghantamnya lebih mengerikan ketimbang yang nggak ada urusan. Jadi friksi dan pertempuran itu terjadi di orang-orang yang sama-sama jalan searah. Sementara yang berlawanan arah atau yang berbelok diabaikan, padahal mereka mencopet, menculik anak-anak, dan menikam satu demi satu.

Kehancuran peradaban itu kadang berasal dari dirinya sendiri yang tidak mau berbenah dan cenderung menyalahkan serta saling bertikai satu sama lain. Ketiadaan rasa persatuan dan cinta lebih menumbuhkan ego untuk merasa paling benar dan berkuasa sendiri. Jika yakin sesuatu yang benar, yang dilakukan adalah transformasi hingga dimengerti yang lain, bukan intimidasi dan pemaksaan agar seolah-olah mengerti.

Facebook