Kategori
Pendidikan

Ini (Asli) Berita Politik

Selamat dini hari, Pemirsa..

Breaking News kali ini kami buka dengan berita politik dua kubu Capres.

Seperti telah diprediksi banyak pihak, Jokowi akhirnya berpasangan dengan Jusuf Kalla atau JK.

Mengingat dua tokoh ini berlatar belakang pengusaha, maka
diyakini tak hanya mampu menjadikan INDONESIA HEBAT!, tapi juga Indonesia Hemat!

Jokowi menegaskan tak akan menerapkan politik bagi-bagi kursi, karena itu bisa merugikan perusahaan mebel miliknya.

Sementara itu, walaupun tak punya kendaraan politik, JK telah diunggulkan sejak awal, karena tanpa kendaraan pun beliau berpengalaman menjadi supplier kendaraan dibawah korporasi Hadji Kalla.

Saat mengumumkan JK sebagai Cawapres, Jokowi sempat dianggap bercanda oleh simpatisan, karena JK diduga sekadar singkatan Just Kidding.

Saat ditanya kesiapan, protes, serta isu negatif yang berkembang saat konfrensi pers, wartawan hanya mendapat jawaban 3-R: RaMIKIR, RaPOPO, dan RAIMU.

Di saat yang sama pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa juga resmi dideklarasikan.

Penunjukan Hatta sebagai Cawapres sedikit banyak dinilai untuk mengingatkan pemilih pada pasangan legendaris Soekarno-Hatta.

Hanya saja, sebagian pihak kurang setuju dengan anggapan pembanding ini, mengingat Soekarno dikenal sebagai tokoh penakluk wanita, sementara Prabowo hingga kini masih jomblo saja. Eaaa.

Hatta sempat membantah adanya isu sejumlah besar mahar yang digelontorkan dalam keputusan pemilihannya. Istilah mahar menurutnya hanya dipakai oleh pengobatan alternatif.

Pasangan ini sempat bingung menentukan akronim apakah akan memakai Prabowo-Hatta disingkat WOTA, ataukah Prabowo-Hatta Rajasa, disingkat PRAHARA.

Pasangan Jokowi-JK dideklarasikan di gedung Joang 45, sementara Prabowo-Hatta di Rumah Polonia Jalan Cipinang. Mengapa memilih pendeklarasian di ke dua tempat tersebut?

Untuk sementara alasannya karena Balai Sarbini akan dipakai oleh Indonesian Idol, sementara Studio Indosiar Daan Mogot juga sudah dikontrak oleh Dangdut Academy.

Sementara itu, Golkar sempat bingung menentukan arah. Ical sebelumnya diketahui menawarkan diri dan elektabilitasnya di berbagai kubu, namun tak ada kesepakatan yang dicapai hingga injury time.

Nyaris frustasi, Ical diusulkan untuk menawarkan diri ke Tokobagus dan Berniaga.com saja, sebelum akhirnya merapat ke kubu Prabowo-Hatta.

Kecewa karena tak dimasukkan ke koalisi oleh PDIP, Ical dan Golkar-nya sempat mengajak Nasdem berkoalisi membuat poros baru.

Nasdem dan Golkar berkoalisi menjadi Nasgor.Tapi akhirnya kesepakatan ini juga mengalami deadlock. Ical dan Paloh dianggap tak punya chemistry. Mereka tak bisa akur. Ini mengingatkan kita pada Popeye dan Brutus.

Adapun jika koalisi telah terbentuk sempurna, PDIP diperkirakan tak akan menjadwalkan Tri Rismaharini dan Ganjar Pranowo sebagai Juru Kampanye, karena keduanya diketahui sedang sibuk mengurus panitia Eskrim dan jembatan timbang di Youtube.

Yang mengejutkan, PKB adalah satu-satunya Partai berbasis islam yang tak merapat pada kubu Prabowo-Hatta, mengikut pendahulunya PKS, PPP dan PBB, serta PAN yang berafilasi pada
Muhammadiyah.

Ini dikhawatirkan akan berimbas pada berlarut-larutn ya permasalahan antara NU dan Muhammadiyah dalam penentuan tanggal Lebaran.

Cak Imin dan PKB-nya resmi bergabung dengan koalisi partai pendukung Jokowi-JK, setelah sebelumnya mem-PHP Rhoma Irama. Tapi ini dianggap tak terlalu berpengaruh pada kekuatan koalisi.

Kubu Cak Imin dipastikan hanya akan kuat jika bersatu dengan kubu Cak Norris.

Rhoma Irama yang terlanjur kecewa, tak akan tinggal diam. Ia rencananya akan mengajak pimpinan partai PKPI, Sutiyoso untuk bergabung membentuk kekuatan baru. Diusulkan nama “Serikat Pendukung Rhoma Irama dan Sutiyoso untuk Indonesia”, disingkat SPERMATOSOID.

Rhoma Irama tak takut pada kekuatan koalisi partai pemenang Jokowi-JK, bahkan pada koalisi partai Prabowo-Hatta sekalipun. Koalisi bersepeda dengan koalisi berkuda, menurutnya bisa dilawan dengan koalisi bergitar.

Yang mulai cemas justru anak Rhoma Irama, Debby Irama.
Jika Jokowi-JK menang, Debby rencananya siap-siap membuat passport kewarganegaraan Kongo.

Diluar dugaan, WIN-HT akhirnya pecah kongsi. Kuis hoax Kebangsaan pun terancam bubar. Wiranto terlebih dahulu merapat ke Jokowi-JK. Inipun sebenarnya tak terlalu berpengaruh. Hanura oleh sebagian pihak dianggap HANURA (Hanya Numpang Rame).

Ini bertolak belakang dengan keputusan Harry Tanoe atau HT yang merapat ke Prabowo-Hatta.

Misi awal HT akan menjadikan pasangan Prabowo-Hatta jadi cameo dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Informasi ini konon dibocorkan oleh Wiranto sendiri
setelah sempat mematai-matai dengan menyamar menjadi tukang becak.

Sementara itu hingga berita ini diturunkan, Demokrat masih memilih Netral. Sikap ini dikecam oleh berbagai pihak. Demokrat dianggap tidak konsisten. Memilih NETRAL, padahal SBY adalah
fans JAMRUD.

Bukankah ini inkonsisten? Konvensi Partai Demokrat dinilai hanya akal-akalan. Konvensi dianggap sekadar mencetak calon tanpa kepastian nasib.

Hal ini tidak dibantah oleh pihak demokrat. Konvensi menurut mereka memang hanya
mencetak calon. Karena yang mencetak sablon itu bukan konvensi namanya, tapi konveksi.

Ini sangat disayangkan, padahal banyak tokoh berpotensi yang sempat ikut konvensi. Anis Baswedan misalnya. Ia juga bisa menjadi kuda hitam, apalagi jika Anis Baswedan berpasangan
dengan Anis Matta membentuk kekuatan baru, duo Anis.

Ini bisa bertambah kuat lagi jika didukung oleh Anisa Bahar dan Anisa Cherrybelle.

Pemirsa…
Apapun hasil akhirnya, menarik untuk kita kawal dan ikuti hingga proses akhir pemilihan. Semua opini masih bisa berkembang tanpa perlu bubuk fermipan.

Yang perlu kita pahami, persoalan gemuk dan ramping bukanlah sekadar persoalan koalisi yang rumit, melainkan persoalan kozui slimming suit

Demikian, Arham Kendari melaporkan..

Facebook

Kategori
Pendidikan

“Nggragasi” Politik dan Kerja Produktif

Kalo banyak orang sekarang yang mikirnya politis sih mungkin iya. Tapi kalo sekarang banyak politisi yang “berpolitik” mah, nanti dulu, aku ga mau bilang iya. Nalarku yang bodoh ini lebih melihat banyak politisi yang sedang berbisnis materi, bukan berpolitik. Mengapa? Karena berpolitik itu butuh keberanian dan kelurusan hati. Sedangkan bisnis materi itu modal berani sama analisis untung rugi yang cermat.

Ya sudah Pak Bu, mari lanjutkan kerja lagi, jenengan nggagasi politik tenanan yo ra marai tentrem neng ati to. Apalagi jenengan bukan pelaku politik dalam skala yang diperdebatkan itu. Kita masih punya urusan politik Dul, yakni mendirikan parlemen dihati kita untuk memutuskan apakah detik ini, dalam suasana begini, dan untuk tujuan ini kita harus misuh-misuh atau kalem, harus membenci atau mencintai. Kalo sudah nanti tinggal naik ke level keluarga, RT, RW, Kampung, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, Nasional. Semoga sukses.

Gabung di komunitas online itu dapat keteladanan penting tentang arti rendah hati. Sejauh bergaul dengan orang-orang hebat yang hobi “nungguin leptop dan PC” mereka adalah orang-orang yang cenderung silent dan produktif. Keahlian mereka ditunjukkan dalam bekerja, bukan wacana. Sang suhu coding hingga yang mbaurekso server justru terkadang tersembunyikan dalam kesahajaannya. Seperti halnya sang sopir yang mengawal kami dalam perjalanan Bandung-Bogor adalah seorang konsultan sebuah perusahaan. Dan guru-guru hebat itu selalu tersembunyi, baru ngaku kalo kita sungguh-sungguh ingin belajar ilmu-ilmu penting padanya. Maka tidak usah tertipu dengan label-label, cukuplah label sebagai tanda pengenal tapi itu bukan standar.

Sumber :

Facebook 1 

Facebook 2

Kategori
Pendidikan

“Minat” Membaca

Banyak orangtua dan guru bertanya, “bagaimana caranya menumbuhkan MINAT MEMBACA pada anak?”

Lalu karena panik, banyak yang kerasukan setan pabrik, maka anak2 digegas dan ditargetkan membaca yang kadang membebani dan membuat ketegangan di rumah atau di sekolah. Entah demi siapa? Demi daya saing? Ada yang mentargetkan anaknya utk membaca satu buku perhari, ada yang mewajibkan 10 buku per-minggu dstnya. Mirip upacara ritual, padahal kesesatan yang dianut para penghamba Darwinisme Sosial.

Seharusnya pertanyaannya dibuat, “bagaimana caranya menumbuhkan MINAT pada anak?”, dengan menghapus kata MEMBACA. Ingat bahwa anak2 secara fitrah adalah pembelajar tangguh dan memiliki sifat2 produktif yang harus direlasikan dengan minatnya.

Seringkali kita tergesa2 dan langsung meloncat kepada penjejalan pengetahuan, padahal Abu Bakar ra berpesan, bukan Aib bagi seseorang yang tidak mengetahui sesuatu yang tidak berelasi dengan dirinya. Jadi Minat, sesungguhnya harus berangkat dari Sifat2 atau Potensi2 Produktif atau Bakat seseorang.

Misalnya anak2 yang punya potensi/sifat produktif spt suka berbagi (sharing), suka melihat oranglain pintar (developer), suka menjelaskan (explainer) dsbnya yang biasa terdapat pada peran Guru, maka pasti akan sangat berminat membaca buku2 yang terkait dunia pendidikan. Misalnya anak2 yg punya potensi/sifat produktif spt designer, engineer, visioner dll yang biasanya terdapat pada sosok peran Arsitek, maka pasti akan sangat berminat membaca buku2 tentang arsitektur.

Minat yang tidak berangkat dari sifat/potensi produktif akan cenderung berangkat dari dorongan syahwat dunia spt ranking, gelar, materi, medali, gengsi dsbnya. Ujung2nya adalah kehampaan dalam karya2 yang bermanfaat bagi ummat.

Itulah mengapa pula Abu Bakar ra berpesan bahwa dua hal yang paling utama adalah mengenal diri (menghebatkan bakat) dan mengenal Allah (memuliakan akhlak).

Salam pendidikan berbasis potensi dan akhlak.
?#?pendidikanberbasispotensi?

Harry Hasan Santosa

Kategori
Pendidikan

Pendidikan Berbasis Kompetisi?

Saya heran, masih saja ada orang2 yang memandang bahwa cara mendidik anak2 supaya kreatif dan siap dalam kehidupan adalah dengan cara kompetisi. Seseorang bahkan mengingatkan saya sebuah pesan dari Musolini: “…utk membuat generasi muda siap utk bersaing dan berfikir kreatif adalah dengan berperang”.

Saya katakan bahwa idea persaingan adalah idea Darwinisme (slogan dari the survival of the fittest). Simak tulisan Harun Yahya. Darwinisme jelas telah melahirkan Fasisme dan tokoh2nya seperti Musolini, yang menyengsarakan dunia. Sesungguhnya Islam membawa spirit pembebasan (liberation bukan liberalisme) dan kepekaan utk menebarkan rahmat bagi semesta. Maka terdengar aneh jika seorang Sahabat Nabi mengatakan jika ingin membuat anak pemberani, maka ajarkanlah Sastra. Tahukah anda, bahwa seorang jendral perkasa sekelas Khalid bin Walid ra adalah pengagum karya sastra? Sesungguhnya perang hanyalah bagian dari upaya pembebasan bukan tujuan itu sendiri.

Tahukah anda, bahwa kompetisi atau persaingan hanya membuat anak2 kita kehilangan jatidirinya krn dipacu untuk meniru oranglain. Orientasi fikiran, perasaan dan sikapnya selalu dikendalikan oleh standar2 dan perangkap obsesi2 yang dibuat oranglain, dan jelas bukan untuk menjadi dirinya. Tidak ada nilai manfaat yang diciptakan dalam persaingan kecuali saling mengintip permainan lawan, saling meniru, saling menjelekan dan saling mematikan. Pemborosan sumberdaya selalu menyertainya. Dehumanisasi, disorientasi, disfungsi, disharmoni selalu terjadi diakibatkan persekolahan berbasis persaingan., seperti yang dialami bangsa ini.

Maka hebatkanlah anak2 generasi Indonesia dengan potensi yang ada dalam diri mereka sendiri dan yang dimiliki bangsa ini, sibukanlah anak2 kita mensyukuri karunia Allah yang ada dalam dirinya dan di alam Indonesia, lalu muliakanlah akhlaknya dengan sebanyak2nya membuat karya yang memberi manfaat dan rahmat bagi semesta.

Salam Pendidikan Peradaban

Harry Hassan Santosa

Kategori
Pendidikan

Ketika Negara Hendak Menjadi Tuhan

oleh Harry Hassan Santosa

Negara ingin jadi Tuhan dgn memusatkan dan menyeragamkan semuanya termasuk persekolahan, maksudnya sih biar mudah mengendalikan utk kepentingan2 negara. Namun karena bukan Tuhan ya walhasil kecapean sendiri krn beban dan tuntutan semakin berat, apalagi komunitas dan desa dikondisikan tergantung abis. Ibarat server sudah ngos ngosan ditumpangi berbagai aplikasi, apalagi banyak virusnya.

Saya kira daripada para ortu memilih HS homeschooling, lebih baik bikin CBE, community based education. Beberapa orangtua2 seide, merancang pendidikan anak2 mereka sendiri, fokusnya pd potensi dan akhlak. It takes village to raise a child. Dibutuhkan komunitas atau jama’ah utk membesarkan anak. Kehangatan jama’ah, masjid, warga akan semarak lagi di perumahan, di kampung dan di desa.

Ayo kembangkan potensi dan akhlak anak2 kita shg mereka terampil hidup, mandiri, dan mampu menghebatkan potensi komunitasnya atau potensi desanya. Jika ada 1000 desa2 dan kampung2 semarak, mandiri dan berakhlak, maka peradaban Indonesiapun akan cerah gemilang. 

Lalu, tinggal sebut, wilayah mana di muka bumi yg ingin dibebaskan dan dimandirikan? Kami (desa2 dan kampung2 mandiri itu) siap dan berpengalaman!

Salam Pendidikan Peradaban

Facebook

Kategori
Pendidikan

Baca Berita Jangan Serius

Setelah media memberitakan tentang Sultan Brunei yang menetapkan pemberlakuan hukum Islam, maka media juga membuat berita tentang kabar-kabar tidak senonoh yang dilakukan keluarga kerajaan (bener ga? Ya embuh, tanya saksi matanya dong).

Setelah media memberitakan tentang perjanjian Helsinki yang salah satu poinnya penerapan syariat Islam di Aceh, maka media juga memberitakan tentang hal-hal amoral di Aceh (katanya yang di Aceh ya memang kejadian itu ada, tapi mengapa kemajuan akibat pelaksanaan hukum Islam tidak diliput).

Media gemar memberitakan perkosaan dan korupsi secara membabi buta tetapi hanya sedikit atau bahkan mungkin tidak ada berita yang berimbang tentang kemajuan pemerintahaan dan kegiatan-kegiatan positif di masyarakat yang sebenarnya juga sangat banyak.

Dan dalam berbagai pola pemberitaan media kita pasti menjumpai cara menaikkan berita buruk untuk menghantam berita yang baik. Untuk apa? Agar saat kita mendengar Islam, maka yang muncul adalah ketakutan, bukan ketertarikan untuk mendalami Islam (yang sesungguhnya baru kita tahu sebatas kulitnya sejauh ini). Agar kita terbiasa menikmati suasana bangga di tengah penderitaan orang lain, mereka yang jadi korban dan mereka yang melakukan kejahatan. Kita akan lebih menikmati suasana untuk mengumpat, menjelek-jelekkan, hingga berujung untuk saling mendengki satu sama lain.

Stop baca berita dengan serius (baca sambil lalu saja). Berita adalah landing page iklan, baca sekedar tahu info dan trend, apalagi pemberitaan politik. Lupakan saja sekumpulan omong kosong itu, cukuplah untuk kita tahu saja apa mainan media pekan ini. Ada berita langit yang lebih indah dan mendalam untuk kita baca dan hayati. Ada suara qalbu yang lebih syahdu untuk kita dengar dari pada suara penyiar yang menggosip keterlaluan itu.

Facebook

Kategori
Pendidikan

Taubat Pendidikan Nasional

oleh Harry Hassan Santosa

Bagi para pelanggan dan pengikut sistem persekolahan nasional, baik negeri maupun swasta, baik formal maupun informal, mohon jangan pernah bilang anak saya aman2 saja dari berbagai kasus dan ekses yg diakibatkan kesalahan mindset dan praktek persekolahan.

Kasus demi kasus, satu demi satu muncul dan semakin banyak terkuak, baik kasus yg lama yg membuat kita biasa2 saja krn sudah sering didengar, maupun kasus yg baru yg membuat publik sesaat tercengang2 lalu kemudian akan terbiasa lagi. Seperti biasa memori publik lemah dan mudah lupa, apalagi jika ada situasi politik atau selebritis yg menjadi gosip atau ghibah nasional.

Mari lihat satu persatu.

Kasus tawuran dan bully, nampaknya sudah tdk menjadi perhatian serius publik lagi krn memang terus menerus terjadi dan rutin. Orang bisa menikmati videonya di youtube setiap saat, lalu publik hanya tinggal menghitung data2 statistik, berapa yang mati, berapa yang luka2 hampir mati, berapa yg cidera ringan dstnya sambil bersyukur, “alhamdulillah itu bukan anak saya atau keluarga saya”

Kasus kecurangan dan mencontek UN sekarang bukan lagi hal yg tabu. Orangtua dan guru boleh saja tidak suka dgn perbuatan ini, tetapi mencontek sudah menjadi perbuatan yg massive, umum dan berjama’ah. Membeli bocoran adalah ritual tahunan, siswa smp dan sma “urun dana” utk membeli bocoran. Lalu sekolah dan ortu? Ya mereka pura2 saja tidak tahu, bahkan terkuak bhw di banyak sekolah, bocoran dibuat oleh team khusus guru2 yg dirancang oleh kepala sekolah. Sukar dipungkiri bhw mencontek ini sudah melanda siapapun, anehnya masih banyak ortu yg masih bilang, “alhamdulillah itu bukan anak saya”.

Kasus pelecehan seksual dan pedofili yang marak belakangan, ternyata kasusnya sudah ribuan dan berlangsung sejak lama, hanya saja disembunyikan dan tdk menjadi perhatian publik serius. Seperti biasa orang2 Indonesia kebanyakan baru takjub jika itu menimpa orang kaya dan sekoleh bule. Mungkin anda akan bilang, “alhamdulillah anak saya di sekolah agama dan tdk mungkin menjadi korban”. Siapa bilang? Menurut bunda Elly Risman, kasus pelecehan seksual, pedofili, homoseksual juga melanda sekolah agama dan pesantren.

Kasus stress parah dan bunuh diri. Sepanjang tahun 2002 – 2007, kasus bunuh diri sudah menimpa lebih dari 17 orang anak. Data2 tahun setelahnya bisa jadi semakin meningkat. Terakhir pelajar SMP di Tabanan Bali, yang bunuh diri. Siswi malang itu menggantung diri pakai dasi sekolah, sepulang UN krn soal UN dianggap berat. Kasus stress sedang sampai berat mungkin paling banyak terjadi. Lagi2, para penikmat sistem persekolahan nasional jangan berkata, “alhamdulillah anak2 saya nyaman2 saja”.

Silahkan dicheck, di komunitas2 pendidikan informal yang kelimpahan siswa stress parah atau yg dikeluarkan krn stress. Seorang pengelola pendidikan informal bercerita bhw ada siswa yg stress sampai membenci agama, benci Tuhan dan tidak mau sholat dstnya.

Seorang teman pengajar bimbel, bercerita bhw 20 tahun silam, ada siswi berjilbab rapih dari sekolah Islam, yang (maaf), menjadi terganggu jiwanya akibat stress berat. Siswi yg malang ini, konon sakit dan memaksakan diri ketika UN berlangsung, sehingga mengalami stress berat. Tentu saja siswi ini akhirnya tidak lulus, dan pada tahun2 berikutnya selalu datang ke bimbel tempat teman saya mengajar sambil membawa buku2 tebal seolah2 utk konsultasi belajar, pdhl sdh dianggap mengalami gangguan jiwa berat.

Tentu saja kita bisa mengatakan, “alhamdulillah itu bukan anak saya”. Angka2 itu hanya statistik sampai kita atau anak kita mengalaminya sendiri. Ini pengalaman saya pribadi, seorang anak perempuan di keluarga besar saya, mengalami “hang” selama berhari2, tidak mengenal siapapun dan hanya tergolek di tempat tidur. Penyebabnya adalah beban belajar yg berat. Aktifitasnya, seperti umumnya anak2 di kota besar, Sekolah Islam fullday ditambah eskul dan bimbel hampir setiap hari. Lalu “hang!*

Taubatlah, wahai pendidikan nasional.

Seorang mengirim sms dan bilang bhw pendidikan nasional kita sedang sekarat dan sedang darurat. Saya bilang yg sekarat dan darurat adalah anak2 kita, generasi mendatang bangsa Indonesia. Maka jalan taubat satu2nya adalah melakukan perubahan Mindset dan Praktek Sistem Persekolahan

1. Pendidikan bukan sekolah pacuan siswa, tetapi pendidikan adalah taman siswa. Di pacuan, anak2 dianggap kuda yg mesti dicambuk utk memenangkan pertandingan. Di taman, anak2 kita dianggap bunga2 indah beraneka warna yg mesti ditumbuhkan dgn kasih sayang dan cara2 yg spesifik satu sama lain. Sebenarnya sudah banyak pakar psikologi atau pakar manajemen yang meminta agar beban pelajaran persekolahan jangan dibuat berat, seolah2 anak2 kita seperti kuda pacuan dan sekolah adalah pacuan kuda. Pendidikan itu seharusnya sebuah miniatur dunia yang membuat anak2 kita menjadi asik, curious, nyaman, bahagia, dstnya sehinga mereka memiliki imaji2 positif ttg Tuhan, ttg Alam, ttg Manusia, ttg belajar dsbnya. Luka imaji akan menyebabkan luka persepsi, dan luka persepsi akan membuat rusaknya pensikapan kelak ketika dewasa.

2. Gunakan ukuran daya potensi bukan ukuran daya saing. Dalam persekolahan yg mengabdi pd industrialisasi dan kapitalisme juga sosialisme, ukuran2 yg dipakai adalah daya saing utk meniru bangsa lain. Anak2 kita digegas utk menjadi anak lain. Yang hebat adalah yang bisa menguasai semua. Potensi unik dan karya anak2 kita tdk lagi dihargai, kecuali nilai pd raport dan ijasah semata. Termasuk yg tdk dihargai adalah karya2 dan budaya lokal serta kearifan dan keunggulan desa2, krn itu semua dianggap bukan daya saing. Anak2 Indonesia, yg tdk mengenal dirinya dan tdk mengenal desanya/daerahnya, apalagi menghebatkannya, sama saja dgn generasi yg hilang, yaitu generasi yg melayang2 entah kemana, kehilangan konsep diri dan konsep bangsa, menjauh dari jatidiri dan jatibangsa juga jatiagama.

3. Nilai dan akhlak yg dijunjung dan dimuliakan bukan prestise materi. Persekolahan telah menjadi prestise bagi banyak orangtua, makin mahal makin prestise. Makin megah gedungnya, makin banyak bule nya, makin luas halaman parkirnya, makin mentereng furniturnya, makin eksklusif kurikulumnya, bagi kalangan tertentu makin terlihat “beragama” walau cuma akumulasi kurikulum dll, makin prestise. Persekolahan beginian hanya akan membuat anak2 kita menjadi elitis, tidak peka terhadap kehidupan sosial dan sekitarnya, mudah melecehkan kelas sosial di bawahnya, mengukur kemuliaan dari mobil dan jabatan orangtuanya, dstnya. Guru2 di sekolah dgn pungutan mahal, lebih sering dipandang sbg “orang gajian” yg menjadi buruh2 yg dipekerjakan dan masa depan hidupnya tergantung kebaikan yayasan. Dalam mindset spt ini, sulit diharapkan adanya keteladanan yg alamiah. Ingat bhw kehebatan moral dan performa tdk bisa diajarkan tetapi ditularkan lewat keteladanan.

Mari kita rancang perubahan pendidikan sekemampuan kita, setidaknya kita punya program pendidikan ideal di rumah dan di komunitas/jama’ah kita sendiri, yang akan menyelamatkan anak2 kita generasi Indonesia, hari ini dan masa depan.

Salam Pendidikan Peradaban

Facebook

Kategori
Pendidikan

Schooling vs Deschooling

oleh Harry Hassan Santosa

Saya sebenarnya bukan penganut deschooling maupun penganut schooling. Saya juga tidak sepaham dgn orangtua yang memindahkankan kurikulum sekolah ke rumah lalu menamakannya Homeschooling.

Saya penganut pendidikan berbasis potensi dan akhlak. Pendidikan sejati bagi saya adalah pendidikan yg konteks dan berelasi dengan potensi, baik potensi manusia maupun potensi masyarakat, budaya dan kearifan atau agama. Ujungnya adalah kemandirian, kepemimpinan dan kemanfaatan berbasis potensi2 itu.

Bagi saya learning atau schooling yg tdk berelasi dengan potensi2 tsb, dan tdk berujung kepada kemandirian, kepemimpinan dan kemanfaatan individu dan lokal/komunitas maka bukan pendidikan.

Dalam kaitan dgn bahasan di thread ini, saya hanya ingin, pemerintah mendatang tdk memandang persekolahan akademis nasional adalah satu2nya jalan utk orang mendapat pendidikan, dan satu2nya ukuran suksesnya pendidikan. Negara tidak boleh campur tangan terlalu jauh dalam praktek persekolahan kecuali fasilitas dan kebijakan umum,

Negara mesti memfasilitasi dan mengakui serius semua jenis keragaman pendidikan yg lain, walau dgn kurikulum buatan sendiri, serta ukuran2 sukses yg lain, misalnya ukuran karya, ukuran pengakuan komunitas bukan kelulusan akademis dll.

Negara hanya memfasilitasi, membantu menstrukturkan tiap keberagaman lokalitas, memasok ahli yg diperlukan oleh penyelenggara2 pendidikan tsb baik keluarga2 maupun komunitas2.

Desa2 nelayan di Halmahera atau Papua sana, mungkin tdk butuh smp, sma atau smk, mereka hanya membutuhkan pesantren perikanan, yg memadukan akhlak dan potensi lokal dgn target kemampuan membangun desa, bukan ijasah dan segala tetek bengek. Nah, negara fasilitasi saja itu.

Banyak keluarga mungkin juga tdk butuh persekolahan akademis, mereka hanya ingin anak2 mereka fokus pd bakat dan akhlak, mereka butuh merancang pendidikan anak2nya sendiri, mereka butuh memagangkan anak2nya pd expert2 di komunitas terkait. Nah, negara fasilitasi saja itu.

Istilah kerennya demokratisasi pendidikan.

Salam Pendidikan Peradaban

Facebook

Kategori
Pendidikan

Tips Membaca Berita [Jangan Terlalu Serius]

Berita sekarang itu kejar tayang, maka pembaca berita yang baik itu cukup tahu trend yang sedang dikembangkan media. Berita itu diproduksi untuk membuat para pengiklan datang bergilir menempelkan bannernya. Soal fakta itu nomor dua, tidak penting juga jika kita bukan siapa-siapa. Jika terlalu percaya berita, rugi sudah waktunya terbuang sia-sia dan menunjukkan betapa lemahnya intelegensia kita.

Jika kita diminta untuk berdoa kepada Allah agar diberi sakinah, tapi khawatir berat gara-gara berita itu salah kita sendiri menggadaikan tawakkal kepada harta dan dunia. Manusia di muka saat ini dipenjara oleh berbagai indeks, mulai dari kurs mata uang hingga indeks2 lainnya. Mereka yang tahu hal ini pasti akan menjauhi atau berusaha meraup keuntungan besar dari permainan yang lucu dan aneh ini.

Cukup ketak-ketik sembari ngopi, maka ketakutan dan kekhawatiran ditebarkan bak teror. Sampai-sampai kita dibuat lupa berdoa dan mengawali pagi dengan optimisme. Ketakutan itu kini telah menjamah dunia sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Ketakutan itu telah membutakan banyak pasang mata kaum intelektual sekalipun ia bergelar profesor atau mbahnya profesor sekaligus.

Mari ingat, ingat ini hari Senin kawan, sudahkan berpuasa sunnah. Ingatkah hari ini malaikat Allah naik dan turun untuk melaporkan amalan kita. Apakah kita memberi ruang hati kita untuk berpikir dan berzikir kepada-Nya. Apakah lisan kita baik yang terucap maupun terstatuskan di sini telah berhenti dari ghibah, baik itu soal sepele hingga ghibah politik khas media massa yang sering kita ikuti.

Tidak perlu merasa paling benar sendiri karena itu akan menghadirkan kesombongan dan keangkuhan. Jika kita yakini sesuatu itu benar, maka pelihara akhlak agar kebenaran itu tetap tersampaikan dengan baik dan di saat yang baik. Banyaknya orang yang merendahkan agama Islam dan menghina Rabb kita mungkin karena banyak lisan kita yang menyakiti dan mencerca mereka. Padahal Quran sudah melarang kita untuk mencerca sesembahan mereka secara berlebihan agar mereka tidak mencerca Allah dengan lebih keji dan keterlaluan.

Yuk perbanyak istighfar.

Facebook

Kategori
Pendidikan

Pendidikan : Buah Sinergi Orang Tua, Sekolah, dan Masyarakat

Berbicara soal pendidikan di negeri ini adalah topik yang hangat, baik karena itu memang masalah substansial atau untuk keperluan bisnis. Berbagai seminar digelar untuk mendiskusikannya, meskipun sedikit darinya membuahkan solusi yang konkrit untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan di negeri ini. Setidaknya masih ada orang yang mau berbicara dan beretorika meskipun yang mau mengambil tindakan masih jauh dari yang diharapkan.

Ceritanya tadi malam dan tadi pagi aku mendapat tugas untuk membantu kegiatan outcamp adik-adik Sekolah Alam Bengawan Solo di Segorogunung. Karena Pak Indrawan Yepe alias mbah Gondrong yang biasanya kerap mengawal kegiatan outbond anak-anak SABS berhalangan hadir aku diminta untuk menggantikannya dalam menunjukkan rute-rutenya. Tentu saja aku tahu karena tempat ini adalah tempat persinggahanku dikala stress dan galau sejak mengenal Pak Indrawan. Di tempat inilah idealismeku dibentuk dan dipupuk hingga akhirnya terus berkembang dan bisa tetap belajar hingga kini.

Sebuah pemandangan tidak biasa kujumpai tadi malam ketika bersama para juniorku di lingkaran inspiratif mengunjungi rumah Pak Sumadi, markas yang digunakan oleh para pengunjung segoro gunung. Di depan rumah terparkir beberapa mobil mulai dari yang kelas menengah hingga yang mewah, Honda Jazz. Wow, ternyata agenda outcamp kali ini tidak hanya diikuti oleh siswa-siswa SABS tetapi juga orang tua siswa. Aku baru tahu bahwa ternyata ada pengusaha kaya juga yang menyekolahkan anak mereka di SABS. Kurasa inilah salah satu harapan kebangkitan itu.

Aku melihat kejadian ini luar biasa. Mengapa? Karena orang tua mulai dari yang kelas bawah hingga kelas elit meluangkan waktu 2 hari untuk turut mengikuti kegiatan seperti ini jelas bukan hal biasa bukan. Pemandangan yang kerap kita jumpai di sekolah-sekolah negeri adalah ketidakpedulian orang tua untuk mengawal dan mengenal makna pendidikan yang sesungguhnya. Mereka hanya peduli bagaimana mencukupi uang saku dan SPP putera-puterinya serta menagih nilai yang diperolehnya. Jika tidak puas, maka disewalah para guru untuk membantu belajar dengan target yang tidak berubah juga, nilai.

Mas Jefri, sang kepala sekolah yang berlatar belakang pendidikan teknik arsitek ini menceritakan bahwa para penduduk Segorogunung kaget karena baru kali ini ada anak-anak SD yang masih kelas 1 – 3 berani bertamu sendirian di rumah, berdiskusi dan melakukan wawancara kepada sang pemilik rumah. Mereka juga meminta izin untuk melihat kebun dan bertanya-tanya apa pun yang mereka ingin tahu tentang berkebun di lereng Gunung Lawu itu. Pemandangan menarik ini tentu berbeda dengan aktivitas rutin yang membosankan di ruang kelas karena siswa malu-malu dan takut untuk bertanya dan mengeksplorasi apa pun yang ingin dia tahu.

Ini hanyalah sebuah gambaran kecil bagaimana pendiri Sekolah Alam Bengawan Solo dan super team-nya berjuang untuk mengembalikan filosofi pendidikan yang sesungguhnya, yakni membangun partisipasi orang tua dan masyarakat sebagai sekolah kedua setelah sekolah yang sebenarnya untuk menjadi ruang belajar siswa. Sudah tidak jamannya lagi sekarang orang tua menuntut sekolah menyediakan pembelajaran yang bagus sementara di rumah orang tua justru merusaknya dengan berbagai fasilitas yang tidak mendukung kenyamanan belajar siswa.

Hari ini, aku masih punya alasan untuk tetap menentang berbagai kebijakan pendidikan yang cenderung mengeksploitasi siswa ini. Karena masih ada para pejuang yang rela berkorban meninggalkan kenyamanan pilihan hidup mereka untuk menjadi sahabat baik para generasi Indonesia. Pak Yudi, sang pendiri bisa saja menjadi eksportir mebel besar kalau dia lebih sibuk mengurus bisnis mebelnya. Mas Jefri, tentu lebih sukses saat menjadi arsitek dan bekerja di perusahaan konstruksi raksasa karena beliau tergolong mahasiswa berprestasi di kampusnya. Kemudian para punggawa yang lain. Merekalah orang-orang hebat sesungguhnya yang membuatku kagum. Merekalah para pahlawan pendidikan yang masih bisa kulihat hari ini. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan pada mereka untuk bertahan dalam jalan juang ini.