Kategori
Resensi Film

Film 99 Cahaya Di Langit Eropa, Kritik & Inspirasinya

Ceritanya hari ini adalah agenda pekanan dengan adik-adik. Tapi sepertinya harus ada hal baru yang perlu dimunculkan untuk membuat suasana baru. Apalagi ini lagi ada satu film baru lagi yang menarik untuk ditonton bersama, 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2. Yang Part 1 sudah aku tonton bersama sahabat terbaikku di kampus.

Jadilah aku memesan beberapa tiket untuk adik-adikku (tapi bukan nraktir ya). Kami malam ini akan menonton bersama film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2. Tidak seperti yang Part 1, aku belum membaca bukunya sama sekali. Tetapi kemarin aku baru saja menyelesaikan seri bukunya, dan baru tahu bahwa ada banyak gubahan di filmnya. Tentu saja masuk akal, karena film harus ada plot yang lebih nendang, sekaligus menyesuaikan kondisi lapangan.

Bagaimana dengan yang part 2 ini? Ha ha, sama, dan bahkan lebih distortif. Tetapi lagi-lagi kita harus sadar, ini adalah pengalaman pribadi perjalanan dua anak manusia yang tentu saja mengandungi unsur benar dan salah. Apa yang kita tonton bukanlah semua hal yang harus dibenarkan. Itulah pentingnya nilai yang seharusnya tertanam lebih dulu sehingga kita tidak menjadikan tuntunan sebagia tontonan. Kesan yang kurasakan lebih untuk menikmati keindahan kota-kota di Eropa seperti Cordoba dan Istanbul.

Dengan segala kekurangannya, film ini mampu menyajikan hal yang menarik untuk disimak dan direnungkan. Sisi kebijaksanaan bagaimana berdakwah adalah pelajaran berharga. Mari kita ingat bahwa setiap orang yang hidup itu punya kesempatan untuk menjadi baik. Ketika kita melihat sahabat muslimah kita belum berjilbab dengan benar, maka tidak ada alasan kita membencinya. Bahwa dia belum berjilbab maka kita tidak pernah membenarkannya, tapi bukan berarti kita seenaknya memaksakannya. Begitu pula untuk syariat Islam yang lain.

Maka dalam kehidupan negara yang telah menjalankan syariat Islam, kesenjangan antara pengajaran ulama yang berhikmah dengan aturan yang tegas oleh negara seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang sekuler melalui media-medianya untuk memicu pemberontakan. Itulah mengapa jika ada yang gembar-gembor teriak syariat tetapi tidak memikat hati masyarakat untuk ber-Islam justru berbalik menjadi bahan tertawaan. Bahwa kita mengejar sebuah kekuasaan untuk umat Islam itu adalah hal yang penting dan sama pentingnya kita mengedukasi masyarakat Islam untuk mengetahui pokok-pokok ajaran Islamnya. Lebih bagus lagi seperti yang telah dilakukan Imam Shamsi Ali, membuka kelas diskusi untuk non Muslim di AS sehingga mereka menjadi mengerti tentang keindahan Islam ini.

Akan tetapi jihad dengan pena tidak berarti menggugurkan jihad fisik kita. Hari ini kita dalam suasana ghazwul fikr (perang pemikiran) maka kecerdasanlah yang kita gunakan. Menggunakan kekerasan fisik karena tidak mampu menahan emosi akan memperburuk citra Islam. Maka ini hanyalah sebentuk jihad terbaik yang bisa kita lakukan untuk kondisi negeri dan masyarakat yang damai. Berbeda dengan saudara-saudari kita yang ada di Palestina, mereka melakukan kedua jihad itu untuk meraih kemuliaan. Maka mari tahu diri, tahu tempat, lalu lakukan yang terbaik untuk menyusul mereka yang telah syahid baik di medan jihad atau dalam tugas mulia ini.

Kategori
Resensi Film

Shingeki No Kyojin: Kisah Keberanian Pejuang

Ini adalah bagian terakhir dari alasan ketertarikanku pada anime Shingeki No Kyojin. Secara umum aku adalah penyuka film-film kolosal. Dan anime ini juga memberikan hal itu, kisah heroik para pasukan penjaga dinding maupun Recons Corp. Mereka adalah pasukan-pasukan berani yang siap menghadang bahaya, tidak seperti polisi militer yang tingkahnya tidak terlalu berbeda dengan kebanyakan polisi di dunia nyata kita hari ini.

Menyaksikan keberanian komandan Erwin Smith, kapten Revaille Levi dan anggota pasukan pengintai dalam menjalankan misi memberikan pencerahan tersendiri bagiku. Aku mungkin terlalu lebay mengatakan hal ini. Tapi sungguh refleksiku menembus dimensi yang lebih luas tentang gambaran pengabdian seorang prajurit. Jika bukan karena semangat bertarung mereka yang gagah berani, tentu mereka memilih tinggal di dalam dinding dan menjadi polisi militer mengingat kemampuan bertarung mereka luar biasa.

Selain itu, para prajurit muda yang mendapatkan gelar 10 pasukan terbaik justru sebagian besar mereka akhirnya memilih untuk menjadi bagian dari Recons Corp. Mereka yang sejatinya punya kesempatan untuk “kabur” dan bersenang-senang di dalam kota menjadi polisi militer atas prestasi mereka justru memilih untuk menerjang bahaya. Itu bukan pilihan yang mudah kawan jika kita terapkan dalam kehidupan nyata hari ini.

Bagaimana logika kita untuk memilih menjadi pasukan perbatasan yang rawan konflik sementara kita sebenarnya bisa saja menjadi komandan yang bermarkas di Jakarta. Tapi tekad, pengabdian, dan keberanianlah yang membuat hal tak masuk akal itu terjadi. Apakah itu nyata? Sangat nyata dan aku masih percaya bahwa hari ini banyak pejuang yang melakukan hal serupa dengan cara mereka masing-masing di kehidupan nyata hari ini, di sekitar kita. Jika kita tidak tahu, mungkin pola pikir kita masih seperti kebanyakan orang yang berada di dalam dinding itu.

Eren, Mikasa, Armin, Jean, dan para jawara di pelatihan militer menyadari bahwa menjadi pasukan dengan posisi nyaman sesungguhnya mematikan jiwa keprajuritan mereka sendiri. Maka dari itu mereka tidak pernah lagi takut menghadapi bahaya dari amukan Titan yang sangat kejam itu. Mereka bertaruh demi kebebasan yang mereka impikan sekaligus membalaskan dendam umat manusia selama berabad abad lamanya.

Masih adakah keberanian yang tersisa dari diri kita hari ini kawan? Keberanian untuk memilih menjadi antimainstream di setiap orang telah menyerah dengan meneriakkan sebuah pilihan yang pahit. Keberanian untuk membuat keputusan hidup yang berbahaya dari sudut pandang umum kebanyakan orang. Keberanian untuk memegang idealisme sebagai pemuda yang gagah berani.

Aku sendiri tidak pernah tahu seberapa berani sesungguhnya diriku ini dalam menghadapi kehidupan ini. Hanya saja sejak aku sadar tanggung jawabku sebagai pemuda, aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi bagian dari nyanyian kemonotonan hidup. Entah bagaimana caranya, aku memutuskan untuk membuat jalan sendiri atas hidupku ini yang tidak mengizinkan seorang pun mengintervensi mimpi dan cita-citaku nanti.

Melihat perjuangan para pasukan pengintai (Recons Corp) aku selalu berdecak kagum. Aku seperti kembali mengingat masa-masa perjuangan para pasukan Islam yang begitu bersemangat untuk menaklukkan para penguasa-penguasa yang zalim di masa-masa itu. Masa di mana perjuangan itu menjadi ruh setiap kaum muslimin. Dan hari ini, ruh itu coba dihidupkan lagi melalui berbagai cara yang bisa dilakukan oleh masing-masing kita. Atau kelak kita hanya tetap menjadi pengecut yang memilih bersembunyi di dalam dinding. Dinding ketakutan, dinding kepicikan, dan dinding keegoisan itu.

Sekian dulu yah untuk ulasanku tentang anime Jepang yang telah menyita beberapa jam dalam hari-hari ku kemarin. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi pembaca sekalian.

Kategori
Resensi Film

Shingeki No Kyojin: Refleksi Tentang Kebebasan Berpikir

Nah ini refleksinya lebih nendang. Mengapa? Saat aku melihat perilaku masyarakat dalam anime ini aku seperti tidak melihat hal yang lain. Itulah potret negeriku saat ini. Potret masyarakat yang memiliki daerah luas tetapi pola pikirnya sangat sempit. Terbatasi oleh dinding yang kokoh sehingga begitu konservatif. Celakanya, sebagiannya adalah konservatif dalam kerakusan mereka. Takut kekayaan mereka dirampas dan takut kenyamanan hidup mereka terusik.

Berbeda sekali dengan tiga pemuda yang kusebutkan tadi, Mikasa-Eren-Armin. Armin yang sejak kecil suka belajar bahkan berani membuka buku-buku terlarang yang berkisah tenang dunia di luar dinding. Di dalam dinding mereka hanya melihat sungai yang sudah tidak alami dan tatanan rumah monoton. Tapi dari buku terlarang itu mereka penasaran ingin melihat lautan, gunung, hutang belantara dan segala keragaman hayati yang ada di luar sana. Tak heran jika mereka punya alasan konyol untuk menjadi bagian dari Recons Corp. Selain ingin membalas dendam kepada para Titans, sejatinya mereka ingin melihat kebebasan itu, ingin melihat dunia luar seperti yang mereka impikan itu.

Kebebasan berpikir adalah bagian dari kemerdekaan hidup. Alangkah menyedihkannya ketika melihat orang-orang yang begitu kolot dalam berpikir dan cenderung menjadi egois. Hal itu diperparah oleh dogma yang dihembuskan oleh sekte pemuja dinding. Mereka membuat rakyat semakin bodoh dan bergantung pada dinding sebagai penjamin rasa aman bagi mereka. Dalam konteks keagamaan kita hal itu tidak jauh berbeda dengan perilaku masyarakat yang masih suka dengan takhayul dan berbagai klenik. Rakyat dihantui dengan berbagai mitos dan ketakutan akan datangnya serangan Titans sehingga mereka memilih untuk tetap berada di zona aman mereka tanpa mau peduli dan mengerti bahwa di luar dinding ada dunia yang lebih luas terhampar, lebih indah memesona.

Kemerdekaan berpikir, sejatinya adalah sebuah perilaku manusiawi yang selalu menuntut adanya pembebasan dari masa ke masa. Mengapa kita dulu berperang untuk merdeka. Apa yang sejatinya ingin kita merdekakan? Hanya cukup kehidupan dan tanah? Tentu tidak. Para pejuang sejati adalah mereka yang tidak memberikan ruang sedikit pun dalam pikirannya untuk diintervensi oleh orang lain. Mereka adalah orang-orang yang terbuka untuk menerima banyak hal lalu memutuskan secara bertanggung jawab pilihan hidup mereka lalu berjuang dengan sepenuh hati atas pilihannya itu.

Itulah yang dipesankan anime ini. Ketika pikiran orang-orang terkekang maka yang ada adalah stagnasi kehidupan yang dengan mudah akan diacak-acak oleh musuh lewat serangkaian terror dan konspirasi yang mengerikan. Di sini pula, terlahir sekelompok orang yang bosan dengan kemonotonan hidup itu untuk keluar dari zona yang mengekang itu dan mempertaruhkan hidup mereka untuk mendapatkan kebabasannya kembali. Keluar dinding, dan menembus dunia luar yang penuh teka-teki itu.

Di kehidupanku sekarang, aku melihat kenyataan  itu hadir di depan mata. Tentang kehidupan orang-orang yang ketakutan dalam mimpi dan tekanan sosialnya. Tentang kehidupan orang-orang yang merasa paling benar dalam sudut pandangnya sehingga dia selalu menganulir hal-hal berbeda yang datang padanya, bahkan tak jarang menyumpah serapahi orang-orang yang berbeda sudut pandang darinya lalu menyematkan gelar-gelar buruk. Tentang kehidupan orang-orang egois yang hanya sibuk dalam dunia sempit mereka tanpa peduli lagi tentang nasib masyarakatnya yang lebih besar sedangkan ia memiliki segala peluang untuk menyelesaikannya.

Kebebasan berpikir, itu tentang langkah nyata yang mensyaratkan keberanian bagi penyandangnya. Yang takut dan ragu-ragu maka selamanya ia tetap berada di dalam dinding, mengintip lalu berbalik lagi karena dihantui ketakutan yang sejatinya adalah buah dari permainan perasaan egoisnya.

bersambung …

Kategori
Resensi Film

Shingeki No Kyojin: Senyum Optimisme di Tengah Pesimisme

Selanjutnya adalah kisah dari tentang masyarakat dalam dinding yang menyebalkan. Yakni orang-orang yang hanya banyak berkomentar dan tidak menghargai para pejuangnya yang melakukan pengorbanan di luar dinding. Siapakah para pejuang itu? Yakni para pasukan Recon Corps atau pasukan pengintai. Mereka adalah bataliyon yang berani keluar dari dinding untuk berhadapan langsung dengan para Titan sekaligus mencoba mencari rahasia untuk mengalahkan mereka.

Pasukan Recons Corp lah yang berjasa untuk mempelajari keberadaan para Titans sehingga mereka dapat mengetahui cara membunuh Titan yang paling cepat. Namun karena keberanian mereka mengambil resiko bertempur di luar dinding kerap kali mereka pulang dengan penuh kehancuran usai bertempur di luar. Banyak dari pasukan yang hilang dimakan oleh para Titan dan perbekalan mereka rusak. Rakyat yang cerewet hanya bisa berkomentar sinis setelah para pejuang itu sedemikian gagah berani bertempur di luar sana. Memang, para pecundang akan lebih suka menyindir dari pada bertempur.

Nah, di saat para pasukan Recons Corp pulang sang komandan dan para pasukan tertunduk lesu berjalan di jalan-jalan kota diiringi sumpah serapah masyarakat yang menyebalkan tadi. Namun hal itu tidak bagi Eren yang sejak awal melihat mereka dari kejauhan. Erenlah salah satu di antara pemuda yang tetap menaruh kebanggaan kepada pasukan itu. Di saat yang lain menjadi komentator yang menyebalkan, Eren justru memberikan ekspresi kekaguman pada mereka yang ini akhirnya disadari oleh Erwin sebagai salah satu bagian dari pasukan pengintai yang akhirnya dia menjadi komandan di kemudian hari.

Peristiwa itu pun terulang ketika Eren telah menjadi bagian dari pasukan pengintai. Kepulangan pasukan Recons Corp yang sial setelah berhadapan dengan Titan Wanita membuat pasukan besar itu hancur dan kehilangan beberapa prajurit terbaik mereka. Tak pelak jika komandan Erwin mendapatkan sumpah serapah yang mengerikan dari rakyat yang mengiringi perjalanan mereka di sepanjang jalan kota. Namun mata Eren juga kembali menangkap sosok pemuda yang begitu bangga menatap iring-iringan pasukan ini dari kejauhan.

Kawan, inilah lilin-lilin yang terkadang kita lupakan. Kita seringkali terlalu fokus pada umpatan dan caci maki para badut di sekitar kita, namun lupa memperhatikan satu dua yang begitu antusias melihat perjuangan ini. Menjadi bagian dari pasukan pengintai bagiku adalah kesempurnaan pilihan hidup dari kisah yang begitu rumit itu. Di saat kebanyakan orang tertekan oleh teror ketakutan yang luar biasa atau sibuk dengan menumpuk kekayaan pribadi, pasukan Recons Corp-lah yang membuktikan bahwa dirinya lepas dari semua keinginan itu dan mereka memutuskan untuk berperang dengan gagah berani di luar dinding.

Setiap kali dalam perjalanan kita, kita hanya butuh hal-hal kecil ini untuk kembali bangkit. Usahlah peduli dengan cemooh dan caci maki para badut yang hanya tahu senang dan tidak peduli kesusahan orang lain. Mereka yang tak pernah mau berkorban tak akan pernah mengerti arti sebuah pengorbanan. Percayalah, pasti akan selalu ada satu dua orang yang memberikan optimisme di tengah suasana pesimisme yang luar biasa. Temukan itu dan lupakan mereka yang telah menyerah.

bersambung ….

Kategori
Resensi Film

Shingeki No Kyojin : Kesetiaan Mikasa-Eren-Armin

Ketertarikan berikutnya adalah kisah dari tiga sahabat yang menjadi penghuni kawasan dinding Maria, Mikasa-Eren-Armin. Mereka adalah tiga bocah yang malang karena orang tua mereka telah mati. Mikasa kehilangan kedua orang tuanya lewat sebuah pembunuhan misterius hingga akhirnya Eren berhasil menyelamatkannya dan mengajaknya tinggal bersama. Eren kehilangan ibunya saat serangan pertama Titan datang dan memakannya. Ayahnya menghilang secara misterius sebelum serangan Titan datang dan hanya meninggalkan tanda tanya bagi Eren. Armin, sahabat Eren dan Mikasa yang terkenal sangat cerdas dan selalu penasaran untuk melihat dunia luar.

Tentu saja hal yang menyentuh adalah kesetiaan Mikasa pada Eren. Sebuah persahabatan yang semula berawal dari hutang budi hingga akhirnya menjadi sebuah bagian keluarga yang bermuara pada cinta. Mungkin lucu sih ketika Mikasa yang begitu cantik & sempurna itu justru takluk pada Eren yang emosional dan kekanak-kanakan. Tetapi begitulah cinta, tidak ada alasan bagi seseorang untuk memberikan kesetiannya pada orang lain ketika dirinya diliputi cinta. Karena cinta yang sejati itu tidak memiliki alasan rasional untuk menjelaskannya.

Kisah kesetiaan ketiga sahabat ini membuatku belajar untuk memandang sisi persahabatan yang kujalin selama ini. Aku perlu menelaah kembali apa yang terjadi dengan diriku dan komunikasi yang kujalin selama ini. Membangun persahabatan dan mungkin cinta yang penuh kesetiaan tentu bukan hal yang mudah, karena di sana ujian akan selalu datang untuk menguji seberapa setia kita terhadap apa yang telah kita ikrarkan bersama. Jika kita telah berjanji setia pada sebuah jalan atau seseorang maka pantang bagi kita untuk mundur. Maka memaknai setiap kesetiaan kita setiap saat penting agar tidak luntur oleh pragmatisme. Tiba-tiba aku terpikir tentang orang-orang yang telah menikah, yah mereka adalah sepasang manusia yang diuji janji setianya, apakah benar-benar setia atau karena hanya sebatas kepentingan sempit nan picik?

Aku lalu mengkhayal sosok Mikasa dalam kehidupanku nanti. Bukan soal cantiknya guratan wajah yang ditampilkan dalam anime tersebut, tapi tentang kesetiaannya dalam membalas budi orang yang telah berjasa padanya. Wow, ini adalah sebuah kesetiaan yang sempurna bukan. Alasan tidak ingin kehilangan bagian keluarganya yang tersisa tentu sangat mengharukan bagiku saat Mikasa selalu ingin berada di dekat Eren, di samping dirinya telah menaruh cinta yang besar untuk orang yang pernah menyelamatkan kehidupannya itu. Orang yang memiliki kesetiaan ini tentu luar biasa, dan mungkin setiap kita berharap memiliki pendamping hidup yang mampu setia dengan sempurna bukan? Ngaku aja lah.

bersambung …

Kategori
Resensi Film

Shingeki No Kyojin : Konspirasi Politik Tingkat Tinggi

Anime ini menceritakan tentang sebuah wilayah kekuasaan yang memiliki tiga kasta. Yakni sebuah negara yang dilindungi oleh 3 tembok super tinggi, 50 meter loh. Ketiga dinding itu terurut dari dalam hingga terluar bernama dinding Shina, Rose, Maria. Dinding Maria adalah dinding terluar yang memisahkan negeri tersebut dari dunia luar. Konon pertempuran antara manusia dengan para Titan terus berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Dan ketiga dinding itulah yang membuat masa pertempuran antara manusia dan Titan (raksasa yang berwujud manusia idiot) bisa terhenti selama hampir satu abad lamanya.

Dari 25 episode yang kutonton aku belajar tentang sebuah konspirasi politik yang besar di mana ada kejahatan terselubung yang diciptakan untuk selalu memberikan ketakutan pada manusia. Namun semua tidak disadari oleh masyarakat karena para pelaku kejahatan adalah orang-orang yang munafik, yakni mereka yang menunjukkan dirinya orang-orang yang sok baik di mata masyarakat. Sosok-sosok religious yang sejatinya menjadi penebar mimpi dan omong kosong.

Di tempat yang lain, pejabat dan aparatur negeri tersebut tidak jauh beda dengan realitas politik nyata hari ini. Kebiasaan melakukan korupsi, serakah dan serangkaian kejahatan lumrah khas penguasa hari ini tergambarkan sempurna dalam tayangan anime tersebut. Bahkan mulai mengerucut bagaimana sesungguhnya para Titan itu tercipta dari hasil konspirasi manusia, jadi Titan muncul sebagai bagian dari kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok manusia jahat.

Sulit kulukiskan dengan kata-kata bagaimana konspirasi di sini tersaji begitu rumit. Namun kisah demi kisah yang tersaji di setiap episodenya begitu menyita perhatianku. Hingga sampai episode 25 berakhir, aku semakin penasaran dengan konspirasi yang begitu rumit itu. Setidaknya aku bisa melihat-lihat lanjutannya dari versi manganya. Meskipun tidak senyaman saat melihat versi animenya, setidaknya ada hal-hal yang lebih mencengangkan pada lanjutan kisah di manga-nya.

Hal yang penuh teka-teki adalah keterkaitan antara sekte pemuja dinding dengan kemunculan para Titan itu. Yang jelas ada sebuah titik temu di mana keserakahan sekelompok manusia membuatnya tega melakukan kejahatan kemanusiaan dengan memasukkan para Titan ke dalam dinding. Sosok pengkhianat dari kalangan militer juga muncul. Alih-alih menjaga dinding dari serbuan Titan, mereka malah berubah menjadi Titan sesaat dengan tujuan membuka lubang di dinding Maria dan Rose agar para Titan dapat masuk ke dalam kota. Nah, inilah kisah kemunafikan yang selalu membayangi para penjaga dinding kota karena ternyata ada musuh di dalam selimut.

Apakah sudah selesai? Belum, bahkan aku semakin penasaran dengan klimaks kisah ini. Intinya aku menangkap sisi kecerdasan pembuat kisah fiktif ini dimana dia mengangkat realitas dunia ini dari sudut pandang pikirannya yang bebas untuk memberikan ketegasan atas beberapa prinsip hidup dan membongkar karakter-karakter munafik yang boleh jadi kerap muncul dalam kehidupan di sekitar kita. Siapa dalangnya? Sulit untuk ditentukan hingga episode terakhir dan manga terakhir yang ada. Hanya pada akhirnya kita akan belajar tentang bagaimana rumitnya situasi politik itu. Yang pasti, kita harus belajar untuk memutuskan memihak pada siapa agar kita jelas melabuhkan kontribusi dan perjuangan kita.

bersambung …

Kategori
Resensi Film

Shingeki No Kyojin: Sebuah Catatan Ketertarikanku

Wow, ceritanya beberapa waktu lalu aku dapat mainan baru dari adik kosku. Mereka adalah para dokter beton yang sedang berjuang keras menyelesaikan laporan dan tugas yang menggunung. Lebay. Tak heran, hiburan adalah hal yang begitu mereka nantikan begitu mereka dapat waktu luang setelah penat berpayah ria di siang ataupun malam hari saat melembur tugas.

Nah, mereka adalah para maniak manga dan anime. Kebetulan secara default sih aku tidak suka begituan, seperti halnya dengan film barat, Korea, India dan sejenisnya, kecuali jika ada daya tariknya tersendiri. Kali ini pun mereka menyodori aku sebuah tayangan anime. Awalnya aku tidak begitu tertarik, karena kukira itu hanya sejenis Naruto yang sejak awal tidak kumengerti jalan ceritanya dan aneh menurutku.

Tetapi setelah aku melihat beberapa potong kisahnya aku jadi penasaran, pasalnya aku mendapati hal-hal yang menjadi kesukaanku, yakni politik dan konspirasi. Itulah tayangan anime yang berjudul “Shingeki No Kyojin“ atau yang dalam terjemahannya berjudul “Attack on Titan“. Sebuah kisah fiksi yang berlatar belakang budaya akulturasi Jerman dan Jepang yang mengisahkan perjuangan orang-orang yang menghadapi terror para raksasa yang dijuluki sebagai kelompok Titans.

Setidaknya film yang hingga update terakhir ini terdapat 25 episode itu dengan 2 episode tambahan cukup menyita perhatianku untuk menggali nilai-nilai yang disampaikan oleh anime tersebut. Jarang-jarang aku tertarik untuk menonton tayangan seperti ini secara intens. Aku teringat ada tayangan anime yang kulihat dengan penuh antusiasme adalah saat SMP ketika muncul tayangan berjudul “Let’s and Go“. Lama sekali bukan, sekarang aku suka lagi dengan yang satu ini.

Kesukaanku ini seperti halnya pada serial Drama Korea. Aku sempat menyukai beberapa judul yang kurasa menyajikan sisi lain dalam cara pandangku, seperti My Girlfriend is A Gumiho, Full House, God of Study, A Moment to Remember dan beberapa judul lainnya (ga terlalu banyak kok yang kusuka) atau film Hollywood yang oke seperti Kingdom of Heavens, Anna and The Kings. Nah jadi tidak perlu heran jika aku akhirnya juga tertaut pada Shingeki No Kyojin. Kira-kira hal-hal inilah yang membuatku tertarik untuk menontonnya. Subyektif sih, tapi perlu dong kubagikan ke pembaca semuanya.

bersambung

Kategori
Resensi Film

Top Secret: Pilihan Hidup di Masa Muda

Pernahkah Sobat menonton film Thailand yang diperankan oleh Peach atau yang memiliki nama lengkap Pachara Chirathivat, artis muda Thailand yang belakangan namanya mencuat setelah sukses membintangi film Suckseed bersama Jirayu dan Nattasha. Yah, film-nya berjudul Top Secret. Artinya Rahasia Top dong ya.

Nah siapa itu Top? Ternyata ini adalah film yang mengangkat kisah nyata tentang seorang pengusaha muda Thailand yang telah menjadi miliarder muda di negeri gajah putih itu, Top Ittipat. Dia kini dijuluki sebagai Mark Zuckerberg-nya Thailand. Serupa tapi tak sama, dan tentu saja capaian keduanya jelas jauh berbeda. Mark berbisnis di bidang IT dengan pendapatan yang sangat besar karena jutaan pengguna Facebook di seluruh dunia. Sementara Top adalah pengusaha cemilan rumput laut yang bekerja sama dengan 7 eleven dalam bidang pemasarannya. Meski kalah kaya, perjalanan Top Ittipat menarik untuk kita simak.

Awalnya dia hanyalah seorang anak muda yang sudah kecanduan game sejak kecil. Tiap hari yang dia lakukan hanyalah melakukan aktivitas itu sampai nasib belajarnya di sekolah buruk. Begitu hebatnya menjani aktivitas games, dirinya berhasil memiliki jutaan uang karena melakukan transaksi penjualan senjata dalam game kepada rekan-rekannya sesame pemain game online. Hidupnya sempat melenggang dengan aman karena uangnya yang berlimpah. Hingga suatu ketika game yang ternyata illegal itu dicekal dan akunnya dihapus. Maka habislah sudah sumber pendapatannya yang selama ini ia andalkan.

Musibah kedua adalah dirinya gagal masuk di universitas negeri karena memang tidak serius menempuh ujian. Selain itu keluarganya juga sedang mengalami masalah ekonomi yang mengakibatkan rumahnya dijaminkan dan akhirnya disita oleh Bank. Dari situlah dirinya akhirnya berusaha keras untuk melakukan berbagai bisnis agar dapat hidup mandiri dan membantu meringankan beban orang tuanya. Ketika bank mulai melakukan penyitaan, orang tua Top sudah mengajaknya pergi ke kehidupan baru mereka di China. Tapi Top menolak dan akan tetap berusaha di Thailand.

Di titik inilah aku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari seorang pemuda yang bisa berubah drastis dari gamer menjadi pekerja keras. Bahkan demi perjuangan kerasnya dalam mewujudkan usaha, dirinya akhirnya rela melepas kekasihnya yang sempat membuat marah dirinya karena ucapannya terkesan merendahkan harga dirinya. Usaha demi usaha yang telah dia lakukan sebelumnya pun gagal. Namun dirinya tidak pernah berhenti untuk berusaha lagi. Segala yang ia punya dijualnya. Beberapa komputer yang jadi tongkrongannya selama ini, bahkan mobil yang berhasil ia beli dari uang game kemarin pun ia jual demi kesuksesan bisnisnya.

Usaha paling terakhirnya terletak pada bisnis rumput laut. Berbagai usaha dia lakukan agar dia menghasilkan camilan rumput laut yang renyah. Eksperimen tanpa lelah dia ujikan satu demi satu pada rumput laut yang baru saja dibelinya, sampai akhirnya dia memperoleh cara terbaik menghasilkan rumput laut yang lezat. Namun masalah belum usai, meskipun camilannya terkenal lezat, tapi karena pengemasan dan jaringan pemasaran yang masih kecil membuat usahanya tidak berkembang.

Akhirnya dirinya mendapat kesempatan untuk mempromosikan produk ke 7 eleven, sebuah perusahaan yang memiliki jaringan perdagangan di beberapa negara yang memperdagangkan berbagai produk makanan dari produsen yang bekerja sama dengannya. Awalnya dirinya ditolak karena kemasan produknya yang tidak menarik. Namun Top pantang menyerah, dia perbarui kemasannya. Lama menunggu untuk bertemu dengan pimpinan 7 eleven, Top hampir putus asa dan meninggalkan camilan rumput lautnya yang telah dikemas jauh lebih menarik itu kepada security gedung.

Sosok Top Ittipat yang sesungguhnya
Sosok Top Ittipat yang sesungguhnya

Keberuntungan pun datang padanya, karena beberapa karyawan kebetulan menyantap camilan lezat itu secara gratis. Hasilnya, dirinya dipanggil dan pabriknya akan diinspeksi oleh 7 eleven sebelum kerja sama resmi ditanda tangani. Top yang hanya memasak camilan rumput laut bersama pamannya di dapur rumah tentu kembali merasa sesak dalam memecahkan peluang yang besar ini. Dengan segala cara, dia pertaruhkan kesempatan ini untuk membangun pabrik dan mempekerjakan beberapa orang di sana.

Saat inspeksi datang, paman Top sempat membujuk untuk menyuap para petugas. Hampir saja Top melakukannya, tetapi dirinya ingat dengan nasihat security di awal-awal bisnisnya dahulu ketika dirinya berusaha menyuap satpam tersebut. Nilai kejujuran adalah hal yang harus selalu mengiringi upaya kerja keras. Meskipun sempat mendapat kritikan, namun akhirnya 7 eleven menyetujui kerja sama itu. Dan perjuangan mengapalkan camilannya yang pertama di atas kontainer menjadi babak baru kehidupannya.

Seorang gamer yang pemalas dalam belajar, akhirnya kini menjadi pengusaha sukses di usianya yang masih muda. Kegigihannya untuk mencoba dan bertanya langsung pada para pedagang membuatnya terus berkembang. Semangatnya untuk belajar dan berusaha hingga titik akhir akhirnya berbuah seperti hari ini. Dan inilah quote dari dia tentang kerja keras.

“Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kalau menyerah habislah sudah.” (Top Ittipat)

Apakah Sobat tertarik menonton filmnya? Silahkan cari di toko-toko kaset terdekat atau …. (he he he, biasalah kalau orang Indonesia mesti tahu apa yang biasanya dilakukan).

Kategori
Resensi Film

Nattasha dan Kepiawaian Main Gitarnya

Akhir pekan ini aku sempatkan sedikit waktu untuk melihat aksi-aksi gitar salah satu pemain di Film Suckseed. Film yang belum lama kutonton dengan lengkap setelah beberapa bulan sebelumnya hanya melihatnya dalam potong-potongan saja sehingga tidak mendalami lebih jauh tentang film yang super ngakak itu. Ini adalah film yang berkisah tentang persahabatan. Dan garis bawah dariku untuk film ini, Suckseed menjadi salah satu film Thailand yang menurutku mampu menjauhkan kesan parahnya negara itu yang dikenal sebagai lokalisasi raksasa.

Siapa yang ga merinding mendengar kisah waria-waria yang super cantik hingga aktivitas lainnya yang tak kalah WOW di negeri gajah putih itu. Bahkan di beberapa tahu sebelumnya, film-film di negeri itu (yang sempat beredar dalam jangkauan mataku = artinya aku tonton) tidak begitu jauh berbeda dengan film-film horror di Indonesia. Semakin membuat hal yang tidak jelas saja jika dilihat oleh orang-orang negeri ini yang mulai ikut-ikutan tidak jelas.

Tapi kisah di film ini menjadi salah satu indikator bahwa Thailand mulai memperbaiki industri perfilman mereka dengan memberi sentuhan baru dengan tema-tema yang lebih berkualitas. Entah apa karena akhirnya mereka sekarang memiliki pemain-pemain sinetron yang berkualitas baik keelokan wajahnya maupun daya dukung lainnya. Yang jelas hal itu menjadi wajah baru perfilman Thailand di beberapa tahun terakhir ini. Setelah banyak produk yang beralamat BANGKOK (ayam, buah-buahan, dll) kini bahasa Thai lengkap dengan hurufnya mulai membuat banyak orang di negeri kita menjadi tiba-tiba belajar bahasa itu, seperti halnya saat membanjirnya film-film Korea.

Nah, kalo aku menangkap hal itu sebagai dinamika sebuah negara yang mencoba meluaskan kekuasaannya dan menunjukkan eksistensi diri mereka. Hal itu tentu saja didukung daya tarik para pemainnya yang memiliki talenta untuk mendukung penetrasi yang diharapkan. Sebut saja pemeran Ern dalam film tersebut, Nattasha Nauljam. Gadis kelahiran 1992 itu tentu saja masih bau kencur untuk ukuran orang di tempat kita (kalo kuliah baru angkatan 2010 malahan). Tetapi melihat skill gitarnya, dan ketika dikonfirmasi dari berbagai sumber itu memang skill dia beneran, bukan akting (seperti halnya para rocker dalam film Kiama Sudah Dekat, itu salah satu serial kita yang bagus), aku harus bilang WOW untuk aktris yang satu ini.

Setidaknya, ini salah satu gaya baru perfilman Thailand yang menurutku akan mendongkrak perhatian pasar begitu cepat. Dan terbukti hanya dengan satu film itu saja, namanya melejit dengan cepat dan mulai dikenal di Asia Tenggara. Film itu tetap saja kita kenal dengan film Thailand, percakapannya, bahasanya, lagu-lagunya yang digarap apik hingga tulisan-tulisannya semua menggunakan bahasa Thai.

Lalu bagaimana dengan kita yang sebentar lagi juga akan bersama-sama membuka perdagangan bebas. Industri perfilman kita cenderung setengah matang. Baru laku di pasar dalam negeri. Kalaupun ada yang bagus, jumlahnya masih terlalu sedikit dibandingkan dengan keluaran setiap tahunnya. Sinetron pun juga tak kalah memprihatinkan, akting bengis, iri, jail dll lebih mendominasi dalam setiap adegan ketimbang yang lainnya. Dan lucunya aktivitas-aktivitas yang baik cenderung terlihat wagu untuk dirasakan pengajarannya.

Tulisan ini hanyalah sekedar refleksi agar kita tidak mengagumi karya negeri orang terlalu berlebihan. Justru seharusnya kita melihatnya untuk belajar dan mengambil nilai positifnya. Aku hanya suka melihat aksi gitar Nattasha dengan seragam sekolahnya di film itu, selebihnya dia adalah aktris Thailand yang tentu kita semua tahu bagaimana perilaku mereka dengan budaya yang mereka miliki. Lalu, bagaimana kita mengapresiasi film-film kita sendiri? Mari tanyakan pada diri kita masing-masing. Eh maaf saya juga sepertinya harus meluangkan waktu untuk meresensi film-film tanah air yang inspiratif. Tunggu ya!

Kategori
Resensi Film

Suckseed: Integrasi Talenta dan Akting

Tak seperti biasanya, tadi malam adik-adik yang tergabung dalam Gorong-Gorong Community berkumpul semua di kos. Alasannya satu, undangan karena sedang banyak makanan dari parcel yang aku terima waktu berbagi inspirasi di FMIPA UNS. Dan mengalir saja malam ini kami nobar sebuah film Thailand (dan rasa-rasanya aku dulu juga sudah lihat itu), Suckseed.

Film yang dibintangi oleh para aktor dan aktris muda Thailand itu lebih menonjolkan sisi kekonyolan yang selalu mengundang tawa diselingi dengan kemunculan tiba-tiba (cameo) para musisi kondang Thailand, serupa namun tak sama dengan film-film India. Apa pun itu, kami tak lepas dari tawa yang menggila karena sama-sama menonton dan saling ejek melihat kekonyolan grup band Suckseed yang terdiri atas sekumpulan pecundang.

Bagiku ini memang hanya film hiburan. Aku lebih menyukai berbagai kisah konyol yang tersaji di sana dari pada mengharu biru dalam kisah asmara yang putus dari para pecundang-pecundang itu. Dan kata peresensi yang lain, film ini memang tidak seperti umumnya film Thailand yang kadang sampai menyayat hati penontonnya. Apalagi aku yang sejak awal mindset-nya sudah tidak memedulikan masalah itu.

Hal yang sibuk jadi celotehan kami adalah pada sosok pemeran-pemerannya,. Ku ambil tiga saja ya, Jirayu La-ongmanee (memerankan Ped), Pachara Chirathivat (memerankan Koong), dan tentu saja si cantik Nattasha Nauljam (memerankan Ern). Para pemeran film ini adalah para musisi yang bertalenta. Film ini merupakan bentuk integrasi antara kemampuan berakting dengan potensi yang mereka miliki dalam bermusik. Seperti halnya film India yang merupakan integrasi antara kemampuan menari (dalam budaya mereka), menyanyi dan berakting. Atau film China yang merupakan integrasi seni beladiri dan kemampuan berakting mereka.

Tak dapat dipungkiri wajah-wajah mereka memang menarik. Tak heran setelah kemunculan film yang dirilis tahun 2011 itu langsung melejitkan nama-nama mereka. Bahkan mereka usianya sebenarnya jauh dibawahku. Terutama si Nattasha Nauljam yang jago dalam memainkan gitar dan menyanyi jelaslah itu jadi bahan olok-olok kami untuk saling mengejek satu sama lain siapa yang paling maniak lihat foto-fotonya yang cantik itu.

Itu adalah hal lumrah terjadi akibat menonton film itu. Yang jadi pertanyaanku, berapa banyak film-film di negeri kita yang mengintegrasikan potensi dengan kemampuan berakting. Mungkin itu Merantau, The Raid, atau yang lain. Tentang bermusik, Kiamat Sudah Dekat. Yang pasti film-film yang mengintegrasikan kemampuan berakting dengan talenta pribadi jarang didapat di negeri ini. Maka tak heran sinetron kita lebih menonjolkan bagaimana mendengki, marah, mencaci, dan seperanakannya. Atau jangan-jangan itu talenta artis-artis kita ya? Ah masak iya, aku malu dong jadi orang Indonesia kalo talenta artis-artisnya seperti itu.

Tentu itu adalah karakter yang harus dibenahi dari industri per-film-an tanah air kita. Istilah kejar tayang harus diganti dengan kualitas tayang agar para pemirsanya tak hanya menikmati saja tetapi juga mendapatkan bagiannya sebagai pemirsa yang seyogyanya belajar. Jika yang dilihat hanya masalah kelicikan, kemewahan atau hal-hal konyol yang sangat buruk itu, bagaimana kita akan belajar tentang apresiasi. Semua hanya hobi mencibir dan mengumpat. Bahkan dalam beragama pun menasihati dengan cara baik kian ditinggalkan oleh sebagian orang yang mengaku paling beragama sehingga tak jarang mereka lebih menimbulkan kesan menyakiti dari pada menasihati.

Aku berharap yang punya cita-cita jadi artis semoga berpikir juga untuk mengasah talentanya yang lain, bukan hanya pintar menipu dengan tangis dan berbagai adegan berani karena bayaran tinggi. Ah, memalukan sekali jika itu menjadi tradisi artis di bangsa ini. Bahkan negara barat pun yang artisnya tak takut-takut untuk bertelanjang pun mereka masih bertalenta untuk memainkan sebuah peran berkelas. Bukan saatnya lagi kita jadi bangsa peniru, tetapi bangsa yang mengembalikan jati diri. Kita adalah bangsa beradab, maka seharusnya kita bangga dengan adab-adab kita yang diwariskan, bahkan itu dalam layar lebar kita.