Kategori
Catatan Perjalanan

Perjalanan ke Semarang, Dari Masjid Agung Jateng Hingga Lawang Sewu

Ini adalah kisah yang terjadi pada bulan Ramadhan kemarin. Ceritanya berawal dari agenda pekananku bersama adik-adik yang ingin mencari suasana baru. Jadilah kami berencana menikmati suasana santai sambil liburan ke salah satu kota yang ada di Jawa Tengah, Semarang.

Bukan Rezeki Kami

Dengan bergaya ala backpacker aku dan tiga orang juniorku berkemas menaiki bus jurusan Semarang. Kami sengaja berangkat siang dengan harapan bisa sampai di salah satu tempat yang akan menjadi tempat bermalam sebelum adzan Maghrib. Itulah cara kami untuk penghematan karena mendapatkan jatah buka puasa.

Sesampainya di kota Semarang kami begitu tertegun alam menunggu bus trans-Semarang. Di halte yang begitu apa adanya kami dan beberapa penumpang tampak jenuh menunggu angkutan ala negara maju yang tak kunjung menyambangi kami. Ada di antara kami yang pura-pura buka ponsel, ada yang malah ngliling anak kecil yang digendong calon penumpang lain. Pokoknya kami pura-pura sibuk agar tidak disangka melamun.

Alhamdulillah, bus angkutan pun datang. Karena satu-satunya kami memastikan bahwa orang tua, wanita, dan anak-anak harus dapat tempat duduk. Sementara kami para anak-anak muda yang mengaku gagah (meskipun juga kelaparan) berdiri hingga entah berapa jauhnya nanti untuk mencapai Masjid Agung Jawa Tengah, masjid tujuan pertama kami.

Ternyata malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, kami terlambat datang ke sana dan waktu telah lewat adzan Maghrib. Harapan untuk mendapatkan makanan buka bersama pun menipis. Nasib kami harus jajan sendiri untuk mengisi perut di hari ini. Benarlah, begitu sampai setelah jalan lebih dari 1 kilometer dari halte terdekat, kami memang tidak mendapatkan jatah yang kami harapkan.

Tak perlu kecewa, beginilah cara belajar para backpacker pemula jika ingin bertahan. Kalaupun masih harus makan di warung, setidaknya kami sudah bulat tidak akan mencari penginapan atau hotel. Karena kami akan menginap di manapun di masjid yang bisa ditiduri, bergelut dengan nyamuk yang konon besar-besar. Kiriman dari kawasan sungai yang dekat dengan lokasi masjid terbesar se-Jawa Tengah itu.

Malam hari itu hampir aku tidak terlalu tertarik untuk mengamati soal masjidnya. Karena aku lebih menikmati suasana shalat yang diimami oleh para hufaz yang bacaanya begitu indah dan enak didengarkan. Kesempatan bermakmun di belakang imam yang bacaannya bagus dan fasih itu memang hal yang langka di Indonesia saat ini meskipun konon negeri ini adalah negara muslim terbesar di dunia.

Semarang

Matahari dan Pilar-Pilar Indah

Kami melewatkan tidur dengan kenikmatan masing-masing. Ada yang mengaku tidak bisa tidur lantaran tangannya asyik berkejar-kejaran dengan nyamuk yang mirip pesawat pengintai itu. Tapi aku sendiri tidak menganggap ada masalah karena selama tidur ya nyenyak-nyenyak saja hingga waktu sahur tiba. Lagi-lagi tidak ada jatah makan sahur bagi kami, kami harus jajan di warung sekitar masjid itu lagi.

Dan barulah usai shalat subuh kami menikmati keindahan yang mulai tersingkap dari bangunan raksasa yang memadukan berbagai arsitektur peradaban Islam itu. Begitu kentara bagaimana masjid ini memadukan gaya atap masjid di Indonesia, dengan kubah khas timur tengah. Belum lagi bagian depannya dipagari oleh pilar-pilar yang meniru gaya desain khas Cordoba, Spanyol.

Melihat pantulannya di atas lantai keramik yang berukuran besar-besar itu makin tampak keindahannya. Hanya satu yang tidak bisa kusaksikan saat itu, yakni empat payung raksasa yang berada di halaman depan Masjid Agung. Konon payung itu akan dibuka jika siang hari dan jamaah membeludak sampai halaman. Itu seperti atap portabel yang dapat difungsikan dan ditutup sesuai dengan kebutuhan.

Pagi hari itu kami pun menikmati foto-foto kehadiran sang mentari pagi yang kemudian diikuti kedatangan manusia berbondong-bondong ke masjid itu. Oh ternyata masjid ini lebih populer sebagai tempat wisata keluarga dan senang-senangnya para pemuda. Sangat disayangkan juga waktu kami mendapati lagi bulan puasa seperti ini aktivitas pacaran sejumlah anak muda juga masih kentara. Ada juga yang datang ke masjid dengan pakaian yang tidak semestinya. Wow, memang beginilah perilaku orang-orang Indonesia yang lagi belajar tentang kebebasan.

Lawang Sewu dan Perjalanan Nonsense

Usai berpuas diri di depan halaman masjid, kami pun mengucapkan selamat tinggal untuk bangunan megah di pinggiran kota Semarang itu. Kami kembali berjalan ke halte terdekat dengan tujuan pasti, Lawang Sewu dan Taman Tugu Muda. Seperti biasanya, kami sabar menunggu kehadiran sang bus Trans-Semarang.

Kami mungkin nekat traveler yang memilih momen puasa untuk jalan-jalan. Di tengah terik matahari kami justru duduk-duduk di tengah kota tugu muda. Lagi-lagi kami berfoto dengan latar bangunan Lawang Sewu. Dari beberapa adikku, ternyata ada yang baru pertama kali ke kota ini. What? Padahal mereka asli penduduk Jawa Tengah dibandingkan aku yang asal DIY. Memang inilah cerita khas orang-orang negeri ini. Kita harus mengakui bahwa untuk pergi ke Indonesia yang lainnya lebih mahal dari pada ke Malaysia dan Singapura bukan.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Lawang Sewu. Bangunan yang dulu merupakan titik balik sejarah perkeretaapian Indonesia. Entahlah, aku tidak terlalu tertarik membahasnya. Yang pasti aku menangkap kesan dari dokumen-dokumen yang dipajang di monumen tersebut seolah-olah bangsa ini harus berterima kasih kepada Belanda yang memberikan masyarakat ini fasilitas kereta api. Ini bukan kali pertamaku, karena sebelumnya aku sudah pernah berkunjung ke sini jadi aku lebih sebagai partner buat para juniorku saja.

Usai berpuas di Lawang Sewu, kami mulai memiliki ide konyol, naik Trans-Semarang dari ujung terminal timur ke barat. Mumpung tiket jauh dekatnya sama kami akhirnya sepakat. Satu kali perjalanan cuma habis Rp 3.500,- saja. Itu artinya untuk berangkat dari ujung ke ujung, kami hanya butuh Rp 7.000,- saja. Bagi sebagian orang mahal. Tapi bagiku sangat murah mengingat aku pernah naik transportasi Eropa yang begitu mahal.

Awalnya kami menikmati, lama-lama karena waktunya lama ternyata membosankan. Akhirnya salah satu kami segera tertidur pulas. Sebagian lainnya mulai sibuk dengan ponselnya. Dan akhirnya kami bersepakat untuk langsung pulang ke Solo setelah sampai di terminal paling barat, Mangkang. Dan inilah perjalanan nonsense itu.

Alhamdulillah, setelah melanjutkan tidur siang di bus Semarang-Solo. Kami telah kembali ke Solo dengan selamat.

Kategori
Catatan Perjalanan

Saat Negeri Jiran Sedekat Pandangan Mataku

“Kring….kring…kring …“, bunyi panggilan di ponselku tiba-tiba. Kulihat namanya yang sudah tidak asing bagiku, gurunda Indrawan Yepe.

“Assalamu’alaykum, ada apa Pak?“, sahutku dengan penasaran

„Alaykum salam, hei Dik, kamu mau ikut aku nggak?“, tiba-tiba suara dari seberang langsung to the point pada masalahnya.

“Ke mana Pak?”, tanyaku penasaran

“Ke Malaysia dan Singapura, ketemu temanku di sana,” sahut suara dari seberang itu

Hemm, aku berpikir sejenak. Ke luar negeri lagi ya. Wah pasti mahal ini tiketnya ke sana.

“Wah, mahal ga Pak tiket pesawatnya? Kalau mahal saya ga berani, tabungannya udah habis buat bayar uang semesteran ini,” sahutku dengan alasan

“Tenanglah, yang penting tiket pesawat terbeli, selebihnya kamu akan kuajari cara bepergian yang belum pernah kamu lakukan. Sekarang hubungi Purwanti untuk reservasi tiket, masih 600 ribuan AirAsia untuk pergi-pulang di awal Desember nanti. Udah dulu ya, aku harap kamu bisa ikut menemaniku,“ sahut suara di seberang meyakinkanku.

“600 ribu, boleh juga, wah kapan lagi kesempatan keluar negeri, udah kangen main lagi di akhir tahun,“ gumamku dalam hati sambil mengingat indahnya perjalananku ke Eropa pada akhir tahun sebelumnya.

Ini adalah ingatan perjalananku yang sangat spesial bersama salah satu mentorku yang sangat kusegani. Percakapan itu terjadi pada pertengahan bulan September 2013 kemarin sebelum aku menjelajahi kawasan Kalimantan Timur dalam sebuah misi sosial bersama Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Dalam kondisi keuangan yang pas-pasan, aku pertimbangkan lagi keinginan untuk jalan-jalan lagi kali ini. Traveling mendadak menjadi kesukaanku sejak memasuki dunia kampus. Secara tidak terduga banyak keajaiban yang Allah berikan untukku dalam perjalanan ini. Seumur-umur belum pernah melihat Jakarta, akhirnya ada kesempatan juga untuk melihat ibu kota itu. Yang lebih mengejutkan adalah kesempatan emas untuk mengunjungi Eropa pada akhir Desember 2012.

Sejak saat itu traveling seolah menjadi salah satu agenda wajib bagiku yang tidak hanya sekedar untuk rekreasi tetapi menjadi sebuah wahana belajar. Namun sebagai anak kampung yang lebih banyak mengandalkan rezeki tak terduga dari Yang Maha Kuasa terkadang ada rasa ketakutan dan kekhawatiran atas pilihan-pilihan nekat ini.

Bismillah, kubulatkan tekad untuk segera menghubungi Purwanti, agen tiket langganan gurunda Indrawan seperti yang disarankan. Alhamdulillah dapat tiket AirAsia yang cukup terjangkau untuk penerbangan Yogyakarta-Kuala Lumpur, hanya 600ribu untuk pergi-pulang. Inilah kegembiraan yang tidak terkira bagi anak kampung seperti aku.

Keberuntungan demi keberuntungan sedang Dia takdirkan untukku. Pada bulan Oktober ternyata aku mendapat panggilan untuk mengikuti kegiatan magang sosial di Kalimantan Timur dalam bidang pendidikan. Selain mendapat inspirasi tentang Indonesia, tentu saja ada tambahan uang saku yang lumayan untuk bekal perjalanan sepekan di Malaysia-Singapura nanti yang tentu tidak cukup hanya dengan satu lembar cepek.

Sampai akhirnya waktu yang dijanjikan itu tiba. Awal Desember, seolah kembali mengulang keberuntunganku di akhir tahun lalu tentang perjalanan ke Eropa yang sangat tak terduga itu, aku berangkat dari kotaku saat ini Surakarta mengendari Prameks hingga setasiun Maguwo.

Di situlah kali pertamaku berkenalan dengan AirAsia dan baru sekalinya menaiki pesawat yang membuatku punya cerita luar biasa. Inilah maskapai yang tidak hanya menjanjikan harga merakyat (bagiku) tetapi juga pelayanan yang tidak kalah dengan maskapai ekonomi lainnya.

Traveling Malaysia

Singkat cerita, perjalanan selama kurang lebih 5 hari di Malaysia-Singapura-Malaysia itu benar-benar padat inspirasi bagiku. Sampai-sampai aku mampu membuat catatan perjalanan yang cukup banyak di sini. Kisah tentang belajar fotografi bersama beliau sepanjang perjalanan, kisah bertemu dengan master tea San Chahua di Malaysia dan master tea Lee Che Keong di Singapura serta jamuan ramah mereka. Kisah tentang perjuangan mengejar waktu untuk mendapatkan momen terindah di Merlion. Keterperangahanku pada kota Putrajaya sembari merenungi nasib bangsa yang masih bergejolak sampai hari ini. Dan tentu saja adalah bagaimana aku belajar dengan penghematan tingkat tinggi sepanjang traveling gila tersebut. Semua menjadi kisah yang begitu lengkap dan padat dalam hari-hari itu.

Demikianlah sekelumit ceritaku bagaimana AirAsia telah mengantarku pergi-pulang ke negeri Jiran, tempat yang penuh inspirasi bersama orang yang sangat kusegani hingga saat ini. Aku berharap mendapatkan kesempatan kedua dan kesempatan yang lainnya untuk menikmati layanan maskapai ini. Yang lebih indah lagi adalah aku ingin memberikan hadiah ini untuk gurunda Indrawan Yepe agar aku bisa belajar lagi tentang perjalanan bersama beliau sekiranya kesempatan itu benar-benar terjadi untukku.

Dengan AirAsia, Negeri Jiran itu sedekat pandangan mataku kini. Terima kasih AirAsia.

Artikel ini diikutkan dalam kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Malam Minggu di SABS Night Camp

Saat malam mingguan di Sekolah Alam Bengawan Solo Night Camp, Aku, Heriyanto, dan Mas Jefri menghabiskan tengah malam dengan berkeliling untuk menancapkan bendera yang esoknya harus ditemukan para prajurit kecil SABS. Apa yang kami lihat? Pemandangan pemuda-pemuda desa yang menghabiskan malam mingguan di tongkrongan, entah sambil ngapain yang jelas malam minggu di desa mungkin sudah tidak ada bedanya dengan yang dikota, sama-sama buang-buang waktu.

Dini harinya, lagi-lagi Heri melontarkan sebuah pertanyaan yang menarik. Mari dengarkan suara adzan subuh nanti, adakah suara anak-anak muda yang adzan di sana. Dan benar saja, kami tak menjumpai satu pun suara anak muda yang adzan di puluhan adzan masjid yang terdengar pagi itu. Ini masalah besar kawan? Di saat dahulu para Sultan meninjau kesiapan perang kaum muslimin dengan survey jamaah shalat subuhnya, kita masih terlalu sering berkoar-koar doang dan berdiskusi, sementara (maaf) jangan-jangan kita juga telat subuhan. Jika bapak-bapak/ibu-ibu yang shalat subuh tadi game over, masihkah masjid-masjid itu akan dipakai? Jawabannya tergantung tindakan kita selanjutnya.

Ini realita, bukan nostalgia yang terlalu lama kita diskusikan hingga taraf membosankan dan menjemukan. Desa adalah tempat para kiyai dan santri dahulu menggempur pertahanan para penjajah. Semangat juang itu terus berkobar meski kota-kota nusantara dikuasai penjajah. Kini, kota jangan tanyakan lagi kondisinya, beruntung para asatidz masih berjuang untuk membimbing. Tapi desa, kian terlupakan. Dan mungkin, jika ada yang bercita-cita politik untuk jadi pemimpin perubahan, menurutku menjadi lurah itu lebih realistis ketimbang kebanyakan retorika kebangsaan. Jadilah lurah, mandirikan desa, dan shalihkan kembali kehidupan desa yang telah tercemar pengaruh kota. Semampu dan sebisa kita.

Facebook

Kategori
Catatan Perjalanan

MPKD 2: Cinta Untuk Indonesia

Negeri ini telah mewarisi suasana damai. Sejarawan yang masih jeli menuliskan kisah pergiliran masa Sriwijaya ke Majapahit hingga masa Islam. Pertumpahan darah antar agama bukanlah ciri dari masyarakat kita. Sriwijaya hancur karena diserang sesama penguasa Budha dari India. Majapahit hancur diserang oleh Kediri yang dendam ketika mereka dihancurkan Raden Wijaya. Dan justru generasi Majapahit yang muslim-lah konon menjadi pembuka sejarah baru kerajaan Islam di tanah Jawa, kesultanan Demak. Haruskah hari ini kita gampang diprovokasi dengan berbagai isu perpecahan?

Wahai saudaraku setanah air. Mari kita genggam persatuan ini. Mari saling memahami, bukan saling mencurigai. Jika kami tidak mau bersalaman dengan lawan jenis yang bukan bagian dari keluarga kami, itu bukan berarti kami tidak menghargai Anda, tapi kami meyakini ini syariat yang harus kami taati. Dan tidak perlu khawatir, karena kalian adalah tetangga yang wajib kami muliakan. Rasulullah tidak mengajarkan kami untuk membedakan tetangga berdasarkan agama dan yang lainnya.

Jika kita bisa saling berbuat baik, mengapa tidak. Kami punya batas syariat yang kami taati, begitu pula dengan Anda. Maka Bhineka Tunggal Ika akan menjadi lebih bermakna. Tidak seperti hari ini di mana kami yang mayoritas justru tidak bisa menunaikan syariat kami dengan alasan tidak toleransi. Aneh dan sungguh naif bagi negeri yang di masa lalu dipertahankan mayoritas oleh umat Islam.

Maka sejatinya kami hanya ingin membangun Indonesia ini dengan kebaikan. Menegakkan panji-panji keadilan dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Negeri ini luas, penuh keunikan dan rumit dengan segala masalahnya. Jadi mari kita buat simpul-simpul di banyak titik demi terjaganya persatuan dan kesatuan NKRI ini. Menyapa sahabat semuanya. Mari bangun CINTA – KERJA – HARMONI.

Semoga kelak kejayaan 40 kesultanan yang pernah ada di negeri ini kembali bersinar. Saat dimana negeri ini kembali berjaya dengan kemakmuran mereka yang tiada tara. Yang dengannya kita diakui dunia, bisa mengambil peran kunci dalam mengembalikan Palestina kepada yang berhak. Mungkinkah? Isyarat Nubuwah memang mengatakan bahwa itu hanya akan tegak oleh para pejuang di bumi Syams, tetapi bukankah itu semua butuh proses. Mengapa kita tidak berpikir untuk ikut menjadi sebabnya? Karena kita juga berhak untuk mendapatkan kemuliaan itu bukan.

Kategori
Catatan Perjalanan

MPKD 2: Kami Tetap Tegak Berdiri

Mari bertekad untuk tetap tegak berdiri di saat yang lain telah rapuh. Kami adalah pewaris sah ibu pertiwi ini. Kita semua umat Islam dan semua yang memang dahulu telah berjuang merebut kembali ibu pertiwi yang dijajah oleh kaum imperialis adalah pewaris sah yang berhak untuk memerintah negeri ini. Bukan pemimpin-pemimpin yang justru membiarkan kapitalis asing merebut sumber-sumber kehidupan masyarakat negeri ini.

Jika hari ini sebagian dari kita memilih jalur politik mengapa harus dikomentari. Jika sebagian yang lain memilih jalur birokrat, mengapa pula dipermasalahkan. Jika sebagian yang lain memilih jalur jadi pengusaha mengapa pula dicibir. Apa yang Anda sendiri lakukan sehingga gampang sekali mengomentari hingga menjustifikasi setiap orang yang berseberangan dengan Anda.

Jangan-jangan Anda memang pion yang dibentuk oleh banyak kepentingan untuk merontokkan saudara-saudara Anda sendiri demi kemakmuran dan kedamaian Anda sendiri. Memang Anda tidak pernah diusik karena aktivitas Anda sama sekali tidak mengusik kepentingan mereka yang ingin mencuri kekayaan negeri ini. Jika memang Anda tulus, seharusnya Anda datang dengan senyum dan menawarkan nasihat itu dengan lemah lembut. Bukan malah dengan membuat lapak yang setiap orang bisa membaca dan menginterpretasikan berdasarkan kadar akalnya. Apa niatnya, menasihati atau sekaligus memprovokasi. Kita bisa membedakan hal itu dengan jeli bukan.

Kami bukanlah golongan yang merasa paling benar. Tapi kami berusaha untuk membangun kebersamaan demi merebut kembali hak kita yang telah dirampas, ibu pertiwi. Tak ibakah saat saudara-saudara kita tidak bisa berhijab dengan baik di negeri yang mayoritas kaum muslimin. Tak inginkah kita ber-Islam dengan damai tanpa harus menimbulkan kesan berbau teror terhadap umat agama lain.

Umat Islam harus terus belajar tentang kemuliaan agamanya. Lalu berdialog dengan baik terhadap pemeluk lainnya. Membangun masyarakat madani seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah di madinah. Sebuah tatanan sosial ideal di mana orang-orang munafik pun tetap bisa hidup. Yahudi pun yang sejak awal mendengki Rasulullah tetap dapat hidup sampai mereka menunjukkan pengkhianatannya terhadap Madinah ketika dikepung oleh koalisi kabilah Arab. Jika mereka dihukum, jelas mereka melakukan makar disaat wilayahnya sedang dikepung oleh kabilah Arab di luar Madinah, padahal berdasarkan perjanjian damai yang dilakukan mereka wajib mempertahankan tanah air mereka. Lantas apa sebutan bagi orang-orang negeri kita dengan segala posisi mereka yang mendukung kebijakan penguasaan asing atas negeri kita dalam berbagai bidang? Maaf, aku ga berani sebut mereka seperti orang-orang Yahudi Madinah ketika itu.

Kategori
Catatan Perjalanan

MPKD 2: Persiapan & Simulasi Perang

Salah satu hal yang tidak dapat dilewatkan dalam kegiatan perkemahan ini adalah simulasi perang. Esensinya bukan terletak pada persiapan untuk melakukan revolusi atau menjadi pemberontak, jangan salah paham dulu. Karena kami sama sekali tidak didoktrin untuk menjadi oposisi pemerintah. Kami diajari untuk mengambil peluang partisipasi dalam edukasi masyarakat agar menjadi bagian dari masyarakat yang cerdas dan beragama dengan baik.

Simulasi perang ini mendidik kami bagaimana saling percaya satu sama lain, mampu bekerja sama dan berbagi peran serta mengambil keputusan yang tepat di saat-saat yang rumit. Dengan medan yang begitu keren, lokasi berhutan dan berbukit dengan semak-semak belukar tinggi tentu saja menguji nyali kami untuk berduel mempertahankan nyawa kami yang berbentuk slayer. Tidak ada senjata apalagi aksi pukul memukul. Kami hanya dibolehkan bergulat sampai berhasil merebut slayer, maka pertarungan segera berhenti karena salah satu dinyatakan mati.

Karena aku sebelumnya pernah melihat anime Shingeki No Kyojin, serta merta aku memutuskan menjadi bagian dari pasukan khusus yang bertugas bergerak menyerbu jantung pertahanan lawan. Dibandingkan pasukan pertahanan yang kekuatannya terletak pada jumlah dan kesigapan di tempat, kami belajar bagaimana waspada saat bergerak dengan segala peralatan yang minim. Kami hanya bergerak tanpa apa pun, tanpa lampu senter belantara medan yang gelap dan penuh bahaya itu. Tapi itulah pilihan yang harus diambil atau kami akan segera berakhir dikeroyok pasukan penjaga musuh yang telah siaga di pos mereka.

Persiapan perang tidak bicara tentang membantai, tetapi fokus pada apa yang menjadi tujuan. Inilah yang sejak awal Islam ajarkan kepada umatnya. Umat Islam tidak pernah diajari untuk memerangi musuh sehingga mereka yang memulai lebih awal. Tugas kita adalah menyampaikan ajaran Islam, jika itu diterima maka tidak pernah ada perang. Jika mereka tidak berkenan maka ada perjanjian damai diikuti pembayaran jizyah kepada negara yang diikuti dengan perlindungan dari pasukan Islam untuk mereka. Atau jika mereka menyatakan melawan atau melukai utusan kaum muslimin, barulah bendera perang dikibarkan.

Maka sejarah perang di masa Rasulullah dan empat khalifah setelahnya lebih banyak dihiasi kesantunan kaum muslimin yang memperlakukan tawanan perang dengan baik. Tidak ada cerita tentang pembantaian kecuali dua kali saja yang merupakan khilaf dari Khalid bin Walid, semoga Allah meridhainya di awal-awal dia masuk Islam dan masa-masa fitnah yang disulut oleh orang Yahudi yang pura-pura masuk Islam, Ibnu Saba‘.

Perang dalam Islam adalah saat dimana keimanan di pertaruhkan. Karena kaum muslimin tidak diminta menggunakan perhitungan matematika terhadap musuh. Kaum muslimin dididik untuk menyiapkan segala kemampuan yang dimiliki, lantas bersujud mengadu kepada Allah untuk memberikan keputusan terbaik-Nya. Maka tak heran jika perjalanan perang kita senantiasa diliputi kemenangan, karena perang adalah masa terdekat dan makbulnya untuk berdoa.

Sekali lagi, jika Anda mengatakan Islam adalah agama perang, maka saya simpulkan Anda adalah di antara dua orang berikut, orang yang tak paham sejarah Islam atau memang pembenci Islam. Jika Anda muslim tapi tidak menemukan kebanggaan pada Islam yang Anda peluk, maka hati-hatilah bahwa ada penyakit kemunafikan yang berbahaya dalam diri.

Kategori
Catatan Perjalanan

MPKD 2: Menahan Diri & Berprestasi

Yang bisa dilakukan adalah berprestasilah di posisi yang kita tempati saat ini. Bangun kemandirian ekonomi agar kita dapat selalu berteriak lantang untuk mengatakan yang benar dengan sarana-sarana yang ada. Tidak waton njeplak, apalagi sok pamer kecerdasan di muka umum saat pembaca di kalangan masyarakat kita yang masih awam dengan Islam ini dan perlu dikenalkan dari landasan utamanya, yakni Tauhid. Bukan saja dari pendekatan dalil tetapi juga membangun kesadaran dalam hati untuk kembali kepada fitrahnya.

Terlalu banyak mengomentari orang lain sesungguhnya menunjukkan bentuk kelalaian kita pada diri sendiri. Jika memang ingin mengingatkan orang hari ini, maka email, PM, surat adalah sarana yang lebih indah untuk mengikat ukhuwah, bukan mempermalukan saudara kita dengan status terbuka di FB, Twitter dan segala sarana yang bisa dibaca oleh publik. Jika itu yang dibesar-besarkan, kesan yang muncul adalah umat Islam suka ribut dengan sesamanya. Apalagi jika banyak kepentingan yang menunggangi, dan lebih celaka lagi yang ditunggangi tidak merasa bahwa sedang jadi alat kepentingan itu. Keren bukan. Katanya itu konspirasi ya. Bodoh amat, yang jelas kita diajari untuk bekerja dengan tulus dan tidak nyindiri orang.

Jika tidak setuju dengan aktivitas orang lain yang itu menyangkut teknis, mengapa tidak selesai dengan menerima dan menghargai. Selama itu bukan hal yang mendasar menyangkut akidah kita, mengapa Anda memberi kesan lebih kejam terhadap kawan di muka umum ketimbang terhadap lawan. Bukankah pertemuan dan tegur sapa lebih menyelesaikan ketimbang serang-serangan di dunia maya. Anak kecil saja mereka masih mau bermain lagi usai bertengkar, lalu kita?

Mari pahami situasi hari ini, jangan hanya memperturutkan ego yang kadang bukan datang dari hati nurani kita. Setidaknya jika kita percaya perkataan orang, kita tidak boleh kan menjadikan alasan orang sebagai dasar tindakan kita. Jika bertindak itu karena pilihan mendasar dari hati nurani kita, bukan kata si A, B, C dan D. Maka, APA PUN YANG TERJADI, KAMI TETAP MENGAJI, MENYAPA, MEMBANGUN SINERGI, MENGABDI, dan MELAYANI.

Kategori
Catatan Perjalanan

MPKD 2: Memahami Realita & Menyalakan Api Semangat

Meskipun kemah ini banyak makanan fisiknya, tapi jelas pembinaan fikriyah dan ruhiyah tetap berjalan. Amal yaumi tetap diperiksa meskipun tidak ada denda dan sarapan fisik. Tapi masak sih mau berbohong jika tilawahnya masih kurang beberapa halaman lantas mengatakan bahwa sudah lengkap 1 juz dari pada malu. Kami berprasangka baik bahwa para peserta semua jujur, jika belum genap jawab belum, jika sudah ya dijawab sudah.

Saat sesi materi, kami mendapatkan motivasi dan dapat berdiskusi secara luas dengan pembicara yang dihadirkan. Sisi-sisi yang selama ini kerap dicibirkan ke partai politik Islam adalah anggapan mereka yang menjerumuskan diri pada cara-cara yang kotor, yang bernama politik. Setahuku, kata dalam sebuah bahasa itu netral. Maka persepsi dan tindakan orang yang memahaminyalah yang akan membuat kata “politik“ itu jelek atau baik.

Mengapa umat Islam Indonesia harus bangkit dalam partisipasi politik saat ini. Simpel saja alasanya, karena kita termasuk pewaris sah atas negeri ini. Jika hari ini SDA kita banyak dikuasai asing dengan kepemimpinan yang ada sekarang, lantas berbagai bentuk penjajahan pola pikir terjadi juga membuat bangsa ini semakin bodoh, masak ya kita diam saja. Setidaknya ini ikhtiar yang dilakukan sebagian kita untuk menduduki kursi parlemen, menduduki jabatan pemerintahan yang strategis dan berbagai pos penting.

Pertanyaan berikutnya adalah mengenai polemik dari perilaku elit politik yang terkadang tidak etis. Ya memang, dan jika itu sebuah kesalahan, kami juga tidak diajari untuk membenarkan, kami katakan itu tetap salah. Hanya kami tidak diajarkan untuk lalu merendahkan seseorang di muka umum dan memisahkan diri, membuat jamaah baru lagi dengan berbagai alasan pembenaran yang sebenarnya semakin melemahkan perjuangan umat Islam.

Kategori
Catatan Perjalanan

MPKD 2: Membangun Kesetiakawanan

Ini adalah hal yang pasti terjadi. Dalam kegiatan pendakian,outbond memang inilah salah satu upaya yang ditumbuhkan. Dalam kegiatan perkemahan ini tentu kami menyadari bahwa ada satu dua di antara kami yang tidak membawa peralatan yang ditugaskan atau membawa bekal yang kurang. Mereka sudah sarapan dengan berbagai aksi fisik setelah pengecekan. Apa yang kami lakukan? Menyalahkan. Tidak kawan, jangan begitu, jika konsekuensi telah dijalani mari kita berbagi, bagaimana pun itu, bagaimana pun konyolnya alasan kawan ktia.

Dan lagi-lagi ini seperti mukhoyam tingkat pertama yang kuikuti. Yang keluar hanyalah kata berbagi dan raut wajah yang penuh senyum. Setidaknya di sini mayoritas peserta adalah orang-orang yang serius untuk mengikuti agenda ini. Artinya yang peralatan dan bekalnya kurang, alasannya lebih masuk akal ketimbang agenda serupa yang pernah kuikuti tetapi karena diwajibkan plus ditambah dengan ancaman jika tidak berangkat.

Kesetiakawanan merupakan modal pokok dalam membangun sebuah organisasi, pergerakan, jamaah dan peradaban. Maka atas dasar apa kesetiakawanan itu, itulah yang akan menjadi garansi apakah kesetiakawanan itu berlangsung awet atau segera tercerai-berai. Jika dasarnya karena ketokohan, maka segeralah berakhir saat tokoh itu pergi atau berubah arah. Jika dasarnya karena uang, maka segera saja bubar ketika sumber uangnya telah kering. Jika dasarnya karena kepentingan, maka segera saja hancur saat semua menjadi egois.

Tetapi jika dasarnya karena mencari keridhaan-Nya maka semakin hari kita akan mencoba belajar untuk menjadi manusia yang paling mengerti terhadap sahabat kita. Bukan lantas banyak mengatur dan mengganggu waktunya dengan sapaan kita yang sok akrab, tetapi selalu hadir di saat-saat yang tepat, saat mereka membutuhkan kawan dan solusi.

Di perkemahaan ini, maka percakapan kami adalah senda gurau bermakna, seruan kami adalah saling menyemangati saat menerobos halang rintang. Saat kami diminta bertahan pada kondisi yang sulit, kami saling menyemangati untuk tidak mengeluh. Berat, iya banget. Tapi bukankah itu perintah instruktur yang tidak pernah salah. Ha ha ha

Kategori
Catatan Perjalanan

MPKD 2: Uji Ketahanan

Perkemahan kali ini tidak begitu baik dalam ukuran normalku. Apalagi jika ibuku sampai tahu bahwa aku sedang flu. Setidaknya aku hanya pamit untuk kemah dan beliau memberikan restu. Beres. Cukup tahu itu, tanpa harus tahu bahwa aku sedang flu. Dan tidak perlu lebai bahwa saat aku flu lantas minta rukhsah macam-macam saat pelaksanaan kemah. Berani berangkat berarti siap tempur dan tidak usah banyak alasan.

Benar saja, hari itu kami diminta berjalan menaiki bukit. Dalam keadaan sehatku itu mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Tapi saat flu dengan pernafasan yang sesak, sepanjang jalan cuma berdoa diberi kekuatan. Iya, jangan sampai ikhwah yang lain terbebani untuk mengendong tasku atau malah memapahku jika sampai pingsan. Alhamdulillah sampai di atas dengan selamat.

Tapi ujian belum usai. Tiga hari dua malam di bumi perkemahan Batu Seribu yang permai ini ditemani dengan hujan yang deras dan cuaca yang fluktuatif. Kupikir dengan peralatan yang ditugaskan untuk kami lewat SMS itu akan didukung dengan peralatan yang disediakan panitia, yakni tenda. Ternyata, kami harus bermalam dengan ponco masing-masing. Mantap sekali bukan. Sekali lagi hanya berdoa, ya Allah kuatkanlah aku hingga akhir acara ini nanti.

Hari pertama kemarin, suhu udara sangat panas sebelum Shalat Jumat. Tapi akhirnya hujan pun terjadi dengan cukup derasnya. Tapi kami tidak peduli saat instruktur memerintahkan kami untuk melakukan segala hal yang diminta. (Maklum, saat pembacaan tatib perkemahan, baru kali ini aku mendengar dengan terang pernyataan panitia tentang pasal yang biasa diberlakukan dalam gojlogan, Peraturan III: peserta wajib mengikuti instruksi panitia tanpa protes apa pun, Peraturan IV: panitia tidak pernah salah, Peraturan V: jika panitia salah, status panitia kembali ke pasal IV bahwa panitia tidak pernah salah) Tentu ini sesuatu yang menarik bukan. Aturan ini memang telah kukenal sejak zaman SMA, tapi sejujurnya baru kali ini dibacakan blak-blakan di depan kami. Hahaha

Maka tidak perlu bertanya lagi bagaimana kami menikmati masa penggojlogan ini. Hanya, aku mendapatkan nuansa yang luar biasa. Tidak satupun instruktur yang membentak-bentak kami apalagi dengan kata-kata kotor. Hanya, lirikan matanya cukup membuat kami segera jalan jongkok, merangkak, koprol, dan segala aktivitas fisik menyehatkan sekiranya itu telah menjadi kebiasaan harian kami. Setidaknya, kami hanya merasakan capek selama melakukan hal itu sampai cengar-cengir. Perkara badan pegal-pegal itu urusan pulang nanti bukan.