Kategori
Special Moment

Perjalanan Trans-Jogjaku Pertama Kali

Pernahkan mendengar Trans-Jakarta? Iya itu moda transportasi umum ibukota yang dibangun pada era Bang Yos. Tetapi, beberapa tahun sebelum itu, dikotaku, Yogyakarta telah dikembangkan transportasi itu lebih dulu, Trans-Jogja. Dengan ukuran yang lebih kecil, moda transportasi dengan minibus impor buatan Hyundai Korea itu telah meramaikan jalan-jalan di Yogyakarta melayani para penumpang.

Namun meski aku menyaksikan sendiri awal pembangunannya ketika SD dahulu, aku baru merasakan sendiri nikmatnya transportasi itu hari ini. Beneran, ini tidak bohong. Sejak lama setiap ke Jogja aku sering menggunakan motor, namun hari ini di perjalanan ke Jogjaku aku memilih untuk menikmati transportasi publik tersebut. Perjalanan dari Solo ke Jogja pun menikmati bus kelas ekonomi dengan ciri khasnya, penuh sesak.

Dengan bus tersebut, aku baru kembali terasadarkan akan memori kenanganku di masa SMA dahulu tatkala sering melakukan touring keliling kota yang menjadi ibukota provinsiku, mungkin juga negaraku. Karena entah kenapa di sini kami warga Jogja memiliki kebanggaan tersendiri ketika dipimpin secara turun temurun oleh seorang raja yang bergelar Sultan Hamengkubuwana, satu-satunya kerajaan tersisa di nusantara ini yang eksis.

Detil kota Jogja masih seperti dahulu, hanya kini lebih ramai dengan baliho-baliho. Namun keteraturan dan bangunan kota yang rapi simetris itu jauh dibandingkan dengan kota tinggalku sekarang. Barangkali ini adalah karakter kota yang tidak mengalami revolusi sehingga pembangunannya benar-benar terencana dengan baik. Tata kotanya masih lebih rapi dengan bangunan-bangunan kuno yang terawat dengan baik.

Tak banyak kesan tertulis hari ini, selain hanya ingin bercerita, akhirnya aku menaiki Trans-Jogja untuk pertama kalinya. Apakah Sahabat sudah pernah menaikinya? Cobalah berkunjung ke kota kami, ibukota raja yang indah dan menjadi saksi sejarah Indonesia itu. Jogja, I miss U, I love U.

Kategori
Special Moment

Paypal oh Paypal, Ketika Si Dia Cerewet Lagi

Sudah hampir setahun akhirnya aku menggunakan metode pembayaran online cepat, PayPal. Sistem pembayaran yang praktis untuk jual beli online itu rupanya membuatku termudahkan untuk melakukan bisnis pembuatan web selama ini. Tapi sebenarnya, dalam sistem layanan yang dibuat oleh PayPal, para pemilik akun diharuskan memiliki Kartu Kredit (CC). Dan apakah aku punya? Jawabannya jelas. Jelas Tidak

Bukan orang Indonesia jika tidak kreatif. Adanya sistem layanan ini membuka puluhan orang membuka layanan Virtual Credit Card, VCC. Aku pun juga mengambil cara ini, cukup dengan 100 ribuan maka akan kudapatkan kartu kredit yang tidak ada kartunya untuk memverifikasi akunku yang telah dibuat di PayPal. Katanya yang menyediakan layanan, kartu itu akan valid untuk empat tahun ke depan. Wah keren dong, murah dan bisa memudahkan banyak orang. Bayangkan jika kami harus memiliki kartu kredit untuk merasakan layanan PayPal.

Apakah ini dibenarkan? Benar (kata teman-teman netter), asal tidak ketahuan. Jika ketahuan tinggal minta maaf dan ganti VCC baru. Jika akun dinonaktifkan tinggal bikin akun yang baru lagi dan diverfikasi dengan VCC. Nah ceritanya aku juga baru saja ketahuan memakai VCC. Jadinya mimin PP akhirnya membatasi transaksi akunku. Jadilah aku galau selama beberapa waktu dan terpaksa pinjam akun teman untuk berbagai transaksi yang kulakukan.

Setelah beberapa bulan lalu menyelesaikan sengketa dengan telepon ke pihak PayPal yang kantor cabang terdekatnya ada di Singapura (jadinya sekali telepon bisa 50 ribu), akhirnya kuputuskan untuk tidak langsung menghubungi pihak PayPal. Karena pengalaman yang lalu aku habis 150 ribu untuk telepon tiga kali. Jadinya sekarang update dulu perkembangan terbaru tentang VCC. Maklum, karena kami para pencari celah selalu bermain kreatif saat PayPal mulai cerewet dan menceramahi kami di notifikasi-notifikasi.

Ya wajar jika suatu ketika akhirnya ketahuan. Karena dalam otorisasi transaksi terkadang toko yang kita beli meminta verifikasi kartu kredit kita. Lah kan kita hanya seolah-olah punya kartu kredit, padahal kenyataannya tidak. Seharusnya kartu kredit dijadikan sumber dana untuk PayPal kita ngisi rekening saldo PayPal dengan cara membeli dari teman lain (yang juga ada grup rahasianya). Mereka yang telah bekerja atau berdangang dengan mata uang dolar biasanya masuknya ke rekening paypal. Untuk merupiahkan mereka tinggal ngecer ke yang hobinya beli dengan dolar. Dengan rate sekian maka transfer rupiah masuk ke rekening mereka, dan dolar setaranya mengisi rekening kita.

Intinya akhirnya kudapatkan VCC murah yang katanya ada verifikasi alamatnya secara otomatis. Setelah melengkapi berkas-berkas yang tidak fiktif (jadi saya menggunakan data-data faktual dari paspor loh ya) tetapi dengan kartu kredit awang-awangen itu, akhirnya akun saya kembali aktif setelah menelpon mbak-mbak cakepnya. Alhamdulillah rupanya bahasa Inggrisku makin baik, buktinya aku lebih mudeng sekarang bercakap-cakap dengan mbak-mbaknya yang jaga layanan. Jika dulu harus lewat mbak Anis yang bisa bahasa Indonesia, sekarang mbak-mbak yang bahasa Inggris pun siap.

Dengan aktivasi VCC baru dan penghapusan pembatasan, kini aku bisa bertransaksi dengan lancar yang tidak ditanyai macam-macam lagi untuk verifikasi. Dulu belum bisa transaksi dengan PayPal ke Godaddy.com sekarang sudah bisa. Jadi ….. semoga PayPal tidak cerewet lagi. Setidaknya untuk setahun yang akan datang.

Kategori
Special Moment

Njaremisasi, Mengagumi Sistem Kerja Tubuh Saat Recovery

Usai MPKD 2, tubuh ini rasanya luar biasa bergejolak. Kemarin sehabis isya rencananya langsung merebahkan diri agar besok tidak mengalami masalah saat bangun tidur. Rupanya Allah masih menginginkanku untuk beraktivitas sejenak. Pak takmir yang biasa mengisi pengajian remaja masjid tidak sedang enak badan, maka jelas dong ban serep ini jadi pengisinya. Makin malam, badan makin wow saja rasanya.

Sempat terpikir untuk langsung pijat. Tapi kata teman-teman yang ngerti soal kedokteran, tubuh orang yang masih muda dan sehat memiliki kemampuan pemulihan diri (recovery) yang cukup cepat. Jadi tidak perlu untuk melakukan hal-hal ekstrim mulai ke panti pijat atau meminum pil penenang. Cukup tahan nyeri dan istirahat cukup maka badan akan segera pulih dan kembali bugar. Ya, setidaknya justru sepulang dari MPKD penyakit flu yang kurasakan parah saat akan berangkat sudah mereda. Namun, Allah mengganti mainan baru, batuk. Tak apalah.

Yang jelas, edisi hari ini adalah mengagumi betapa luar biasanya Allah menciptakan sistem tubuh kita yang bisa melakukan pemulihan sendiri. Maka bagi yang selalu menjaga asupan makanan dan menjaga kebugaran fisik, biasanya jarang menderita sakit yang aneh-aneh. Sakit yang diderita orang kaya hari ini atau mungkin juga orang biasa yang zaman dahulu belum ada adalah akibat perilaku hidup sehat yang salah. Hal itu membuat aliran darah tidak lancar, berat badan tidak normal sehingga aneka sakit yang cukup aneh bermunculan mulai dari kolesterol tinggi hingga sakit jantung.

Maka dari itu, biarpun badan kita pegel-pegel hingga level njarem karena melakukan serangkaian olah raga ekstra itu lebih pantas kita syukuri dari pada kita tidak pernah berolah raga lantas sakit-sakitan melulu. Siap untuk menerima panggilan kembali di mukhoyyam tahun depan. Semoga bisa mengikuti lagi dengan kondisi yang lebih baik.

Kategori
Special Moment

Catatan Akhir Tahun 2013 #3

Cinta

Nah, yang ini terkadang bikin menggelitik juga. Dan kadang juga bikin banyak orang sekarang ngomong, Ihirrrrrr, Cie cie, atau apalah namanya. Tapi ini penting juga untuk dibahas. Ternyata sudah lebih dari 23 tahun ini, aku mengalami beberapa fase perubahan paradigma tentang cinta. Terutama cinta dalam arti asmara yang berkembang di jiwa pemuda seperti umumnya pemuda hari ini.

Ketika kecil aku biasa dijodoh-jodohin sama gadis di desaku (but, sekarang udah nikah yee). Aku sangat pemalu soal itu, dan cenderung cuek serta tidak suka jika ada orang-orang yang mengatakan hal itu padaku. Fase-fase itu mungkin bisa dikatakan aku nol besar soal suka dengan lawan jenis. Begitu memasuki SMP, mulai deh gituan. Tapi lagi-lagi rasa malu, bahkan untuk sekedar orang tahu bahwa aku ada rasa seseorang membuatku tidak pernah mengatakannya sama sekali.

Begitu SMA, nah ini nih, mulai rada berani. Maklum, saat itu memang aku baru awal-awalnya mengenal dunia pesantren, jadi mulai beneran kenal dengan Islam baru saat masuk SMA. Awal-awal SMA adalah saat dimana aku menjadi paling mellow sedunia dengan segala puja puji cinta. Lebih-lebih sejak SMP aku adalah pelahap novel Balai Pustaka yang penulisnya adalah para pujangga di era lama. Termasuk waktu SMA aku khatamkan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Aku terkadang ingin guling-guling sendiri saat mengingat masa-masa mellow kelas berat itu. Ada satu kisah lucu yang tidak bisa kuceritakan di sini soal rasa cinta yang tumbuh di waktu itu. Namun setidaknya saat-saat itu menjadi hal teraneh sekaligus terlucu dalam hidupku. Ada apa denganku yang jadi lemah begini saat lihat cewek. Namun hal itu pun berakhir sejak Kerohanian Islam memanggilku untuk menjadi bagian dari aktivis dakwah sekolah. Sejak saat itu, cinta adalah sesuatu yang indah untuk dipelajari dan dimaknai.

Dan mungkin fase cintaku setelah itu sudah tidak segalau masa-masa sebelumnya. Meskipun ketika memasuki masa-masa kuliah juga masih sering tarik ulur. Tapi setidaknya banyak hal yang lebih menarik bagiku ketimbang memperturutkan rasa untuk mencobai dunia yang tidak halal itu. Nikmati saja jika lagi suka, karena fitrah laki-laki kalau lagi lihat wanita ya terkadang ada rasa ketertarikan. Tapi kendalikan diri agar tidak macam-macam apalagi sampai buat program follow up.

Transisi gaya pergaulanku pun juga berkembang dari yang awalnya memang terwarnai sebagai anak di lembaga dakwah, akhirnya keluar dari sarangnya. Mungkin sebagian akan menilaiku jadi bebas, mungkin juga nakal. Tapi aku lebih menikmati suasana egaliter yang tidak didramatisir dengan berbagai aroma melankolis yang luar biasa. Kata temanku yang psikolog aku orang yang koleris-melankolis. Jadi menurutku justru aku tidak boleh membuat hari-hariku mellow, karena sifat kepribadianku jika dihiasi dengan hari-hari yang mellow akan bernasib seperti Zainuddin. He he he

Semakin hari aku mulai menemukan sisi kedewasaan dari pergaulan hidup ini. Dalam soal lawan jenis, ya bagiku semua biasa saja. Tidak ada yang spesial, dan tidak perlu dispesialkan. Yang selalu spesial adalah Ibuku dan bidadari kecilku yang selalu menelponku dengan suara lucunya, Zahra Nur Aida Azkiya. Bahkan mungkin hari ini aku termasuk orang yang tidak terlalu berbasa-basi dengan cewek. Jika tidak ada kepentingan, maka jangan harap ada diskusi. Teman-teman cewek yang dekat sejak kecil aja kadang jatah diskusinya lama banget. He he. Maaf, mungkin keautisanku di masa muda hari ini sering membuat kalian terlupakan.

Aku percaya bahwa cinta itu adalah karunia Allah. Ada pun rasa-rasa yang tidak pernah berhenti dan mungkin berganti-ganti hari ini adalah hal manusiawi yang selalu bergelora di jiwa pemuda yang belum menikah. Jadi menikah itu adalah untuk mengarahkan seluruh potensi rasa itu untuk seorang saja yang menjadi bagian dari perjalanan hidup nanti. Ha ha, trus nikahnya gimana, kapan? Itu rahasia dong.

Apa pun itu, bagaimana pun itu, mau melalui lajnah munakahat, atau langsung main ke calon mertua, yang penting semua diawali dari niat yang sungguh-sungguh. Dengan diriku yang spesial ini, semoga dipertemukannya dengan orang yang sangat spesial. Yang siap mendampingi untuk hidup susah dan senang dengan segala idealisme yang dimiliki. Yang tidak banyak berbicara soal kalkulasi, tetapi berbicara bagaimana mencari suasana dan ruang petualangan hidup. Karena aku masih punya mimpi paling gila setelah punya anak nanti.

Hari ini, saatnya membangun karakter diri dan membentuk komunitas orang-orang aneh. Jika semakin ke sana sekolah hanyalah ladang bisnis, maka aku lebih suka anak-anakku nanti bergabung bersama anak-anak komunitasku. Kami bikin sekolah dan kurikulum belajar sendiri, dididik secara bergantian tentang kehidupan dan agama dengan baik. Jika usianya memasuki ujian seperti anak sekolahan lainnya, ya tinggal diikutkan ujian persamaan paket C, B, dan A. Setelah itu kupersilahkan apakah masih merasa perlu kuliah atau tidak. Itu pilihan dia nanti. Dan aku merasakan aroma pencarian itu secara tidak sadar telah kumulai di tahun 2013 ini. Dan perjalanan ini, akan tetap dilanjutkan.

Maka hari ini mencari dan membangun komunitas idealis itu sama pentingnya dengan mencari calon ibu untuk anakku. Atau jangan-jangan nanti aku bertemu dengannya di ruang-ruang pencarian itu. Allah yang lebih tahu untukku. Ha ha.

Kategori
Special Moment

Catatan Akhir Tahun 2013 #2

Karir

Perjalanan pulang dari Eropa juga membuatku berpikir keras tentang bagaimana membangun karirku di masa depan. Mungkin adalah hal yang berat bagiku mengingat sejak kecil aku hidup dalam pemandangan masyarakat yang menganggap bahwa PNS adalah pekerjaan paling mapan dan terhormat. Tapi realita hari ini tidak kujumpai demikian. Bahwa PNS adalah profesi sekaligus kedudukan terhormat di masyarakat, maka aku sangat setuju sekali. Tapi apakah itu pekerjaan yang mapan dalam arti secara finansial.

Kalau arti mapan yang dipahami adalah rutinnya, ya benar. Tiap bulan pasti rutin. Tapi banyak atau tidak? Tidak banyak. Gaji PNS itu bisa dihitung besarannya, bisa diperkirakan pendapatannya. Jadi jika ada PNS sangat kaya itu kadang menimbulkan fitnah. Bahkan meskipun sejatinya pendapatannya halal, tapi seringkali orang lain akan banyak mencibir. Akhirnya aku gamang juga untuk menjadi penerus ayahku yang telah membaktikan diri untuk negeri ini. Aku tahu, beliau adalah teladan terbaik bagiku bagaimana menjadi orang yang bersih dan enggan berbasah ria di ladang duit seperti sebagian rekan-rekannya dahulu yang kini sudah berganti tumpangan dari roda dua ke roda empat.

Maka kupikir, ladang itu adalah ladang untuk yang mantap hati mengabdi dengan cara yang negara pilih. PNS yang baik adalah PNS yang siap ditempatkan dimanapun oleh negara, dengan gaji yang telah diputuskan oleh negara. Karena PNS adalah sosok pengabdi yang resmi oleh negeri ini, yang hidup dari uang rakyat yang dilayaninya. Maka sudah seharusnya menjadi PNS itu tidak melakukan macam-macam untuk menumpuk kekayaan dan tidak banyak tingkah. Apakah aku bisa bertahan mengambil pilihan ini? Sepertinya tidak. Aku ingin punya uang banyak dan ingin menikmati kesenangan berpetualang, tanpa beban yang terikat pada orang lain. Just for myself.

Jadi kuputuskan untuk mencari peruntungan pekerjaan diluar itu selagi masih bisa. Susah juga rupanya jika tidak ada mentor yang mengarahkan. Apalagi belasan tahun aku dimanja dalam suasana nyaman. Kaya sih enggak, tapi setidaknya aku tidak merasakan suasana keluarga yang kalut karena kekurangan dalam sisi finansial. Bukan karena berlebih, tapi memang karena berhemat. Sejak kecil, sejak SD ayah selalu melibatkanku dalam diskusi-diskusi pengambilan keputusan strategis. Yah, tahu sendiri bahwa senjata PNS untuk membangun rumah, membeli kendaraan, dan segala perabotan rumah adalah dengan berhutang duluan dan potong gaji.

Alhamdulillah, Allah membukakan jalan dengan menyadarkan bahwa dunia IT yang sudah kusukai sejak SMP dan dunia baca-tulis yang sudah dibiasakan orang tua sejak kecil itu harus kuuangkan hari ini. Ternyata itu pintu terbaik untuk memperluas cakrawalaku. Meskipun sejatinya mulai terbuka sejak aku menjadi ketua SIM yang terdidik untuk berkembang mandiri di saat rekan-rekan seperjuangan larut dalam status Quo mereka, aku tidak punya pilihan selain otodidak untuk memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan. Apakah lantas keinginanku jadi PNS hilang? Belum juga, tapi setidaknya ini telah menjadi hiburan dari kegalauanku ketimbang besok mencari pekerjaan. Bikin pekerjaan sendiri aja. Siapa tahu bisa membantu orang lain.

Kini aku menemukan status yang terkeren untuk kusandang. Blogger. Yah, itu status pertengahan yang membuatku sangat nyaman menjadi apa pun. Aku bisa berinteraksi dengan banyak orang dari yang paling kiri hingga yang paling kanan. Dari yang kalangan bawah hingga kalangan atas. Aku bisa jadi guru, bisa jadi pedangang, bisa jadi apa pun yang aku mau. Status ini tidak begitu membuat masyarakat menuntutku, sehingga aku bisa lebih sibuk untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Status ini juga tidak membuat ekspektasi orang terlalu tinggi kepadaku, sehingga ketika suatu saat aku tergelincir dalam kesalahan (sebagai konsekuensiku sebagai manusia) tidak akan terlalu membenamkanku.

Di titik inilah, aku bisa lepas dan bebas untuk berbagi sekaligus menimba ilmu dari banyak orang. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang sungkan menasihatiku. Tapi orang-orang jauh yang baru tersambung denganku di masa-masa ini adalah guru-guru baru yang dengan setia akan menasihatiku. Bahkan orang-orang yang sejak SMA menjadi inspiratorku pun tetap menasihatiku dengan baik. Terima kasih untuk semuanya. Aku kini memilih jalan Blogger sebagai ruang aktualisasiku.

Apakah dengan ini lantas uangku berlimpah. Entahlah, tapi aku yakin Allah akan membukakan jalan itu. Setidaknya aku bisa mengatakan bahwa jika aku bekerja sesuka waktuku atau bekerja sedikit saja dalam sebulan dan penghasilanku sudah sama dengan PNS bukankah aku lebih kaya. Sehingga aku punya banyak waktu untuk belajar, membaca, diskusi, jalan-jalan, dan menikmati berbagai hal yang selama ini tersembunyi.

Berdiskusi dengan teman-teman difabel. Belajar dari semangat hidup mereka meskipun diuji Allah dengan keterbatasan. Mencari guru-guru yang tersembunyi dalam berbagai profesi yang selama ini dipandang rendah oleh kebanyakan manusia yang terlanjur diwarnai pola pikir kapitalis. Terlibat dalam komunitas-komunitas sosial sekaligus mendapatkan kesempatan untuk belajar menyusun konsep pendidikan yang integratif dan lebih manusiawi. Mungkin ini akan menjadi jalan bagiku untuk tetap bertahan menjadi idealis, meskipun di sisi lain aku akan siap menerima umpatan sebagai pengecut karena hanya mencari zona aman saja. Well, terserah saja.

bersambung ….

Kategori
Special Moment

Catatan Akhir Tahun 2013 #1

Tiga hari terakhir ini aku akan buat rekapitulasi perjalanan akhir tahunku. Sebuah masa yang menjadi titik pembalikan belajarku dari kampus ke dunia nyata. Aku memang belum lulus hingga hari ini, tapi aku kini merasa telah wisuda lebih awal dan tinggal menyatakan status bahwa aku telah wisuda. Mungkin nanti fakultasku ngasih gelar S. Pd. (Sarjana Pendidikan). Tapi aku telah lebih dahulu mewisuda diriku sendiri, S. P. D. juga sih, tapi Semakin Percaya Diri.

Visi Hidup

Sepulang dari perjalanan ke Eropa, aku diliputi kegalauan hebat. Tepat tanggal 31 Desember 2012 aku menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Hari itu aku membuat refleksi tentang perpindahanku dari dunia gemerlap dan mewah Eropa ke dunia slum area. Aku masih ingat betul bagaimana bersih dan nyamannya Gastehauss (apartemen) yang kami tempati, yang kemudian segera kunetralkan dengan singgah 3 hari di kampung kumuh di atas lahan sengketa kawasan Pancoran Jakarta.

Jika aku mau tinggal di rumah teman yang lebih layak bisa. Atau menyewa kamar hotel uang sisa dari perjalanan masih cukup. Tapi tidak bagiku. Di sinilah aku mengalami banyak perubahan luar biasa. Tentang idealisme. Tentang visi hidup kedepan yang harus kurevisi lagi dari perencanaan hidupku. Bahwa hidup benar-benar bicara soal esensi, bukan duit semata, apalagi soal kesejahteraan. Hidup itu memaknai setiap detik perjalanan, bukan sekadar melihat dan mengagumi, lantas foto-foto saja.

Meskipun belum tahu resolusi terbaik untuk 2013, setidaknya aku merasakan ada hal baru dan revolusioner yang harus kulakukan untuk mengubah diriku ini. Aku telah beruntung tercebur dalam lingkungan yang kupilih sendiri sejak kecil dalam nuansa belajar. Dan yang lebih enak lagi, semua itu murni kujalani sendiri tanpa paksaan orang tua. Dikaruniai orang tua yang sangat demokratis tentu adalah kenikmatan tersendiri bagikut. Yang tidak pernah berkata kamu hari ini, kamu harus itu, tetapi selalu bertanya, gimana cah bagus untuk selanjutnya?

Pertanyaan itu baru terjawab ketika kuartal kedua 2013, saat salah satu sahabatku di ma’had dahulu mengajakku bergabung dalam sebuah petulangan baru. Yah, bukankah aku telah menekuni dunia IT sejak SMP. Meskipun secara pembelajaran aku mungkin tidak banyak melatih keterampilan dalam diriku, tetapi setidaknya hal itu adalah hal yang menyenangkan bagiku sejak dahulu. Kemudian, bukankah aku sejak SD terbiasa membuat tulisan-tulisan kecil, mengapa hari ini aku tidak melanjutkannya lagi dengan serius. Setidaknya 2 tahun aktivitas bloggingku apa tidak cukup menjadi alasan untuk mulai memonetize hobiku ini.

Lagi pula, aku merasa tidak suka dengan hal-hal yang monoton dijalani. Sebuah aktivitas pekerjaan yang prosedural. Aku hanya betah bahwa tiap hari harus bekerja, meskipun saat liburan. Asal yang kukerjakan selalu berbeda dan mengandung tantangan baru. Sesuatu yang selalu memberikan perspektif baru dan sesuatu yang baru untuk kupelajari.

Di titik inilah, rencana hidupku perlu kurevisi. Karena visi hidupku adalah hal terpenting untuk dicapai. Maka cara terbaik harus selalu dihadirkan untuk menuju ke sana. Tahun 2013 menjadi langkah baru untukku melihat sesuatu lebih detil, menghargai sesuatu yang lebih kecil untuk menjadi potensi yang bisa diolah. Aku pikir ini akan berguna dalam perjuanganku ke depan. Bukankah setiap kita mengemban tanggung jawab perbaikan bagi umat, bukan sekedar hidup untuk diri sendiri. Maka sejak kita meniatkan itu, maka saat itu pula kita harus berpikir bagaimana kita menjadi manusia yang merdeka agar segala upaya perbaikan yang kita lakukan memberi dampak besar kepada setiap orang, tanpa ada ketakutan atas hutang materi dan hutang lainnya.

bersambung …

Kategori
Special Moment

Tetua Kreatif

Dari sekian perjalanan organisasi yang kulalui di kampus, jelas Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) adalah organisasi terhebat yang membuatku belajar banyak hal. Tempat di mana kami para pengurus bisa bertemu untuk belajar dan berbagi. Bahkan hingga hari ini, khususnya kami yang berada di jajaran pengurus harian masih menikmati nostalgia sebagai pengurus, meskipun tidak ada lagi kekuasaan.

Hal yang menarik dengan angkatanku yang kini telah menjadi alumni pengurus SIM, kami masih suka dengan kreativitas dan kemandirian berusaha. Kami masih terobsesi untuk melakukan banyak hal yang sifatnya kreatif, meskipun ujung-ujungnya memang kami tetap mencari uang. Yah, memang saatnya kami harus lulus dan bekerja. Tapi lagi-lagi kami masih ngeles karena baru separuh dari kami yang lulus meskipun kami sudah berstatus angkatan tua sekali.

Bahkan meskipun SIM dulu diproyeksikan sebagai UKM akademis, artinya ketika itu gambarannya orang-orang SIM adalah orang yang IPK-nya selangit dan lulusnya secepat pesawat Sukhoi, ternyata angkatan kamilah yang memutus tesis itu. Bagi kami berprestasi bukanlah semata-mata pada titik akademis seperti yang banyak dicita-citakan orang untuk mencari kerja. Tapi kami menikmati banyak petualangan, melihat dunia yang luas, menemukan berbagai cara pandang dan persepsi yang baru. Berprestasi adalah ketika kita mengalami titik ledakan dalam hidup untuk bangkit menjadi manusia yang idealis dalam kacamata manusia. Bukan idealis dalam pikiran kita sendiri.

Sore ini, kami menikmati hidangan makan sore yang disediakan oleh salah satu dari kami yang baru merasakan wisuda. Tidak ada sepatah kata pun dari kami tentang pertanyaan, “mau kerja di mana?“. Well, inilah puncak kebahagiaan kami di mana kami selalu ceria dan tidak terlalu peduli soal apa pekerjaanmu (karena kami tahu sama tahu bahwa kami telah tersibukkan dengan berbagai pekerjaan yang juga sekaligus menjadi petualangan kami). Kami menikmati dunia yang selalu dinamis dalam dimensi belajar yang tak terbatas. Tidak terbetik kata juga soal mengapa di antara kami ada yang belum lulus (karena semua memahami bahwa waktu lulus adalah pilihan masing-masing). Dan kami hanya sepakat bahwa kami semua wajib lulus, soal waktu itu tanggung jawab masing-masing.

Akhirnya, kami sejatinya tetaplah menjadi periang yang menikmati masa-masa pensiun lembaga dengan melihat adik-adik kami yang penuh dengan kreativitas. Mungkin sebagian melihat kami kekanak-kanakan. Tapi kami bahkan seperti teman di masa kecil yang tetap bebas bercanda dengan segala dinamikanya. Bahkan kalau aku boleh bilang, sekali dilantik kita telah menjadi pengurus SIM selamanya. Kreativitas, karya, dan persahabatan adalah hiasan indah yang membuat kami bisa meredam berbagai iri hati, apalagi kurang kerjaan dengan sering mencurigai sesama kami. Semoga ukhuwah ini senantiasa berkekalan hingga akhir hayat nanti.

Kategori
Special Moment

Pindah Rumah

Kemarin ceritanya kan baru aja beli hosting baru. Nah, saking keranjingannya dengan nama Zona Perubahan, akhirnya sekarang aku membeli domain lagi untuk hosting yang baru, www.zonaperubahan.org. Sebelumnya aku sudah memiliki www.zonaperubahan.com, kemudian kena banned dan aku membeli www.zonaperubahan.net. Setelah setahun www.zonaperubahan.com kembali kurebut.

Hari ini aku manfaatkan untuk belajar pindahan hosting secara manual, dari hosting yang awalnya disediakan temanku karena spacenya juga nganggur. Meskipun awalnya pinjaman dan tidak dikenai biaya, namun tetap saja tidak seleluasa ketika memiliki hosting sendiri. Jadi hari ini puluhan web yang sudah kubuat untuk teman-temanku sebagian sudah pindah rumah ke tempat yang baru. Tempatku yang damai dan leluasa. He he he. Selamat datang di rumah baru ya.

Ternyata pindahan manual itu cukup melelahkan. Untung saja temanku memberikan pinjaman juga Virtual Private Server (VPS). Apa itu? Semacam komputer yang kecepatan unduh dan unggahnya super cepat dan stabil. Jadi dari komputer kita, kita masuk untuk mengakses komputer orang yang disewakan kepada kita setiap bulan. Benar saja, lewat VPS mengunduh file lebih dari 1 GB tetap aja kenceng dan cepat. Dan alhamdulillah, pengalaman pertama ini berhasil.

Kategori
Special Moment

Hari Pahlawan : Dari Monumen Perjuangan Hingga Diskusi Kebangsaan

Kalender di lepiku hari ini menunjukkan tanggal 6 Muharram 1435 H atau bertepatan dengan 10 November 2013. Ada apakah gerangan? Ternyata ini adalah hari pahlawan. Hari ini pula ada pilihan kepala desa, jadi aku harus pulang untuk ikut berpartisipasi dalam ajang pemilihan pemimpin di desa itu. Kendati mungkin tak ada yang begitu fenomenal untuk diharapkan membawa perubahan, tetapi turut berpartisipasi akan memberikan kontribusi yang baik bagi desa ke depan.

Selain itu, kepulanganku hari ini sebenarnya untuk menunggu bukti dari seseorang atas debat yang sempat kami langsungkan beberapa waktu lalu. Aku pun sengaja membawa satu junior untuk mengenalkan daerah sendiri. Rupanya yang ditunggu tak hadir, jadilah kami memutuskan untuk melakukan jelajah ke sebuah obyek wisata yang sangat populer akhir-akhir ini, tapi aku sendiri merasa belum pernah berkunjung ke sana, Goa Pindul. Kadang-kadang lucu juga sih, sebagai orang Gunungkidul tetapi obyek wisata itu justru aku sendiri belum tahu.

Setelah melakukan perjalanan blusukan sambil mengenang jalan-jalan yang biasa kulewati dengan sepeda motor ketika liburan SMA dulu, sampailah aku pada suatu tempat yang membuatku terbengong. Oh, ternyata ini to lokasi Goa Pindul itu. Nanar mataku melihat tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku karena ternyata aku dahulu telah berkali-kali mengunjungi tempat ini. Hanya saja dahulu tempat ini masih sepi, bahkan katanya angker. Hari ini, puluhan bus telah berjubel memenuhi lapangan parkir dan tepian jalan yang sudah sempit itu.

Goa Pindul, ternyata adalah goa yang dialiri sungai bawah tanah di dusun Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo. Lokasinya dekat dengan kawasan pembenihan ikan dan tempat perkemahan yang dulu sering dipakai para peserta pramuka. Ayah memperkenalkan tempat ini pertama kalinya padaku ketika masih SD. Kala itu, tempat ini masih rimbun dan sangat sepi. Cukup mengerikan. Namun suasananya masih sangat asri dan teduh. Di bagian puncak bukitnya, terdapat monument dan puing-puing rumah. Dalam monument itu bertuliskan bahwa rumah tersebut pernah menjadi markas komando pemerintahan militer selama perang gerilya menghadapi Agresi Militer II Belanda. Desa ini adalah bagian dari rute perjalanan panjang Panglima Besar RI, Jend. Soedirman.

Tanpa pikir panjang, kuajak juniorku untuk kembali mengunjungi monumen yang terletak di puncak bukit itu. Sembari melihat aktivitas para turis yang kini memadati lokasi telaga yang terhubungkan ke bibir Goa Pindul. Masih tetap seperti yang dulu. Monumen itu tetap sepi, bahkan di hari pahlawan ini. Meskipun ditangga bawah sudah diberi papan nama monumen perjuangan Jend. Soedirman yang dibuat oleh para mahasiswa KKN PPM UGM, rupanya tidak begitu banyak menarik para wisatawan untuk naik dan mengheningkan cipta sejenak. Seperti inikah bangsa yang katanya menghargai jasa para pahlawannnya? Mungkin ini hanya keluhan seorang yang niatnya cari tempat baru tetapi tersesat di tempat yang dulu sering ia kunjungi.

 

Tempat yang dulunya sepi dan hanya bersuarakan gemericik air dan kicauan beburung merdu, kini telah berubah dengan riuh rendahnya manusia dan bunyi klakson kendaraan mulai dari sepeda motor hingga bus. Tempat yang dulunya hanya ada masjid dan bilik kecil di pinggir tempat perkemahan yang ada makamnya itu, kini ramai dengan kedai dan rumah-rumah makan yang di sepanjang jalan. Tempat ini telah menjadi tempat yang ramai lagi, bukan lagi sebagai tempat merenung yang damai.

Karena aku tak berniat untuk melakukan susur goa yang katanya memiliki stalagtit indah itu, maka aku hanya melihat bibir goa dari kejauhan. Tampak silih berganti pengunjung memasuki goa yang sejatinya sungai bawah tanah itu dengan pelampung dari ban kendaraan dan pakaian pengaman. Mungkin di kesempatan yang lain akan kulakukan. Telaga yang dahulu tenang dalam warna hijaunya, yang ketika itu tidak pernah kusadari bahwa di sudutnya adalah mulut goa yang kini menjadi daya tarik banyak orang telah beriak. Tempat yang sekelilingnya masih alami telah dipenuhi anak tangga yang terbuat dari semen dan pasir. Mungkin ini memang akhir dari fase alami goa tersebut, saatnya menjadi goa wisata yang harus sesuai dengan keinginan wisatawan.

Sore harinya, aku mendapat undangan untuk berbagi inspirasi di forum teman-teman KAMMI UNS. Temanya cukup berat, meskipun itu tema yang kusukai. Yakni menyangkut sejarah. Sebenarnya karena faktor hari pahlawan saja sih, sehingga diskusi sore hari ini mengambil tema itu. Meskipun sebenarnya itu adalah sebuah diskusi kebangsaan, aku tidak teralu berminat untuk membahas hal-hal yang sifatnya utopis. Tidak, itu bukan waktunya lagi dilakukan oleh mahasiswa. Yang paling utama adalah gerakan penyadaran diri dan upaya untuk melakukan berbagai eksplorasi ide-ide kreatif. Perubahan adalah hal yang pasti, dan tentu tidak perlu kita teriak-teriakkan. Yang penting adalah akan menjadi seperti apa dan bagaimana caranya? Pertanyaan pertama mungkin gampang di jawab, tetapi pertanyaan kedua nyatanya masih membuat kita harus terus berjuang agar bisa terjawab.

Aku tidak menyangka bahwa di hari pahlawan ini, ada banyak hal tak terduga yang ternyata membuatku mengerti tentang sebuah perjalanan. Memperingati hari pahlawan tidak cukup dengan formalitas dan seremonial belaka. Ada yang lebih penting untuk selalu kita upayakan, mengupdate pengetahuan sejarah kita, lantas melakukan rekonstruksi di kepala kita tentang sejarah, hingga kita bagikan ke yang lain dalam rangka membangkitkan kembali semangat kebangsaan ini. Semangat untuk membangun negeri dan menjadikan Indonesia yang lebih baik. Satu demi satu, hingga kelak terwujudkan di atas bangsa yang sangat besar ini. Amiin

Kategori
Catatan Perjalanan Special Moment

Kejutan Sang Senja Utama Solo

Sudah hampir setengah tahun aku tidak lagi menggunakan kereta api kelas bisnis sejak kereta ekonomi menggunakan sistem pembatasan tiket yang memungkinkan penumpangnya duduk. Alasannya sederhana, kereta ekonomi jauh lebih murah tarifnya. Selain itu, layanan di kelas bisnis tidak terlalu berbeda dibandingkan dengan kelas ekonomi selain masalah kedatangan di stasiun tujuan, tempat duduk, dan terbatasnya pedagang asongan yang masuk waktu itu. Gerbong yang mirip, toilet yang memang seperti itu, dan kipas angina sebagai pendingin ruangan adalah pemandangan yang sama baik dalam kereta bisnis dan ekonomi.

Aku termasuk pengguna kereta Senja Utama Solo jika bepergian ke Jakarta dari kotaku sekarang, Surakarta. Sekali-kalinya aku naik Fajar Utama Jogja waktu pulang dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah itu aku memilih kereta ekonomi karena tarifnya hanya sepertiganya. Ukuran para pembolang kelas rendahan macam saya jelas itu sebuah pilihan yang tidak perlu dipikir panjang setelah PT KAI memberikan jaminan tempat duduk untuk tiap penumpang. Untuk soal keamanan, kita tinggal bawa rantai atau gembok untuk mengikatnya di atas tempat bagasi.

Sore tadi, mengawali perjalanan Marching for Boundary, sebuah program magang sosial dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa di sekolah-sekolah perbatasan dan pedalaman Indonesia membuatku memilih kereta bisnis lagi. Alasannya juga sederhana, karena kami dibayari. Mengapa tidak eksekutif? Karena yang mendanai kami adalah sebuah lembaga sosial. Maka tidak selayaknya kami mencari fasilitas yang lebih dari sekedar layak untuk kami.

Kami kembali memilih Senja Utama Solo untuk mengantar kami ke Lembaga Pengembangan Insani, tempat Sekolah Smart Ekselensia Indonesia berada. Sebuah zona baru untuk membuka paradigma masyarakat dengan nama Zona Medina, untuk menghadirkan harapan baru bagi bangsa bagaimana zakat, infaq, dan dana-dana sosial seperti CSR dapat menjadi pilar yang kokoh untuk membangun kesejahteraan dan memberdayakan jika dikelola dengan baik.

Hal yang mengejutkanku saat memasuki kereta Senja Utama Solo adalah adanya hal-hal baru yang tidak kutemui saat terakhir kali menaiki kereta ini setahun yang lalu. Saat ini ada stop kontak yang tersedia di tiap tempat duduk sebanyak penumpangnya. Kemudian pendingan gerbong tidak lagi menggunakan kipas angin, tetapi sudah menggunakan AC. Selain itu, kondisi gerbong jauh lebih bersih dengan para cleaning service yang selalu siap dengan peralatan mereka.

Yang tak kalah menarik adalah para pelayan makanan dan minuman serta fasilitas tidur seperti bantal dan selimut pun kini menggunakan seragam yang rapi bak sebuah layanan di pesawat, pesawat kelas ekonomi. Wajah pelayan bak pramugari cantik yang terus berkeliling menawarkan layanan makanan dan minuman yang kemudian diantarkan kepada setiap pemesannya. Benar-benar kejutan kereta kelas bisnis yang kuterima saat ini. Padahal tarif kereta kembali ke tarif semula setelah mengalami kenaikan beberapa waktu.

Perjalanan hari ini pun terasa berbeda. Suasana kereta yang nyaman karena kebersihannya terjaga. Kemudian dengan tidak berkeliarannya lagi pedagang asongan di sembarang stasiun kami bisa beristirahat dengan tenang tanpa diliputi kekhawatiran akan kehilangan barang. Dan kenyataan ini menyiratkan optimisme bahwa kita masih bisa terus berkembang ke arah yang lebih baik. Jika layanan hari ini semakin baik, maka semoga yang dilayani pun semakin tahu diri dengan tidak membuat berbagai tindakan yang tanpa aturan.

Hidup PT Kereta Api Indonesia, semoga tetap menjadi BUMN yang memberikan keuntungan besar bagi bangsa ini dan tidak mengalami nasib yang sama seperti Indosat yang pernah dijual murah ke negara tetangga. Kami pun merebahkan diri pada kursi yang nyaman itu untuk menanti pagi di stasiun Jatinegara sebelum akhirnya melanjutkan ke tempat tujuan kami di Parung Bogor, Zona Madina Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa.