Kategori
Dakwah Islam

“Politik Islam” Di Benak Para Pemikir Utopis

Di antara yang terjebak dalam utopia politik Islam adalah menggelorakan hal-hal yang sifatnya puncak tetapi sejatinya kosong dalam membangun pondasinya. Mereka bilang ini itu soal kekuasaan membabi buta tanpa melihat konteks kehidupan yang sekarang. 

Bisa ditanyakan berapa referensi yg sudah dibaca tentang shirah dalam berbagai lintas sudut pandang yang dia baca sejak Ibrahim, hingga bani Israil berkuasa, lalu masa bangsa Arab sebelum kelahiran Rasulullah, konstelasi politik yang terjadi hingga masa Rasulullah berkuasa, lalu para khalifah rasyidah, lalu para raja dari Dinasti Umayyah, Dinasti Abasysyiah dan Dinasti Utsmaniyah apakah juga dicermati perubahan konstelasi politiknya.

Seringkali kita saat ini hanya melihat kejadian-kejadian itu secara parsial lalu membuat kesimpulan atas tema yang kita sukai saja. Dan secara tidak langsung inilah mengapa akhirnya perjuangan menegakkan syariat Islam terpecah-pecah menjadi banyak pergerakan yang parahnya saling mengejek satu sama lain. Kader-kader yang dididik di madrasah pergerakan itu cenderung berpikir dalam opini para guru-gurunya, tidak meluaskan wawasannya untuk menemukan permata peradaban yang agung ini.

Inilah tantangan yang sesungguhnya. Menggabungkan semangat untuk senantiasa belajar dan bersabar atas perbedaan yang masih terbuka lebar ini. Membuka ruang diskusi yang hangat dan menahan diri dari memaksakan kehendak saat menyuarakan kebenaran. Karena targetnya adalah menangnya kebenaran, bukan kerasnya suara kita yang menggaung-gaung untuk mendapat pujian.

Dan untuk mereka yang apatis pada politik, sudahlah abaikan saja karena memang tidak ada gunanya berurusan dengan mereka. Apalagi jika apatisme mereka itu ideologis, sia-sia saja mendebat yang seperti itu.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Kesabaran Dalam Kita Beramal

Kusadari arti penting kesabaran di negeri ini

  1. Yang berjuang di ranah politik, sering tidak sabar untuk memainkan taktik yang jitu dalam meraih posisi, alhasil saat dapat posisis sistem pendukung tidak siap, atau malah bikin kampanye2 hitam yang merusak citra sendiri dan akhirnya malah kalah
  2. Yang anti politik dan menganggap pilihan jalannya benar juga tidak sabar untuk membuktikan pilihannya mampu memberi solusi, alhasil yang keluar bukan kerja nyata yang benar-benar solutif melainkan ejekan2 yang menyakitkan dan sering merendahkan yang lain
  3. Yang jadi rakyat biasa juga tidak sabar untuk mengikuti perubahan yang ditawarkan para pemain politik, alhasil keluarannya cuma komentar, nyinyir dan serangkaian pelarian frustasi yang memang tidak ada manfaatnya. Itulah mengapa lawak dan industri hiburan semakin laris di negeri ini.

Kesabaran itu memang kunci, kunci untuk mereka yang ingin menatap masa depan yang lebih baik. Lebih penting lagi Sob, kesabaran itu bukan tindakan pasif, tetapi ketahanan dan kejelian untuk melihat peluang hidup. Mau kita bertahan mandiri dan bekerja sama toh, apa yang menjadi amal kita akan dipertanggungjawabkan sendiri2 di hadapan Allah. 

Amal bersama itu untuk melipatgandakan manfaat dan meledakkan kekuatan. Tetapi urusan pahala akhirat kembali ke diri masing-masing Sob. Jadi mari belajar bersabar, terutama menjaga kedamaian hati dan keamanan lisan kita. Hidup memang begini, yang penting sadar posisi, sadar peran, dan kita lakukan tindakan terbaik yang kita mampu.

Facebook

P

Kategori
Dakwah Islam

Amr Bin Hisyam, Dari Abul Hakam Menjadi Abu Jahl

Mari simak opini2 konyol Amr bin Hisyam (nama panggilan mulia di tengah kaumnya adalah Abul Hakam = bapak pemilik kebijaksanaan), sehingga mengapa kita tahu akhirnya dia digelari oleh kaum muslimin (bukan oleh Rasulullah) sebagai Abu Jahl (bapak biang kebodohan).

Suatu ketika Rasulullah pernah mempertanyakan mengapa Abu Jahl menentang dakwah Rasulullah dan menyebutnya sebagai pendusta, padahal dulu adalah sahabat di masa kecil. Abu Jahl menjawab bahwa dia tidak mendustakan Rasulullah, karena memang sejak awal dikenal sebagai al-Amin, tetapi dia mendustakan Risalah Islam yang dibawa Rasulullah

Sebenarnya beberapa tokoh Quraisy ragu mengapa mereka harus memusuhi Rasulullah, yang tidak pernah berdusta dan risalah yang dibawanya (Quran) adalah perkataan mulia. Abu Jahl mengatakan kepada mereka, “Dulu Bani Hasyim melayani jamaah haji, Bani kita juga bisa. Dulu Bani Hasyim menjadi pembela Mekkah, Bani kita juga bisa …… (banyak dan intinya begitu dalam soal kemuliaan dan pamor). Nah sekarang Bani Hasyim ada yang mengaku Nabi, bagaimana kita bisa menyainginya?”

Suatu ketika Rasulullah menawarkan satu kalimat kepada Abu Jahl yang dengannya dia akan berkuasa atas seluruh orang Arab dan Ajm (non-Arab). Dengan semangatnya Abu Jahl berkata, bahkan jika 10 kalimat pun akan diucapkannya asal mendapatkan kedudukan itu. Rasulullah tuntun untuk bersyahadat, lalu Abu Jahl malah berkata, “Itu kalimat yang dibenci para raja”. Aneh bukan, Abu Jahl menolak Islam karena sangat mengerti esensi kalimat tauhid itu.

Abu Jahl pernah berdoa pada Allah, Ya Allah jika apa yang dibawa Muhammad itu benar, maka hujani saja kami dengan batu dari langit. Lihat, ini doa orang stress bukan, dan menunjukkan bahwa Abu Jahl itu sangat tahu nilai kebenaran Islam tetapi dia sengaja sesat dan menolaknya.

Karena apa, lihat secara lengkap kisah itu, motif persaingan dan ambisi kekuasaan bukan. Nah, sekedar pengingat buat kita, jangan sampai kita menjadi orang yang keras kepala sehingga kita sombong dengan anggapan diri kita sendiri lalu menafikan kebaikan yang sesungguhnya Allah datangkan kepada kita. Rasa sombong, merendahkan orang lain, sampai-sampai menghinakan orang lain dengan sebutan-sebutan buruk cukuplah untuk membuat kita mati hati. Bahkan bila kita tahu ada orang yang salah, maka kita diberi bahasa dan adab untuk mengingatkannya dengan cara terbaik. Bukan peh kowe bener, njet njeplak sak karepmu dewe, ra nggagas atine lara po ora.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Belajar Adab Dari Para Rasul Allah

Ayyub ditimpa kesusahan lengkap (harta, keluarga habis, dirinya sakit tak berdaya), mengadunya kepada Allah agar disisakan hati dan lisannya agar tetap berdzikir. Dan tidak mengeluh semakna dengan hal ini, “aku kan hamba-Mu, kok diuji sampai begini sih”

Rasulullah Muhammad ketika dihujani batu oleh penduduk Thaif, berdoanya kepada Allah bukan menyalahkan mereka yang masih kafir, tetapi mengadukan lemahnya diri dan kurangnya siasat. Beliau juga tidak berkata, “Engkau kan yang memberi aku tugas dakwah ini, bantu aku dong”

Jangan-jangan, hari ini kita jadi susah ini karena memang kita sering tidak beradab. Mendikte Allah sesuka kita dan memposisikan Ia seperti partner dagang kita. Dengan perasaan yang sombong kita berkata karena kita dah shalat, dah dakwah, dah berjihad dll lalu kita mendikte-Nya untuk memenuhi segala keinginan kita. Siapa kita? Lalu bagaimana lagi yang tiap hari hanya mengkambinghitamkan banyak hal. Baru lihat gini salahkan sistem lah, salahkan kelompok itu lah, salahkan semua, pokoknya buruk semua sampai-sampai hati-hati kita menikmati semua ejekan yang keluar dari lisan kita. Naudzubillah.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Islam di Eropa dan Islam di Indonesia

Di Bergische Universität Wuppertal dahulu, kami sudah terbiasa shalat di ruangan khusus yang dijadikan musholla. Jika kami tak sempat ke masjid di pusat kota, di situ juga digelar shalat Jumat. Dan di banyak tempat di negeri-negeri yang dulu mereka sangat menentang Islam, kini tak kuasa lagi menahan keinginan hati orang-orang yang kembali menemukan cahaya. Hanya butuh waktu dan kesabaran dalam memperbaiki.

Sementara di negeri ini, banyak yang terburu-buru dan suka menghantam sana sini secara ngawur. Setiap pergerakan sibuk diskusi dengan sesamanya mengejeki pergerakan yang lain di majelisnya. Masih sulit membangun kembali majelis syura yang mewadahi kepentingan umat. Di antara faktor yang menyuburkannya adalah rasa paling benar dan paling sholeh sendiri. Padahal kita memang diwajibkan mencari dan meyakini kebenaran dengan seyakin-yakinnya, tetapi mengemas hal yang kita yakini agar juga dapat dirasakan manfaatnya oleh yang lain, bukan jadi alat debat dan saling menghantam satu sama lain.

Semua butuh proses dan penghayatan. Ilmu yang baru sebatas jadi pengetahuan akal maka sejatinya ia masih dangkal. Ia yang sudah meresap di relung hati maka akan memberikan dampak perbaikan yang nyata karena memang memancarkan energi yang sesungguhnya.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Rona Islam di Negeri Matahari Terbit

Obrolan menarik dengan Sensei Sularto pagi ini. 

Kata beliau, Jepang hari ini sudah mulai memprediksi ekonomi masa depan pasca kejatuhan ekonomi Amerika nanti. Mereka berpikir bahwa umat Islam akan menjadi salah satu pemegangnya. Kini mereka mulai menggalakkan pembangunan musholla di bandara dan stasiun. 

Selain itu makanan-makanan berlabel halal juga mulai mudah dijumpai di Jepang. Bahkan di Parlemen mulai diwacanakan adanya waktu istirahat khusus yang sesuai dengan waktu shalat di perusahaan-perusahaan Jepang yang memiliki karyawan muslim. Wow, barangkali inilah hikmah dari ayat Allah, “mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya”.

Nah, umat Islam yang masih suka ribut dan eyel2an soal sistem, ya tinggalkan aja yang suka begituan. Mari yang sudah tahu prioritas, kita tetap fokus dalam kerja-kerja dakwah dan perbaikan yang membawa manfaat. Membagun tenggang rasa dan kemaafan kepada sesama saudara seiman agar terwujud keharmonian. Harmoni, itu kata yang mudah diucapkan tetapi sesungguhnya masih menjadi omong kosong di negeri ini, kecuali mereka yang Allah karuniai sifat lapang dada dan pikiran yang “semeleh”.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Pemuda Islam & Pragmatisme Belajar

Menarik sekali menyimak fenomena pemuda Islam hari ini. Mereka saat ini mengalami perkembangan yang signifikan. Sedikit demi sedikit banyak pemuda Islam yang mulai menemukan kebanggaan agamanya. Mereka tersebar di berbagai harakah Islam sebagai penggerak dan sekaligus juru bicaranya. Ini adalah fenomena positif untuk melihat bahan baku kebangkitan Islam di masa depan.

Namun yang jadi masalah adalah tidak jarang perbedaan mereka membuat mereka juga saling berdebat satu sama lain. Masing-masing membagikan apa yang diyakini dari perjalanan belajar mereka untuk saling mempengaruhi satu sama lain. Apa yang mereka kaji di forum, apa yang mereka baca, dan apa yang diinstruksikan dari guru-guru mereka dalam pergerakan itu adalah faktor yang mempengaruhi pikiran dan pergerakan mereka hari ini.

Terkadang timbul perbedaan yang saling meruncing hingga tak jarang berujung pada perdebatan. Ungkapan yang ku yakini juga bertujuan untuk pengingatan terkadang salah diksi sehingga lebih berkesan mengejek ketimbang menimbulkan efek penyadaran. Yang diejek tidak terima lantas gantian mengejek. Apalagi di bangsa yang baru dibuka kran kebebasanya 1,5 dekade ini, tradisi diskusi dan perbedaan pendapat tentu baru seumur jagung.

Sisi yang coba kukritisi adalah bahwa semangat belajar para pemuda Islam hari in perlu diberi koridor yang lebih mapan. Bahwa kita menyuarakan sisi-sisi penting dari agama ini adalah bagian dari belajar kita. Namun akan jadi naif dan kosong ketika kita melakukan itu secara berapi-api akibat luapan emosi sementara secara kapasitas kita tidak seprogres seruan yang penuh semangat itu.

Dalam benakku terserak rasa gimana gitu melihat cara-cara belajar pemuda hari ini yang menurutku pragmatis. Maka tak heran jika mereka akhirnya menyerukan hal-hal yang pragmatis pula. Jika musim ini mereka mengekspos A, musim itu mengekspos B. Tapi aku tak yakin bahwa di masa muda yang penuh peluang ini banyak yang mau meluangkan waktu untuk mengumpulkan berbagai modal ilmu alat dan wawasan yang memadai, sehingga saat berteriak dan berkiprah mereka memiliki kompetensi yang mumpuni.

Aku tak yakin mereka yang besar di dalam pergerakan kampus sudah banyak yang tersadar untuk mengejar ketertinggalan belajar dari teman-teman yang di ma’had, terutama dalam ilmu-ilmu alat. Karena tanpa itu, bagaimana bisa kita memahami kaidah-kaidah penting dalam agama ini. Apakah kita serius dalam mempelajari bahasa Arab? Apakah kita sudah mempelajari usul fiqh? Apakah kita sudah memiliki prioritas waktu untuk mengejar hal-hal penting seperti  itu?

Aku ingin mengatakan bahwa pertanyaan itu adalah sekaligus untuk diriku sendiri. Aku juga masih belajar, maka dari itu akumerasa bahwa terlalu berapi-apinya kita justru itu menjadi bumerang bagi diri kita dan bagi masa depan Islam ke depan. Sementara musuh-musuh Islam terus merongrong kita, kita lebih sibuk bergelut satu sama lain karena dorongan propaganda, bukan belajar untuk melihat kembali warisan besar para pendahulu kita.

Terpecah-pecahnya umat hari ini adalah keniscayaan. Tetapi larut dalam kefanatikan atau terus menjaga ukhuwah satu sama lain adalah pilihan. Termasuk mau mencari sisi-sisi yang sama atau membesar-besarkan perbedaan itu juga pilihan. Termasuk menghabiskan waktu untuk berpolemik atau diam dan terus bekerja untuk dakwah baik dalam aspek pendidikan, sosial keumatan, hingga politik itu juga pilihan. Termasuk mau jadi komentator yang nyinyir dan menyakiti atau belajar berlapang dada dan tetap berusaha tersenyum dalam menasihati itu juga pilihan. Jadi pilih saja mana yang menurut kita terbaik. Tidak usah memaksa orang untuk mengatakan bahwa apa yang kita pikirkan pasti selalu baik. Emang siapa elo.

Jadi woles aja lah. Kita punya energi besar. Betapa pun bangsa ini di obok-obok dan rusak (kata sebagian rekan-rekan mahasiswa di tabloidnya, sampai pesimis banget kayake mereka), sesungguhnya potensi pemuda tidak akan pernah bisa dikendalikan. Pemuda adalah orang-orang merdeka yang sanggup mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka. Kecuali mereka yang sudah terbiasa menjual diri sejak kecil karena dunia dan kepentingan pribadinya. Mari kita belajar Islam dengan baik, sistematis dan tanpa henti.

Dalam definisiku, baik itu berarti mengedepankan visi yang positif. Sistematis itu mengikuti kaidah belajar para ulama dengan cara mempelajari biografinya, lalu berusaha menirunya semampu kita. Tanpa henti, ya karena hingga 20 tahun ke depan belum tentu kita akan mengkhatamkan untuk memahami Quran dengan tafsirnya. Kita belum ada apa-apanya, tapi semangat dan kecintaan kita semoga menjadikan usaha tertatih-tatih kita ini adalah apa-apa yang menjadi alasan Allah memasukkan kita di kalangan para penuntut ilmu.

Karena persoalan-persoalan keumatan adalah hajat hidup orang banyak, mari kita hati-hati kalo ngomong. Termasuk hubungan interpersonal mari hati-hati ngecap dan nglabeli sesama kita. Selagi orang-orang belum mati, orang yang jahatnya mengerikan sekalipun boleh jadi akan berakhir khusnus khatimah. Wong ki wang sinawang, jadi mari kita tetap optimis dan berpikiran positif. Tetap belajar dan sudi mendengarkan ilmu dari siapa pun, lalu mengolah dan menyeleksi dengan bijak. Tenang, kalem, dan tetap progres.

Kategori
Dakwah Islam

Guru & Keteladanan Hidup

Bersyukur rasanya menjadi orang yang bisa berguru pada banyak orang. Hampir tidak ada hal yang bermasalah saat sejak mulai mengenal Islam terbiasa belajar banyak orang di lintas harakah dan ormas. Mungkin latar belakang dulu lahir dari masyarakat Abangan menjadikan ketiadaan beban saat mulai mengenal Islam untuk belajar, sehingga tidak juga fanatik di satu harakah meskipun pada akhirnya aku melabuhkan pilihan di salah satu harakah Islam.

Di masa belajar yang panjang itu, Allah memudahkanku untuk mengenali hal-hal mendasar tentang guru dan pengajarannya. Hingga kaidah yang sederhana itu bermanfaat hingga hari ini. Ketika Allah membukakan banyak hikmah dari pintu shirah di masa dahulu, maka itu adalah titik yang melegakanku untuk bagaimana aku belajar dan kepada siapa sebaiknya aku percaya untuk menimba ilmu di tengah kehausan bekal hidup saat ini.

Rumus yang terpatri dalam berguru adalah memperhatikan sisi keteladanan dari sang guru tersebut. Tidak mungkin kita akan menemukan sosok yang sempurna dalam segala hal, dalam keilmuan dan kesempurnaan sifat, karena guru kita juga manusia. Namun aku masih percaya, keteladanan yang dicontohkan seorang guru adalah jaminan yang dapat membuat kita bisa menggali banyak ilmu dari beliau. Maka jadi murid itu jangan hanya duduk dan mendengar apa yang beliau katakan, tetapi perhatikan hal lain dari beliau untuk kita mengetahui sekaligus belajar dari adabnya.

Di zaman fitnah seperti saat ini, kaidah tabayyun dan kepercayaan terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita penting untuk dijaga. Di saat berita dapat dengan mudah menyebar lewat kicauan, status, atau pun postingan berita, maka tabayyun dan tetap berpikiran positif itu lebih diperlukan. Toh jika memang akhirnya berita itu benar, setidaknya kita mendapatkan pahala karena menjaga diri dari luapan gosip karena kita berhasil kroscek langsung ke sumber yang terpercaya, bukan dari gosip yang beredar.

Terlebih untuk generasi muda yang hari ini gampang sekali berapi-api dalam belajar. Sekali kenal seseorang seolah-olah ia yang paling benar. Koar-koar tidak karuan, saling serang saling tendang satu sama lain. Tapi mungkin begitulah fenomena anak panah pergerakan yang masih segar dan energinya meluap tanpa batas. Mereka terampil sekali menggunakan dalil ini itu untuk saling menghantam dan berdebat. Bukan apa-apa sih, toh mungkin itu juga dapat materinya dari guru mereka juga. Mereka mengatakan apa yang guru mereka katakan. Aku tak yakin jika referensi belajar mereka luas dan banyak, mereka tidak akan seagresif itu. Yang jadi lucu adalah bukankah ini adalah fenomena pragmatisme beragama yang jauh dari teladan para penuntut ilmu di masa awal generasi terbaik umat ini.

Aku merasa beruntung ketika belajar dan menyimak ilmu dari tokoh-tokoh yang hari ini banyak dipandang ulama di mata masyarakat luas sekaligus dapat melakukan investigasi. Mengapa? Karena kehidupan keluarga mereka adalah cerminan kuat atas gerak dakwah yang mereka usung. Bahwa guru A ini ternyata kaya dan sejak gerakan dakwahnya meluas kekayaannya berlipat dengan rumah baru dan mobil yang bertambah banyak. Atau guru B ini tetap seperti dahulu, rendah hati dan tetap konsisten dengan perkataannya dahulu. Ini penting kawan, kata-kata di depan boleh saja indah, tapi sisi lain hidupnya adalah sumber energi perkataannya. Bukan karena kita ingin mencari aib, tetapi ini bagian penting kita belajar. Toh ketika kita mendapati sisi buruk guru kita, maka tutup mulut dan berlindung dari menyebarkan aib adalah hal yang utama.

Jika kita baru mengenal seorang guru dari forum yang terbatas dan cerita-cerita orang-orang terdekat, maka ya jangan seperti orang yang sangat kenal hingga memuji-muji berlebihan. Jika kita mengenal guru yang berseberangan pendapat dengan kita, maka juga hentikan sikap antipati, apalagi jika sumber pengetahuan kita hanya dari mendengar dan membaca pendapat orang lain tentang beliau. Seringkali kudapati hari ini anak-anak muda yang masih giat belajar agama, tapi jadi mesin propaganda efektif untuk memuji seseorang secara berlebihan atau sebaliknya terlalu antipati terhadap seseorang. Tak ayal, ketika ada dua orang muda berseberangan ujungnya debat dan sangat meruncing. Bukannya berakhir pada titik pencerahan, tetapi kesan yang didapat lebih uji tanding kapasitas untuk eyel-eyelan. Miris sekaligus membosankan.

Bijaksananya, kita tidak bisa menyalahkan bagaimana guru-guru kita mengajari kita. Karena mungkin mereka juga belajar dengan metode tersebut dari guru mereka dahulu. Dan yang bisa kuajakkan untuk saudara-saudariku yang masih muda. Kita ini belum ada apa-apanya. Sementara ilmu yang harus kita pelajari lebih banyak dari waktu yang mungkin tersedia dalam hidup kita. Kita juga mungkin tidak lagi mendapatkan guru-guru hebat sekaliber Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal atau para pendekar agama di masa lalu itu. Hanya hari ini, guru-guru yang selalu menjaga kezuhudan hidupnyalah, sumber-sumber ilmu dan hikmah itu masih tersedia.

Guru itu dipegang dari konsistensi perkataannya dan bukti perbuatannya. Itulah sisi yang berat bagi kita yang mau tidak mau pasti akan menjadi guru, minimal untuk keluarga kita. Sekaligus itu adalah pahala besar bagi siapa pun yang mendedikasikan untuk jalan ini. Yang kupahami dari sejarah para ulama besar, mereka bukanlah orang yang terobsesi sebagai guru dalam arti seperti hari ini. Mereka hanyalah para penuntut ilmu yang giat luar biasa, lalu banyak orang yang ingin menimba ilmu dari mereka. Kira-kira itulah salah satu sisi terpendam dari para guru yang sebenarnya.

Semoga kita dapat belajar dengan lebih tenang sekaligus berguru pada orang-orang yang tersembunyi di balik tipuan mewah peradaban ini. Cari dan temukan guru kehidupan kita, belajarlah dari kesederhanaan dan teladan kehidupannya.

Kategori
Dakwah Islam

Catatan-Catatan di Lingkaran Inspiratifku

Sejak aku mengenal sosok guru yang hebat di masa awal-awal mengenal Islam, maka saat itulah aku terkesan dengan keindahan Islam ini. Bagaimanapun, sebagai generasi muda yang lahir di lingkungan masyarakat Islam abangan, menemukan nur agamanya sendiri bisa jadi serupa dengan orang-orang Barat yang menemukan cahaya Islam. Bedanya mereka dititik frustasi hingga akhirnya tenang dengan memeluk Islam, tapi di negeri ini kita diluruskan cara belajarnya agar mampu ber-Islam dengan lebih baik.

Adalah beliau, Allahyarham KH. Muh. Hussein yang telah wafat di tanggal 26 Januari 2008 silam di usia 80 tahun. Sosok alim yang menjadi Ketua MUI Gunungkidul sekaligus sosok pejuang yang gigih untuk melawan gerakan pemurtadan yang gencar di kawasan selatan kabupaten kami gara-gara Super Mie. Usianya yang telah senja mengantarkanku dan beberapa sahabat seperjuanganku yang dipertemukan di situ untuk belajar menimba ilmu dan menjadi saksi keteladanan beliau. Kami masih beruntung menjadi murid beliau yang terakhir sebagaimana kakak-kakak kami yang mungkin telah tersebar di tempat lainnya tanpa kami kenal mereka semua.

Itulah titik dimana aku mengerti bahwa ber-Islam itu bukanlah sekedar label kebagusan dalam berpenampilan, berlafaz bahasa Arab, tetapi juga memberi bukti atas perjuangan. Kata-kata beliau yang begitu menghujam itu masih terngiang hingga hari ini. Aku sama sekali tidak mengkultuskan beliau, tetapi aku harus mengakui bahwa beliau adalah guru yang paling utama bagiku di antara guru-guru yang pernah kutimba ilmunya dalam hal agama. Dari beliaulah kitab Shirah, Jawahir, Bulughul Maram dan beberapa kitab lainnya bisa kuikuti meskipun ketika itu belum begitu kupahami benar maksudnya.

Maka setelah kepergiannya hari ini, rasanya sulit mendapati guru-guru sekaliber beliau yang bisa kusaksikan konsistensinya dalam amalan dan kebijaksanaannya. Hari ini mungkin banyak orang yang cerdas dalam bicara, tetapi untuk mendapatkan hikmah atas perkataannya nanti dulu. Karena bagaimanapun, kata-kata hikmah seseorang itu tidak bisa menggunakan logika matematika yang berbanding lurus dengan kualitas perkataannya. Hikmah terpancar dari energi ruhyah yang dalam. Dan jika itu tidak ada, maka pastilah tidak ada artinya apa-apa.

Setidaknya aku masih senantiasa memilih bergabung dalam kumpulan orang yang mencintai agama ini. Yang rela belajar dan berjuang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya aku belajar untuk mengerti uniknya dinamika manusia. Dalam mendalami ilmu, mungkin tidak seprogres dulu lagi. Entah bahasa Arabku hari ini, hafalan yang juga sulit bertambah. Tapi aku yakin kesabaran proses ini tetap akan menjadi jalan yang menyejarah bagi hidupku sendiri.

Bergabung di lingkaran inspiratif adalah saat terbaik belajar untuk mengerti dan mengkonsolidasikan pemikiran. Terkadang kita berjumpa dengan sosok yang kaku dan kurang peka. Terkadang kita belajar dari sisi-sisi unik sahabat kita. Dan yang beruntung (mungkin seperti saya ini sangat beruntung) adalah ketika mendapat mentor orang yang mengingatkanku akan memoar ulama yang pernah menjadi guruku. Sosok yang mengedepankan keteladanan dan perkataan hikmah ketimbang pembicaraan berbusa-busa namun kosong dari ruhnya. Tentu saja konteksnya pembahasan dan pembicaraannya berbeda, tetapi ada kesamaan yang terasa, kesejukan karena hikmah di dalamnya.

Di lingkaran paling spesial inilah aku mengerti akan hal-hal yang selama ini jarang disadari. Meneropong sisi lain yang dilupakan oleh komunitas ini. Mendapatkan pencerahan akan keteguhan, kesabaran, dan ketahanan. Fakta-fakta yang selama ini jarang diungkap menjadi kami tahu, semakin memantapkan kami bahwa kami adalah manusia sejati, bukan malaikat, bukan pula iblis. Maka tidak selayaknya manusia mengumpati manusia lainnya seperti melaknat iblis atau memuji manusia lainnya bak malaikat.

Berikut ini adalah pesan-pesan luar biasa beliau,

  • Sibuklah untuk membangun kapasitas diri, maka kalian pasti akan mampu berkontribusi banyak, jangan sibuk mencari status, gelar, atau jabatan karena itu sifatnya sementara, kadang akan datang, lalu pergi.
  • Orang berbuat tergantung poros yang dibangun dalam hidupnya, jika porosnya adalah Iman maka apa pun tindakannya semuanya karena dilandasi iman dan menggapai kebahagiaan akhirat. Namun jika porosnya adalah harta, maka agama pun bisa digadaikan demi mendapatkannya dan semua akan berorientasi dunia
  • Ini adalah jamaah manusia, maka jika ada yang berbuat salah itu jelas sebuah hal yang lumrah, tugas kita adalah mengingatkan dan tidak ikut-ikutan, tetapi bukan juga mencela hingga menyempal dan berpecah belah. Bersikap benci dan cinta berlebihan itu justru membuat ukhuwah itu rusak
  • Aku lebih bangga saat kalian kaya karena usaha mandiri dan bisnis yang halal, bukan saat menjadi wakil rakyat atau pejabat karena itu sangat memalukan dan menyinggung perasaan hati rakyat
  • Komunitas ini akan tetap hidup dan kokoh ketika kita bisa saling menanggung kehidupan lainnya dan jujur dalam bekerja. Dan kita berukhuwah karena iman dan Islam, jika salah satu dari kita menyimpang maka secara otomatis putuslah ikatan kita itu.

Masih banyak lagi catatan-catatan yang kami dapatkan selama beberapa waktu ini. Ini mungkin lingkaran inspiratif yang paling berkesan selama bertahun-tahun ini. Semoga keistiqomahan senantiasa dilimpahkan dihati kami dan beliau untuk tetap mencintai agama ini.

Kategori
Dakwah Islam

Jangan Mengganggu Privasi Orang

Setiap orang memiliki kamar publik dan kamar pribadinya. Maka dalam pergaulan kita, setiap diri diminta untuk mengerti mana yang jadi kamar publik dan mana yang jadi kamar pribadi. Karena ketika kita salah menempatkan akibatnya fatal, baik untuk diri kita maupun orang lain.

Kebiasaan menggunjing (ghibah) adalah salah satu dari aktivitas mengorek kamar pribadi orang. Karakter ini lebih pengecut sih karena tidak berani terang-terangan. Tapi sangat berbahaya karena ghibah itu biasanya salah satu dari bumbu proyek kemunafikan. Dulu, mana berani orang-orang munafik Madinah kasak-kusuk di depan Rasulullah, ya iya lah ga berani. Tapi nama-nama mereka tetap tercatat dan masuk dalam daftar orang tak dishalatkan saat meninggal.

Yang konyol lagi adalah ketika privasi orang diusik atas nama kebijakan atau kepemimpinan. Terkadang dengan adanya status pemimpin dan yang dipimpin, seorang pemimpin nyeleweng dan nggagahi orang-orang yang dipimpinnya. Seolah-olah yang memimpin memiliki otoritas mutlak untuk menentukan nasib orang lain, hingga masalah-masalah pribadinya. Ih, apa urusan lo campuri urusan gue.

Dalam dunia pergaulan hari ini yang sudah dihiasi dengan nuansa feodalistik, seringkali orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi bisa mengacak-acak dunia pribadi seseorang sesuka hatinya. Salahnya adalah yang diacak-acak juga seolah-olah menyerahkan dirinya begitu saja. Dan lebih tidak lucunya adalah banyaknya orang yang suka komentar atas hal-hal yang dilakukan orang lain. Apa urusannya, kok ngoceh sembarangan di muka umum. Bukannya ditujukan langsung kepada orang yang bersangkutan.

Menasihati, mengingatkan, membantu, dan melakukan banyak hal untuk rekan maupun lawan kita seharusnya tidak membuat kita menjadi orang yang larut dalam mencampuri privasi orang. Setiap kita punya ruang pribadi yang tidak memperkenankan orang lain mencampuri, maka jangan sampai terbiasa masuk tanpa izin dan jangan masuk apabila tidak diberi izin. Karena dipastikan Anda akan sangat menyebalkan dan semua hal baik yang Anda usahakan justru akan menjadi bias, salah dipahami oleh sasaran Anda.