Kategori
Misi Perubahan

Cara Aktivis Melepas Rindu

Menjadi bagian dari Aktivis Bakti Nusa adalah sesuatu yang berharga bagiku. Bukan masalah statusnya yang bergengsi, tetapi aku menemukan makna yang sesungguhnya saat kita menyandang gelar sebagai aktivis. Ada value yang ditanamkan kepada kami untuk kami resapi dan kami jadikan pijakan dalam tindakan kami.

Sudah hampir 2 tahun kami dipertemukan dari berbagai fakultas di UNS dan beberapa universitas terbaik di tanah air ini. Kesibukan kami yang berbeda telah membuat kami tidak lagi bisa sering berjumpa seperti setahun yang lalu. Tetapi nuansa kerinduan itu tetap terpatri erat di hati kami.

Hari ini, di hari kelahiran Rasulullah, kami berjanji untuk meluangkan waktu bertemu dan berbagi cerita satu sama lain. Ini adalah kali keduaku berkunjung ke rumah makan yang dulu kami pernah dijamu pak Dani su’ud, salah satu orang penting yang pernah memegang Solopos. Di rumah makan inilah kami kembali bergembira dalam pertemuan yang mungkin sangat sulit dilakukan.

Aku membayangkan betapa luar biasanya di hari depan nanti, ketika generasi-generasi bangsa yang hari ini menjadi bagian dari aksi perubahan itu tetap beristiqamah hingga kami bisa berjumpa lagi dalam keaadan yang berbeda. Aktivis selalu punya cara untuk melepas kerinduan mereka. Bukan dengan pesta pora, tetapi dengan berbagi kisah perjuangan dan saling menyemangati. Kami percaya bahwa oleh-oleh perjalanan terindah di antara sesama kami adalah kisah inspiratif yang saling dibagi.

Perjuangan masing-masing kita adalah monumen yang seyogyanya kita abadikan, lalu kita bagikan untuk sesama kita. Itulah energi yang akan terus menyambung perjalanan kita yang masih dipenuhi rasa idealisme ini. Apakah kita masih bisa menjaga idealisme ini di masa depan? Jawabannya terletak pada seberapa besar kesungguhan kita merawat kebersamaan dan kerinduan kita di jalan perjuangan ini. Jika kita meninggalkannya, maka mungkin jawaban di masa depan sudah diketahui dari sekarang.

Kategori
Refleksi

Jauh Api Dari Panggang

Hari ini aku lagi jengah. Jengah dengan rumusan sebuah sistem. Sistem yang entah berlaku untuk siapa sebenarnya. Katanya sih sistem untuk kaum intelektual. Iya sih, mungkin jika aku jengah, aku kurang intelek, sehingga mual dan alergi mendengar hal itu. Tapi jika satu, dua, tiga sahabat-sahabat lainnya juga turut menyuarakan protes, maka untuk siapa sistem itu sebenarnya.

Sejak awal diperkenalkan, sistem itu sudah janggal dikepalaku. Tapi nafas kejunioranku kala itu membuatku memilih diam. Diam untuk belajar dan mencari kata-kata kunci atas sistem itu. Aku yang memang sebenarnya tidak paham, atau sistem itu sendiri yang membingungkan. Jika sistemnya membingungkan, mengapa diluncurkan. Ah, barangkali pembawa sistemnya yang salah paham. Mungkin begitu.

Sampailah suatu ketika salah satu pembuat sistem itu menjelaskan isinya. Aku paham, dan ketemu kata kuncinya. Ahaa, inilah yang seharusnya. Tidak ada lagi bias dan keraguan atas sistem itu. Sayangnya, paradigma lama tak kunjung berganti dengan yang baru. Maka, sistem ini seperti N250 yang gagal menjadi pesawat nasional. Jika N250 tidak sekalian terbang, yang ini malah disulap jadi bus yang hanya kuat mengangkut orang dalam jumlah terbatas. Kasihan banget pilotnya ya.

Semakin hari, sepertinya aku mulai membaca bahwa feodalisme kembali memasuki dunia perjuangan kami. Entahlah, apakah ini hanya perasaanku. Tetapi setidaknya hari ini aku mendapati banyak ketakutan di kepala banyak orang untuk terbuka. Atau sebenarnya kebingungan karena tak cukup modal untuk menyambut gegar gempita ribuan kode yang semuanya adalah masalah.

Jadilah ini alam para dewa. Khayangan imajinasi yang tidak bisa dimengerti oleh mereka yang terlanjur memilih tidak peduli. Terlebih mereka yang terlanjur sakit hati. Mungkin karena tidak diperhatikan, tidak didengarkan, hingga dituduh macam-macam. Aku pun semakin lama memilih diam. Diam karena harus dengan apa lagi bersuara. Suaraku ada bersama buku-buku, analisa, dan kata-kata kunci para master yang ternyata tak banyak diakses oleh mereka. Ah sudahlah, diam.

Diam saja, dan biarlah semua berjalan ke titik jenuhnya. Barangkali disitulah kesadaran akan datang. Dan tidak bermimpi terus-terusan dalam jebakan ke-GR-an yang amat parah. Ke-GR-an yang membuat kita menutup mata, bahwa orang lain itu hebat dan dapat kita jadikan guru. Yang penting aku tetap senyum, berbagi dan tak pernah merasa sakit hati.

Kategori
Special Moment

Ketika Aktivis, Kopassus, dan Anak-Anak Berbuka Bareng di Tepi Sungai Bengawan Solo

Bagaimana rasanya jika engkau bisa bersama dalam satu lingkaran besar yang di sana ada anak-anak kecil nan lincah, ada orang-orang asing, ada aktivis mahasiswa, dan ada tentara? Tentu ini menjadi momen yang langka untuk terjadi. Bahkan mungkin mengumpulkan mereka untuk hadir dalam sebuah momentum seperti itu adalah hal yang sulit, meskipun bisa dilakukan. Dan hari ini momentum itu terwujud. Berawal dari sebuah sekolah yang sedang dirintis oleh para pejuang di pinggir Sungai Bengawan Solo maka pertemuan sore hari ini menjadi sebuah keniscayaan.

Membangun sebuah sekolah alam yang jelas konsepnya berbeda dengan kebanyakan sekolah yang ada bukanlah pekerjaan yang mudah. Jika orang seringkali mengatakan orang-orang yang berjuang di sana sebagai pelawan arus, ternyata Pak Yudi selaku salah satu pendirinya berkata bahwa mereka bukan penentang arus, karena pasti kalah jika melawan arus yang besar di negeri ini. Mereka hanya mencoba menciptakan arus agar pendidikan negeri ini kembali kepada asas yang digariskan oleh Ki Hajar Dewantara.

Tak hanya cemoohan yang dihadapi, perjuangan untuk membangun kepercayaan masyarakat yang kerap sekali dicederai fitnah dari mulut-mulut orang yang dengki. Bahkan pemerintah pun ikut-ikutan mengganggu dengan sulitnya memperoleh izin pendirian sekolah tersebut. Alasannya klasik, uang. Sekolah-sekolah swasta yang uangnya berjubel mereka dengan mudah mendapatkan izin untuk beroperasi. Tetapi sekolah-sekolah perjuangan semacam ini yang berangkat dari sebuah bentuk survivalitas dan upaya penyelamatan anak-anak yang terlanjur di cap bodoh oleh sekolah-sekolah negeri sehingga ditolak ternyata sulit sekali keluar izinnya.

Tapi Allah maha adil, setiap perjuangan itu akan menunjukkan titik terang. Sekolah ini telah dirintis sejak 2 tahun yang lalu, dan kini tanda-tanda bantuan itu telah datang. Sejak komandan salah satu batalyon Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura mendengar adanya proyek sekolah alam di dekat daerahnya beliau serta merta tertarik dan ingin bertekad untuk membantunya. Pengalaman saat berlatih di Australia dan melihat bagusnya pendidikan mereka di sana membuat sang komandan akhirnya menunjukkan iktikad baik untuk membantu sekolah itu berkembang.

Sekolah Alam Bengawan Solo adalah harapan untuk masa depan Indonesia. Hari ini telah mulai bermunculan banyak sekolah alam di negeri ini. Sebagai jawaban atas sekolah yang menjadikan kelas-kelas sebagai tempat layaknya panci bertekanan, demikian kata Bapa Ranchodas. Komunitas Pintu, Rumah Hebat Indonesia, bahkan kegiatan mahasiswa UNS pun perlahan mulai banyak menyasar untuk membantu perkembangan sekolah tersebut. Bahkan pada pekan ini, ada tiga mahasiswa asing yang ikut program AISEC dari Polandia, China dan Taiwan juga ikut bersama membimbing anak-anak. Meskipun anak-anak tak bisa berbahasa Inggris, dan mereka juga tidak bisa berbahasa Indonesia tetapi keakraban mereka tampak dengan bahasa isyarat.

Suasana buka bersama sore ini menjadi sesuatu banget. Bahkan The New You Institute yang sedang ada agenda di Solo pun ternyata juga ikut hadir. Nuansa yang sangat komplit terasa sekali. Sebuah kebersamaan untuk kepedulian bersama. Siapa lagi yang akan menyelamatkan generasi negeri ini jika bukan orang-orang “gila“ yang berani mengambil pilihan seperti ini. Hari ini optimisme itu terus hadir, bahwa harapan itu masih ada.

Kategori
Dakwah Islam

Daftar Bacaan Wajib Aktivis (Dakwah) Kampus

Berawal dari refleksi terhadap diri sendiri yang bodoh dan melihat realita di lapangan per-dakwah kampus-an yang mengalami dinamikanya. Kiranya ada sebuah sharing yang perlu diungkap untuk menjadi bahan renungan dan tindakan bersama. Direnungkan tanpa tindakan nyata, mumet. Dilakukan tanpa melalui perenungan, ra mutu. Jadi sedikit sharing tentang buku-buku penting yang sebaiknya menjadi makanan para aktivis dakwah kampus hari ini.

Aku tidak tertarik untuk membuat pembedaan tentang aktivis kampus dan aktivis dakwah kampus, selagi KTP, kartu pelajar, atau biodata mereka mencantumkan diri sebagai mahasiswa beragama Islam (dan islamnya ahlus sunnah wal jamaah). Kerena hakikatnya menjadi aktivis mahasiswa (dan dia muslim), seharusnya dia adalah prototipe pemimpin yang bisa mengayomi umat (dalam hal ini tidak hanya kepentingan umat Islam saja, semua umat dalam koridor kebaikan dan kemaslahatan bersama). Jadi jangan bikin dikotomi deh antara aktivis dakwah kampus dan aktivis kampus lainnya jika memang sama-sama satu akidahnya.

Berikut senjata intelektual ruhyah yang seharusnya dimiliki para aktivis kampus, baik dibawa di tasnya, di simpan di rak kosannya (untuk di baca) dan yang di sharingkan ke teman-temannya.

  1. Al-Quranul Karim, jelas banget. Kalau sampai ga punya ini, ga modal buat punya sendiri (yang lengkap ada terjemahannya), ga di baca tiap hari jelas ini masalah berat dan berbahaya di jagad keaktivisan dan dakwah kampus
  2. Hadits Arba’in (jika ingin yang masih merasa berat untuk baca kitab induknya yang lebih tebal seperti shahih Bukhari, Muslim dan imam-imam yang lainnya) dan sharahnya
  3. Shirah Nabawiyah, salah satu yang recommended karya Syaikh Syafiyurrahman al-Mubarakfury. Ini kitab role model dan sebaiknya dikhatamkan sebelum kita membaca biografi-biografi yang lain. Karena jelas sekali kan dalam sudut pandang keyakinan kita, kehidupan Muhammad shallallahu alayhi wa sallam itu kan perfect life, jadi ketika kita mengulas biografi orang lain, framenya distandarkan dengan beliau, bukan malah kebalik-balik
  4. Shirah-shirah sahabat dan para ulama, paling ga Khulafa Rasyidah dan sahabat-sahabat utama yang lainnya, baik putra maupun putri. Mengapa? Jadi aktivis itu kudu punya banyak inspirasi untuk solusi masalah di sekitarnya, luwes dan selalu punya cara terbaik. Bukan kaku dan kurang ilmu.
  5. Buku-buku praktis tentang SOP Ibadah dan Syariah. Sekarang kan udah menjamur dengan judul Sifat ……… Nabi (shalat, puasa, zakat, dll) dan referensinya terpercaya. Apalagi kalau haditsnya sudah ada keterangan dari Syaikh al-Albani-nya deh, udah recommended banget itu. Masak aktivis dakwah kampus standar ibadahnya masih Qiila wa Qaala. Ilmiah dong!
  6. Buku-buku induk sejarah pergerakan Islam. Jika Anda penyuka pergerakan Islam kontemporer, maka luangkan waktu untuk membaca buku-buku induknya. Katakanlah kita tertarik dengan dakwah Ikhwanul Muslimin, ya berarti baca Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin yang dirangkai dari perjalangan dakwah Hasan al-Banna dan didukung tulisan-tulisan orang-orang lain yang meneruskan dakwahnya. Dalami nilainya dan pahami substansinya. Atau tertarik dengan dakwah yang diusung Hizbut Tahrir, ya berarti cari sumber sejarahnya tentang kebangkitan Hizbut Tahrir dan sebagainya. Jadi aktivis tapi cuma makan doktrin cerita senior, jangan harap akan dapat pencerahaan. Salah-salah di tengah jalan akan kau temui kecewa yang bersumber pada kebodohan kita sendiri. Karena berbicara keikutsertaan dakwah dalam sebuah pergerakan Islam itu sebenarnya lebih bagaimana memahami teknis bergerak dan mengimplementasikan dakwah. Asal pemahaman akidahnya benar, pasti kita memilih pergerakan dakwah yang secara garis besar mengusung akidah yang benar (ga mungkin gabung di Syiah dan segala pergerakannya, ga mungkin gabung di Ahmadiyah dan yang sejenis itu).  Jika sudah begitu, sebenarnya kan tinggal fastabiqul khairat kan! Dan pasti kita ga akan kurang kerjaan dengan serang sana-sini, karena sesama pejuang ada etika menasihati yang paling bijak.

Nah, kiranya 6 senjata itu saja sudah banyak. Wah harus beli dong? Ya iyalah, investasi masak ga bisa, bisa browsing, beli buku sendiri, pinjam (tapi nek pinjam harusnya dikembalikan, ga ditilep lama sampai yang dipinjami lupa #ups itu aku).

Masak beli Android aja bisa tiap model baru muncul, nyisihin buat beli buku-buku penting seperti itu justru tidak mampu. Aneh sekali kan kita.

Semoga ini bisa menjadi pengingat bagi diriku, yang dikatakan orang-orang sebagai aktivis di kampus (gara-gara menerima beasiswa akvitis segala sih) dan teman-teman yang disebut aktivis kampus oleh teman-teman sekelasnya lantaran sibuk, setelah kuliah tidak langsung bubuk (tetapi) gedebukan ke sana ke mari ngurus kegiatan yang kadang buk (kurang dana). Semangat untuk semuanya!

Kategori
Dakwah Islam

Dari Hijab Hijau ke Hijab Hati #2

Hijab yang berikutnya adalah benda fisik yang menghalangi pandangan langsung antara ikhwan dan akhwat ketika berinteraksi. Hal ini telah dicontohkan oleh istri-istri nabi sepeninggal beliau ketika hendak berbicara kepada para sahabat yang laki-laki. Jika tadi di singgung hijab berwarna hijau, memang itulah adanya hijab yang ada di masjid kampus kami. Bahkan hingga masjid yang baru telah berdiri, hijab itu akhirnya dikeluarkan lagi untuk merekam jejak syura-syura dan kegiatan aktivis lainnya.

Di sini aku mulai melihat ada banyak hal baru yang menarik. Eksistensi hijab hijau dahulu benar-benar menjadi penghalang terakhir agar interaksi ikhwan dan akhwat tidak macam-macam dan seperlunya saja. Kalau pun terjadi CLH kondisinya hanya seperti arus listrik kejut, bukan aliran listrik PLN yang bisa bebas dan memuaskan. Mengapa? Karena di hijab itulah ikhwan-akhwat terikat untuk bertemu jam sekian-sekian dalam agenda syura membahas berbagai program dan perencanaan dakwah kampus.

Tapi hari ini? Apa yang terjadi, SMS, YM, Facebook, Skype, WhatsApp, bahkan hingga muncul Kakao Talk, mungkin nanti muncul Sirsak Talk, Duren Talk dan sebagaianya telah mengubah eksistensi hijab itu menjadi tidak sesakral dulu lagi. Fenomena ini sangat normal karena kemajuan teknologi di abad 21 ini adalah keniscayaan. Maka dari situ sarana itu menjadi penting untuk dimanfaatkan dalam rangka mendukung kelancaran aktivitas dakwah.

Masalahnya adalah meskipun syuranya terhalang hijab hijau, tapi ternyata bertemu lagi diamanah lembaga publik yang ketika rapat tidak lagi pakai hijab. Jika ketika di dalam suasana hijab panggilannya lembut, “Akhi …. atau Ukhti …..“, ternyata diforum publik jadi lebih heboh sedikit. Hal ini karena tuntutan dakwah yang dulu hanya di Rohis-rohisnya saja kini harus diekspansi ke banyak aspek di lingkungan mahasiswa.

Nah, jadinya karena didukung oleh komunikasi pesan singkat dan sangat rahasia tadi, maka eksistensi hijab yang menjadi benteng pertahanan komunikasi agar saling terjaga mengalami distorsi. Apa yang ada dibalik pesan singkat sesama para aktivis dakwah terkadang menjadi tanda tanya ketika terkadang diketahui ada CLH yang naik level. CLH tadi adalah kewajaran, karena ikhwan itu sangat suka mendengar suara akhwat (ga usah munafik lah), begitu pun akhwat juga akan merasa …….. ketika mendengar kobar kekagagahan para ikhwan. Cieeee

Eksistensi di FB, dan berbagai sarana komunikasi yang menyediakan jalur singkat, cepat dan rahasia inilah kemudian menumbuhkan berbagai dampak yang terkadang dipandang merugikan kepentingan dakwah. Tak ada yang tahu ketika dua insan berbeda jenis memadu kata dan merangkai bahasa melalui jalur-jalur super cepat tadi. Dan terkadang terbukti bahwa dampak dari pesan-pesan rahasia itu pun berbuah pada rahasia baru yang pasti Allah buka di waktu yang tepat. Maka ketika hal itu tidak dikelola dengan baik, salah-salah sebenarnya ada aktivitas yang serupa dengan saudara-saudara kita yang lagi asyik berduaan di taman, bedanya mereka dalam alam nyata, kita dalam pesan yang terimajinasikan. Naudzubillahi min dzalik.

Maka dari sinilah kemudian perlu direvitalisasi lagi pengertian hijab sebagai penghalang secara mutlak. Karena hijab fisik sudah bukan hal yang sepenuhnya relevan dengan iklim kehidupan hari ini, maka sesungguhnya hijab dalam konteks ini kembali kepada asalnya yakni hijab hati. Hijab hatilah yang memungkinkan semua pesan rahasia-rahasia itu tidak berbicara apa-apa selain apa yang dulu juga diungkap dalam hijab-hijab hijau yang berdiri megah ditengah ruang mungil.

Maka ketika ada kampus yang memberlakukan jam malam agar segala interaksi berhenti pada jam sekian-sekian, apakah hal itu sebagai konsensus bersama atau sebagai bentuk pelestarian budaya saja? Ini sebenernya penting loh untuk dibahas sebelum membuat keputusan. Maka tak heran ketika keputusan ini diterbitkan, ternyata pelanggarnya sangat banyak (loh kok begitu). Yang nulis ini termasuk yang tidak begitu terpengaruh dengan ada tidaknya jam itu. Karena pesan singkat dan rahasia dapat keluar dari diri ini kapan saja, meskipun tak berharap banyak dijawab ketika jam malam berlaku. Dan ternyata seringnya bersambut jawaban, aha ternyata sama-sama ga jelas deh.

Ah, semua itu sebenarnya sebuah cultural shock untuk para aktivis dakwah kampus hari ini apakah mereka masih bisa memaknai eksistensi hijab di dalam transformasi waktu dan sarana yang sudah tidak seperti dulu lagi. Maka hal yang tetap hari ini adalah HIJAB, dan yang mengikuti zamannya adalah MEKANISME-nya. Jika hijab hijau itu masih bertahan di kampus, maka itu adalah hal yang harus kita syukuri. Tapi apakah itu menjamin tanpa sebuah hijab hati yang kuat dan lebih kokoh dari pada hijaunya? Tidak sama sekali.

Maka sering kudapati cerita baik tak sengaja memergoki atau mendengar curhatan dari orang lain, ternyata seringkali jalur singkat dan rahasia itu jalan pintas untuk melakukan pintasan yang tidak seharusnya dipintas. Merangkai kata-kata indah, memadu visi hidup, hingga membuat janji dalam rentang yang terlalu panjang dan komitmen yang belum teruji ternyata sering membuahkan banyak kekecewaan.

Pertama, CLH itu adalah hal wajar yang kapan pun bisa terjadi. Setiap syura, bahkan getaran CLH itu terus terulang. Namun bisa jadi getaran-getaran itu dilanjuti dengan berbagai hal yang tidak dimulai dari niatan yang sungguh-sungguh. Kasihan dong yang akhwat, karena ketika pesan-pesan singkat yang berawal indah itu ternyata hanya sebuah percobaan dari para kaum adam dalam komunikasi yang tak kunjung diklarifikasi tapi terlanjur dipahami lain oleh yang di seberang sana. Kekecewaan yang lainnya tumbuh akibat ketidakcepatan pemahaman pola pikir akan tak terbatasnya ruang komunikasi hari ini membuat sebagian lain terburu-buru memberikan stempel mereka yang banyak berdiskusi dengan lawan jenisnya sebagai VMJ, padahal yang didiskusikan adalah hal-hal biasa yang menjadi kultur komunikasi hari ini.

Ah, aku mungkin hanya membual. Tapi hari ini banyak sekali jurang-jurang formalitas dan kejaiman yang sering muncul yang terkadang sebagian orang yang tidak suka dengan system yang indah ini  menyebutnya dengan praktik kemunafikan. Tapi inilah adanya kami, berbicara dalam sebuah batas yang kami sadari masing-masing. Mungkin sarana hari ini telah banyak berubah, tapi jika kita bisa menjaga HIJAB HATI itu, maka bagaimana pun bentuk komunikasinya, tidak akan pernah ada masalah.

SMS-an dan berbagai hal yang sifatnya jalur singkat rahasia hari ini adalah tanggung jawab masing-masing. Tak sebaiknya kita banyak menebak dan mengurusi urusan saudara/i selama kita tidak pernah mampu melacaknya. Dan kalaupun kita melacaknya, nyata kita seperti orang yang kurang kerjaan saja. Tiada yang tahu setiap pembicaraan rahasia itu, kecuali 2 insan yang berjalin itu dan Allah sebagai saksinya.

Aku takut hal ini pun gagal kujaga sampai ketika tiba saatnya diri ini menyempurnakan separuh agama. Tapi semoga kesadaran yang telah tumbuh ini tak membuatku mudah jatuh saat melihat senyum manis dan kata yang lembut di seberang sana. Baik yang terdengar maupun yang terlihat. Karena ketika diri memang belum berniat, maka yang diperoleh di hari-hari interaksi itu adalah nikmat sekaligus ujian. Jika memang telah berkeinginan, maka senyum pun bisa memanggil untuk kita meresmikan ketertarikan dua hati itu.

Di sudut mata ini memandang, maka tak ada yang perlu disalahkan ketika mata ini terlanjur memandang. Salahkan diri jika pandangan mata ini tak dikelola dan dinasihati oleh hati. Ini era baru, zaman yang tidak lagi dibatasi oleh hijab hijau meskipun kehadirannya tetap penting dalam menemani aktivitas dakwah kampus hari ini. Dan hijab hati itulah yang akan menjaga jiwa-jiwa muda itu agar bisa merasakan keindahan di masa Ali-Fathimah, Abu Dzar saat melamar ditemani Salman al-Farisi, atau dalam skema-skema cinta yang indah lainnya.

Tak ada yang keliru dengan ketertarikan ini, karena itu hadiah terindah Allah untuk masing-masing diri kita. Tapi hendaknya kita berusaha waspada dan membuat keputusan yang tepat untuk setiap ketertarikan itu.

Kategori
Dakwah Islam

Dari Hijab Hijau ke Hijab Hati #1

Dulu ketika pembekalan materi kader dakwah kampus (baca tasqif), salah satu moderator yang keren membuka dengan foto sebuah papan panjang berwarna hijau. Ya itu adalah hijab atau penghalang bagi para aktivis dakwah waktu syura agar tidak saling berpandangan. Di kampus yang katanya banyak orang menyebutnya dengan Universitas Negeri Syariah  ini budaya aktivis dalam syura adalah menjaga agar interaksi lawan jenis dalam berbagai aktivitas bersama tidak banyak bersinggungan secara langsung.

Kami pun tertawa dengan foto yang beliau tunjukkan tersebut. Kemudian beliau berkata, inilah saksi bisu aktivitas para aktivis dakwah kampus. Di hijab inilah terekam berbagai cerita lika-liku para aktivis dakwah dari zaman baheula hingga zaman ini. Bahkan terekam juga cinta lintas hijab (CLH) yang bersenandung dihati para ikhwan-akhwat yang tengah bergelora. Aku makin tertawa dengan bahasa beliau ini. CLH? Ha ha ha, ini pasti banyak membuat kami tersipu.

Hijab, kata ustadz Wikipedia artinya (bahasa Arab: ???? ?ij?b) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata “hijab” lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim (lihat jilbab). Namun dalam keilmuan Islam, hijab lebih tepat merujuk kepada tatacara berpakaian yang pantas sesuai dengan tuntunan agama.

Dalam konteks ini, hijab yang dimaksud adalah penghalang yang membuat aktivis ikhwan dan akhwat tidak bisa saling pandang secara langsung dan aktivitasnya melalui pembicaraan saja ketika sedang syura (rapat) atau kegiatan yang lain yang posisinya saling berdampingan. Dengan hijab ini diharapkan, para ikhwan yang secara normal ingin sering melihat lawan jenisnya terhalang oleh warna hijau (atau warna lainnya saja). Begitu pula yang akhwat yang suka GR kalo ditoleh ikhwan menjadi tidak GJ karena tidak ada yang memperhatikan mereka. Masak sih?

Maaf empat paragraf pertama ini terkesan kacau dan tidak jelas. Tapi mungkin paragraf selanjutnya lebih kacau dan tidak jelas lagi. Maklum, masih butuh belajar untuk menulis yang baik dan berisi. Tapi setidaknya di sisa-sisa paragraf nanti aku ingin berbagi tentang fenomena hijab yang melingkupi aktivis dakwah kampus.

Dalam konteks pertama, hijab yang bermakna jilbab bagi wanita hari ini telah menjadi trend yang berkembang di tanah air. Khususnya di kampusku, meskipun kampus negeri sepertinya untuk para wanita muslim, mengenakan jilbab itu adalah hal yang niscaya setelah mereka melihat lingkungan mereka bak lautan para jilbaber. Yang dulunya masih mengizinkan para lelaki menikmati keindahan rambutnya, kini mereka menutupinya dengan penutup sesuai niatnya. Ada yang funky, ada yang memang syari, tapi setidaknya kami tidak bisa melihat lagi bentuk rambut definitifnya.

Karena telah menjadi trend, sampai-sampai model jilbab akhwat itu menjadi indikator keakhwatan seseorang. Style jilbab besar dengan rok panjang yang berlapis celana di dalamnya dan kaos kaki menjadi indikator bahwa sang akhwat (wanita muslim) telah memilih jalan menutup dirinya dengan cara yang syari sesuai dengan perintah Rasulullah kepada para wanita muslim.

Tapi apakah benar penampilan itu menjadi indikator yang sesungguhnya? Tunggu dulu. Meskipun standar ini adalah standar yang pasti dipakai sebagai gerbang terdepan para ikhwan (laki-laki muslim) menentukan pilihannya, tapi sebenarnya ini tidak dapat menjadi jaminan. Mengapa? Karena arus trend hari ini cenderung mengaburkan dan membingungkan para ikhwan untuk mencari mana yang “akhwat“ sesungguhnya. Maka disini pertolongan Allah benar-benar diperlukan agar proses pencarian itu berujung pada pilihan yang tepat.

Yang jelas, para wanita muslim yang telah memilih style itu, harus kita husnudzani bahwa dia telah bertekad kuat untuk mengubah gaya hidup pribadinya dalam sisi yang lain juga. Bukan hanya agar tampak menarik bagi para ikhwan. Biasalah, logika pasar itu berlaku di sini. Para ikhwan yang telah terwarnai dalam lingkungan dakwah kampus ya cenderung untuk memilih akhwat yang stylenya seperti dirinya dari pada yang tidak memakai hijab.

Masalah pembahasan jilbab untuk para wanita muslim sampai di sini saja ya. Intinya penampilan luar itu semoga bisa menjadi motivasi bagi perubahan penampilan dalamnya. Begitu pun bagi yang ikhwan, yang dulu masih GJ-GJ, setelah terlibat dalam dakwah kampus akhirnya menjadi Great Jundi (para pasukan yang kokoh). Mari kita lanjutkan dengan hijab yang kedua.

bersambung ….

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #7

Deklarasi Aksi Cinta Budaya Indonesia dan Inspirasi Besar Pak Indrawan Yepe

Inilah hari terakhir dari Rangkaian Temu Nasional Negarawan Muda Belajar Merawat Indonesia, Selasa 30 April 2013. Acara epilog temu nasional kali ini digelar di depan Taman Sriwedari kota Surakarta. Kami mengundang Pak Indrawan Yepe selaku representasi budayawan yang berjiwa aktivis beserta komunitas PINTU.

Peserta pun berangkat dari Tawang Mangu, meskipun sempat mengalami keterlambatan, karena di sana ternyata diadakan seremonial penutupan yang berakibat pada terlambatnya kedatangan peserta di lokasi. Ditargetkan datang jam 9.00 WIB ternyata peserta baru sampai pada pukul 10.00 WIB. Meski demikian hal ini tak mengurangi semangat Pak Indrawan Yepe untuk memulai wejangan inspiratifnya bagi para Negarawan Muda.

Beberapa poin yang saya petik dari orasinya yang luar biasa adalah tentang kemandirian seorang pemuda, yakni agar kita para mahasiswa bekerja keras agar tidak menjadi bagian dari pengangguran terdidik berikutnya. Selanjutnya adalah pentingnya untuk berkiprah nyata di masyarakat dalam berbagai aksi social yang konkret, bukan hanya demonstrasi dan berbagai kegiatan seremonial. Aksi social pengentasan kemiskinan tak hanya cukup dengan pemberian bantuan, tetapi mendongkrak mental masyarakat agar tidak bermental miskin dan lemah.

Ketika beliau berbicara tentang budaya, beliau menampilkan sebuah wejangan yang sangat fundamental. Aku termasuk yang terkejut dengan apa yang beliau sampaikan, yakni pentingnya generasi muda merekonstruksi cara pandang budaya agar kembali pada kedudukan semestinya. Saat ini kita terjajah dalam konteks budaya yang terlanjur sesat oleh kepentingan. Seperti bagaimana penggunaan kata Kyai yang seharusnya dia menampilkan sosok yang arif bijaksana ternyata saat ini bisa menjelma menjadi nama pusaka bahkan kerbau. Hal ini tentu bentuk destruksi kebudayaan yang membuat bangsa kita tidak bisa memaknai nilai-nilai budayanya sendiri. Dan beliau menutup orasinya dengan sebuah pesan yang tegas agar para negarawan muda berjanji untuk memberikan dedikasinya bagi bangsa dan negara.

Usai orasi dari pak Indrawan Yepe, sang gitaris yang pernah menyabet 3 rekor MURI, Muhammad Pradipta Bagaskara pun tampil memukau dengan komposisi yang dia buat sendiri, sebuah alunan gitar yang luar biasa dalam menaikkan semangat bagi para pendengarnya, jauh dari kesan rock yang hura-hura namun enerjik dan memberikan sebuah kucuran semangat untuk bergerak.

Di sela-sela itulah akhirnya Anggel Dwi Satria, sang ketua panitia memulai deklarasinya. Teks yang kami susun tadi malam akhirnya dikumandangkan bersama-sama dengan lantang dan penuh semangat. Yah, kami adalah bagian dari negarawan muda Indonesia yang memiliki tanggung jawab untuk berkiprah pada negeri ini, sekarang dan nanti. Aku menyaksikan bagaimana semangatnya teman-teman melantunkan ikrar tersebut.

Dan dengan sigap usai deklarasi itu, para peserta segera menandatangani sebuah spanduk yang telah kami siapkan dengan tajuk Aksi Cinta Budaya Indonesia. Puluhan tanda tangan memenuhi MMT tersebut. Aku menyaksikan dengan penuh takjub, diiringi komposisi Dipta yang keren. Semua terasa indah menjadi penutup acara temu nasional yang telah berlangsung sejak hari jumat itu.

Para wartawan sibuk meliput dan mewawancarai kami. Entah ini akan menjadi berita seperti apa, tapi hari ini aku dan kawan-kawan merasa bersyukur atas kelancaran acara temu nasional ini. Delapan panitia dengan 2 panitia tambahan mampu menghandel acara yang melibatkan 80-an peserta selama 5 hari dengan biaya hampri 180 juta itu adalah pengalaman pertamaku. Akhirnya aku punya sejarah indah untuk hidupku. Terima kasih Bakti Nusa atas kesempatan emas yang diberikan ini.

 Perpisahan yang Ceria

Meski beberapa peserta telah pulang di waktu sebelumnya. Tapi inilah momentum yang paling berat bagi kami selaku tuan rumah. Namun menatap wajah teman-teman yang tampak puas dan terinspirasi dari agenda 5 hari ini menjadikan ku bersyukur dan gembira. Yah, itu artinya temu nasional di Solo cukup berhasil. Terlebih ketika mas Fachri memberikan apresiasi kepada kinerja kami yang dinilai kompak oleh beliau. The great and Inspiring Team, demikian kata beliau. Terima kasih mas Fachri, mas Edi, mas Arief, dan mbak Rizka. Kalian semua luar biasa.

Dan akhirnya kami berpisah di halaman masjid Agung kota Surakarta menuju stasiun dan terminal untuk mereka melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman dan kampus mereka masing-masing. Selamat jalan kawan-kawanku, semoga kita bisa berjumpa lagi di kesempatan yang lebih baik.

Kategori
Dakwah Islam

Inspirasi Sang Murabbi : Realita Hidup #1

Tidak seperti biasanya, liqo tadi malam tidak mengkaji materi-materi yang telah diberikan kepada kami, tapi guru kami lebih mengajak kami diskusi berbagai hal yang nyata tentang realita hidup hari ini. Apa pun warnanya, liqo tetap menjadi sesuatu yang kurindukan. Apalagi jika saat ini Allah mempertemukanku dengan murabbi yang sangat senior. Ibarat benang terputus setelah lama dirajut oleh sang ulama di tanah kelahiran, kini benang itu ditegakkan dan dirajut kembali.

Pembahasan malam ini lebih banyak diisi dengan pengalaman dan jejak hidup yang telah dilakukan sang murabbi. It’s the real story. Bagiku sharing pengalaman seperti ini sangat mahal harganya hari ini. Mengapa? Karena hari ini mungkin orang-orang yang merupakan best practicer tidak sebanyak dahulu. Sama-sama cerita hal yang baik, tapi jika yang diceritakan adalah pengalaman panjang yang pernah dijalani akan berbeda ruhnya ketika kita hanya menceritakan pengalaman orang lain. Jadi inspirasi pertamanya, ketika kita baru awal-awal jadi aktivis, jangan terlalu berapi-api, wong kita juga belum punya pengalaman berarti, lebih baik jadi teladan untuk komitmen pada hal-hal kecil dan mendasar dahulu sebelum bicara yang makro dan besar-besar.

Kemudian topik yang dibahas lagi-lagi adalah masalah persiapan hidup. Baca : masalah #nikah #amanah #maisyah. Itu adalah bahasan seru yang sudah pasti mengalihkan dunia (baik dunia mimpi teman-teman sehalaqoh yang awalnya tidak tahan dengan kantuk) menjadi ger-geran dan penuh tawa. Tentang nikah sudah pasti ini sangat seru, sharing pengalaman beliau yang sudah lebih dari dua dekade mengurusi mutarabbi tentu sangat menarik dan banyak cerita yang beliau sampaikan. Yang aku garis bawahi adalah butuh kejujuran dalam pernikahan, kejujuran dalam proses, kejujuran dalam belajar, dan kejujuran dalam berjuang.

Kisah dua orang aktivis yang menikah tapi sampai dua bulan katanya tidak mengalami “kemesraan” seperti bayangan kebanyakan orang menjadi hiburan tersendiri bagi kami tadi malam. Menurut MR-q semua gara-gara keduanya masih buku minded. Yang akhwat bayangannya masih memimpikan sosok ideal, sepertiga malamnya dibangunkan oleh yang suaminya dan diperciki air. Yang ikhwan membayangkan sosok istri yang selalu siap berjuang di sini, dan selalu menyiapkan keperluan pribadinya dengan baik. Sama-sama terlalu bermimpi tinggi, yang ada malah hubungan keduanya tak kunjung terjalin dengan mesra. Akhirnya waktu datang bersilaturahim ke rumah beliau, beliau “mengerjai” mereka untuk melakukan hal-hal yang selama ini membuat hubungan kemesraan keduanya tak terjadi. Beginilah pemuda, memang harus banyak belajar dan bersilaturahim kepada pasangan-pasangan usia keemasan. #Jadi mikir jangan-jangan besok aku juga krik2 gitu ya dengan istri.

……bersambung

Kategori
Pendidikan

Aktivis Apolitis?

Ceritanya ini berawal dari kekagumanku pada tokoh-tokoh bangsa ini yang telah membuktikan perjuangan mereka di masa lalu. Sebut saja mereka, Soekarno, Moh. Hatta, H. Agus Salim, Moh. Natsir, Hamka, Jend. Soedirman, Sutan Sjahrir, Moh. Roem, bahkan Tan Malaka dll. Atau yang lebih awal lagi seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, dll. Mereka adalah cendikia bangsa ini yang sangat mengagumkan. Warisan pemikirannya hari ini kerap kali dikejar oleh para pengagumnya. Bagaimana dengan aktivis kampus hari ini?

Pelbagai tawaran yang menggiurkan dalam dunia pergerakan kampus hari ini luar biasa. Aneka gerakan ditawarkan dari mulai yang sangat kiri hingga yang sangat kanan. Okelah semua punya alasan dan sah-sah saja memburu kader-kadernya di dalam kampus. Karena memang sewajarnya begitu, kampus itu ladang pengkaderan masing-masing pergerakan. Hanya saja, yang sering membuatku tersenyum adalah apakah pengkaderan pergerakan-pergerakan hari ini telah sampai pada pertimbangan mendasar tentang akar sejarah masyarakat Indonesia. Atau jangan-jangan hanya sebuah pelibatan teknis yang sifatnya perjanjian saja (baca : baiat) tanpa penumbuhan alasan bersama mengapa harus bergerak untuk menyelamatkan bangsa ini.

Dahulu, mahasiswa itu adalah kaum yang tertarik untuk membicarakan kepemimpinan. Muaranya adalah tentang sikap kenegarawanan. Hari ini, boro-boro bicara masalah sikap kenegarawanan, membicarakan kepemimpinan saja sudah bersyukurnya minta ampun. Bagaimana realita kepemimpinan itu, jika kita mau jujur, ya kepemimpinan itu pastilah tentang politik. Politik itu adalah ruang pembicaraan nyata tentang bagaimana kepemimpinan bangsa ini diimplementasikan.

Yang terjadi kemudian, kepemimpinan politik itu hari ini dipandang sebagai obsesi gerakan, tanpa sebuah upaya sinergi (karena memang sampai sekarang aku melihat gerakan-gerakan ini belum memiliki visi bersama yang menyatukan). Sehingga ruang belajar di kampus itu tidak lebih sebagai gagah-gagahan untuk saling berebut kekuasaan. Kadang-kadang yang tua-tua bukannya mengarahkan agar proses persaingan itu semakin sehat, tapi malah ikut-ikutan bikin tambah runyam urusannya.

Di kalangan mahasiswa yang ghirah aktivisnya rendah dan sense kepemimpinannya masih rendah, realita di atas membuat mereka semakin malas dan apatis bicara tentang kepemimpinan. Sehingga ujung-ujungnya muncul istilah gerakan anti politik (masak iya negeri ini tidak butuh sistem politik), atau politik itu kotor dan busuk (perasaan kata politik itu netral deh, yang membuat busuk atau baik kan para pelakunya), atau kemudian ada istilah aneh-aneh yang lain yang intinya berujung pada prototipe aktivis apolitis. Jadi aktivis tapi tidak mengakui realita politik.

Yang parah kemudian melahirkan sekulerisme kepemimpinan. Istilah, jangan bawa-bawa agama kalo lagi bicara politik atau sebaliknya kemudian ngetrend dan diamini oleh banyak orang. Celakanya yang banyak terjebak di sini adalah umat Islam sendiri. Ini lebih konyol dan sangat luar biasa lucunya. Terlihat sekali bagaimana pembicaraan sejarah mereka terputus pada pengaguman sejarah yang tidak diikuti dengan spirit perjuangan mewujudkan kepemimpinan yang pernah hilang. Mungkinkah kepemimpinan itu tiba-tiba datang dari langit tanpa ada penyiapan yang nyata dari umat Islam itu sendiri?

Bukankah ketika kekuasaan itu ada, umat Islam bisa merealisasikan banyak kebaikan dan membuktikan bahwa mereka mampu menjaga payung perdamaian dunia. Berabad-abad lamanya kita pernah membuktikan itu. Bahkan di mata umat non-muslim itu, kekuasaan Islam telah membuktikan perlindungannya. Yang membangun opini buruk sebenarnya adalah pemimpin lama yang dikalahkan, itu wajar dan biasa dalam dunia politik di mana untuk memimpin sebuah masyarakat itu sering terjadi pertarungan untuk pengaruh dan kekuasaan.

Realita kepemimpinan di tataran tertinggi memang akan selalu ada badai, bunuh membunuh pun bahkan bisa saja dilakukan. Tapi memahami pentingya kepemimpinan sebagai amanah mulia dan kehormatan melayani umat sebaiknya senantiasa dipegang. Sehingga persaingan dalam berebut kekuasaan itu bukanlah berhenti untuk menyejahterakan kelompok, golongan, atau jamaahnya saja. Tetapi berhasil membangun sinergi bersama untuk memberikan kemaslahatan bagi umat karena itu amanah mulia dan sebuah kehormatan untuk melayani.

Tentu saja bagi saudara-saudara aktivis muslim, hanya ada satu konteks yang sangat mungkin untuk mengurangi perbedaan pandangan yang kian kentara dari hari ini. Kembali pada sejarah kita, di mana saat Rasulullah melakukan pencerahan dengan risalah Islam yang dibawanya dan menebarkan kedamaian di seluruh dunia. Dari situ kita punya PR besar untuk mengembalikan opini dunia, bahwa Islam itu bukan agama perang seperti yang sering dipersepsikan oleh rival-rivalnya, tetapi Islam itu adalah agama keselamatan.

Kita berharap bahwa saudara-saudara muslim kita adalah orang-orang yang mau bertanggung jawab untuk menjaga keyakinan ini dengan teguh. Mengutamakan perdamaian dalam jalinan persahabatan dengan para pemeluk agama yang lainnya dalam bingkai kemuliaan akhlak. Karena dunia yang damai itu lebih menjamin ketenteraman kita untuk berbuat kebaikan. Ada pun dibelahan lain yang tengah bergejolak, terkadang kita harus membuka kembali lembaran sejarah, bahwa Rasulullah pun pernah mengisyaratkan bahwa tidak akan pernah ada perdamaian sejati atas bumi Palestina, sehingga kaum Yahudi penjajah itu pergi.

Umat Islam hari ini mengalami kemunduran, karena lemahnya ruh jihad dan keinginan belajar umat yang sudah tidak lagi sejalan seperti para pendahulunya. Akibatnya pertolongan Allah jauh, dan seperti biasanya, kemenangan akan dipergilirkan untuk umat yang lain sampai Allah melihat ada usaha keras dari kaum muslimin sehingga kelak dimenangkan kembali. Jadi masih inginkah kita menjadi aktivis kampus yang apolitis?

Kategori
Misi Perubahan

Serba-Serbi Seleksi Baktinusa III UNS

Kepyoh

Hari ini adalah kali pertama bagi kami menjadi senior untuk adik-adik kami dalam seleksi beasiswa aktivis nusantara yang diadakan oleh Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa. Setelah malamnya wayangan di masjid kampus untuk nge-reyen masjid baru yang megah dengan hotspotnya yang sangat kenceng, pagi ini aku harus siap-siap untuk memasang berbagai atribut seleksi dan menata tempat. Karena pagi ini yang konfirmasi bisa datang pagi hanya aku dan seorang teman cowok, jadilah kami pasukan perintis bersama fasilitator kami.

Ketika aku sampai di lokasi, ternyata pihak Beastudi juga sudah datang. Waduh, berat nih, malu sama mas Edi dan mas Romi dong. Tak mengapa lah, setelah disambut, mereka kami persilahkan duduk di ruangan khusus sampai persiapan kami selesai. Alhamdulillah akhirnya persiapan berjalan dengan baik dan tepat jam 8.00 acara dimulai dengan ditandai hadirnya kepala biro administrasi kemahasiswaan. Alhamdulillah beliau bersedia hadir untuk memberikan sambutan dan beramah tamah dengan pihak DD.

Acara cukup meriah, karena dihadiri hampir semua peserta yang lolos final di seleksi tahap kedua. Mereka rela datang meskipun pada akhirnya. Celakanya aku dengan PD-nya memakai sendal jepit. Dan sudah dapat dipastikan mas Romi menegurku. Memang salah, mau dikata apa. Segera meluncur pulang, dan mengganti alas kaki dengan sepatu.

Seleksi itu Ekspresi Kejujuran

Setelah pembukaan selesai, acara langsung dilanjutkan dengan FGD yang diarahkan langsung oleh mas Romi dan mas Krisna, fasilitator kami. Separuh peserta yang datang kemudian pulang, karena jadwal seleksi mereka adalah esok hari. Kurang lebih hampir 1,5 jam berlangsung. Para peserta beradu argumentasi untuk menanggapi sebuah persoalan yang digelontorkan. Aku tidak mengikuti, karena jobku seperti biasa, menjadi pembantu umum membuatku harus mobilisasi di luar.

Usai FGD, semua peserta menunggu untuk dipanggil satu-satu memasuki ruangan tadi dan di“interogasi“ tentang esai dan visi hidupnya. Aku masih ingat bagaimana tahun lalu aku harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan serius dari dua orang penyeleksi dan satu fasilitator tentang esai yang kutulis dan visi hidup yang kubuat. Aku mendapatkan sebuah masukan baru dalam hidupku ketika mempresentasikan visi hidup itu. Hingga akhirnya aku berpikir, bahwa mekanisme seleksi beasiswa semacam ini penting sebenarnya untuk dilakukan di universitas karena akan mampu memberikan warna baru.

Dalam keberjalanan seleksi itu aku dikejutkan dengan suatu hal yang menurutku tidak pantas dilakukan oleh calon penerima beasiswa aktivis. Konfirmasi yang ditujukan kepadaku membuatku harus melakukan klarifikasi yang benar atas permasalahan yang sebenarnya. Singkat cerita, aku kecewa dengan apa yang telah terjadi. Sebuah ketidakjujuran yang menurutku lebih disebabkan oleh sebuah ambisi. Aku begitu ngeri jika flashback dengan kenyataan yang pernah terjadi atas fenomena yang terjadi hari ini. Sangkaku yang cukup lama sering mengusik ketenangan batinku terjawab sudah hari ini. Oke dah, good bye. Allah maha membuka.

Sahabat, seringkali kita berpikir untuk menunjukkan yang baik-baik di hadapan orang, padahal kenyataannya kita tak sebaik apa yang kita tunjukkan. Buat apa sih? Bukankah itu sesuatu yang lebih dekat pada kemunafikan. Ketika Allah membuka itu semua, jelaslah semua dan pasti itu lebih membuat ktia merugi. Aku pun merinding mengingat hal itu. Allah maha baik, karena Dia masih menjaga aib kita dan memberi kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan mengganti kesalahan atau aib itu dengan hal lain yang lebih mulia.

Aku sadar bahwa saat ini Allah masih memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki kesalahanku. Sebelum tabir itu dibuka, maka aku harus berhasil membuat bukti perubahan. Seperti spirit yang kuangkat dalam setiap perjuanganku. Yah, perubahan yang sebenarnya atas diriku sendiri jauh lebih utama sebelum memberikan efek perubahan pada sekitarnya. Allah tolonglah hamba agar bisa berubah menjadi lebih baik. Dan anugerahkan nikmat terbesar-Mu, nikmat bisa bersyukur atas apa yang akan Kau berikan kemarin, hari ini dan nanti.