Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Epilog

Bagaimana pun, kami hanyalah tamu yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di tanah seberang, tanah Berau, Kalimantan Timur. Sebuah tanah yang merupakan karunia Allah bagi Indonesia dengan banyaknya hutan dan tambang batu bara, serta pemilik keindahan alam bawah laut yang sangat tersohor di dunia, kepulauan Derawan. Maka selama-lamanya kami di sana, ada saatnya kami harus kembali ke daerah kami masing-masing untuk melanjutkan tugas yang diamanatkan kepada kami.

Subuh hari kami diantar oleh mas Baihaqi dan Syuaib menyusuri jalan mengular menuju simpang empat Tanjung Redeb yang dilanjutkan ke arah Bandara Kalimarau, tempat kami berangkat dahulu. Inilah titik perjumpaan akhir kami dengan mereka dan seluruh orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidup kami selama beberapa hari kemarin. Ada rasa berat di hati untuk meninggalkan mereka. Namun apa daya, jadwal penerbangan kami bahkan dipercepat dari seharusnya jam 3 sore menjadi jam 7 pagi. Lambaian tangan menjadi isyarat terakhir kami bahwa di tempat inilah kita berpisah dan berharap semoga di pertemukan kembali di kesempatan lainnya.

Pesawat pun mengudara meninggalkan tanah yang penuh dengan hutan lebat dan tambang batu bara itu. Perlahan pandangan hijau dan sesekali terlihat lubang-lubang galian itu pun menghilang tertutupi oleh awan. Kami pun mengalami rute penerbangan yang panjang menuju Jakarta hari ini. Dari Bandara Kalimarau Berau kami transit sebentar ke Bandara Sepinggan Balikpapan. Dari Sepinggan kami transit lagi di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Dan dari Bandara Adisucipto ini barulah kami mengakhiri perjalanan ini ke Bandara Soekarno – Hatta, bandara terbesar kebanggaan Indonesia.

Keluar dari pesawat aku sadar, waktu telah berubah dan berbeda. Aku telah berada di belahan lain Indonesia lagi, di pulau kelahiranku, di kawasan Ibukota negeriku. Dan kuucapkan dalam hatiku, selamat tinggal tanah Berau. Terima kasih atas pelajaran hidup yang kau berikan selama kami di sana. Terima kasih Mas Baihaqi atas segala inspirasinya, Pak Asrie, Pak Giman, Pak Ibrahim, Pak Darwis, Syuaib, Pak Ismoyo, para dewan guru, dan adik-adik yang luar biasa. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Dan taksi burung biru itu mengantar perjalanan kami yang melelahkan hari ini menuju markas di mana kami diutuskan, Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa di Parung Bogor.

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Ketujuhbelas #3

Senja yang Sedih

Sore harinya, anak-anak sudah menantiku untuk mengucapkan perpisahan. Entah mengapa, para gadis-gadis Berau itu lebih berminat untuk merubungi saya, sedangkan yang cowok-cowok lebih memilih merubungi temanku. Padahal aku tidak punya tampang playboy sedikitpun. Tapi sudahlah, ini mungkin momen-momen yang akan dialami para pemuda yang melakukan perjalanan di daerah-daerah pedalaman untuk kegiatan pengabdian.

Entahlah apa yang ada di benak mereka. Ada mulai alay merayu-rayuku agar tidak pulang. Ada yang bertanya sudah punya pacarkah? Ada yang PDKT ini itu (maaf bukan GR ya). Dan pada intinya mereka menginginkan aku tidak pulang. Inilah momen-momen penting untuk memberikan wejangan kunci kepada mereka agar menjaga mimpi-mimpi yang telah mereka bangun selama ini. Setidaknya kami yang hanya 17 hari di sini memiliki kesempatan untuk berbagi dengan mereka. Yah, anak-anak pedalaman butuh sentuhan luar untuk memperbaiki mimpinya dan mengenalkan mereka tentang Indonesia.

Aku hanya mengulang apa yang kubagi di kelas-kelas ketika mengisi pelajaran. Bermimpi besar, belajar giat, tekun dan berjuang keras meraih cita-cita itu. Keluar dari tanah Berau untuk menuntut ilmu dan kembali lagi untuk membangun daerahnya. Maaf ya adik-adik, kami harus kembali ke daerah asal kami untuk mengerjakan amanah kami lagi di sana.

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Ketujuhbelas #2

Istana Sambaliung dan Adat Berau

Begitu sampai di kampong, aku meneruskan perjalananku ke ibu kota Berau, Tanjung Redeb. Di sana, tujuan utama kami adalah mengembalikan pinjaman motor ke Pak Ismoyo. Tapi bukan kami kalau langsung datang begitu saja. Kami membelok dulu ke sebuah jembatan kuno yang kata orang itu menuju Istana Sambaliung, rival kesultanan Gunung Tabur di masa Belanda menjajah negeri ini.

Karena sama-sama belum tahu, aku dan mas Baihaqi malah tersesat di sebuah Pura Hindu yang besar. Aku sebenarnya sudah merasa tidak baik sejak berhenti di tempat itu. Masak Sambaliung yang katanya pecahan dari kesultanan Gunung Tabur berbasis Hindu? Akhirnya benarlah ketika kami bertanya kepada tokoh di pura itu kami memang salah alamat. Sempat kami menjadi perhatian para pengunjung pura, karena mas Baihaqi menggunakan baju koko dan aku menggunakan kaos bergambar Soekarno. Kami hanya tertawa kecil dengan kebodohan kami. Untung kami belum tersesat masuk ke pura yang disucikan oleh penganutnya itu. Maaf ya Bapak/Ibu sekalian.

Setelah puas menertawakan kebodohan kami, perjalanan pun dilanjutkan ke Sambaliung. Benar saja, inilah istana di seberang sungai yang diceritakan Pak Ismoyo dahulu. Sebuah kerajaan pecahan kesultanan Gunung Tabur hasil intervensi Belanda untuk melemahkan pemerintahan rakyat di kawasan itu. Istananya yang megah seperti Batiwakkal itu dihiasi dengan prasasti di depannya. Ada dua tugu prasasti yang berhuruf arab berbahasa Melayu dan berhuruf lontar Bugis. Isinya mengagumkan bagiku karena kerajaan ini ternyata memberikan penghormatan yang tinggi kepada raja dan wanita. Bahkan dalam prasasti itu ditegaskan, siapa pun wanita yang berjalan baik ia budak atau pun bukan maka setiap laki-laki harus menepi dan menundukkan pandangannya. Hal itu sebagai penghormatan kepada para wanita sebagaimana hal itu diperintahkan untuk raja ketika sedang berjalan atau para pejalan berlalu di depan istana.

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Ketujuhbelas #1

Hutan dan Akses Jalan Raya

Pagi hari di Pulau Derawan hari ini tak seperti harapanku. Aku berharap dapat melihat indahnya matahari terbit di sana. Tetapi apa daya, sejak jam 3 pagi hujan yang sangat deras terus mengguyur kawasan itu hingga matahari meninggi sepenggalah. Ah, sudahlah bukan rezekinya kami untuk melihat pemandangan itu. Setidaknya kami bersyukur bisa hadir di tempat ini. Terutama aku, ini hanya tanah mimpi yang pernah kubuat tulisannya beberapa bulan lalu saat digelarnya Festival Derawan 2013. Tapi ternyata aku bisa bermalam di atasnya. Alhamdulillah.

Dan kami pun segera melunasi kewajiban kami kepada sang pemilik penginapan. Sebelum kami meninggalkan pelabuhan itu, kami meminta mas Bayu untuk mengantarkan kami memutari pulau Derawan dengan pelan. Kami amati lekat-lekat pulau indah dengan pohon kelapa yang tinggi itu. Mungkin lagu Rayuan Pulau Kelapa itu adalah representasi dari mayoritas kepulauan kita yang indah dihiasi pepohonan itu dari kawasan pantainya. Setelah itu, speed boat kembali melaju kencang membawa kami ke dermaga yang indah di pulau terbesar Indonesia itu, Tanjung Batu di Kalimantan Timur.

Perjalanan pulangku kali ini kuniatkan untuk mengamati hutan-hutan yang dibakar dan digundulkan oleh aktivitas industry yang mulai tumbuh. Menurut kepala kampung yang kukunjungi, selain tanah-tanah yang ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, para warga diperbolehkan untuk menebang pepohonan dan membangun pemukiman. Benarkah sesederhana itu? Bagaimana nasib hutan hujan tropis Kalimantan yang menjadi salah satu paru-paru dunia itu? Aku kemudian berimajinasi dengan jalan mulus yang kulalui ini. Bukankah ini akan menjadi potensi pencurian kayu-kayu dan segala kejahatan di kawasan ini membesar nantinya? Ah, ini asumsi mahasiswa ingusan yang belum banyak belajar.

Baiklah kita tinggalkan dulu pembicaraan ini. Pemandangan hutan yang monoton itu pun berakhir di areal pertambangan batu bara, Berau Coal yang berada di kampung Sambakungan. Kami pun terus bersemangat untuk mencapai Kampung Samburakat yang tinggal beberapa puluh menit lagi. Perjalanan ini memberiku persepsi baru tentang arti dekat. Dekat itu benar-benar relative dalam benak masing-masing orang.

bersambung ….

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Keenambelas #3

Penyu dan Konservasi Alam

Malam harinya, usai shalat di masjid Agung di pulau tersebut kami bertiga memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi pulau ini. Hiasan yang sering kami lewati di tengah jalan adalah kuburan, ya betulan kuburan tampak berserakan di tepi jalan dan tampak kuno. Jika sepi mungkin akan terasa menyeramkan meskipun di dekat itu ada pantai dan orang masih ramai hingga tengah malam. Kemudian kami juga mendapati seorang bapak yang berjaga di instalasi listrik milik PLN. Rupanya masyarakat di sini mendapatkan suplay listrik dari diesel yang dinyalakan di malam hari dan panel surya yang aktif di siang hari. Dalam hatiku aku merasa terharu melihat perjuangan mereka yang bukan warga asli rela berhari-hari menjalani kehidupan yang monoton bersama mesin itu. Semoga dijalani dengan ikhlas.

Kami terus berjalan menyusuri jalan di pinggir pantai itu hingga kami tak sadar membelok dan memasuki kompleks makam yang luas. Ternyata kami salah jalan. Ga tahu kenapa, tiba-tiba aku merasa merinding. Padahal biasanya lewat makam juga hal biasa saja. Tapi kali ini jadi merinding. Sambil menyembunyikan perasaan takut itu, aku membunyikan mp3 ponselku sambil menikmati lagu-lagu yang ada. Dan rasa merinding itu pun lenyap dalam obrolan kami.

Sampailah kami di kawasan pantai yang khusus disediakan bagi para penyu yang akan bertelur. Meskipun Derawan telah menjadi ramai dan basis bertelur penyu di alihkan di Pulau Sangalaki, ternyata masih ada juga penyu-penyu yang bertelur di sini. Kami adalah pengunjung yang beruntung, karena ada yang sudah 5 kali ke Derawan ini belum pernah melihat pemandangan yang langka itu. Penyu cenderung menghindari pulau ini karena banyaknya lampu yang bersinar dan ramai. Kami pun hanya diizinkan melihat penyu bertelur setelah dia menggali lubang dan telah memulai aktivitas bertelurnya. Sebelum itu, para petugas konservasi akan menghalau kami dari kejauhan agar penyu tidak kembali ke laut.

Penyu hijau yang bertelur mala mini berukuran sangat besar. Sepertinya ini penyu senior yang sudah berpengalaman. Kata petugas konservasi, si penyu sudah lima kali bertelur dalam sebulan. Umumnya penyu itu bertelur setiap 12 hari sekali. Tapi khusus yang ini petugas sudah mendapatinya 5 kali bertelur di pantai ini. Kata mereka, ini adalah pantai tempat kelahirannya, maka penyu itu akan tetap bertelur di sini selama tidak diusik daerah bertelurnya. Para petugas menunggui penyu itu sampai selesai bertelur dan menutup lubangnya. Tak lupa sang penyu juga membuat lubang pengecoh lainnya.

Barulah kami bisa leluasa berfoto dengan penyu hijua super besar itu. Maklum dia tampak kepayahan untuk sekedar berjalan kembali ke laut. Bagi dia mungkin itu siksaan karena selain harus berusaha keras kabur dari kerubungan manusia, dia juga harus menerima flash dari kamera yang bertubi-tubi. Bak artis yang dinantikan, kami para manusia yang berkunjung ke pulau itu satu demi satu melakukan foto bareng dengan Ibu Penyu yang kepayahan itu. Memanglah, hewan ini adalah hewan yang menyerah saat di daratan tetapi sangat gesit ketika sudah berada di air. Dan foto-foto dengan ibu penyu itu pun mengakhiri sesi jalan-jalan kami.

Sebelum tidur, aku sempat mencari momen untuk bisa bertegur sapa dengan bule yang ada di penginapan. Dia bersama pasangannya (mungkin istrinya) tinggal di kamar sebelah. Aku berkenalan dengannya, namanya Mr. Urlich dari Dresden, negara bagian Saxony Jerman. Wow, jerman, aku punya basa-basi untuk memulai diskusi itu. Dan tentu saja tujuanku adalah memberi kesempatan lidahku berbicara bahasa Inggris. Namun hal yang pertama kuterima darinya adalah kesannya bahwa orang Indonesia masih belum sadar akan kebersihan lingkungan. Menurutnya masyarakat sini masih terbiasa buang sampah sembarangan dan kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan. Ah malu rasanya, namun dengan tegar aku jawab, kami sedang berproses untuk perbaikan mengingat Indonesia adalah negara berkembang. Berikutnya aku promosi tentang Yogyakarta. Rupanya mr. Urlich belum pernah ke sana. Ah semoga suatu saat dapat bertemu dengannya lagi. Dan malam ini pun berakhir dengan tidur pulas di penginapan.

bersambung …

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Keenambelas #2

Perjalanan ke Pulau Derawan

Usai acara perpisahan kami memantapkan diri menuju salah satu kawasan wisata andalah kabupaten Berau di Kalimantan, kepulauan Derawan. Setelah mendapatkan pinjaman motor dari Pak Ismoyo dan Pak Asrie, kemudian koneksi untuk memperoleh jasa speed boat yang terjangkau akhirnya petualangan kami di akhir program ini pun dilakukan. Mas Baihaqi tentu saja tak mau ketinggalan, beliau turut serta dalam perjalanan yang spesial ini. Diiring restu dari para guru yang selalu memprovokasi kami bahwa tidak dikatakan kami ke Berau jika belum berkunjung ke Derawan, kami meluncur siang itu.

Untuk menuju ke pulau yang kata orang menakjubkan itu. Kami harus menaklukkan jalan darat dari Samburakat, kecamatan Gunung Tabur menuju pantai Tanjung Batu di Kecamatan Pulau Derawan. Jalan darat dengan liku-likunya yang mengular dan hutan lebat nan seram di sekelilingnya adalah pemandangan yang harus kami lalui. Awalnya tampak indah, tetapi lama-lama membosankan juga karena hampir 2,5 jam perjalanan kami melalui pemandangan monoton itu, meskipun sesekali kami melewati kawasan hutang yang dibakar dan ditebang.

Satu persatu kampung pun kami lewati. Mulai dari Sambakungan, Batu-Batu, kemudian Merancang, kemudian Kasai. Setelah itu kami mulai memasuki Kecamatan Pulau Derawan dengan kampung pertamanya Teluk Semanting, barulah kampung Tanjung Batu. Aku membayangkan betapa luasnya ukuran kecamatan di sini. Untuk ukuran jawa, perjalanan 2,5 jam di atas aspal mulus seperti ini sudah melewati 2 kabupaten. Akhirnya kami telah berdiri di atas dermaga Tanjung Batu yang gagah dan indah itu.

Ternyata pak Jordi, kawan pak Ismoyo telah menunggu kedatangan kami untuk menuju pulau yang pernah menjadi mimpi di benakku itu. Sore ini aku akan menerima kenyataan bahwa pulau imajinatifku itu akan menjadi kenyataan. Kata orang itu pulau yang berair jernih, indah, dan ada penyu-penyunya. Semua masih angan saat aku berada di Tanjung Batu itu. Tetapi aku yakin bahwa kenyataan akan keindahan pulau itu akan kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri.

Sudah hampir 45 menit speed boat berjalan di atas air. Ini kali pertama pengalamanku menaiki kendaraan air yang mini ini. Rasanya seperti ketika aku berpetualang di daerah Blora Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Ternyata gelombang laut yang bergesekan dengan permukaan kapal membuat efek seperti melewati jalan-jalan terjal. Mas Bayu yang jadi sopir speed boatnya tampak begitu terampil menyetir speed boat itu untuk kami. Tampangnya yang gagah dengan kacamata hitam memberi garansi bahwa perjalanan ini insya Allah aman dengan izin-Nya.

Pemandangan baru di pantai pun kami jumpai mulai dari rumah-rumah yang dipancang di atas kapal hingga mercusuar yang berdiri di kejauhan. Rumah-rumah yang dipancang di tengah laut yang dalamnya puluhan meter. Cukup membuat penasaran mengingat rumah-rumah itu tampak kokoh meskipun hanya disokong kayu. Akhirnya Mas Baihaqi mengobati penasaran kami dengan bertanya ke mas Bayu. Jawabannya sederhana, ternyata ada pemancang tak terlihat yang beratnya berpuluh-puluh ton dari kumpulan pasir yang dibenamkan ke dasar laut untuk menjaga kestabilan rumah-rumahan di atasnya. Cerdas, ide yang tidak terbayang sedikitpun di kepala mahasiswa fisika ini. Masyarakat di sini tidak perlu belajar fisika secara teori untuk mendapatkan ilmu itu.

Dan sampailah kami di pulau yang mungil nan indah itu. Lautnya tenang dan airnya jernih. Kami diinapkan di sebuah hotel terjangkau yang menjorok ke laut. Jika kami ingin berenang atau menyelam, tinggal ganti baju dan meloncat dari depan penginapan kami. Ikan-ikan kecil berwarna-warni tampak berkeliaran. Sesekali penyu dalam ukuran besar berenang di sekitar penginapan dan menyembulkan kepalanya ke air. Indahnya, inilah salah satu karunia Allah agar manusia menjaganya di muka bumi ini.

Aku pun terus menghabiskan sore ini memandang suasana senja di dermaga. Menatap laut lepas nan luas. Maha besar Allah, aku merasa sebagai manusia yang sangat kecil di tepian pulau yang ternyata hanya sebatas titik dalam peta negara kepualauan yang besar ini. Aku merenungkan bahwa kapal yang sangat besar itu pun ternyata hanya menjadi noktah kecil yang mengapung-apung di atas samudera. Tak berdaya sekiranya Allah memerintahkan air laut menjadi tsunami dan mengoyaknya.

bersambung …

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Keenambelas #1

Perpisahan yang Mengharukan

Pagi hari ini adalah momentum yang mengharukan untuk kami para peserta magang sosial. Setelah dua pekan lebih tinggal di daerah yang permai ini (meskipun sering kepanasan di siang harinya) kami harus segera mengakhiri kegiatan pengabdian kecil ini. Di hadapan siswa-siswi yang berseragam merah putih dan para guru yang berpakain dinas, aku mengucapkan pamit mewakili diriku dan rekanku. Rasa haru pun menyelimutiku hingga seandainya bukan karena forum resmi aku akan meneteskan air mata.

Acara perpisahan pagi ini diramaikan dengan penyerahan hadiah untuk lomba lari sprint dan marathon dalam penjaringan atlet pelari di sekolah ini. Selain itu, kami juga merintis pemilihan siswa teladan setiap bulan agar nantinya para siswa giat untuk belajar dan gurunya pun dapat memberikan perhatian yang lebih kepada para siswa. Hari ini, rintisan program itu kami wujudkan dengan pemberian penghargaan kepada mereka-mereka yang terpilih di bulan ini. Harapannya di bulan-bulan berikutnya para guru pun tetap melanjutkannya.

Usai perpisahan di hadapan para siswa, kami melakukan perpisahan lagi dengan para guru ruangan. Ada kenang-kenangan buku spesial karya Munif Chatib yang berjudul Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Orang Tuanya Manusia, Sekolah Anak-Anak Juara yang kami serahkan kepada kepala sekolah. Selain itu, tidak lupa kami serahkan juga buah karya kami para penerima beasiswa Dompet Dhuafa yang terangkum dalam buku Belajar Merawat Indonesia untuk Kepemipinan Alternatif, Belajar Merawat Indonesia, dan Toga di Tepi Jendela.

bersambung …

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Kelimabelas #2

Pamitan Kepala Kampung

Kami tinggal punya kesempatan 3 malam lagi di sini. Di awal-awal masa silaturahim dahulu, orang yang paling tidak bisa kami temui adalah kepala kampung Samburakat. Kalau di Jawa ia setingkat kepala Desa. Hanya saja di kabupaten Berau ini, tingkatannya dari Bupati, Camat, langsung ke kepala Kampung. Kepala kampung membawahi beberapa RT. Dari RT langsung ke para warga. Jadi struktur birokrasi di masyarakat ini lebih sederhana di bandingkan di Jawa.

Malam ini akhirnya kami bisa berkunjung ke tempat beliau. Kesibukan beliau yang kerap ke Tanjung Redep untuk urusan dinas maupun keluarga membuat pekan pertama masa-masa silaturahim kami tertunda. Akhirnya malam ini kami bisa berdiskusi hangat dengan beliau sekaligus pamitan karena hari Kamis depan kami sudah akan berangkat kembali ke tanah seberang, Zona Medina Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa.

Dari diskusi hampir satu jam dengan beliau aku mendapati beberapa informasi kunci untuk pemetaan kekuasaan yang ada di kampung ini. Pada prinsipnya, kampung ini sudah tergolong kampung yang mapan dalam soal administrasi dan kegiatan kemasyarakatan dibandingkan dengan beberapa kampung lainnya di kecamatan Gunung Tabur. Hal itu memang tampak dari kegiatan ibu-ibu PKK yang kukunjungi kemarin, komentar dari beberapa pegawai kecamatan, dan fasilitas yang tersedia di sana. Selain itu, kegiatan pemuda yang sifatnya umum seperti olah raga dan hajatan juga sudah berjalan. Hanya saja soal masjid, lagi-lagi memprihatinkan. Nggak di Jawa, nggak di sini, yang namanya masjid kampung itu sepi, dan biasanya yang jamaah ya itu-itu saja sebagai sebuah klan keluarga mulai dari bapak, anak, hingga cucu.

Selain itu, ternyata pak kepala kampung adalah tipikal wirausahawan yang lebih menyukai aktivitas penduduk berkebun dan berwiraswasta di tanah yang tersedia ini dari pada menjadi pegawai tambang. Beliau juga menjelaskan hak pakai tanah di sini. Ternyata memang sangat mudah karena tanah yang tersedia sangat luas. Penduduk pendatang yang mau membabat hutan yang ada di lingkungan kampung untuk tempat tinggal dan berkebun dipersilahkan selama tidak menjamah kawasan hutang yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai hutan lindung. Di sini tanah tidak ribet diukur-ukur seperti di Jawa. Tinggal pakai saja jika mau, jika suatu saat bermasalah tinggal pindah tempat saja. Haaa? Simpel sekali ya. Tapi apakah ini bagus? Kita lihat saja nanti.

Hal positif lain yang tergali dari beliau adalah keinginannya untuk menjadi teladan bagi warganya soal pendidikan dan pencerdasan masyarakat. Kedua anaknya dapat sekolah di sekolah unggulan kabupaten tersebut. Tentu saja ini menunjukkan adanya upaya serius dari beliau untuk mengarahkan anak-anaknya sendiri sebelum akhirnya ditularkan kepada masyarakat sekitarnya mengingat hasil asesmen kami selama di sini menunjukkan bahwa motivasi belajar anak-anak di sini masih kurang karena banyak faktor. Jadi mungkin upaya yang beliau lakukan diharapkan dapat menginspirasi warga yang lain untuk memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Satu kaleng minuman cincau habis kutenggak untuk mengakhiri silaturahim sekaligus pamitan malam ini.

bersambung …

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Kelimabelas #1

Sang Surya di Keheningan Pagi Sungai Berau

Tidak seperti biasanya setelah melakukan rutinitas ibadah pagi kemudian tidur-tiduran menunggu hari terang, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang spesial pagi ini. Melihat matahari terbit di atas permukaan air Sungai Berau. Tanpa pikir panjang, kupinjam motor Syuaib yang masih baru itu untuk menuju ke tepian. Langit timur belum terang, masih memerah dari kejauhan. Indahnya.

Sesampainya di sana, keadaan masih sepi. Baru ada satu dua warga yang tampak keluar rumah mengenakan seragam khas pekerja tambang. Itu pun pasti mereka yang memilih menggunakan motor sendiri. Pasalnya bus penjemput para pekerja sudah berangkat tepat sehabis kami pulang dari shalat subuh tadi pagi. Malasnya pagi di sini. Tapi itu malah baik buatku karena aku bisa bernarsis ria menggunakan kamera untuk menjepret diri sendiri dan indahnya pagi ini.

Menit demi menit berlalu, langit timur semakin terang. Warna merahnya semakin indah dan berubah menguning. Perlahan ada lingkaran dengan warna kuning telur muncul dari garis hijau seberang sungai. Pantulan sinarnya mulai tampak di permukaan sungai yang sesekali bergelombang setelah dilewati oleh speed boad atau ketingting yang lewat. Pagi ini cukup sepi karena tidak ada kapal tongkang besar yang mengangkut batu bara atau alat-alat berat yang digunakan di kawasan pertambangan. Aku cukup nyaman menikmati pagi ini sendirian di dermaga-dermaga kecil pinggiran sungai Berau yang deras ini.

Barulah saat matahari mulai terlihat, orang-orang pun membuka pintu rumahnya. Tampak anak kecil keluar membawa ember menuju tepian dermaga lainnya. Kemudian muncul juga orang usia paruh baya. Setelah melepas baju dan celana luarnya, dia menimba air sungai dan mandi. Oh, rupanya masyarakat pinggiran sungai mandinya langsung dari air sungai ini yang seperti kopi susu encer ini. Hanya menggunakan celana dalam saja, para lelaki tua maupun muda ini tampak nyaman mandi di pinggiran sungai ini. Aku hanya geleng-geleng kepala, pasalnya sesekali di sela dermaga itu berdiri juga empang yang digunakan untuk buang air besar.

Aku pun juga sempat begidig ketika awal-awal tinggal di tempat ini. Air yang kami gunakan untuk mandi berwarna kuning dan diambil dari anak sungai Berau. Maka tentu saja itu adalah air di mana kotoran hewan dan manusia pun telah tercampur di dalamnya. Beruntung sekarang sudah pindah di kawasan yang lebih dalam dengan air bekas sumur tambang. Meski tetap saja tidak sejernih air yang kupakai di Jawa, setidaknya air ini tidak memiliki cerita seram seperti air yang menyambutku pertama kali. Dari sini pun akhirnya aku tahu bahwa daerah ini belum ada instalasi pengolahan air bersih. Kabupaten yang sangat kaya ini mungkin masih sibuk dengan urusan bagi hasil tambang batu bara dari banyak perusahaan yang menancap di situ. Soal air untuk penduduk, mereka tentu bisa mengatasi sendiri atau tinggal ambil di sungai. Yah, di sini para penduduk lebih memilih kerupuk jadi ketimbang menggoreng sendiri, bagaimana akan membangun instalasi air bersih secara swadaya. Uang sih melimpah, tapi apa yang membuat mereka merasa harus membuat hal ini. Itu pekerjaan rumah yang harus dipecahkan untuk mengatasi virus kemalasan akut ini.

Singkatnya, pagi ini aku begitu bahagia setelah sekian hari berada di sini akhirnya aku dapat menikmati indahnya pagi di tepian sungai Berau. Tinggal satu tempat lagi yang setidaknya perlu disambangi meskipun hanya dari kejauhan, kepulauan Derawan. Karena kata orang sini, kalau ke Berau tetapi belum berkunjung setidaknya ke pantai Tanjung Batu, gerbang menuju kepulauan Derawan maka itu belum dikatakan ke Berau. Oh ya, baiklah Bapak-Bapak, kami agendakan juga ke sana sebelum kepulangan kami nanti ke tanah seberang.

Olah Raga yang Terlupakan

Siang hari setelah melakukan serangkaian aktivitas di sekolah sebelum kami berpamitan esok pagi, kami melakukan sparing di GOR kebanggaan kampung Samburakat ini. Sepertinya anak-anak mulai sadar bahwa kami akan segera pergi dan menghilang dari pandangan mereka untuk waktu yang lama atau mungkin untuk selamanya. Mereka pun terus mengunjungi kami dan mengajak kami bermain ini itu sampai akhirnya kami berkumpul di GOR tersebut untuk bermain bulu tangkis.

Bak bintang tamu, kami sempat main beberapa set. Selama aku di Solo mungkin baru dua – tiga kali aku bermain olah raga ini. Padahal ketika SD hingga SMP ini adalah olah raga favoritku mengingat aku adalah orang yang sangat payah untuk urusan olah raga permainan seperti sepak bola atau basket. Di sini aku malah sudah sering main dan mungkin permainan hari ini akan menjadi permainan terakhir kali kami di sini karena besok aku dan rekanku memutuskan untuk bermalam di Derawan.

bersambung …

Kategori
Catatan Perjalanan

Tujuh Belas Hari Mengenal Berau Kami : Hari Keempatbelas

Alhamdulillah, Allah masih membuka mataku untuk menatap hari Ahad keduaku di tanah Borneo ini. Sebuah pagi yang menjadi saksi keceriaan anak-anak SD N 002 Gunung Tabur untuk belajar tentang pasar secara nyata. Seperti yang sudah kami agendakan, kami merencakan kegiatan Outing Class untuk seluruh siswa kelas I-VI. Meskipun tidak datang semuanya, tetapi anak-anak yang sudah berkumpul di sekolah hari ini lebih dari cukup untuk membuat sebuah pasar.

Anak-anak kubagi menjadi 5 kelompok. Ada yang menjadi petugas pasar, jumlah anggotanya paling sedikit, dipimpin Joni, anak berdarah Jawa yang sudah tidak dapat berbahasa Jawa. Berikutnya adalah kelompok produsen, dipimpin Vina, gadis berdarah Berau yang putih dan membuat si Syuaib tergila-gila pada anak SD ini. Kemudian ada kelompok distributor yang dipimpin Rita, gadis berdarah Timor yang mampu melantunkan lagu Indonesia Raya dengan fasih dan indah. Kemudian kelompok pedagang pasar yang dipimpin Faishal, keturunan Bugis – Brunei yang gampang menangis meskipun sudah kelas 6. Terakhir adalah kelompok pembeli yang dipimpin Tino, si mungil berdarah Timor yang sangat energik dan gigih sejak aku beri penugasan membuat uang-uangan kemarin.

Adegannya adalah para produsen membuat barang-barang yang akan dijual di pasar. Mereka tampak kreatif mulai menggunakan pot hingga aneka dedaunan yang dilintingi seolah-olah sayuran. Para petugas pasar sibuk berjaga di gerbang sekolah (sebagai gerbang pasar) untuk menahan para pembeli yang sudah membawa uang banyak. Sementara itu para pedagang mulai membuka toko. Melihat hal itu, para distributor yang merangkap sebagai sales berkeliling melayani pesanan para pedagang. Beberapa tampak berjalan dari gudang (tempat produsen) ke pasar.

Kegiatan yang sempat diwarnai kericuhan karena adanya oknum pencopet yang mengambili uang para pembeli itu akhirnya berjalan normal setelah para penjaga pasar yang gagah itu berhasil menangkapnya. Mereka cerdas sekali dalam melakukan aktivitas itu. Suasana riuh antara antara pembeli dan pedagang yang saling beradu argumentasi itu tampak menggelikan. Ada yang marah-marah karena ada penjual yang menawarkan dagangan dengan harga melangit.

Usai kegiatan pasar itu, mereka pun masih tetap riuh saat masuk ke dalam kelas untuk membuat laporan. Memang tak seideal mimpiku ketika mereka bagus dalam beraksi di lapangan, harapannya juga dapat membukukan laporan dengan rapi. Yang jadi produsen dapat membuat daftar produksi dan pemasukannya. Yang menjadi distributor dapat melaporkan kegiatan transaksi dan keuntungan dari ongkos kirim yang mereka terima. Yang jadi pedagang harapannya juga dapat membuat laporan yang menunjukkan apakah aktivitas mereka mendatangkan keuntungan hari ini setelah dipotong pengembalian hutang saat pemesanan barang, ongkos kirim, dan sewa kiosnya. Yang jadi pembeli pun diharapkan membuat laporan kronologis hasil pembeliannya dan mana saja yang dapat mereka tawar. Demikian juga para pegawai pasar dapat membuat laporan administratif seperti pengunjung yang datang, pemasukan kios, dan kejadian-kejadian yang berhasil ditangani. Itu impian idealku, tetapi harus bagaimana lagi mengingat kondisi mereka yang sudah kuceritakan di kesempatan sebelumnya. Pasar berjalan sukses saja sudah membuatku bersyukur. Mereka gembira, maka aku pun gembira.

Kegiatan Outing Class hari ini pun ditutup dengan outbond yang dipimpin rekanku dengan permainan ular-ularan dengan target memecah balon yang dipasang di kaki anggota yang jadi ekor. Kemudian mereka melanjutkan dengan acara berenang di sungai Berau. Aku pun memilih menyingkir mengingat tempat renang anak-anak adalah pinggiran sungai yang ada dermaga kecil dan empang yang tiap pagi dipake untuk menabung para warga.

bersambung …