Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #7

Deklarasi Aksi Cinta Budaya Indonesia dan Inspirasi Besar Pak Indrawan Yepe

Inilah hari terakhir dari Rangkaian Temu Nasional Negarawan Muda Belajar Merawat Indonesia, Selasa 30 April 2013. Acara epilog temu nasional kali ini digelar di depan Taman Sriwedari kota Surakarta. Kami mengundang Pak Indrawan Yepe selaku representasi budayawan yang berjiwa aktivis beserta komunitas PINTU.

Peserta pun berangkat dari Tawang Mangu, meskipun sempat mengalami keterlambatan, karena di sana ternyata diadakan seremonial penutupan yang berakibat pada terlambatnya kedatangan peserta di lokasi. Ditargetkan datang jam 9.00 WIB ternyata peserta baru sampai pada pukul 10.00 WIB. Meski demikian hal ini tak mengurangi semangat Pak Indrawan Yepe untuk memulai wejangan inspiratifnya bagi para Negarawan Muda.

Beberapa poin yang saya petik dari orasinya yang luar biasa adalah tentang kemandirian seorang pemuda, yakni agar kita para mahasiswa bekerja keras agar tidak menjadi bagian dari pengangguran terdidik berikutnya. Selanjutnya adalah pentingnya untuk berkiprah nyata di masyarakat dalam berbagai aksi social yang konkret, bukan hanya demonstrasi dan berbagai kegiatan seremonial. Aksi social pengentasan kemiskinan tak hanya cukup dengan pemberian bantuan, tetapi mendongkrak mental masyarakat agar tidak bermental miskin dan lemah.

Ketika beliau berbicara tentang budaya, beliau menampilkan sebuah wejangan yang sangat fundamental. Aku termasuk yang terkejut dengan apa yang beliau sampaikan, yakni pentingnya generasi muda merekonstruksi cara pandang budaya agar kembali pada kedudukan semestinya. Saat ini kita terjajah dalam konteks budaya yang terlanjur sesat oleh kepentingan. Seperti bagaimana penggunaan kata Kyai yang seharusnya dia menampilkan sosok yang arif bijaksana ternyata saat ini bisa menjelma menjadi nama pusaka bahkan kerbau. Hal ini tentu bentuk destruksi kebudayaan yang membuat bangsa kita tidak bisa memaknai nilai-nilai budayanya sendiri. Dan beliau menutup orasinya dengan sebuah pesan yang tegas agar para negarawan muda berjanji untuk memberikan dedikasinya bagi bangsa dan negara.

Usai orasi dari pak Indrawan Yepe, sang gitaris yang pernah menyabet 3 rekor MURI, Muhammad Pradipta Bagaskara pun tampil memukau dengan komposisi yang dia buat sendiri, sebuah alunan gitar yang luar biasa dalam menaikkan semangat bagi para pendengarnya, jauh dari kesan rock yang hura-hura namun enerjik dan memberikan sebuah kucuran semangat untuk bergerak.

Di sela-sela itulah akhirnya Anggel Dwi Satria, sang ketua panitia memulai deklarasinya. Teks yang kami susun tadi malam akhirnya dikumandangkan bersama-sama dengan lantang dan penuh semangat. Yah, kami adalah bagian dari negarawan muda Indonesia yang memiliki tanggung jawab untuk berkiprah pada negeri ini, sekarang dan nanti. Aku menyaksikan bagaimana semangatnya teman-teman melantunkan ikrar tersebut.

Dan dengan sigap usai deklarasi itu, para peserta segera menandatangani sebuah spanduk yang telah kami siapkan dengan tajuk Aksi Cinta Budaya Indonesia. Puluhan tanda tangan memenuhi MMT tersebut. Aku menyaksikan dengan penuh takjub, diiringi komposisi Dipta yang keren. Semua terasa indah menjadi penutup acara temu nasional yang telah berlangsung sejak hari jumat itu.

Para wartawan sibuk meliput dan mewawancarai kami. Entah ini akan menjadi berita seperti apa, tapi hari ini aku dan kawan-kawan merasa bersyukur atas kelancaran acara temu nasional ini. Delapan panitia dengan 2 panitia tambahan mampu menghandel acara yang melibatkan 80-an peserta selama 5 hari dengan biaya hampri 180 juta itu adalah pengalaman pertamaku. Akhirnya aku punya sejarah indah untuk hidupku. Terima kasih Bakti Nusa atas kesempatan emas yang diberikan ini.

 Perpisahan yang Ceria

Meski beberapa peserta telah pulang di waktu sebelumnya. Tapi inilah momentum yang paling berat bagi kami selaku tuan rumah. Namun menatap wajah teman-teman yang tampak puas dan terinspirasi dari agenda 5 hari ini menjadikan ku bersyukur dan gembira. Yah, itu artinya temu nasional di Solo cukup berhasil. Terlebih ketika mas Fachri memberikan apresiasi kepada kinerja kami yang dinilai kompak oleh beliau. The great and Inspiring Team, demikian kata beliau. Terima kasih mas Fachri, mas Edi, mas Arief, dan mbak Rizka. Kalian semua luar biasa.

Dan akhirnya kami berpisah di halaman masjid Agung kota Surakarta menuju stasiun dan terminal untuk mereka melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman dan kampus mereka masing-masing. Selamat jalan kawan-kawanku, semoga kita bisa berjumpa lagi di kesempatan yang lebih baik.

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #6

Memecah Kebuntuan

Memang temu nasional kali ini meskipun digelar selama 5 hari, tetaplah menjadi sesi yang sangat padat. Usai outbond, malam harinya semua peserta harus mempresentasikan hasil Live in-nya dan perwakilan tiap kampus wajib menampilkan kreatifitas seninya. Di pandu salah satu rekan kami, Greget Kalla Buana, panitia yang lain akhirnya berkumpul di lantai bawah untuk memecahkan satu masalah yang masih belum beres, yakni deklarasi temu nasional.

Kami berlima (karena dua yang lain sedang membereskan urusan di Solo untuk agenda hari terakhir besok) melakukan FGD sampai larut malam untuk memecahkan konsep deklarasi yang keren buat besok. Meskipun aku sudah menghubungi Pak Indrawan Yepe sebagai master trainer di epilog besok, kami masih merasa ragu dengan gambaran deklarasi yang akan kami lakukan pasca itu. Yang pasti kami belum menemukan kalimat deklarasi yang pas untuk membawa kesamaan dengan peserta tentang Aksi Cinta Budaya Indonesia, di mana di sini konteksnya adalah untuk menggali nilai-nilai luhur budaya untuk memperbaiki kepemimpinan bangsa.

Akhirnya sebuah untaian syair, agak meniru kalimat-kalimat dalam Sumpah Pemuda tercipta. Inilah kalimat deklarasi itu

Kami putra dan putri Indonesia

Bangga menjadi manusia Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia

Siap sedia mencurahkan tenaga dan pikiran

Untuk membangun Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia

Bersumpah setia menjadi negarawan muda

Siap untuk belajar merawat Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia

Siap menempa diri menjadi pemimpin bangsa

Yang unggul, cerdas, dan berkarakter

Memegang teguh nilai-nilai moral dan budaya bangsa

Memegang teguh jati diri sebagai bangsa Indonesia

Rasa-rasanya pembahasan kami mirip persiapan kongres pemuda II di tahun 1928. Terserah mau di kata apa, tapi inilah kalimat yang insya Allah akan menghentak kota Solo esok hari.

bersambung ….