Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #7

Deklarasi Aksi Cinta Budaya Indonesia dan Inspirasi Besar Pak Indrawan Yepe

Inilah hari terakhir dari Rangkaian Temu Nasional Negarawan Muda Belajar Merawat Indonesia, Selasa 30 April 2013. Acara epilog temu nasional kali ini digelar di depan Taman Sriwedari kota Surakarta. Kami mengundang Pak Indrawan Yepe selaku representasi budayawan yang berjiwa aktivis beserta komunitas PINTU.

Peserta pun berangkat dari Tawang Mangu, meskipun sempat mengalami keterlambatan, karena di sana ternyata diadakan seremonial penutupan yang berakibat pada terlambatnya kedatangan peserta di lokasi. Ditargetkan datang jam 9.00 WIB ternyata peserta baru sampai pada pukul 10.00 WIB. Meski demikian hal ini tak mengurangi semangat Pak Indrawan Yepe untuk memulai wejangan inspiratifnya bagi para Negarawan Muda.

Beberapa poin yang saya petik dari orasinya yang luar biasa adalah tentang kemandirian seorang pemuda, yakni agar kita para mahasiswa bekerja keras agar tidak menjadi bagian dari pengangguran terdidik berikutnya. Selanjutnya adalah pentingnya untuk berkiprah nyata di masyarakat dalam berbagai aksi social yang konkret, bukan hanya demonstrasi dan berbagai kegiatan seremonial. Aksi social pengentasan kemiskinan tak hanya cukup dengan pemberian bantuan, tetapi mendongkrak mental masyarakat agar tidak bermental miskin dan lemah.

Ketika beliau berbicara tentang budaya, beliau menampilkan sebuah wejangan yang sangat fundamental. Aku termasuk yang terkejut dengan apa yang beliau sampaikan, yakni pentingnya generasi muda merekonstruksi cara pandang budaya agar kembali pada kedudukan semestinya. Saat ini kita terjajah dalam konteks budaya yang terlanjur sesat oleh kepentingan. Seperti bagaimana penggunaan kata Kyai yang seharusnya dia menampilkan sosok yang arif bijaksana ternyata saat ini bisa menjelma menjadi nama pusaka bahkan kerbau. Hal ini tentu bentuk destruksi kebudayaan yang membuat bangsa kita tidak bisa memaknai nilai-nilai budayanya sendiri. Dan beliau menutup orasinya dengan sebuah pesan yang tegas agar para negarawan muda berjanji untuk memberikan dedikasinya bagi bangsa dan negara.

Usai orasi dari pak Indrawan Yepe, sang gitaris yang pernah menyabet 3 rekor MURI, Muhammad Pradipta Bagaskara pun tampil memukau dengan komposisi yang dia buat sendiri, sebuah alunan gitar yang luar biasa dalam menaikkan semangat bagi para pendengarnya, jauh dari kesan rock yang hura-hura namun enerjik dan memberikan sebuah kucuran semangat untuk bergerak.

Di sela-sela itulah akhirnya Anggel Dwi Satria, sang ketua panitia memulai deklarasinya. Teks yang kami susun tadi malam akhirnya dikumandangkan bersama-sama dengan lantang dan penuh semangat. Yah, kami adalah bagian dari negarawan muda Indonesia yang memiliki tanggung jawab untuk berkiprah pada negeri ini, sekarang dan nanti. Aku menyaksikan bagaimana semangatnya teman-teman melantunkan ikrar tersebut.

Dan dengan sigap usai deklarasi itu, para peserta segera menandatangani sebuah spanduk yang telah kami siapkan dengan tajuk Aksi Cinta Budaya Indonesia. Puluhan tanda tangan memenuhi MMT tersebut. Aku menyaksikan dengan penuh takjub, diiringi komposisi Dipta yang keren. Semua terasa indah menjadi penutup acara temu nasional yang telah berlangsung sejak hari jumat itu.

Para wartawan sibuk meliput dan mewawancarai kami. Entah ini akan menjadi berita seperti apa, tapi hari ini aku dan kawan-kawan merasa bersyukur atas kelancaran acara temu nasional ini. Delapan panitia dengan 2 panitia tambahan mampu menghandel acara yang melibatkan 80-an peserta selama 5 hari dengan biaya hampri 180 juta itu adalah pengalaman pertamaku. Akhirnya aku punya sejarah indah untuk hidupku. Terima kasih Bakti Nusa atas kesempatan emas yang diberikan ini.

 Perpisahan yang Ceria

Meski beberapa peserta telah pulang di waktu sebelumnya. Tapi inilah momentum yang paling berat bagi kami selaku tuan rumah. Namun menatap wajah teman-teman yang tampak puas dan terinspirasi dari agenda 5 hari ini menjadikan ku bersyukur dan gembira. Yah, itu artinya temu nasional di Solo cukup berhasil. Terlebih ketika mas Fachri memberikan apresiasi kepada kinerja kami yang dinilai kompak oleh beliau. The great and Inspiring Team, demikian kata beliau. Terima kasih mas Fachri, mas Edi, mas Arief, dan mbak Rizka. Kalian semua luar biasa.

Dan akhirnya kami berpisah di halaman masjid Agung kota Surakarta menuju stasiun dan terminal untuk mereka melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman dan kampus mereka masing-masing. Selamat jalan kawan-kawanku, semoga kita bisa berjumpa lagi di kesempatan yang lebih baik.

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #6

Memecah Kebuntuan

Memang temu nasional kali ini meskipun digelar selama 5 hari, tetaplah menjadi sesi yang sangat padat. Usai outbond, malam harinya semua peserta harus mempresentasikan hasil Live in-nya dan perwakilan tiap kampus wajib menampilkan kreatifitas seninya. Di pandu salah satu rekan kami, Greget Kalla Buana, panitia yang lain akhirnya berkumpul di lantai bawah untuk memecahkan satu masalah yang masih belum beres, yakni deklarasi temu nasional.

Kami berlima (karena dua yang lain sedang membereskan urusan di Solo untuk agenda hari terakhir besok) melakukan FGD sampai larut malam untuk memecahkan konsep deklarasi yang keren buat besok. Meskipun aku sudah menghubungi Pak Indrawan Yepe sebagai master trainer di epilog besok, kami masih merasa ragu dengan gambaran deklarasi yang akan kami lakukan pasca itu. Yang pasti kami belum menemukan kalimat deklarasi yang pas untuk membawa kesamaan dengan peserta tentang Aksi Cinta Budaya Indonesia, di mana di sini konteksnya adalah untuk menggali nilai-nilai luhur budaya untuk memperbaiki kepemimpinan bangsa.

Akhirnya sebuah untaian syair, agak meniru kalimat-kalimat dalam Sumpah Pemuda tercipta. Inilah kalimat deklarasi itu

Kami putra dan putri Indonesia

Bangga menjadi manusia Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia

Siap sedia mencurahkan tenaga dan pikiran

Untuk membangun Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia

Bersumpah setia menjadi negarawan muda

Siap untuk belajar merawat Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia

Siap menempa diri menjadi pemimpin bangsa

Yang unggul, cerdas, dan berkarakter

Memegang teguh nilai-nilai moral dan budaya bangsa

Memegang teguh jati diri sebagai bangsa Indonesia

Rasa-rasanya pembahasan kami mirip persiapan kongres pemuda II di tahun 1928. Terserah mau di kata apa, tapi inilah kalimat yang insya Allah akan menghentak kota Solo esok hari.

bersambung ….

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #5

Aksi Sosial dan Kenali Budaya Warga

Senin pagi, 29 April 2013 hadir ditandai mentari pagi nan cerah. Pondok Sari terasa sepi karena para penghuninya sedang bermalam di rumah penduduk. Katanya, ada bapak-bapak yang sengaja akan membawa mereka ke gunung sejak pagi. Yah, kami selaku panitia pasrah bongkokan saja kepada mereka bagaimana memperlakukan teman-teman kami. Karena ini adalah sesi pembelajaran nyata bagaimana bergaul di masyarakat.

Lagi-lagi aku dan mas Arief mengerjai tim Beastudi. Karena kemarin mereka belum ada yang ikut, kami mengajak mereka jalan kaki. Ha ha ha, mas Fachri, mas Edi, mas Udi, mbak Rizka dan beberapa fasilitator yang ikut tampak kepayahan. Kami tetap enjoy mengambil gambar-gambar mereka yang mulai kecapekan di tengah jalan. Maaf ya mas, tapi sesekali perlu kan yang ginian.

Setelah melalui perjalanan panjang, sampailah kami di rumah Pak RT sebagai pangkalannya panitia. Aku dan mas Arief tak ingin berhenti di situ saja, keinginan memburu gambar-gambar para peserta yang ikut kegiatan social penduduk seperti ke sawah, memasak dan sebagainya. Semuanya mengasyikkan. Aku ikut bersyukur karena teman-teman dari berbagai kampus ini tampak menikmati kehidupan bersama warga.

Menjelang siang, sesi Live in harus berakhir karena peserta harus segera mengikuti outbond di Lawu Resort. Sebagai penutup kegiatan Live in kami berkumpul di rumah salah satu warga yang memiliki perkumpulan reog. Di sana kami mendengarkan cerita cikal bakal Desa Pancot, Kalisoro, Tawang Mangu. Banyak hal yang menarik perhatian teman-teman kami khususnya yang mereka bukan berasal dari latar belakang budaya jawa.

Outbond dan Tembak-tembakan Panitia vs Beastudi Indonesia

Setelah sesi live in selesai, perjalanan dilanjutkan ke Lawu Resort. Di sana tim Trustco telah menanti kami untuk segera mengajak teman-teman bermain. Berbagai permainan disajikan untuk mengajak teman-teman lebih akrab dan merasakan kebersamaan. Hal yang menurutku menarik adalah game gestur, tentang kerja sama orang buta, bisu dan tuli dalam rangka mengambil suatu benda. Si bisu memberi tahu si tuli, si tuli memberi instruksi si buta agar mengambil beberapa benda.

Ramai dan semuanya sampai berteriak-teriak bukan main serunya. Di sudut lain, kami sedang menerima banyak nasihat dari mas Edi karena ada beberapa hal yang harus kami perbaiki dan menjadi evaluasi selama pelaksanaan.

Dan sampailah kami pada sesi permainan yang keren. Aku baru pertama kali mengalaminya hari ini meskipun sebenarnya sudah sering melihat di televise. Paint Ball alias tembak-tembakan dengan peluru warna-warni yang bisa pecah. Banyak hal yang lucu selama pertandingan, khususnya antar pesertanya. Tapi kami pun tak mau kalah setelah Panitia menantang Tim Beastudi dan Fasilitator. Meski mereka adalah orang-orang hebat, kami panitia tidak takut. Pertandingan sengit pun terjadi hingga akhirnya kami bisa mengalahkan koalisi tersebut dengan tanpa satu pun rekan kami ada yang tertembak. Ha ha ha, karena tim musuh kehabisan peluru.

bersambung …

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #4

Gerakan Sosial dan Charracter Building

Ahad pagi menjelang, tarikh 28 April 2013 ini adalah hari ketiga rangkaian temu nasional. Sebuah hari yang indah bagi kami di salah satu lereng Gunung Lawu. Aku manfaatkan pagi hari ini dengan berjalan-jalan menemani Mas Romi sambil berdiskusi banyak hal. Hemm, aku merasa beruntung dengan berbagai kesempatan yang ada ini.

Menjelang siang, seperti biasa kami terbagi menjadi dua lagi. Yang adik-adik bersama Pak Erie Sudewo untuk mendapatkan penjelasan tentang Charracter Building, sebuah training super yang wajib diikuti penerima beasiswa aktivis ini, dan jujur inspirasi yang kudapatkan tahun lalu hingga kini masih tertancap kuat di kepalaku.

Sedangkan kami yang angkatan atas awalnya berencana ke Grojogan Sewu. Kalo aku pribadi sih udah bosen, paling-paling juga ketemu monyet-monyet tampan bergaya Punk. Atas inisiatif mas Fachri dan teman-teman Beastudi Indonesia, akhirnya kegiatan difokuskan pada hal yang lebih bermanfaat, yakni presentasi dan pembahasan program sosial.

Ini sesi yang menurutku luar biasa, di mana ide-ide aktivis yang sesungguhnya dimunculkan. Aku kagum dengan gagasan Gerakan Cinta Anak Tani yang dirilis teman-teman IPB, Green Live Style berikut gerakan internasional yang digagas UI, Komunitas Negarawan Muda yang digagas UGM, Save our Children yang digagas Unsri, Aku Bisa Kuliah yang digagas ITB, dan Aksi Cinta Budaya Indonesia yang kami presentasikan setelah melalui diskusi panjang di bulan-bulan sebelumnya.

Aku menemukan sosok-sosok luar biasa ketika sesi ini, termasuk Quote dari mas Edi yang konyol (tapi benar juga sih), “Orang-orang yang serius adalah orang-orang yang akan merusak peradaban“. Meskipun sebenarnya aku belum sepenuhnya paham, tapi setidaknya bisa dimengerti bahwa itu adalah sebuah pesan komunikatif bagi para aktivis hari ini agar bisa bersinergi membangun bangsa.

Mbolang ke Rumah Penduduk

Setelah sesi ruangan selesai, kami para panitia telah menyiapkan sebuah kegiatan yang menarik. Live in Society alias tinggal bersama di rumah penduduk. Tampaknya para peserta juga tertarik dengan konsep ini, selain ini menjadi tren baru dalam sebuah pelatihan, lokasi yang kami pilih juga menantang bagi mereka. Bagi kami para panitia, hal ini dapat menjadi pelipur lara kami setelah kami gagal melakukan kegiatan survival bagi peserta dalam perjalanan dari Solo ke Tawang Mangu. Gara-gara supir angkutan yang berbahan bakar solar mogok kerja karena kelangkaan solar akhirnya rencana survival untuk peserta terpaksa kami batalkan dan kami sewakan bus untuk mengantar mereka ke Tawang Mangu.

Aku bersama mas Arief Hudaya, Marketing dan Komunikasi (kadang disebut Markom, kadang disebut Komar) Beastudi Indonesia memulai petualangan meliput teman-teman yang tengah melakukan kegiatan. Sambil menyambut senja, kami menikmati wajah teman-teman yang kuyu karena berjalan naik turun melewati perbukitan di kawasan Tawang Mangu ini. Bagiku, ini adalah perjalanan yang sangat indah, karena pemandangannya asri dan sejuk. Ketika hari mulai malam, kami segera pulang. Dan ini adalah malam yang paling plong buat panitia, karena kami bisa istirahat dengan tenang setelah sebelumnya kami hampir hanya memiliki kesempatan istirahat kurang dari 5 jam.

bersambung …

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #3

Seminar Nasional (Pertaruhan Habis-Habisan Kami)

Hari ini Sabtu, 27 April 2013 agendanya adalah seminar nasional. Para peserta yang berasal dari 7 kampus ternama di Indonesia, ada dari Universitas Sriwijaya, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan tentunya sang tuan rumah Universitas Sebelas Maret Surakarta. Hari ini aku tak bisa berbuat banyak, jangankan mengikuti seminar, berbagai hal lain harus kukerjakan untuk memback up teman-teman yang sibuk menghandle seminar bersama teman-teman BEM UNS.

Seminar kali ini cukup pelik mengingat pembicara-pembicara unggulan yang telah dihubungi sejak awal, satu per satu membatalkan diri. Sambil terus diliputi kekhawatiran akhirnya kami bisa mendapatkan ganti pembicara meskipun kualitasnya jelas tak sebagus yang kami rencanakan. Para politisi yang berkantor di Senayan ini didampingi salah satu ibu kami di Dompet Dhuafa, Ibu Sri Nur Hidayah, seminar dapat berjalan dengan baik dan sukses.

Tak kalah peliknya adalah perjuangan keras mas Edi dan mas Krisna ketika mas Slamet Gundono, selaku budayawan muda yang akan diberi anugerah budayawan tidak berkenan hadir di hari H. Akhirnya dengan tawaran kesempatan tampil di muka, sang budayawan muda ini pun akhirnya mau tampil dan mementaskan karyanya, Wayang Suket sebagai awalan seminar. Sangat menarik dan memukau para pengunjung (katanya, soalnya aku tidak bisa menyaksikan)

Di saat seminar berlangsung, aku bersama seorang adik BEM dan sopir sewaan selama semnas, memindahkan 80-an koper dan tas para aktivis dari penginapan di TBJT ke masjid NH IC UNS. Wow banget, dan ternyata kami masih memiliki kekuatan mengerikan untuk jadi kuli. He he he

Pondok Sari Menyapa

Agenda inti hari ini di Kota Solo telah selesai. Bus Langsung Jaya yang kami sewa telah sedia menunggu para aktivis untuk segera melanjutkan perjalanan ke tempat yang jauh. Tempat yang nyaman untuk menyepi dan melakukan kontemplasi, Tawang Mangu. Singkat cerita, bus itu membawa kami ke sebuah hotel yang cukup representatif untuk proses penggemblengan kami selama 2 hari ke depan.

Bus berhenti di depan sebuah Hotel bernama Pondok Sari 2. Sebuah spanduk besar menyambut kedatangan para penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa), nama yang indah dan luar biasa spiritnya. Dan malam itu kami melakukan pengakraban diri sebelum akhirnya dilanjutkan dengan serangkaian materi penting dari Dompet Dhuafa selaku pemberi beasiswa kami.

Sesi malam ini dibagi menjadi 2. Angkatan atas, termasuk kami yang panitia ikut di sesi kontemplasi dan persiapan tahun kedua bersama mas Romi Ardiansyah, selaku kepala Beastudi Indonesia. Sedangkan adik-adik kami angkatan baru, mereka bersama Bu Sri Nur Hidayah mengenal DD dan Beastudi Indonesia. Pertemuan itu berakhir cukup larut malam hingga hawa dingin yang kata anak-anak UI melebihi kawasan Puncak membuat tidur kami lelap.

bersambung ….

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #2

Bincang Budaya

Setelah para peserta cukup beristirahat, usai Ashar acara pembukaan dimulai. Alhamdulillah kebagian nampang jadi MC merangkap moderatornya (maklum, temu nasional ini hanya dihandel 8 orang, plus 2 additional player). Hadir di sini KGPH Dipokusumo atau yang dikenal dengan Gusti Dipo dan Dr. Lukman Hakim, selaku Pembantu Dekan III FE, mewakili Pembantu Rektor III UNS. Dalam bincang budaya itu, dibahas sejarah Solo dan kepemimpinannya. Sebagai salah satu bagian dari keluarga keraton Surakarta, ternyata Gusti Dipo mampu menguraikan banyak hal di luar ekspektasiku, bahkan diluar ekspektasi para panitia. Amazing pokoknya!

Singkat cerita, ada pokok-pokok nilai kepemimpinan yang menancap di pikiranku. Hari ini semua telah berubah, tata nilai kehidupan masyarakat Jawa telah mengalami banyak perubahan. Namun demikian, tidak berarti kita membiarkan westernisasi mengobrak-abrik tata nilai yang dimiliki masyarakat timur ini. Menggali dari nilai-nilai budaya untuk perbaikan kepemimpinan bangsa perlu segera dilakukan oleh generasi muda hari ini. Hal ini tidak selalu identik dengan melestarikan budaya dalam pengertian praktis, tapi bagaimana filosofi-filosofi yang terkandung dalam budaya kita mampu direfleksikan sebagai spirit kepemimpinan bangsa yang baru.

Gusti Dipo juga menasihati agar para generasi muda menjaga spirit KKN (bukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), yaitu Komitmen, Konsisten, dan Networking. Selain itu, seharusnya para aktivis kampus hari ini harus terus berjejaring agar terlahir konsep pembangunan bangsa yang menitikberatkan pada keunggulan komparatif, kompetitif, dan kooperatif.

Gusti Dipo menanamkan paradigma bahwa musuh terberat para pelajar, utamanya mahasiswa adalah diri mereka sendiri. Ketika kita tak mampu menguasai diri kita, kita justru menjadikan kawan-kawan kita seperti rival yang harus disingkirkan satu sama lain. Padahal seharusnya sesame pelajar dan mahasiswa itu adalah rekan kerja sama dalam mensinergikan visi dan mimpi untuk bangsa. Konsep yang sudah salah sejak usia sekolah ini menumbuhkan ego sektoral yang semakin menguat, maka ketika menjadi politisi dan pengusaha justru semakin memperpuruk bangsa.

Salah satu masalah yang dihadapi pemimpin bangsa ini adalah hilangnya keunggulan kooperatif yang mereka miliki. Kedewasaan para pemimpin bangsa untuk bisa bersaing sekaligus bekerja sama dan bersinergi dalam membangun bangsa masih menjadi angan yang jauh hari ini di tengah ganasnya persaingan politik yang makin mencirikan kanak-kanaknya sikap para politisi kita. Akhirnya bincang budaya ini memantik antusiasme para Negarawan Muda untuk bertanya kepada kedua pembicara berkaitan dengan pendidikan tinggi dan upaya pelestarian nilai-nilai budaya.

Gelak Tawa di Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari

Agenda sore telah selesai. Para peserta makan malam dan bersiap untuk kegiatan malam. Yakni mengunjungi salah satu tempat hiburan budaya di taman Sriwedari, Gedung Wayang Orang, tempat pagelaran wayang orang dengan lakon wayang Purwa. Kali ini mengangkat tema “Petruk dadi Wrekudara“, itu adalah tema yang direquest oleh panitia. Dilengkapi dengan LCD dan transeliterasi bahasa Indonesia (agar para peserta yang tidak mengerti bahasa Jawa bisa memahami lakon dengan baik).

Sempat roaming juga dengan bahasa para pandawa saat jejer atau dialog berlangsung. Dan inilah sebuah pelajaran berharga bahwa dalam wayang pun sebenarnya pembicaraan seseorang itu menunjukkan kastanya. Menyimak pembicaraan para tokoh utama wayang rasanya harus pasang antena tinggi agar bisa mengerti apa yang mereka bicarakan. Hal ini sangat berbeda ketika yang sedang berbicara adalah para punakawan yang sedang berdiskusi dan bercanda ria. Mereka cerminan rakyat biasa yang hidup tenang di bawah naungan kepemimpinan yang adil.

Di samping itu, aku juga banyak mengerti mengapa warisan seni budaya yang indah ini kerap bernasib memprihatinkan, kalah oleh gempuran budaya asing yang terus menerus membuat bangsa ini lupa akan jati dirinya. Padahal jika kita mau mengerti, banyak para seniman yang mendedikasikan hidupnya untuk terus melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam wayang ini, seperti yang sudah diracik oleh para Wali ketika dulu mereka melakukan pendekatan dakwah di tanah Jawa.

Dan yang paling berkesan, para pelaku wayang orangnya mau berbusana lebih tertutup (tidak kembenan) seperti aslinya. Dengan permintaan khusus dari kami, mereka bisa tampil lebih baik dan indah dibandingkan saat mereka menggunakan pakaian yang biasanya.

bersambung ….

Kategori
Catatan Perjalanan

Kisah Temu Nasional Bakti Nusa 2013 #1

Prolog

Hari ini, Jumat 26 April 2013 adalah hari pertama berlangsungnya kegiatan kami, Temu Nasional Para Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) tahun 2013. Sebuah pertemuan spesial yang diselenggarakan oleh Beastudi Indonesia, tangan panjang Dompet Dhuafa dalam pengembangan sumberdaya manusia. Dan lebih spesial lagi kami berdelapan, penerima BA UNS angkatan II (angkatan pertama kalau di UNS-nya) adalah panitianya. Baru kali ini kami berdelapan orang menghandel sebuah event berskala nasional. Bismillah, temu nasional kali ini mengusung tema NEGARAWAN MUDA BELAJAR MERAWAT INDONESIA.

Konyol Namun Bermakna

Setelah seharian hingga malam ke sana ke mari mengurus berbagai persiapan kegiatan (maklum aku sie perkap alias si serbaguna), eh pagi-pagi udah di SMS katanya ada 20-an peserta yang datang. What? Taman Budaya Jawa Tengah yang menjadi tempat transit sementara baru buka jam 8 oi. Buru-buru aku ke sana (sempat mandi sih) dan meminta Bapaknya untuk segera membereskan. Ternyata dari 10 kamar yang dipesan, ada 3 yang masih di huni. Hoho, ya sudah, yang 7 kubereskan dan siap ditempati sampai 3 kamar yang lain siap.

Dengan penampilan ala kadarnya dan beberapa PR yang masih tertinggal (karena sakit 2 hari) aku mondar-mandir di wisma seni. Usai memberesi masalah tempat, tibalah saatnya istirahat dan membuat slide-slide presentasi yang terutang selama sakit beberapa waktu lalu. Di tengah kumpulan para seniman dan budayawan (menurutku begitu), aku segera berselancar di dunia online untuk mencari inspirasi.

Alhasil, aku justru menikmati diskusi dari Bapak-Bapak yang juga online di sekitarku. Rupanya mereka adalah para pegiat seni dan sosial yang kental dengan tema-tema pengentasan kemiskinan. Meskipun percakapan mereka diwarnai dengan pisuhan (ungkapan kata-kata kasar dalam bahasa Jawa) seperti asu, bajingan, dan teman-temannya, namun rupanya tema yang mereka diskusikan sangat menarik.

Pertama, permasalahan pengentasan kemiskinan, khususnya dunia anak-anak  dan orang pinggiran menjadi sangat seksi di mata mereka. Bahkan mereka semua ternyata telah memiliki program yang berjalan didaerahnya masing-masing. Ada yang sifatnya pemberdayaan ekonomi dan ada pula yang pengembangan potensi seni. Kuncinya adalah mereka berupaya agar anak-anak yang berekonomi rendah dan orang-orang miskin di pinggiran itu berdaya dan mampu mengoptimalkan potensi yang mereka miliki.

Kedua, mereka adalah orang-orang yang kini benar-benar membenci aktivitas pemerintahan, termasuk politik yang berkembang hari ini. Bahkan dengan gaya pisuhan Jawa yang mengerikan mereka menghujati LSM-LSM yang memanfaatkan orang-orang miskin sebagai sarana penumpukan kekayaan, termasuk bagaimana persahabatan LSM tersebut dengan Bank-Bank Konvensional untuk membuat uang mereka beranak pinak. Mereka juga benci dengan aktivitas birokrasi pemerintahan yang sering menyunat anggaran atau meminta komisi atas setiap aktivitas yang basah.

Ketiga, mereka adalah orang yang tulus untuk memberikan bantuan dengan cara dan gaya mereka. Jiwa seni dan semangat budaya yang mereka miliki terkadang justru lebih membuat mereka peka dari pada para politisi yang duduk di kursi pemerintahan. Korupsi yang mengakar dan dipraktekkan dengan baik oleh para birokrat mulai dari yang paling kecil (Ketua RT, Ketua RW, Dukuh, Lurah) hingga yang lebih tinggi dari itu ternyata menjadi hal yang sangat memuakkan di mata mereka, itulah sebab mereka sudah benci dan antipati terhadap politik.

Kesimpulannya dari satu setengah jam stress ngerjain slide (karena inspirasinya tak kunjung hadir) aku mendapatkan inspirasi yang lain meskipun akhirnya tugasku selesai juga sebelum shalat Jumat.

bersambung ….

Kategori
Refleksi

Menjadi Mahasiswa “Biasa”

Ceritanya ini adalah sebuah pesan kecil untuk adik-adik SIM yang sekarang tengah menggila dengan karya dan sebuah peringatan atas kekhawatiran yang boleh jadi akan terjadi di kemudian hari. Sebagaimana sejarahnya, dan tentunya visi yang diimpikan oleh para BEM-ers pada era 2006-an, kehadiran UKM Keilmiahan adalah untuk mendongkrak prestasi UNS di bidang keilmiahan dan menumbuhkan mindset keilmiahan pada semua aktivis kampus UNS, maka kehadiran SIM yang merupakan jawaban atas mimpi besar para pendahulu itu diharapkan mampu merealisasikan visi yang telah ditanamkan itu.

Setelah dua tahun kepengurusan, kini SIM telah memasuki usianya yang ketiga. Benih-benih kejayaan itu mulai nampak dengan banyaknya obsesi keluarga keilmiahan ini untuk jalan-jalan melihat luasnya Indonesia dan suasana mancanegara. Kepergianku ke Jerman sebulan di akhir tahun lalu sepertinya menandai bahwa setelah itu satu per satu dari mereka akan segera melakukan hal yang sama. Tak heran jika akhirnya sudah ada yang ke Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan terakhir kemarin ada yang ke Bangkok. Menyusul kemudian akan ke Kuala Lumpur lagi dan ke Taiwan.

Semua itu sebenarnya hal yang seharusnya “biasa”. Mengapa? Karena tugas Studi Ilmiah Mahasiswa dan orang-orang yang berkhidmat di dalamnya adalah mengembalikan kebiasaan mahasiswa. Menulis, berkarya, berinovasi, menjadi solusi, melakukan pengabdian, menjadi aktivis organisasi, berprestasi, jalan-jalan ke kampus lain, keliling Indonesia, jalan-jalan ke luar negeri, jadi paper presenter, jadi orator dan yang sejenisnya, bukankah itu adalah aktivitas yang seharusnya “biasa” bagi mahasiswa? Aneh bin ajaibnya aktivitas itu dianggap sebagai hal yang wah bagi kebanyakan mahasiswa sekarang. Masalahnya, apa perbedaan mahasiswa dengan yang tidak pakai maha, alias siswa? Atau jangan-jangan memang system pendidikan kita menurunkan level mahasiswa menjadi siswa-siswa saja. Yang taraf berpikirnya biasa-biasa saja, yang etos kerjanya pas-pasan sebatas kerja dan dapat uang saja.

Ada hal yang berbahaya yang wajib diwaspadai setiap orang di SIM. Godaan prestasi dan berbagai tawaran kemudahan untuk menikmati berbagai fasilitas kampus membentang di depan mata. Obsesi untuk bergelar juara pun tak pelak membuat kita begitu terobsesi mati-matian hingga yang awalnya visi menjadi sebuah ambisi. Salah satu korbannya adalah ketika dalam organisasi itu ada teman sevisi yang tak terobsesi seperti ambisinya untuk meraih gelar-gelar itu karena memang memiliki passion mewujudkan karya dalam bentuk lain. Bahasa sederhananya, yah akhirnya yang hobi jalan-jalan itu, karena terlalu ambisius akibatnya memaksa dengan bahasa halus kepada mereka-mereka yang memang passionnya dirumah. Lama-lama kesannya, yang memang enak suka jalan-jalan tetap dalam jalan-jalan dan memilih tidak mau kerja ketika saatnya harus bekerja, karena alasan jalan-jalan memang sulit ditolak juga. Sedangkan yang tinggal di rumah tetap berharap bisa bepergian dengan cara yang lain meskipun tak kunjung menemukan jawaban.

Hati-hati adik-adikku. Inilah titik kecemburuan yang suatu saat akan terjadi. Karena mewujudkan visi yang menjadi mimpi bersama organisasi dengan mengejar ambisi pribadi untuk dihargai itu beda tipis, bahkan saking tipisnya memang tidak bisa dibedakan kecuali setelah terjadi akibatnya di kemudian hari. Mari kita kembali kepada asal dari visi lembaga besar ini, mengembalikan fitrah mahasiswa untuk berkiprah sebagaimana “biasa“-nya mahasiswa. Tidak ada yang wah sama sekali sebenarnya melakukan aktivitas karya dan berpetualang itu. Karena bukankah itu memang seharusnya yang dilakukan mahasiswa. Kalau di kampus hanya mendengar, menyimak, kemudian menulis kembali (kadang lupa) demi dosen-dosen yang terkadang memberi nilai kurang memuaskan dan terkadang ada juga yang kurang obyektif, alangkah borosnya uang dan waktu kita.

Jadi, inilah sebuah pesan yang harus selalu diingat-ingat oleh kita semua. Orang SIM bukan orang eksklusif yang benar-benar ingin semata-mata mengejar karya dan jalan-jalan. Itu adalah aktivitas yang memang sewajarnya dilakukan sebagai hiburan dan pengurang stress ditengah penatnya dan padatnya sistem kuliah yang memang belum bisa berubah menjadi lebih manusiawi (dan memang sebaiknya tetap diikuti dari pada dicela dan tidak diluluskan). Ketika kita melihat siapa pun di samping kita tidak bersikap “biasa“ sebagaimana seharusnya kaum cendikia, maka kita ajak ia. Jika lembaga-lembaga mahasiswa lain minta bantuan, maka sudah saatnya untuk berkiprah di sana. Kita berbagi dan terus memberi, bukan mencari dan meminta. Selagi kita bisa memberi, maka utamakan itu sebelum kita meminta hak kita. Memberi-memberi.

Allah maha membuka, pasti akan terlihat siapa-siapa yang bergabung di SIM ini demi sebuah ambisi dan siapa-siapa yang bergabung karena memang suka dan menjadikan jalan ini untuk pengabdian. Visi dan ambisi, beda tipis dan hanya hati masing-masinglah yang bisa membedakan. Yang pasti, ambisi akan menghancurkan banyak orang dan banyak sistem yang telah terbangun tanpa disadari. Yang menulis ini pun juga takut ketika menorehkan tulisan ini karena bukan berarti yang menulis ini aman dari penyakit itu. Jika kita mau belajar dan mengamati jeli, bukti dari hal ini telah tersebar di sekitar kita, termasuk bagaimana ruwetnya bangsa kita yang selalu sulit untuk menapak jalan menuju visinya padahal potensi SDM-nya berlimpah.

Beruntung Allah menganugerahi kita negeri yang teramat kaya. Ditongkrongin Belanda 350 tahun, Jepang 3,5 tahun hingga kini masih bisa sedekah emas cuma-cuma kepada Amerika hingga 8.000 triliyun per tahun. Memang negeri yang luar biasa, karena kayanya seolah negeri ini dicurangi, dikorupsi, bahkan diperas juga tidak kering-kering. Kasihan rakyat yang tidak mengerti, ditambah kaum intelektualnya yang lebih mementingkan diri sendiri. Semoga ini menjadi refleksi, khususnya buat adik-adikku SIM yang kini tengah bersenang-senang dalam lembaga yang katanya baru. Ingat, visi dan ambisi beda tipis, hanya kita masing-masing sesungguhnya tahu apa yang bersemayam di hati kita. Tetap BELAJAR – BERKARYA – MENGABDI

Kategori
Special Moment

Nama “Besar” pun Tak Cukup

Malam ini aku habis menyelesaikan pekerjaan orang tua untuk memberi hadiah pada anak-anak setelah bekerja keras membantu menyukseskan hajatan besar SIM, FILM 2012. Alhamdulillah setelah melalui beberapa hambatan yang tidak penting namun bikin lama, akhirnya tercetaklah puluhan sertifikat itu dari hasil kerja keras temanku yang super sibuk. Dan malam ini nama-nama orang yang berjasa itu kusematkan dalam sertifikat itu sebagai tanda cinta kami kepada mereka.

Setelah pekerjaan selesai, tiba-tiba muncul seorang adik unik, anggota ngapakers. Dia unik karena barangkali aku baru ketemu seorang yang pemikirannya telah jauh meninggalkan kadar usianya. Seorang yang cukup visioner untuk dibandingkan dengan usianya yang masih muda. Aku kagum sampai hari ini dan bahkan terobsesi untuk menjadikannya generasi unggul di masanya nanti. Yah, itu pilihan untuknya. Kata orang Jawa, eman-eman kalau potensinya yang besar itu suatu saat harus dikebiri oleh sistem yang mengkerdilkan pemikirannya.

Setelah transaksi nge-print selesai, ku ajak dia berdiskusi di sebuah hik favoritku. Di sana aku sering mengajak adik-adik halaqahku makan bareng atau diskusi dengan teman-teman karibku (yang cowok pastinya). Diskusi malam ini sungguh di luar dugaan. Aku tercengang melihat lompatan-lompatan pemikirannya yang begitu tajam dan menggugah. Dalam benakku ingin berkata, idealismu harus senantiasa di jaga. Aktivitasmu harus senantiasa diarahkan agar jangan sampai potensimu yang besar ini tidak berkembang sesuai dengan porsinya. Layaknya orang tua aku lebih banyak mendengar dan mengafirmasi gagasan-gagasannya yang cemerlang itu.

Berawal dari masalah organisasi, dia bercerita bagaimana eksklusivitas sebuah gerakan kampus di mata mahasiswa dan birokrat sudah tidak wajar lagi hari ini. Baginya, harus ada revolusi untuk memperbaiki persepsi umum bahwa kita adalah aktivis yang ingin berbagi dan senantiasa mengajak untuk upaya perbaikan. Bukan untuk yang lain. Maka itulah mengapa dia hingga kini belum bersedia mengikuti agenda pintu masuk digerakan yang kami bicarakan ini. Dan yang membuat dia kecewa adalah orang yang dulu bermanis wajah kepadanya sewaktu mengajaknya bergabung hari ini juga sudah tidak bersikap wajar kepadanya. Dia bertanya, apakah dengan kecewa lantas membuatnya harus bersikap berbeda kepadanya padahal ini hanya masalah ajak mengajak yang konsekuensinya juga mau dan tidak mau. Aku menghela nafas, memang seharusnya tidak perlu begitu. Karena semua itu pilihan, dan setiap pilihan itu boleh dipilih.

Selanjutnya adik keren ini bercerita tentang visinya untuk Indonesia. Jadilah pembicaraan kami melebar ke mana-mana mulai dari sejarah bangsa hingga upaya perbaikan ekonomi. Satu hal yang begitu berkesan bagiku adalah ketika dia berkata, “Kenapa kita lebih sibuk menjelek-jelekkan para pemimpin bangsa kita? Padahal mereka juga punya prestasi. Orang kalo mau dilihat jeleknya aja ya bakal jelek terus”. Dia kemudian mengungkapkan gagasannya untuk menulis buku tentang prestasi-prestasi presiden Indonesia dari masa ke masa. Bagiku itu adalah gagasan yang cemerlang, hanya saja aku secara pribadi belum setuju jika ditulis prestasi semua presiden, karena ada 2 nama yang masih kontroversial dalam diriku. Apalagi jika ditanyakan tentang prestasinya.

Dan pembicaraan malam ini berakhir dengan rasa syukur, inikah generasi ketiga setelahku nanti. Generasi keduaku telah bersiap untuk lepas landas. Inikah yang ketiga? Wallahu’alam, tetapi aku yakin hanya orang-orang yang berani berpikir visionerlah yang kelak akan memberikan kontribusi dan perubahan besar bagi negeri ini di saat para pengkhianat bangsa sibuk berselindung dalam berbagai ketokohan dan nama besar. Aku tidak percaya lagi dengan nama besar seseorang, tetapi aku selalu percaya bahwa para negarawan itu adalah orang yang namanya besar karena pengabdiannya. Siapakah yang ingin jadi negarawan? Aku ingin menjadi negarawan selanjutnya.

Kategori
Tokoh

Melihat Habibie Lebih Dekat, Menyemai Jejak Menjadi Negarawan Sejati

Siapa yang tidak mengenal sosok B. J. Habibie? Seorang ahli aeronautika muslim yang namanya mendunia dan telah masuk dalam deretan ilmuwan fisika. Tidak hanya dikagumi rakyat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Seorang muslim yang kisah kehidupannya begitu memesona untuk disingkap dan dipelajari. Gaya bicaranya yang khas berikut sorot matanya yang tajam, serta senyumannya yang selalu mengembang pernah menghiasi layar televisi di Indonesia beberapa tahun silam.

Namun kini, sosok beliau bisa jadi telah dilupakan. Seolah-olah bangsa ini tidak pernah memiliki seseorang yang telah berjasa mengharumkan nama bangsanya melalui akselerasi pengembangan teknologi. Padahal, di balik perjuangan beliau tersingkap sederet pelajaran berharga yang seharusnya dapat ditiru oleh generasi di zaman ini. Ada cinta yang besar dalam sanubari beliau untuk membangun bangsanya. Ada segudang prestasi beliau yang telah mengguncang dunia dan mengharumkan Indonesia.

Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba memaparkan secara singkat biografi beliau sebagai sebuah apresiasi yang besar atas jasa-jasa beliau untuk negeri ini. Sehingga kita menjadi lebih dekat dan mengenal beliau sebagai inspirator bagi generasi muda Indonesia. Agar kita dapat menjadi negarawan sejati seperti beliau dan para founding father negara ini yang telah mendahului kita.

Dalam bukunya yang berjudul “The True Life of Habibie, Cerita di Balik Kesuksesan”, Makmur Makka mengungkapkan secara ilmiah tentang kehidupan B. J. Habibie. Dia merupakan seorang anak desa yang terlahir dari keturunan darah Bugis dan Jawa. Dia merupakan anak yatim, karena ayahnya telah wafat ketika usianya masih anak-anak. Namun, di masa ini pula Habibie tumbuh menjadi seorang anak yang kuat dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip agamanya. Penanaman nilai-nilai agama yang diberikan oleh kedua orang tuanya, khususnya sang Ibu dan kelak akan terlihat hasilnya ketika beliau menghadapi berbagai tantangan di masa tuanya.

Di usia sekolah, kepandaiannya tampak biasa-biasa saja sebagaimana teman-temannya. Prestasinya mulai tampak dan dirinya mulai bersinar ketika telah memasuki masa-masa SMA, yaitu ketika ia dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan fisika, seperti pelajaran Stereo Goneo secara lebih singkat jauh melampui kemampuan teman-temannya. Sehingga oleh Pak Gouw, gurunya di kala itu dia diberi nilai maksimal dan predikat prestasi yang baik.

Setelah tamat dari tingkat SMA, Habibie melanjutkan ke THS (sekarang ITB) sesuai dengan keinginannnya untuk mengembangkan bakatnya dalam bidang teknik, khususnya fisika. Baru beberapa bulan di sana, beliau akhirnya mendapat kesempatan untuk meneruskan kuliahnya di Technische Hochschule Aachen, Jerman. Meskipun tidak mendapat beasiswa penuh, beliau tidak pernah surut untuk mewujudkan cita-citanya yang besar yaitu ingin mempersembahkan sesuatu yang besar bagi bangsa dan negaranya.

Masa-masa kuliah di Jerman, adalah masa-masa yang pahit dan penuh perjuangan. Namun bagi beliau, semua itu justru menjadikan cambuk yang dahsyat baginya. Beasiswa yang tidak penuh membuat dirinya selalu berpikir matang dalam menjalani kuliah. Baginya, ketidaklulusan dalam suatu mata kuliah adalah beban berat yang akan ia lemparkan kepada ibunya yang telah rela menjual salah satu rumah demi studinya di Jerman tersebut. Maka tidak mengherankan jika kelak beliau kemudian lulus dengan predikat Cumlaude dengan angka rata-rata 9,5.

Di sela-sela kesibukannya dalam kuliah, Habibie tidak lantas meninggalkan aktivitas organisasi. Justru beliaulah salah satu aktivis yang paling giat dalam melakukan konsolidasi antar mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa ketika itu. Beliau adalah inisiator dalam membentuk kelompok-kelompok diskusi mahasiswa saat itu. Tujuannya adalah untuk menggali pemikiran mereka yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia jika kelak kembali. Hasilnya adalah dengan terselenggaranya seminar pembangunan nasional yang dihadiri oleh seluruh perwakilan mahasiswa Indonesia di penjuru Eropa.

Semangat beliau tidak berhenti meskipun kemudian dia tidak lagi menjadi mahasiswa. Sebagai patriotis sejati, dia mengoptimalkan aktivitasnya di luar negeri sembari mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dipanggil kembali ke Indonesia. Dia melanjutkan studinya sampai doktor sambil terus bekerja di industri konstruksi pesawat di Jerman. Maka tidak mengherankan jika kegigihannya dalam mengembangkan teknologi telah menghadirkan kepercayaan MBB (perusahaan kontruksi pesawat terbang terbesar di Jerman kala itu) untuk mengangkatnya sebagai Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB, sebuah jabatan yang  mungkin mustahil diberikan oleh bangsa Jerman kepada orang asing selain Habibie.

Di puncak kariernya ini, beliau berhasil membuat dunia tercengang dengan teori keretakan badan pesawat. Teori ini telah memberi manfaat kepada dunia dan memberi peran menyelamatkan manusia dalam transportasi. Buku-buku karya beliau tentang aeronautika dan selainnya pun telah menjadi buku rujukan di seluruh dunia dalam hal mekanika dan penerbangan. Semua itu telah membuka mata dunia bahwa orang Indonesia tidak tertinggal dalam teknologi.

Dan yang lebih penting, dunia mendapati bahwa beliau adalah seorang muslim yang taat. Beliau bukan sekadar ilmuwan sebagaimana para ilmuwan Eropa atau Amerika, tetapi seorang ilmuwan muslim yang terlahir di bumi Indonesia yang mengharumkan nama Islam. Berbagai pujian dan harapan beliau terima dari pemerintah negeri-negeri muslim di penjuru dunia. Betapa luar biasanya, Indonesia dan dunia muslim saat itu telah memiliki seorang ahli aeronautika dunia satu-satunya yang ahli dalam teoricracking­ propagation pesawat.

Hingga kemudian bangsa Indonesia memanggilnya untuk memegang tampuk pengembangan teknologi. Direlakannya jabatan besar dan segala kemewahan di MBB untuk mengabdi demi bangsanya. Jabatannya sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi telah mengantarkan Indonesia menjadi negara yang memiliki industri strategis termaju di tingkat ASEAN ketika itu. Hampir saja negeri ini memiliki pesawat N-250 Gatotkaca buatan sendiri yang siap untuk diekspor di seluruh dunia sebagai pesawat tercanggih yang khusus dimiliki oleh orang-orang penting di seluruh dunia. Namun takdir berkata lain, bahwa teknologi tersebut kandas di tengah jalan ketika reformasi berkecamuk padahal pesawat canggih tersebut tinggal menunggu sertifikat penerbangan internasional sebagai syarat terakhir uji kelayakan pesawat tersebut.

Habibie dikenal sebagai sosok alim yang taat beragama dan telah menjadi figur muslim yang patut dicontoh oleh umat Islam dalam hal semangatnya membangun peradaban. Beliau pernah dipercaya sebagai ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Beliau bahkan beberapa kali menjadi tamu istimewa bagi keluarga Kerajaan Saudi Arabia. Sikapnya yang penuh dengan keramahan dan kecerdasannya dalam berpikir telah menarik hati para pemimpin dunia untuk bersimpatik kepada Indonesia.

Jika beliau berbicara tentang teknologi maka sebenarnya beliau sedang mengajak rakyat Indonesia untuk terus belajar agar menjadi cerdas. Jika beliau berbicara tentang industri strategis maka sebenarnya beliau sedang mengajak semua elemen bangsa untuk mengentaskan kemiskinan secara sistematis dan membebaskan diri dari ketergantungan terhadap asing. Demikian ringkasan biografi singkat sekaligus ungkapan kekaguman Makmur Makka terhadap sosok beliau.

Dari paparan yang cukup singkat di atas kita dapat melihat betapa dahsyatnya beliau melejitkan diri dalam menggali potensi yang ada sehingga kita mengenal beliau sebagai manusia kompetitif dengan segudang prestasi mendunia. Sehingga diharapkan kita dapat memperoleh pelajaran sekaligus hikmah dari perjalanan salah seorang pahlawan bangsa yang kini mulai dilupakan. Serangkaian hikmah dapat kita petik dari kisah singkat perjalanan hidup beliau yang telah dipaparkan sebelumnya sebagai sebuah pelajaran praktis dalam melejitkan potensi diri kita untuk meraih prestasi gemilang.

Pertama, beliau adalah orang yang mampu mengenali potensi dirinya dan bersungguh-sungguh untuk mengembangkannya. Hal ini terlihat dari keseriusannya dalam mengembangkan diri sesuai dengan bakat yang ada pada dirinya. Beliau memiliki kelebihan dalam fisika dan beliau pun memaksimalkan pengembangan dirinya untuk menekuni bidang ini khususnya dalam bidang aeronautika sehingga melahirkan karya-karya besar yang mendunia dan bermanfaat bagi peradaban manusia. Jika kita bersungguh-sungguh mengenali kemampuan yang terpendam dalam diri kita kemudian mengasahnya secara terus menerus niscaya kita mampu menghasilkan sesuatu yang besar dan bermanfaat. Maka tak mengherankan jika Bang Anwar Fuady, penulis novel Negeri 5 Menara juga terinspirasi dengan kehidupan beliau. Meskipun tidak menjadi ahli mekanika seperti Habibie, Bang Anwar tetap membawa semangat tersebut yang dibingkai oleh sebuah akan kata nasihat man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya.

Kedua, beliau adalah orang yang disiplin dan pandai memanfaatkan waktu. Target kuliah beliau ibarat besi yang tidak memiliki modulus elastisitas, sehingga beliau tidak berkompromi terhadap masa studi. Keterbatasan biaya karena tidak mendapat beasiswa seperti mahasiswa yang lain membuat beliau memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam belajar dan menuntaskan studi sesuai dengan target yang diberikan. Beliau mampu mengolah kecerdasan intelektualnya secara maksimal. Namun beliau juga tidak menafikan kegiatan organisasi dalam skala regional yang bisa kita bayangkan betapa sulit pengelolaan waktunya. Semua beliau jalankan dan terbukti memberikan hasil yang luar biasa. Ini merupakan bukti dari seorang yang memiliki ciri harisun alal waqtihi. Dari sini, kita katakan bahwa orang yang sukses adalah orang yang benar-benar disiplin terhadap waktunya dan komitmen dalam memanfaatkannya.

Ketiga, beliau adalah orang yang sangat kompetitif. Menjadi Wakil Presiden dan Direktur MBB bukanlah hal yang mudah, bahkan bisa jadi mustahil untuk orang asing selain Habibie. Bagaimana tidak? Perusahaan yang merupakan kebanggaan masyarakat Jerman kala itu dapat memberi kesempatan kepada seorang warga negara asing seperti Habibie. Jika bukan karena kompetensinya yang luar biasa, tidak mungkin jabatan itu diberikan kepada beliau.

Jiwa kompetitif beliau ini diusung oleh dua karakter hebat yang selalu tertancap pada diri beliau yaitu semangat bekerja keras dan dedikasi yang tinggi. Dalam biografi yang ditulis Makmur Makka diungkapkan bahwa beliau adalah orang yang menghabiskan waktunya di laboratorium selama menjabat direktur teknologi MBB untuk melakukan penelitian dan rancang bangun kepesawatan. Sehingga tidak mengherankan jika teori keretakan pesawat mampu membawa dirinya tercatat dalam sejarah perkembangan fisika dunia.

Keempat, beliau adalah sosok yang rendah hati, sederhana dan berjiwa besar. Kerendahhatian beliau terlihat dari percakapan beliau dengan presiden Soeharto ketika itu,

Presiden, “Habibie, sudah saatnya kamu pulang ke Indonesia untuk membangaun negaramu!”

Habibie, “Iya Pak, tapi saya bisa berbuat apa. Saya hanya bisa membuat pesawat terbang”.

Presiden, “Jika membuat pesawat saja bisa, maka yang lain-lain pasti lebih bisa”

Ungkapan presiden Soeharto saat itu terbukti benar. Memang Habibie mampu berbuat banyak hal untuk menyelematkan bangsa Indonesia dari ketertinggalan teknologi dan mencetak generasi-generasi yang ahli di bidang teknologi.

Dalam hal kesederhanaan, terlihat jelas apa yang sebenarnya menjadi orientasi seorang pejuang seperti beliau. Meninggalkan MBB berarti meninggalkan kemewahan dunia dan siap berdikari di negeri sendiri dengan segala keterbatasannya. Dapat dibayangkan betapa kecintaannya kepada Indonesia, seorang wakil pimpinan perusahaan yang gajinya saat itu sudah hampir mencapai Rp 10.000.000,00 rela melepas jabatannya dan pulang ke tanah airnya untuk menjabat menjadi kepala BPPT yang gajinya hanya sekitar Rp 450.000,00. Namun itulah keikhlasan yang sejati, ketika setiap pencapaian yang dilakukan adalah untuk dipersembahkan kepada Alloh, dan kemudian untuk kesejahteraan umat manusia. Beliau rela hidup dengan gaji pejabat di Indonesia ketika itu asal dapat membangun negaranya dan dapat mempersembahkan yang terbaik untuk pengembangan teknologi Indonesia.

Bukti lainnya adalah ketika beliau mulai dilupakan oleh negaranya, beliau tidak lantas mencari perhatian dan berbagai masalah yang sebenarnya dapat beliau lakukan mengingat posisi beliau di mata dunia. Gelombang reformasi yang menggilas seluruh negeri telah menghempaskan rezim orde baru dan semua orang yang dianggap sefase dengannya, termasuk B. J. Habibie. Beliau kemudian mundur dari dunia pemerintahan, namun tetap memberikan manfaat bagi dunia khususnya dalam pengembangan teknologi serta tetap aktif memberi peran bagi bangsa Indonesia melalui Habibie Center-nya. Jabatan presiden yang pernah diamanahkan bukan untuk dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk merehabilitasi kehidupan bangsanya meskipun banyak tekanan dari berbagai penjuru.

Dan dari keempat point di atas, penulis menekankan pada point paling akhir yaitu bagiamana kita seharusnya membina diri untuk selalu berjiwa besar dan bervisi besar untuk berkontribusi. Seorang negarawan bukanlah orang yang sibuk berdebat saja di dalam memandang permasalahan, juga berkubu-kubu untuk membela siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konteks rivalitas politik. Seorang negarawan adalah orang yang berpegang teguh pada prinsip untuk menjadi khoirunnas anfa’uhum linnas, senantiasa bervisi untuk mewujudkan kehidupan masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Memberikan kontribusi yang besar kepada bangsa terus menerus adalah karakter sejati seorang negarawan.

Akhirnya kita mengerti bagaimana orang besar seperti B. J. Habibie memberikan kontribusinya untuk Indonesia. Seorang suami yang baik, ayah yang menginspirasi, negarawan sejati, cendikiawan muslim, dan seorang yang hidupnya sederhana yang telah mengguncang dunia karena karya dan kebaikannya. Beliau adalah salah satu sosok manusia prestatif yang mampu mengubah wajah Indonesia sehingga dapat bertransisi dari era agraris menuju era teknologi. Tentunya tidak selayaknya kita hanya menjadi pengagum dari karya-karya beliau, tetapi menjadi pembuat jejak-jejak baru dalam era yang baru ini pula agar kita bisa menjadi negarawan-negarawan yang baik di masa depan. Sehingga para pendiri bangsa ini, dan mereka-mereka yang terus berkomitmen menjadi negarawan sejati tersenyum saat melihat generasinya sekarang masih bergiat untuk menjadi penerus-penerus mereka. Jayalah Indonesia, jayalah negeriku tercinta. Mari kita belajar untuk merawat Indonesia.