Kategori
Dakwah Islam

Dari Hijab Hijau ke Hijab Hati #2

Hijab yang berikutnya adalah benda fisik yang menghalangi pandangan langsung antara ikhwan dan akhwat ketika berinteraksi. Hal ini telah dicontohkan oleh istri-istri nabi sepeninggal beliau ketika hendak berbicara kepada para sahabat yang laki-laki. Jika tadi di singgung hijab berwarna hijau, memang itulah adanya hijab yang ada di masjid kampus kami. Bahkan hingga masjid yang baru telah berdiri, hijab itu akhirnya dikeluarkan lagi untuk merekam jejak syura-syura dan kegiatan aktivis lainnya.

Di sini aku mulai melihat ada banyak hal baru yang menarik. Eksistensi hijab hijau dahulu benar-benar menjadi penghalang terakhir agar interaksi ikhwan dan akhwat tidak macam-macam dan seperlunya saja. Kalau pun terjadi CLH kondisinya hanya seperti arus listrik kejut, bukan aliran listrik PLN yang bisa bebas dan memuaskan. Mengapa? Karena di hijab itulah ikhwan-akhwat terikat untuk bertemu jam sekian-sekian dalam agenda syura membahas berbagai program dan perencanaan dakwah kampus.

Tapi hari ini? Apa yang terjadi, SMS, YM, Facebook, Skype, WhatsApp, bahkan hingga muncul Kakao Talk, mungkin nanti muncul Sirsak Talk, Duren Talk dan sebagaianya telah mengubah eksistensi hijab itu menjadi tidak sesakral dulu lagi. Fenomena ini sangat normal karena kemajuan teknologi di abad 21 ini adalah keniscayaan. Maka dari situ sarana itu menjadi penting untuk dimanfaatkan dalam rangka mendukung kelancaran aktivitas dakwah.

Masalahnya adalah meskipun syuranya terhalang hijab hijau, tapi ternyata bertemu lagi diamanah lembaga publik yang ketika rapat tidak lagi pakai hijab. Jika ketika di dalam suasana hijab panggilannya lembut, “Akhi …. atau Ukhti …..“, ternyata diforum publik jadi lebih heboh sedikit. Hal ini karena tuntutan dakwah yang dulu hanya di Rohis-rohisnya saja kini harus diekspansi ke banyak aspek di lingkungan mahasiswa.

Nah, jadinya karena didukung oleh komunikasi pesan singkat dan sangat rahasia tadi, maka eksistensi hijab yang menjadi benteng pertahanan komunikasi agar saling terjaga mengalami distorsi. Apa yang ada dibalik pesan singkat sesama para aktivis dakwah terkadang menjadi tanda tanya ketika terkadang diketahui ada CLH yang naik level. CLH tadi adalah kewajaran, karena ikhwan itu sangat suka mendengar suara akhwat (ga usah munafik lah), begitu pun akhwat juga akan merasa …….. ketika mendengar kobar kekagagahan para ikhwan. Cieeee

Eksistensi di FB, dan berbagai sarana komunikasi yang menyediakan jalur singkat, cepat dan rahasia inilah kemudian menumbuhkan berbagai dampak yang terkadang dipandang merugikan kepentingan dakwah. Tak ada yang tahu ketika dua insan berbeda jenis memadu kata dan merangkai bahasa melalui jalur-jalur super cepat tadi. Dan terkadang terbukti bahwa dampak dari pesan-pesan rahasia itu pun berbuah pada rahasia baru yang pasti Allah buka di waktu yang tepat. Maka ketika hal itu tidak dikelola dengan baik, salah-salah sebenarnya ada aktivitas yang serupa dengan saudara-saudara kita yang lagi asyik berduaan di taman, bedanya mereka dalam alam nyata, kita dalam pesan yang terimajinasikan. Naudzubillahi min dzalik.

Maka dari sinilah kemudian perlu direvitalisasi lagi pengertian hijab sebagai penghalang secara mutlak. Karena hijab fisik sudah bukan hal yang sepenuhnya relevan dengan iklim kehidupan hari ini, maka sesungguhnya hijab dalam konteks ini kembali kepada asalnya yakni hijab hati. Hijab hatilah yang memungkinkan semua pesan rahasia-rahasia itu tidak berbicara apa-apa selain apa yang dulu juga diungkap dalam hijab-hijab hijau yang berdiri megah ditengah ruang mungil.

Maka ketika ada kampus yang memberlakukan jam malam agar segala interaksi berhenti pada jam sekian-sekian, apakah hal itu sebagai konsensus bersama atau sebagai bentuk pelestarian budaya saja? Ini sebenernya penting loh untuk dibahas sebelum membuat keputusan. Maka tak heran ketika keputusan ini diterbitkan, ternyata pelanggarnya sangat banyak (loh kok begitu). Yang nulis ini termasuk yang tidak begitu terpengaruh dengan ada tidaknya jam itu. Karena pesan singkat dan rahasia dapat keluar dari diri ini kapan saja, meskipun tak berharap banyak dijawab ketika jam malam berlaku. Dan ternyata seringnya bersambut jawaban, aha ternyata sama-sama ga jelas deh.

Ah, semua itu sebenarnya sebuah cultural shock untuk para aktivis dakwah kampus hari ini apakah mereka masih bisa memaknai eksistensi hijab di dalam transformasi waktu dan sarana yang sudah tidak seperti dulu lagi. Maka hal yang tetap hari ini adalah HIJAB, dan yang mengikuti zamannya adalah MEKANISME-nya. Jika hijab hijau itu masih bertahan di kampus, maka itu adalah hal yang harus kita syukuri. Tapi apakah itu menjamin tanpa sebuah hijab hati yang kuat dan lebih kokoh dari pada hijaunya? Tidak sama sekali.

Maka sering kudapati cerita baik tak sengaja memergoki atau mendengar curhatan dari orang lain, ternyata seringkali jalur singkat dan rahasia itu jalan pintas untuk melakukan pintasan yang tidak seharusnya dipintas. Merangkai kata-kata indah, memadu visi hidup, hingga membuat janji dalam rentang yang terlalu panjang dan komitmen yang belum teruji ternyata sering membuahkan banyak kekecewaan.

Pertama, CLH itu adalah hal wajar yang kapan pun bisa terjadi. Setiap syura, bahkan getaran CLH itu terus terulang. Namun bisa jadi getaran-getaran itu dilanjuti dengan berbagai hal yang tidak dimulai dari niatan yang sungguh-sungguh. Kasihan dong yang akhwat, karena ketika pesan-pesan singkat yang berawal indah itu ternyata hanya sebuah percobaan dari para kaum adam dalam komunikasi yang tak kunjung diklarifikasi tapi terlanjur dipahami lain oleh yang di seberang sana. Kekecewaan yang lainnya tumbuh akibat ketidakcepatan pemahaman pola pikir akan tak terbatasnya ruang komunikasi hari ini membuat sebagian lain terburu-buru memberikan stempel mereka yang banyak berdiskusi dengan lawan jenisnya sebagai VMJ, padahal yang didiskusikan adalah hal-hal biasa yang menjadi kultur komunikasi hari ini.

Ah, aku mungkin hanya membual. Tapi hari ini banyak sekali jurang-jurang formalitas dan kejaiman yang sering muncul yang terkadang sebagian orang yang tidak suka dengan system yang indah ini  menyebutnya dengan praktik kemunafikan. Tapi inilah adanya kami, berbicara dalam sebuah batas yang kami sadari masing-masing. Mungkin sarana hari ini telah banyak berubah, tapi jika kita bisa menjaga HIJAB HATI itu, maka bagaimana pun bentuk komunikasinya, tidak akan pernah ada masalah.

SMS-an dan berbagai hal yang sifatnya jalur singkat rahasia hari ini adalah tanggung jawab masing-masing. Tak sebaiknya kita banyak menebak dan mengurusi urusan saudara/i selama kita tidak pernah mampu melacaknya. Dan kalaupun kita melacaknya, nyata kita seperti orang yang kurang kerjaan saja. Tiada yang tahu setiap pembicaraan rahasia itu, kecuali 2 insan yang berjalin itu dan Allah sebagai saksinya.

Aku takut hal ini pun gagal kujaga sampai ketika tiba saatnya diri ini menyempurnakan separuh agama. Tapi semoga kesadaran yang telah tumbuh ini tak membuatku mudah jatuh saat melihat senyum manis dan kata yang lembut di seberang sana. Baik yang terdengar maupun yang terlihat. Karena ketika diri memang belum berniat, maka yang diperoleh di hari-hari interaksi itu adalah nikmat sekaligus ujian. Jika memang telah berkeinginan, maka senyum pun bisa memanggil untuk kita meresmikan ketertarikan dua hati itu.

Di sudut mata ini memandang, maka tak ada yang perlu disalahkan ketika mata ini terlanjur memandang. Salahkan diri jika pandangan mata ini tak dikelola dan dinasihati oleh hati. Ini era baru, zaman yang tidak lagi dibatasi oleh hijab hijau meskipun kehadirannya tetap penting dalam menemani aktivitas dakwah kampus hari ini. Dan hijab hati itulah yang akan menjaga jiwa-jiwa muda itu agar bisa merasakan keindahan di masa Ali-Fathimah, Abu Dzar saat melamar ditemani Salman al-Farisi, atau dalam skema-skema cinta yang indah lainnya.

Tak ada yang keliru dengan ketertarikan ini, karena itu hadiah terindah Allah untuk masing-masing diri kita. Tapi hendaknya kita berusaha waspada dan membuat keputusan yang tepat untuk setiap ketertarikan itu.

Kategori
Dakwah Islam

Dari Hijab Hijau ke Hijab Hati #1

Dulu ketika pembekalan materi kader dakwah kampus (baca tasqif), salah satu moderator yang keren membuka dengan foto sebuah papan panjang berwarna hijau. Ya itu adalah hijab atau penghalang bagi para aktivis dakwah waktu syura agar tidak saling berpandangan. Di kampus yang katanya banyak orang menyebutnya dengan Universitas Negeri Syariah  ini budaya aktivis dalam syura adalah menjaga agar interaksi lawan jenis dalam berbagai aktivitas bersama tidak banyak bersinggungan secara langsung.

Kami pun tertawa dengan foto yang beliau tunjukkan tersebut. Kemudian beliau berkata, inilah saksi bisu aktivitas para aktivis dakwah kampus. Di hijab inilah terekam berbagai cerita lika-liku para aktivis dakwah dari zaman baheula hingga zaman ini. Bahkan terekam juga cinta lintas hijab (CLH) yang bersenandung dihati para ikhwan-akhwat yang tengah bergelora. Aku makin tertawa dengan bahasa beliau ini. CLH? Ha ha ha, ini pasti banyak membuat kami tersipu.

Hijab, kata ustadz Wikipedia artinya (bahasa Arab: ???? ?ij?b) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata “hijab” lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim (lihat jilbab). Namun dalam keilmuan Islam, hijab lebih tepat merujuk kepada tatacara berpakaian yang pantas sesuai dengan tuntunan agama.

Dalam konteks ini, hijab yang dimaksud adalah penghalang yang membuat aktivis ikhwan dan akhwat tidak bisa saling pandang secara langsung dan aktivitasnya melalui pembicaraan saja ketika sedang syura (rapat) atau kegiatan yang lain yang posisinya saling berdampingan. Dengan hijab ini diharapkan, para ikhwan yang secara normal ingin sering melihat lawan jenisnya terhalang oleh warna hijau (atau warna lainnya saja). Begitu pula yang akhwat yang suka GR kalo ditoleh ikhwan menjadi tidak GJ karena tidak ada yang memperhatikan mereka. Masak sih?

Maaf empat paragraf pertama ini terkesan kacau dan tidak jelas. Tapi mungkin paragraf selanjutnya lebih kacau dan tidak jelas lagi. Maklum, masih butuh belajar untuk menulis yang baik dan berisi. Tapi setidaknya di sisa-sisa paragraf nanti aku ingin berbagi tentang fenomena hijab yang melingkupi aktivis dakwah kampus.

Dalam konteks pertama, hijab yang bermakna jilbab bagi wanita hari ini telah menjadi trend yang berkembang di tanah air. Khususnya di kampusku, meskipun kampus negeri sepertinya untuk para wanita muslim, mengenakan jilbab itu adalah hal yang niscaya setelah mereka melihat lingkungan mereka bak lautan para jilbaber. Yang dulunya masih mengizinkan para lelaki menikmati keindahan rambutnya, kini mereka menutupinya dengan penutup sesuai niatnya. Ada yang funky, ada yang memang syari, tapi setidaknya kami tidak bisa melihat lagi bentuk rambut definitifnya.

Karena telah menjadi trend, sampai-sampai model jilbab akhwat itu menjadi indikator keakhwatan seseorang. Style jilbab besar dengan rok panjang yang berlapis celana di dalamnya dan kaos kaki menjadi indikator bahwa sang akhwat (wanita muslim) telah memilih jalan menutup dirinya dengan cara yang syari sesuai dengan perintah Rasulullah kepada para wanita muslim.

Tapi apakah benar penampilan itu menjadi indikator yang sesungguhnya? Tunggu dulu. Meskipun standar ini adalah standar yang pasti dipakai sebagai gerbang terdepan para ikhwan (laki-laki muslim) menentukan pilihannya, tapi sebenarnya ini tidak dapat menjadi jaminan. Mengapa? Karena arus trend hari ini cenderung mengaburkan dan membingungkan para ikhwan untuk mencari mana yang “akhwat“ sesungguhnya. Maka disini pertolongan Allah benar-benar diperlukan agar proses pencarian itu berujung pada pilihan yang tepat.

Yang jelas, para wanita muslim yang telah memilih style itu, harus kita husnudzani bahwa dia telah bertekad kuat untuk mengubah gaya hidup pribadinya dalam sisi yang lain juga. Bukan hanya agar tampak menarik bagi para ikhwan. Biasalah, logika pasar itu berlaku di sini. Para ikhwan yang telah terwarnai dalam lingkungan dakwah kampus ya cenderung untuk memilih akhwat yang stylenya seperti dirinya dari pada yang tidak memakai hijab.

Masalah pembahasan jilbab untuk para wanita muslim sampai di sini saja ya. Intinya penampilan luar itu semoga bisa menjadi motivasi bagi perubahan penampilan dalamnya. Begitu pun bagi yang ikhwan, yang dulu masih GJ-GJ, setelah terlibat dalam dakwah kampus akhirnya menjadi Great Jundi (para pasukan yang kokoh). Mari kita lanjutkan dengan hijab yang kedua.

bersambung ….