Kategori
Misi Perubahan

Sekolah dan Perebutan Kekuasaan

Anda tidak akan pernah menjadi agen perubahan selagi Anda tidak berani menentang arus comberan/ kebusukan yang telah mengakar dalam sebuah sistem” (Indrawan Yepe)

Sore tadi rasanya begitu bersemangat mendengar wejangan dari sang Suhu setelah mendengarkan curhatan dari rekan kami yang tengah menghadapi berbagai ujian di sekolah yang tengah menjadi proyek penyelematan sekaligus tempat belajar kamil. Pengurus yayasan yang lama sepertinya tak rela sekolah itu diambil alih oleh pengurus baru. Jika dilihat dari inti permasalahannya adalah, sekolah yang terancam ditutup ini memiliki potensi untuk bangkit menjadi raksasa lagi di masa depan, namun mereka lebih suka berpangku tangan dan mengerat kekayaan di balik bangunan pendidikan yang pernah gagah itu.

Singkatnya, temanku yang sudah menjadi guru itu harus menjalani berbagai shockterapi selama di sekolah karena tingkah para guru lamanya yang memang membuatnya gelisah. Temanku merasa gelisah dengan tingkah laku mereka yang tidak bersahabat, gemas dan ingin mereka diberhentikan. Namun dengan bijak, Pak Yepe meminta kami sejenak mendengarkan lagunya Maidany, Merasa Sebelum Terasa. Dan beliau berkata, bahwa guru-guru itu tengah galau dan lebih galau dari pada kita, maka pesan lagu tersebut hendaknya menjadi cambuk bagi kita untuk menjadi bagian dari solusi, bukan penambah masalah.Aku kemudian berpikir, ternyata pendidikan hari ini telah menjadi bagian dari sebuah ambisi kekuasaan. Yah, pendidikan bukan lagi menjadi sebuah pusat-pusat pembelajaran yang berorientasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi ladang untuk mengokohkan jabatan dan tempat orang-orang gelisah. Ini hanya sebuah sekolah dasar yang dapat kami garap, belum lagi masih banyak sekolah yang mungkin bernasib sama atau bahkan lebih buruk. Haruskah siswa menjadi korban sebuah permainan yang lebih kanak-kanak dari pada anak-anak. Jika yang membaca tulisan ini adalah mahasiswa, maka tidak selayaknya Anda kemudian justru cuek atau menganggap remeh. Tengok SD-SD yang pernah membesarkan kita hingga hari ini, masihkah tempat itu menjadi tempat pembenihan generasi bangsa, minimal seperti kita dulu, atau hanya ajang pencarian sumber kehidupan yang mengabaikan rasa kemanusiaan untuk mengobati dahaga ilmu dari adik-adik kita yang polos itu.

Jangan berkata menjadi aktivis jika hari ini masih sok sibuk dengan urusan kampus yang semakin tidak bertemu ujungnya itu. Ia akan selesai jika kita mau mengalah dan melihat masalah ini dengan lebih luas dan menyadari bahwa kemampuan kontribusi kita lebih besar dari ruang kuliah kita hari ini. Mari kita pikirkan itu, karena ini berkaitan dengan pertanggungjawaban kita kepada Allah yang mengaruniai potensi kita dan pertanggungjawaban kita kepada negara dan rakyat yang telah mensubsidi kita sehingga bisa kuliah. Tidak main-main.

Kategori
Refleksi

Kesenjangan yang Menguji

Jika hidup di dunia kampus yang sudah terkondisikan, maka segalanya rasanya indah dan penuh dengan kebaikan. Mau ngaji teman-temannya banyak sekali. Mau jadi aktivis juga masih banyak (meskipun sepertinya yang bener-bener mau jadi aktivis makin sedikit). Mau yang baik-baik jumlahnya cukup banyak. Mungkin masih sebanding dengan yang negatif-negatif di kampus.

Lantas bagaimana jika kita berhadapan dengan sebuah realitas sosial yang tidak seperti di kampus? Katakanlah sebuah komunitas yang orang-orangnya saja shalatnya tidak beres. Atau di sebuah kawasan yang pergumulan antara cewek dan cowoknya saja sudah sangat biasa. Tanpa batas dan mungkin juga tanpa hijab. Di titik ini, keaktivisan seseorang akan terlihat apakah dia itu aktivis karbitan atau aktivis sejati. Aktivis karbitan hanyalah orang yang ramai-ramai baik ketika banyak orang baik, tetapi kembali ke dunia aslinya saat bertemu dengan sayup-sayup masa lalunya atau kemudian menjadi makhluk aneh yang sama sekali berbeda dengan di kampus.

Pernah ada celotehan yang keluar dari teman-temanku yang agak-agak error dengan masalah agama. Mereka tidak begitu interest dengan kajian agama, tetapi sebenarnya memiliki perhatian kepada para pelaku agama yang dia alamatkan pada para aktivis. Dia sering nyebut aktivis itu sok jaim. Mereka kelihatan shaleh di kampus, tetapi kalau sudah di luar kampus mereka jadi aneh dan ga jelas. Masa iya? Alhamdulillah aku belum pernah ketemu yang gituan. Ah mungkin itu kata mereka saja. Semua temenku yang di kampus alim-alim juga sepertinya tetap alim kalau di rumah. Semoga mereka tetap istiqomah.

Namun yang jadi masalah adalah, kealiman dan keaktivisan kita dikampus terkadang tidak siap pakai di masyarakat. Kehidupan komunitas atau masyarakat yang jauh dari idealnya kampus, terkadang membuat kita justru gagap dakwah di sana. Kalau tidak kemudian dilabeli sebagai makhluk eksklusif yang disebut kaum yang tidak bisa bergaul. Karena bahasanya tidak nyambung dengan masyarakat. Kosa katanya jadi elit bak manusia langit. Dan terkadang “sok punya program” untuk mengentaskan permasalahan masyarakat. Ujung-ujungnya terkadang mahasiswa itu jadi bahan tertawaan masyarakat karena ketidakmampuan mereka berinteraksi dengan obyek baru yang sangat independent dan unpredictable.

Jadi aku sementara ini berpikir bahwa, aktivis di kampus hari ini punya masalah yang sering tidak mereka permasalahkan. Yaitu masalah kesenjangan. Yah, tidak hanya kesenjangan intelektual, tetapi juga kesenjangan komunikasi, kesenjangan cara pandang, dan kesenjangan bergaul. Memang sebenarnya banyak juga sih aktivis-aktivis yang out of the box. Tetapi jika dibandinkan dengan yang tidak, lebih-lebih yang berlabel “aktivis dakwah”,  jumlahnya masih terlalu sedikit. Bukan bermaksud menjustifikasi, namun perlu diingat bahwa upaya dakwah dan perbaikan itu adalah menyentuh segala sisi lapisan masyarat. Tugas kita adalah memberitakan kebaikan dan menyampaikannya kepada orang sebanyak-banyaknya. Jika ada yang tertarik maka follow up-i dengan intensif, bagi yang belum tetap saja diajak, toh mereka adalah bagian dari teman-teman hidup kita.

Kesenjangan hidup kita hari ini menguji. Apakah kita mau menjadi manusia yang inklusif atau justru semakin eksklusif. Urusan akhirat kita memang tanggung jawab masing-masing. Namun bukankah menyemai bibit kebaikan itu adalah cara tercepat dan terproduktif untuk melipatgandakan fasilitas akhirat nanti. Semoga Allah meneguhkan setiap orang yang hari ini telah berikrar menjadi aktivis.

Kategori
Misi Perubahan

Untuk Saudaraku Para Aktivis

Di tengah berbagai hal yang terasa ruwet akhir-akhir ini, mulai dari masalah negara yang semakin sulit didefinisikan hingga persoalan diri pribadi kita yang tak kunjung usai, rasa-rasanya membuka memori di masa silam itu menjadi hal yang harus sering dilakukan. Mungkin ada yang akan mengatakan jadul, tapi hendaknya kita selalu ingat akan sebuah nasihat bahwa hikmah itu ada pada yang lebih tua dan para pendahulu. Semangat muda kita hari ini luar biasa. Namun terkadang semangat itu terasa hampa karena kosongnya kepala kita dari fikrah dan pemahaman agama yang benar. Di samping itu, kesetiaan kita hari ini dipertanyakan kembali. Apakah kita masih setia seperti dahulu? Atau sedang tersesat dalam sebuah belokan kesetiaan yang diliputi banyak pembenaran oleh suara-suara orang tak dikenal.

Aku tertarik untuk mengutip sebuah fragmen sejarah di masa lalu, agar aku ingat kembali bagaimana ulama bangsa yang pernah hidup ini bisa kembali hadir semangatnya di tengah-tengah kita. Dialah Muhammad Natsir, sang pemersatu bangsa lewat Mosi Integralnya sehingga selamatlah Indonesia dari rekayasa belanda dan kembalilah Indonesia menjadi NKRI. Dialah sang pejuang sejati yang tak akan pernah hilang dari lubuk sanubari para pemuda muslim hari ini yang merindukan Indonesia teduh dalam naungan Islam. Dialah sang inspirator yang telah membawa pencerahan didunia lewat Rabithah Alam al-Islamy yang dipimpinnya.

Dan kusampaikan puisi Hamka yang dihadiahkan untuk Natsir dalam suatu kesempatan. Puisi ini ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar pidato M. Natsir yang mengurai kelemahan system kehidupan buatan manusia dan dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar Negara RI.

KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR

 

Meskipun bersilang keris di leher

Berkilat pedang di hadapan matamu

Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir

Bongkar apinya sampai bertemu

Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri

Lindungan Ilahi memberimu tenaga

Suka dan duka kita hadapi

 

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu

Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi

Ini berjuta kawan sepaham

Hidup dan mati bersama-sama

Untuk menuntut Ridha Ilahi

 

Dan aku pun masukkan

Dalam daftarmu……!

 

(dikutip dari buku “Mengenang 100 tahun HAMKA”)

Aku rindu ketika para pemuda muslim hari ini tidak terpenjara dalam retorikanya sendiri. Aku rindu saat-saat pemuda tidak terjebak dalam ambisi kekuasaan yang mengatasnamakan perjuangan. Hari ini, aku masih ragu apakah yang telah dilakukan itu untuk sebuah pembebasan atau hanya mobilisasi pencapaian kekuasaan. Atau sebenarnya kita sedang bingung karena kedangkalan ilmu dan pemahaman kita yang disempurnakan anggapan baik orang terhadap diri kita. Kita terlena dalam anggapan baik itu sehingga lupa tujuan yang sebenarnya.

Biarlah keraguan itu terjawab seiring semakin banyaknya pemuda yang kembali untuk peduli dengan dirinya dan masyarakatnya. Biarlah keraguan itu terjawab seiring dengan bertambahnya majelis-majelis ilmu dan banyak orang yang belajar untuk memahami ushul-ushul agama ini. Ketika kita hanya sibuk dalam jebakan kesibukan yang yang menjadi solusi atas kemiskinan aqidah dan kemiskinan ekonomi kaum muslimin hari ini, rasa-rasanya kita orang yang menyia-nyiakan waktu dengan membiarkan kekafiran orang lain terus bertambah. Maka semoga semakin bertambah para pemuda yang rela untuk memberikan hari-harinya untuk menjadi guru bagi keluarga dan masyarakatnya di tengah derasnya tekanan dari mulut-mulut orang awam dan dari kekuasaan orang-orang yang terusik kepentingannya.

Aku berlindung kepada-Mu yaa Rabb, jauhkanlah aku dari pemikiran yang sia-sia. Berilah kekuatan untukku bisa mengambil langkah terbaik dalam hidup ini. Menjadi manusia yang bermanfaat dan senantiasa berani bersuara untuk menyuarakan keadilan. Pertemukanlah aku dengan orang-orang yang senantiasa Kau jaga keikhlasannya, sebagaimana Engkau telah membelajarkanku hari ini kepada mereka. Merekalah permata, permata yang tidak akan pernah kulupakan. Dan pisahkanlah aku dari orang-orang yang membuatku takut dan tidak punya pilihan. Kuatkanlah aku untuk menunaikan amanah-amanah yang dibebankan kepadaku dan jadikan itu sarana untuk investasi pahalaku di sepanjang sejarah.

Aamiin yaa Rabb, kabulkanlah permohonanku ini.

Kategori
Sastra

Mengapa Harus Menulis (2)

Ahaa, hari ini aku baru saja membaca tulisan mbak Afifah Afra (sebenarnya udah postingan lama, cuma akunya aja yang telat baca). Beliau mengklarifikasi lewat twitternya tentang novel Syahid Samurai-nya yang dituduh sebagai salah satu novel porno yang menghancurkan moral bangsa. Hemm, aku udah sering membaca tulisan-tulisan beliau. Pernah membaca beberapa novelnya juga. Jadi aku tidak percaya ketika novelnya tersebut dikatakan demikian.

Dan memang sebenarnya ini permasalahannya adalah distribusi buku itu tidak tepat. Novel yang seharusnya menjadi konsumsi remaja dan dewasa agar mengerti tentang cinta yang benar dan syariat Islam tentang poligami ternyata justru didistribusikan kepada anak-anak SD. Yah, beginilah ketika koordinasi dan terutama budaya malas membaca itu telah mengakar. Main tuduh saja tanpa adanya klarifikasi. Padahal berdasarkan beberapa resensi yang telah ku baca novel tersebut bagus kok, seperti halnya novel-novel beliau yang lain.

Nah, mengapa harus menulis? Kita akan mengerti bagaimana rasanya mendapat ujian dengan fitnah ketika tulisan kita disalahgunakan oleh orang-orang yang bertanggung jawab. Kita akan belajar bagaimana meredam berbagai fitnah itu dengan kemampuan intelektualitas kita dan mengasah kemampuan argumentasi kita dengan lebih baik. Tulisan kita, itu adalah karya intelektualitas kita, curahan hati dan bahasa jiwa yang telah dikeluarkan. Ia akan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang mencarinya, tetapi terkadang juga bisa menjadi bahan mentah kejahatan orang-orang yang sengaja memiliki niatan buruk. Jadi tetaplah menulis, dan kita akan semakin cerdas untuk menyikapi berbagai perbedaan dan pertentangan dari orang lain.

Mengapa kita harus menulis? Dengan menulis, kita akan mendapat semangat orang lain. Karena adakalanya tulisan kita itu akan mendapatkan jempol dan dukungan dari kawan-kawan kita. Kita mungkin tidak merasa menulis sesuatu yang wah, tetapi di mata orang yang tepat tulisan kita itu bisa jadi adalah solusi yang selama ini mereka cari. Dan itulah pahala yang tidak terbantahkan. Maka mari menulis yang baik-baik meskipun itu sangat sederhana.

Apalagi bagi sahabatku yang hari ini mendapat stempel “aktivis”. Jangan biarkan engkau menjadi orang yang lupa bahwa hari ini mengucapkan demikian, di lain waktu berkata lain lagi dan bertolak belakang dengan hari ini, lantaran katamu hari ini sudah tergantikan dengan yang lain tanpa adanya pertanggungjawaban dan klarifikasi yang ilmiah atas sebuah perubahan idealismemu. Padahal tantangan yang keras telah menghadang kita untuk siap membungkam mulut kita dan merantai setiap kebebasan kita pascakampus nanti. Anda boleh berkata hebat sekarang, tapi mari buktikan diwaktu nanti setelah keluar dari kampus. Tetap hebat, atau berubah tidak seperti hari ini.

Kategori
Catatan Perjalanan

Perjalanan Ideologis

“Mas, ente di mana?”, tanyaku

“Masih transaksi nih, tunggu bentar”, kata sang Suhu

(Hadew, gimana coba kalo nanti kemaleman dan mobilnya tutup)

Akhirnya dengan gagahnya sang Suhu datang dan menyapaku.

“Ayo segera, aku mau liqo setelah ini”, katanya sembari memboncengku

Akhirnya setelah melalui beberapa belokan kami kembali lagi dengan membawa sebuah Grand Max hitam. Lho motorku kemana? Ditinggal sana lah.

Kisah di atas bukan kisah yang penting. Hanya cerita waktu aku mau ngambil mobil yang disewa. Ha ha ha. Yang inti ini nih. Setelah 2 hari digojlog sampai kuat, akhirnya ada kesempatan untuk mengunjungi Cilacap. Kisahnya bermula dari kakakku yang aneh bin misterius mengirim pesan singkat. “…… Ayahku meninggal dunia ……”, Innalillahi wa innaa ilaihi rojiun, kakakku, sabar ya. Kita semua juga akan mengalaminya. Semoga ada hikmah terbaik dari peristiwa ini.

Akhirnya aku dan teman-teman bersepakat untuk menjenguknya sekaligus silaturahim ke rumah salah satu temanku. Setelah mengajak adik-adik kecilku yang akan jadi calon penerusku, dan mengundang sopir kenamaan, sekaligus sang Suhu organisasiku, Mr. Bery yang keren, perjalanan dimulai dengan kejadian “kesatan bensin”. Lho, bukan apa-apa, bukan yang penting kok ini.

Perjalanan dimulai dengan menembus malam yang gelap dan sepi. Ini memang kesukaan mas Bery, dan kekecutan para akhwat, berjalan super cepat meski tak secepat Mr. Prameks atau Sancaka. Intinya bikin diri harus banyak dzikir. Dan aku sempat tidur (lebih tepatnya tertidur). Hingga sampailah pada sebuah masjid waktu dinihari di perbatasan Cilacap. Setelah singgah sambil menanti shalat subuh, perjalanan kami lanjutkan ke tempat kakak tercinta. Kakakku yang paling aneh dan misterius sepanjang sejarah.

Belajar Kerelaan

Adalah suatu ketetapan Allah bahwa manusia akan mengalami kematian. Demikian pula apa yang terjadi kepada ayah kakakku adalah suatu keniscayaan. Bersyukur aku dikaruniai ayah dan ibu serta kakek nenek yang masih sangat lengkap baik diri sisi ayah maupun ibu. Itu sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Namun aku pasti harus selalu siap bahwa, satu persatu dari mereka akan pergi meninggalkan kami suatu saat. Atau mungkin aku yang justru mendahului mereka, aku pun juga harus lebih siap. Maka momentum ini adalah saatnya aku belajar tentang arti sebuah kepasrahan dan kesiapan diri untuk senantiasa rela dengan ketentuan-Nya.

Ketika mobil ini berhasil parker di depan rumahnya (setelah diawali dengan tanya berkali-kali, maklum rumah beliau cukup misterius juga), aku masih bisa melihat senyum dari wajah kakakku. Luar biasa, spirit dan pikiran positif dari seorang anak yang selalu berbakti kepada orang tuanya. Jasadnya mungkin dah akan bersatu dengan tanah. Tapi semangat dan cintanya tidak akan pernah pudar dari ingatan. Ayah yang baik dan sangat penyayang, demikian cerita kakakku. Aku terharu dan teringat kepada orang tuaku juga. Dan yang membuat aku tidak nyaman, saat keluarga justru menghidangkan sarapan pagi buat kami. Aduh, makhruh deh, makan ditempat orang yang sedang berduka. Agak ragu, namun itu makanan halal, ya Allah, jangan biasakan aku dengan kondisi seperti ini.

Belajar Ideologi

Setelah dirasa cukup, perjalanan kami lanjutkan ke rumah salah satu temanku yang aku ketahui ternyata bersaudara dengan kakakku di organisasi. Haa, telat amat. Dulu kukira mereka adalah kakak-adik dalam status liqoan. Eh ternyata kakak adik beneran. Setelah merasakan nikmatnya dawet ketan ireng, kemudian makan-makan sampai kekenyangan kami lanjutkan perjalanan pulang. Nah, di sepanjang perjalanan itu aku sempatkan tanya-tanya banyak hal kepada sang Suhu sekaligus Sang Sopir. Aku bertanya banyak hal kepada beliau terkait masalah dunia keorganisasian. Memang orang cerdas dan keren, aku mendapatkan jawaban-jawaban yang luar biasa.

Salah satu hal yang kudapatkan adalah tentang negarawan. Aku mendapatkan beberapa definisi tentang negarawan dari beliau, dan pada intinya aku mendapatkan refleksi tentang kenegarawanan itu. Bagiku negarawan itu sikap yang terbaik bagi seorang pejuangan bangsa untuk berkontribusi secara utuh bagi bangsanya, itu seperti kata Bapak Mohammad Natsir. Bolehlah ia menggunakan bendera mana saja, namun yang menjadi titik tekan perjuangan kita adalah untuk pembebasan tanah air dari kemiskinan dan kebodohan, lebih-lebih kemiskinan akhlak dan moral, serta kebodohan dari nilai-nilai Islam. Bagiku, hanya dengan tegaknya akhlak Islam, maka negara ini akan selamat dari kehancuran dan status negara gagal. Dalam hal ini aku tidak begitu merisaukan tentang Pancasila, karena sebenarnya jika dikaji secara sehat, muatan Pancasila itu sendiri adalah refleksi dari ajaran Islam. Bagaimana bisa? Sangat bisa, tapi aku tidak akan mengkajinya di sini.

Dan perjalanan ini bagiku cukup baik untuk kusebut perjalanan ideologisku. Apalagi beliau kemudian menasihatiku agar lebih banyak membaca buku-buku yang bersifat ideologis untuk menguatkan argumentasiku terhadap berbagai kerangka pemikiran yang bersebarangan secara ideology. Aku suka sekali perjalanan ini. Dan akhirnya kami sampai tempat asal dengan selamat, meskipun aku setelahnya harus memacu kembali si kuda besi sejauh 60 km untuk memberikan hak-hak pengajaran buta al-Quran kepada ibu-ibu di rumah. Amazing!!!

Kategori
Refleksi

Aktivis dan Organisasi

Seringkali kita mendengar

“Dia itu ga lulus2 kuliah karena terlalu aktif di organisasi”

atau

“Ga heran deh IP-nya 4, …., wong tiap hari belajar melulu, baca buku, ngerjain tugas, ga nyentuh yang namanya organisasi”

Ungkapan di atas mungkin sering kita dengar, bahkan menjadi salah satu bahan pembicaraan kita ketika memberi komentar atas teman-teman kita.

Dalam catatan ini, saya ga bermaksud untuk menjustifikasi sesuatu, sekedar berbagi kisah dan inspirasi yang saya dapat dalam sebuah diskusi bersama seorang dosen psikologi UMM. Beliau berkata: “Jadi mahasiswa yang lulus dengan IP Cumlaude tapi ga pernah ikut berorganisasi itu bagus, tapi tidak hebat. Jadi presiden BEM tapi kuliahnya tidak maksimal itu juga bagus, tapi tidak hebat. Tetapi jadi mahasiswa aktivis yang organisasinya mantap n IP-nya selalu di atas 3 dengan segudang prestasi, itu baru mahasiswa yang hebat, bahkan luar biasa.” Jadi, sebaiknya kita menjadi mahasiswa yang seperti apa. Mungkin ini bisa menjadi pengingat bagi kita bersama, khususnya teman-temanku yang sangat aktivis.

Kemudian kita lanjutkan dengan bahasan organisasi.

Suatu saat saya pernah menjadi tempat curhat:

X : “Mas, saya capek ikut organisasi ini”

I : ” kenapa dek?”

X : “Saya ga menemukan apa yang selama ini saya cari di sini. Penginnya begini, tapi sampe sekarang saya cuma dapat capeknya doang”

I : “Ya, sabar ya. Coba kita lihat sisi lain dari organisasi yang kita jalani selama ini. Jangan sampai sia-sia amal kita selama ini karena kekecewaan yang memang sering muncul di benak kita karena banyknya hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.”

X : “tapi mas, nggak tahulah, mungki besok ga akan ikut lagi ……..”

Jika adik-adik kita berbicara sperti di atas, apa yang kalian rasakan sebagai kabid, ketum atau apa pun dalam jabatan tertinggi organisasi. Tentu seperti sambaran petir yang menggelegar menyapa ruang hati kita. Sebuah ketakutan yang membayang bagi masa depan organisasi yang pada merekalah kelak akan dilimpahkan. Program kerja yang banyak, melelahkan, menyita waktu (pastilah), menyita pikiran (sebagian), mengorbankan harta (jelas), semuanya menjadi ujian sekaligus mekanisme seleksi bagi aktivis di kampus untuk menguji siapa yang benar2 tangguh dan siapa yang lemah sehingga akan berguguran.

Hal ini kemudian sering dimaknai di satu sisi saja. Ada yang berkata “memang tidak semua orang akan sanggup mengikuti semua jalur ini Bro, jdi tenang aj. Yang penting kamu bertahan aj.” Jika ini dipahami sepenuhnya tanpa ada kepedulian terhadap teman-teman kita yang berguguran justru akan menjadi masalah dan bisa jadi ini menjadi penyebab kita dianggap eksklusif.

Ada sebuah perspektif dalam berorganisasi yang saya kira ini mencerahkan, yaitu berorganisasi adalah cara untuk berbagi impian bersama. Dan ini sebenarnya udah secara alami tergambar di wajah-wajah mahasiswa baru, mereka bergabung di suatu organisasi karena memiliki mimpi dan berharap dapat mewujudkan mimpinya di sana. Namun, setelah masuk dalam sebuah organisasi, sebuah doktrin lebih dominan menjejali pikiran mereka. Dengan alasan-alasan yang terkadang memaksa, mereka kemudian harus “bekerja keras”, padahal di  kepala mereka masih terangan mimpi-mimpi mereka, hanya karena takut dan “pekewuh” dalam adat yang ada mereka kemudian seperti manusia karbitan yang tiba-tiba menjadi tenaga atas proyek besar yang belum mereka pahami.

Hasilnya, setengah periode, jumlah penderita MUNTABER (mundur tanpa berita) mulai bertambah, di akhirnya lebih parah lagi, tidak hanya muntaber, tapi sampei MUTER (mundur terang-terangan). Menyedihkan, menyakitkan, dan terkandang membuat kita sendiri ikut kecewa juga. Inikah sistem kaderisasi yang baik? Mungkin penulis catatan ini pun juga masih menjadi salah satu dari pelaku yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Pemikiran kita yang terlampau tinggi ternyata tidak selamanya bagus untuk langsung disodorkan kepada kanan-kiri kita, apa lagi dipaksakan karena sahabat-sahabat kita pun punya impian yang tinggi pula. Maka seharusnya kita mulai membangun organisasi dari mimpi-mimpi para anggota yang ada di dalamnya. Mengumpulkan aspirasi dari semua anggota organsiasi sangat penting. Memperbaiki cara berkomunikasi sangat penting dalam mendukung terealisasinya organisasi sebagai TEMPAT BERBAGI IMPIAN BERSAMA.

Ketika organisasi sudah dipahami sebagai tempat berbagi impian bersama maka arah kerja organisasi tersebut jelas, yaitu mewujudkan mimpi-mimpi, bukan menganalisis masalah berkepanjangan dengan seabreg argumentasi dan solusi yang tidak solutif. Selama ini mungkin kita memiliki mindset bahwa organisasi ada untuk mengidentifikasi masalah, baik masalah internal maupun masalah eksternal kemudian menyelesaikan masalah tersebut. Jadi aktivitas organisasi adalah aktivitas penyelesaian masalah dan masalah. Ini sangat melelahkan. Akan berbeda jika aktivitas organisasi adalah kerja untuk meraih impian. Akan sangat berbeda

Jika ini sudah dilakukan insya Allah sekeras apa pun, secapek apapun, serumit apa pun program kerja kita, semuanya akan selalu dihadapi dengan senyuman. Senyuman tulus dari semua, bukan senyum kecut dari staff kepada kabidnya.

Tulisan ini jauh dari sempurna. Penulis mungkin tidak mampu mengungkapkan dengan bahasan yang baik. Semoga bermanfaat. Sanggahan, kritik, dan saran ditunggu demi perbaikan tulisan ini.

(Repost from my FB Notes)