Kategori
Refleksi

Kisah Dari Negeri Alay

Tuhan, hari ini aku melihat drama yang tidak lucu. Sendu. Bahkan tidak bermutu. Di sebuah negeri yang katanya potongan surga itu, ada sebuah lakon yang sangat saru. Kisah dari perebutan asmara lewat adu mulut hingga saling sikut bahu. Dua anak anjing yang sejatinya anak manusia saling menyalak, memaki satu sama lain dengan bahasa lain yang entah itu masih bahasa ajaran-Mu atau bukan.

Alkisah di sebuah pertokoan yang ramai dengan tua muda dalam nuansa malam. Muda-mudi berkerumun berjibun memenuhi pinggiran jalan-jalan sempit itu. Tak jelas sedang apa mereka, yang pasti mereka tidak sedang berbicara tentang apa itu garis batas kehidupan, mereka larut dalam fantasi hidup yang tak mengenal garis batas. Fantasi yang mustahil lagi keterlaluan.

Sampailah satu mata yang menjuling dengan desis bisikan yang mengundang letupan amarah. Satu anak anjing menyalak dan anak anjing lainnya membalasnya dengan salakan pula. Ini bukan salak pondoh atau salak contek enak dimakan, melainkan umpatan pilu yang terasa begitu nyampah di telinga. Ya aku tak kuasa memandang bahwa itu dua anak manusia yang sedang rebutan pasangannya. Yang saling pamer kegagahan layaknya singa yang berebut kuasa wilayah di hadapan para betina. Sayangnya mereka bukan singa, bahkan terlalu berlebihan jika kusebut singa. Mereka hanyalah para penganggur yang menghabiskan malam bersama pasangannya yang sama-sama tidak jelasnya.

Bermula saling menyalak, berlanjut saling mencakar, berujung saling menghancurkan. Inikah sebuah kejantanan. Di negeri yang sebagian lain sedang kelaparan atau menunggu datangnya harapan dari Pemerintah Pusat katanya, ternyata ada yang masih sempat untuk berkelahi lantaran banyaknya makanan yang masuk mulai dari cemilan hingga obat kuat. Ironisnya realita itu, negeri yang alay itu terus menyaksikan bagaimana anjing-anjing muda bermunculan. Entah dari mana asalnya, yang jelas negeri ini tidak disediakan untuk anjing yang hobi menyalak atau para pengemis yang berbaju emas.

Tuhan, negeri ini terlalu alay. Ku takut Kau tak beri tangguh lagi atas keterlaluan ini. Jika riwayat negeri ini harus berakhir, kumohon agar aku tidak tercatat sebagai warga yang alay.

Kategori
Misi Perubahan

Algoritma Realita #2

Kemudian ada juga sebuah analisis yang berkaitan dengan politik etis Van Deventer yang salah satunya adalah pendidikan. Sehingga kaum priyayi yang mampu bisa kuliah di negeri Belanda. Jika menilik konteks sejarah waktu itu, golongan yang paling ditakuti belanda pasca berhasil dirusaknya sistem kesultanan-kesultanan yang berkuasa adalah kalangan pesantren, di samping juga golongan-golongan adat yang masih setia dengan tradisi mereka.

Pada waktu itu semua sudah mafhum bahwa poros Jawa-Mekah dan Sumatera-Mekah dan mungkin daerah lain juga yang bertaut ke Mekah adalah sebuah jalinan komunikasi yang sangat kokoh. Dan kalangan kyai dan para santri inilah yang kerap memobilisasi rakyat dengan seruan jihad untuk menggempur kedudukan Belanda ketika itu. Masih ingat dengan Pangeran Diponegoro kan? Ia adalah pangeran, tapi lihat fotonya? Tak ada jejaknya sama sekali bahwa ia adalah pangeran dan putera mahkota Sultan Hamengkubuwana III. Karena pakaian dari para pangeran keturunan Sri Sultan tidak seperti itu.

Maka bisa jadi, tawaran pendidikan ke negeri Belanda ini adalah salah satu skema baru yang dibalut dalam politik balas budi itu untuk mempertarungkan orang-orang terbaik bangsa kita nantinya. Poros Jawa-Amsterdam pun dibangun untuk membangkitkan perlawanan baru mendukung pemikiran kolonial jika sewaktu-waktu mereka hengkang dari bumi pertiwi ini. Demikian hasil analisis yang dikaji dalam diskusi kami.

Aku pun terhenyak dengan analisis ini. Apakah mungkin karena ini akhirnya peperangan kubu nasionalis sekuler dengan kubu Islamis akhirnya tetap subur pasca kemerdekaan. Ketiadaan titik temu dari mereka hingga akhirnya gaya kepemimpinan represif pun diterapkan oleh golongan-golongan yang berhasil memegan kendali militernya. Ah, aku pun berkesimpulan bahwa titik konflik bangsa ini itu bukan pada masalah mayoritas kaum muslimin ingin Indonesia berlaku syariat Islam seperti Pancasila versi piagam Jakarta atau kaum sekuler ingin negara ini Pancasila seperi yang ada saat ini. Titik konflik yang dipupuk melalui algoritma cerdas ini adalah hilangnya sikap lapang dada masing-masing untuk mempelajari kembali kesepakatan yang pernah mereka bangun bersama dalam piagam Jakarta waktu itu yang notabene dihadiri oleh perwakilan elemen bangsa baik yang muslim maupun nonmuslim.

Maka ketika sila pertama berbunyi Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya berubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa sebenarnya itu bagian dari pemicunya saja. Esensi yang pertama seolah-olah mengesampingkan pemeluk agama lain, padahal jika sila itu ditegakkan, maka kedamaian bangsa ini boleh jadi akan tercapai seperti di Negara Madinah yang masyarakat internasional mengakui bahwa kepemimpinan Muhammad itu sangat efektif dalam menata masyarakatnya.

Penegakan sila pertama itu memberi jaminan kuat kepada negara yang mayoritas muslim ini untuk mengatur umat Islam dengan penerapan syariat Islam yang tegas, bukan seperti depag saat ini yang getol ngurusi Haji saja (soalnya uangnya berlimpah) atau MUI yang sangat memprihatinkan karena fatwanya ditolak mentah-mentah oleh orang yang beragama Islam sendiri.

Saat ini publik cenderung diarahkan berpikir negatif tentang syariat Islam dengan potret negara Arab yang hobi konflik atau melakukan pelecehan seksual kepada TKW kita. Ya, itu kultur mereka yang memang kita tahu bangsa Arab itu hidup di kondisi panas di tengah padang pasir sehingga turun temurun nuansa mereka panas dan mudah perang. Tapi ketika mau jujur membaca sejarah Islam ketika tumbuh di sana, maka sikap barbar itu dikendalikan oleh sebuah sistem hidup yang terhormat dan teratur.

Kisah peperangan menaklukkan bangsa Arab, merebut kekaisaran Yaman, kekaisaran Persia, kekaisaran Romawi Timur memang menjadi kisah heroik, tapi adakah kisah pembantaian terhadap tawanan perang di sana, buktikan kalau ada? Padahal dulu sebelum Muhammad terlahir, dengan mudahnya bangsa itu berperang lantaran ejekan biasa antar pemudanya, saling bunuh-membunuh, membantai dan memperkosa para wanitanya. Mengerikan bukan?

Maka pada imajinasiku, ketika sila pertama itu tegak, jelas bukan perang yang akan dikobarkan di Indonesia, karena pemberontakan yang dulu terjadi itu justru karena daerah-daerah yang menginginkan payung syariat tidak dikabulkan oleh pemerintah, seperti Aceh sehingga sempat menjadi daerah operasi militer bertahun-tahun dan konfliknya tetap berdarah hingga kini. Yang ditegakkan pertama kali adalah zakat dan pemerataan kemakmuran.

Mengapa? Karena pembicaraan masalah syahadat, shalat, dan puasa pemerintah bisa mengembalikan fungsi pesantren dan madrasah diniyah yang telah dibangun para ulama sejak masa penjajahan dahulu. Zakat harta yang 2,5 persen dari harta masyarakat jelas akan menjadi pendapatan negara yang sangat besar karena sifatnya wajib bagi individu kaum muslimin, bukan seperti sekarang yang sifatnya pembebanan pajak yang itu lebih dititikberatkan pada perusahaan. Dan kebanyakan perusahaan juga cerdas dengan menaikkan utangnya agar beban pajaknya kecil.

Dalam Islam, Rasulullah tidak pernah mengajarkan berhutang. Bahkan berbisnis pun tidak pernah dikenalkan istilah hutang. Yang ada adalah berinvestasi yang itu tidak diartikan hutang. Artinya jika pelaku bisnis rugi maka investornya juga siap menanggung kerugian. Maka istilah bank-bank syariah saat ini kalau mau dibedah ya baru proses menuju ekonomi syariah, belum syariah dong. Wong masih pakai sistem-sistem jaminan segala kalau memberi hutang.

Lebih lanjut, apalagi ketika negara menerapkan masa kepemimpinan Umar bin Khattab dalam mengelola aset negara. Individu yang menumpuk kekayaan seperti tanah dan bangunan akan disita oleh negara jika tidak dimanfaatkan untuk bisnis yang mendatangkan lapangan kerja atau aktivitas sosial. Dan sudah pasti siapa yang mau numpuk perhiasan dan tabungan yang banyak, wong tiap tahun akan kena zakat 2,5 persen. Maka dengan adanya sistem ini tradisi sedekah bagi umat Islam sendiri sudah pasti akan berjalan dengan baik. Tidak seperti sekarang di mana orang enggan berzakat sehingga banyak rakyat miskin bertebaran lantaran pemerintahnya juga korup sehingga uang pembangunan tidak dapat dirasakan rakyat.

Untuk masalah haji, tidak perlu di bahas. Karena hari ini sudah ditunaikan oleh depag. Dalam bahasa cibiranku, ya jelas mau ngurusi lah. Wong uangnya banyak dan berlimpah. Apalagi tabungan haji para jamaah yang mau ke Mekah, didepositokan udah bisa bikin kaya para pejabatnya tiap bulan.

Lantas bagaimana dengan kaum non muslim yang dipandang minoritas? Esensi penegakan sila pertama versi piagam Jakarta tidak kemudian mengesampingkan urusan mereka. Justru dengan adanya penegakan syariat bagi kaum muslimin, maka pemberlakuan bagi kaum non muslim bukan lagi pajak negara. Jika kaum muslimin membayar zakat, kaum non muslim membayar jizyah sebagai jaminan bahwa negara akan melindungi mereka, darah mereka dilindungi seperti darah kaum muslimin. Dalam hal ini kepemimpinan agama akan dijamin oleh negara karena seperti yang telah dicontohkan para penguasa kaum muslimin, begitu mereka menguasai wilayah taklukan, maka tokoh yang paling berpengaruh dalam agama itu akan dilantik sebagai pemimpin tertinggi bagi kaumnya. Dan memiliki hak untuk mengelola umat masing-masing.

Kategori
Pendidikan

Aktivis Apolitis?

Ceritanya ini berawal dari kekagumanku pada tokoh-tokoh bangsa ini yang telah membuktikan perjuangan mereka di masa lalu. Sebut saja mereka, Soekarno, Moh. Hatta, H. Agus Salim, Moh. Natsir, Hamka, Jend. Soedirman, Sutan Sjahrir, Moh. Roem, bahkan Tan Malaka dll. Atau yang lebih awal lagi seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, dll. Mereka adalah cendikia bangsa ini yang sangat mengagumkan. Warisan pemikirannya hari ini kerap kali dikejar oleh para pengagumnya. Bagaimana dengan aktivis kampus hari ini?

Pelbagai tawaran yang menggiurkan dalam dunia pergerakan kampus hari ini luar biasa. Aneka gerakan ditawarkan dari mulai yang sangat kiri hingga yang sangat kanan. Okelah semua punya alasan dan sah-sah saja memburu kader-kadernya di dalam kampus. Karena memang sewajarnya begitu, kampus itu ladang pengkaderan masing-masing pergerakan. Hanya saja, yang sering membuatku tersenyum adalah apakah pengkaderan pergerakan-pergerakan hari ini telah sampai pada pertimbangan mendasar tentang akar sejarah masyarakat Indonesia. Atau jangan-jangan hanya sebuah pelibatan teknis yang sifatnya perjanjian saja (baca : baiat) tanpa penumbuhan alasan bersama mengapa harus bergerak untuk menyelamatkan bangsa ini.

Dahulu, mahasiswa itu adalah kaum yang tertarik untuk membicarakan kepemimpinan. Muaranya adalah tentang sikap kenegarawanan. Hari ini, boro-boro bicara masalah sikap kenegarawanan, membicarakan kepemimpinan saja sudah bersyukurnya minta ampun. Bagaimana realita kepemimpinan itu, jika kita mau jujur, ya kepemimpinan itu pastilah tentang politik. Politik itu adalah ruang pembicaraan nyata tentang bagaimana kepemimpinan bangsa ini diimplementasikan.

Yang terjadi kemudian, kepemimpinan politik itu hari ini dipandang sebagai obsesi gerakan, tanpa sebuah upaya sinergi (karena memang sampai sekarang aku melihat gerakan-gerakan ini belum memiliki visi bersama yang menyatukan). Sehingga ruang belajar di kampus itu tidak lebih sebagai gagah-gagahan untuk saling berebut kekuasaan. Kadang-kadang yang tua-tua bukannya mengarahkan agar proses persaingan itu semakin sehat, tapi malah ikut-ikutan bikin tambah runyam urusannya.

Di kalangan mahasiswa yang ghirah aktivisnya rendah dan sense kepemimpinannya masih rendah, realita di atas membuat mereka semakin malas dan apatis bicara tentang kepemimpinan. Sehingga ujung-ujungnya muncul istilah gerakan anti politik (masak iya negeri ini tidak butuh sistem politik), atau politik itu kotor dan busuk (perasaan kata politik itu netral deh, yang membuat busuk atau baik kan para pelakunya), atau kemudian ada istilah aneh-aneh yang lain yang intinya berujung pada prototipe aktivis apolitis. Jadi aktivis tapi tidak mengakui realita politik.

Yang parah kemudian melahirkan sekulerisme kepemimpinan. Istilah, jangan bawa-bawa agama kalo lagi bicara politik atau sebaliknya kemudian ngetrend dan diamini oleh banyak orang. Celakanya yang banyak terjebak di sini adalah umat Islam sendiri. Ini lebih konyol dan sangat luar biasa lucunya. Terlihat sekali bagaimana pembicaraan sejarah mereka terputus pada pengaguman sejarah yang tidak diikuti dengan spirit perjuangan mewujudkan kepemimpinan yang pernah hilang. Mungkinkah kepemimpinan itu tiba-tiba datang dari langit tanpa ada penyiapan yang nyata dari umat Islam itu sendiri?

Bukankah ketika kekuasaan itu ada, umat Islam bisa merealisasikan banyak kebaikan dan membuktikan bahwa mereka mampu menjaga payung perdamaian dunia. Berabad-abad lamanya kita pernah membuktikan itu. Bahkan di mata umat non-muslim itu, kekuasaan Islam telah membuktikan perlindungannya. Yang membangun opini buruk sebenarnya adalah pemimpin lama yang dikalahkan, itu wajar dan biasa dalam dunia politik di mana untuk memimpin sebuah masyarakat itu sering terjadi pertarungan untuk pengaruh dan kekuasaan.

Realita kepemimpinan di tataran tertinggi memang akan selalu ada badai, bunuh membunuh pun bahkan bisa saja dilakukan. Tapi memahami pentingya kepemimpinan sebagai amanah mulia dan kehormatan melayani umat sebaiknya senantiasa dipegang. Sehingga persaingan dalam berebut kekuasaan itu bukanlah berhenti untuk menyejahterakan kelompok, golongan, atau jamaahnya saja. Tetapi berhasil membangun sinergi bersama untuk memberikan kemaslahatan bagi umat karena itu amanah mulia dan sebuah kehormatan untuk melayani.

Tentu saja bagi saudara-saudara aktivis muslim, hanya ada satu konteks yang sangat mungkin untuk mengurangi perbedaan pandangan yang kian kentara dari hari ini. Kembali pada sejarah kita, di mana saat Rasulullah melakukan pencerahan dengan risalah Islam yang dibawanya dan menebarkan kedamaian di seluruh dunia. Dari situ kita punya PR besar untuk mengembalikan opini dunia, bahwa Islam itu bukan agama perang seperti yang sering dipersepsikan oleh rival-rivalnya, tetapi Islam itu adalah agama keselamatan.

Kita berharap bahwa saudara-saudara muslim kita adalah orang-orang yang mau bertanggung jawab untuk menjaga keyakinan ini dengan teguh. Mengutamakan perdamaian dalam jalinan persahabatan dengan para pemeluk agama yang lainnya dalam bingkai kemuliaan akhlak. Karena dunia yang damai itu lebih menjamin ketenteraman kita untuk berbuat kebaikan. Ada pun dibelahan lain yang tengah bergejolak, terkadang kita harus membuka kembali lembaran sejarah, bahwa Rasulullah pun pernah mengisyaratkan bahwa tidak akan pernah ada perdamaian sejati atas bumi Palestina, sehingga kaum Yahudi penjajah itu pergi.

Umat Islam hari ini mengalami kemunduran, karena lemahnya ruh jihad dan keinginan belajar umat yang sudah tidak lagi sejalan seperti para pendahulunya. Akibatnya pertolongan Allah jauh, dan seperti biasanya, kemenangan akan dipergilirkan untuk umat yang lain sampai Allah melihat ada usaha keras dari kaum muslimin sehingga kelak dimenangkan kembali. Jadi masih inginkah kita menjadi aktivis kampus yang apolitis?

Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #2

Bangsa Kanak-Kanak

Di antara konsekuensi bangsa yang semakin tua adalah terwujudnya sebuah bangsa yang dewasa. Aku belajar banyak dari perjalanan selama sebulan di Jerman. Mereka adalah orang yang sangat bangga dengan karya bangsa sendiri. Meskipun pemerintah tidak membatasi berbagai impor, tetapi mereka memilih BMW sebagai mobil kesayangan mereka. Jangan ditanya masalah kereta api dan pesawat terbangnya, jelas buatan sendiri. Apa lagi? Yah mereka begitu menghargai itu semua sebagai warisan terbaik putra-putra bangsa mereka. Maka tidak mengherankan jika sekarang Jerman menjadi satu-satunya negara yang paling kuat ekonominya di Eropa.

Dalam hal sejarah, mereka telah mengubur rapat-rapat catatan buruk sejarah mereka. Meninggalnya Kaisar Barbarosa ketika tercebur dan tenggelam di Sungai Rhein sebelum sampai ke medan perang, kisah NAZI berkuasa dengan Hitlernya semua telah dikubur dalam-dalam dari ingatan mereka hingga pada generasi mereka. Mereka tahu bahwa sejarah-sejarah kelam itu akan meracuni generasi bangsa Jerman dan selayaknya dikubur dalam-dalam. Masih banyak cerita kejayaan yang bisa mereka ungkapkan di dalam kelas, sebagai pengantar tidur dan sebagai bahan film yang selalu ditonton anak-anak. Bangsa ini telah dewasa untuk terus bangkit membangun dan hidup dalam kesejahteraan.

Bagaimana dengan bangsa kita? Membaca tulisan dari Uda Yusuf tentang Demokrasi Tanpa Gagasan akan membuat kita geleng-geleng kepala. Dalam tulisan yang singkat dan renyah itu, Uda membagi fase demokrasi di negeri kita mulai dari demokrasi totaliter, demokrasi transaksional, demokrasi pencitraan, dan seharusnya kita berusaha untuk mencapai demokrasi tranformasi gagasan. Demokrasi totaliter telah terjadi di mana siapa yang berkuasa dapat mengatur dengan segala kekuatannya, kemudian ketika beberapa faksi semakin menguat maka sistemnya menjadi transaksional, dan ketika media telah menjamur maka kenarsisan telah mewarnai demokrasi kita. Semua harus dibayar mahal karena memang semua membutuhkan biaya besar untuk setiap fase demokrasi itu dengan harapan kelak tercipta demokrasi tranformasi gagasan yaitu suatu kondisi ideal di mana masyarakat mengerti visi dan misi pemimpinnya dan pemimpinnya memerintah dengan transparansi dan tanggung jawab.

Jika negeri kita tetap stagnan dalam demokrasi pencitraan, apalagi juga masih berkelindan dengan demokrasi transaksional terlalu lama, maka cita-cita menuju demokrasi tranformasi gagasan seperti angan yang mustahil. Bagaimana tidak? Kebodohan akan berubah menjadi pembodohan. Kesenjangan sosial akan berubah menjadi pensenjangan sosial. Kemiskinan akan berubah menjadi pemiskinan. Dan masih banyak lagi ke-an menjadi pe-an yang lain. Dan ini konsekuensinya adalah sistematika baru dalam babak penjajahan negeri ini. Memangnya negeri kita telah merdeka? Kata siapa? Bung Karno pun ketika telah menjabat sebagai presiden tetap berteriak merdeka bahkan setelah proklamasi kemerdekaan. Jadi kata merdeka itu sebenarnya adalah seruan bagi tiap diri untuk melakukan pembebasan dan memerdekakan dirinya dari penjara kebodohan diri. Untuk tunduk mengabdi kepada Yang Maha Perkasa, yang pantas mendapatkan pengabdian dari hamba-Nya.

Melihat berbagai pertikaian para elit negeri ini yang kemudian juga diikuti oleh para mahasiswa yang ikut-ikutan berfaksi dalam berbagai pergerakan mahasiswa sekarang semakin menjauhkan mereka dari visi besar bangsa Indonesia seperti yang telah tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Saling singkir menyingkirkan dalam masalah kekuasaan mudah saja dilakukan tanpa sebuah komunikasi yang elegan. Sikap apakah semacam ini? Bahkan anak-anak yang hobi bertengkar pun segera baikan ketika air mata mereka telah kering. Ini sikap yang jauh dari kedewasaan, dan jauh lebih kanak-kanak dari anak-anak yang masih sekolah di taman kanak-kanak. Maka bangsa ini harus membayar mahal dengan persepsi buruk masyarakat, politik dipersepsikan menjadi sesuatu yang kotor dan mengerikan. Masyarakat selalu resah dan tidak fokus lagi untuk bekerja keras membangun bangsa ini. Semua perhatian tertuju pada masalah kekisruhan kepemimpinan yang seolah tidak ada ujung penyelesaiannya.

Bagi yang merasa mahasiswa, sikap apakah yang telah kita ambil sejauh ini? Apakah kita ternyata menjadi generasi bangsa yang mengalami degradasi sikap menuju anak-anak PAUD atau bahkan yang lebih kecil dari itu. Ayolah, ada banyak pilihan hidup ini. Mau kuliah melulu, kemudian kerja, ga peduli di perusahaan asing atau di mana pun asal gajinya tinggi. Atau menceburkan dalam sebuah ruang gerakan tanpa sebuah bangunan karakter yang jelas sehingga terjebak dalam fanatisme buta tanpa sebuah visi besar untuk bangsa dan kemaslahatan umat ini. Masa muda ini penuh banyak pilihan, tetapi pasti hanya akan ada satu pilihan yang terbaik. Dan pilihan itu ada di hati masing-masing kita sebagai mahkota yang akan kita genggam sampai mati dan persembahkan di hadapan Allah ketika hari pertanggungjawaban nanti.

Kita adalah bangsa yang telah lama, bukan lagi balita atau kanak-kanak. Mari sudahi kebiasaan saling membunuh saudara sendiri. Penjajah Indonesia itu bukan Belanda atau Jepang, tetapi para pengkhianat bangsa, darah daging kita sendiri, kulitnya sama dengan kita, bahasanya sama, dan bahkan terkadang lebih ramah dari kita. Atau mungkin kita ini salah satu bibit selanjutnya. Naudzubillah mindzalik.

Yang hari ini menikmati fasilitas negara dengan belajar di sekolah dan kampus negeri, mari kita renungkan apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini (khususnya rakyat) karena jerih payah merekalah yang telah membiayai kita. Yang hari ini telah menikmati beasiswa dari pemerintah, balas budi apa yang telah kita persembahkan untuk negeri ini. Yang hari ini menjadi pegawai negeri, sudahkah kita menjadi pelayan sejati untuk negeri ini? Melayani rakyat dengan sepenuh hati sesuai janji yang telah diucapkan dalam pelantikan. Jika belum ada, maka pantas dicatat bahwa kitalah benih-benih baru penjajah negeri ini yang nanti akan mudah sekali bergandeng tangan dengan para perampok negeri ini. Yang suka dengan fasilitas mewah tapi tak peduli siapa yang memberi. Yang masih bisa membedakan dan merasakan adanya tanggungjawab di balik segala fasilitas yang kita rasakan ini, maka semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk tetap menapak di jalan indah ini, dalam idealisme yang realistis dengan “furqon” yang senantiasa terjaga.

bersambung ….

Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #4

Fisika Menginspirasi Pemimpin?

Ini adalah bagian akhir dari tulisan ini yang paling kontroversial. Berangkat dari fakta yang hingga hari ini terjadi di kampus UNS, prodi pendidikan fisika adalah prodi yang paling produktif yang menyumbangkan aktivis dan para pemimpin kampus. Pascakampusnya pun tak jarang mereka kembali memimpin berbagai institusi pendidikan atau bisnis. Mungkin jumlahnya bukan dominan atas yang lain. Tetapi ini dapat menjadi argumentasi bahwa orang-orang yang belajar eksak itu juga dapat menjadi pemimpin. Dan bukti ini menepis anekdot bahwa orang yang belajar eksak terlalu getol ujung-ujungnya hanya menjadi profesor, calon anak buah profesional dari orang sosial yang sukses menjadi manager.

Orang eksak pun dapat menjadi pemimpin. Orang yang jago dalam bidang fisika itu dapat menjadi pemimpin. Oleh karena itu alangkah menyedihkannya jika guru-guru fisika hari ini banyak yang “tersesat” dengan mengajarkan ilmu fisika sebagai komoditas murah dan sekedar bahan pemenuh kertas catatan siswa. Menjadi guru fisika itu adalah kebanggaan untuk melahirkan calon pemimpin baru yang humanis dan cinta lingkungan. Ia bukan semata-mata profesi, tetapi panggilan jiwa yang tumbuh dari niat tulus, kedalaman pemaknaan dan kejelasan visi untuk melahirkan pembelajar dan pemimpin. Semua berangkat dari hati, saat melangkahkan kaki ke sekolah, ingin seperti apakah siswa-siswa kita kelak.

Guru fisika yang baik adalah pemimpin yang memanusiakan para siswanya. Yang meletakkan dasar pemahaman ilmu alam. Yang mengajak siswa bermimpi besar tentang negaranya. Seperti Habibie, yang dikagumi karena mampu melahirkan para ahli fisika dan aeoronautika dalam waktu satu dekade saja. Mungkin orang lebih banyak mengenal beliau sebagai orang yang ahli membuat pesawat. Itu bukan hal yang mengagumkan, sebagai doktor bidang fisika dan teknik tentu membuat pesawat atau piranti teknologi seperti itu sudah bukan hal yang sulit. Jadi Habibie adalah sosok fisikawan yang berjiwa pemimpin. Teknokrat yang tidak hanya melek tentang mesin, tetapi juga melek tentang bangsa. Maka tak berlebihan ungkapan Presiden Soeharto ketika menguatkan Habibie agar mau pulang ke Indonesia dengan mengatakan, “Jika engkau membuat pesawat saja bisa, maka mengurus yang lain-lain tentu lebih bisa”.

Guru itu melahirkan manusia-manusia yang lebih ahli darinya, demikian ungkapan dari Indrawan Yepe, pendiri Quantum Convidence Indonesia. Guru itu melahirkan pemimpin. Guru itu melahirkan generasi bangsa yang cerdas. Yang akan meneruskan cita-cita para founding fathers ini, mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Guru itu adalah pahlawan yang selalu ada sepanjang bangsa itu masih ada. Maka sudah saatnya guru itu menjadi panggilan jiwa.

Tentang guru fisika, maka dia adalah bagian dari pahlawan bangsa itu. Yang akan membebaskan bangsa dari jerat impor dan ketergantungan terhadap asing. Yang akan mendidik para siswanya cinta produk dalam negeri. Yang menggunakan logika sederhana bagaimana mengelola lingkungan ini dan merekayasa untuk kebaikan masyarakat. Yang meneruskan cita-cita Habibie, tentang kemandirian bangsa yang sesungguhnya lewat industri strategis.

Masih tentang guru fisika, ternyata mendidik para siswa dan mengajari mereka belajar fisika itu tidak hanya untuk menjadikan mereka mengerti rumus tentang mekanika klasik hingga mekanika kuantum. Tetapi adalah menjadikan mereka mengerti untuk apa rumus-rumus itu digunakan kelak. Dan itu tandanya menjadi guru fisika itu tidak sekedar mengajari siswa membuat rumus, memasukkan angka dan menghitungnya, tetapi mengkader mereka menjadi para pemimpin selanjutnya. Maka, jika hari ini masih ada guru fisika yang “tersesat”, sebaiknya segera bangkit untuk melakukan perlawanan atas berbagai ketidakmapanan ini. Guru fisika adalah figur pemimpin yang dinantikan negeri ini untuk mencetak orang-orang seperti Habibie di masa nanti. Siapakah yang akan mengambil peran penting ini?

(selesai)

Kategori
Dakwah Islam

Roti Sumbu, Sumber Energi Bangsa yang Terlupakan

Teringat ketika salah seorang mubaligh dalam shalat tarawih bercerita tentang pahitnya kehidupan 20 tahun silam ketika masyarakat hanya makan singkong, yang dengan bangganya ia sebut sebagai “roti sumbu” spesial. Kemudian ingatan pun terus melayang hingga sampai pada cerita dosen di kampusku yang lulusan Perancis justru ingin membuat desa wisata yang mempertahankan nilai-nilai dan keaslian daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Akhirnya ada hal terbetik tentang bagaimana memajukan Indonesia.

Kembali ke masalah “roti sumbu”, sebenarnya kata itu mengisyaratkan bagaimana bangsa kita pernah mandiri dengan pangan yang tersedia di daerah mereka masing-masing jika kita mau sedikit merenung dengan paradigma kaum pribumi. Apakah harus selalu beras? Bukankah memaksakan beras berakibat pada impor beras. Dan itu artinya ada satu potensi kita yang terabaikan yaitu kemandirian pangan. Apakah singkong tidak bergizi seperti nasi? Ternyata tidak, bahkan DR. Minarto, MPS, Direktur Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa kandungan gizi singkong lebih banyak.

Berbicara masalah “roti sumbu”, maka sesungguhnya kita sedang dihadapkan pada sekian sistem yang sengaja diciptakan untuk menghindari peningakatan kesejahteraan masyarakat dan nilai kualitas produk lokal. Apakah dengan tidak mengkonsumsi nasi, lantas standar kelayakan hidup masyarakat kemudian dikatakan rendah? Tentu tidak. Namun sekarang paradigma masyarakat telah mengalami pergeseran dimana rasa gengsi semakin menjangkiti sebagian besar bangsa ini sehingga untuk masalah makan saja harus selalu memilih nasi, meskipun itu impor. Lalu bagaimanakah nasib para petani kita?

Memang singkong mungkin dikatakan kurang bermartabat. Tapi bukankah kita bisa menjadikannya lebih terhormat dengan pengemasan sendiri dan penamaan yang lebih kreatif untuk mengundang cinta masyarakat kembali kepada alamnya dan menjaga kekayaan alamnya. Kemandirian untuk hidup, itu adalah komitmen nyata sebagai bukti rasa cinta tanah air kita. Hanya masalah singkong, tapi dia dapat menjadi indikator apakah kita masih percaya bahwa modal yang kita miliki bisa membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukannya.

Mandiri, itulah modal utama untuk membawa bangsa ini maju. Dengan sikap mandiri, maka akan menuntut inovasi dan sikap cinta produk sendiri. Dengan sikap mandiri akan terbiasa menjadi bangsa yang kuat dan tahan banting dari tekanan luar. Buat apa kita tetap berbangga dengan produk asing, sementara kita menyaksikan sekian tanah kita dikuasi cuma-cuma oleh sebuah kontrak yang tidak fair antara pengusaha serakah dengan pejabat yang korup. Sumber daya alamnya dikeruk, diproduksi di luar negeri dan kembali ke negeri ini sebagai barang mahal yang dilabeli kata “keren” sehingga menaikkan gengsi siapa pun yang mengkonsumsinya. Seperti inikah sikap bangsa yang mengaku merdeka sejak tahun 1945? Mobil dan sepeda motor berserakan, adakah itu karena kemandirian kita. Adalah sangat naïf dan paradoksal.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Agustus dan memperingati hari kemerdekaan. Mari kita besumpah untuk menjadi bangsa mandiri, yang percaya bahwa kita bisa hidup dan makan meski hanya dengan “roti sumbu” alias singkong, asalkan tidak impor beras lagi. Percaya bahwa kekuatan ekonomi kita akan kokoh dari kerja keras kita dan tidak ketergantungan dengan investasi asing. Kita punya SDA melimpah, SDM cerdas berlimpah. Dengan memakan “roti sumbu”, mari kembalikan energi bangsa yang telah hilang ini.  Kata kuncinya, percaya bahwa kita bisa, berkreasi dan mandiri untuk membangun Indonesia. Jayalah Indonesiaku.