Menjadi bagian dari Aktivis Bakti Nusa adalah sesuatu yang berharga bagiku. Bukan masalah statusnya yang bergengsi, tetapi aku menemukan makna yang sesungguhnya saat kita menyandang gelar sebagai aktivis. Ada value yang ditanamkan kepada kami untuk kami resapi dan kami jadikan pijakan dalam tindakan kami.

Sudah hampir 2 tahun kami dipertemukan dari berbagai fakultas di UNS dan beberapa universitas terbaik di tanah air ini. Kesibukan kami yang berbeda telah membuat kami tidak lagi bisa sering berjumpa seperti setahun yang lalu. Tetapi nuansa kerinduan itu tetap terpatri erat di hati kami.

Hari ini, di hari kelahiran Rasulullah, kami berjanji untuk meluangkan waktu bertemu dan berbagi cerita satu sama lain. Ini adalah kali keduaku berkunjung ke rumah makan yang dulu kami pernah dijamu pak Dani su’ud, salah satu orang penting yang pernah memegang Solopos. Di rumah makan inilah kami kembali bergembira dalam pertemuan yang mungkin sangat sulit dilakukan.

Aku membayangkan betapa luar biasanya di hari depan nanti, ketika generasi-generasi bangsa yang hari ini menjadi bagian dari aksi perubahan itu tetap beristiqamah hingga kami bisa berjumpa lagi dalam keaadan yang berbeda. Aktivis selalu punya cara untuk melepas kerinduan mereka. Bukan dengan pesta pora, tetapi dengan berbagi kisah perjuangan dan saling menyemangati. Kami percaya bahwa oleh-oleh perjalanan terindah di antara sesama kami adalah kisah inspiratif yang saling dibagi.

Perjuangan masing-masing kita adalah monumen yang seyogyanya kita abadikan, lalu kita bagikan untuk sesama kita. Itulah energi yang akan terus menyambung perjalanan kita yang masih dipenuhi rasa idealisme ini. Apakah kita masih bisa menjaga idealisme ini di masa depan? Jawabannya terletak pada seberapa besar kesungguhan kita merawat kebersamaan dan kerinduan kita di jalan perjuangan ini. Jika kita meninggalkannya, maka mungkin jawaban di masa depan sudah diketahui dari sekarang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.