Tidak seperti biasanya, liqo tadi malam tidak mengkaji materi-materi yang telah diberikan kepada kami, tapi guru kami lebih mengajak kami diskusi berbagai hal yang nyata tentang realita hidup hari ini. Apa pun warnanya, liqo tetap menjadi sesuatu yang kurindukan. Apalagi jika saat ini Allah mempertemukanku dengan murabbi yang sangat senior. Ibarat benang terputus setelah lama dirajut oleh sang ulama di tanah kelahiran, kini benang itu ditegakkan dan dirajut kembali.

Pembahasan malam ini lebih banyak diisi dengan pengalaman dan jejak hidup yang telah dilakukan sang murabbi. It’s the real story. Bagiku sharing pengalaman seperti ini sangat mahal harganya hari ini. Mengapa? Karena hari ini mungkin orang-orang yang merupakan best practicer tidak sebanyak dahulu. Sama-sama cerita hal yang baik, tapi jika yang diceritakan adalah pengalaman panjang yang pernah dijalani akan berbeda ruhnya ketika kita hanya menceritakan pengalaman orang lain. Jadi inspirasi pertamanya, ketika kita baru awal-awal jadi aktivis, jangan terlalu berapi-api, wong kita juga belum punya pengalaman berarti, lebih baik jadi teladan untuk komitmen pada hal-hal kecil dan mendasar dahulu sebelum bicara yang makro dan besar-besar.

Kemudian topik yang dibahas lagi-lagi adalah masalah persiapan hidup. Baca : masalah #nikah #amanah #maisyah. Itu adalah bahasan seru yang sudah pasti mengalihkan dunia (baik dunia mimpi teman-teman sehalaqoh yang awalnya tidak tahan dengan kantuk) menjadi ger-geran dan penuh tawa. Tentang nikah sudah pasti ini sangat seru, sharing pengalaman beliau yang sudah lebih dari dua dekade mengurusi mutarabbi tentu sangat menarik dan banyak cerita yang beliau sampaikan. Yang aku garis bawahi adalah butuh kejujuran dalam pernikahan, kejujuran dalam proses, kejujuran dalam belajar, dan kejujuran dalam berjuang.

Kisah dua orang aktivis yang menikah tapi sampai dua bulan katanya tidak mengalami “kemesraan” seperti bayangan kebanyakan orang menjadi hiburan tersendiri bagi kami tadi malam. Menurut MR-q semua gara-gara keduanya masih buku minded. Yang akhwat bayangannya masih memimpikan sosok ideal, sepertiga malamnya dibangunkan oleh yang suaminya dan diperciki air. Yang ikhwan membayangkan sosok istri yang selalu siap berjuang di sini, dan selalu menyiapkan keperluan pribadinya dengan baik. Sama-sama terlalu bermimpi tinggi, yang ada malah hubungan keduanya tak kunjung terjalin dengan mesra. Akhirnya waktu datang bersilaturahim ke rumah beliau, beliau “mengerjai” mereka untuk melakukan hal-hal yang selama ini membuat hubungan kemesraan keduanya tak terjadi. Beginilah pemuda, memang harus banyak belajar dan bersilaturahim kepada pasangan-pasangan usia keemasan. #Jadi mikir jangan-jangan besok aku juga krik2 gitu ya dengan istri.

……bersambung

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.