Kategori
Refleksi

Mari Menyalakan Harapan

Di antara pekerjaan mulia hari ini adalah “menyalakan harapan”. Dan harapan itu tidak dinyalakan dalam kata-kata motivasi saja, tetapi dengan tindakan nyata dan kisah inspirasi yang tertuang dalam hidup kita. 

Di perjalanan hidup kita, kita bisa mencari banyak pelajaran dari guru-guru kehidupan ini. Itulah inspirasi yang layak untuk kita bagikan dari pada mengorek-orek aib para politisi yang memang umumnya begitu.

Prabowo ataupun Jokowi, mereka tak lebih sebagai orang yang nanti akan mewakili Indonesia untuk pidato atau tanda tangan saja. Tapi ada ratusan juta rakyat hari ini yang harus diatur kembali agar tidak brutal saat nyetatus FB, komentar dan menumpahkan buah kepandaian mereka sakgeleme dewe. Termasuk mereka yang katanya pandai agama tapi sudah lupa soal ghibah dan fitnah, hingga saling menjelek-jelekkan satu sama lain, yang ujung-ujungnya menyulut provokasi yang lain juga untuk mendengki. Padahal dengki adalah penyakit yang lebih berbaya ketimbang busung lapar.

Memang ada baiknya rakyat Indonesia ini tidak perlu tahu berita politik. Biarlah mereka tetap bekerja di kantor, sawah, ladang, dengan segala perjuangan mereka itu. Jika hati mereka lapang mereka akan bersyukur dan berdoa untuk kedamaian negeri ini, untuk kebaikan para pemimpinnya. Barangkali doa-doa tulus mereka itulah yang masih mampu menjaga negeri yang rusak ini dari berbagai bencana.

Perubahan itu memang butuh pemimpin, tetapi perubahan itu adalah kerja kolektif. Sebelum banyak menghina orang lain, lihat diri sendiri dulu, wis pener urung. Karena sulitnya berubah negeri ini, karena memang yang memilih status quo lebih banyak ketimbang yang ingin berubah. Kalau semua orang cuma sarapan berita politik nanti benar-benar akan mengalami busung lapar, terutama lapar tawakal karena hari-harinya hanya cemas dalam kekhawatiran masa depan yang belum tentu jelas. Padahal sudah jelas-jelas kita diberi hari ini untuk bertindak dengan akal sehat.

Yuk kerja saja, bagikan kisah-kisah optimisme yang baik-baik dan sesuai konteksnya. Mari sedikit2 belajar menjadi bagian dari agen yang bisa menyampaikan mutiara-mutiara al-Quran dan Sunnah di tempat dan waktu yang tepat, seolah-olah di tiap masalah itu, wahyu kembali turun untuk menyapa kita sehingga kita tetap optimis melihat masa depan negeri ini. Katanya negeri ini milik Allah, mengapa cemas, mengapa terus mengumpati sistem yang ada, mengapa terus khawatir. Kalau tidak terima dengan sistem saat ini, pergi saja dari Indonesia. Kalau khawatir dan cemas dari dunia, pindah saja ke alam lain. Bikin ribet saja di bumi Allah ini.

Sumber: https://www.facebook.com/ardika.zaid/posts/10201884757671377

Kategori
Pendidikan

“Nggragasi” Politik dan Kerja Produktif

Kalo banyak orang sekarang yang mikirnya politis sih mungkin iya. Tapi kalo sekarang banyak politisi yang “berpolitik” mah, nanti dulu, aku ga mau bilang iya. Nalarku yang bodoh ini lebih melihat banyak politisi yang sedang berbisnis materi, bukan berpolitik. Mengapa? Karena berpolitik itu butuh keberanian dan kelurusan hati. Sedangkan bisnis materi itu modal berani sama analisis untung rugi yang cermat.

Ya sudah Pak Bu, mari lanjutkan kerja lagi, jenengan nggagasi politik tenanan yo ra marai tentrem neng ati to. Apalagi jenengan bukan pelaku politik dalam skala yang diperdebatkan itu. Kita masih punya urusan politik Dul, yakni mendirikan parlemen dihati kita untuk memutuskan apakah detik ini, dalam suasana begini, dan untuk tujuan ini kita harus misuh-misuh atau kalem, harus membenci atau mencintai. Kalo sudah nanti tinggal naik ke level keluarga, RT, RW, Kampung, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, Nasional. Semoga sukses.

Gabung di komunitas online itu dapat keteladanan penting tentang arti rendah hati. Sejauh bergaul dengan orang-orang hebat yang hobi “nungguin leptop dan PC” mereka adalah orang-orang yang cenderung silent dan produktif. Keahlian mereka ditunjukkan dalam bekerja, bukan wacana. Sang suhu coding hingga yang mbaurekso server justru terkadang tersembunyikan dalam kesahajaannya. Seperti halnya sang sopir yang mengawal kami dalam perjalanan Bandung-Bogor adalah seorang konsultan sebuah perusahaan. Dan guru-guru hebat itu selalu tersembunyi, baru ngaku kalo kita sungguh-sungguh ingin belajar ilmu-ilmu penting padanya. Maka tidak usah tertipu dengan label-label, cukuplah label sebagai tanda pengenal tapi itu bukan standar.

Sumber :

Facebook 1 

Facebook 2

Kategori
Refleksi

Perspektif Investasi Dalam Pikiran Bodohku

Istilah investasi itu lucu dalam perspektif negara ini. Jika kran investasi asing dibuka di negeri ini besar-besaran sebenarnya itu penipuan untuk rakyat yang bodoh karena menganggap uang adalah kekayaan. Rakyat diberi uang senang namun tanah hilang, lahan dikuasai. Tapi kalo yang menjadi biang keroknya adalah kepala daerah, anggota dewan, dan para pejabat negara, ya itulah kezaliman. Dan sangat menyedihkan lagi jika mahasiswa-mahasiswa di kampus apatis terhadap hal seperti ini atau terlalu agresif sehingga kritisnya utopis sambil kampanye salahkan sistem ini itulah. Njur gek ngapa nek wis koar2? Bangga dul.

Masalah utamanya itu gimana memandirikan masyarakat, menginternalisasikan keimanan dan ketawakalan yang hakiki kepada Allah. Wong kita udah dikasih aset abadi berupa tanah dan kekayaan alam kok gelem2en diganti dengan uang yang tidak berjaminan (dolar itu sertifikat utang, bukan sertifikat untuk emas). Malah ada yang nyalah2in sistem uang kertas suruh ganti emas dan muncul investasi emas, yo padha wae selama sistem moneternya seperti sekarang. Segala sesuatu yang ditimbun tanpa tujuan itu menyengsarakan rakyat lain yang butuh alat edar bernama uang.

Sama-sama narik dolar, gunakan cara yang terhormat dengan jual beli barang, kita punya produk mereka kasih kita dolar, nek ringan meneh malah kita pasang iklannya mereka kasih kita dolar. Tapi kalo memberikan aset itu namanya pekok. Dan rakyat negeri ini secara sistem dibuat bodoh karena segelintir orang ingin menikmati kekayaan dengan cara menindas. Memang hebat sekali VOC, mereka sukses dalam kaderisasi sehingga hari ini tingkat kewarasan kami pun dipertanyakan. Semoga saya saat bikin status ini sadar 100 % dan tidak sedang ngelindur.

Allah, jagalah lisanku agar tidak berdoa kepada-Mu dengan kalimat yang rendah seperti ini, “Ya Allah, berikan aku uang, semoga aku sukses meraih jabatan A, semoga aku menang undian mobil bla bla bla ….”. Jagalah lisan ini agar selalu dapat berdoa dengan doa-doa dalam al-Quran, Hadits dan kalimat2 indah para wali-Mu.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Kesabaran Dalam Kita Beramal

Kusadari arti penting kesabaran di negeri ini

  1. Yang berjuang di ranah politik, sering tidak sabar untuk memainkan taktik yang jitu dalam meraih posisi, alhasil saat dapat posisis sistem pendukung tidak siap, atau malah bikin kampanye2 hitam yang merusak citra sendiri dan akhirnya malah kalah
  2. Yang anti politik dan menganggap pilihan jalannya benar juga tidak sabar untuk membuktikan pilihannya mampu memberi solusi, alhasil yang keluar bukan kerja nyata yang benar-benar solutif melainkan ejekan2 yang menyakitkan dan sering merendahkan yang lain
  3. Yang jadi rakyat biasa juga tidak sabar untuk mengikuti perubahan yang ditawarkan para pemain politik, alhasil keluarannya cuma komentar, nyinyir dan serangkaian pelarian frustasi yang memang tidak ada manfaatnya. Itulah mengapa lawak dan industri hiburan semakin laris di negeri ini.

Kesabaran itu memang kunci, kunci untuk mereka yang ingin menatap masa depan yang lebih baik. Lebih penting lagi Sob, kesabaran itu bukan tindakan pasif, tetapi ketahanan dan kejelian untuk melihat peluang hidup. Mau kita bertahan mandiri dan bekerja sama toh, apa yang menjadi amal kita akan dipertanggungjawabkan sendiri2 di hadapan Allah. 

Amal bersama itu untuk melipatgandakan manfaat dan meledakkan kekuatan. Tetapi urusan pahala akhirat kembali ke diri masing-masing Sob. Jadi mari belajar bersabar, terutama menjaga kedamaian hati dan keamanan lisan kita. Hidup memang begini, yang penting sadar posisi, sadar peran, dan kita lakukan tindakan terbaik yang kita mampu.

Facebook

P

Kategori
Misi Perubahan

Madzhab Baru Politik : Kerja

Apakah asumsi Om Darwis Tere Liye yang disampaikan oleh tokoh Thomas di Novel Negeri Di Ujung Tanduk bahwa politik itu adalah alat terbaik dalam bisnis omong kosong itu benar? Mungkin benar hari ini, karena rakyat juga menikmati omong kosong itu. Industri artifisial hari ini lebih laku, sehingga tidak heran jika pekerjaan yang berbasis kekhawatiran lebih laku dari pada perniagaan atas barang produksi masyarakat yang dibuat dengan kerja keras.

Oleh karena itu, mari yang masih tertarik untuk jadi kader parpol, maka mari kita buktikan kerja nyata baik dalam mencerdaskan dan menyejahterakan, bukan menipu dan menghinakan. Apakah bisa? Bisa karena bukti-buktinya juga ada dan pernah dilakukan oleh makhluk yang sama seperti kita, manusia.

Jika ada yang suka nyinyir sama kita abaikan, mereka paling cuma pengamat yang hobi komentar karena lagi stress jadi pengangguran atau orang yang sedang mengalami radang akut dengan lisannya (mungkin efek lupa tentang hadits Rasulullah tentang ke-Islam-an seseorang itu saat orang lain terjaga dari serangan lisannya). Karena orang yang baik sesungguhnya adalah yang baik pemahamannya, tahu tempat dan situasi dalam menasihati, dan mengeluarkan kata-kata yang baik saat menasihati. Bukan yang asal njeplak dan menghantam yang lain.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Amr Bin Hisyam, Dari Abul Hakam Menjadi Abu Jahl

Mari simak opini2 konyol Amr bin Hisyam (nama panggilan mulia di tengah kaumnya adalah Abul Hakam = bapak pemilik kebijaksanaan), sehingga mengapa kita tahu akhirnya dia digelari oleh kaum muslimin (bukan oleh Rasulullah) sebagai Abu Jahl (bapak biang kebodohan).

Suatu ketika Rasulullah pernah mempertanyakan mengapa Abu Jahl menentang dakwah Rasulullah dan menyebutnya sebagai pendusta, padahal dulu adalah sahabat di masa kecil. Abu Jahl menjawab bahwa dia tidak mendustakan Rasulullah, karena memang sejak awal dikenal sebagai al-Amin, tetapi dia mendustakan Risalah Islam yang dibawa Rasulullah

Sebenarnya beberapa tokoh Quraisy ragu mengapa mereka harus memusuhi Rasulullah, yang tidak pernah berdusta dan risalah yang dibawanya (Quran) adalah perkataan mulia. Abu Jahl mengatakan kepada mereka, “Dulu Bani Hasyim melayani jamaah haji, Bani kita juga bisa. Dulu Bani Hasyim menjadi pembela Mekkah, Bani kita juga bisa …… (banyak dan intinya begitu dalam soal kemuliaan dan pamor). Nah sekarang Bani Hasyim ada yang mengaku Nabi, bagaimana kita bisa menyainginya?”

Suatu ketika Rasulullah menawarkan satu kalimat kepada Abu Jahl yang dengannya dia akan berkuasa atas seluruh orang Arab dan Ajm (non-Arab). Dengan semangatnya Abu Jahl berkata, bahkan jika 10 kalimat pun akan diucapkannya asal mendapatkan kedudukan itu. Rasulullah tuntun untuk bersyahadat, lalu Abu Jahl malah berkata, “Itu kalimat yang dibenci para raja”. Aneh bukan, Abu Jahl menolak Islam karena sangat mengerti esensi kalimat tauhid itu.

Abu Jahl pernah berdoa pada Allah, Ya Allah jika apa yang dibawa Muhammad itu benar, maka hujani saja kami dengan batu dari langit. Lihat, ini doa orang stress bukan, dan menunjukkan bahwa Abu Jahl itu sangat tahu nilai kebenaran Islam tetapi dia sengaja sesat dan menolaknya.

Karena apa, lihat secara lengkap kisah itu, motif persaingan dan ambisi kekuasaan bukan. Nah, sekedar pengingat buat kita, jangan sampai kita menjadi orang yang keras kepala sehingga kita sombong dengan anggapan diri kita sendiri lalu menafikan kebaikan yang sesungguhnya Allah datangkan kepada kita. Rasa sombong, merendahkan orang lain, sampai-sampai menghinakan orang lain dengan sebutan-sebutan buruk cukuplah untuk membuat kita mati hati. Bahkan bila kita tahu ada orang yang salah, maka kita diberi bahasa dan adab untuk mengingatkannya dengan cara terbaik. Bukan peh kowe bener, njet njeplak sak karepmu dewe, ra nggagas atine lara po ora.

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Islam di Eropa dan Islam di Indonesia

Di Bergische Universität Wuppertal dahulu, kami sudah terbiasa shalat di ruangan khusus yang dijadikan musholla. Jika kami tak sempat ke masjid di pusat kota, di situ juga digelar shalat Jumat. Dan di banyak tempat di negeri-negeri yang dulu mereka sangat menentang Islam, kini tak kuasa lagi menahan keinginan hati orang-orang yang kembali menemukan cahaya. Hanya butuh waktu dan kesabaran dalam memperbaiki.

Sementara di negeri ini, banyak yang terburu-buru dan suka menghantam sana sini secara ngawur. Setiap pergerakan sibuk diskusi dengan sesamanya mengejeki pergerakan yang lain di majelisnya. Masih sulit membangun kembali majelis syura yang mewadahi kepentingan umat. Di antara faktor yang menyuburkannya adalah rasa paling benar dan paling sholeh sendiri. Padahal kita memang diwajibkan mencari dan meyakini kebenaran dengan seyakin-yakinnya, tetapi mengemas hal yang kita yakini agar juga dapat dirasakan manfaatnya oleh yang lain, bukan jadi alat debat dan saling menghantam satu sama lain.

Semua butuh proses dan penghayatan. Ilmu yang baru sebatas jadi pengetahuan akal maka sejatinya ia masih dangkal. Ia yang sudah meresap di relung hati maka akan memberikan dampak perbaikan yang nyata karena memang memancarkan energi yang sesungguhnya.

Facebook

Kategori
Refleksi

Pemimpin Cerminan Mayoritas Rakyatnya

Jika ada yang bilang pemimpinnya korupsi, suka nilep uang rakyat. Cek aja di sekitar kita, sering bohong ga sama ortu waktu minta uang saku, ada ga takmir yang korup infaq jamaah, ada ga bendahara desa yang suka nyunat, kayake jumlahnya masih banyak.

Jika ada yang bilang pemimpin cuma omdo ga pada kerja. Cek aja kita, jangan-jangan kita omdonya lebih parah (suka misuh2, berkata-kata kotor), suka nuntut2, ngatur2 yang lain berlebihan, dan lagi-lagi yang begitu pasti banyak.

Jika ada yang bilang pemimpinnya males, tidak peka terhadap rakyat. Cek lagi sekitar kita, berapa banyak pemuda yang peduli dan berpikir tentang perubahan. Berapa yang bersemangat untuk berbenah dan mau diatur.

Jika ….. cek …..

Meskipun inisiatif dari tokoh penggerak perubahan itu penting, tetapi inti dari perubahan itu adalah gerakan bersama. Mau mengharapkan pemimpin yang baik? Cek terus diri kita sambil terus bekerja di ranahnya masing-masing. Seberapa seriuskah kita memperbaiki diri kita? Seberapa baikkah harapan kita kepada para pemimpin yang ada sekarang? Seberapa tulus doa kita untuk kebaikan mereka dan kebaikan negeri ini? Seberapa sabarkah kita menghadapi situasi dan kondisi sekarang? Sebarapa santunkah kita saling menasihati satu sama lain agar tercipta ukhuwah dan perbaikan? Jika belum, ha ha ha. SABAR mas Bro!

Di pergerakan apapun Anda, di parpol yang mana Anda, kalo masih suka nyinyir, black campaign, dan ghibah maka …. (simpulkan sendiri)
Di level manapun Anda di masyarakat, kalo masih mudah terprovokasi dengan kabar burung atau kabar onta maka … (simpulkan sendiri)

Facebook

Kategori
Refleksi

Politisasi Pikiran dan Kehancuran Peradaban

Boleh percaya, boleh juga enggak. Setelah penghancuran bahasa, sebuah peradaban dapat diguncang dengan strategi kompleks agar pemikiran masyarakatnya terpolitisasi. Jika mesin itu telah bekerja, sang penghancur tinggal ngopi sambil sesekali jeprat-jepret latihan fotografi lihat masyarakat peradaban itu saling serang satu sama lain dan merasa paling benar.

Pemikiran yang terpolitisasi itu menjadikan semua pendapat relatif, bahkan terkadang dalam membicarakan soal agama setiap orang saling otot2an. Yang pasti dalam perselisihan ini, salah satu adalah pihak yang benar dalam ilmunya dan yang lainnya salah memahami. Tapi yang diharapkan para penghancur adalah keributan ini berjalan lama dan dibiarkan sampai semua saling melumatkan satu sama lain.

Saking terpolitisasinya pemikiran orang hari ini, orang yang dianggap memiliki relevansi politik tertentu, kalau sedang baca ayat dianggap menjual ayat-ayat tuhan. Punya tujuan akhir sama hanya masih berbeda jalan, saling menghantamnya lebih mengerikan ketimbang yang nggak ada urusan. Jadi friksi dan pertempuran itu terjadi di orang-orang yang sama-sama jalan searah. Sementara yang berlawanan arah atau yang berbelok diabaikan, padahal mereka mencopet, menculik anak-anak, dan menikam satu demi satu.

Kehancuran peradaban itu kadang berasal dari dirinya sendiri yang tidak mau berbenah dan cenderung menyalahkan serta saling bertikai satu sama lain. Ketiadaan rasa persatuan dan cinta lebih menumbuhkan ego untuk merasa paling benar dan berkuasa sendiri. Jika yakin sesuatu yang benar, yang dilakukan adalah transformasi hingga dimengerti yang lain, bukan intimidasi dan pemaksaan agar seolah-olah mengerti.

Facebook

Kategori
Kilas Sejarah

Lembaran Sejarah Kita yang Jaya

Dalam sebuah diskusi yang menarik dengan teman-teman yang pernah mengikuti kajian ke-Islam-an dengan salah satu pembicara DDII Jateng ada kajian tentang pondasi spiritual orang Jawa sebelum datangnya Hindu-Buddha dan Islam.

Pertanyaan yang belum terjawab dan baru praduga, mungkin dulu Allah pernah mengirim seorang nabi di masyarakat Jawa sebelum datangnya Islam. Hal itu terlihat bagaimana hakikat ketuhanan masyarakat Jawa itu tetaplah maha tunggal, jauh lebih tinggi dibandingkan agama-agama yang datang dari India. Aku sendiri ketika pernah mempelajari kitab perang Bharatayuda menemukan adanya hal aneh, bahwa di atas Bathara Guru, masih ada yang paling tinggi, Sang Hyang Wenang. Maka dari itu, meskipun kedatangan ajaran Hindu dan Buddha dari India yang sangat berbeda, maka akhirnya ajaran itu mengalami akulturasi mengikuti basis keyakinan masyarakat Jawa sebelumnya. Itulah mengapa bangunan-bangunan megah baru berdiri dimasa dinasti-dinasti India itu berkuasa.

Setelah berakhirnya Mataram Hindu, disitulah mulai banyak tanda tanya sejarah. Termasuk tanda tanya besar adalah mengapa Islam begitu berakar di masyarakat nusantara ini. Banyak fitnah yang dihembuskan bahwa Islam yang menghancurkan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha itu, padahal siapa yang tahu bahwa barangkali di masa Airlangga, masyarakat muslim telah berkembang pesat di pesisir nusantara. Itulah mengapa peninggalan-peninggalan masa itu bukanlah candi megah semacam Borobudur dan Prambanan melainkan kitab-kitab yang bijaksana. Apakah ini pengaruh dari Islam, karena di masa keemasan Islam, warisan terbaiknya adalah tata kehidupan masyarakat yang madani dan kitab-kitab yang inspiratif.

Apakah ada nama Gadjah Mada? Karena bahkan ada sejarawan India yang menganggap nama itu ganjil. Bagaimana dengan Gaj Ahmada, itu terlihat lebih Islami. Ah otak atik gatuk katanya. Okelah, tolong kawan-kawanku yang belajar di bidang ilmu sejarah. Ini adalah ladang besar untuk mengungkap dan merekonstruksi sejarah negeri ini yang puluhan tahun disandera hingga kita tidak bisa menemukan kebanggaan pada nenek moyang kita. Kita tetap partisan dan mengklaim bahwa pahlawan yang ini milik kita, yang itu bukan. Jika kalian mau mengambil bagian ini, maka sungguh akan ada pintu ilmu yang terbuka yang selama ini tidak pernah kita ketahui. Selagi kran kebebasan masih terbuka di mata kita.

Kita belum menemui fase kebangunan sejarah. Kita bingung dalam sejarah kita bukan. Karena kita belum bisa mengakui secara obyektif tentang fase perjuangan bangsa ini. Sementara Snock Hurgronje dan timnya telah berhasil memahami sejarah masyarakat Indonesia sehingga dia berhasil membangun serangan mematikan di masyarakat. Yang Aceh dan Sumatra, diadu domba ulama dengan penguasanya. Yang di Jawa dihidupkan ilmu kebatinannya dengan dalih kembali ke ajaran pra Islam. Dan hari ini, banyak kita lihat saudara-saudara kita sekalipun menjadi seorang muslim, tetapi telah kehilangan kebanggaannya atas keyakinan yang agung ini. Di sisi lain, kita juga menjumpai segelintir yang bersikap kasar dan bengis kepada pemeluk agama yang lain sehingga timbul persepsi negatif tentang Islam.

Sungguh aku ingin berfoto dengan kebanggaan di depan lukisan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sultan Hassanuddin, Imam Bonjol dan yang selainnya sebagaimana Recep Tayyip Erdogan yang dengan penuh kebanggaan berfoto memakai baju kebesarannya di depan lukisan Sultan Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, pemimpin terbaik yang dijanjikan oleh Rasulullah shallahu’alayhi wasallam setelah beberapa kali di dinasti sebelumnya, kaum muslimin menemui kegagalan. Kita tidak perlu ribut soal pahlawan kita siapa, tapi mari kita menunduk dan melihat kembali jejak-jejak mereka yang juga manusia biasa, ada celanya juga, namun sungguh inspirasi yang mereka hadirkan untuk kita pasti akan membuat kita berhenti untuk mengeluh dan mencela seperti kebanyakan orang hari ini.

Mari buka lembaran sejarah kita, bukan untuk nostalgia, tapi untuk mencari inspirasi kebangunan umat di akhir zaman. Bukan dengan diskusi saja, melainkan berpikir mendalam untuk mencari mata air-mata air kegemilangan peradaban yang pernah menyerlah di bumi Allah ini. Ini tugas kita, para pemuda yang masih diberi kebebasan intelektual untuk belajar dan mencari itu, sebelum kelak kebebasan dibabat habis atau masa perang dikumandangkan. Karena jika kita beriman, kita percaya ada akhir zaman yang akan mengantarkan kita pada kemenangan sejati. Sekali lagi, kita akan menang dan tegaklah Khilafah alaa Minhajin Nubuwwah di muka bumi ini sebelum hari akhir itu tiba.