Jika kami tidak ketinggalan kereta dan salah turun di stasiun tadi, seharusnya kami dapat mengikuti praktikum keren dari Edina cantik di Universitas Muenster. Namun karena sudah terlambatnya hampir 2 jam jadinya ya sudah. Semua telah berakhir. Dan kami malu ketika tergopoh-gopoh sampai universitas Muenster bersama Pak Ahmad yang telah menunggu kami sampai cengklungen (dan mungkin kedinginan) di stasiun selama mungkin lebih dari 1,5 jam. Terlebih lagi dosen kami yang Ph. D. student (istri Pak Ahmad) tadi juga telah mengatakan kepada Prof. Barke bahwa akan kedatangan mahasiswa dari Indonesia. Aduh-aduh, malu rasanya pada Bu Nurma, dan malu juga pada Prof. Barker, we are the later nih.

Sudahlah, intinya kami langsung berkumpul di perpustakaan kantor Prof. Barker, profesor yang menjadi pembimbing bu Nurma saat ini. Beliau adalah sahabat karif Prof. Tausch. Kalau di tempat Prof. Tausch kami selalu di suguhi fenomena kimia yang berkaitan dengan cahaya (fotokimia), kali ini kami disuguhi berbagai karya beliau yang berkaitan dengan kimia material, khususnya cairan.

Pertama, beliau menunjukkan sebuah kawat cerdas yang dapat mengingat suatu huruf tertentu. Kawat yang ada di setting untuk membuat huruf R pada suhu setara dengan panas yang dihasilkan sebatang korek api. Meskipun kita memelintir kawat itu ke bentuk yang aneh lainnya, ketika kawat itu disulut dengan api yang dihasilkan oleh sebatang korek api, maka kawat itu akan bergerak dengan sendirinya membentuk huruf R. Sebagai hadiah, beliau memberi kami satu-satu. Lumayan, karena kalo beli mahal harganya.

Kedua, beliau menunjukkan permainan anak-anak. Bentuknya seperti bebek yang ada cairannya. Eh, ternyata ada keunikannya loh. Kalau paruh bebek kena air, ternyata cairan di dasar tabung mainan akan naik dan membuat bebek mengangguk. Kalau di depannya di beri tempat air pada ketinggian yang sesuai, maka bebek itu akan bergerak mengangguk-angguk seperti sedang minum.

Ketiga, beliau menunjukkan sebuah larutan yang berisi cairan-cairan tertentu dalam kaca yang sangat sensitif terhadap suhu tertentu. Dia akan bergerak naik ketika suhu di luar sesuai dengan nomor kaca yang ada padanya. Wah, cerdas sekali permainan-permainan hasil riset beliau yang prinsipnya adalah berdasarkan sifat-sifat/karakteristik suatu materi.

Selain ketiga hal itu kami juga dapat melihat berbagai hasil riset beliau termasuk buku yang beliau hasilkan di perpustakaan kantor ini. Ternyata para profesor di sini benar-benar produktif dalam berkarya. Tak hanya itu, beliau bercerita bahwa saat ini juga menjadi Profesor tamu di Tanzania. Ketika cerita kami semua tertawa karena ternyata perbedaan pendidikan di sana dengan di Indonesia (asumsinya adalah Bandung dan Surakarta, berdasarkan tempat yang telah beliau kunjungi sebelumnya) cukup terlihat. Wah bersyukur kita harusnya tinggal di negeri yang tidak terlalu tertinggal di bandingkan Afrika.

Inilah kunjungan singkat namun penuh dengan inspirasi. Inspirasi yang ga akan pernah terlupakan. Terima kasih Prof. Barke atas ilmunya hari ini. Terima kasih Edina, atas kesediaanmu berfoto. Loh ! (paling ga dapat wajahnya). Sensor lagi. Ha ha ha.

2 Comments

  1. pursuingmydream

    Hai Ardika, transportasi umum semacam kereta di Jerman tepat waktu, paling kalau telat ya karena lagi cuaca buruk seperti saat ini salju. Didalam keretanya apakah tidak ada petunjuk (text berjalan) yg memberitahukan nama-nama stasiun ketika akan berhenti?. Susah juga ya karena semua text dalam bhs Jerman. Kedua teman saya juga lg Oktober salah turun :D.

    Penasaran deh, Edina yg mana sih? yg tengah bukan? hehehe

    1. ardika

      Iya mbak. Yang tengah dan tinggi itu.
      Ha ha, masalah salah turun tadi, karena kami tidur trus begitu dengar kata Muenster kami buru2 turun. Pas udah keluar dari kereta baru nyadar waktu lihat stasiun kecil. Oh, salah tempat turun. he he he

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.