Kategori
Dakwah Islam

“Politik Islam” Di Benak Para Pemikir Utopis

Di antara yang terjebak dalam utopia politik Islam adalah menggelorakan hal-hal yang sifatnya puncak tetapi sejatinya kosong dalam membangun pondasinya. Mereka bilang ini itu soal kekuasaan membabi buta tanpa melihat konteks kehidupan yang sekarang. 

Bisa ditanyakan berapa referensi yg sudah dibaca tentang shirah dalam berbagai lintas sudut pandang yang dia baca sejak Ibrahim, hingga bani Israil berkuasa, lalu masa bangsa Arab sebelum kelahiran Rasulullah, konstelasi politik yang terjadi hingga masa Rasulullah berkuasa, lalu para khalifah rasyidah, lalu para raja dari Dinasti Umayyah, Dinasti Abasysyiah dan Dinasti Utsmaniyah apakah juga dicermati perubahan konstelasi politiknya.

Seringkali kita saat ini hanya melihat kejadian-kejadian itu secara parsial lalu membuat kesimpulan atas tema yang kita sukai saja. Dan secara tidak langsung inilah mengapa akhirnya perjuangan menegakkan syariat Islam terpecah-pecah menjadi banyak pergerakan yang parahnya saling mengejek satu sama lain. Kader-kader yang dididik di madrasah pergerakan itu cenderung berpikir dalam opini para guru-gurunya, tidak meluaskan wawasannya untuk menemukan permata peradaban yang agung ini.

Inilah tantangan yang sesungguhnya. Menggabungkan semangat untuk senantiasa belajar dan bersabar atas perbedaan yang masih terbuka lebar ini. Membuka ruang diskusi yang hangat dan menahan diri dari memaksakan kehendak saat menyuarakan kebenaran. Karena targetnya adalah menangnya kebenaran, bukan kerasnya suara kita yang menggaung-gaung untuk mendapat pujian.

Dan untuk mereka yang apatis pada politik, sudahlah abaikan saja karena memang tidak ada gunanya berurusan dengan mereka. Apalagi jika apatisme mereka itu ideologis, sia-sia saja mendebat yang seperti itu.

Facebook

Kategori
Refleksi

Politik Dalam Pelajaran Sejarah SMP-ku Dulu

Politik itu permainan logika tingkat tinggi, sampel eksperimennya otak-otak manusia yang ga tekan mikirnya. Kalo ga nyampe mikirnya, mending kerjain yang lain aja Om. Cukup pegang prinsip kejujuran dalam tindakan-tindakan kita, dan semampu kita melakukan. Rakyat biasa yang jujur yang lugu senjatane doa yang mustajab kalo dia sadar bahwa dia sedang dizalimi penguasanya dan tidak mengeluh hingga misuh-misuh. Tetap bekerja dan bersolidaritas dengan yang lain.

Jadi ingat nasihat guru IPS SMP ketika beliau mengajar sejarah. Pelajari sejarah dengan benar untuk memahami logika bagaimana politik itu bermain, jangan berpolitik dengan koran, karena itu menumpulkan analisismu. Terima kasih Pak Sumaryanta atas wejangannya di tahun pelajaran 2004/2005 itu, aku teringat dengan ruang kelas IX A ketika itu Anda memakai peci dan menuliskan kata kunci itu. Aku masih ingat, dan hari ini kata-kata Anda terbukti Bapak, bagaimana politik hari ini menjadi komoditas paling menarik dalam bisnis informasi untuk mempengaruhi pikiran banyak orang hingga dia lupa melihat masa lalu dengan cermat, dan berakibat mereka melihat masa depan dengan cemas.

Ya Allah, lindungilah bangsa ini dari kemerosotan adab dan perkataan yang kotor dari lisan-lisan bodoh nan dungu. Apapun pilihan kami tuntunlah kami untuk memilih yang terbaik dalam pandangan kami, dan biarlah Engkau yang akan menjaga dia yang terpilih. Jika ia yang terpilih adalah pribadi jujur dan benar, maka tolonglah urusannya dan menangkanlah perjuangannya. Jika ia yang terpilih adalah pengkhianat, segerakanlah hukuman untuknya agar negeri Indonesia ini dapat segera keluar dari cengkeraman angkara murka dan masyarakatnya dapat tersenyum cerah dalam kesyukuran pada-Mu.

Facebook

Kategori
Refleksi

Perspektif Investasi Dalam Pikiran Bodohku

Istilah investasi itu lucu dalam perspektif negara ini. Jika kran investasi asing dibuka di negeri ini besar-besaran sebenarnya itu penipuan untuk rakyat yang bodoh karena menganggap uang adalah kekayaan. Rakyat diberi uang senang namun tanah hilang, lahan dikuasai. Tapi kalo yang menjadi biang keroknya adalah kepala daerah, anggota dewan, dan para pejabat negara, ya itulah kezaliman. Dan sangat menyedihkan lagi jika mahasiswa-mahasiswa di kampus apatis terhadap hal seperti ini atau terlalu agresif sehingga kritisnya utopis sambil kampanye salahkan sistem ini itulah. Njur gek ngapa nek wis koar2? Bangga dul.

Masalah utamanya itu gimana memandirikan masyarakat, menginternalisasikan keimanan dan ketawakalan yang hakiki kepada Allah. Wong kita udah dikasih aset abadi berupa tanah dan kekayaan alam kok gelem2en diganti dengan uang yang tidak berjaminan (dolar itu sertifikat utang, bukan sertifikat untuk emas). Malah ada yang nyalah2in sistem uang kertas suruh ganti emas dan muncul investasi emas, yo padha wae selama sistem moneternya seperti sekarang. Segala sesuatu yang ditimbun tanpa tujuan itu menyengsarakan rakyat lain yang butuh alat edar bernama uang.

Sama-sama narik dolar, gunakan cara yang terhormat dengan jual beli barang, kita punya produk mereka kasih kita dolar, nek ringan meneh malah kita pasang iklannya mereka kasih kita dolar. Tapi kalo memberikan aset itu namanya pekok. Dan rakyat negeri ini secara sistem dibuat bodoh karena segelintir orang ingin menikmati kekayaan dengan cara menindas. Memang hebat sekali VOC, mereka sukses dalam kaderisasi sehingga hari ini tingkat kewarasan kami pun dipertanyakan. Semoga saya saat bikin status ini sadar 100 % dan tidak sedang ngelindur.

Allah, jagalah lisanku agar tidak berdoa kepada-Mu dengan kalimat yang rendah seperti ini, “Ya Allah, berikan aku uang, semoga aku sukses meraih jabatan A, semoga aku menang undian mobil bla bla bla ….”. Jagalah lisan ini agar selalu dapat berdoa dengan doa-doa dalam al-Quran, Hadits dan kalimat2 indah para wali-Mu.

Facebook

Kategori
Refleksi

Konon Indonesia Negeri “Sekuler” dan “Liberal”

Negeri ini memang “sekuler” dan “liberal”, hingga sebagian umat Islamnya ikut-ikutan terjerat ke sana. 

Ada yang memisah-misahkan agama dan politik sehingga kalo masjid dipakai membahas persoalan keumatan dalam konteks kekuasaan buru-buru dicap jual beli ayat untuk kepentingan politik, lalu digeneralisir untuk semua yang begitu. Apa ini juga ga bisa dikatakan semacam “sekuler”.

Ada yang teriaknya memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan dari penindasan hingga kebablasan, bab adab dan masalah hati umat tidak dipedulikan, sing penting nyuara sak suara-suarane dhewe, sak enak udele dhewe. Hantam sana hantam sini sak penake dhewe. Apa ini juga ga bisa dikatakan semacam “liberal”.

Islam tetap mulia, dalam asas-asasnya yang tegas, dalam fikrahnya yang kokoh, dalam adabnya yang santun dan memesona, dalam naungannya yang damai. Bahkan dalam peperangan, silahkan diperiksa dalam sejarah baik tulisan sejarawan muslim maupun sejarawan barat yang netral, peperangan yang dilalui kaum muslimin adalah peperangan yang beradab, tidak mengenal istilah pembantaian. Begitu musuh kalah, maka segera terjadi perjanjian, bukan pembantaian. Rakyat diamankan dan dibiarkan tetap dalam keyakinannya. Dan itu hanya dapat dipraktekkan oleh hamba-hamba-Nya yang senantiasa rendah hati lagi memiliki kebeningan hati. Bukan yang diliputi kesombongan, kedengkian dan rasa ingin menjatuhkan sesamanya.

Mari istighfar saja. Istighfar yang banyak biar lisan aman dari menghantam dan mencibir yang lain.

Facebook

Kategori
Pendidikan

Taubat Pendidikan Nasional

oleh Harry Hassan Santosa

Bagi para pelanggan dan pengikut sistem persekolahan nasional, baik negeri maupun swasta, baik formal maupun informal, mohon jangan pernah bilang anak saya aman2 saja dari berbagai kasus dan ekses yg diakibatkan kesalahan mindset dan praktek persekolahan.

Kasus demi kasus, satu demi satu muncul dan semakin banyak terkuak, baik kasus yg lama yg membuat kita biasa2 saja krn sudah sering didengar, maupun kasus yg baru yg membuat publik sesaat tercengang2 lalu kemudian akan terbiasa lagi. Seperti biasa memori publik lemah dan mudah lupa, apalagi jika ada situasi politik atau selebritis yg menjadi gosip atau ghibah nasional.

Mari lihat satu persatu.

Kasus tawuran dan bully, nampaknya sudah tdk menjadi perhatian serius publik lagi krn memang terus menerus terjadi dan rutin. Orang bisa menikmati videonya di youtube setiap saat, lalu publik hanya tinggal menghitung data2 statistik, berapa yang mati, berapa yang luka2 hampir mati, berapa yg cidera ringan dstnya sambil bersyukur, “alhamdulillah itu bukan anak saya atau keluarga saya”

Kasus kecurangan dan mencontek UN sekarang bukan lagi hal yg tabu. Orangtua dan guru boleh saja tidak suka dgn perbuatan ini, tetapi mencontek sudah menjadi perbuatan yg massive, umum dan berjama’ah. Membeli bocoran adalah ritual tahunan, siswa smp dan sma “urun dana” utk membeli bocoran. Lalu sekolah dan ortu? Ya mereka pura2 saja tidak tahu, bahkan terkuak bhw di banyak sekolah, bocoran dibuat oleh team khusus guru2 yg dirancang oleh kepala sekolah. Sukar dipungkiri bhw mencontek ini sudah melanda siapapun, anehnya masih banyak ortu yg masih bilang, “alhamdulillah itu bukan anak saya”.

Kasus pelecehan seksual dan pedofili yang marak belakangan, ternyata kasusnya sudah ribuan dan berlangsung sejak lama, hanya saja disembunyikan dan tdk menjadi perhatian publik serius. Seperti biasa orang2 Indonesia kebanyakan baru takjub jika itu menimpa orang kaya dan sekoleh bule. Mungkin anda akan bilang, “alhamdulillah anak saya di sekolah agama dan tdk mungkin menjadi korban”. Siapa bilang? Menurut bunda Elly Risman, kasus pelecehan seksual, pedofili, homoseksual juga melanda sekolah agama dan pesantren.

Kasus stress parah dan bunuh diri. Sepanjang tahun 2002 – 2007, kasus bunuh diri sudah menimpa lebih dari 17 orang anak. Data2 tahun setelahnya bisa jadi semakin meningkat. Terakhir pelajar SMP di Tabanan Bali, yang bunuh diri. Siswi malang itu menggantung diri pakai dasi sekolah, sepulang UN krn soal UN dianggap berat. Kasus stress sedang sampai berat mungkin paling banyak terjadi. Lagi2, para penikmat sistem persekolahan nasional jangan berkata, “alhamdulillah anak2 saya nyaman2 saja”.

Silahkan dicheck, di komunitas2 pendidikan informal yang kelimpahan siswa stress parah atau yg dikeluarkan krn stress. Seorang pengelola pendidikan informal bercerita bhw ada siswa yg stress sampai membenci agama, benci Tuhan dan tidak mau sholat dstnya.

Seorang teman pengajar bimbel, bercerita bhw 20 tahun silam, ada siswi berjilbab rapih dari sekolah Islam, yang (maaf), menjadi terganggu jiwanya akibat stress berat. Siswi yg malang ini, konon sakit dan memaksakan diri ketika UN berlangsung, sehingga mengalami stress berat. Tentu saja siswi ini akhirnya tidak lulus, dan pada tahun2 berikutnya selalu datang ke bimbel tempat teman saya mengajar sambil membawa buku2 tebal seolah2 utk konsultasi belajar, pdhl sdh dianggap mengalami gangguan jiwa berat.

Tentu saja kita bisa mengatakan, “alhamdulillah itu bukan anak saya”. Angka2 itu hanya statistik sampai kita atau anak kita mengalaminya sendiri. Ini pengalaman saya pribadi, seorang anak perempuan di keluarga besar saya, mengalami “hang” selama berhari2, tidak mengenal siapapun dan hanya tergolek di tempat tidur. Penyebabnya adalah beban belajar yg berat. Aktifitasnya, seperti umumnya anak2 di kota besar, Sekolah Islam fullday ditambah eskul dan bimbel hampir setiap hari. Lalu “hang!*

Taubatlah, wahai pendidikan nasional.

Seorang mengirim sms dan bilang bhw pendidikan nasional kita sedang sekarat dan sedang darurat. Saya bilang yg sekarat dan darurat adalah anak2 kita, generasi mendatang bangsa Indonesia. Maka jalan taubat satu2nya adalah melakukan perubahan Mindset dan Praktek Sistem Persekolahan

1. Pendidikan bukan sekolah pacuan siswa, tetapi pendidikan adalah taman siswa. Di pacuan, anak2 dianggap kuda yg mesti dicambuk utk memenangkan pertandingan. Di taman, anak2 kita dianggap bunga2 indah beraneka warna yg mesti ditumbuhkan dgn kasih sayang dan cara2 yg spesifik satu sama lain. Sebenarnya sudah banyak pakar psikologi atau pakar manajemen yang meminta agar beban pelajaran persekolahan jangan dibuat berat, seolah2 anak2 kita seperti kuda pacuan dan sekolah adalah pacuan kuda. Pendidikan itu seharusnya sebuah miniatur dunia yang membuat anak2 kita menjadi asik, curious, nyaman, bahagia, dstnya sehinga mereka memiliki imaji2 positif ttg Tuhan, ttg Alam, ttg Manusia, ttg belajar dsbnya. Luka imaji akan menyebabkan luka persepsi, dan luka persepsi akan membuat rusaknya pensikapan kelak ketika dewasa.

2. Gunakan ukuran daya potensi bukan ukuran daya saing. Dalam persekolahan yg mengabdi pd industrialisasi dan kapitalisme juga sosialisme, ukuran2 yg dipakai adalah daya saing utk meniru bangsa lain. Anak2 kita digegas utk menjadi anak lain. Yang hebat adalah yang bisa menguasai semua. Potensi unik dan karya anak2 kita tdk lagi dihargai, kecuali nilai pd raport dan ijasah semata. Termasuk yg tdk dihargai adalah karya2 dan budaya lokal serta kearifan dan keunggulan desa2, krn itu semua dianggap bukan daya saing. Anak2 Indonesia, yg tdk mengenal dirinya dan tdk mengenal desanya/daerahnya, apalagi menghebatkannya, sama saja dgn generasi yg hilang, yaitu generasi yg melayang2 entah kemana, kehilangan konsep diri dan konsep bangsa, menjauh dari jatidiri dan jatibangsa juga jatiagama.

3. Nilai dan akhlak yg dijunjung dan dimuliakan bukan prestise materi. Persekolahan telah menjadi prestise bagi banyak orangtua, makin mahal makin prestise. Makin megah gedungnya, makin banyak bule nya, makin luas halaman parkirnya, makin mentereng furniturnya, makin eksklusif kurikulumnya, bagi kalangan tertentu makin terlihat “beragama” walau cuma akumulasi kurikulum dll, makin prestise. Persekolahan beginian hanya akan membuat anak2 kita menjadi elitis, tidak peka terhadap kehidupan sosial dan sekitarnya, mudah melecehkan kelas sosial di bawahnya, mengukur kemuliaan dari mobil dan jabatan orangtuanya, dstnya. Guru2 di sekolah dgn pungutan mahal, lebih sering dipandang sbg “orang gajian” yg menjadi buruh2 yg dipekerjakan dan masa depan hidupnya tergantung kebaikan yayasan. Dalam mindset spt ini, sulit diharapkan adanya keteladanan yg alamiah. Ingat bhw kehebatan moral dan performa tdk bisa diajarkan tetapi ditularkan lewat keteladanan.

Mari kita rancang perubahan pendidikan sekemampuan kita, setidaknya kita punya program pendidikan ideal di rumah dan di komunitas/jama’ah kita sendiri, yang akan menyelamatkan anak2 kita generasi Indonesia, hari ini dan masa depan.

Salam Pendidikan Peradaban

Facebook

Kategori
Kilas Sejarah

Tiga Permata di Zamannya

Tiga sepupu, permata Islam di zamannya, yang termasyhur kesalihannya, cucu tiga sahabat mulia dan raja diraja Sasania Persia 

  1. Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq (buah pernikahan Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq dengan Putri Pertama kaisar Yazdajirda III Persia)
  2. Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab (buah pernikahan Abdullah bin Umar bin Khattab dengan Putri Kedua kaisar Yazdajirda III Persia)
  3. Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (buah pernikahan Husain bin Ali bin Abi Thalib dengan Putri Ketiga kaisar Yazdajirda III Persia)


Ketiga putri Raja Diraja terakhir Persia adalah tawanan dalam penaklukan yang dilakukan Sa’ad bin Abi Waqash dan akhirnya memeluk Islam sehingga dinikahkan dengan putra-putera terbaik sahabat Rasulullah yang mulia.

Dari ketiganya, al-Qasim dan Salim menjadi ulama Madinah terkemuka di zamannya. Sedangkan Ali Zainal Abidin dikenal sebagai keturunan terbaik dari orang Arab dan Ajm (non-Arab) pada zamannya karena beliau adalah keturunan langsung Rasulullah dari Fatimah az-Zahra dan raja-raja Persia.

Bagaimana dengan Syiah? Mengapa berkembang di Iran? dan ……… ikuti saja sejarah ini, runut sampai banyak titik temu yang terang. Sesuatu yang dipenuhi muatan politis tidak akan pernah mampu menghilangkan cahaya Allah, Islam, jalan para nabi dan ulama ahlus sunnah.

Facebook

Kategori
Pendidikan

Schooling vs Deschooling

oleh Harry Hassan Santosa

Saya sebenarnya bukan penganut deschooling maupun penganut schooling. Saya juga tidak sepaham dgn orangtua yang memindahkankan kurikulum sekolah ke rumah lalu menamakannya Homeschooling.

Saya penganut pendidikan berbasis potensi dan akhlak. Pendidikan sejati bagi saya adalah pendidikan yg konteks dan berelasi dengan potensi, baik potensi manusia maupun potensi masyarakat, budaya dan kearifan atau agama. Ujungnya adalah kemandirian, kepemimpinan dan kemanfaatan berbasis potensi2 itu.

Bagi saya learning atau schooling yg tdk berelasi dengan potensi2 tsb, dan tdk berujung kepada kemandirian, kepemimpinan dan kemanfaatan individu dan lokal/komunitas maka bukan pendidikan.

Dalam kaitan dgn bahasan di thread ini, saya hanya ingin, pemerintah mendatang tdk memandang persekolahan akademis nasional adalah satu2nya jalan utk orang mendapat pendidikan, dan satu2nya ukuran suksesnya pendidikan. Negara tidak boleh campur tangan terlalu jauh dalam praktek persekolahan kecuali fasilitas dan kebijakan umum,

Negara mesti memfasilitasi dan mengakui serius semua jenis keragaman pendidikan yg lain, walau dgn kurikulum buatan sendiri, serta ukuran2 sukses yg lain, misalnya ukuran karya, ukuran pengakuan komunitas bukan kelulusan akademis dll.

Negara hanya memfasilitasi, membantu menstrukturkan tiap keberagaman lokalitas, memasok ahli yg diperlukan oleh penyelenggara2 pendidikan tsb baik keluarga2 maupun komunitas2.

Desa2 nelayan di Halmahera atau Papua sana, mungkin tdk butuh smp, sma atau smk, mereka hanya membutuhkan pesantren perikanan, yg memadukan akhlak dan potensi lokal dgn target kemampuan membangun desa, bukan ijasah dan segala tetek bengek. Nah, negara fasilitasi saja itu.

Banyak keluarga mungkin juga tdk butuh persekolahan akademis, mereka hanya ingin anak2 mereka fokus pd bakat dan akhlak, mereka butuh merancang pendidikan anak2nya sendiri, mereka butuh memagangkan anak2nya pd expert2 di komunitas terkait. Nah, negara fasilitasi saja itu.

Istilah kerennya demokratisasi pendidikan.

Salam Pendidikan Peradaban

Facebook

Kategori
Dakwah Islam

Rona Islam di Negeri Matahari Terbit

Obrolan menarik dengan Sensei Sularto pagi ini. 

Kata beliau, Jepang hari ini sudah mulai memprediksi ekonomi masa depan pasca kejatuhan ekonomi Amerika nanti. Mereka berpikir bahwa umat Islam akan menjadi salah satu pemegangnya. Kini mereka mulai menggalakkan pembangunan musholla di bandara dan stasiun. 

Selain itu makanan-makanan berlabel halal juga mulai mudah dijumpai di Jepang. Bahkan di Parlemen mulai diwacanakan adanya waktu istirahat khusus yang sesuai dengan waktu shalat di perusahaan-perusahaan Jepang yang memiliki karyawan muslim. Wow, barangkali inilah hikmah dari ayat Allah, “mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya”.

Nah, umat Islam yang masih suka ribut dan eyel2an soal sistem, ya tinggalkan aja yang suka begituan. Mari yang sudah tahu prioritas, kita tetap fokus dalam kerja-kerja dakwah dan perbaikan yang membawa manfaat. Membagun tenggang rasa dan kemaafan kepada sesama saudara seiman agar terwujud keharmonian. Harmoni, itu kata yang mudah diucapkan tetapi sesungguhnya masih menjadi omong kosong di negeri ini, kecuali mereka yang Allah karuniai sifat lapang dada dan pikiran yang “semeleh”.

Facebook

Kategori
Refleksi

Pemimpin Cerminan Mayoritas Rakyatnya

Jika ada yang bilang pemimpinnya korupsi, suka nilep uang rakyat. Cek aja di sekitar kita, sering bohong ga sama ortu waktu minta uang saku, ada ga takmir yang korup infaq jamaah, ada ga bendahara desa yang suka nyunat, kayake jumlahnya masih banyak.

Jika ada yang bilang pemimpin cuma omdo ga pada kerja. Cek aja kita, jangan-jangan kita omdonya lebih parah (suka misuh2, berkata-kata kotor), suka nuntut2, ngatur2 yang lain berlebihan, dan lagi-lagi yang begitu pasti banyak.

Jika ada yang bilang pemimpinnya males, tidak peka terhadap rakyat. Cek lagi sekitar kita, berapa banyak pemuda yang peduli dan berpikir tentang perubahan. Berapa yang bersemangat untuk berbenah dan mau diatur.

Jika ….. cek …..

Meskipun inisiatif dari tokoh penggerak perubahan itu penting, tetapi inti dari perubahan itu adalah gerakan bersama. Mau mengharapkan pemimpin yang baik? Cek terus diri kita sambil terus bekerja di ranahnya masing-masing. Seberapa seriuskah kita memperbaiki diri kita? Seberapa baikkah harapan kita kepada para pemimpin yang ada sekarang? Seberapa tulus doa kita untuk kebaikan mereka dan kebaikan negeri ini? Seberapa sabarkah kita menghadapi situasi dan kondisi sekarang? Sebarapa santunkah kita saling menasihati satu sama lain agar tercipta ukhuwah dan perbaikan? Jika belum, ha ha ha. SABAR mas Bro!

Di pergerakan apapun Anda, di parpol yang mana Anda, kalo masih suka nyinyir, black campaign, dan ghibah maka …. (simpulkan sendiri)
Di level manapun Anda di masyarakat, kalo masih mudah terprovokasi dengan kabar burung atau kabar onta maka … (simpulkan sendiri)

Facebook

Kategori
Refleksi

Politisasi Pikiran dan Kehancuran Peradaban

Boleh percaya, boleh juga enggak. Setelah penghancuran bahasa, sebuah peradaban dapat diguncang dengan strategi kompleks agar pemikiran masyarakatnya terpolitisasi. Jika mesin itu telah bekerja, sang penghancur tinggal ngopi sambil sesekali jeprat-jepret latihan fotografi lihat masyarakat peradaban itu saling serang satu sama lain dan merasa paling benar.

Pemikiran yang terpolitisasi itu menjadikan semua pendapat relatif, bahkan terkadang dalam membicarakan soal agama setiap orang saling otot2an. Yang pasti dalam perselisihan ini, salah satu adalah pihak yang benar dalam ilmunya dan yang lainnya salah memahami. Tapi yang diharapkan para penghancur adalah keributan ini berjalan lama dan dibiarkan sampai semua saling melumatkan satu sama lain.

Saking terpolitisasinya pemikiran orang hari ini, orang yang dianggap memiliki relevansi politik tertentu, kalau sedang baca ayat dianggap menjual ayat-ayat tuhan. Punya tujuan akhir sama hanya masih berbeda jalan, saling menghantamnya lebih mengerikan ketimbang yang nggak ada urusan. Jadi friksi dan pertempuran itu terjadi di orang-orang yang sama-sama jalan searah. Sementara yang berlawanan arah atau yang berbelok diabaikan, padahal mereka mencopet, menculik anak-anak, dan menikam satu demi satu.

Kehancuran peradaban itu kadang berasal dari dirinya sendiri yang tidak mau berbenah dan cenderung menyalahkan serta saling bertikai satu sama lain. Ketiadaan rasa persatuan dan cinta lebih menumbuhkan ego untuk merasa paling benar dan berkuasa sendiri. Jika yakin sesuatu yang benar, yang dilakukan adalah transformasi hingga dimengerti yang lain, bukan intimidasi dan pemaksaan agar seolah-olah mengerti.

Facebook