Sedianya agenda sore ini adalah touring ke Dusseldorf bersama Dr. Simone. Namun Prof. Tausch menghendaki kami untuk makan bersama terakhir sebelum perpisahan setelah ujian besok pagi. Akhirnya kami diajak oleh beliau ke salah satu restoran Asia di City Arkaden, Mr. Pung namanya. Dengan mobil BMW-nya yang keren, kami diajak ke mall terbesar di Kota Wuppertal itu. Kebetulan parkir mobilnya berada di lantai paling atas mall tersebut, sehingga ketika kami keluar dari mobil kami dapat melihat keindahan kota Wuppertal yang di kelilingi oleh perbukitan. Dan benar-benar indah kota ini ketika malam hari. Benarlah kata Rene, bangunan di sini itu biasa-biasa saja, tetapi mereka detail dalam mengatur pencahayaan sehingga terlihat sangat indah ketika malam hari.

Usai menikmati pemandangan kota Wuppertal dan Universitasnya yang sangat indah, kami segera bergegas masuk ke dalam untuk mencari tempat Mr. Pung berada. Akhirnya ketemu dan di sana kami segera memesan makanan. Wow, ternyata ada menu Nasi Goreng, Bami Goreng (harusnya Bakmi Goreng). Keren banget dah. Akhirnya aku memesan nasi goreng. Ternyata porsi makanan di sini dua kali lipat porsi orang Indonesia. Pantas saja harganya menembus angka 6 euro, alias 75ribuan. Prof. Tausch juga ikut memesan bami goreng. Wah wah, enak sekali makan malam hari ini, seperti ketika di restoran Asia Cologne. Meski akhirnya beberapa kami menyerah karena perutnya tidak muat, alhamdulillah aku berhasil menghabiskan jatahku untuk menghormati Prof. Tausch yang telah mentraktir kami malam ini.

Usai mengisi perut, kami membeli beberapa kue dan menuju flat Prof. Tausch untuk berdiskusi sambil menghabiskan malam terakhir bersama beliau. Karena jadwal esok hari adalah kuliah bersama Dr. Anne dan ujian akhir kegiatan perkuliahan kami selama tiga pekan ini. Tak lama berselang setelah kami berada di flat Prof. Tausch yang cukup mewah, datanglah Dr. Simone membawa hadiah untuk kami. (Oh ya lupa, sebelum ini kami telah bagi-bagi hadiah berupa cindera mata dan kaos yang sengaja kami beli dari Indonesia kepada orang-orang yang telah berjasa membersamai kami selama di Jerman ini). Permen dan coklat yang dikemas cantik dalam wadah heksagonal. Keren banget, dankeschon Dr. Simone.

Di malam hari yang tenang ini, kami berdiskusi dan bercanda ria sambil menikmati hangatnya teh manis. Kalau Prof. Tausch dan Dr. Simone minum bir dong. Ternyata malam ini adalah pemutaran berita tentang  Christmas Lecture yang telah dilakukan hari Selasa lalu. Wow, amazing banget, kami bisa masuk televisi Jerman. Meskipun hanya sebagai peserta kuliah, tetapi ini adalah sebuah kesempatan langka di mana kami datang ke sini di bulan Desember ketika banyak orang saling memberikan hadiah, dan ternyata juga ada atraksi-atraksi menarik yang ternyata sangat ilmiah. Dan malam ini pula kami mengetahui rahasia bahwa ternyata bir yang diminum oleh Prof. Tausch bersama mahasiswa itu bukan bir yang beliau buat dari percobaan. Itu sebuah intrik yang beliau lakukan bersama Ingrid, dengan cara mengalihkan perhatian peserta dalam lampu yang dimatikan karena bersamaan dengan eksperimen fosforsensi, Ingrid mengganti gelas yang tadi dengan gelas yang berisi bir beneran. Wah, ternyata …..

Ketika kami tanyakan bahan-bahan apa yang digunakan di sana sehingga berbusa. Ternyata, semua hanya menggunakan deterjen agar setiap reaksi yang terjadi dapat terlihat busanya. Yah, ternyata lagi. Hemm, kuliah seperti ini menarik ternyata. Wah, rasanya aku perlu menggali berbagai kearifan lokal di Indonesia nih seusai dari Jerman ini. Kemudian mengemasnya sebagai atraksi dalam pembelajaran sehingga sangat menarik untuk dilakukan. Wah, ternyata inspiratif banget diskusi malam ini.

Kemudian juga diskusi tentang pernikahan dalam Islam. Mereka bertanya kepada kami tentang bolehnya seorang pria menikahi empat wanita. Awalnya mereka bilang itu sangat tidak masuk akal dan gila. Akhirnya pelan-pelan kami mencoba menjelaskan duduk perkaranya dengan penjelasan yang lebih rasional bahwa meskipun itu diperbolehkan, ada syarat-syarat yang harus dapat dipenuhi sebelum sang laki-laki menikah lagi. Akhirnya mereka mengerti dan memberi feedback masing-masing dari keyakinan mereka. Ternyata antara Prof. Tausch dan Dr. Simone memiliki keyakinan berbeda meskipun sama-sama Nasrani. Yah, malam ini jadi hangat dengan suasana toleransi yang terbangun.

Di samping itu, malam ini ada kabar duka dengan meninggalnya salah satu politisi akibat serangan jantung. Ternyata kabar ini menggiring kami pada diskusi tentang rokok. Jadilah diskusi menarik tentang ketidaksukaan Dr. Simone setiap kali melihat orang merokok. Beliau langsung tidak doyan makan setiap kali melihat orang merokok. Demikian pula Prof. Tausch, mbah kakung yang kocak ini menyebut para perokok sebagai orang gila yang lupa ama dirinya sendiri. Saking semangatnya cerita kadang-kadang beliau berteriak karena juga pengaruh alkohol yang mulai menghangatkan badannya. Di jerman pajak rokok sangat tinggi, tetapi seperti halnya di Indonesia, aku sekarang sering sekali melihat orang merokok di mana-mana, dan parahnya lagi laki-perempuan sama saja, mereka merokok ramai-ramai.

Dan ternyata berdasarkan observasiku selama di stasiun, halte atau tempat-tempat umum, sering kujumpai puntung rokok dibuang sembarangan meskipun disediakan tempat khusus untuk membuat puntung rokok di sana. Sampah sangat jarang di temua, tetapi puntung rokok terkadang banyak berceceran. Ah, apakah ini akibat buruk dari merokok ya, disamping meracuni yang lain, ternyata membuat orang mulai bergeser pola hidupnya. Saat ini mereka masih tepat dalam membuang sampah di tempatnya, kecuali puntung rokok. Ada apa ini? Wah bahaya, jangan-jangan kekacauan Indonesia hari ini salah satunya kebiasaan merokok. Perlu dibuktikan secara empirik nih. Siapa yang mau ambil riset tentang ini?

Dan malam semakin larut, dan kami harus pulang, karena besok akan ada ujian. Karena Prof. Tausch sudah terpengaruh alkohol, beliau meminta kami pulang jalan kaki dan mengucapkan selamat malam. Hemm, di sini kalo orang mabuk masih dapat mengontrol diri hingga tetap sadar, hanya saja saking tanggung jawabnya beliau tidak mau membahayakan kami dengan nekat mengantarkan. Dr. Simone sepertinya juga sedikit terkena efeknya juga karen habis 2 gelas bir. Akhirnya kami hanya saling mengucapkan “tschüs”, sebuah ungkapan say good bay untuk orang yang sudah sangat dekat dengan kita. Namun aku mengulanginya lagi khusus untuk Prof. Tausch dengan “auf wiedersehen” sebagai penghormatan untuk mbah kakung kami yang sangat baik, hingga seperti kakek kepada cucu-cucunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.