Malam ini aku habis menyelesaikan pekerjaan orang tua untuk memberi hadiah pada anak-anak setelah bekerja keras membantu menyukseskan hajatan besar SIM, FILM 2012. Alhamdulillah setelah melalui beberapa hambatan yang tidak penting namun bikin lama, akhirnya tercetaklah puluhan sertifikat itu dari hasil kerja keras temanku yang super sibuk. Dan malam ini nama-nama orang yang berjasa itu kusematkan dalam sertifikat itu sebagai tanda cinta kami kepada mereka.

Setelah pekerjaan selesai, tiba-tiba muncul seorang adik unik, anggota ngapakers. Dia unik karena barangkali aku baru ketemu seorang yang pemikirannya telah jauh meninggalkan kadar usianya. Seorang yang cukup visioner untuk dibandingkan dengan usianya yang masih muda. Aku kagum sampai hari ini dan bahkan terobsesi untuk menjadikannya generasi unggul di masanya nanti. Yah, itu pilihan untuknya. Kata orang Jawa, eman-eman kalau potensinya yang besar itu suatu saat harus dikebiri oleh sistem yang mengkerdilkan pemikirannya.

Setelah transaksi nge-print selesai, ku ajak dia berdiskusi di sebuah hik favoritku. Di sana aku sering mengajak adik-adik halaqahku makan bareng atau diskusi dengan teman-teman karibku (yang cowok pastinya). Diskusi malam ini sungguh di luar dugaan. Aku tercengang melihat lompatan-lompatan pemikirannya yang begitu tajam dan menggugah. Dalam benakku ingin berkata, idealismu harus senantiasa di jaga. Aktivitasmu harus senantiasa diarahkan agar jangan sampai potensimu yang besar ini tidak berkembang sesuai dengan porsinya. Layaknya orang tua aku lebih banyak mendengar dan mengafirmasi gagasan-gagasannya yang cemerlang itu.

Berawal dari masalah organisasi, dia bercerita bagaimana eksklusivitas sebuah gerakan kampus di mata mahasiswa dan birokrat sudah tidak wajar lagi hari ini. Baginya, harus ada revolusi untuk memperbaiki persepsi umum bahwa kita adalah aktivis yang ingin berbagi dan senantiasa mengajak untuk upaya perbaikan. Bukan untuk yang lain. Maka itulah mengapa dia hingga kini belum bersedia mengikuti agenda pintu masuk digerakan yang kami bicarakan ini. Dan yang membuat dia kecewa adalah orang yang dulu bermanis wajah kepadanya sewaktu mengajaknya bergabung hari ini juga sudah tidak bersikap wajar kepadanya. Dia bertanya, apakah dengan kecewa lantas membuatnya harus bersikap berbeda kepadanya padahal ini hanya masalah ajak mengajak yang konsekuensinya juga mau dan tidak mau. Aku menghela nafas, memang seharusnya tidak perlu begitu. Karena semua itu pilihan, dan setiap pilihan itu boleh dipilih.

Selanjutnya adik keren ini bercerita tentang visinya untuk Indonesia. Jadilah pembicaraan kami melebar ke mana-mana mulai dari sejarah bangsa hingga upaya perbaikan ekonomi. Satu hal yang begitu berkesan bagiku adalah ketika dia berkata, “Kenapa kita lebih sibuk menjelek-jelekkan para pemimpin bangsa kita? Padahal mereka juga punya prestasi. Orang kalo mau dilihat jeleknya aja ya bakal jelek terus”. Dia kemudian mengungkapkan gagasannya untuk menulis buku tentang prestasi-prestasi presiden Indonesia dari masa ke masa. Bagiku itu adalah gagasan yang cemerlang, hanya saja aku secara pribadi belum setuju jika ditulis prestasi semua presiden, karena ada 2 nama yang masih kontroversial dalam diriku. Apalagi jika ditanyakan tentang prestasinya.

Dan pembicaraan malam ini berakhir dengan rasa syukur, inikah generasi ketiga setelahku nanti. Generasi keduaku telah bersiap untuk lepas landas. Inikah yang ketiga? Wallahu’alam, tetapi aku yakin hanya orang-orang yang berani berpikir visionerlah yang kelak akan memberikan kontribusi dan perubahan besar bagi negeri ini di saat para pengkhianat bangsa sibuk berselindung dalam berbagai ketokohan dan nama besar. Aku tidak percaya lagi dengan nama besar seseorang, tetapi aku selalu percaya bahwa para negarawan itu adalah orang yang namanya besar karena pengabdiannya. Siapakah yang ingin jadi negarawan? Aku ingin menjadi negarawan selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.