Kategori
Misi Perubahan

Musang SIM 2013

Hari ini cukup spesial bagi organisasi yang telah membesarkan dan membuatku banyak belajar di sana, Studi Ilmiah Mahasiswa. Tepat di periode kepengurusan ketiga sebagai UKM, hari ini sang ketua umum SIM, Dwi Prasetyo mempertanggungjawabkan kepengurusannya. Kami yang menjadi alumni mendapatkan kesempatan untuk hadir di forum yang kami rindukan di tahun yang lalu itu.

Kehadiran kami sebagai alumni tentu tidak lebih sebagai ajang silaturahim dan membelajarkan adik-adik tentang bagaimana cara mengevaluasi sebuah kinerja lembaga secara solutif dan inovatif. UKM ini telah berjanji untuk tidak menjadi bagian dari sejarah masa lalu yang hanya sibuk debat untuk masalah titik, koma dan eyel-eyelan seputar program kerja yang tidak terlaksana yang tersaji dalam matriks-matriks super rumit. UKM ini belajar menyederhanakan sebuah masalah dan belajar menjadi sebuah keluarga.

Bagi diriku sendiri, LPJ pengurus tahun ini adalah cermin bagaimana keberhasilan kaderisasi kami. Jika mereka memaparkan sesuatu yang berkualitas, itu artinya kepengurusan kami di masa lalu berhasil. Jika ternyata tidak, maka itu artinya kepengurusan kami masih banyak kekurangan. Jadi menurutku, keberhasilan kepengurusan SIM itu tidak dilihat dari periodenya, tapi 2 periode sesudahnya.

Menurut kebijakan yang kami buat, pengurus inti itu menangani dua angkatan sesudahnya. Artinya untuk angkatan tepat dibawahnya, pengurus bertanggung jawab untuk menyiapkan mereka sebagai para pemimpin masa depan. Sedangkan untuk adik tingkatnya lagi, pengurus harus menyediakan ladang belajar dan aktualisasi yang seusai.

Maka pengurus yang berhasil adalah pengurus yang mampu membuat kepengurusan sesudahnya berkembang jauh lebih baik dari masanya. Sekaligus mewariskan tanggungan calon-calon pemimpin yang sudah mapan pemikirannya. Apakah itu sudah tercapai? Kami tidak ingin menilai kinerja kami sendiri. Kami mempersilahkan semua untuk melihat bagaimana SIM 2013 ini dan SIM 2014 nanti. Tentu saja, SIM 2014 nanti lebih berhak diklaim oleh adik-adik kami yang LPJ-an hari ini.

Intinya, banyak perspektif berorganisasi kita yang hari ini perlu diupgrade. Kekolotan cara berpikir kita, akibat kemalasan belajar dan bertualang adalah sebuah bahaya besar. Jika itu hanya berakibat pada diri kita tidak masalah, tapi jika pola pikir itu menular pada generasi kita dan mengakar hingga berabad-abad lamanya, siapa yang akan bertanggung jawab di akhirat nanti? Semoga kita bisa bijak untuk berpikir.

Kategori
Refleksi

Menjadi Mahasiswa “Biasa”

Ceritanya ini adalah sebuah pesan kecil untuk adik-adik SIM yang sekarang tengah menggila dengan karya dan sebuah peringatan atas kekhawatiran yang boleh jadi akan terjadi di kemudian hari. Sebagaimana sejarahnya, dan tentunya visi yang diimpikan oleh para BEM-ers pada era 2006-an, kehadiran UKM Keilmiahan adalah untuk mendongkrak prestasi UNS di bidang keilmiahan dan menumbuhkan mindset keilmiahan pada semua aktivis kampus UNS, maka kehadiran SIM yang merupakan jawaban atas mimpi besar para pendahulu itu diharapkan mampu merealisasikan visi yang telah ditanamkan itu.

Setelah dua tahun kepengurusan, kini SIM telah memasuki usianya yang ketiga. Benih-benih kejayaan itu mulai nampak dengan banyaknya obsesi keluarga keilmiahan ini untuk jalan-jalan melihat luasnya Indonesia dan suasana mancanegara. Kepergianku ke Jerman sebulan di akhir tahun lalu sepertinya menandai bahwa setelah itu satu per satu dari mereka akan segera melakukan hal yang sama. Tak heran jika akhirnya sudah ada yang ke Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan terakhir kemarin ada yang ke Bangkok. Menyusul kemudian akan ke Kuala Lumpur lagi dan ke Taiwan.

Semua itu sebenarnya hal yang seharusnya “biasa”. Mengapa? Karena tugas Studi Ilmiah Mahasiswa dan orang-orang yang berkhidmat di dalamnya adalah mengembalikan kebiasaan mahasiswa. Menulis, berkarya, berinovasi, menjadi solusi, melakukan pengabdian, menjadi aktivis organisasi, berprestasi, jalan-jalan ke kampus lain, keliling Indonesia, jalan-jalan ke luar negeri, jadi paper presenter, jadi orator dan yang sejenisnya, bukankah itu adalah aktivitas yang seharusnya “biasa” bagi mahasiswa? Aneh bin ajaibnya aktivitas itu dianggap sebagai hal yang wah bagi kebanyakan mahasiswa sekarang. Masalahnya, apa perbedaan mahasiswa dengan yang tidak pakai maha, alias siswa? Atau jangan-jangan memang system pendidikan kita menurunkan level mahasiswa menjadi siswa-siswa saja. Yang taraf berpikirnya biasa-biasa saja, yang etos kerjanya pas-pasan sebatas kerja dan dapat uang saja.

Ada hal yang berbahaya yang wajib diwaspadai setiap orang di SIM. Godaan prestasi dan berbagai tawaran kemudahan untuk menikmati berbagai fasilitas kampus membentang di depan mata. Obsesi untuk bergelar juara pun tak pelak membuat kita begitu terobsesi mati-matian hingga yang awalnya visi menjadi sebuah ambisi. Salah satu korbannya adalah ketika dalam organisasi itu ada teman sevisi yang tak terobsesi seperti ambisinya untuk meraih gelar-gelar itu karena memang memiliki passion mewujudkan karya dalam bentuk lain. Bahasa sederhananya, yah akhirnya yang hobi jalan-jalan itu, karena terlalu ambisius akibatnya memaksa dengan bahasa halus kepada mereka-mereka yang memang passionnya dirumah. Lama-lama kesannya, yang memang enak suka jalan-jalan tetap dalam jalan-jalan dan memilih tidak mau kerja ketika saatnya harus bekerja, karena alasan jalan-jalan memang sulit ditolak juga. Sedangkan yang tinggal di rumah tetap berharap bisa bepergian dengan cara yang lain meskipun tak kunjung menemukan jawaban.

Hati-hati adik-adikku. Inilah titik kecemburuan yang suatu saat akan terjadi. Karena mewujudkan visi yang menjadi mimpi bersama organisasi dengan mengejar ambisi pribadi untuk dihargai itu beda tipis, bahkan saking tipisnya memang tidak bisa dibedakan kecuali setelah terjadi akibatnya di kemudian hari. Mari kita kembali kepada asal dari visi lembaga besar ini, mengembalikan fitrah mahasiswa untuk berkiprah sebagaimana “biasa“-nya mahasiswa. Tidak ada yang wah sama sekali sebenarnya melakukan aktivitas karya dan berpetualang itu. Karena bukankah itu memang seharusnya yang dilakukan mahasiswa. Kalau di kampus hanya mendengar, menyimak, kemudian menulis kembali (kadang lupa) demi dosen-dosen yang terkadang memberi nilai kurang memuaskan dan terkadang ada juga yang kurang obyektif, alangkah borosnya uang dan waktu kita.

Jadi, inilah sebuah pesan yang harus selalu diingat-ingat oleh kita semua. Orang SIM bukan orang eksklusif yang benar-benar ingin semata-mata mengejar karya dan jalan-jalan. Itu adalah aktivitas yang memang sewajarnya dilakukan sebagai hiburan dan pengurang stress ditengah penatnya dan padatnya sistem kuliah yang memang belum bisa berubah menjadi lebih manusiawi (dan memang sebaiknya tetap diikuti dari pada dicela dan tidak diluluskan). Ketika kita melihat siapa pun di samping kita tidak bersikap “biasa“ sebagaimana seharusnya kaum cendikia, maka kita ajak ia. Jika lembaga-lembaga mahasiswa lain minta bantuan, maka sudah saatnya untuk berkiprah di sana. Kita berbagi dan terus memberi, bukan mencari dan meminta. Selagi kita bisa memberi, maka utamakan itu sebelum kita meminta hak kita. Memberi-memberi.

Allah maha membuka, pasti akan terlihat siapa-siapa yang bergabung di SIM ini demi sebuah ambisi dan siapa-siapa yang bergabung karena memang suka dan menjadikan jalan ini untuk pengabdian. Visi dan ambisi, beda tipis dan hanya hati masing-masinglah yang bisa membedakan. Yang pasti, ambisi akan menghancurkan banyak orang dan banyak sistem yang telah terbangun tanpa disadari. Yang menulis ini pun juga takut ketika menorehkan tulisan ini karena bukan berarti yang menulis ini aman dari penyakit itu. Jika kita mau belajar dan mengamati jeli, bukti dari hal ini telah tersebar di sekitar kita, termasuk bagaimana ruwetnya bangsa kita yang selalu sulit untuk menapak jalan menuju visinya padahal potensi SDM-nya berlimpah.

Beruntung Allah menganugerahi kita negeri yang teramat kaya. Ditongkrongin Belanda 350 tahun, Jepang 3,5 tahun hingga kini masih bisa sedekah emas cuma-cuma kepada Amerika hingga 8.000 triliyun per tahun. Memang negeri yang luar biasa, karena kayanya seolah negeri ini dicurangi, dikorupsi, bahkan diperas juga tidak kering-kering. Kasihan rakyat yang tidak mengerti, ditambah kaum intelektualnya yang lebih mementingkan diri sendiri. Semoga ini menjadi refleksi, khususnya buat adik-adikku SIM yang kini tengah bersenang-senang dalam lembaga yang katanya baru. Ingat, visi dan ambisi beda tipis, hanya kita masing-masing sesungguhnya tahu apa yang bersemayam di hati kita. Tetap BELAJAR – BERKARYA – MENGABDI

Kategori
Special Moment

Untuk 10 Tahun Lagi

Ceritanya, aku mau memberi kenang-kenangan sekaligus oleh-oleh dari Eropa untuk teman-teman SIM-ku yang keren. Jadilah sore ini kami makan-makan lagi di sebuah warung makan di tepi Sungai Bengawan Solo (aman dari banjir insya Allah). Inilah mungkin kali terakhir para Ranger SIM 2012 yang akan segera pensiun tepat setelah pelantikan pengurus baru nanti.

Di sebuah restoran yang lebih mahal dari pada waktu makan-makan sebelum aku berangkat ke Jerman, kami melepas lelah di senja yang baik ini, tidak hujan dan tidak berangin kencang. Satu per satu sahabat-sahabat tangguhku berdatangan dan bergabung dalam sebuah meja kotak yang cukup untuk menampung makanan yang siap kami habiskan nanti. Seperti pada umumnya menyambut orang yang baru pulang dari plesiran, apalagi dari luar negeri, mereka ingin mendengar cerita-ceritaku. Dan jadilah aku seperti tukang dongeng saja untuk menampilkan keindahan Jerman kepada mereka. Yah, tak mengapa, tapi sepertinya coklat dan berbagai kenang-kenangan yang kusodorkan itu lebih menarik dari pada ceritaku. He he he.

Inilah sore yang membuatku sangat bersyukur. Bersyukur karena dikaruniai teman-teman yang luar biasa. Dipertemukan dalam sebuah organisasi yang tidak pernah kutemui sebelumnya di kampus tercinta ini. Sebuah organisasi yang benar-benar mendewasakan kami untuk membuat sebuah pilihan dan gebrakan baru yang menyejarah. Menyingkirkan segala kejumudan pikir dan menegakkan lagi panji-panji intelektual untuk menantang setiap jiwa muda yang bergabung untuk berkiprah dalam karya dan inovasi. Aku bermimpi organisasi yang masih muda ini suatu saat akan menjadi salah satu solusi bagi Indonesia ini. Dan pada waktunya nanti, orang-orang yang di sini itu akan segera bertualang ke seluruh penjuru tanah air bahkan hingga ke mancanegara. Yah, sebagai ranger SIM periode kedua (muda banget ya umur SIM) maka PR terberat kami bukanlah melakukan manajemen birokrasi, tetapi memancang dengan kokoh sebuah nilai dasar agar generasi selanjutnya selalu memegang teguh nilai-nilai itu.

Belajar, berkarya dan mengabdi adalah nilai-nilai dasar itu. Kaum cendikia hari ini dihadapkan pada fenomena kejumudan pikir, belajar tetapi sebenarnya buang-buang waktu, berpikir tetapi sebenarnya hanya membuang masa berharga. Kuliah hanya untuk sebuah visi yang sangat pendek. Potensi yang besar itu harus dikoordinasi dan diarahkan untuk sebuah kerja bersama. Karena Indonesia hari ini butuh kerja bersama para manusianya, bukan orang-orang hebat saja. Maka aku yakin jika ranger-ranger kami yang baru nanti bisa lebih solid dari kami pasti akan menghasilkan sebuah karya dan inovasi yang jauh lebih baik dari pada kami.

Siapakah ranger-ranger SIM 2012 yang hebat ini?

Hemm, aku kasih nama sendiri yah sesukaku. Dimulai dari aku yang katanya tante Er dan si Kris adalah Ranger Merah. Sosok yang katanya idealis dan suka dengan hal-hal baru untuk menembus berbagai tantangan yang kata orang “tidak bisa”. Modal keberanian dan keyakinan, diiringi dengan komunikasi yang terus diperbaiki, alhamdulillah aku bisa memimpin SIM ini dengan husnul khatimah, sebuah akhir yang baik lagi membahagiakan.

Kemudian Ranger Biru, si Krisna D’Biker. Sahabatku yang sangat spesial bagiku. Si otak brilian yang hampir tiap hari punya ide inovasi. Mungkin karena rajin nonton Kamen Rider dan Power Ranger sehingga dia benar-benar jenius seperti si Rancodas di 3 Idiot. Dasar anak teknik, yah tiap hari dia mikir teknologi dan rekayasa. Dan ini berbuah pada kelompok studi riset dan teknologi yang kini makin menggila dengan karya-karya aneh dan inovatif, mulai dari keranjang cantik dari koran bekas hingga roket air yang masih dalam tahap penyempurnaan.

Kemudian Ranger Ungu, Tante Erny. Ga tahu kenapa kemudian aku dan si Kris suka banget manggil dia tante, padahal usia kami tak jauh beda, tapi emang dia paling tua dari kami. Sosok keibuan lagi telaten dalam membimbing, tetapi tegas dan cukup galak dalam mendisiplinkan adik-adik adalah ciri kesehariannya. Jiwa sosialnya yang tinggi mengantarkan kelompok pengabdian masyarakat SIM mulai berkiprah di sebuah desa kecil di pinggir kota Surakarta. Sebagai tante, beliau adalah orang yang paling dihormati di organisasi ini karena nasihat-nasihatnya yang bijak, hingga kalo bukan karena beda mahram, beliau pasti sudah menjeweri kami yang sering nakal dan ga jelas ini. He he, peace tante.

Kemudian Ranger Pink, si Nisaa. Calon psikolog yang aneh lagi paling putih (kata si ranger Cokelat) ini adalah sosok yang paling fenomenal. Meski dulu tidak berlatar belakang SIM dari kecil, ternyata ranger yang satu ini mudah sekali beradaptasi dan segera menemukan frekuensi untuk bersama membangun SIM. Sebagai bagiannya di PSDM untuk membengkel anak-anaknya yang masih kecil-kecil agar kerasan di SIM bersama si Ranger Hijau dan Ranger Orange.

Kemudian Ranger Cokelat dan Ranger Putih, alias si Fair dan Amrih. Dua sosok ibu-ibu yang paling rajin bawa makanan setiap kali kumpul bener-bener menjadi kenangan bagi kami. Terutama mengingatkan pada masalah perut kami yang selalu kenyang saat kedatangan beliau berdua. Layaknya satu paket, keduanya seperti Ranger Pink, bahkan mungkin perhatiannya jauh lebih besar. Aku dulu pernah bersalah pada mereka berdua, dan ketika ingat hal itu aku jadi malu. Terima kasih duo Rangerku yang hebat.

Kemudian Ranger Hijau, alias dek Thiara imut. Special bendum SIM yang paling ditakuti dan bikin orang tidak bisa tidur jika masih menyisakan urusan uang dengan beliau. Satu-satunya orang yang suka panggil aku kakak, ha ha. Mimpi-mimpinya yang keren pernah dia deklarasikan di FB untuk mendapatkan doa banyak orang yang melihatnya.

Kemudian Ranger Orange, si Kina, sarjana pertanian yang lebih dulu lulus karena dipanggil pulang oleh Ibu Bapaknya. Hemm, seorang yang easy going lagi menggila. Yang ini juga aku pernah merasa bersalah banget padanya. Hemm, maafin gue ya Bu, aduh-aduh aku ga enak banget dengan semua yang udah terjadi. Semoga menjadi ibrah yang besar bagiku. Dan semoga kamu yang udah di rumah segera dapat jodoh (#loh).

Dan ternyata masih tersisa empat ranger yang lain, karena sering menghadapi pertempuran di luar dunia kami, maka aku tidak akan banyak bercerita tentang mereka karena mereka punya cerita indah tentang dunia mereka. Ranger Hitam, Pak Budi yang kini juga menjadi Mendagri BEM UNS, kemudian Ranger Abu-Abu, si Kalis, orang yang paling takut ketemu sama aku, kemudian Ranger Kuning, dek Dita, hemm orang yang pernah kuabaikan ketika di awal kepengurusan, sekarang aktif di sebuah komunitas keren, kemudian Ranger Krem, alias si Sovi yang sejak 6 bulan lalu pamitan karena laboratorium biologi telah memanggilnya untuk menjadi penjaga. He he he.

Sore ini aku berharap mereka semua bisa datang, namun demikianlah orang-orang sibuk, akhirnya makan-makan yang gila ini hanya dihadiri oleh Ranger Merah, Ranger Biru, Ranger Ungu, Ranger Cokelat, Ranger Putih, dan Ranger Pink. Inilah kenangan indah yang terpatri dalam dadaku. Terima kasih sahabat-sahabat baikku. Kalian semua hebat dengan cara dan dunia kalian. Terima kasih telah mau membersamaiku dalam formasi Power Ranger paling tidak jelas sepanjang sejarah. Namun bolehlah kita sekarang menatap bahagia tentang masa depan SIM yang lebih produktif dan berwawasan luas.

Hemm, tak bisa lagi menulis kata-kata untuk judul ini. Aku berharap 10 tahun lagi kita bisa reunian lagi, meski dalam formasi berbeda, entah jumlahnya jadi double, tripel, atau lebih dari itu, atau malah ada regrouping, semua adalah rahasia Allah. Aku rindu saat itu datang. Jangan pernah lupakan hari ini ya teman.

We are the dream team

The diamonds for SIM everytime

Keep our brotherhood.

Kategori
Catatan Perjalanan

Dari Dayu Park Hingga ke Pucuk

Ceritanya hari ini aku bisa main ke daerah Sragen untuk kali keduanya. Kali ini aku bersama teman-teman SIM UNS berkunjung ke salah satu pengurus yang juga sang suhu yang aku sendiri menganggapnya seperti tante. Yang telaten nasihatin hingga memarahi. Siapakah dia? Aha, yang ngerti konteks pembicaraan tulisan ini nanti juga tahu.

Dimulai dengan bangun sangat kesiangan. Setelah subuh aku tidur lagi hingga kali kesekian calling dari temanku membangunkanku. Wow, ternyata sudah jam 8 pagi dan aku belum apa-apa. Ku jawab, berangkatlah dahulu, nanti aku menyusul, soalnya aku baru bangun tidur. Beginilah efek ketika terbiasa tidur lama selama di Jerman. Hemm, musim dingin masih terasa bekasnya hingga hari ini.

Usai menyapu dan mengepel masjid yang kutinggali, aku segera memacu kuda besi kesayanganku untuk menyusul teman-teman yang sudah 2 jam berlalu mendahului. Untuk mengisi perut, kuputuskan menikmati nasi goreng khas Solo. He he, obat rindu lidah Indonesia yang baru makan nasi goreng untuk kali keduanya setelah pulang dari sana. Lumayan, yang ini lebih enak dari waktu di Jakarta, dan lebih murah tentunya.

Perjalanan tidak mengalami hambatan, kecuali jalanan yang sangat sempit relatif terhadap jumlah kendaraan yang lewat hingga aku harus beberapa kali terkejut gara-gara bus (yang kukira Sumber Kencono, ternyata bukan) membunyikan klakson keras-keras di belakangku. Ih berisik banget nih bus. Namun demikian, aku tidak perlu bertanya ke sana ke mari karena daerah yang ku lalui lengkap dengan petunjuk arah dan yang pasti tempat yang kutuju juga sangat terkenal di Sragen, Dayu Park. Singkat cerita aku sampai di sana dengan selamat dan ditertawakan oleh si Rony We Es (emang tuh anak hobinya ketawa sejak kenal denganku dulu).

Wah ternyata taman ini lumayan untuk dijadikan taman hiburan keluarga. Jadi kepikiran kalau Rest Area Bunder itu dilengkapi fasilitas seperti Dayu Park dan dikelola dengan baik pasti jauh lebih menarik dari pada ini, karena pepohonannya lebih lebat dan teduh juga kawanan Rusa Timorensis yang lincah pasti akan semakin memperindah kawasan itu. Kami berjalan ke sana ke mari, berkelakar, berfoto dan pasti aku yang jadi tukang fotonya. Ga pa pa, aku sudah kenyang foto-foto waktu di Eropa. He he, alibi, padahal yang pengin juga, cuma sayangnya pada ga peka buat menawari, “mas, tak fotoin sini”. Beginilah nasib pelayan itu.

Setelah puas, kami diajak Tante untuk menyusuri kawasan yang lebih ndeso dari tempatku menuju rumahnya di Pucuk. Eits, Pucuk itu nama daerah, bukan titik puncak yang lebih ndeso dari jalannya. Sempat aku mau ngolok-olok, “Wah, rumahmu lebih pelosok no Tan!”, tapi ga jadi karena ternyata itu hanya jalan pintas agar segera sampai ke rumahnya. Peace Tante

Di rumah yang ternyata juga markasnya pengajian dan tempat belajar adik-adik kecil di komunitas Pucuk Cendikia itu aku tahu ternyata tante memang orang yang super sibuk. Hemm, selama ini ternyata emang keren aktivitasnya. Banyak berderet trophy di almarinya, menandakan ni orang memang tukang juara. Aku jadi teringat, banyak trophy yang sudah kuserahkan kepada kepala sekolah sejak SD hingga SMA, dan ujung-ujungnya aku malu karena ternyata selama jadi mahasiswa ini aku mengalami penurunan produktivitas, mulai dari membaca, berkarya dan beraktivitas sosial. Malu. Malu banget rasanya. Mahasiswa ga jelas banget ternyata aku sekarang. Tobat Dika, balik ke relnya dong.

Setelah makan-makan dan diskusi sampai puas, dibumbui canda promosi dari ibunya tante hingga membuat muka tante merah karena malu berat, kami berpamitan satu persatu untuk pulang. Diiringi rintik hujan, hari ini menjadi spirit baru buatku, ternyata aku kalah dengan sainganku si Ranger Ungu selama di kampus ini. Dan lebih kalah telak lagi ketika aku harus berhadapan dengan sahabat kerenku, si Ranger Biru.

Kategori
Misi Perubahan

LPJ Ketum : Deformalitasi untuk Masa Depan

Rasanya waktu musyawarah anggota tinggal menunggu waktu. Tapi LPJ-ku tak kunjung selesai. Laporan-laporan dari rekan yang belum lengkap dan update prestasi dari para anggota yang belum segera mengirim menjadi salah satu pelengkap keterlambatanku di samping mungkin karena diriku yang juga suka menunda dan menumpuk pekerjaan untuk merasakan “power of kepepet”.

Yah, mungkin musyawarah anggota SIM periodeku adalah musyawarah anggota yang paling tidak bermutu sepanjang sejarah SIM jika dilihat dari kacamata formalitas. Bayangkan saja, sesuai dengan postinganku yang ini, agenda utama musang bukanlah LPJ dan tetek mbengeknya. Tetapi nonton film dan makan-makannya. Itu adalah hal yang aneh dan mungkin bukan hal yang diperbolehkan di pakem organisasi UNS. Tapi seperti yang sumpahku ketika menjadi ketum SIM, “menjadikan mungkin apa yang kata aktivis kampus tidak mungkin” maka musang seperti ini harus terjadi karena SIM butuh atmosfer baru untuk membangun karakter mahasiswa yang kuat dan visioner.

Susunan LPJ yang sangat jauh dari kebiasaan dan model yang sangat tidak formal mungkin mengganggu pemandangan kakak-kakak pendahulu kami. Mereka sepertinya belum menerima perubahan SIM hari ini yang sangat drastis. Itu memang resikonya, dan sebuah pilihan yang harus ku ambil. Jika memang ini dipandang sebagai kesalahan maka aku siap untuk mempertanggungjawabkannya asal adik-adikku nanti dapat menikmati perjalanan panjang mereka dengan lebih baik.

Inilah sebuah deformalitasi yang kupersembahkan untuk adik-adik penerus kami yang akan menahkodai SIM di masa depan nanti. Semoga kalian selalu ingat dengan ruh yang diimpikan founding fathers SIM. Kami hanya mengarahkan kalian untuk kembali kepada rel yang telah mereka bangun itu. Semoga kalian tidak tersesat.

Kategori
Memori

Ikhtiar Kami #1

Tak terasa, lebih dari setahun kami telah beramanah di sebuah lembaga baru yang bernama Studi Ilmiah Mahasiswa. Sebuah organisasi keilmiahan di UNS yang baru dua tahun berdiri meskipun sudah dirintis sejak tahun 2006. Sesuai dengan namanya, maka organisasi ini diazamkan oleh para perintis (founding fathers) agar menjadi lembaga yang mencetak kader-kader keilmiahan kampus yang siap mengharumkan nama kampus dengan karya dan berbagai prestasi akademik.

Kilas Balik

Pada awal-awal keberjalanannya, organisasi ini memulai dengan upaya pencitraan yang luar biasa. Yah, husnudzannya karena di UNS itu memang iklimnya itu event organizing, jadinya apa pun yang mau muncul perlu blow up besar-besaran. Salut dengan perjuangan kakak-kakak di masa lalu. Hari ini SIM telah dikenal oleh banyak kalangan. Sebuah modal baik untuk sebuah organisasi yang baru tumbuh sekaligus sebagai tantangan apakah SIM itu benar-benar sebagus citranya.

Ketika SIM telah sampai pada kepengurusan kedua ini dengan aku diamanahi sebagai nahkodanya, aku berpikir bahwa ada beberapa pilar yang masih kurang dan perlu dibenahi di SIM. Warisan dari kakak-kakak kami bahwa SIM adalah organisasi besar yang telah tercitrakan ke nasional disamping menjadi modal positif ternyata menjadi cambuk agar gengsi organisasi terpelihara. Akan sangat memalukan jika organisasi yang sudah terlanjur terkenal ini SDM -nya keropos dan hanya hobi membuat acara sambil mendatangkan orang luar untuk bicara.

Sampai di titik ini, aku dan teman-teman akhirnya merenungkan kembali tentang tujuan awal organisasi ini berdiri. Kubaca berulang-ulang RENDEZVOUS SIM (sebuah kitab warisan yang berisi tentang tulisan kakak-kakak perintis SIM di waktu itu) untuk memahami dan menemukan ruh dari SIM itu sendiri. Di kesempatan-kesempatan sebelumnya aku dan teman-teman juga sudah “ngangsu kawruh” ke organisasi sejenis di universitas lain dengan harapan memiliki oleh-oleh yang berharga. Dan kesimpulan dari diskusi hingga “pertengkaran” kami yang panjang hampir selama periode kepengurusan ini adalah SIM harus berubah dan benar-benar mewujudkan bangunan UKM Keilmiahan yang ideal untuk menunaikan janji para founding fathers SIM yang telah memulai sebuah langkah baru di kampus untuk mengembalikan citarasa mahasiswa sebagai kaum intelek dan melengkapkan kekuatan pergerakan mahasiswa agar semakin kokoh dan memiliki harga tawar di mata kampus dan pemerintah.

(bersambung …)
Kategori
Catatan Perjalanan

Inspirasi dari Kampus Biru #2

Setelah KRL mulai berjalan, aku bisa beristirahat dengan santai. Ternyata KRL yang katanya sampai orang berdesak-desakan naik di tas gerbong pagi ini ga begitu. Dan nyaman banget. Yang pasti anti kemacetan. Ya iyalah, wong ga ada sepeda motor dan angkutan lain yang lewat rel.

Dan …. hapeku hampir lowbat, padahal belum sampai Stasiun UI. Tapi setidaknya udah dapat balasan dari shohibku Ibnu Budiman, dan dia siap menunggu di sana. Oh hapeku, jangan mati dulu ya. Dengan metode hidup – matikan akhirnya aku sampai di stasiun UI. Setelah menunggu di halte sambil membaca si KOMPAS, datanglah beliau dan kami segera berjabat tangan. Meski baru bertemu untuk kali keduanya, akhirnya kami sudah akrab seperti teman sendiri di kampus. Inilah enaknya sebagai teman yang telah memiliki kesamaan visi kebangsaan. Ada aja pembicaraan yang unik dari kami.

Selanjutnya kami menumpang bus gratisan ke kampus MIPA UI dan ke PusGiWa. Pus Gi Wa = pusat kegiatan mahasiswa. Itu kalo di kampus sering disebut Porsima dan Grha UKM. Nah rasanya sesuatu banget bisa masuk ruangan KSM Eka Prasetya (semacam SIM kalo di UNS). Di sana saya kemudian mandi dan menulis beberapa postingan sambil menunggu Ibnu melakukan wawancara untuk penelitiannya. Alamak, dia angkatan 2009 padahal, tapi udah hampir menyusulku bahkan mungkin mendahuluiku. Setelah cukup di PusGiWa dan aku telah memfoto-foto karya UKM yang sudah 29 tahun berdiri itu, perjalanan kami lanjutkan di masjid UI. Gedhe banget dah. Lebih gedhe dari NH. Aku bisa shalat dengan tenang di sana.

Setelah itu kami makan siang. Nah, kekonyolan muncul lagi. Waktu pesan makanan ada

menu-menu yang menarik. Sebenarnya makannya itu biasa mulai dari lumpia ayam, ayam bakar, ayam panggang dll. Tapi menunya dinamai dengan klub-klub sepakbola terkenal. Aku memesan Barcelona. Apa itu? Lihat foto di samping aja. Sambil makan, eh ketemu dengan temannya Ibnu yang kebetulan peranakan Solo, tapi tinggalnya di jakarta. Dia pegiat Himpi kampus loh. Wah jaringan baru. Dan aku kagum bahwa pembicaraan kami itu bener-bener berkelas. Karena aku bertemu dengan dua anak geografi yang sedang melakukan penelitian, yang satu geografi sosial, yang satunya geografi politik. Tahu ga apa geografi politik? Simak di edisi lainnya. Mungkin ini ya kultur yang mau ga mau akan membentuk anak-anak UI itu memiliki kualitas pembicaraan yang lebih bagus dan berisi sehingga di kesempatan-kesempatan tampil di muka umum, mereka lebih pede dan siap karena memang tiap hari sudah terbiasa berdiskusi dan mencerna berbagai realita.

Setelah puas di sana, aku diminta Ibnu ke perpus pusat UI. Sesampai di sana, hemmmmm ….. iki kampus apa museum ya cah. Apik tenan. Luar biasa. Depannya danau yang hijau dan di seberang sana ada balairung dan gedung rektorat yang berdiri megah. Perpusnya juga sangat megah. Karena Ibnu belum datang, aku juga sungkan masuk ke dalam. Akhirnya aku jalan-jalan saja dan melihat-lihat pemandangan dan juga pameran.

Ekskursi Mentawai 2012

Dan pameran yang sangat keren adalah ekspedisi temen-temen fakultas teknik UI untuk melakukan ekskursi lapangan di kepulauan mentawai. Diketahui bahwa 25 mahasiswa menjadi satu tim ekspedisi untuk membedah keindahan kepulauan Mentawai. Mengapa mentawai? Dalam sebuah prolog yang tertulis di pintu masuk gedung pameran, karena Mentawai masih menyimpan keelokan dan keasliannya di saat banyak orang tak mengetahui betapa kayanya budaya dan betapa uniknya bangsa kita.

Dalam pameran itu disajikan berbagai gambaran mulai dari hasil pemetaan wilayah, fotografi kondisi lingkungan hingga artifak. Begitu detil lengkap dan meyakinkan. Bahkan ada film dokumenternya juga. Yang terbayang dikepalaku seandainya kampusku bisa melakukan ekskursi selengkap itu. Seumur-umur aku kuliah eskursi semacam itu belum pernah ada di kampus. Yang mirip-mirip dengan itu sepertinya apa yang pernah dilakukan Pak Tanto di Segoro Gunung, kemudian secara pribadi oleh komunitas Pintu dan mungkin juga nanoclub di masa itu, tapi masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan teman-teman UI ini.

Aku bermimpi suatu saat SIM akan melakukan ekskursi yang mampu menjadi nilai tambah suatu daerah. Mungkin tunggul rejo yang mulai disentuh tahun ini akan layak untuk diekskursi lebih lanjut sehingga menghasilkan nilai lebih berupa dokumenter yang akan memberikan gambaran nyata kiprah mahasiswa hari ini, yang tidak hanya pandai berteori namun juga pandai dalam aplikasi dan dekat dengan masyarakat. Karya yang sederhana namun sarat inspirasi, karya yang mudah diingat namun sarat istiqomah, dan tentunya karya yang merupakan realisasi ketulusan hati untuk mengabdi dan menjadi solusi, bukan sekadar seremonial apalagi formalitas palsu nan menipu….. bersambung

Kategori
Pendidikan

Kegiatan Ter-elit di SIM

Kegiatan terfavorit di UKM SIM adalah diskusi dan berkarya, tidak ada yang lebih prestisius dari itu jika Anda telah menyatakan diri sebagai anggota SIM.” Ardika

Bahagia rasanya sore tadi mendapat kesempatan untuk berduet lagi-lagi dengan Krisna D’ Biker dalam memberi motivasi dan cara gila membuat karya tulis. Berawal dari cerita tentang tiga orang desa yang belum pernah merasakan nikmatnya naik pesawat, akhirnya dimulailah edisi berbagi sore ini dengan kisah perjuangan GJ kami ke Universitas Andalas dalam Penalaran Green Festival. Kisah lengkapnya ada di sini.

Intinya paparan motivasi yang kami berikan kepada adik-adik adalah tentang dahsyatnya kekuatan mimpi. Mimpi adalah suatu cita-cita yang tergambar terang dalam bayangan kepala kita. Bukan lamunan apa lagi angan-angan. Ia realistis meskipun banyak orang berkata tidak mungkin. Mimpi adalah masa depan orang-orang yang optimis. Mimpi adalah prasangka terbaik kita kepada Allah yang senantiasa bersama prasangka hamba-hamba-Nya. Dan itulah yang membuat impian kami untuk naik pesawat dan menapakkan kaki di ranah Minang dapat tercapai. Luar biasa kan.

Berikutnya adalah tentang inti dari sebuah karya tulis. Karena yang lebih pakar adalah Krisna D’ Biker maka dialah yang menjadi guider tentang hal ini. Intinya, hal yang paling pokok dalam karya tulis adalah orisinalitas gagasannya. Karya tulis terbaik adalah karya yang mampu memaparkan gagasannya secara orisinal, solutif, dan implementatif. Ukuran solutif dan implementatif terletak pada kreatifitas metode atau cara dalam merealisasikan gagasan tersebut. Jadi karya tulis itu sebenarnya berbicara tentang ide pemecahan sebuah masalah dan cara terbaik dalam merealisasikannya. Adapun yang lainnya (sistematika dan lain-lain) hanyalah bagian dari pendukung terbentuknya susunan karya tulis yang baik.

Hal gila yang kemudian kami lakukan adalah membagi-bagikan karya tulis peserta FILM secara gratis kepada adik-adik yang masih seger dan semangat itu agar dicorat-coret dan dikritisi. Dasarnya simpel saja, jika mereka sudah bisa mengkritisi, artinya mereka telah membaca karya tulis tersebut, artinya pula mereka telah mengerti bangunan sebuah karya tulis. Praktis kan, tanpa harus diajari dan dikasih slide-slide yang membosankan. Pertemuan selanjutnya mereka kami minta untuk datang dengan coretan di atas karya tulis yang mereka bawa. Semoga bisa memantik mimpi dan ide mereka.

Terakhir, aku menekankan bahwa diskusi dan berkarya (karya tulis, karya nyata, maupun bentuk implementasi karya lainnya) adalah kegiatan wajib dan kegiatan yang paling elit di UKM SIM. Tidak ada yang lain. Itulah ukuran orang dapat dikatakan sebagai orang SIM atau bukan. Jika yang membaca tulisan ini pernah mendaftar SIM, sudahkah Anda merasa sebagai orang SIM? Jangan sampai membuat Anda malu sendiri.

Kategori
Refleksi

Mempersiapkan Masa Depan

Sekedar klarifikasi, ini bukan masalah pribadiku terkait bagaimana aku menyiapkan hari depanku. Ini adalah hasil obrolan tadi siang dengan 2 temanku yang keren, yang kebetulan memang hanya mereka berdua yang bisa datang di rapat pengurus harian, ketika yang lain tengah disibukkan dalam aktivitas yang lain, dan semoga senantiasa dalam kebaikan.

Bagaimana nasib organisasi yang kami pimpin hari ini ketika telah berganti kepengurusan nanti? Bagaimana kira-kira kepemimpinan adik-adik nanti ya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus menggelayuti pikiranku dan mungkin juga rekan-rekan perjuangan yang lain. Tapi setidaknya aku selalu menepis kegalauan itu dengan sebuah motivasi bahwa tugas kita hari ini adalah menyiapkan mereka menjadi generasi tangguh yang akan menghadapi masa mereka sendiri. Masa yang kita tidak bisa ketahui apalagi didefinisikan. Mungkin bisa kita perkirakan, namun perkiraan itu akan membuat kita sendiri cemas dan membuat adik-adik terbatasi mimpinya. Biarlah masa mereka mereka rasakan dengan penuh perjuangan dan biarlah mereka meretasi itu semua dengan cara mereka sendiri. Kuncinya hari ini adalah kita mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya.

Sebagai bagian dari peran orang-orang tua di organisasi adalah menyiapkan tawaran garis bantu untuk memperjelas masa depan mereka. Mereka harus mengerti sesuatu yang itu menjadi prinsip dan mengerti nilai-nilai dasar lembaga itu. Masalah gerak, pola kepemimpinan, pola manajerial, pola komunikasi, dan pola-pola yang lain itu hanyalah sebuah teknis yang tentu kita jangan sampai merendahkan adik-adik kita bahwa mereka harus diajari seperti anak SD. Yang terpenting adalah menjadikan mereka itu superteam dan satu keluarga yang terikat janji setia dalam sebuah bingkai amanah masa depan.

Jangan sampai kita tersenyum hari ini melihat adik-adik itu jadi anak baik di mata kita. Apa artinya, mereka hadir bukan untuk hari ini. Hari ini tugas mereka belajar dari kita dan dari pengalaman yang mereka rasakan. Maka tugas kita adalah membuat mereka kaya pengalaman sebelum mereka merasakan tantangan yang sebenarnya. Mengayakan pengalaman berarti membuat mereka terlibat dan terjun secara langsung dalam berbagai prototipe permasalahan atau berbagai masalah yang sengaja kita adakan untuk membuat mereka bertanggung jawab sejak sekarang. Senyum kita adalah ketika mereka kelak berhasil meretas tantangan mereka di masanya dan berhasil menciptakan kader penerus lebih baik dari kita.

Dan saat itu terjadi kita bisa sujud syukur ke lantai berkali-kali sambil meneteskan air mata haru (bukan alay). Atau kita ingin kita beristighfar berkali-kali karena kita melihat generasi penerus kita lemah dan tidak memiliki keberanian serta ketegaran menghadapi badai permasalahan yang makin ganas. Atau malah ingin menjadi orang sok benar yang mengata-ngatai generasi hari ini makin jelek saja. Ini mah orang yang kelewatan, dan biasanya ini perkataan orang yang lalai, entah lalai sekarang bahwa dulu pernah jadi pengurus SIM atau memang sejak dulu hingga kini lalai karena numpang lewat saja bersama SIM waktu itu. Kawan-kawanku pengurus harian, tulisan ini spesial untuk kalian.

Kategori
Dakwah Islam

Duduk 3,5 Jam Tanpa Mengerti Bahasa Jawa

Aku melihat wajahnya senyum-senyum dengan penuh tanda tanya. Yah, itulah adikku dari Jakarta yang tadi baru saja menghadiri acara halal bi halal SIM di desa mitranya Tunggul Rejo, pinggir kota Surakarta. Malam ini terasa dingin namun dihangatkan oleh senyuman Pak Yanto dan rekan-rekan karang taruna yang menyambut kami dengan ramah. Ini adalah kunjungan kedua kami, keluarga SIM secara masal di tempat yang ke depan akan kami jadikan tempat belajar dan mencoba dekat dengan masyarakat.

Ketika acara telah dimulai, semua hal yang disampaikan ternyata diutarakan dalam bahasa jawa, bahkan hingga pembacaan terjemah tilawah sekalipun. Akhirnya aku dan adik-adikku yang asli suku Jawa senyum-senyum memandang adikku yang asli betawi itu sambil bertanya, paham ga adik? Dia membalas senyum kami dengan menggeleng kepala.  Ha ha ha, rasanya ingin ketawa, tapi juga kasihan. Yah, 3,5 jam datang di acara pengajian dusun, tidak paham pula apa yang disampaikan. Ga kebayang dek kalau itu aku yang mengalami. Dan malam itu pula aku belajar kepada adikku yang keren ini tentang bagaimana bertahan dalam kondisi. Dia betah tuh sampai acara berakhir, padahal aku sampai bisa tidur dua seri loh.

Namun yang lebih parah lagi adalah adik-adik yang tulen Jawa ternyata masih ada yang tidak tahu beberapa pembicaraan di sini. Ketika hadirin diminta jumeneng ternyata ada yang bengong juga. Trus berbisik ke arahku, mas jumeneng itu artinya apa? What? Ternyata ada peranakan asli yang belum tahu. Jumeneng itu berdiri adik. Akhirnya kami semua mengikuti rangkaian acara dengan khidmat.

Sebuah pelajaran berharga untuk siapa pun yang menjadi mahasiswa dan terpanggil untuk jadi bagian dari masyarakat. Kedudukan dan title yang akan kita sandang nantinya hendaknya tidak membuat kita makin “bodoh” dari realita sosial. Hendaknya tidak membuat kita “alien” di tengah bahasa masyarakat yang sangat senderhana. Hendaknya tidak membuat kita “penguasa” di saat kondisi masyarakat dalam keterbelakangannya. Kita lah yang harus banyak belajar dari mereka tentang arti bertahan dalam gempuran kapitalisme. Mereka para prajurit garis depan yang sering dikorbankan pemerintah, namun mereka tetap bertahan bagaimana hidup. Merekalah masyarakat kelas bawah yang akan menjadi pengganjal pahala orang-orang yang memimpin karena disebabkan abai dan zalimnya pemimpin itu kepada masyarakat.

Semoga kita kelak menjadi insan yang amanah ketika mendapat kesempatan oleh Allah untuk membersamai mereka. Kecerdasan dan kelebihan kita adalah untuk berdaya bersama mereka, bukan memperdayakan mereka.