Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #3

Negeri Sesempit Media Massa

Berikutnya adalah dengan menjamurnya berbagai media massa. Kita hitung berapa banyak stasiun televisi yang ada sekarang baik dalam skala lokal dan nasional. Belum lagi surat kabar. Ditambah lagi dengan berbagai media online. Hari ini tiap saat kita dijejali informasi mulai dari yang penting hingga yang sangat tidak penting bahkan yang sampah sekalipun juga terkadang berhasil terakses di telinga dan mata kita. Terkadang membuat kita akhirnya terpengaruh juga dan terkadang juga percaya pada isinya tanpa klarifikasi lagi.

Pertanyaannya, apakah media-media itu sekarang benar-benar independen dan adil dalam memberitakan? Aku lebih percaya kata-kata Mathew Farel dalam film Die Hard IV yang mengatakan hampir semua media-media pulik itu sekarang sulit dipercaya karena semua telah dibajak untuk kepentingan. Yah, di negeri ini media tidak lagi idealis seperti dulu ketika mereka sepakat menentang kezaliman penguasa. Sekarang media adalah ladang bisnis yang mendukung demokrasi pencitraan. Siapa yang memiliki media, maka media itu akan menjadi jalan kampanye paling singkat dan murah di antara kampanye model yang lain untuk kebutuhan meraup simpati dan dukungan dalam waktu yang relatif singkat.

Hari ini, pemberitaan baik sulit sekali dijumpai di negeri ini. Di televisi, koran, dan media berita online hanya memberitakan seputar korupsi, anarkisme, tawuran, dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Hari ini mereka seolah-olah bersatu untuk menakut-nakuti bangsa ini dengan sebuah kondisi yang teramat parah dan rusak. Generasi muda hanya dicekoki dengan sinetron-sinetron murahan dan roman picisan serta tayangan musik yang tidak ada habisnya. Masyarakat semakin jauh dari membaca buku dan berdiskusi dengan alam karena SMS dan chatting telah membelenggu hari-hari mereka untuk banyak berpikir dan bersyukur kepada Allah atas anugerah negeri yang teramat indah dengan kekayaan yang melimpah ruah.

Masyarakat dengan mudah dibalik opininya lewat strategi pemberitaan media yang intensif dan disajikan secara cantik memikat. Berbagai operasi intelejen dijalankan untuk merekayasa segala hal di negeri ini. Sebuah operasi mengerikan yang tidak akan pernah bisa terlacak antara ujung pangkalnya sehingga berbagai kekacauan yang telah didesain ini dapat berjalan seperti keinginan sang perancang tanpa ketemu benang merahnya. Semua terus berjalan hingga banyak korban berjatuhan atas nama politik yang diselubungkan dalam berbagai tuduhan mulai dari korupsi hingga tindakan lain yang membuat masyarakat luas marah akibat opini yang telah dibangun sebelumnya oleh media. Hari ini rasanya hampir mustahil mempercayai media sebagai dasar hukum untuk mengambil sebuah keputusan dan kebijakan. Hari ini itu semua terasa sekali menjadi sebuah omong kosong. Omong kosong yang membuat bangsa ini kacau dan terus mengalami kemunduran.

Jadilah negeri ini sesempit media. Negeri yang seakan-akan hanya berisi kerusakan. Padahal di luar sana kita masih melihat harapan berupa bentangan kekayaan alam yang hari ini harus kita selamatkan sebelum terus dicuri oleh orang-orang asing lewat para pengkhianat bangsa ini. Kita juga masih bisa melihat semangat anak-anak sekolah di pelosok-pelosok desa. Mereka ceria dan terus menerus berjalan tiap pagi menyusuri bukit dengan seragam merah putih. Masih ada mereka, bangsa ini masih punya harapan.

Aku sangat terharu ketika pernah mengikuti kuliah umumnya pak Anies Baswedan. Beliau berbicara tentang Indonesia Mengajar sebagai sebuah gerakan yang tidak akan dibesarkan seperti ormas. Biarlah tetap konsisten untuk mencetak para guru yang mendapatkan kehormatan bangsa untuk menunaikan janji kemerdekaan menebarkan inspirasi ke pelosok-pelosok negeri. Beliau berharap Indonesia Mengajar menginspirasi siapa pun untuk bangkit menunaikan salah satu janji kemerdekaan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Baik bergabung secara resmi menjadi pengajar muda dan penyala Indonesia, atau membuat gerakan sendiri yang memiliki prinsip yang sama. Tidak masalah, semua berhak untuk mengambil pahala sebesar-besarnya dari Allah.

Mari kita jadikan kicauan-kicauan media itu sebagai kerikil-kerikil kecil hidup dan lebih banyak membangun kepercayaan dengan sesama saudara kita yang masih memiliki komitmen kejujuran untuk selalu siap berjuang dan memandang Indonesia ini dengan optimisme. Yang tidak hanya berpikir bagaimana hidup untuk dirinya sendiri tetapi terus berbagi dengan segala yang dimiliki. Mari kita hiasi telinga kita dengan berbagai optimisme. Dengan ayat-ayat Quran yang kita pahami maknanya, dengan senandung-senandung yang penuh makna dan optimisme, dengan kata-kata mutiara yang menyejukkan.

Indonesia ini luas, mari kita katakan pada Allah, “Ya Allah, izinkan hamba-Mu ini melihat negeri yang luas ini, izinka hamba ya Rabb untuk melihat indahnya negeri yang kau ciptakan seakan potongan tanah syurga ini“. Dan di sinilah aku menemukan benang merah mengapa Habibie begitu bersemangat membangun industri strategis pesawat di tanah air. Bangsa ini harus mengerti wawasan nusantara dengan mata kepala mereka sendiri, bukan hanya dari mulut para gurunya yang mengajar kewarganegaraan. Sudah bukan zamannya lagi di era yang modern ini. Mungkin lewat online saja sebenarnya bisa, tetapi ketika kita menatap langsung dan menjejakkan kaki di seluruh penjuru tanah air, maka kita akan tahu bahwa kita masih punya kekayaan yang tak ternilai harganya. Tanah air ini masih bisa menghidupi untuk seribu tahun lagi.

bersambung..

Kategori
Misi Perubahan

Reborn from the Darkness

Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada

Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang … Shoutul Harakah

 

Hehe, lagu di awal bukan untuk mengajak pembaca ke tempat yang penuh banyak kerumunan orang, tetapi mengajak pembaca untuk bersemangat sebagaimana senangnya diriku waktu menulis tulisan ini. Ceritanya kemarin pagi salah satu adikku di kelompok studi riset dan teknologi SIM menautkan sebuah berita bagus di dinding grup FB. What? Silahkan baca saja ini http://jakartagreater.com/2012/08/pak-habibie-i-love-you-full/

Itulah yang membuatku sangat gembira dan berdoa kepada Allah semoga Dia menakdirkan usia Pak Habibie masih lama hingga akhirnya mimpi itu dapat terwujud kembali setelah tragedi yang menyakitkan belasan tahun silam terjadi. Bagi para sainstis dan insinyur, penutupan berbagai industri strategis secara beruntun pasca reformasi itu adalah hal yang sangat menyakitkan karena ibarat itu memutus ruang ekspresi mereka untuk mencintai tanah air.

Aku salut membaca berita itu terutama pada bagian

Ketika proyek pesawat N250 dihentikan oleh pemerintah, para insinyur IPTN berpencar ke seluruh dunia, termasuk bekerja di Boeing, Airbus, Embrair, CASA, Iran, dan lain sebagainya. Anggap saja para insinyur itu sedang beasiswa atau sekolah dibiayai pihak asing. Kini dengan ilmu tambahan yang diperoleh, Habibie mengajak mereka pulang kampung, untuk membangun industri dirgantara Indonesia yang membanggakan.

Habibie bosan berkarya dengan mengusung bendera negara lain. Tidak kurang 63 hak paten di bidang Aeronotika telah dibuat Habibie. Dia berharap para ahli penerbangan Indonesia lainnya, punya semangat yang sama, membuat pesawat dengan bendera merah-putih.

Itu artinya mereka adalah orang-orang yang tak kalah setianya untuk mencintai negeri ini. Jika ingat dengan buku The True Life of Habibie, kemudian menonton film Habibie dan Ainun, hingga menerawang lagi ingatan sewaktu berkunjung ke Aachen akhir tahun 2012 kemarin dan sempat bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang ada di sana, serta pengalamanku menyanyikan lagu Tanah Airku Tidak Kulupakan waktu diperjalanan bersama Prof. Tausch di kota Wuppertal, lengkaplah sudah bagiku untuk menarik sedikit kesimpulan bahwa tidak semua orang ingin tinggal di luar negeri itu lantaran mencari kehidupan yang layak saja, tetapi sejatinya mereka menangis di sana karena kerinduan dan keinginan mereka yang besar untuk mengabdikan diri di tanah air. Hanya saja orang-orang pribumilah yang terkadang sering berpersepsi negatif dengan berbagai tuduhan-tuduhan yang seringnya lebih dilandasi karena iri dan dengki.

Kawan ada dua hal penting yang ingin kubagi, dirgantara dan mancanegara. Bagi yang pernah merasakan naik pesawat, maka di sanalah kita akan merasakan bagaimana tawakal itu satu-satunya pilihan. Tidak ada yang lain. Maka hakikatnya meraih teknologi dirgantara itu tidak semata-mata untuk meraih ambisi kecanggihan teknologi, tetapi sebenarnya akan membuat bangsa ini belajar untuk tidak korupsi apalagi melakukan manipulasi dalam aktivitas hidup. Bagaimana ceritanya kalau material pesawat bahan-bahannya dikorupsi? Rempong kan. Yang kedua, menjejakkan kaki di manca negara itu akan membuat kita bersiap diri untuk belajar banyak tentang negeri ini setiap waktu. Karena di luar sana orang akan banyak bertanya tentang Indonesia yang indah ini. Kalau kita tidak banyak mengerti tentang sisi-sisi baiknya negara ini (meskipun kita juga masih merasakan carut-marutnya negeri ini), kita akan kelihatan seperti orang bego’ yang memalukan sekaligus mempermalukan bangsa Indonesia.

Maka bermimpilah untuk dua hal itu bagi yang sampai sekarang belum pernah mengalaminya. Bagi yang berpunya dan telah menjadikannya hal biasa, renungilah kembali arti dari semua pencapaian itu. Karena setiap kesombongan itu akan membuat kita semakin hina. Kalau pun tidak hina di dunia, maka pasti akan Allah hinakan di akhirat nanti. Mari berdoa untuk kebaikan dan kemajuan Indonesia. Indonesia bangkit, reborn from the darkness!

Kategori
Cinta Resensi Film

Habibie dan Ainun, Menumpahkan Air Mataku untuk Kesekian Kalinya

Menangis itu wajar kok. Bahkan untuk seorang cowok seperti aku, yang penting tidak sampai mengalirkan air mata (#loh kok bisa). Apalagi kalo aku sampai melihat seorang wanita menangis dihadapanku. Apalagi kalo si wanita itu menangis karena ulahku.

Tapi hari ini, aku tak bisa membendung air mata ketika melihat pesawat N250 lepas landas dalam film Habibie dan Ainun yang kutonton bersama puluhan orang termasuk si Ranger Biru di Solo Grand Mall. Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya melihat pesawat kebanggaan Indonesia itu harus terbang dalam film kenangan yang membuat hati ini terus sakit ketika mengingat bangkainya yang kini terkubur hidup-hidup dalam hanggar. Ada jutaan harapan di sana, ada tangis para ilmuwan terbaik negeri ini yang telah berjuang bertahun-tahun untuk mempersembahkan hadiah menjelang ulang tahun kemerdekaan RI ke-50.

Sejatinya film ini hanyalah sebuah film. Tetapi karena ini berangkat dari kisah nyata, maka aku sangat tertarik untuk menonton langsung di bioskop. Dan inilah kali pertamaku mengeluarkan kocek cukup besar demi sebuah kursi di ruangan gelap dan layar besar ini. Yah, biasanya melihat bajakannya lewat layar laptop rasanya sudah sangat puas. Dan memang benar, film ini sangat amazing bagiku, bahkan efeknya masih terasa hingga saat aku menulis ini.

Aku sebenarnya belum membaca buku Habibie dan Ainun, tetapi aku telah menamatkan The True Life of Habibie yang lebih tebal dan lebih komprehensif. Dari buku itu makanya sedikit banyak alur film itu kupahami. Selain itu, karena sebulan yang lalu aku juga sudah menjejakkan kaki di Aachen, sehingga lengkaplah efek film itu menghujam dalam di dadaku hingga tangisku keluar saat sesi paling amazing itu terjadi. Untung saja ruangannya gelap dan orang-orang juga sibuk dengan tangis mereka ataupun urusan mereka sendiri.

Film ini adalah pengingat untuk kita kesekian kalinya agar Indonesia kita hari ini segera diselamatkan dari ketergantungan. Stok SDA kita yang masih melimpah harus segera diselamatkan dalam sebuah budaya baru pembangunan bangsa yang bernama “kemandirian”. Kemandirian memiliki konsekuensi kesederhanaan hidup dan kerja keras. Kata bung Karno, biarlah kekayaan kita itu tersimpan pada tempatnya sampai putra-putra terbaik bangsa ini dapat mengolahnya sendiri. Itu artinya mengawali masa kemandirian bangsa itu harus prihatin dahulu dengan belajar keras dan mengembara mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian kita wujudkan mimpi pembangunan dari dan untuk bangsa Indonesia ini.

Aku ingat sekali setahun yang lalu waktu berkesempatan menyamar menjadi mahasiswa fakultas Geografi UGM sehingga berhasil mengikuti Presidential Lecture oleh Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie di Grha Sabha Pramana, beliau menunjukkan kehebatan Indonesia di tahun 1995, sebuah realita yang membangkitkan rasa optimisme bangsa, karena tahun itu sebenarnya kita sudah memiliki teknologi yang sangat canggih dan mencengangkan dengan SDM pilihan yang telah berdatangan ke tanah air karena kecintaan mereka kepada bangsanya, dan sebenarnya akan segera menyusul pula gelombang SDM lainnya yang waktu itu telah belajar di negeri orang.

Di situ aku melihat dengan kualitas video yang lebih bagus dan lebih jelas dari yang di film tadi, tentang kecanggihan IPTN dan berbagai pabrik industri strategis yang telah dimiliki Indonesia yang siap untuk memproduksi pesawat terbang, kapal laut dan kereta api. Alangkah luar biasanya ketika itu berlanjut hingga hari ini, karena pasti kita memiliki alat transportasi buatan anak bangsa sendiri. Dan ini sudah 15 tahun dari peluncuran N250 yang menandai era kebangkitan Indonesia menuju negara maju, maka dalam hitungan Pak Habibie, hari ini bangsa Indonesia sudah panen kemajuan itu karena kemandirian bangsa semakin kokoh dengan jaringan antar pulau terhubung dengan kokoh dan kebanggaan anak bangsa atas karya sendiri.

Maka aku menangis tak terbendung ketika melihat N250 lepas landas lagi. Itu adalah kenangan terindah yang pernah dimiliki bangsa ini. Karya tercanggih yang pernah ada waktu itu dari seorang putra terbaik bangsa yang hari ini dihormati dunia (kecuali bangsa ini yang kebanyakan telah lupa siapa beliau). Aku masih ingat bagaimana Ammi Basem, salah satu pengajar di RWTH Aachen (tempat Pak Habibie belajar dahulu) begitu tertarik dengan sosok beliau dan ketika kutanyakan tentang beliau, beliau menjawab bahwa beliau adalah orang yang dihormati di sini dengan keilmuannya. Bagaimana kita selaku bangsa sendiri sampai lupa bahkan ada yang menghujat beliau? Inilah kejamnya politik dan sebuah persaingan kekuasaan yang tidak diiringi kedewasaan pola pikir.

Dalam Presidential Lecture itu juga, beliau berkata akan menulis kenangan indah beliau bersama mendiang istrinya (yang kini akhirnya menjadi buku dan film) hingga aku masih ingat dengan tekad beliau untuk mengembalikan semangat itu lagi di sisa-sisa usia beliau. Kata beliau, “Sekarang semua telah terjadi, namun tidak ada kata terlambat untuk kita memulai lagi menghidupkan industri strategis. Aku akan terus berjuang untuk membangkitkan semangat generasi muda Indonesia agar tetap serius belajar dan berkarya. Agar nanti ketika aku mati dan bertemu Ainun, dia tidak menyuruhku kembali pulang karena tugasku belum selesai”, yang akhirnya membuat semua hadirin tertawa.

Oh, Pak Habibie, inspirasimu sangat luar biasa, Muslim Negarawan yang tulus untuk mendedikasikan diri untuk bangsa. Presiden yang paling keren kujumpai setelah Bung Karno. Tentang Habibie dan Ainun, itu hanyalah sebuah film. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya itulah yang akan memberikan kontribusi bangsa ini nantinya.

Kategori
Catatan Perjalanan

Bersiaga 2 : Bertanya Pada Ahlinya

Hari berganti, dalam rangka memantapkan hati untuk melangkahkan kaki di negeri tempat Pak Habibie belajar, hari ini kami sowan untuk pamitan sekaligus menerima pengarahan dari jajaran pimpinan FKIP UNS. Kebetulah hari ini Bapak Dekan kami tidak bisa menemui karena jadwalnya kegiatan yang harus diikuti. Akhirnya kami langsung diwejang oleh Pembantu Dekan I yang juga doktor lulusan dari jerman. Di bawah nasihatnya, kami semakin merasakan dekatnya negeri Hitler itu di mata kami meskipun waktu keberangkatan kami masih menunggu 3 hari lagi.

Beliau berpesan untuk menjaga nama baik almamater kami dan memberi tantangan kepada kami berempat untuk menerbitkan sebuah buku yang berisi perjalanan kami selama di Wuppertal nanti. Wah, tak boleh main-main dong perjalanan kami nanti. Harus benar-benar dimanfaatkan untuk belajar dan mencari inspirasi.

Hal yang kemudian ditanyakan oleh salah satu temanku adalah bagaimana manajemen keuangan dalam masalah makan. Kata beliau, kalau tahan makan roti terus menerus hidup sebulan di sana bisa sangat irit. Terbersit dipikiranku untuk melakukan hal yang paling esktrim ini agar uang sakuku dapat dimanfaatkan secara optimal di perjalanan ke Eropa. Belanda, Belgia, Berlin, Paris harus bisa kukunjungi. Sudah jauh-jauh ke Eropa rasanya akan kurang kalo aku tidak sekalian menuntaskan mimpiku mengunjungi tempat yang beberapa tahun silam hanya seperti mimpi di siang bolong.

Kemudian aku bertanya tentang masjid dan kehidupan umat Islam di sana. Kata beliau Jerman sangat toleran dalam kehidupan beragama, dan banyak sekali kelompok mahasiswa Turki yang bisa diikuti dalam keperluan ibadah shalat Jumat dan pengajian-pengajian yang lainnya.

Aku berharap, semoga Allah memudahkan perjalananku nantinya.

Kategori
Cinta

Ketika Hati ini Berbunga

Ah …. rasanya aku makin bahagia saja

Melihat senyum menyerlah

Bersinar seperti purnama yang jingga

Dari wajah bunda dan ayahanda

Dari wajah adinda semanis delima

Oh keluargaku

Aku merindukan saat seperti ini selalu

Bahkan hingga ketika aku telah berdua nantinya

Bilakah saat itu tiba?

Ketika kulihat kaki bukit itu telah menjulang masjid yang hijau

Menara tinggi menjulang dengan gema adzan nan merdu

Kulihat di sana ada anak-anak berjalan beriringan

Melafazkan tasbih dan menyenandungkan kalammu

Bilakah saat itu tiba?

Ketika orang-orang yang telah berjanji setia di saat dahulu

Kembali ke pangkuan tanah kelahiran ini

Berbisik dan berbincang untuk sebuah perubahan

Mencipta jejak dan cinta di atas tanah bebatuan sunyi

Ia asri bagi yang mencintai

Ia sejuk bagi yang merindu dengan khusyu’

Dan mimpiku

Telah kugambarkan, kutuliskan dan kukatakan

Agar yang pernah dengar lantas berdoa dan berharap

Agar yang belum berkenan terbuka mata hatinya

Semoga lukisan itu tak lekas memudar

Semoga tulisan itu tak lekas hilang tersobek oleh waktu

Dan semoga kata itu membekas

Pada putra-putri yang menginginkan tanah kelahirannya kembali berbunga

Jika hari ini aku merantau, dan mungkin akan sering merantau

Semoga Allah mengembalikanku ke tempat ini lagi

Sebagaimana Ia telah mengantar Bukhari ke tanah kelahirannya

Sebagaimana Habibie memilih pulang ke tanah airnya

Karena tanah ini memerlukan kasih sayang kita

Sahabat-sahabatku, kembalilah ke tanah kita

Tanah yang kita cintai

Kunantikan kalian di sini

Beji, 10 Agustus 2012

Di sayap malam dalam dendangan senandung malam

Kategori
Tokoh

Melihat Habibie Lebih Dekat, Menyemai Jejak Menjadi Negarawan Sejati

Siapa yang tidak mengenal sosok B. J. Habibie? Seorang ahli aeronautika muslim yang namanya mendunia dan telah masuk dalam deretan ilmuwan fisika. Tidak hanya dikagumi rakyat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Seorang muslim yang kisah kehidupannya begitu memesona untuk disingkap dan dipelajari. Gaya bicaranya yang khas berikut sorot matanya yang tajam, serta senyumannya yang selalu mengembang pernah menghiasi layar televisi di Indonesia beberapa tahun silam.

Namun kini, sosok beliau bisa jadi telah dilupakan. Seolah-olah bangsa ini tidak pernah memiliki seseorang yang telah berjasa mengharumkan nama bangsanya melalui akselerasi pengembangan teknologi. Padahal, di balik perjuangan beliau tersingkap sederet pelajaran berharga yang seharusnya dapat ditiru oleh generasi di zaman ini. Ada cinta yang besar dalam sanubari beliau untuk membangun bangsanya. Ada segudang prestasi beliau yang telah mengguncang dunia dan mengharumkan Indonesia.

Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba memaparkan secara singkat biografi beliau sebagai sebuah apresiasi yang besar atas jasa-jasa beliau untuk negeri ini. Sehingga kita menjadi lebih dekat dan mengenal beliau sebagai inspirator bagi generasi muda Indonesia. Agar kita dapat menjadi negarawan sejati seperti beliau dan para founding father negara ini yang telah mendahului kita.

Dalam bukunya yang berjudul “The True Life of Habibie, Cerita di Balik Kesuksesan”, Makmur Makka mengungkapkan secara ilmiah tentang kehidupan B. J. Habibie. Dia merupakan seorang anak desa yang terlahir dari keturunan darah Bugis dan Jawa. Dia merupakan anak yatim, karena ayahnya telah wafat ketika usianya masih anak-anak. Namun, di masa ini pula Habibie tumbuh menjadi seorang anak yang kuat dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip agamanya. Penanaman nilai-nilai agama yang diberikan oleh kedua orang tuanya, khususnya sang Ibu dan kelak akan terlihat hasilnya ketika beliau menghadapi berbagai tantangan di masa tuanya.

Di usia sekolah, kepandaiannya tampak biasa-biasa saja sebagaimana teman-temannya. Prestasinya mulai tampak dan dirinya mulai bersinar ketika telah memasuki masa-masa SMA, yaitu ketika ia dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan fisika, seperti pelajaran Stereo Goneo secara lebih singkat jauh melampui kemampuan teman-temannya. Sehingga oleh Pak Gouw, gurunya di kala itu dia diberi nilai maksimal dan predikat prestasi yang baik.

Setelah tamat dari tingkat SMA, Habibie melanjutkan ke THS (sekarang ITB) sesuai dengan keinginannnya untuk mengembangkan bakatnya dalam bidang teknik, khususnya fisika. Baru beberapa bulan di sana, beliau akhirnya mendapat kesempatan untuk meneruskan kuliahnya di Technische Hochschule Aachen, Jerman. Meskipun tidak mendapat beasiswa penuh, beliau tidak pernah surut untuk mewujudkan cita-citanya yang besar yaitu ingin mempersembahkan sesuatu yang besar bagi bangsa dan negaranya.

Masa-masa kuliah di Jerman, adalah masa-masa yang pahit dan penuh perjuangan. Namun bagi beliau, semua itu justru menjadikan cambuk yang dahsyat baginya. Beasiswa yang tidak penuh membuat dirinya selalu berpikir matang dalam menjalani kuliah. Baginya, ketidaklulusan dalam suatu mata kuliah adalah beban berat yang akan ia lemparkan kepada ibunya yang telah rela menjual salah satu rumah demi studinya di Jerman tersebut. Maka tidak mengherankan jika kelak beliau kemudian lulus dengan predikat Cumlaude dengan angka rata-rata 9,5.

Di sela-sela kesibukannya dalam kuliah, Habibie tidak lantas meninggalkan aktivitas organisasi. Justru beliaulah salah satu aktivis yang paling giat dalam melakukan konsolidasi antar mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa ketika itu. Beliau adalah inisiator dalam membentuk kelompok-kelompok diskusi mahasiswa saat itu. Tujuannya adalah untuk menggali pemikiran mereka yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia jika kelak kembali. Hasilnya adalah dengan terselenggaranya seminar pembangunan nasional yang dihadiri oleh seluruh perwakilan mahasiswa Indonesia di penjuru Eropa.

Semangat beliau tidak berhenti meskipun kemudian dia tidak lagi menjadi mahasiswa. Sebagai patriotis sejati, dia mengoptimalkan aktivitasnya di luar negeri sembari mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dipanggil kembali ke Indonesia. Dia melanjutkan studinya sampai doktor sambil terus bekerja di industri konstruksi pesawat di Jerman. Maka tidak mengherankan jika kegigihannya dalam mengembangkan teknologi telah menghadirkan kepercayaan MBB (perusahaan kontruksi pesawat terbang terbesar di Jerman kala itu) untuk mengangkatnya sebagai Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB, sebuah jabatan yang  mungkin mustahil diberikan oleh bangsa Jerman kepada orang asing selain Habibie.

Di puncak kariernya ini, beliau berhasil membuat dunia tercengang dengan teori keretakan badan pesawat. Teori ini telah memberi manfaat kepada dunia dan memberi peran menyelamatkan manusia dalam transportasi. Buku-buku karya beliau tentang aeronautika dan selainnya pun telah menjadi buku rujukan di seluruh dunia dalam hal mekanika dan penerbangan. Semua itu telah membuka mata dunia bahwa orang Indonesia tidak tertinggal dalam teknologi.

Dan yang lebih penting, dunia mendapati bahwa beliau adalah seorang muslim yang taat. Beliau bukan sekadar ilmuwan sebagaimana para ilmuwan Eropa atau Amerika, tetapi seorang ilmuwan muslim yang terlahir di bumi Indonesia yang mengharumkan nama Islam. Berbagai pujian dan harapan beliau terima dari pemerintah negeri-negeri muslim di penjuru dunia. Betapa luar biasanya, Indonesia dan dunia muslim saat itu telah memiliki seorang ahli aeronautika dunia satu-satunya yang ahli dalam teoricracking­ propagation pesawat.

Hingga kemudian bangsa Indonesia memanggilnya untuk memegang tampuk pengembangan teknologi. Direlakannya jabatan besar dan segala kemewahan di MBB untuk mengabdi demi bangsanya. Jabatannya sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi telah mengantarkan Indonesia menjadi negara yang memiliki industri strategis termaju di tingkat ASEAN ketika itu. Hampir saja negeri ini memiliki pesawat N-250 Gatotkaca buatan sendiri yang siap untuk diekspor di seluruh dunia sebagai pesawat tercanggih yang khusus dimiliki oleh orang-orang penting di seluruh dunia. Namun takdir berkata lain, bahwa teknologi tersebut kandas di tengah jalan ketika reformasi berkecamuk padahal pesawat canggih tersebut tinggal menunggu sertifikat penerbangan internasional sebagai syarat terakhir uji kelayakan pesawat tersebut.

Habibie dikenal sebagai sosok alim yang taat beragama dan telah menjadi figur muslim yang patut dicontoh oleh umat Islam dalam hal semangatnya membangun peradaban. Beliau pernah dipercaya sebagai ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Beliau bahkan beberapa kali menjadi tamu istimewa bagi keluarga Kerajaan Saudi Arabia. Sikapnya yang penuh dengan keramahan dan kecerdasannya dalam berpikir telah menarik hati para pemimpin dunia untuk bersimpatik kepada Indonesia.

Jika beliau berbicara tentang teknologi maka sebenarnya beliau sedang mengajak rakyat Indonesia untuk terus belajar agar menjadi cerdas. Jika beliau berbicara tentang industri strategis maka sebenarnya beliau sedang mengajak semua elemen bangsa untuk mengentaskan kemiskinan secara sistematis dan membebaskan diri dari ketergantungan terhadap asing. Demikian ringkasan biografi singkat sekaligus ungkapan kekaguman Makmur Makka terhadap sosok beliau.

Dari paparan yang cukup singkat di atas kita dapat melihat betapa dahsyatnya beliau melejitkan diri dalam menggali potensi yang ada sehingga kita mengenal beliau sebagai manusia kompetitif dengan segudang prestasi mendunia. Sehingga diharapkan kita dapat memperoleh pelajaran sekaligus hikmah dari perjalanan salah seorang pahlawan bangsa yang kini mulai dilupakan. Serangkaian hikmah dapat kita petik dari kisah singkat perjalanan hidup beliau yang telah dipaparkan sebelumnya sebagai sebuah pelajaran praktis dalam melejitkan potensi diri kita untuk meraih prestasi gemilang.

Pertama, beliau adalah orang yang mampu mengenali potensi dirinya dan bersungguh-sungguh untuk mengembangkannya. Hal ini terlihat dari keseriusannya dalam mengembangkan diri sesuai dengan bakat yang ada pada dirinya. Beliau memiliki kelebihan dalam fisika dan beliau pun memaksimalkan pengembangan dirinya untuk menekuni bidang ini khususnya dalam bidang aeronautika sehingga melahirkan karya-karya besar yang mendunia dan bermanfaat bagi peradaban manusia. Jika kita bersungguh-sungguh mengenali kemampuan yang terpendam dalam diri kita kemudian mengasahnya secara terus menerus niscaya kita mampu menghasilkan sesuatu yang besar dan bermanfaat. Maka tak mengherankan jika Bang Anwar Fuady, penulis novel Negeri 5 Menara juga terinspirasi dengan kehidupan beliau. Meskipun tidak menjadi ahli mekanika seperti Habibie, Bang Anwar tetap membawa semangat tersebut yang dibingkai oleh sebuah akan kata nasihat man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya.

Kedua, beliau adalah orang yang disiplin dan pandai memanfaatkan waktu. Target kuliah beliau ibarat besi yang tidak memiliki modulus elastisitas, sehingga beliau tidak berkompromi terhadap masa studi. Keterbatasan biaya karena tidak mendapat beasiswa seperti mahasiswa yang lain membuat beliau memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam belajar dan menuntaskan studi sesuai dengan target yang diberikan. Beliau mampu mengolah kecerdasan intelektualnya secara maksimal. Namun beliau juga tidak menafikan kegiatan organisasi dalam skala regional yang bisa kita bayangkan betapa sulit pengelolaan waktunya. Semua beliau jalankan dan terbukti memberikan hasil yang luar biasa. Ini merupakan bukti dari seorang yang memiliki ciri harisun alal waqtihi. Dari sini, kita katakan bahwa orang yang sukses adalah orang yang benar-benar disiplin terhadap waktunya dan komitmen dalam memanfaatkannya.

Ketiga, beliau adalah orang yang sangat kompetitif. Menjadi Wakil Presiden dan Direktur MBB bukanlah hal yang mudah, bahkan bisa jadi mustahil untuk orang asing selain Habibie. Bagaimana tidak? Perusahaan yang merupakan kebanggaan masyarakat Jerman kala itu dapat memberi kesempatan kepada seorang warga negara asing seperti Habibie. Jika bukan karena kompetensinya yang luar biasa, tidak mungkin jabatan itu diberikan kepada beliau.

Jiwa kompetitif beliau ini diusung oleh dua karakter hebat yang selalu tertancap pada diri beliau yaitu semangat bekerja keras dan dedikasi yang tinggi. Dalam biografi yang ditulis Makmur Makka diungkapkan bahwa beliau adalah orang yang menghabiskan waktunya di laboratorium selama menjabat direktur teknologi MBB untuk melakukan penelitian dan rancang bangun kepesawatan. Sehingga tidak mengherankan jika teori keretakan pesawat mampu membawa dirinya tercatat dalam sejarah perkembangan fisika dunia.

Keempat, beliau adalah sosok yang rendah hati, sederhana dan berjiwa besar. Kerendahhatian beliau terlihat dari percakapan beliau dengan presiden Soeharto ketika itu,

Presiden, “Habibie, sudah saatnya kamu pulang ke Indonesia untuk membangaun negaramu!”

Habibie, “Iya Pak, tapi saya bisa berbuat apa. Saya hanya bisa membuat pesawat terbang”.

Presiden, “Jika membuat pesawat saja bisa, maka yang lain-lain pasti lebih bisa”

Ungkapan presiden Soeharto saat itu terbukti benar. Memang Habibie mampu berbuat banyak hal untuk menyelematkan bangsa Indonesia dari ketertinggalan teknologi dan mencetak generasi-generasi yang ahli di bidang teknologi.

Dalam hal kesederhanaan, terlihat jelas apa yang sebenarnya menjadi orientasi seorang pejuang seperti beliau. Meninggalkan MBB berarti meninggalkan kemewahan dunia dan siap berdikari di negeri sendiri dengan segala keterbatasannya. Dapat dibayangkan betapa kecintaannya kepada Indonesia, seorang wakil pimpinan perusahaan yang gajinya saat itu sudah hampir mencapai Rp 10.000.000,00 rela melepas jabatannya dan pulang ke tanah airnya untuk menjabat menjadi kepala BPPT yang gajinya hanya sekitar Rp 450.000,00. Namun itulah keikhlasan yang sejati, ketika setiap pencapaian yang dilakukan adalah untuk dipersembahkan kepada Alloh, dan kemudian untuk kesejahteraan umat manusia. Beliau rela hidup dengan gaji pejabat di Indonesia ketika itu asal dapat membangun negaranya dan dapat mempersembahkan yang terbaik untuk pengembangan teknologi Indonesia.

Bukti lainnya adalah ketika beliau mulai dilupakan oleh negaranya, beliau tidak lantas mencari perhatian dan berbagai masalah yang sebenarnya dapat beliau lakukan mengingat posisi beliau di mata dunia. Gelombang reformasi yang menggilas seluruh negeri telah menghempaskan rezim orde baru dan semua orang yang dianggap sefase dengannya, termasuk B. J. Habibie. Beliau kemudian mundur dari dunia pemerintahan, namun tetap memberikan manfaat bagi dunia khususnya dalam pengembangan teknologi serta tetap aktif memberi peran bagi bangsa Indonesia melalui Habibie Center-nya. Jabatan presiden yang pernah diamanahkan bukan untuk dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk merehabilitasi kehidupan bangsanya meskipun banyak tekanan dari berbagai penjuru.

Dan dari keempat point di atas, penulis menekankan pada point paling akhir yaitu bagiamana kita seharusnya membina diri untuk selalu berjiwa besar dan bervisi besar untuk berkontribusi. Seorang negarawan bukanlah orang yang sibuk berdebat saja di dalam memandang permasalahan, juga berkubu-kubu untuk membela siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konteks rivalitas politik. Seorang negarawan adalah orang yang berpegang teguh pada prinsip untuk menjadi khoirunnas anfa’uhum linnas, senantiasa bervisi untuk mewujudkan kehidupan masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Memberikan kontribusi yang besar kepada bangsa terus menerus adalah karakter sejati seorang negarawan.

Akhirnya kita mengerti bagaimana orang besar seperti B. J. Habibie memberikan kontribusinya untuk Indonesia. Seorang suami yang baik, ayah yang menginspirasi, negarawan sejati, cendikiawan muslim, dan seorang yang hidupnya sederhana yang telah mengguncang dunia karena karya dan kebaikannya. Beliau adalah salah satu sosok manusia prestatif yang mampu mengubah wajah Indonesia sehingga dapat bertransisi dari era agraris menuju era teknologi. Tentunya tidak selayaknya kita hanya menjadi pengagum dari karya-karya beliau, tetapi menjadi pembuat jejak-jejak baru dalam era yang baru ini pula agar kita bisa menjadi negarawan-negarawan yang baik di masa depan. Sehingga para pendiri bangsa ini, dan mereka-mereka yang terus berkomitmen menjadi negarawan sejati tersenyum saat melihat generasinya sekarang masih bergiat untuk menjadi penerus-penerus mereka. Jayalah Indonesia, jayalah negeriku tercinta. Mari kita belajar untuk merawat Indonesia.