Prolog

Hari ini, Jumat 26 April 2013 adalah hari pertama berlangsungnya kegiatan kami, Temu Nasional Para Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) tahun 2013. Sebuah pertemuan spesial yang diselenggarakan oleh Beastudi Indonesia, tangan panjang Dompet Dhuafa dalam pengembangan sumberdaya manusia. Dan lebih spesial lagi kami berdelapan, penerima BA UNS angkatan II (angkatan pertama kalau di UNS-nya) adalah panitianya. Baru kali ini kami berdelapan orang menghandel sebuah event berskala nasional. Bismillah, temu nasional kali ini mengusung tema NEGARAWAN MUDA BELAJAR MERAWAT INDONESIA.

Konyol Namun Bermakna

Setelah seharian hingga malam ke sana ke mari mengurus berbagai persiapan kegiatan (maklum aku sie perkap alias si serbaguna), eh pagi-pagi udah di SMS katanya ada 20-an peserta yang datang. What? Taman Budaya Jawa Tengah yang menjadi tempat transit sementara baru buka jam 8 oi. Buru-buru aku ke sana (sempat mandi sih) dan meminta Bapaknya untuk segera membereskan. Ternyata dari 10 kamar yang dipesan, ada 3 yang masih di huni. Hoho, ya sudah, yang 7 kubereskan dan siap ditempati sampai 3 kamar yang lain siap.

Dengan penampilan ala kadarnya dan beberapa PR yang masih tertinggal (karena sakit 2 hari) aku mondar-mandir di wisma seni. Usai memberesi masalah tempat, tibalah saatnya istirahat dan membuat slide-slide presentasi yang terutang selama sakit beberapa waktu lalu. Di tengah kumpulan para seniman dan budayawan (menurutku begitu), aku segera berselancar di dunia online untuk mencari inspirasi.

Alhasil, aku justru menikmati diskusi dari Bapak-Bapak yang juga online di sekitarku. Rupanya mereka adalah para pegiat seni dan sosial yang kental dengan tema-tema pengentasan kemiskinan. Meskipun percakapan mereka diwarnai dengan pisuhan (ungkapan kata-kata kasar dalam bahasa Jawa) seperti asu, bajingan, dan teman-temannya, namun rupanya tema yang mereka diskusikan sangat menarik.

Pertama, permasalahan pengentasan kemiskinan, khususnya dunia anak-anakĀ  dan orang pinggiran menjadi sangat seksi di mata mereka. Bahkan mereka semua ternyata telah memiliki program yang berjalan didaerahnya masing-masing. Ada yang sifatnya pemberdayaan ekonomi dan ada pula yang pengembangan potensi seni. Kuncinya adalah mereka berupaya agar anak-anak yang berekonomi rendah dan orang-orang miskin di pinggiran itu berdaya dan mampu mengoptimalkan potensi yang mereka miliki.

Kedua, mereka adalah orang-orang yang kini benar-benar membenci aktivitas pemerintahan, termasuk politik yang berkembang hari ini. Bahkan dengan gaya pisuhan Jawa yang mengerikan mereka menghujati LSM-LSM yang memanfaatkan orang-orang miskin sebagai sarana penumpukan kekayaan, termasuk bagaimana persahabatan LSM tersebut dengan Bank-Bank Konvensional untuk membuat uang mereka beranak pinak. Mereka juga benci dengan aktivitas birokrasi pemerintahan yang sering menyunat anggaran atau meminta komisi atas setiap aktivitas yang basah.

Ketiga, mereka adalah orang yang tulus untuk memberikan bantuan dengan cara dan gaya mereka. Jiwa seni dan semangat budaya yang mereka miliki terkadang justru lebih membuat mereka peka dari pada para politisi yang duduk di kursi pemerintahan. Korupsi yang mengakar dan dipraktekkan dengan baik oleh para birokrat mulai dari yang paling kecil (Ketua RT, Ketua RW, Dukuh, Lurah) hingga yang lebih tinggi dari itu ternyata menjadi hal yang sangat memuakkan di mata mereka, itulah sebab mereka sudah benci dan antipati terhadap politik.

Kesimpulannya dari satu setengah jam stress ngerjain slide (karena inspirasinya tak kunjung hadir) aku mendapatkan inspirasi yang lain meskipun akhirnya tugasku selesai juga sebelum shalat Jumat.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.