Memecah Kebuntuan
Memang temu nasional kali ini meskipun digelar selama 5 hari, tetaplah menjadi sesi yang sangat padat. Usai outbond, malam harinya semua peserta harus mempresentasikan hasil Live in-nya dan perwakilan tiap kampus wajib menampilkan kreatifitas seninya. Di pandu salah satu rekan kami, Greget Kalla Buana, panitia yang lain akhirnya berkumpul di lantai bawah untuk memecahkan satu masalah yang masih belum beres, yakni deklarasi temu nasional.
Kami berlima (karena dua yang lain sedang membereskan urusan di Solo untuk agenda hari terakhir besok) melakukan FGD sampai larut malam untuk memecahkan konsep deklarasi yang keren buat besok. Meskipun aku sudah menghubungi Pak Indrawan Yepe sebagai master trainer di epilog besok, kami masih merasa ragu dengan gambaran deklarasi yang akan kami lakukan pasca itu. Yang pasti kami belum menemukan kalimat deklarasi yang pas untuk membawa kesamaan dengan peserta tentang Aksi Cinta Budaya Indonesia, di mana di sini konteksnya adalah untuk menggali nilai-nilai luhur budaya untuk memperbaiki kepemimpinan bangsa.
Akhirnya sebuah untaian syair, agak meniru kalimat-kalimat dalam Sumpah Pemuda tercipta. Inilah kalimat deklarasi itu
Kami putra dan putri Indonesia
Bangga menjadi manusia Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Siap sedia mencurahkan tenaga dan pikiran
Untuk membangun Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Bersumpah setia menjadi negarawan muda
Siap untuk belajar merawat Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Siap menempa diri menjadi pemimpin bangsa
Yang unggul, cerdas, dan berkarakter
Memegang teguh nilai-nilai moral dan budaya bangsa
Memegang teguh jati diri sebagai bangsa Indonesia
Rasa-rasanya pembahasan kami mirip persiapan kongres pemuda II di tahun 1928. Terserah mau di kata apa, tapi inilah kalimat yang insya Allah akan menghentak kota Solo esok hari.
bersambung ….





