Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #4

Fisika Menginspirasi Pemimpin?

Ini adalah bagian akhir dari tulisan ini yang paling kontroversial. Berangkat dari fakta yang hingga hari ini terjadi di kampus UNS, prodi pendidikan fisika adalah prodi yang paling produktif yang menyumbangkan aktivis dan para pemimpin kampus. Pascakampusnya pun tak jarang mereka kembali memimpin berbagai institusi pendidikan atau bisnis. Mungkin jumlahnya bukan dominan atas yang lain. Tetapi ini dapat menjadi argumentasi bahwa orang-orang yang belajar eksak itu juga dapat menjadi pemimpin. Dan bukti ini menepis anekdot bahwa orang yang belajar eksak terlalu getol ujung-ujungnya hanya menjadi profesor, calon anak buah profesional dari orang sosial yang sukses menjadi manager.

Orang eksak pun dapat menjadi pemimpin. Orang yang jago dalam bidang fisika itu dapat menjadi pemimpin. Oleh karena itu alangkah menyedihkannya jika guru-guru fisika hari ini banyak yang “tersesat” dengan mengajarkan ilmu fisika sebagai komoditas murah dan sekedar bahan pemenuh kertas catatan siswa. Menjadi guru fisika itu adalah kebanggaan untuk melahirkan calon pemimpin baru yang humanis dan cinta lingkungan. Ia bukan semata-mata profesi, tetapi panggilan jiwa yang tumbuh dari niat tulus, kedalaman pemaknaan dan kejelasan visi untuk melahirkan pembelajar dan pemimpin. Semua berangkat dari hati, saat melangkahkan kaki ke sekolah, ingin seperti apakah siswa-siswa kita kelak.

Guru fisika yang baik adalah pemimpin yang memanusiakan para siswanya. Yang meletakkan dasar pemahaman ilmu alam. Yang mengajak siswa bermimpi besar tentang negaranya. Seperti Habibie, yang dikagumi karena mampu melahirkan para ahli fisika dan aeoronautika dalam waktu satu dekade saja. Mungkin orang lebih banyak mengenal beliau sebagai orang yang ahli membuat pesawat. Itu bukan hal yang mengagumkan, sebagai doktor bidang fisika dan teknik tentu membuat pesawat atau piranti teknologi seperti itu sudah bukan hal yang sulit. Jadi Habibie adalah sosok fisikawan yang berjiwa pemimpin. Teknokrat yang tidak hanya melek tentang mesin, tetapi juga melek tentang bangsa. Maka tak berlebihan ungkapan Presiden Soeharto ketika menguatkan Habibie agar mau pulang ke Indonesia dengan mengatakan, “Jika engkau membuat pesawat saja bisa, maka mengurus yang lain-lain tentu lebih bisa”.

Guru itu melahirkan manusia-manusia yang lebih ahli darinya, demikian ungkapan dari Indrawan Yepe, pendiri Quantum Convidence Indonesia. Guru itu melahirkan pemimpin. Guru itu melahirkan generasi bangsa yang cerdas. Yang akan meneruskan cita-cita para founding fathers ini, mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Guru itu adalah pahlawan yang selalu ada sepanjang bangsa itu masih ada. Maka sudah saatnya guru itu menjadi panggilan jiwa.

Tentang guru fisika, maka dia adalah bagian dari pahlawan bangsa itu. Yang akan membebaskan bangsa dari jerat impor dan ketergantungan terhadap asing. Yang akan mendidik para siswanya cinta produk dalam negeri. Yang menggunakan logika sederhana bagaimana mengelola lingkungan ini dan merekayasa untuk kebaikan masyarakat. Yang meneruskan cita-cita Habibie, tentang kemandirian bangsa yang sesungguhnya lewat industri strategis.

Masih tentang guru fisika, ternyata mendidik para siswa dan mengajari mereka belajar fisika itu tidak hanya untuk menjadikan mereka mengerti rumus tentang mekanika klasik hingga mekanika kuantum. Tetapi adalah menjadikan mereka mengerti untuk apa rumus-rumus itu digunakan kelak. Dan itu tandanya menjadi guru fisika itu tidak sekedar mengajari siswa membuat rumus, memasukkan angka dan menghitungnya, tetapi mengkader mereka menjadi para pemimpin selanjutnya. Maka, jika hari ini masih ada guru fisika yang “tersesat”, sebaiknya segera bangkit untuk melakukan perlawanan atas berbagai ketidakmapanan ini. Guru fisika adalah figur pemimpin yang dinantikan negeri ini untuk mencetak orang-orang seperti Habibie di masa nanti. Siapakah yang akan mengambil peran penting ini?

(selesai)

Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #3

Guru Fisika Gaya Baru

Memimpikan sosok guru fisika yang inspiratif dan inovatif hari ini seharusnya sudah bukan api jauh dari panggangnya lagi. Ketersediaan informasi dan berbagai fasilitas yang ada adalah solusi untuk memutus mata rantai guru fisika gaya lama kepada guru fisika gaya baru. Guru yang akan menjadikan siswanya lebih baik dan lebih kompeten dari pada para gurunya. Guru yang akan menjadi inspirasi siswanya ketika mereka telah meraih mimpinya.

Fasilitas internet yang sangat mudah saat ini memungkinkan para guru untuk mengakses informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Buku pegangan yang hanya berisi diktat rumus dan contoh terbatas sebaiknya disempurnakan berbagai sumber yang ada. Siswa tidak membutuhkan terlalu banyak informasi pendukung, tetapi yang penting mereka dapat memahami maksud dan tujuan pembelajaran sehingga mereka mendapatkan pemahaman seperti yang telah digariskan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Ada seorang dosen yang pernah mengatakan bahwa mempelajari fisika itu tidak hanya untuk sebuah analisis empiris matematis saja, tetapi bagaimana kita mengeksplorasi sisi lain dari maksud dan penciptaan Allah di alam semesta ini. Beliau pernah membahas tentang teori kinetika gas. Beliau membuat perumpamaan gas monoatomik, diatomik, dan poliatomik dengan kebebasan hidup dari masa remaja hingga dewasa. Beliau sisipkan pelajaran moral tentang perbedaan gas monoatomik dan diatomik yang dikorelasikan dengan kebiasaan para pemuda hari ini yang mudah pacaran dan menghabiskan masa muda dengan kesia-siaan. Di kesempatan lain, beliau pernah mengkritik penyalahgunaan hukum Newton oleh para pasangan muda-mudi hari ini dalam mengendarai sepeda motor. Mungkin itu hanya pembicaraan kecil, tapi itulah yang membuat fisika itu terasa menarik dan bermakna.

Ketika pembelajaran fisika adalah tebar inspirasi. Ketika pembelajaran fisika adalah diskusi dan tanya jawab yang terkelola. Ketika pembelajaran fisika adalah proyek sosial untuk pemberdayaan masyarakat melalui teknologi tepat guna. Ketika pembelajaran fisika adalah saat yang tepat untuk melihat kebesaran sang Pencipta lewat birunya langit dan hiasan bintang-bintang di malam hari. Ketika pembelajaran fisika adalah tentang bagaimana memimpin dan mengelola kehidupan ini dengan efektif seperti kesederhanaan Lagrange dalam menyelesaikan kompleksitas ayunan. Maka pembelajaran fisika itu akan menjadi pelajaran yang selalu dikenang sepanjang masa. Dan para gurunya adalah para master yang menjadi rujukan. Memimpikan guru fisika gaya baru, bukan lagi mimpi semata, tapi tantangan yang harus segera diwujudkan untuk memberikan kontribusi dalam perbaikan pendidikan Indonesia.

…..bersambung

Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #2

Menelaah yang Terabaikan

Ada tiga pertanyaan yang dapat kita ajukan tentang “ketersesatan” guru-guru fisika hari ini, yaitu niatnya mengapa ingin menjadi guru fisika, kemudian apa yang telah ia dapatkan selama kuliah di kampus, dan yang terakhir adalah visi saat dilantik (baca : diwisuda) menjadi guru fisika.

Pertanyaan pertama, niat menjadi guru fisika. Sebelumnya mari kita kaji sebuah hadits dalam kitab Hadits Arba’in tentang niat. Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya akan mendapatkan atas setiap yang diniatkannya. Demikian terjemah hadits tersebut pada bagian awalnya. Jadi niat seperti apakah yang tertulis di hati para guru hari ini, khususnya guru fisika. Jika kita berkata, “hanya Allah yang tahu, maka selesailah pembahasan masalah ini. Namun sebaiknya kita tidak berhenti di sini, marilah kita lanjutkan dari dampak niat yang terlihat di luar, dengan mata kepala kita.

Apa pendapat kita jika guru mewajibkan siswa mempunyai buku pegangan dan berkata, “Anak-anak, buka halaman sekian, baca dan pelajari baik-baik, kemudian kerjakan latihan di akhir bab ya, Bapak mau ada keperluan di luar sebentar, nanti sebelum pelajaran usai Bapak akan kembali”? Jika itu sering dilakukan oleh sang guru, tentu kita akan berkata bahwa guru tersebut tidak menjadi bertanggung jawab. Berniatkah guru yang seperti itu dalam mendidik? Sulit rasanya kita berhusnudzan untuk tipe guru yang menggunakan media sebagai alibi untuk menyembunyikan kemalasannya menjalankan amanah.

Diakui atau tidak, hari ini kita masih mendapati guru-guru yang seperti itu dalam jumlah banyak, bahkan yang sudah sertifikasi sekalipun. Alih-alih sebagai sarana peningkatan profesionalitas guru, sertifikasi justru menjadikan guru semakin konsumtif, hedonis dan gila fasilitas. Guru menjadi ketergantungan dengan banyak hal mulai dari media hingga kondisi siswa. Kalau medianya tidak baik, kualitas pembelajaran menjadi menurun drastis, alasannya tidak didukung oleh media. Kalau siswanya tidak antusias, guru menjadi malas mengajar. Ini adalah indikator-indikator yang kasat mata untuk kita melihat seberapa besar niat guru mengajar, lebih-lebih mengajar fisika yang sudah dipersepsikan sulit lagi menyulitkan.

Yang kedua, apa yang telah didapatkan para guru tersebut selama dikampus. Materi fisika? Pada faktanya mungkin tidak lebih dari 40 persen atau bahkan lebih kecil dari itu materi fisika selama perkuliahan di kampus yang benar-benar menjadi bahan baku untuk diolah dan disampaikan kembali ke siswa. Lalu apa yang sebenarnya paling penting dari sebuah perkuliahan tersebut? Yang paling penting dari sebuah proses perkuliahan di kampus adalah spirit belajar dan melakukan penggalian inspirasi sebanyak-banyaknya.

Jika guru fisika hari ini tak banyak membangkitkan semangat belajar siswa, mungkin karena selama kuliah di kampus memang tidak banyak termotivasi untuk belajar. Belajar mereka hanya untuk sebuah hal yang pragmatis. Belajar yang tidak menggunakan perasaan dan nurani. Memenuhi tugas dosen saja. Dan bukan sebagai panggilan jiwa. Akibatnya, makna dan inspirasi yang diperoleh selama kuliahpun tak lebih dari seujung kuku, yang akan mudah hilang ketika uang dan kedudukan telah menggelayuti.

Yang terakhir, apa visi para guru fisika ketika dilantik (baca : diwisuda)? Janji apakah yang mereka ucapkan dalam hati saat toga telah mereka kenakan dan gelar sarjana secara resmi disematkan? Menarik sekali jika kita membaca buku-bukunya Munif Chatib, terutama yang berjudul “Gurunya Manusia”. Di sana dipaparkan inspirasi tentang membangun kepribadian sebagai guru yang benar-benar guru, gurunya manusia. Salah satu spirit yang beliau sampaikan adalah guru itu manusia yang tak pernah berhenti untuk belajar. Berkaitan dengan visi di atas, masih banyakkah guru-guru fisika hari ini yang bersedia untuk meluangkan banyak waktunya berkreasi dan melakukan eksplorasi untuk membedah berbagai fenomena alam bersama para siswanya? Yang banyak justru paradoks, guru-guru yang terlalu mengalami tekanan karena target nilai kelulusan fisika yang dipatok tinggi oleh sekolah sehingga mereka seolah-olah beralih menjadi pengajar matematika. Padahal fisika itu bukan matematika.

Tekanan sekolah sebagai implikasi kebijakan pemerintah terkait ujian nasional, sarana pendukung dari buku-buku pelajaran yang mengamini, menjadi tantangan tersendiri para guru fisika hari ini untuk tampil idealis sesuai visi ideal seorang guru fisika saat diwisuda. Sanggupkah mereka melawan berbagai tekanan itu untuk tetap menjadi gurunya manusia yang menebarkan ajaran fisika secara benar sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada? Salah seorang doktor di bidang pendidikan IPA di kampus UNS, Dr. Sarwanto, S. Pd., M. Si. berkata bahwa idealnya seorang guru memiliki perangkat mengajar sendiri yang kreatif dan mampu menjadi inspirasi bagi siswanya.

Demikianlah telaah sebuah perkara yang sering terabaikan terkait dengan kesatuan niat, ilmu, dan visi dalam menjadi guru fisika. Menjadi guru itu berkaitan dengan niat, apakah itu profesi atau panggilan jiwa. Menjadi guru itu membutuhkan ilmu yang dalam, apakah itu sekedar pengertian atau pemahaman hingga sampai pemaknaan. Menjadi guru itu mengharuskan mereka harus bervisi untuk menanamkan dasar-dasar belajar yang baik bagi siswanya, terutama belajar tentang hidup sesuai dengan perspektif dan bidang yang diajarkan. Berkaitan dengan fisika, maka visi yang harus di bangun seorang guru dalam mendidik adalah membentuk siswa-siswa mereka yang dekat dengan alam, peduli lingkungan, dan kreatif dalam mengelola lingkungan berdasarkan konsep interaksi antara benda mati yang telah mereka pelajari.

Jika ketiga hal di atas tidak terpatri di sanubari para guru fisika hari ini, memang tidak salah jika “ketersesatan” terus merajalela dan menjadikan para siswa sebagai korban ketidakjelasan pembelajaran. Dan parahnya, mereka menjadi ikut pragmatis lantaran tidak mendapat penguatan dan motivasi yang benar tentang belajar fisika.

….bersambung

Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #1

Siapa yang tak mengenal pelajaran fisika? Sejak SD kita sudah mengenal IPA. Ketika SMP, kita kemudian mengenal fisika sebagai bagian dari IPA. Seterusnya ketika SMA hingga akhirnya di perguruan tinggi. Konon, pelajaran fisika adalah pelajaran yang sangat ditakuti oleh para siswa bahkan terkadang sampai dibenci hingga mati-matian. Terkadang pernah terungkap cerita bagaimana seorang ayah rela mengucurkan dana yang besar untuk menguatkan kemampuan anaknya mengerjakan soal fisika melalui bimbingan belajar terfavorit. Dan biasanya itu diiringi sekalian dengan belajar matematika.

Ada apa dengan fisika? Di sini kita tidak akan berbicara banyak tentang materi fisika. Kita tidak akan membahas tentang elektron yang didefinisikan dalam fungsi gelombang di alam elektron. Tetapi kita akan membahas arti penting membelajarkan fisika dan menjadikannya sebagai salah satu pelajaran untuk membentuk kepemimpinan siswa.

Fisika bukan Matematika

Ada sebuah cerita tentang tindakan seorang guru besar di Pendidikan Fisika UNS dalam meluruskan persepsi pembelajaran fisika. Ketika itu beliau mengisi kegiatan PLPG guru, beliau menampilkan aplikasi hukum Archimedes dalam sebuah praktikum sederhana yang memanfaatkan air dan plastisin. Beliau ingin menunjukkan bagaimana benda itu melayang. Tiba-tiba ada guru yang menyeletuk, “Pak, kalau seperti itu terus, kapan pelajaran fisikanya?” kata seorang guru peserta PLPG. Mendengar pertanyaan itu beliau menatap para peserta dengan sorot mata tajam dan bertanya, “Saudara guru fisika atau matematika?” kemudian beliau berlalu dan materi pun dilanjutkan oleh dosen pendamping beliau yang lebih muda.

Kisah di atas hanyalah gambaran bagaimana guru fisika hari ini mendidik para siswanya. Memang tidak semuanya, tetapi saya yakin sebagian besar guru fisika telah memulai pembelajarannya dengan sebuah kesalahan, yaitu mentransformasikan pelajaran fisika menjadi matematika. Fisika adalah kumpulan rumus yang rumit dan membosankan. Belajar fisika adalah belajar bagaimana menghafal rumus dan menggunakannya dalam menghitung soal-soal. Yang paling menyedihkan, pembelajaran fisika di kelas tertinggi baik SMP atau SMA semua difokuskan untuk mengasah kemampuan siswa menjawab soal demi tercapainya nilai Ujian Nasional yang tinggi secara kolektif agar reputasi sekolah meningkat. Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya, tapi rasanya sia-sia jika tiga tahun siswa belajar fisika hanya untuk menjadi pekerja soal yang abstrak lagi muskil.

Pertanyaan balik guru besar kepada peserta adalah ekspresi kemarahan sekaligus kekecewaan pada guru yang mendapat amanah besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana pembelajaran fisika akan menyenangkan jika guru-gurunya saja tidak jauh berbeda dengan dosen matematika yang hanya mengajarkan simbol, angka dan persamaan. Inilah titik permasalahan mendasar yang menjadikan fisika sampai hari ini mata pelajaran yang ditakuti banyak siswa hingga menjadikan mereka malas belajar. Padahal, kata Prof. Yohannes Surya fisika itu seharusnya menyenangkan. Karena fisika adalah ilmu yang mengajak para siswa mengeksplorasi kejadian yang ada disekitarnya dari benda-benda mati yang saling berinteraksi. Dan pada akhirnya itu mengantarkan kita pada kekaguman kepada yang menciptakan itu semua, dialah sang Pencipta alam raya ini.

Di samping itu, menurut pemerintah dalam hal ini kemendikbud, melalui dikdasmen-nya menyatakan bahwa pembelajaran fisika itu sendiri dilakukan untuk membekali peserta didik dasar pengetahuan tentang hukum-hukum kealaman yang penguasaannya menjadi dasar sekaligus syarat kemampuan yang berfungsi mengantarkan para siswa mencapai kompetensi program keahliannya. Di samping itu mata pelajaran fisika mempersiapkan siswa agar dapat mengembangkan program keahliannya pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Penguasaan mata pelajaran fisika memudahkan para siswa menganalisis proses-proses yang berkaitan dengan dasar-dasar kinerja peralatan dan piranti yang difungsikan untuk mendukung pembentukan kompetensi  program keahlian.

Jadi pembelajaran fisika yang ideal itu diarahkan sesuai dengan visi dan harapan siswa ke depan. Maka, pembelajaran fisika yang ideal itu tidak sekadar untuk menghabiskan waktu membahas rumus, tetapi juga memotivasi dan menempatkan siswa untuk berpikir tentang cita-citanya nanti setelah selesai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mungkinkah itu terjadi jika, banyak “ketersesatan” yang dialami oleh banyak guru fisika hari ini?

…..bersambung

Kategori
Pendidikan

Paket Cerdas Teknik Penilaian Pembelajaran Fisika dalam Bingkai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Asesmen adalah aktivitas yang sangat penting dalam pembelajaran. Sebuah proses pembelajaran akan berkualitas manakala di mulai dari sebuah tujuan yang jelas, perencanaan yang matang dan dikawal dengan proses asesmen yang baik. Tujuan yang jelas akan menjadikan aktivitas pembelajaran terarah. Tujuan yang dimaksudkan di sini adalah tujuan instruksional dalam pembelajaran. Sedangkan perencanaan akan memungkinkan segala hal yang perlu di lakukan selama aktivitas belajar dapat disiapkan dan dapat dikontrol dengan baik. Pada akhirnya dengan adanya kawalan asesmen yang berkelanjutan akan menghasilkan sebuah hasil belajar yang baik. Baik karena memang prosesnya juga baik. Dan baik karena outcome dan output-nya juga memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Salah satu bagian terpenting dalam proses asesmen adalah teknik yang digunakan. Dalam bahasa yang lebih khusus, maka teknik yang dimaksud adalah teknik-teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur kemampuan proses dan hasil yang ditunjukkan oleh siswa selama mengikuti pembelajaran. Dalam konteks pembicaraan tentang asesmen pembelajaran fisika maka teknik-teknik yang tepat dalam pembelajaran fisika sangat diperlukan. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang selalu dikawal dengan asesmen yang tepat. Asesmen yang baik adalah asesmen yang dapat mengukur kondisi-kondisi dan capaian hasil yang diinginkan selama proses pembelajaran sampai selesai.

Seperti dalam makalah tentang SAIL FORCES yang pernah saya tulis sebelumnya sebagai UKD I asesmen, maka di sini saya akan memaparkan berbagai ragam teknik penilaian fisika yang berbasis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Maka dari itu, sebelum pembahasan dilanjutkan pada ragam teknik penilaian, akan saya ulas kembali tentang makalah yang pernah saya tulis, yaitu SAIL – FORCES adalah kependekan Smart Assessment and Optimize Learning for Rebuilding Character of Student. SAIL – FORCES adalah sebuah metode asesmen dan perbaikan kualitas pembelajaran berdasarkan pengamatan di lapangan dan kajian-kajian terkait perbaikan pembelajaran.

Substansi dari SAIL – FORCES adalah

  1. Asesmen atau Penilaian

Asesmen yang dilakukan di sini adalah asesmen otentik, yaitu praktik asesmen yang secara langsung dan bermakna atau apa yang diases merupakan sesuatu yang benar-benar diperlukan dalam kehidupan nyata siswa.

Menurut (Hart, 1994), asesmen otentik yaitu asesmen yang melibatkan siswa didalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna.  Berbagai tipe asesmen otentik menurut Hibbard (2000) adalah: 1) asesmen kinerja, 2) observasi dan pertanyaan, 3) presentasi dan diskusi, 4) proyek dan investigasi, dan 5) portofolio dan jurnal.  Hal senada juga dijelaskan oleh David W. Johnson dan Roger T. Johnson (2002) bahwa otentik asesmen meminta siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan atau prosedur dalam konteks dunia nyata.

Dengan demikian, evaluasi terhadap siswa tidak terbatas pada aktivitas-aktivitas selama di dalam kelas atau bahkan hanya dari kertas hasil ulangan mereka, tetapi juga apa yang mereka rencanakan dan wujudkan di luar sana pada hal-hal yang relevan dengan pelajaran. Hal ini adalah bentuk dari smart assessment yang bersifat integral dan komprehensif.

  1. Optimalisasi pembelajaran

Sebagai follow up dari asesmen yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan optimalisasi pembelajaran dengan melakukan perbaikan metode agar sesuai dengan kebutuhan siswa yang sebenarnya berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan.

Hal ini merupakan wujud nyata komitmen seorang guru untuk memberikan pendidikan yang mencerdaskan siswanya. Karena asesmen adalah sarana untuk mengukur kemajuan perkembangan peserta didik, bukan untuk menjustifikasi bodoh dan pintarnya mereka. Hal ini sesuai dengan pandangan Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Sekolahnya Manusia”.

Kemudian, apa relevansi SAIL – FORCES dengan ragam teknik penilaian pembelajaran Fisika berbasis KTSP? Relevansinya adalah KTSP menuntut adanya otonomi pembelajaran berbasis kondisi riil yang ada di tingkat satuan pendidikan berdasarkan arahan-arahan materi umum dari pusat. Sehingga teknik-teknik penilaian yang dilakukan harus tepat sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan harus dapat dijadikan bahan refleksi untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya. Karena menilai tidak sekedar memberikan angka justifikasi, tetapi sebuah apresiasi yang menyiratkan pesan untuk siswa belajar dan guru memperbaiki pembelajarannya.

Adapun ragam teknik penilaian pembelajaran Fisika berbasis KTSP harus dilihat dari model yang digunakan dahulu. Dalam konteks KTSP seorang guru dapat membuat variasi pembelajaran selama satu semester, bahkan satu tahun. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran yang diberikan relevan dan mudah diterima oleh siswa. Jadi tidak harus mengikuti arahan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal metode dan urutan penyampaian, selagi substansi pembelajaran dapat tersampaikan sesuai SK dan KD yang telah ditetapkan dalam batas-batas waktu studi.

Maka dari itu, teknik-teknik pembelajaran yang dapat digunakan secara kondisional dengan basis KTSP adalah sebagai berikut:

  1. Jika pembelajaran selama satu semester lebih banyak membutuhkan metode didaktis dan diskusi, maka teknik penilaian yang dapat digunakan adalah soal pilihan ganda, soal esai, atau soal penugasan makalah. Misalkan untuk materi-materi kelas XII SMA, maka di sana lebih banyak kajian secara teoritis, sehingga teknik penilaian yang tepat adalah dengan penyelenggaraan ujian secara konvensional, hanya saja substansi ujiannya lebih diperhatikan agar dapat mengukur kompetensi siswa sesuai dengan SK dan KD yang telah ditetapkan.
  2. Jika pembelajaran selama satu semester lebih banyak membutuhkan praktik dan penguasaan konsep, maka teknik penilaian dapat dilakukan dengan tes praktikum, dapat juga dilakukan tes dalam bentuk expo. Ini dapat diterapkan pada materi-materi di kelas X dan kelas XI SMA pada bagian semester pertama. Di sana siswa tidak hanya dituntut mengerti secara konsep, tetapi lebih banyak pada penjelasan mendasar mengenaik konsep dan prinsip kerja konsep fisika.
  3. Jika pembelajaran selama satu semester materi-materinya dapat dikonsep secara integral, maka teknik penilaian dapat dilakukan secara komprehensif melalui penugasan proyek di mana didalamnya mencakup berbagai hal meliputi tes wawancara untuk mengetahui penguasaan konsep dan kreativitas gagasan, tes presentasi untuk melihat kemampuan menyampaikan gagasan dan konsep-konsep fisikaagar dimengerti oleh yang lain. Ini dapat dilakukan pada waktu akhir tahun, dapat bersifat individual dapat juga secara kelompok, intinya adalah pada instrument penilaiannya. Sehingga guru benar-benar dapat mengerti apakah siswa-siswa memiliki asertifitas terhadap pembelajaran fisika sehingga dapat meningkat kompetensinya.

Pada prinsipnya, teknik-teknik di atas bisa juga digabungkan untuk mengasesmen keberjalanan pembelajarn fisika yang dilakukan. Ragam-ragam teknik di atas sangat fleksibel untuk ditetapkan sesuai dengan kondisi untuk mengukur ketercapaian kompetensi siswa selama mengikuti pembelajaran.

Demikian ragam-ragam teknik-teknik penilaian pembelajaran fisika berbasis KTSP yang dapat dilakukan para guru agar kualitas pembelajaran dapat semakin baik dan dapat menjadi bahan informasi yang baik pula dalam pendidikan. Akhirnya saya berharap semoga tulisan ini dapat mencerahkan wawasan untuk kita tidak hanya sekedar mengerti jenis-jenis teknik penilaian pembelajaran fisika, tetapi juga mengerti konteks bagaimana menerapkannya. Peluru butuh senjata yang paling tetap untuk melontarkannya. Demikianlah teknik-teknik penilaian, ia hanya sebuah peluru yang butuh konteks yang tepat untuk diaplikasikan.

 

Ini adalah tugas Mata Kuliah Asesmen Pembelajaran Fisika

oleh Yuli Ardika Prihatama

Kategori
Pendidikan

Implementasi SAIL – FORCES untuk Membentuk Siswa yang Berwawasan Sains dan Berkarakter

Realita Pembelajaran Fisika

Fisika sering dikenal sebagai “momoknya” pelajaran sebagai saudaranya matematika, bahkan terkadang ada yang berpendapat jauh lebih mengerikan. Karena di samping menghitung, fisika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang mengharuskan siswa menghafalkan segudang symbol dan rumus yang sulit dimengerti. Disadari atau tidak, paradigma ini telah berkembang dan menghinggapi banyak kepala siswa-siswi di negeri ini.

Guru Besar Ilmu Pendidikan Fisika Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Wiyanto menilai, proses pembelajaran ilmu fisika yang berlangsung di sekolah-sekolah hingga saat ini cenderung terjebak pada rutinitas. “Rutinitas yang dimaksud adalah guru memberi rumus, contoh soal, dan latihan-latihan yang dikerjakan siswa, sehingga siswa akan cepat bosan,” demikian ungkapan beliau dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-62 Unnes di kampus Unnes, Semarang.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa secara substansial, fisika itu memang sulit. Karena pada prinsipnya, fisika itu memadukan sebuah kemampuan memandang fenomena alam untuk kemudian diterjemahkan dalam rumus-rumus matematis. Sehingga hal ini menuntut orang-orang yang belajar fisika untuk memahami dengan benar dan menerapkannya dalam kaidah matematika. Maka sulitnya belajar fisika itu akan semakin sempurna manakala banyak guru yang mengajarkannya menggunakan cara yang membosankan dan menegangkan. Hal ini secara berkelanjutan akan menjadi pengalaman belajar yang buruk bagi para siswa sehingga dapat meningkatkan rasa kebencian mereka terhadap fisika.

Dampak secara langsung dari kondisi ini adalah minat siswa untuk belajar memahami fisika dengan baik menjadi berkurang dan bahkan hilang. Ditambah lagi dengan sistem penilaian yang saat ini cenderung lebih justifikatif dari pada evaluative. Justifikatif maksudnya penilaian terhadap hasil belajar siswa hanya bersifat pelaporan hasil semata tanpa disertai sebuah solusi yang aplikatif tentang bagaimana cara memperbaiki kualitas belajar fisika. Maka tidak menutup kemungkinan juga bahwa siswa belajar fisika bukan untuk mengerti dan bisa mengaplikasikannya, tetapi hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban sekolah dan mendapatkan nilai yang menyenangkan orang tua. Akibatnya, berbagai kecurangan dan serangkaian tindakan terpuji memenuhi suasana kelas pembelajaran fisika. Hal ini tidaklah mengherankan ketika dilakukan oleh anak-anak usia sekolah, mengingat kepala mereka terisi dengan ketakutan dengan nilai-nilai yang mengerikan lantaran ketidakmampuan mereka memahami materi dengan baik.

Dampak jangka panjangnya adalah tidak adanya karakter yang terbentuk dalam jiwa para siswa untuk mengimplementasikan secara eksplisit dan implisit dari materi-materi fisika yang telah mereka pelajari. Siswa akan tetap saja tidak mengerti mengapa benda bisa bergerak melingkar, mereka hanya mengerti berapa besarnya percepatan sentripetal dan gaya sentripetalnya. Betapa menjenuhkan akhirnya belajar fisika itu, karena hanya bermain pada domain soal khayalan dan ditambah dengan justifikasi angka kritis yang diberikan oleh guru.

Maka dari itu perlu adanya sebuah usaha agar pembelajaran fisika itu menjadi lebih bermakna, yang membuat siswa itu merasa membutuhkannya karena itu bermanfaat bagi dirinya. Maka ada dua hal mendasar yang harus segera dibenahi yaitu metode pembelajarannya dan asesmen pembelajarannya. Dalam makalah ini, penulis mengusulkan sebuah gagasan yang diberi nama SAIL – FORCES untuk perbaikan kualitas pembelajaran fisika.

SAIL – FORCES

SAIL – FORCES adalah kependekan Smart Assessment and Optimize Learning for Rebuilding Character of Student. SAIL – FORCES adalah sebuah metode asesmen dan perbaikan kualitas pembelajaran yang diusulkan oleh penulis berdasarkan pengamatan di lapangan dan kajian-kajian terkait perbaikan pembelajaran.

Substansi dari SAIL – FORCES adalah

  1. Asesmen atau Penilaian

Asesmen yang dilakukan di sini adalah asesmen otentik, yaitu praktik asesmen yang secara langsung dan bermakna atau apa yang diases merupakan sesuatu yang benar-benar diperlukan dalam kehidupan nyata siswa.

Menurut (Hart, 1994), asesmen otentik yaitu asesmen yang melibatkan siswa didalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna.  Berbagai tipe asesmen otentik menurut Hibbard (2000) adalah: 1) asesmen kinerja, 2) observasi dan pertanyaan, 3) presentasi dan diskusi, 4) proyek dan investigasi, dan 5) portofolio dan jurnal.  Hal senada juga dijelaskan oleh David W. Johnson dan Roger T. Johnson (2002) bahwa otentik asesmen meminta siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan atau prosedur dalam konteks dunia nyata.

Dengan demikian, evaluasi terhadap siswa tidak terbatas pada aktivitas-aktivitas selama di dalam kelas atau bahkan hanya dari kertas hasil ulangan mereka, tetapi juga apa yang mereka rencanakan dan wujudkan di luar sana pada hal-hal yang relevan dengan pelajaran. Hal ini adalah bentuk dari smart assessment yang bersifat integral dan komprehensif.

  1. Optimalisasi pembelajaran

Sebagai follow up dari asesmen yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan optimalisasi pembelajaran dengan melakukan perbaikan metode agar sesuai dengan kebutuhan siswa yang sebenarnya berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan.

Hal ini merupakan wujud nyata komitmen seorang guru untuk memberikan pendidikan yang mencerdaskan siswanya. Karena asesmen adalah sarana untuk mengukur kemajuan perkembangan peserta didik, bukan untuk menjustifikasi bodoh dan pintarnya mereka. Hal ini sesuai dengan pandangan Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Sekolahnya Manusia”.

Paparan diatas hanyalah bentuk teoritis terhadap substansi SAIL – FORCES itu sendiri. Dalam uraian berikutnya akan dijelaskan lebih lanjut bagaimana aplikasi dari metode tersebut.

Implementasi SAIL – FORCES dalam Pembelajaran Fisika

Sebagaimana telah dijelaskan dalam paparan sebelumnya, substansi metode SAIL – FORCES terdiri dari asesmen otentik dan optimalisasi pembelajaran. Bagaimana penerapannya dalam pembelajaran fisika? Berikut adalah bagan tentang penerapan SAIL – FORCES tersebut.

Pada gambar di atas dipaparkan beberapa istilah seperti Zona K-7 yang merupakan kepanjangan dari Kejujuran, Komitmen, Keaktifan, Kerja sama, Kedisiplinan, Kemanfaatan, Keberlanjutan. Hal ini dimaksudkan agar KBM fisika senantiasa menjunjung tinggi kejujuran, yang diikuti komitmen dan keaktifan untuk belajar, kemudian didukung oleh proses kerja sama dan kedisiplinan untuk mencapai hasil yang memberikan kemanfaatan serta memiliki keberlanjutan.

Jadi, misalnya SAIL – FORCES diaplikasikan dalam pembelajaran fisika selama satu semester, maka proses pembelajarannya dapat dirancang seperti berikut.

 

Gambar 2. Bagan proses pembelajaran fisika mengaplikasikan SAIL – FORCES

  1. Pengenalan awal à internalisasi nilai dalam KBM Zona K-7 dengan outcome agar siswa menyepakati aturan main selama belajar fisika dengan semangat K-7.
  2. Pemaparan tema besar dan visi pembelajaran, artinya pembelajaran fisika satu semester tersebut ditargetkan untuk mencapai kompetensi apa saja. Pemaparan tersebut tidak hanya berbentuk pemaparan teoritis, tetapi lebih pada pemberian motivasi dan tantangan kepada siswa dengan target waktu satu semester. Misalnya pada pelajaran kelas X, ada materi tentang pengukuran, kinematika gerak, dan mekanika klasik seputar hukum Newton, maka sebaiknya ada tantangan bagi siswa untuk menciptakan sebuah karya, baik tulisan maupun produk yang lain untuk diprensentasikan atau dipamerkan di akhir pembelajaran. Sehingga pembelajaran fisika itu akan bermanfaat.
  3. Proses pembelajaran dan asesmen. Dalam proses ini guru sekedar menjadi fasilitator dalam pemaparan materi yang diikuti dengan asesmen secara terus menerus. Selama menjalankan aktivitas pembelajaran untuk menghasilkan produk atau karya ilmiah di akhir, maka asesmen dilakukan secara bertahap selama proses tersebut berlangsung. Secara teknis, semuanya merupakan kombinasi dari sekian bentuk-bentuk penilaian otentik yang telah disebutkan di atas. Misalnya terkai dengan proyek yang telah dipaparkan sebelumnya, berarti asesmen yang dapat dilakukan antara lain
    1. Tugas proyek dan investigasi, ini merupakan penugasan yang telah diberikan sejak awal sebagai tema besar
    2. Portofolio, jurnal, observasi, dan wawancara , untuk mengukur kemajuan aktivitas siswa selama mengikuti proses belajar menuju pencapaian hasil. Disini termasuk untuk melihat apakah siswa serius belajar untuk memahami substansi materi-materi yang ditargetkan selama satu semester tersebut.
    3. Penilaian diri, untuk mendukung proses kerja siswa melalui budaya kerja sama dan sifat-sifat baik yang lain
    4. Penilaian kinerja, untuk melihat keterampilan siswa dalam mewujudkan karya
    5. Presentasi dan diskusi, untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan dan paparan tentang karya yang dibuatnya serta kemampuan berargumentasi yang baik terhadap berbagai respon dari siswa yang lain.
  4. Show Project adalah sarana untuk mengapresiasi hasil karya siswa sehingga dapat meningkatkan kebanggaan dan memotivasi mereka untuk berkarya
  5. Refleksi, sebagai sarana evaluasi bagi guru untuk memberikan penilaian atas kinerja yang dia lakukan dan siswa lakukan.

Tentu saja, hal terpenting dalam merealisasikan gagasan di atas adalah perencanaan yang matang. Hal ini dapat dilakukan melalui FGD yang panjang dan uji coba asesmen secara parsial dalam skala kecil.

Manfaat SAIL – FORCES

Jika SAIL – FORCES dilaksanakan, maka akan diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut:

  1. Guru akan menjadi tertantang untuk membuat perencanaan pembelajaran. Jika organisasi saja membutuhkan program kerja, apalagi sebuah proses pendidikan yang akan mencetak manusia-manusia unggul, maka tentu perencanaannya harus lebih serius. Dan yang terpenting, mendidik itu adalah panggilan jiwa, bukan komersialisasi ilmu.
  2. Siswa akan terbiasa belajar dengan target dan mimpi. Siswa yang memiliki mimpi/ cita-cita yang jelas akan berbeda dengan siswa yang belajarnya mengalir seperti air. Perbedaannya adalah terletak pada kreativitas dia untuk mewujudkan mimpinya. Dampak jangka panjangnya, akan terbentuk manusia – manusia visioner yang berwawasan sains dengan karakter K-7.
  3. Siswa akan memiliki rasa kebanggaan karena hasil kerja kerasnya diapresiasi secara manusiawi, melalui berbagai proses dan ujian secara nyata, bukan semata-mata angka di rapor.
  4. Siswa akan terbiasa berkreasi untuk menciptakan hal-hal baru karena mendapatkan teladan yang nyata dari gurunya yang serius melakukan pembelajaran.

Kesimpulan

Sebagai penutup dari makalah ini, penulis menegaskan kembali bahwa SAIL – FORCES adalah gagasan bagaimana kita dapat mengelola pembelajaran fisika dengan baik yang dimulai dari proses asesmen yang komprehensif dan di-follow up dengan dinamis sehingga akan dihasilkan mutu pembelajaran yang baik dengan pencapaian kompetensi siswa yang memuaskan. Sehingga pendidikan Indonesia yang selama ini hanya menjadi komoditas akan bertransformasi menjadi sarana pencetakan generasi-generasi unggulan yang berwawasan sains dan berkarakter.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, itulah amanat undang-undang dasar kita. Pendidikan yang bermartabat adalah yang memanusiakan manusia sebagai entitas sosial yang berhak untuk berkembang dan merdeka. Semoga melalui perbaikan asesmen pembelajaran dan perbaikan kualitas pembelajaran pendidikan kita semakin maju dan berada di atas jalan yang benar.

 

Referensi

Chatib, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia. Bandung: Mizan

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1262401114

http://www.masbied.com/2010/01/14/pengertian-asesmen-bentuk-asesmen-dan-langkah-penerapan-asesmen/

http://nlearning.wordpress.com/2008/12/30/asesmen-otentik-untuk-kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan/

http://majuburu.edublogs.org/2011/11/18/kenapa-fisika-membosankan/

Ini merupakan tulisan untuk tugas Mata Kuliah Assesmen Pembelajaran Fisika

Kategori
Pendidikan

Implementasi Pembelajaran Fisika Terintegrasi untuk Membentuk Pemahaman Holistik dan Karakter Sadar Lingkungan bagi Siswa SMA

Berbicara tentang pendidikan karakter yang sekarang tengah marak dikaji untuk dimplementasikan dalam dunia pendidikan di Indonesia ibarat lautan yang selalu berbuih kemudian hilang kembali jika tidak segera diikuti dengan langkah implementatif. Sudah cukup banyak seminar, lokakarya, workshop, dan berbagai acara pertemuan para ahli untuk mengkaji masalah pendidikan karakter dan implementasinya pada berbagai disiplin ilmu dalam pendidikan namun sampai sekarang belum terlihat proses secara nyata untuk mewujudkan pendidikan karakter yang integral di dunia pendidikan. Justru terkadang pendidikan karakter hanya menjadi isapan jempol bagi para siswa karena memang tidak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah diaplikasikannya pembelajaran berbasis karakter.

Misalnya dalam pembelajaran IPA, khususnya fisika, sejak pendidikan karakter mulai dicanangkan dan diimplementasikan oleh sekolah sampai sekarang belum memberikan perubahan yang signifikan. Realita yang ada di lapangan masih banyak siswa yang terbiasa membuang sampah sembarangan, merusak tanaman, jajan makanan yang banyak mengandung zat kimia, dan sebagainya. Bukankah pendidikan IPA seharusnya menumbuhkan karakter siswa untuk lebih bersahabat dengan lingkungan dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kadar yang aman. Hal ini tidak mengherankan, karena masih banyak juga guru IPA yang merokok saat mengajar, mengendarai mobil ke sekolah, dan berbagai tingkah aneh yang tidak mencerminkan seorang cendekiawan dalam bidang IPA.

Tidak ada yang perlu disalahkan dengan realita tersebut karena ia merupakan bukti bahwa pendidikan karakter yang sedang dibumikan oleh pemerintah kita ibarat api jauh dari panggang. Sampai sekarang belum ada keynote yang jelas untuk dijadikan pedoman yang dapat diimplementasikan secara nyata, karena memang bangsa kita saat ini baru “sadar” dan “belajar” untuk bangkit dan mengejar keterbelakangan kualitas pendidikannya.

Maka dari itu, penulis tergerak hatinya untuk mencoba menawarkan sebuah solusi untuk menjawab berbagai paradoks yang telah dipaparkan di atas. Membangun karakter bangsa melalui dunia pendidikan berarti membangun insan pendidikan agar memiliki karakter unggul untuk mewujudkan tujuan nasional. Ada sebuah kata kunci yang bagus, “orang yang berkarakter pastilah orang yang baik, tetapi orang yang baik belum tentu berkarakter” karena orang yang berkarakter adalah orang yang baik dan memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan kebaikannya. Sesuai dengan latar belakang sebagai calon pendidik bidang ilmu fisika dan IPA, maka penulis menawarkan sebuah konsep implementasi pembelajaran fisika terintegrasi untuk membentuk pemahaman holistik dan karakter sadar lingkungan bagi siswa SMA.

Pembelajaran fisika terintegrasi merupakan sebuah gagasan yang digulirkan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia agar para siswa SMA memiliki pemahaman dan cara berpikir yang holistik terhadap permasalahan yang ada di lingkungan mereka. Gagasan ini muncul karena para siswa mengalami dikotomi atau trikotomi atau mungkin banyak kotomi pengetahuan. Mereka mengkotak-kotakan pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah dan seoalah-olah tidak ada kaitannya sama sekali. Sehingga pembelajaran yang mereka ikuti hanyalah bagaimana mengerti sebuah teori kemudian menggunakan dalam sebuah soal yang sederhana dan mungkin lebih tepatnya penuh dengan khayalan karena barangkali soal-soal ulangan yang mereka kerjakan tidak pernah terealisasi dalam kehidupan nyata. Maka dari itu, pembelajaran Fisika terintegrasi ditawarkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Permasalahan selanjutnya, bagaimana cara mengimplementasikan pembelajaran Fisika terintegrasi tersebut? Sebelum kita kaji lebih jauh ada baiknya kita ulas tentang standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Dalam Permendiknas RI nomor 23 tahun 2006 dijelaskan bahwa standar kompetensi digunakan sebagai pedoman untuk menentukan kualitas lulusan/ peserta didik. Kompetensi dasar adalah rincian dari standar kompetensi yang berupa poin-poin kompetensi yang harus dikuasai peserta didik agar dapat dinyatakan lulus atau telah menjalani proses belajar dengan baik. Masing-masing SK dan KD tersebut terbagi dalam berbagai mata pelajaran yang tersusun secara berjenjang mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Adapun konsep fisika terintegrasi adalah sebuah cara untuk mengkombinasikan berbagai SK dan KD dalam pembelajaran fisika dalam sebuah obyek kajian nyata yang ada di lingkungan sekitar sehingga mampu memicu pikiran peserta didik untuk berpikir holistik, realistis dan solutif. Fisika terintegrasi dapat diaplikasikan untuk jenjang pendidikan menengah yaitu SMA

Contoh aplikasi pembelajaran Fisika terintegrasi adalah pada pembahasan tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan dampaknya terhadap lingkungan. Adalah suatu kesalahan jika pembahasan nuklir hanya milik orang fisika. Dan lebih salah lagi jika nuklir hanya boleh dipelajari dalam fisika. Dengan model pembelajaran fisika terintegrasi, pembahasan tentang nuklir adalah sebuah pembahasan yang sangat menakjubkan karena di dalamnya akan ada observasi, eksplorasi, dan refleksi. Dimensi yang akan dirasakan para peserta didik tidak hanya bagaimana mereka memahami nuklir sebagai sebuah hal yang menakjubkan di alam, tetapi juga dimensi kekaguman terhadap kekuasaan Allah yang Maha Mengatur dan Maha Memelihara.

Bagaimana bentuk kombinasi keterpaduan SK dan KD dalam pembelajaran Fisika terintegrasi untuk kajian tentang nuklir tersebut? Berdasarkan uraian sebelumnya, model keterpaduan yang paling sesuai dalam mengkombinasikan SK dan KD untuk pembelajaran fisika teringrasi adalah keterpaduan jaringan (network), yaitu keterpaduan yang melibatkan SK dan KD dari berbagai mata pelajaran yang berbeda rumpun karena dalam pembahasan nuklir SK dan KD mata pelajaran ilmu alam, sosial, statistika, bahkan kajian keagamaan juga bisa masuk di dalamnya, meskipun kajian sains paling dominan di dalamnya.

Kemudian bagaimana membuat derivasi kajian tentang nuklir tersebut? Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat tabel derivasi agar kita lebih mudah merumuskan indikator dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Tabel identifikasinya misalnya adalah sebagai berikut:

 

No.

Derivasi Permasalahan

Disiplin Ilmu dan SK-KD

1.

Radioaktivitas dan perhitungan matematisnya FisikaSK :Menunjukkan penerapan konsep fisika inti dan radioaktivitas dalam teknologi dan kehidupan sehari-hariKD :Mengidentifikasi karakteristik inti atom dan radioaktivitas

2.

Reaktor Nuklir dan teknik pembangunan PLTN FisikaSK :Menunjukkan penerapan konsep fisika inti dan radioaktivitas dalam teknologi dan kehidupan sehari-hariKD :Mendeskripsikan pemanfaatan radoaktif dalam teknologi dan kehidupan seharihari

3.

Sumber daya alam – efisiensi sumber energy ……………..

4.

Analisis dampak lingkungan pembangunan PLTN …………………

5.

Analisis dampak sosial ekonomi sebelum dan sesudah pembangunan PLTN ……………….

6.

dst ……………….

Dengan adanya derivasi kajian di atas, maka pembahasan tentang nuklir menjadi lebih jelas dan terarah.

Selanjutnya, pembelajaran dapat direncanakan secara fragmented  berdasarkan table tersebut dengan diawali sebuah pertemuan untuk menjelaskan keseluruhan materi yang akan dibahas. Dengan cara ini, pembelajaran Fisika akan terasa menyenangkan dan bermakna. Siswa akan mengenal permasalahan di sekitarnya dalam dimensi yang kompleks karena pemahaman yang holistic.

Dalam realisasinya, guru fisika dapat mengajak guru lain secara tim untuk mengkaji permasalahan yang diluar kajian fisika sehingga sekaligus dapat menyampaikan konsep materi dalam disiplin ilmu yang lain. Jadi model pembelajaran ini tidak menutup kemungkinan terjadinya kolaborasi dan kombinasi antar mata pelajaran dalam satu pekan pembelajaran di sekolah.

Akhirnya, dengan pembelajaran fisika terintegrasi ini, akan lahir jiwa-jiwa baru yang sadar akan kondisi sekelilingnya dan kemudian diwujudkan dalam berbagai aksi kepedulian terhadap lingkungan. Inilah karakter yang seharusnya terbentuk dari siswa yang sudah sekian tahun sekolah. Bukan sekedar tahu dan pandai mengerjakan soal di atas kertas, tetapi bagaimana mereka turun ke lapangan dan menyelesaikan permasalahan sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan di bangku belajar. Fisika, kimia, biologi, matematika, ekonomi, geografi, dan yang lainnya hendaknya dapat dipahami sebagai ilmu yang saling melengkapi dan akan digunakan dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Ilmu-ilmu tersebut tidak dapat berdiri sendiri sebagai pedoman penyelesaian masalah yang kompleks, tetapi saling berkait menjadi sebuah solusi,

Demikianlah sedikit uraian tentang Implementasi pembelajaran fisika terintegrasi dalam rangka membentuk pemahaman holistic dan karakter sadar lingkungan bagi siswa SMA. Tulisan ini hanyalah sebagai pemicu otak kita untuk berpikir dan tidak akan berarti apa-apa ketika orang-orang yang membaca tulisan ini tidak tergerak hatinya untuk segera mengambil peran dalam memperbaiki kualitas pendidikan kita. Semoga tulisan ini dapat menjadi salah satu sumber inspirasi bagi para calon pendidik di negeri ini untuk melahirkan generasi-generasi penerus yang hebat dan bertanggung jawab atas lingkungannya.

Referensi:

Kemendiknas. 2009. Pendidikan Karakter : Kumpulan Artikel di Media Massa 2009. Jakarta : Kemendiknas

Permendiknas RI nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan beserta lampirannya

(diikutsertakan dalam lomba esai Science Week HMP Grafitasi 2011)