Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #4

Fisika Menginspirasi Pemimpin?

Ini adalah bagian akhir dari tulisan ini yang paling kontroversial. Berangkat dari fakta yang hingga hari ini terjadi di kampus UNS, prodi pendidikan fisika adalah prodi yang paling produktif yang menyumbangkan aktivis dan para pemimpin kampus. Pascakampusnya pun tak jarang mereka kembali memimpin berbagai institusi pendidikan atau bisnis. Mungkin jumlahnya bukan dominan atas yang lain. Tetapi ini dapat menjadi argumentasi bahwa orang-orang yang belajar eksak itu juga dapat menjadi pemimpin. Dan bukti ini menepis anekdot bahwa orang yang belajar eksak terlalu getol ujung-ujungnya hanya menjadi profesor, calon anak buah profesional dari orang sosial yang sukses menjadi manager.

Orang eksak pun dapat menjadi pemimpin. Orang yang jago dalam bidang fisika itu dapat menjadi pemimpin. Oleh karena itu alangkah menyedihkannya jika guru-guru fisika hari ini banyak yang “tersesat” dengan mengajarkan ilmu fisika sebagai komoditas murah dan sekedar bahan pemenuh kertas catatan siswa. Menjadi guru fisika itu adalah kebanggaan untuk melahirkan calon pemimpin baru yang humanis dan cinta lingkungan. Ia bukan semata-mata profesi, tetapi panggilan jiwa yang tumbuh dari niat tulus, kedalaman pemaknaan dan kejelasan visi untuk melahirkan pembelajar dan pemimpin. Semua berangkat dari hati, saat melangkahkan kaki ke sekolah, ingin seperti apakah siswa-siswa kita kelak.

Guru fisika yang baik adalah pemimpin yang memanusiakan para siswanya. Yang meletakkan dasar pemahaman ilmu alam. Yang mengajak siswa bermimpi besar tentang negaranya. Seperti Habibie, yang dikagumi karena mampu melahirkan para ahli fisika dan aeoronautika dalam waktu satu dekade saja. Mungkin orang lebih banyak mengenal beliau sebagai orang yang ahli membuat pesawat. Itu bukan hal yang mengagumkan, sebagai doktor bidang fisika dan teknik tentu membuat pesawat atau piranti teknologi seperti itu sudah bukan hal yang sulit. Jadi Habibie adalah sosok fisikawan yang berjiwa pemimpin. Teknokrat yang tidak hanya melek tentang mesin, tetapi juga melek tentang bangsa. Maka tak berlebihan ungkapan Presiden Soeharto ketika menguatkan Habibie agar mau pulang ke Indonesia dengan mengatakan, “Jika engkau membuat pesawat saja bisa, maka mengurus yang lain-lain tentu lebih bisa”.

Guru itu melahirkan manusia-manusia yang lebih ahli darinya, demikian ungkapan dari Indrawan Yepe, pendiri Quantum Convidence Indonesia. Guru itu melahirkan pemimpin. Guru itu melahirkan generasi bangsa yang cerdas. Yang akan meneruskan cita-cita para founding fathers ini, mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Guru itu adalah pahlawan yang selalu ada sepanjang bangsa itu masih ada. Maka sudah saatnya guru itu menjadi panggilan jiwa.

Tentang guru fisika, maka dia adalah bagian dari pahlawan bangsa itu. Yang akan membebaskan bangsa dari jerat impor dan ketergantungan terhadap asing. Yang akan mendidik para siswanya cinta produk dalam negeri. Yang menggunakan logika sederhana bagaimana mengelola lingkungan ini dan merekayasa untuk kebaikan masyarakat. Yang meneruskan cita-cita Habibie, tentang kemandirian bangsa yang sesungguhnya lewat industri strategis.

Masih tentang guru fisika, ternyata mendidik para siswa dan mengajari mereka belajar fisika itu tidak hanya untuk menjadikan mereka mengerti rumus tentang mekanika klasik hingga mekanika kuantum. Tetapi adalah menjadikan mereka mengerti untuk apa rumus-rumus itu digunakan kelak. Dan itu tandanya menjadi guru fisika itu tidak sekedar mengajari siswa membuat rumus, memasukkan angka dan menghitungnya, tetapi mengkader mereka menjadi para pemimpin selanjutnya. Maka, jika hari ini masih ada guru fisika yang “tersesat”, sebaiknya segera bangkit untuk melakukan perlawanan atas berbagai ketidakmapanan ini. Guru fisika adalah figur pemimpin yang dinantikan negeri ini untuk mencetak orang-orang seperti Habibie di masa nanti. Siapakah yang akan mengambil peran penting ini?

(selesai)

Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #3

Guru Fisika Gaya Baru

Memimpikan sosok guru fisika yang inspiratif dan inovatif hari ini seharusnya sudah bukan api jauh dari panggangnya lagi. Ketersediaan informasi dan berbagai fasilitas yang ada adalah solusi untuk memutus mata rantai guru fisika gaya lama kepada guru fisika gaya baru. Guru yang akan menjadikan siswanya lebih baik dan lebih kompeten dari pada para gurunya. Guru yang akan menjadi inspirasi siswanya ketika mereka telah meraih mimpinya.

Fasilitas internet yang sangat mudah saat ini memungkinkan para guru untuk mengakses informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Buku pegangan yang hanya berisi diktat rumus dan contoh terbatas sebaiknya disempurnakan berbagai sumber yang ada. Siswa tidak membutuhkan terlalu banyak informasi pendukung, tetapi yang penting mereka dapat memahami maksud dan tujuan pembelajaran sehingga mereka mendapatkan pemahaman seperti yang telah digariskan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Ada seorang dosen yang pernah mengatakan bahwa mempelajari fisika itu tidak hanya untuk sebuah analisis empiris matematis saja, tetapi bagaimana kita mengeksplorasi sisi lain dari maksud dan penciptaan Allah di alam semesta ini. Beliau pernah membahas tentang teori kinetika gas. Beliau membuat perumpamaan gas monoatomik, diatomik, dan poliatomik dengan kebebasan hidup dari masa remaja hingga dewasa. Beliau sisipkan pelajaran moral tentang perbedaan gas monoatomik dan diatomik yang dikorelasikan dengan kebiasaan para pemuda hari ini yang mudah pacaran dan menghabiskan masa muda dengan kesia-siaan. Di kesempatan lain, beliau pernah mengkritik penyalahgunaan hukum Newton oleh para pasangan muda-mudi hari ini dalam mengendarai sepeda motor. Mungkin itu hanya pembicaraan kecil, tapi itulah yang membuat fisika itu terasa menarik dan bermakna.

Ketika pembelajaran fisika adalah tebar inspirasi. Ketika pembelajaran fisika adalah diskusi dan tanya jawab yang terkelola. Ketika pembelajaran fisika adalah proyek sosial untuk pemberdayaan masyarakat melalui teknologi tepat guna. Ketika pembelajaran fisika adalah saat yang tepat untuk melihat kebesaran sang Pencipta lewat birunya langit dan hiasan bintang-bintang di malam hari. Ketika pembelajaran fisika adalah tentang bagaimana memimpin dan mengelola kehidupan ini dengan efektif seperti kesederhanaan Lagrange dalam menyelesaikan kompleksitas ayunan. Maka pembelajaran fisika itu akan menjadi pelajaran yang selalu dikenang sepanjang masa. Dan para gurunya adalah para master yang menjadi rujukan. Memimpikan guru fisika gaya baru, bukan lagi mimpi semata, tapi tantangan yang harus segera diwujudkan untuk memberikan kontribusi dalam perbaikan pendidikan Indonesia.

…..bersambung

Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #2

Menelaah yang Terabaikan

Ada tiga pertanyaan yang dapat kita ajukan tentang “ketersesatan” guru-guru fisika hari ini, yaitu niatnya mengapa ingin menjadi guru fisika, kemudian apa yang telah ia dapatkan selama kuliah di kampus, dan yang terakhir adalah visi saat dilantik (baca : diwisuda) menjadi guru fisika.

Pertanyaan pertama, niat menjadi guru fisika. Sebelumnya mari kita kaji sebuah hadits dalam kitab Hadits Arba’in tentang niat. Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya akan mendapatkan atas setiap yang diniatkannya. Demikian terjemah hadits tersebut pada bagian awalnya. Jadi niat seperti apakah yang tertulis di hati para guru hari ini, khususnya guru fisika. Jika kita berkata, “hanya Allah yang tahu, maka selesailah pembahasan masalah ini. Namun sebaiknya kita tidak berhenti di sini, marilah kita lanjutkan dari dampak niat yang terlihat di luar, dengan mata kepala kita.

Apa pendapat kita jika guru mewajibkan siswa mempunyai buku pegangan dan berkata, “Anak-anak, buka halaman sekian, baca dan pelajari baik-baik, kemudian kerjakan latihan di akhir bab ya, Bapak mau ada keperluan di luar sebentar, nanti sebelum pelajaran usai Bapak akan kembali”? Jika itu sering dilakukan oleh sang guru, tentu kita akan berkata bahwa guru tersebut tidak menjadi bertanggung jawab. Berniatkah guru yang seperti itu dalam mendidik? Sulit rasanya kita berhusnudzan untuk tipe guru yang menggunakan media sebagai alibi untuk menyembunyikan kemalasannya menjalankan amanah.

Diakui atau tidak, hari ini kita masih mendapati guru-guru yang seperti itu dalam jumlah banyak, bahkan yang sudah sertifikasi sekalipun. Alih-alih sebagai sarana peningkatan profesionalitas guru, sertifikasi justru menjadikan guru semakin konsumtif, hedonis dan gila fasilitas. Guru menjadi ketergantungan dengan banyak hal mulai dari media hingga kondisi siswa. Kalau medianya tidak baik, kualitas pembelajaran menjadi menurun drastis, alasannya tidak didukung oleh media. Kalau siswanya tidak antusias, guru menjadi malas mengajar. Ini adalah indikator-indikator yang kasat mata untuk kita melihat seberapa besar niat guru mengajar, lebih-lebih mengajar fisika yang sudah dipersepsikan sulit lagi menyulitkan.

Yang kedua, apa yang telah didapatkan para guru tersebut selama dikampus. Materi fisika? Pada faktanya mungkin tidak lebih dari 40 persen atau bahkan lebih kecil dari itu materi fisika selama perkuliahan di kampus yang benar-benar menjadi bahan baku untuk diolah dan disampaikan kembali ke siswa. Lalu apa yang sebenarnya paling penting dari sebuah perkuliahan tersebut? Yang paling penting dari sebuah proses perkuliahan di kampus adalah spirit belajar dan melakukan penggalian inspirasi sebanyak-banyaknya.

Jika guru fisika hari ini tak banyak membangkitkan semangat belajar siswa, mungkin karena selama kuliah di kampus memang tidak banyak termotivasi untuk belajar. Belajar mereka hanya untuk sebuah hal yang pragmatis. Belajar yang tidak menggunakan perasaan dan nurani. Memenuhi tugas dosen saja. Dan bukan sebagai panggilan jiwa. Akibatnya, makna dan inspirasi yang diperoleh selama kuliahpun tak lebih dari seujung kuku, yang akan mudah hilang ketika uang dan kedudukan telah menggelayuti.

Yang terakhir, apa visi para guru fisika ketika dilantik (baca : diwisuda)? Janji apakah yang mereka ucapkan dalam hati saat toga telah mereka kenakan dan gelar sarjana secara resmi disematkan? Menarik sekali jika kita membaca buku-bukunya Munif Chatib, terutama yang berjudul “Gurunya Manusia”. Di sana dipaparkan inspirasi tentang membangun kepribadian sebagai guru yang benar-benar guru, gurunya manusia. Salah satu spirit yang beliau sampaikan adalah guru itu manusia yang tak pernah berhenti untuk belajar. Berkaitan dengan visi di atas, masih banyakkah guru-guru fisika hari ini yang bersedia untuk meluangkan banyak waktunya berkreasi dan melakukan eksplorasi untuk membedah berbagai fenomena alam bersama para siswanya? Yang banyak justru paradoks, guru-guru yang terlalu mengalami tekanan karena target nilai kelulusan fisika yang dipatok tinggi oleh sekolah sehingga mereka seolah-olah beralih menjadi pengajar matematika. Padahal fisika itu bukan matematika.

Tekanan sekolah sebagai implikasi kebijakan pemerintah terkait ujian nasional, sarana pendukung dari buku-buku pelajaran yang mengamini, menjadi tantangan tersendiri para guru fisika hari ini untuk tampil idealis sesuai visi ideal seorang guru fisika saat diwisuda. Sanggupkah mereka melawan berbagai tekanan itu untuk tetap menjadi gurunya manusia yang menebarkan ajaran fisika secara benar sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada? Salah seorang doktor di bidang pendidikan IPA di kampus UNS, Dr. Sarwanto, S. Pd., M. Si. berkata bahwa idealnya seorang guru memiliki perangkat mengajar sendiri yang kreatif dan mampu menjadi inspirasi bagi siswanya.

Demikianlah telaah sebuah perkara yang sering terabaikan terkait dengan kesatuan niat, ilmu, dan visi dalam menjadi guru fisika. Menjadi guru itu berkaitan dengan niat, apakah itu profesi atau panggilan jiwa. Menjadi guru itu membutuhkan ilmu yang dalam, apakah itu sekedar pengertian atau pemahaman hingga sampai pemaknaan. Menjadi guru itu mengharuskan mereka harus bervisi untuk menanamkan dasar-dasar belajar yang baik bagi siswanya, terutama belajar tentang hidup sesuai dengan perspektif dan bidang yang diajarkan. Berkaitan dengan fisika, maka visi yang harus di bangun seorang guru dalam mendidik adalah membentuk siswa-siswa mereka yang dekat dengan alam, peduli lingkungan, dan kreatif dalam mengelola lingkungan berdasarkan konsep interaksi antara benda mati yang telah mereka pelajari.

Jika ketiga hal di atas tidak terpatri di sanubari para guru fisika hari ini, memang tidak salah jika “ketersesatan” terus merajalela dan menjadikan para siswa sebagai korban ketidakjelasan pembelajaran. Dan parahnya, mereka menjadi ikut pragmatis lantaran tidak mendapat penguatan dan motivasi yang benar tentang belajar fisika.

….bersambung

Kategori
Pendidikan

Menggugat Ketersesatan Guru Fisika Hari ini #1

Siapa yang tak mengenal pelajaran fisika? Sejak SD kita sudah mengenal IPA. Ketika SMP, kita kemudian mengenal fisika sebagai bagian dari IPA. Seterusnya ketika SMA hingga akhirnya di perguruan tinggi. Konon, pelajaran fisika adalah pelajaran yang sangat ditakuti oleh para siswa bahkan terkadang sampai dibenci hingga mati-matian. Terkadang pernah terungkap cerita bagaimana seorang ayah rela mengucurkan dana yang besar untuk menguatkan kemampuan anaknya mengerjakan soal fisika melalui bimbingan belajar terfavorit. Dan biasanya itu diiringi sekalian dengan belajar matematika.

Ada apa dengan fisika? Di sini kita tidak akan berbicara banyak tentang materi fisika. Kita tidak akan membahas tentang elektron yang didefinisikan dalam fungsi gelombang di alam elektron. Tetapi kita akan membahas arti penting membelajarkan fisika dan menjadikannya sebagai salah satu pelajaran untuk membentuk kepemimpinan siswa.

Fisika bukan Matematika

Ada sebuah cerita tentang tindakan seorang guru besar di Pendidikan Fisika UNS dalam meluruskan persepsi pembelajaran fisika. Ketika itu beliau mengisi kegiatan PLPG guru, beliau menampilkan aplikasi hukum Archimedes dalam sebuah praktikum sederhana yang memanfaatkan air dan plastisin. Beliau ingin menunjukkan bagaimana benda itu melayang. Tiba-tiba ada guru yang menyeletuk, “Pak, kalau seperti itu terus, kapan pelajaran fisikanya?” kata seorang guru peserta PLPG. Mendengar pertanyaan itu beliau menatap para peserta dengan sorot mata tajam dan bertanya, “Saudara guru fisika atau matematika?” kemudian beliau berlalu dan materi pun dilanjutkan oleh dosen pendamping beliau yang lebih muda.

Kisah di atas hanyalah gambaran bagaimana guru fisika hari ini mendidik para siswanya. Memang tidak semuanya, tetapi saya yakin sebagian besar guru fisika telah memulai pembelajarannya dengan sebuah kesalahan, yaitu mentransformasikan pelajaran fisika menjadi matematika. Fisika adalah kumpulan rumus yang rumit dan membosankan. Belajar fisika adalah belajar bagaimana menghafal rumus dan menggunakannya dalam menghitung soal-soal. Yang paling menyedihkan, pembelajaran fisika di kelas tertinggi baik SMP atau SMA semua difokuskan untuk mengasah kemampuan siswa menjawab soal demi tercapainya nilai Ujian Nasional yang tinggi secara kolektif agar reputasi sekolah meningkat. Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya, tapi rasanya sia-sia jika tiga tahun siswa belajar fisika hanya untuk menjadi pekerja soal yang abstrak lagi muskil.

Pertanyaan balik guru besar kepada peserta adalah ekspresi kemarahan sekaligus kekecewaan pada guru yang mendapat amanah besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana pembelajaran fisika akan menyenangkan jika guru-gurunya saja tidak jauh berbeda dengan dosen matematika yang hanya mengajarkan simbol, angka dan persamaan. Inilah titik permasalahan mendasar yang menjadikan fisika sampai hari ini mata pelajaran yang ditakuti banyak siswa hingga menjadikan mereka malas belajar. Padahal, kata Prof. Yohannes Surya fisika itu seharusnya menyenangkan. Karena fisika adalah ilmu yang mengajak para siswa mengeksplorasi kejadian yang ada disekitarnya dari benda-benda mati yang saling berinteraksi. Dan pada akhirnya itu mengantarkan kita pada kekaguman kepada yang menciptakan itu semua, dialah sang Pencipta alam raya ini.

Di samping itu, menurut pemerintah dalam hal ini kemendikbud, melalui dikdasmen-nya menyatakan bahwa pembelajaran fisika itu sendiri dilakukan untuk membekali peserta didik dasar pengetahuan tentang hukum-hukum kealaman yang penguasaannya menjadi dasar sekaligus syarat kemampuan yang berfungsi mengantarkan para siswa mencapai kompetensi program keahliannya. Di samping itu mata pelajaran fisika mempersiapkan siswa agar dapat mengembangkan program keahliannya pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Penguasaan mata pelajaran fisika memudahkan para siswa menganalisis proses-proses yang berkaitan dengan dasar-dasar kinerja peralatan dan piranti yang difungsikan untuk mendukung pembentukan kompetensi  program keahlian.

Jadi pembelajaran fisika yang ideal itu diarahkan sesuai dengan visi dan harapan siswa ke depan. Maka, pembelajaran fisika yang ideal itu tidak sekadar untuk menghabiskan waktu membahas rumus, tetapi juga memotivasi dan menempatkan siswa untuk berpikir tentang cita-citanya nanti setelah selesai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mungkinkah itu terjadi jika, banyak “ketersesatan” yang dialami oleh banyak guru fisika hari ini?

…..bersambung