Kategori
Misi Perubahan

Empat Partai Abadi di Kampus Kita #2

Jika perguruan tinggi yang katanya tempatnya kaum cendikia dan para pemimpin bangsa saja isinya mayoritas orang-orang apatis dan netral, maka mau ambil dari mana lagi nih pemimpin-pemimpin bangsa berikutnya. Atau ambil dari Amerika saja (jadinya manut banget sama Pak Obama). Atau ambil dari Jepang (rajin impor Honda jadinya). Atau ambil dari Malaysia (rajin ngirim TKI sebagai barternya). Karena partai-partai yang ada di negeri ini hanya diisi oleh golongan partai nomor dua saja, yaitu pendukung ideologi saja, bukan pemikir. Mereka sibuk dukung sana dukung sini, mana yang enak dan mana yang duitnya banyak. Partai netral dan apatis kemudian membuat resolusi golput buta, ya buta karena mereka asal pukul setiap hal yang berbau politik tanpa mencermati siapa figurnya atau apa gerakannya. Pokoknya nggak ya nggak, begitu saja (mirip anak kecil).

Itulah empat partai aneh yang telah menjamur di kampus kita. Mari bertanya kita saat ini menjadi pendukung yang mana. Jika kita terbiasa resah dan kritis serta berinisiatif macam-macam maka mungkin kita tepat di golongan pertama. Kalau kita bingungan dan cenderung ikut mana yang ngetrend atau memang karena terlalu percaya berat sama orang yang mendoktrin kita berarti ya mungkin di golongan kedua. Kalau kita cenderung ga mau ambil resiko, atau kemudian memilih-milih mana yang menguntungkan kantong kita tanpa peduli skemanya secara komprehensif yah mungkin lebih tepat di golongan tiga. Apalagi kalau kita udah masa bodoh dan tidak ingin berbuat apa-apa selain nge-date dan pacaran saja (padahal harusnya masa-masa belajar dan berkarya), bilang I Love You melulu (padahal belum nikah), nge-game melulu (padahal udah bukan anak kecil).

Ada satu hal yang perlu di waspadai. Pertumbuhan keempat partai aneh di kampus tersebut sebenarnya akan normal ketika partai mahasiswa Ideologis berkuasa dengan konflik yang minimal. Ketika konfliknya banyak hingga melibatkan partai mahasiswa Pengikut ikut bertikai, kemudian partai mahasiswa Netral ikut komentar kemudian yang kecewa memilih keluar dan menjadi pendukung partai mahasiswa Apatis ini berarti ada yang tidak beres. Apalagi jika kemudian partai mahasiswa Ideologis ini terpecah dan benar-benar menjadi golongan yang saling menghancurkan, kemungkinan ada pihak eksternal yang turut bermain untuk mengacaukan keadaan. Pihak eksternal ini tentunya bermain karena partai Ideologis ini berkuasa terlalu kuat dan berpotensi melahirkan negarawan yang siap untuk melibas kepentingan yang merugikan negara ini. Tak segan-segan mereka mengirim agen-agen terbaiknya untuk menjadi anggota setiap partai agar saling bertikai baik dalam internalnya maupun di luarnya.

Jika Anda bukan penyuka bahasan politik, aku minta maaf. Ini juga bukan tulisan politik seperti yang sering dibicarakan orang-orang hari ini. Maaf aku juga tidak tertarik membahas politik partai yang lagi rebutan uang dan anggaran belanja negara hari ini. Aku berharap generasi di partai-partai itu yang masih seperti balita segera tamat riwayatnya dan digantikan oleh negarawan-negarawan muda dari kampus yang masih tersisa hari ini. Entah masih mencukupi jumlahnya atau tidak, tapi aku yakin ketika ada yang berkuasa kembali dia akan mampu menghidupkan semangat cinta tanah air lagi, seperti Jepang yang bangkit dari kejatuhan Hiroshima dan Nagasaki, seperti Jerman yang bangkit setelah tragedi Nazi berkuasa.

Jika kita menganggap Orde Baru adalah rezim hantu yang pernah berkuasa, maka Reformasi ini adalah jawabannya. Atau sebenarnya kita ketika itu telah akan berjaya, tetapi kemudian segerombolan pengkhianat bangsa ini kemudian membunuh potensi anak bangsa berikut para pemimpinnya yang masih mencintai ibu pertiwi. Tak perlu tunjuk hidung siapa pun. Semoga kita bisa memetik hikmah dari perjalanan bangsa kita yang terus menuju titik nadir ini. Moralnya semakin hancur, kepemimpinannya tak lagi berwibawa dan kehilangan integritas. Masihkah ada yang tersisa? Masih, yaitu harapan kita, yang masih bisa kita ceritakan kepada adik-adik kita di sekolah, di TPA, di halaqah, di forum-forum, dan kepada anak-anak kita ketika kita berhasil membangun keluarga bersama rekan seperjuangan kita.

Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #3

Negeri Sesempit Media Massa

Berikutnya adalah dengan menjamurnya berbagai media massa. Kita hitung berapa banyak stasiun televisi yang ada sekarang baik dalam skala lokal dan nasional. Belum lagi surat kabar. Ditambah lagi dengan berbagai media online. Hari ini tiap saat kita dijejali informasi mulai dari yang penting hingga yang sangat tidak penting bahkan yang sampah sekalipun juga terkadang berhasil terakses di telinga dan mata kita. Terkadang membuat kita akhirnya terpengaruh juga dan terkadang juga percaya pada isinya tanpa klarifikasi lagi.

Pertanyaannya, apakah media-media itu sekarang benar-benar independen dan adil dalam memberitakan? Aku lebih percaya kata-kata Mathew Farel dalam film Die Hard IV yang mengatakan hampir semua media-media pulik itu sekarang sulit dipercaya karena semua telah dibajak untuk kepentingan. Yah, di negeri ini media tidak lagi idealis seperti dulu ketika mereka sepakat menentang kezaliman penguasa. Sekarang media adalah ladang bisnis yang mendukung demokrasi pencitraan. Siapa yang memiliki media, maka media itu akan menjadi jalan kampanye paling singkat dan murah di antara kampanye model yang lain untuk kebutuhan meraup simpati dan dukungan dalam waktu yang relatif singkat.

Hari ini, pemberitaan baik sulit sekali dijumpai di negeri ini. Di televisi, koran, dan media berita online hanya memberitakan seputar korupsi, anarkisme, tawuran, dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Hari ini mereka seolah-olah bersatu untuk menakut-nakuti bangsa ini dengan sebuah kondisi yang teramat parah dan rusak. Generasi muda hanya dicekoki dengan sinetron-sinetron murahan dan roman picisan serta tayangan musik yang tidak ada habisnya. Masyarakat semakin jauh dari membaca buku dan berdiskusi dengan alam karena SMS dan chatting telah membelenggu hari-hari mereka untuk banyak berpikir dan bersyukur kepada Allah atas anugerah negeri yang teramat indah dengan kekayaan yang melimpah ruah.

Masyarakat dengan mudah dibalik opininya lewat strategi pemberitaan media yang intensif dan disajikan secara cantik memikat. Berbagai operasi intelejen dijalankan untuk merekayasa segala hal di negeri ini. Sebuah operasi mengerikan yang tidak akan pernah bisa terlacak antara ujung pangkalnya sehingga berbagai kekacauan yang telah didesain ini dapat berjalan seperti keinginan sang perancang tanpa ketemu benang merahnya. Semua terus berjalan hingga banyak korban berjatuhan atas nama politik yang diselubungkan dalam berbagai tuduhan mulai dari korupsi hingga tindakan lain yang membuat masyarakat luas marah akibat opini yang telah dibangun sebelumnya oleh media. Hari ini rasanya hampir mustahil mempercayai media sebagai dasar hukum untuk mengambil sebuah keputusan dan kebijakan. Hari ini itu semua terasa sekali menjadi sebuah omong kosong. Omong kosong yang membuat bangsa ini kacau dan terus mengalami kemunduran.

Jadilah negeri ini sesempit media. Negeri yang seakan-akan hanya berisi kerusakan. Padahal di luar sana kita masih melihat harapan berupa bentangan kekayaan alam yang hari ini harus kita selamatkan sebelum terus dicuri oleh orang-orang asing lewat para pengkhianat bangsa ini. Kita juga masih bisa melihat semangat anak-anak sekolah di pelosok-pelosok desa. Mereka ceria dan terus menerus berjalan tiap pagi menyusuri bukit dengan seragam merah putih. Masih ada mereka, bangsa ini masih punya harapan.

Aku sangat terharu ketika pernah mengikuti kuliah umumnya pak Anies Baswedan. Beliau berbicara tentang Indonesia Mengajar sebagai sebuah gerakan yang tidak akan dibesarkan seperti ormas. Biarlah tetap konsisten untuk mencetak para guru yang mendapatkan kehormatan bangsa untuk menunaikan janji kemerdekaan menebarkan inspirasi ke pelosok-pelosok negeri. Beliau berharap Indonesia Mengajar menginspirasi siapa pun untuk bangkit menunaikan salah satu janji kemerdekaan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Baik bergabung secara resmi menjadi pengajar muda dan penyala Indonesia, atau membuat gerakan sendiri yang memiliki prinsip yang sama. Tidak masalah, semua berhak untuk mengambil pahala sebesar-besarnya dari Allah.

Mari kita jadikan kicauan-kicauan media itu sebagai kerikil-kerikil kecil hidup dan lebih banyak membangun kepercayaan dengan sesama saudara kita yang masih memiliki komitmen kejujuran untuk selalu siap berjuang dan memandang Indonesia ini dengan optimisme. Yang tidak hanya berpikir bagaimana hidup untuk dirinya sendiri tetapi terus berbagi dengan segala yang dimiliki. Mari kita hiasi telinga kita dengan berbagai optimisme. Dengan ayat-ayat Quran yang kita pahami maknanya, dengan senandung-senandung yang penuh makna dan optimisme, dengan kata-kata mutiara yang menyejukkan.

Indonesia ini luas, mari kita katakan pada Allah, “Ya Allah, izinkan hamba-Mu ini melihat negeri yang luas ini, izinka hamba ya Rabb untuk melihat indahnya negeri yang kau ciptakan seakan potongan tanah syurga ini“. Dan di sinilah aku menemukan benang merah mengapa Habibie begitu bersemangat membangun industri strategis pesawat di tanah air. Bangsa ini harus mengerti wawasan nusantara dengan mata kepala mereka sendiri, bukan hanya dari mulut para gurunya yang mengajar kewarganegaraan. Sudah bukan zamannya lagi di era yang modern ini. Mungkin lewat online saja sebenarnya bisa, tetapi ketika kita menatap langsung dan menjejakkan kaki di seluruh penjuru tanah air, maka kita akan tahu bahwa kita masih punya kekayaan yang tak ternilai harganya. Tanah air ini masih bisa menghidupi untuk seribu tahun lagi.

bersambung..

Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #2

Bangsa Kanak-Kanak

Di antara konsekuensi bangsa yang semakin tua adalah terwujudnya sebuah bangsa yang dewasa. Aku belajar banyak dari perjalanan selama sebulan di Jerman. Mereka adalah orang yang sangat bangga dengan karya bangsa sendiri. Meskipun pemerintah tidak membatasi berbagai impor, tetapi mereka memilih BMW sebagai mobil kesayangan mereka. Jangan ditanya masalah kereta api dan pesawat terbangnya, jelas buatan sendiri. Apa lagi? Yah mereka begitu menghargai itu semua sebagai warisan terbaik putra-putra bangsa mereka. Maka tidak mengherankan jika sekarang Jerman menjadi satu-satunya negara yang paling kuat ekonominya di Eropa.

Dalam hal sejarah, mereka telah mengubur rapat-rapat catatan buruk sejarah mereka. Meninggalnya Kaisar Barbarosa ketika tercebur dan tenggelam di Sungai Rhein sebelum sampai ke medan perang, kisah NAZI berkuasa dengan Hitlernya semua telah dikubur dalam-dalam dari ingatan mereka hingga pada generasi mereka. Mereka tahu bahwa sejarah-sejarah kelam itu akan meracuni generasi bangsa Jerman dan selayaknya dikubur dalam-dalam. Masih banyak cerita kejayaan yang bisa mereka ungkapkan di dalam kelas, sebagai pengantar tidur dan sebagai bahan film yang selalu ditonton anak-anak. Bangsa ini telah dewasa untuk terus bangkit membangun dan hidup dalam kesejahteraan.

Bagaimana dengan bangsa kita? Membaca tulisan dari Uda Yusuf tentang Demokrasi Tanpa Gagasan akan membuat kita geleng-geleng kepala. Dalam tulisan yang singkat dan renyah itu, Uda membagi fase demokrasi di negeri kita mulai dari demokrasi totaliter, demokrasi transaksional, demokrasi pencitraan, dan seharusnya kita berusaha untuk mencapai demokrasi tranformasi gagasan. Demokrasi totaliter telah terjadi di mana siapa yang berkuasa dapat mengatur dengan segala kekuatannya, kemudian ketika beberapa faksi semakin menguat maka sistemnya menjadi transaksional, dan ketika media telah menjamur maka kenarsisan telah mewarnai demokrasi kita. Semua harus dibayar mahal karena memang semua membutuhkan biaya besar untuk setiap fase demokrasi itu dengan harapan kelak tercipta demokrasi tranformasi gagasan yaitu suatu kondisi ideal di mana masyarakat mengerti visi dan misi pemimpinnya dan pemimpinnya memerintah dengan transparansi dan tanggung jawab.

Jika negeri kita tetap stagnan dalam demokrasi pencitraan, apalagi juga masih berkelindan dengan demokrasi transaksional terlalu lama, maka cita-cita menuju demokrasi tranformasi gagasan seperti angan yang mustahil. Bagaimana tidak? Kebodohan akan berubah menjadi pembodohan. Kesenjangan sosial akan berubah menjadi pensenjangan sosial. Kemiskinan akan berubah menjadi pemiskinan. Dan masih banyak lagi ke-an menjadi pe-an yang lain. Dan ini konsekuensinya adalah sistematika baru dalam babak penjajahan negeri ini. Memangnya negeri kita telah merdeka? Kata siapa? Bung Karno pun ketika telah menjabat sebagai presiden tetap berteriak merdeka bahkan setelah proklamasi kemerdekaan. Jadi kata merdeka itu sebenarnya adalah seruan bagi tiap diri untuk melakukan pembebasan dan memerdekakan dirinya dari penjara kebodohan diri. Untuk tunduk mengabdi kepada Yang Maha Perkasa, yang pantas mendapatkan pengabdian dari hamba-Nya.

Melihat berbagai pertikaian para elit negeri ini yang kemudian juga diikuti oleh para mahasiswa yang ikut-ikutan berfaksi dalam berbagai pergerakan mahasiswa sekarang semakin menjauhkan mereka dari visi besar bangsa Indonesia seperti yang telah tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Saling singkir menyingkirkan dalam masalah kekuasaan mudah saja dilakukan tanpa sebuah komunikasi yang elegan. Sikap apakah semacam ini? Bahkan anak-anak yang hobi bertengkar pun segera baikan ketika air mata mereka telah kering. Ini sikap yang jauh dari kedewasaan, dan jauh lebih kanak-kanak dari anak-anak yang masih sekolah di taman kanak-kanak. Maka bangsa ini harus membayar mahal dengan persepsi buruk masyarakat, politik dipersepsikan menjadi sesuatu yang kotor dan mengerikan. Masyarakat selalu resah dan tidak fokus lagi untuk bekerja keras membangun bangsa ini. Semua perhatian tertuju pada masalah kekisruhan kepemimpinan yang seolah tidak ada ujung penyelesaiannya.

Bagi yang merasa mahasiswa, sikap apakah yang telah kita ambil sejauh ini? Apakah kita ternyata menjadi generasi bangsa yang mengalami degradasi sikap menuju anak-anak PAUD atau bahkan yang lebih kecil dari itu. Ayolah, ada banyak pilihan hidup ini. Mau kuliah melulu, kemudian kerja, ga peduli di perusahaan asing atau di mana pun asal gajinya tinggi. Atau menceburkan dalam sebuah ruang gerakan tanpa sebuah bangunan karakter yang jelas sehingga terjebak dalam fanatisme buta tanpa sebuah visi besar untuk bangsa dan kemaslahatan umat ini. Masa muda ini penuh banyak pilihan, tetapi pasti hanya akan ada satu pilihan yang terbaik. Dan pilihan itu ada di hati masing-masing kita sebagai mahkota yang akan kita genggam sampai mati dan persembahkan di hadapan Allah ketika hari pertanggungjawaban nanti.

Kita adalah bangsa yang telah lama, bukan lagi balita atau kanak-kanak. Mari sudahi kebiasaan saling membunuh saudara sendiri. Penjajah Indonesia itu bukan Belanda atau Jepang, tetapi para pengkhianat bangsa, darah daging kita sendiri, kulitnya sama dengan kita, bahasanya sama, dan bahkan terkadang lebih ramah dari kita. Atau mungkin kita ini salah satu bibit selanjutnya. Naudzubillah mindzalik.

Yang hari ini menikmati fasilitas negara dengan belajar di sekolah dan kampus negeri, mari kita renungkan apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini (khususnya rakyat) karena jerih payah merekalah yang telah membiayai kita. Yang hari ini telah menikmati beasiswa dari pemerintah, balas budi apa yang telah kita persembahkan untuk negeri ini. Yang hari ini menjadi pegawai negeri, sudahkah kita menjadi pelayan sejati untuk negeri ini? Melayani rakyat dengan sepenuh hati sesuai janji yang telah diucapkan dalam pelantikan. Jika belum ada, maka pantas dicatat bahwa kitalah benih-benih baru penjajah negeri ini yang nanti akan mudah sekali bergandeng tangan dengan para perampok negeri ini. Yang suka dengan fasilitas mewah tapi tak peduli siapa yang memberi. Yang masih bisa membedakan dan merasakan adanya tanggungjawab di balik segala fasilitas yang kita rasakan ini, maka semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk tetap menapak di jalan indah ini, dalam idealisme yang realistis dengan “furqon” yang senantiasa terjaga.

bersambung ….

Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #1

Ini adalah hari-hariku yang cukup kritis. Mengapa? Aku sedang tidak mood melanjutkkan 3 tugas akhirku yang tertunda akibat pilihan untuk fokus di organisasi dan studi di Jerman selama sebulan. Dan sekarang ternyata aku belum bisa memutuskan untuk segera melanjutkan kembali karena urusan di penghujung amanah ini masih menyita perhatianku khususnya keinginan yang besar untuk menatap adik-adik dapat melanjutkan roda pemerintahan (gayanya kayak ngatur negara saja) dengan sebuah visi yang kuat. Aku ingin masa setelahku adalah pembuktian untuk memutus mata rantai kejumudan, ketakutan dan segala tradisi klasik cara orang berorganisasi. Sekarang bukan lagi saatnya terjebak pada tradisi dan stagnasi, tetapi terus berinovasi untuk masa depan berdasarkan pembelajaran sejarah yang panjang dan dalam.

Akhirnya aku memutuskan untuk menulis risalah panjang tentang opini bebasku untuk negeri ini. Negeri yang telah membesarkanku dalam bangunan pemikiran yang sangat kaya dan komprehensif. Negeri yang seburuk dan sememalukan apa pun di mata orang barat, namun aku yakin suatu saat akan bangkit lagi mengulang masa kejayaan Sriwijaya, Majapahit, hingga masa Perjuangan Diponegoro yang gagah berani itu. Dan inilah Indonesia dalam benakku. Benak seorang mahasiswa strata satu yang masih mencari banyak guru untuk belajar tentang hidup ini.

Menengok Sejarah

”Bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa menghargai jasa para pahlawannya“, itulah kata-kata yang masih sering kita ingat ketika SD dahulu, terutama waktu pelajaran sejarah dan kewarganegaraan. Yah, kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh warisan sejarah yang mendahuluinya serta persepsi generasi itu dikemudian hari terhadap jejak hidup pendahulunya.

Aku pernah membaca sebuah tulisan panjang dari Indragani, seorang pemerhati sejarah yang reputasinya kurang ternama. Meskipun bukan orang terkenal, tetapi aku tergelitik dengan statemennya ketika beliau mengulas tentang asal mula moyang bangsa Indonesia. Menurutnya kita adalah bangsa pelarian, yaitu bangsa Proto dan Deutero Melayu yang terusir dari dataran Yunan hingga ke kawasan nusantara. Itulah mengapa kata beliau mental bangsa kita itu pengecut, karena kita bangsa pelarian yang berstatus kalah.

Benarkah? Tidak usah berdebat masalah pendapatnya pak Gani, tetapi menarik juga untuk mengulas masalah pelarian orang-orang Proto dan Deutero Melayu dari dataran tinggi Yunan. Karena aku bukan ahli sejarah, aku hanya berpedoman pada buku sejarah SMA yang pernah kubaca bahwa orang-orang itu hijrah secara bergelombang menuju kawasan nusantara ini hingga akhirnya menjadi nenek moyang kita. Jika hijrah itu karena terusir, lantas apa itu menjadi latar belakang bangsa kita menjadi bangsa pengecut seperti sekarang ini? Kurasa tidak. Karena kaum Mujahirin pun hakikatnya terusir dari tanah kelahirannya, tetapi mereka rela meninggalkan seluruh kepunyaan mereka untuk menuju Allah dan Rasulnya dan kita semua tahu hasilnya, Islam akhirnya mewarnai peradaban di muka bumi ini dan menunjukkan kemuliaannya selama berabad-abad, bukan dengan pedang (seperti yang sering dipersepsikan oleh kalangan orientalis) tetapi dengan warisan ilmu dan tata hidup yang agung. Maka tak heran jika Nabi Muhammad mendapatkan tempat tertinggi dari 100 orang yang paling berpengaruh di dunia versi Michael Heart. Jadi aku tidak sependapat dengan beliau ini.

Kemudian kita berlanjut ke fase-fase kehidupan bangsa ini mulai dari masa kerajaan hingga masa kolonialisme terjadi. Pada zaman kerajaan Hindu-Buddha kita pernah mengalami masa kejayaan. Konon katanya waktu itu wilayah nusantara ini dapat dipersatukan lewat panji Sriwijaya, kemudian Majapahit. Kemudian fase pemerintahan pun beralih ke zaman kerajaan Islam ketika masyarakat Islam telah menguat di kawasan nusantara. Sebenarnya masa ini pun tak kalah jayanya dengan masa sebelumnya. Mengapa? Hal yang tidak pernah diungkap adalah bahwa para raja/sultan yang berkuasa di berbagai wilayah nusantara ini sebenarnya bersatu di bawah satu bendera khalifah Islam. Karena mereka diangkat sebagai amir wilayah oleh khalifah yang berkedudukan di Turki Utsmani untuk melindungi dan memakmurkan wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Inilah kekuatan yang sebenarnya menjadi potensi besar bangsa ini yang menyebabkan kolonialisme Belanda terus dirongrong jika saja tidak lahir generasi Abdullah bin Ubay ala Indonesia. Bukankah masa perang ini terjadi di masa kesultanan Islam berkuasa di nusantara? Maka inilah bukti bahwa kita adalah bangsa pejuang yang memiliki harga diri. Hanya saja para pengkhianat bangsa telah mencederai harga diri bangsa yang tinggi ini dan menjadikannya terhina di mata bangsa-bangsa lain.

Maka aku sangat setuju dengan statement Sujiwo Tejo dan beberapa tokoh lain dalam sebuah talkshow yang pernah berkata bahwa pernyataan negara kita dijajah Belanda selama 350 tahun itu adalah sebuah pernyataan yang salah besar. Sebuah kalimat yang mematikan generasi muda Indonesia dan menjadi biang ketersesatan pembelajaran sejarah bangsa kita. Yang terus diajarkan oleh para guru sejarah sebagai pelajaran pengantar tidur di kelas yang kini justru semakin menjauhkan generasi muda dari masa lalunya yang jaya.

Dalam pandanganku, sesungguhnya kita tidak pernah dijajah Belanda, mereka hanya datang karena kebutuhan ekonomi untuk kelangsungah hidup akibat terbatasnya sumber daya alam dan itu manusiawi bagi mereka yang memasuki masa renaisans setelah kekhalifahan Turki Utsmani terus mengalami kemunduran dan digantikan oleh kebangkitan Eropa. Tetapi sebagian dari kitalah yang menjajah saudara mereka sendiri. Merekalah para pengkhianat bangsa yang berselindung dalam gelar Kepala Suku, Adipati, Demang, Patih, bahkan hingga Raja hingga akhirnya Trunojoyo, Imam Bonjol, Diponegoro, dan beberapa yang lain mengangkat senjata bersama rakyat yang tertindas untuk menunaikan janjinya sebagai pembela tanah air.

Tanyakan siapa yang mengalahkan rakyat Aceh, barisan pejuang tanah air yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda hingga akhirnya Belanda harus mengirim ahli sosiologi yang merangkap sebagai orientalis, Snouck Hugronje untuk mempelajari karakteristik masyarakat Serambi Makkah yang terkenal paling tangguh sejak zaman Iskandar Muda. Tahukah siapa yang mengalahkan para pejuang pemberani itu? Mereka dikalahkan oleh bangsa Indonesia sendiri yang berhimpun dalam pasukan Marsose, pasukan mengerikan yang dipimpin oleh Kapten Belanda untuk tugas-tugas spesial seperti pembunuhan dan pembantaian. Mereka lebih tangguh dari pasukan Belanda, lebih kejam dan lebih mengerikan. Mereka mengadu nasib dengan menjadi pengkhianat. Belum lagi ulah para penjilat dan penguasa yang lebih memilih menjadi sahabat akrab Belanda. Itulah mengapa Belanda bisa bercokol selama 3,5 abad. Sekali lagi mereka tidak menjajah kita, mereka berbisnis dengan para pengkhianat bangsa ini. Dan para pengkhianat itulah yang terus menjajah tanah air ini. Sampai kini.

Maka kita tarik saja perilaku kebanyakan wakil rakyat dan pejabat sekarang. Apa bedanya. Zaman dan sarana saja. Prinsipnya tetap sama, pengkhianat. Dalam bahasa yang satir, mengapa sidang para dewan dan pemerintah tidak pernah diunggah di internet dan disiarkan ke publik? Yah simpel saja, karena memang sidangnya bukan untuk tujuan menyejahterakan rakyat. Mungkin saja sebenarnya berbagai pertemuan itu tidak lebih sebagai transaksi jual beli, dimana rakyat dan tanah Indonesia sebagai komoditas utama. Sebuah transaksi mengerikan antara para pengkhianat bangsa dengan pengusaha serakah dan bangsa asing yang mungkin keturunan atau kerabat dekatnya Belanda dulu. Aku hanya berdoa, semoga Allah segera memenangkan pemimpin-pemimpin berhati baik yang jumlahnya sedikit di kursi panas itu untuk bisa memimpin negeri ini dengan keadilan. Dan aku yakin, ketika Allah telah menakdirkan itu terjadi maka sebesar apa pun kekuatan jahat itu pasti tidak akan mampu mencelakakannya sedikit pun.

Maka belajar sejarah itu bukan perkara menghafal kronologi dan mengerti detail setiap peristiwa, apalagi menyalahkan dan membenarkan saja. Tetapi belajar sejarah itu adalah untuk mengambil berbagai inspirasi dalam membangun bangsa ke depan. Untuk tidak berkhianat lagi, untuk tidak korupsi lagi, dan untuk tidak menjadi bangsa yang bodoh lagi. Untuk bekerja keras, untuk menggalang persatuan, dan untuk mendahulukan kepentingan nasional. Belajar sejarah itu untuk mengarahkan pemikiran generasi bangsa ini pada sebuah visi besar kejayaan bangsa dan umat manusia dalam sebuah naungan kedamaian dan ketaatan pada sang pencipta.

Jadi mengajar sejarah itu tidak hanya sekedar bercerita, tetapi membangkitkan moral bangsa. Dan itu jelas bukan tugas guru sejarah saja, tetapi siapa pun yang merasa bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa ini. Maka jangan pernah menganggap enteng ketika kita sekarang sudah terlanjur menyandang gelar kaum intelektual. Kecerdasan kita akan menjadi jalan masuk neraka dengan mudah ketika kita tidak menunaikan janji cendikiawan itu sendiri.

bersambung …..