Fisika Menginspirasi Pemimpin?

Ini adalah bagian akhir dari tulisan ini yang paling kontroversial. Berangkat dari fakta yang hingga hari ini terjadi di kampus UNS, prodi pendidikan fisika adalah prodi yang paling produktif yang menyumbangkan aktivis dan para pemimpin kampus. Pascakampusnya pun tak jarang mereka kembali memimpin berbagai institusi pendidikan atau bisnis. Mungkin jumlahnya bukan dominan atas yang lain. Tetapi ini dapat menjadi argumentasi bahwa orang-orang yang belajar eksak itu juga dapat menjadi pemimpin. Dan bukti ini menepis anekdot bahwa orang yang belajar eksak terlalu getol ujung-ujungnya hanya menjadi profesor, calon anak buah profesional dari orang sosial yang sukses menjadi manager.

Orang eksak pun dapat menjadi pemimpin. Orang yang jago dalam bidang fisika itu dapat menjadi pemimpin. Oleh karena itu alangkah menyedihkannya jika guru-guru fisika hari ini banyak yang “tersesat” dengan mengajarkan ilmu fisika sebagai komoditas murah dan sekedar bahan pemenuh kertas catatan siswa. Menjadi guru fisika itu adalah kebanggaan untuk melahirkan calon pemimpin baru yang humanis dan cinta lingkungan. Ia bukan semata-mata profesi, tetapi panggilan jiwa yang tumbuh dari niat tulus, kedalaman pemaknaan dan kejelasan visi untuk melahirkan pembelajar dan pemimpin. Semua berangkat dari hati, saat melangkahkan kaki ke sekolah, ingin seperti apakah siswa-siswa kita kelak.

Guru fisika yang baik adalah pemimpin yang memanusiakan para siswanya. Yang meletakkan dasar pemahaman ilmu alam. Yang mengajak siswa bermimpi besar tentang negaranya. Seperti Habibie, yang dikagumi karena mampu melahirkan para ahli fisika dan aeoronautika dalam waktu satu dekade saja. Mungkin orang lebih banyak mengenal beliau sebagai orang yang ahli membuat pesawat. Itu bukan hal yang mengagumkan, sebagai doktor bidang fisika dan teknik tentu membuat pesawat atau piranti teknologi seperti itu sudah bukan hal yang sulit. Jadi Habibie adalah sosok fisikawan yang berjiwa pemimpin. Teknokrat yang tidak hanya melek tentang mesin, tetapi juga melek tentang bangsa. Maka tak berlebihan ungkapan Presiden Soeharto ketika menguatkan Habibie agar mau pulang ke Indonesia dengan mengatakan, “Jika engkau membuat pesawat saja bisa, maka mengurus yang lain-lain tentu lebih bisa”.

Guru itu melahirkan manusia-manusia yang lebih ahli darinya, demikian ungkapan dari Indrawan Yepe, pendiri Quantum Convidence Indonesia. Guru itu melahirkan pemimpin. Guru itu melahirkan generasi bangsa yang cerdas. Yang akan meneruskan cita-cita para founding fathers ini, mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Guru itu adalah pahlawan yang selalu ada sepanjang bangsa itu masih ada. Maka sudah saatnya guru itu menjadi panggilan jiwa.

Tentang guru fisika, maka dia adalah bagian dari pahlawan bangsa itu. Yang akan membebaskan bangsa dari jerat impor dan ketergantungan terhadap asing. Yang akan mendidik para siswanya cinta produk dalam negeri. Yang menggunakan logika sederhana bagaimana mengelola lingkungan ini dan merekayasa untuk kebaikan masyarakat. Yang meneruskan cita-cita Habibie, tentang kemandirian bangsa yang sesungguhnya lewat industri strategis.

Masih tentang guru fisika, ternyata mendidik para siswa dan mengajari mereka belajar fisika itu tidak hanya untuk menjadikan mereka mengerti rumus tentang mekanika klasik hingga mekanika kuantum. Tetapi adalah menjadikan mereka mengerti untuk apa rumus-rumus itu digunakan kelak. Dan itu tandanya menjadi guru fisika itu tidak sekedar mengajari siswa membuat rumus, memasukkan angka dan menghitungnya, tetapi mengkader mereka menjadi para pemimpin selanjutnya. Maka, jika hari ini masih ada guru fisika yang “tersesat”, sebaiknya segera bangkit untuk melakukan perlawanan atas berbagai ketidakmapanan ini. Guru fisika adalah figur pemimpin yang dinantikan negeri ini untuk mencetak orang-orang seperti Habibie di masa nanti. Siapakah yang akan mengambil peran penting ini?

(selesai)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.