Kategori
Pendidikan

Diferensiasi Figur dan Gerakan #3

Figur atau Gerakan

Jadi, mari kita tidak gebyah uyah memandang realita yang semakin membingungkan di tengah-tengah kita saat ini. Jika kita berbicara figur, maka kita harus benar-benar mengenal siapa dia tanpa harus memandang latar belakangnya. Jika kita tidak benar-benar mengerti siapa beliau, sebaiknya tidak usah banyak komentar terkait apa pun yang menimpa beliau. Bukankah setiap orang berhak menjalani hidupnya masing-masing? Lalu apa masalahnya buat kita. Maka ketika ada pemimpin yang reputasi kebaikannya banyak meskipun secara pergerakan berbeda dengan kita ya harus kita akui dong dia hebat dan baik.

Jika kita berbicara gerakan atau organisasi, maka runut sejarahnya, lihat nilai-nilai dasarnya, bukan dari representasi orang-orangnya. Karena bisa jadi organisasi itu terlihat baik padahal catatan sejarahnya buram dan menyisakan luka bagi kita. Jika demikian kita tertipu oleh orang-orang di atasnya. Bisa jadi pula hari ini kita mendapati pergerakan dan organisasi itu buruk di mata kita gara-gara orang-orang yang bercokol di atasnya sering membuat masalah, padahal sebenarnya itu adalah organisasi yang sangat ideal dan penuh dengan kebaikan.

Maka jangan pernah berhenti untuk belajar dan mendengarkan banyak masukan dan cerita dari orang-orang yang tepat. Kita harusnya bersyukur diberi akal untuk berpikir dan berbagai input dari panca indera kita yang sempurna sehingga dapat menyerap banyak informasi dan mengolahnya. Kita bukan robot yang bisa hidup dalam programing dan indoktrinasi. Kita bukan pula tong sampah yang boleh kebanjiran informasi. Kita manusia, yang memiliki keunikan hidup masing-masing.

Jadi, mari kita bangun diferensiasi berpikir tentang figure dan gerakan. Dari situ kita mulai berpikir untuk berkiprah di mana mulai dari sekarang. Mungkin suatu saat kita akan berpindah haluan, itu sah-sah saja karena kita hakikatnya tak henti belajar. Berpindah haluan itu adalah untuk mencari keselamatan hidup ketika kita tahu dan menyadari kesalahan kita. Namun jika berpindahnya haluan itu karena selainnya, bisa dipastikan kita adalah golongan salah satu pengacau yang sudah Allah catat sebagai penghuni neraka-Nya nanti.

Kategori
Misi Perubahan

Diferensiasi Figur dan Gerakan #2

Mahasiswa GJ Indonesia

Jika di taraf kaderisasi mahasiswa saja loyo, ada pengikut tapi nutrisi otaknya kurang kuat. Efeknya jelas terlihat di kemudian hari. Kampus menelurkan banyak sarjana yang low vision terhadap kepemimpinan masa depan. Jadi gimana akan mengedukasi masyarakat dan adik-adiknya di rumah yang kini tengah dididik dengan keras oleh Televisi, Koran, dan Radio yang kebanyakan isinya berbau musik hura-hura, kriminalitas, dan sisi buruk politik bangsa kita. Tidak usah heran masyarakat misuh-misuh terkait politik, wong mahasiswanya juga apatis, bahkan juga lebih parah misuh-misuhnya terhadap politik. Padahal politik hanya kata yang netral, baik buruk maknanya tergantung yang sedang menyandang istilah itu saat ini.

Tanpa menyalahkan pihak asing yang dicurigai selalu menyetir upaya pembodohan bangsa ini. Dengan kekacauan sistem pendidikan dan kaderisasi pemimpin bangsa ini. Setidaknya hal yang membuat mereka berhasil sementara ini adalah keberhasilan membangun opini publik di masyarakat termasuk mensetting pemikiran masyarakat untuk memandang figur dan gerakan itu sebagai satu kesatuan untuk digebyah uyah tanpa melakukan klarifikasi secara menyeluruh terhadap keduanya. Dan ini cara yang paling efisien untuk menghantam berbagai gerakan kebangsaan yang tengah memperjuangkan kemerdekaan bangsa edisi II dari cengkeraman asing. Sehingga mimpi terwujudnya kepemimpinan yang baik itu pupus dan sulit diwujudkan.

Sadari Pergerakan

Karena pergerakan itu adalah kumpulannya manusia, lagi-lagi wajar jika kemudian muncul realita ada orang-orang yang hebat terlahir dari sebuah gerakan yang dipersepsikan buram oleh masyarakat. Ada pula gerakan yang secara fondasi sangat baik namun suatu ketika melahirkan pemimpin-pemimpin yang dipandang buruk dalam persepsi masyarakat. Yang ngacau di sini adalah gara-gara pemimpin yang berkinerja buruk, organisasi yang baik terkadang tercoreng dan mati. Di sisi lain, pemimpin yang baik-baik tadi juga terkadang ternodai karena potret buram organisasi yang menjadi tempatnya belajar. Jadi memang persepsi jamaknya, ga ada baiknya orang itu bersinggungan dengan politik. Apalagi persepsi masyarakat yang sudah sempurna POLITIK ITU KOTOR. Kalo yang bilang itu masyarakat umum, ya jangan disalahkan. Tapi kalau yang bilang itu mahasiswa, tunggu dulu, jangan-jangan yang bilang begini ini memang tidak lulus bahasa Indonesia.

Politik, ya begitu adanya. Dia hanya sekedar kata yang maknanya terus berubah seiring pemegangnya. Ketika politik itu diaplikasikan oleh orang-orang yang baik jadilah politik itu baik. Namun ketika politik itu di tangan orang-orang yang buruk ya jadilah politik itu kotor. Jika sekarang politik dipersepsikan jelek ya karena memang bertahun-tahun ini kesannya memang jelek gara-gara orang-orang yang buruk itu. Apakah tidak ada politik yang baik? Ada. Ada banget. Baca deh sejarah kita. Sejarah telah memberi banyak kisah bagaimana kekaisaran Mesir pernah dipimpin Firaun yang baik, bagaimana Hammurabi memimpin Babylonia dengan Keadilan, bagaimana Shih Huang Ti menyelamatkan peradaban Hwang Ho dari serangan kaum barbar. Lebih dekat lagi, bagaimana Kekhalifahan Islam berhasil mencipta kemajuan ilmu pengetahuan dan memberikan payung perdamaian selama berabad-abad. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dari manusia biasa, terkadang salah juga dan mungkin setiap mereka memiliki catatan kesalahan. Tapi ketika mereka berhasil mencipta kebaikan yang menyejarah, masihkah noda kesalahan itu menghentikannya untuk dikenang sejarah? Tidak. Kebaikan mereka yang banyak akan menghapuskan kesalahan mereka.

bersambung ….

Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #4

Membangun Sinergi

Banyak sudah masalah kita hari ini. Putusnya sejarah, hilangnya kedewasaan dan rusaknya moral bangsa, hingga buruknya opini publik yang berimbas pada rendahnya optimisme untuk menatap masa depan. Semua telah terjadi dan itu seperti benalu yang akan terus membunuhi bangsa ini secara perlahan-lahan. Hanya ada satu kekuatan yang sanggup mengalahkan itu semua, yaitu sinergi intelektualitas dari para kaum cendikiawan yang masih hidup hari ini.

Kaum cendikiawan adalah golongan yang paling mungkin untuk independen karena mereka memiliki pola pikir yang mapan dan jauh di atas kebanyakan manusia hari ini. Siapa mereka? (tunjuk hidung sendiri) yah para mahasiswa dan kaum terdidik yang lain. Kitalah orang yang masih bisa memilih untuk mati ketika dipaksa untuk berdusta dan mengkhianati ibu pertiwi. Kitalah orang yang masih bisa memilih untuk turun ke jalan ketika melihat ketidakadilan. Kitalah orang yang bisa melakukan berbagai macam pekerjaan yang cepat dan butuh kerelaan tinggi.

Jika hari ini, ego-ego masih menancap kuat di dada kita untuk selalu tampil menjadi yang paling hebat, mari kita redam sedikit demi sedikit dengan diterjemahkan dalam berbagai aktivitas nyata yang membangun. Kita bisa dekat dengan masyarakat dan berbagi dengan mereka. Kita bisa bersahabat dengan pemerintah untuk mengawal program dan menjadi sumber informasi positif untuk kebijakan pembangunan ke depan. Kitalah jembatan-jembatan itu sekaligus pasukan yang siap untuk terjun mengukir tinta emas sejarah peradaban Indonesia.

Sudahlah, jika memang memungkinkan integrasi pergerakan pemuda Indonesia hari ini, mari kita bergabung dan melebur. Biarlah generasi yang hari ini berebut kursi tetap menikmati perebutannya sampai mereka mati semua. Hari ini, apakah kita juga akan ikut-ikutan terjatuh dalam permainan yang tidak bertanggung jawab itu. Sudahlah, kita bukan anak-anak lagi yang hobi rebutan makanan. Kita adalah kaum intelektual yang seharusnya tidak akan kehabisan akal untuk berperan sesuai dengan kemampuan dan peluang yang kita temukan. Jika yang lain telah mengambil jalan sebagai pemimpin, mari kita dukung dengan mengambil peran-peran lain yang tidak kalah penting. Pemimpin tanpa tangan kanan yang baik tidak ada artinya, bahkan tanpa rakyat yang taat.

Mari kita hentikan pembicaraan politik sempit yang hanya berujung pada partai politik dan wakil rakyat saja. Jika memang tema itu telah basi, maka biarlah ia masuk ke tempat sampah di tahun 2014 nanti. Mari kita berbicara tentang kepemimpinan dan politik yang manusiawi. Sebuah cara pandang baru membangun Indonesia masa depan. Meneruskan cita-cita Patih Gadjah Mada untuk menyatukan nusantara dalam satu bendera kejayaan. Meneruskan cita-cita Diponegoro mewujudkan negeri berdaulat dipenuhi keadilan. Meneruskan cita-cita Jenderal Soedirman tentang masyarakat yang cinta tanah air. Meneruskan gagasan besar Bung Karno dan Bung Hatta tentang negara yang kuat, mandiri dan makmur.

Itulah trend yang harus kita bangun sejak sekarang, dalam status FB kita, dalam kicauan twitter kita, dalam spirit tulisan-tulisan kita. Dalam benakku ini, aku masih bisa melihat Indonesia jaya di masa depan nanti. Menjadi negeri makmur dan sejahtera.

Epilog

Idealisme yang kutulis hari ini sebagai reaksi jiwa atas realita yang mudah sekali kita lihat di sekitar kita. Sekaligus ini sebagai doa agar Allah senantiasa menjaga diri ini dari hal-hal yang buruk di kemudian hari. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi yang menulis untuk senantiasa teguh dalam mencintai ibu pertiwi ini. Jika ada kesalahan, maka silahkan pembaca meluruskan lewat komentar atau email langsung ke penulis. Jika ingin mengajak diskusi lebih lanjut, penulis sangat senang karena itu akan memperkaya wawasan penulis ke depan.

Kita tak akan pernah tahu hari esok kita. Tetapi sesungguhnya hari esok kita tidak akan terlalu jauh dari persiapan kita hari ini. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan hidup untuk kita.

Rabbana aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqiinaa adzaabannar (Ya Rabb, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka)

Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #2

Bangsa Kanak-Kanak

Di antara konsekuensi bangsa yang semakin tua adalah terwujudnya sebuah bangsa yang dewasa. Aku belajar banyak dari perjalanan selama sebulan di Jerman. Mereka adalah orang yang sangat bangga dengan karya bangsa sendiri. Meskipun pemerintah tidak membatasi berbagai impor, tetapi mereka memilih BMW sebagai mobil kesayangan mereka. Jangan ditanya masalah kereta api dan pesawat terbangnya, jelas buatan sendiri. Apa lagi? Yah mereka begitu menghargai itu semua sebagai warisan terbaik putra-putra bangsa mereka. Maka tidak mengherankan jika sekarang Jerman menjadi satu-satunya negara yang paling kuat ekonominya di Eropa.

Dalam hal sejarah, mereka telah mengubur rapat-rapat catatan buruk sejarah mereka. Meninggalnya Kaisar Barbarosa ketika tercebur dan tenggelam di Sungai Rhein sebelum sampai ke medan perang, kisah NAZI berkuasa dengan Hitlernya semua telah dikubur dalam-dalam dari ingatan mereka hingga pada generasi mereka. Mereka tahu bahwa sejarah-sejarah kelam itu akan meracuni generasi bangsa Jerman dan selayaknya dikubur dalam-dalam. Masih banyak cerita kejayaan yang bisa mereka ungkapkan di dalam kelas, sebagai pengantar tidur dan sebagai bahan film yang selalu ditonton anak-anak. Bangsa ini telah dewasa untuk terus bangkit membangun dan hidup dalam kesejahteraan.

Bagaimana dengan bangsa kita? Membaca tulisan dari Uda Yusuf tentang Demokrasi Tanpa Gagasan akan membuat kita geleng-geleng kepala. Dalam tulisan yang singkat dan renyah itu, Uda membagi fase demokrasi di negeri kita mulai dari demokrasi totaliter, demokrasi transaksional, demokrasi pencitraan, dan seharusnya kita berusaha untuk mencapai demokrasi tranformasi gagasan. Demokrasi totaliter telah terjadi di mana siapa yang berkuasa dapat mengatur dengan segala kekuatannya, kemudian ketika beberapa faksi semakin menguat maka sistemnya menjadi transaksional, dan ketika media telah menjamur maka kenarsisan telah mewarnai demokrasi kita. Semua harus dibayar mahal karena memang semua membutuhkan biaya besar untuk setiap fase demokrasi itu dengan harapan kelak tercipta demokrasi tranformasi gagasan yaitu suatu kondisi ideal di mana masyarakat mengerti visi dan misi pemimpinnya dan pemimpinnya memerintah dengan transparansi dan tanggung jawab.

Jika negeri kita tetap stagnan dalam demokrasi pencitraan, apalagi juga masih berkelindan dengan demokrasi transaksional terlalu lama, maka cita-cita menuju demokrasi tranformasi gagasan seperti angan yang mustahil. Bagaimana tidak? Kebodohan akan berubah menjadi pembodohan. Kesenjangan sosial akan berubah menjadi pensenjangan sosial. Kemiskinan akan berubah menjadi pemiskinan. Dan masih banyak lagi ke-an menjadi pe-an yang lain. Dan ini konsekuensinya adalah sistematika baru dalam babak penjajahan negeri ini. Memangnya negeri kita telah merdeka? Kata siapa? Bung Karno pun ketika telah menjabat sebagai presiden tetap berteriak merdeka bahkan setelah proklamasi kemerdekaan. Jadi kata merdeka itu sebenarnya adalah seruan bagi tiap diri untuk melakukan pembebasan dan memerdekakan dirinya dari penjara kebodohan diri. Untuk tunduk mengabdi kepada Yang Maha Perkasa, yang pantas mendapatkan pengabdian dari hamba-Nya.

Melihat berbagai pertikaian para elit negeri ini yang kemudian juga diikuti oleh para mahasiswa yang ikut-ikutan berfaksi dalam berbagai pergerakan mahasiswa sekarang semakin menjauhkan mereka dari visi besar bangsa Indonesia seperti yang telah tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Saling singkir menyingkirkan dalam masalah kekuasaan mudah saja dilakukan tanpa sebuah komunikasi yang elegan. Sikap apakah semacam ini? Bahkan anak-anak yang hobi bertengkar pun segera baikan ketika air mata mereka telah kering. Ini sikap yang jauh dari kedewasaan, dan jauh lebih kanak-kanak dari anak-anak yang masih sekolah di taman kanak-kanak. Maka bangsa ini harus membayar mahal dengan persepsi buruk masyarakat, politik dipersepsikan menjadi sesuatu yang kotor dan mengerikan. Masyarakat selalu resah dan tidak fokus lagi untuk bekerja keras membangun bangsa ini. Semua perhatian tertuju pada masalah kekisruhan kepemimpinan yang seolah tidak ada ujung penyelesaiannya.

Bagi yang merasa mahasiswa, sikap apakah yang telah kita ambil sejauh ini? Apakah kita ternyata menjadi generasi bangsa yang mengalami degradasi sikap menuju anak-anak PAUD atau bahkan yang lebih kecil dari itu. Ayolah, ada banyak pilihan hidup ini. Mau kuliah melulu, kemudian kerja, ga peduli di perusahaan asing atau di mana pun asal gajinya tinggi. Atau menceburkan dalam sebuah ruang gerakan tanpa sebuah bangunan karakter yang jelas sehingga terjebak dalam fanatisme buta tanpa sebuah visi besar untuk bangsa dan kemaslahatan umat ini. Masa muda ini penuh banyak pilihan, tetapi pasti hanya akan ada satu pilihan yang terbaik. Dan pilihan itu ada di hati masing-masing kita sebagai mahkota yang akan kita genggam sampai mati dan persembahkan di hadapan Allah ketika hari pertanggungjawaban nanti.

Kita adalah bangsa yang telah lama, bukan lagi balita atau kanak-kanak. Mari sudahi kebiasaan saling membunuh saudara sendiri. Penjajah Indonesia itu bukan Belanda atau Jepang, tetapi para pengkhianat bangsa, darah daging kita sendiri, kulitnya sama dengan kita, bahasanya sama, dan bahkan terkadang lebih ramah dari kita. Atau mungkin kita ini salah satu bibit selanjutnya. Naudzubillah mindzalik.

Yang hari ini menikmati fasilitas negara dengan belajar di sekolah dan kampus negeri, mari kita renungkan apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini (khususnya rakyat) karena jerih payah merekalah yang telah membiayai kita. Yang hari ini telah menikmati beasiswa dari pemerintah, balas budi apa yang telah kita persembahkan untuk negeri ini. Yang hari ini menjadi pegawai negeri, sudahkah kita menjadi pelayan sejati untuk negeri ini? Melayani rakyat dengan sepenuh hati sesuai janji yang telah diucapkan dalam pelantikan. Jika belum ada, maka pantas dicatat bahwa kitalah benih-benih baru penjajah negeri ini yang nanti akan mudah sekali bergandeng tangan dengan para perampok negeri ini. Yang suka dengan fasilitas mewah tapi tak peduli siapa yang memberi. Yang masih bisa membedakan dan merasakan adanya tanggungjawab di balik segala fasilitas yang kita rasakan ini, maka semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk tetap menapak di jalan indah ini, dalam idealisme yang realistis dengan “furqon” yang senantiasa terjaga.

bersambung ….

Kategori
Catatan Perjalanan

Jakarta True Story #5

Dari Monas hingga Istiqlal

Pagi ini aku harus segera cabut. Pertama, kawanku kan masuk kerja dan pulangnya maghrib. Jadi kalo aku ngendon di kosannya, takutnya waktu ke stasiun ketinggalan kereta. Padahal aku bawa barang berat berupa koper gedhe yang biasa ku bawa waktu ke Jerman kemarin. Tapi biarlah, pasti hari ini akan menjadi cerita menarik.

Setelah menanti cukup lama bus di halte pasar baru, akhirnya dapat juga tumpangan dari sana menuju Harmony Central Busway. Dari situ perjalanan kulanjutkan ke monas. Sesampai di sana aku mendapati gerbang monas di dekat halte itu ditutup. Yah, muter deh. Padahal ini bawa robot gedhe lagi. Mirip TKI yang lagi tersesat di tengah kota akhirnya kuputuskan untuk nekat menyusuri monas sambil berharap ada orang jualan makanan berat (bukan mie, apalagi roti). Jauh sudah aku berjalan, melihat Monas yang megah itu. Ah biasa, soalnya sudah berkali-kali. Dulu waktu pertama kali lihat ini yah rasanya seperti lihat menara Eiffel waktu di Paris beberapa waktu lalu.

Tanpa pikir panjang akhirnya aku memutuskan untuk terus berjalan menuju masjid kebanggaan Indonesia, masjid Istiqlal. Di sana nanti kan bisa menitipkan koper, sehingga kalau pun mau balik lagi ke Monas, aku bisa leluasa, tidak seperti TKI yang tersesat. Ternyata jauh sekali, apalagi hanya satu gerbang saja yang dibuka. Untung di jalan itu aku ketemu penjual makanan mirip tahu kupat, tapi sepertinya bukan. Ah, ga tahu lah, yang penting aku dapat tempat untuk sarapan. Nah, ini nih tempat yang kusukai kalau makan di Jakarta, bisa berbagi rezeki dengan rakyat kecil. Lumayan, cuma 8 ribu saja kok, ga ada satu Euro.

Sesampai di masjid, aku langsung parkir koper di lantai dua. Ada dua penjaga, yang pertama bapak tua yang baik, yang kedua bapak paruh baya yang kurang ramah. Ih, jadi penjaga masjid kok menyebalkan gitu ya. Perlu dikasih kuliah dulu nih ama pak Jokowi tentang etika melayani. Apalagi ini melayani jamaah, tamu Allah. Langsung menuju ruang utama dan shalat dhuha. Hemm, segernya shalat di mesjid yang mewah seperti ini. Karpetnya empuk dan bersih.

Enaknya kemana ya habis ini? Pikirku. Oh iya, ke perpustakaan aja dah. Ternyata di sana cukup banyak koleksinya. Bahkan seandainya aku paham betul tentang bahasa Arab, di sini banyak sekali kitab-kitab rujukan, khususnya Kutubus Sittah dan berbagai kitab hadits lainnya. Ada juga kitab-kitab tafsir lengkap satu paket. Wah, kayaknya aku punya ide deh ini, sekaligus punya tempat kepo yang asyik kalo pas ke Jakarta dan ga ada kerjaan. Akhirnya aku langsung menyambangi rak-rak yang berisi buku berbahasa Indonesia dan bersifat kontemporer.

Obamamia

Pertama kali lihat koleksi populernya, aku mendapati buku yang ditulis langsung oleh Presiden Obama. Yah, menarik ni untuk di baca. Aku mulai dari sinopsisnya, prolog-prolog para ahli dan daftar isi. Akhirnya kuputuskan hanya untuk membaca pandangan Obama terhadap Indonesia, salah satu tanah yang menjadi sejarah hidupnya. Dari tulisan yang hampir sepanjang 10 halaman itu aku mengetahui pemikiran dan cara pandang Obama terhadap negeri kita. Dengan blak-blakan beliau menyebut bahwa Amerika lah salah satu pihak yang berada di balik kekacauan 1965 hingga reformasi 1997. Berbagai strategi telah dijalankan sehingga Indonesia adalah salah satu anak didiknya sekaligus sapi perahnya, demikian opiniku berdasarkan apa yang telah ditulis oleh Obama.

Namun demikian, aku harus mengakui bahwa dialah presiden Amerika di abad ini yang memiliki kepedulian tinggi dalam  mengentaskan kemiskinan dan lebih berpihak kepada masyarakat bawah. Berbagai manuvernya selama memimpin negara adidaya itu harus diakui sebagai gebrakan yang lebih berarti jika dibandingkan oleh Bush atau beberapa presiden sebelumnya. Mungkin dia akan menjadi Kennedy versi berikutnya.

Ada kejadian menarik waktu aku di perpus. Kebetulan kan ada komputer yang juga disediakan bagi pengunjung. Ternyata konek dengan Internet. Jadilah aku beralih dari membaca di meja menuju layar kaca itu untuk membuka email, fb dan twitter. Sampai-sampai bahuku ditepuk petugas perpus, “Mas, komputernya itu untuk cari katalog buku, bukan buat gituan”. Aha, malu banget rasanya. Yah, ketahuan deh kebiasaannya.

Renungan Akhir

Usai shalat ashar dan makan mie ayam Ijo di kantin masjid aku segera mengemasi barang-barang untuk menuju stasiun Pasar senen. Selama perjalanan aku mencoba merenung untuk melihat, membandingkan, kemudian membuat kesimpulan untuk dirikut atas berbagai realita yang sering kurasakan di sini dengan iming-iming kemajuan di Jerman yang pernah kurasakan beberapa saat. Adalah hal bodoh jika niatku kembali ke sana nanti hanya untuk melarikan diri dan menikmati kenyamanan hidup di negara maju, tapi lebih bodoh lagi adalah menyibukkan diri dengan urusan-urusan riweh yang jauh dari dewasa di negeri ini, terutama yang berhubungan dengan politik praktis dan kekuasaan.

Lagi-lagi layanan transportasi publik yang memang masih tidak layak ini harus membuatku geram. Bus yang lama nunggunya, kondisinya memprihatinkan. Kereta jarak jauh yang masih memakai diesel (itu artinya pemborosan energi serta kontribusi polusi). Yah, apa sih kerjaannya orang yang banyak ngomong politik sekarang. Politik apa, politik yang nyampah, politiknya binatang, dan politiknya setan. Aku rindu politik yang beretika sebagaimana para khalifah dahulu pernah bertahta, mereka memang saling berebut kuasa, tetapi visi melayani dan melindungi rakyat adalah yang utama. Aku rindu politik ekologi dan konservasi, yang tidak hanya bicara uang dan kemajuan semata-mata tetapi bagaimana memikirkan dampak lingkungan dan kontribusi menjaga alam. Aku rindu politik intelektual yang menjadikan pendidikan alias pemajuan pola pikir prioritas yang selalu dipegang para pelaku politik itu sendiri.

Nah, politik Indonesia sekarang apa? Tak tahulah, isinya orang-orang kemaruk, kadang mencampuradukkan agama untuk menghalalkan segala cara, kadang sangat sekuler hingga membuat agama dan kekuasaan itu dua hal yang sangat berbeda, kadang hanya sebuah obsesi melebarkan kerajaan bisnis. Parah bener yah. Beginilah ketika kaum muslimin yang notabene mayoritas di negeri ini, tetapi sudah rusak pola pikirnya dan terserang penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati).

Mari sahabatku kaum intelektual, kita hentikan pembodohan-pembodohan kelas kakap ini. Jangan korbankan diri kita untuk tumbal-tumbal mereka berikutnya. Menjadi mahasiswa itu akan memiliki tanggung jawab akhirat yang lebih besar dari pada mereka yang saat ini tidak pernah sekolah. Ingat itu! Jangan mau jadi kacung pemikiran. Mending jadi tukang sapu atau tukang sampah, asal pemikiran kita tidak dikendalikan oleh doktrin orang lain. Hanya al-Quran dan as-sunnahlah, serta keteladanan para ulama dan mujahidlah yang berhak mengisi benak pikiran kita. Dengan kejujuran, integritas, dan pengorbanan.