Ceritanya hari ini aku bisa main ke daerah Sragen untuk kali keduanya. Kali ini aku bersama teman-teman SIM UNS berkunjung ke salah satu pengurus yang juga sang suhu yang aku sendiri menganggapnya seperti tante. Yang telaten nasihatin hingga memarahi. Siapakah dia? Aha, yang ngerti konteks pembicaraan tulisan ini nanti juga tahu.

Dimulai dengan bangun sangat kesiangan. Setelah subuh aku tidur lagi hingga kali kesekian calling dari temanku membangunkanku. Wow, ternyata sudah jam 8 pagi dan aku belum apa-apa. Ku jawab, berangkatlah dahulu, nanti aku menyusul, soalnya aku baru bangun tidur. Beginilah efek ketika terbiasa tidur lama selama di Jerman. Hemm, musim dingin masih terasa bekasnya hingga hari ini.

Usai menyapu dan mengepel masjid yang kutinggali, aku segera memacu kuda besi kesayanganku untuk menyusul teman-teman yang sudah 2 jam berlalu mendahului. Untuk mengisi perut, kuputuskan menikmati nasi goreng khas Solo. He he, obat rindu lidah Indonesia yang baru makan nasi goreng untuk kali keduanya setelah pulang dari sana. Lumayan, yang ini lebih enak dari waktu di Jakarta, dan lebih murah tentunya.

Perjalanan tidak mengalami hambatan, kecuali jalanan yang sangat sempit relatif terhadap jumlah kendaraan yang lewat hingga aku harus beberapa kali terkejut gara-gara bus (yang kukira Sumber Kencono, ternyata bukan) membunyikan klakson keras-keras di belakangku. Ih berisik banget nih bus. Namun demikian, aku tidak perlu bertanya ke sana ke mari karena daerah yang ku lalui lengkap dengan petunjuk arah dan yang pasti tempat yang kutuju juga sangat terkenal di Sragen, Dayu Park. Singkat cerita aku sampai di sana dengan selamat dan ditertawakan oleh si Rony We Es (emang tuh anak hobinya ketawa sejak kenal denganku dulu).

Wah ternyata taman ini lumayan untuk dijadikan taman hiburan keluarga. Jadi kepikiran kalau Rest Area Bunder itu dilengkapi fasilitas seperti Dayu Park dan dikelola dengan baik pasti jauh lebih menarik dari pada ini, karena pepohonannya lebih lebat dan teduh juga kawanan Rusa Timorensis yang lincah pasti akan semakin memperindah kawasan itu. Kami berjalan ke sana ke mari, berkelakar, berfoto dan pasti aku yang jadi tukang fotonya. Ga pa pa, aku sudah kenyang foto-foto waktu di Eropa. He he, alibi, padahal yang pengin juga, cuma sayangnya pada ga peka buat menawari, “mas, tak fotoin sini”. Beginilah nasib pelayan itu.

Setelah puas, kami diajak Tante untuk menyusuri kawasan yang lebih ndeso dari tempatku menuju rumahnya di Pucuk. Eits, Pucuk itu nama daerah, bukan titik puncak yang lebih ndeso dari jalannya. Sempat aku mau ngolok-olok, “Wah, rumahmu lebih pelosok no Tan!”, tapi ga jadi karena ternyata itu hanya jalan pintas agar segera sampai ke rumahnya. Peace Tante

Di rumah yang ternyata juga markasnya pengajian dan tempat belajar adik-adik kecil di komunitas Pucuk Cendikia itu aku tahu ternyata tante memang orang yang super sibuk. Hemm, selama ini ternyata emang keren aktivitasnya. Banyak berderet trophy di almarinya, menandakan ni orang memang tukang juara. Aku jadi teringat, banyak trophy yang sudah kuserahkan kepada kepala sekolah sejak SD hingga SMA, dan ujung-ujungnya aku malu karena ternyata selama jadi mahasiswa ini aku mengalami penurunan produktivitas, mulai dari membaca, berkarya dan beraktivitas sosial. Malu. Malu banget rasanya. Mahasiswa ga jelas banget ternyata aku sekarang. Tobat Dika, balik ke relnya dong.

Setelah makan-makan dan diskusi sampai puas, dibumbui canda promosi dari ibunya tante hingga membuat muka tante merah karena malu berat, kami berpamitan satu persatu untuk pulang. Diiringi rintik hujan, hari ini menjadi spirit baru buatku, ternyata aku kalah dengan sainganku si Ranger Ungu selama di kampus ini. Dan lebih kalah telak lagi ketika aku harus berhadapan dengan sahabat kerenku, si Ranger Biru.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.